Title      : Memories (III) : Let Go

Length  : Semi-FF (Chap. III of III)

Genre   : Romantic, Sad

Main Cast           : Choi Eun Kyo (OC), Choi Seung Hyun (TOP Bigbang)

Support Casts     : Dara (Sandara Park 2NE1), Young Bae (Taeyang Bigbang), Soo Hee (OC)

Other Part :

[Drabble] Memories (I) : Happiness

[Ficlet] Memories (II) : Lost

 

Disclaimer :

ADIEZ-CHAN ©ALL RIGHT RESERVED
ALL PARTS OF THIS STORY IS MINE! NO OTHER AUTHORS! PLEASE DON’T STEAL, COPY AND RE-POSTING WITHOUT CONFIRM AND HOTLINK!
DON’T PLAGIARIZE!

KEEP COMMENT AND NO SILENT READERS HERE PLEASE!

 

 

They say time heals. But, how long would it take?

 

Gadis itu melirik jam dinding bulat yang terpajang di dinding kamarnya. Jam dua belas tepat. Tanda pergantian hari. Hari yang begitu dinantinya. Seulas senyum terlukis dari bibir tipisnya ketika melihat dua jarum yang bersatu. Kemudian pandangan matanya beralih pada satu kue tart berukuran kecil di depannya.

“Sekarang saatnya.”

Tangannya bergerak menyalakan cigaret yang sejak tadi digenggamnya dan menyalakan satu lilin yang berdiri tegak di tengah kue itu. Melihat satu-satunya lilin di kue berbentuk hati itu telah menyala, dia menepukkan sepasang tangannya pelan. Kedua sudut bibirnya membentuk sebuah lengkungan lebar. Entah, apakah itu merupakan senyum bahagia, atau bentuk senyum yang lain yang mungkin hanya dia yang tahu artinya. Terlalu rumit untuk ditafsirkan.

“Saengil chukkae-yo, Seung Hyun oppa…”

Tak ada jawaban. Hanya gaung suaranya sendiri yang terdengar di ruangan itu. Tanpa dia sadari, air mata telah mencair dari kedua bola matanya dan jatuh menuju pipi dan dagunya.

 

“Hey, apakah kamu bahagia, angin?”

 

Waktu hanya suatu ukuran yang tak mampu memisahkan ingatan dan kenangan yang pernah terjadi.

 

… Begitu juga dengannya. Bagaimana waktu tidak mengubah apapun tentang ingatan, kenangan, dan perasaannya. Bagaimana ingatan mengenalkannya pada kenangan. Bagaimana rasa cintanya tetap meluap begitu besar untuk seorang lelaki. Lelaki yang mempertemukannya pada angan. Yeah, suatu angan kecil untuk bisa selalu tersenyum bahagia bersamanya.

Bukan suatu hal yang berlebihan untuk diinginkan, kan?

Dan merupakan harapan kosong jika lelaki itu adalah lelaki yang telah menghilang bak angin yang seharusnya memburai benih-benih dandelion hingga terlepas dari tempatnya.

 

……

 

“Dara Unnie, apakah kamu mendengar kabar tentang Seung Hyun?”tanya Eun Kyo memburu ketika sepupunya itu baru saja memasuki kamarnya.

Sandara, nama gadis itu, melepaskan tas sejak tadi menyelempang di salah satu bahunya dan meletakkannya sembarangan di ranjang Eun Kyo. “Ani. Yang aku tahu dia langsung dijemput orang tuanya dan kembali ke China. Penyakitnya kambuh lagi karena dia terlalu lelah.”

“Penyakit? Penyakit apa?” Eun Kyo mengernyitkan dahinya. Dia sudah mencoba berulang kali menanyakannya, dan selalu berakhir tanpa jawaban yang memuaskan. Dan kekhawatiran akan lelaki itu sekali lagi mencoba membunuhnya.

Sebenarnya, apa yang disembunyikan lelaki itu darinya?

“Molla.” Sandara mengedikkan bahunya. “Aku sudah bertanya pada teman-temannya. Tapi mereka tidak mau menjawabnya. Sepertinya Seung Hyun telah berpesan pada mereka untuk tidak memberitahukan keberadaannya padaku.”

“Yeah. Mungkin Seung Hyun tak ingin aku tahu di mana dia.”

Sandara menepuk pundak sepupunya itu dengan tatapan iba. Seandainya dia bisa menggantikan posisinya, maka dengan sangat rela dia akan melakukannya untuknya. “Lupakan Seung Hyun itu. Masih banyak kan namja yang mengincarmu?”

 

“I just can’t, unnie. I love him. And I always do.You know that.”

 

Sandara terdiam. Eun Kyo benar. Sepupunya itu sudah terlalu dalam mencintai Seung Hyun, teman kuliahnya. Apakah salah keputusannya dulu dengan mengenalkan Seung Hyun pada Eun Kyo? Apakah salah mempercayakan Eun Kyo pada Seung Hyun?

Seandainya dia tahu bila Seung Hyun akan berbuat begini kejam pada sepupu kesayangannya, mungkin dia tidak akan membiarkan hubungan mereka melenggang terlalu jauh.

Seandainya…

“Unnie, apakah aku harus menyusulnya ke China?”

……

 

Cinta sering kali membuat segalanya menjadi tidak realistis. Manusia-manusia sepertinya, akan selalu kalah bertarung dengannya. Harusnya dia melupakannya. Karena lelaki itu telah menyatu dengan jarak yang tak tertempuh. Atau mungkin dia tak pernah menganggapnya ada. Lebih jauh lagi, mungkin saja lelaki itu hanya menjadikan gadis itu permainan, dan permainan itu telah usai. Game over. Dan saat itulah dia harus terbangun dari mimpi indahnya untuk menghadapi sebuah kenyataan pahit.

Namun yang kini gadis itu lakukan adalah tak bisa berhenti memikirkan lelaki itu. Setiap hari. Apapun yang dia lakukan hanyalah menunggunya, hanya itu yang tersisa dari dirinya.

Seperti dandelion yang mempercayakan benih-benihnya kepada angin yang melintas di tanahnya untuk dibawa ke tempat yang lebih baik dari tempatnya berada, seperti itulah dirinya pada lelaki itu. Gadis itu tak lebih dari satu dandelion putih diantara banyaknya tanaman serupa di tanah liar yang menunggu angin yang dia percaya untuk membawa benihnya. Lelaki itulah sang angin.

Sang angin itu, kini menghilang. Lenyap.

Dan seakan dandelion yang terus menanti angin, seperti itulah gadis itu menantinya. Menanti seorang lelaki yang telah pergi meninggalkannya.

 

……

 

Seorang lelaki berperawakan kekar duduk tenang di hadapannya, menjanjikan sebuah kepastian. Eun Kyo menunggu. Menunggu saat-saat ini sejak lama. Tanpa disadarinya sudah berbulan-bulan berlalu Seung Hyun menghilang.

“Jadi Young Bae, di mana Seung Hyun?” Dara memulai pembicaraan mereka tanpa basa-basi. Dia tak membutuhkannya, begitu juga Eun Kyo di sampingnya.

“Sebelumnya maaf karena aku merahasiakannya dari kalian. Itu permintaan terakhir dari Seung Hyun.”

Dahi Eun Kyo berkerut bingung. Terakhir?

 “Terakhir? Apa maksudmu Young Bae-ssi?”

Young Bae menarik nafasnya perlahan sebelum meneruskan ucapannya. Dia menatap dalam-dalam Dara, maupun Eun Kyo, seolah menguji kesiapan mereka.

 

“Seung Hyun… sudah meninggal.”

 

Katakan apa yang lebih buruk dari sebuah berita tentang ketiadaan. Dunia Eun Kyo telah hancur ketika Seung Hyun menghilang. Dan kini, seolah serpihannya pun ikut melebur hingga tak ada lagi yang bersisa diantaranya.

Dia membenci berita ini. Karena dengan segala kekuatan yang masih dia genggam, dia mencoba percaya bahwa Seung Hyun akan kembali. Haruskah dia menerima kenyataan ini?

Apa ada yang bisa lebih buruk dari semua ini?

 

Seung Hyun tahu dia menderita kanker darah sejak dua tahun lalu, dan itu sudah mencapai stadium tiga. Karena itu, dia sempat pulang ke China, untuk melakukan perawatan. Tentu saja dengan paksaan orang tuanya, karena dia sendiri tidak ingin meninggalkan kamu, Eun Kyo-ssi. Apalagi, dia belum mengungkapkan apa yang dia rasakan padamu.

“Kemudian dia kabur dari rumahnya dan kembali ke Seoul, melanjutkan kuliahnya, dan menemuimu. Ketika itulah yang aku tahu, dia menyatakan cintanya padamu. Tapi ternyata dia tidak bisa menjaga kondisinya disini. Karena itu, dia langsung kolaps dan kembali masuk rumah sakit. Orang tuanya yang punya banyak relasi di Korea dengan cepat menemukan dia dan membawanya kembali ke China sekali lagi.

Ketika itulah dia berpesan pada kami semua, untuk tidak memberitahukan apapun darimu.

“Dan dua bulan yang lalu, ketika dia masih menjalani kemoterapi, nyawanya tak bisa lagi tertolong. Saat ini makamnya sudah berada di China. Aku pun tak tahu dimana tempat pastinya.

“Untuk segala kesalahannya, Jeongmal joseonghamnida…”

……

 

Terguncang. Frustasi. Hanya itu yang setidaknya bisa mewakilkan perasaannya. Jangan tanya seberapa besar kesedihannya. Karena dia pun tak mampu menghitung berapa banyak tetes kesedihan itu. Ditambah dengan rasa yang menyakitkan. Sangat menyedihkan, hingga dia tak lagi mampu merasakan pedihnya. Karena perasaan terhujam itu telah melewati ambang batasnya. Hingga semuanya seakan mati rasa.

Dia bahkan tak tahu harus bagaimana untuk menyikapi semua ini. Haruskah dia meraung agar lelaki itu kembali? Namun dia sudah terlalu terbiasa dengan rasa sakit. Sudah terlalu dekat dengan kehancuran.

Hari-hari semakin sulit untuknya. Tak ada tangis yang mencair dari dua bola matanya. Tak ada ungkapan kesedihan yang tampak dari raut manisnya. Dia selalu mencoba tersenyum pada dunia, seakan semuanya tetap sama adanya.

Namun kekacauan dalam diam jauh lebih berbahaya daripada kekacauan yang dimanifestasikan dalam bentuk yang nyata seperti air mata. Gadis itu kerap menangis, namun dalam hanya dalam hati, dan hanya dia yang tahu dan rasanya sangat jauh lebih mengerikan.

……

 

“Eun Kyo! Apa yang kamu lakukan?!” Soo Hee membelalakkan kedua bola matanya ketika dia membuka kamar sahabatnya.

Gadis itu mengalihkan pandangan matanya ke arah Soo Hee. Di tangan kanannya tergenggam satu cutter berujung tajam yang dia dekatkan di tangan kirinya. Terlihat tetes-tetes darah mengucur kemudian dari pergelangan tangannya dengan cepat. Dia terkesiap, “Soo Hee?”

“Astaga, Eun Kyo!” Soo Hee menyambar sapu tangan di sakunya dan mengikatkannya di pergelangan penuh cairan merah itu dengan sigap. “Kamu gila?! Kamu ingin mati?!”

Darah perlahan berhenti, namun raut muka Eun Kyo telah memucat, tanda dia telah kehilangan cukup banyak darah. “Nee. Aku ingin menyusulnya, Soo Hee.”

“Babo! Tunggu, aku telepon—“

Dalam lirih, Eun Kyo meracau tanpa henti, seolah dia ingin mengatakan semua rasa frustasinya sebelum dia tak bisa mengatakan apapun, “Hey, dia bilang dia tidak akan meninggalkan aku. Dia bilang dia akan selalu disampingku. Dia berbohong. Aku merindukannya. Jika aku mati, aku pasti akan bertemu—”

Gadis itu tiba-tiba berhenti. Lebih dari itu, dia telah kehilangan kesadaran dirinya.

“Eun Kyo! Heyy!”

……

 

Apa lagi yang dia harapkan dari dunianya tanpa lelaki itu? Warna dunianya telah terenggut, terbawa oleh kepergiannya. Untuk apa lagi dia hidup jika penopangnya saja telah tiada? Sebuah rumah saja akan runtuh bila penyangganya jatuh. Waktu seakan tak lebih dari sebuah penghalang baginya untuk bersua dengan lelaki itu.

Kini gadis itu tak lebih dari sebuah mayat hidup.

Betapa cinta datang bersama warna-warni kebahagiaan, dan lenyap meninggalkan rasa sakit yang mematikan. Ironis dan dramatis.

Betapa cinta tak selalu manis.

Dia seakan dandelion yang tak sanggup menahan beban benihnya sendiri, dan memilih untuk mati membawa segalanya dengannya. Tak ada lagi yang bisa dia harapkan. Karena angin tak akan pernah lagi datang ke dalam hidupnya.

 

It always makes me cry when I realize that we will never be together.
(Choi Eun Kyo)

 

Gadis itu meniup sendiri lilin yang menyala di atas kue di hadapannya. Tentu saja, karena seseorang yang seharusnya meniupnya telah tiada.

“Seung Hyun oppa, aku selalu memanggilmu oppa. Kamu puas kan?”

Setengah dari jiwanya masih terus menunggu dan menunggunya. Gadis itu tak bisa memungkiri bahwa dia selalu memimpikan lelaki itu untuk kembali. Mimpi bahwa suatu hari, lelaki itu akan datang menjemputnya, dan jarak tak lagi menjadi halangan.

The imposible dream.

Cinta yang berlebihan bisa mengaburkan kenyataan dan angan. Terlebih jika kita terlalu sering memikirkan seseorang. Nafasnya seketika tercekat ketika matanya menangkap sosok Seung Hyun. Lelaki itu tersenyum dengan senyuman khasnya, tepat di hadapannya, di seberang mejanya. Matanya yang kelam menatap dalam-dalam tepat di manik mata gadis itu.

“Seung Hyun? Is it truly you?”

Gadis itu dengan cepat beranjak dari kursinya dan berlari ke arah Seung Hyun. Matanya mengamati sosok yang terus tersenyum ke arahnya dengan hati-hati, seakan takut bila pemandangan itu menghilang dalam sekali kedip.

Dan lilin di atas kue itu padam tertiup angin yang baru saja berhembus melewati kamarnya. Begitu pula dengan sosok Seung Hyun. Keduanya menghilang tepat ketika tangan gadis itu mendekat untuk menyentuhnya.

Seketika air mata kembali meleleh dari dua mata indahnya.

Tragis ketika seseorang yang memberimu mimpi dan angan yang tinggi, dan menjatuhkanmu dengan keras ke tanah adalah orang yang sama. Dan dia tak bisa membencinya. Tidak seincipun. Sebaliknya, dia masih tak bisa melupakannya. Tidak, bahkan setelah kematiannya.

Mungkin seharusnya dia melupakannya. Namun bahkan ketika dia menutup mata, yang terlihat masih sosok lelaki tersebut. Sesuatu hal yang tak bisa dihindarinya. Betapa cinta telah menjerumuskannya terlalu dalam.

Gadis itu beralih menatap foto yang terpajang manis di meja samping ranjangnya. Foto terbaik dalam hidupnya, karena menampakkan senyuman bahagia karena saat itu sedang bersama lelaki yang kini telah tidak di sampingnya.

Tak akan ada lagi yang bisa lebih baik dari itu.

“Seung Hyun, Bogoshippeo… Kuharap kamu juga tersenyum untukku di surga sana…”

Sama seperti sebelumnya, setiap detik bersamamu adalah hal yang akan kuhargai selamanya.
(Choi Seung Hyun)

***

 

“Soo Hee…”

“Hmm?”

“That’s 2 years ago, but I still keep wondering till now. Kenapa dia menghilang? Kenapa dia tidak membiarkan aku tahu dan berada di sampingnya? Had I not loved him enough? Or maybe he didn’t love me enough? Why he couldn’t believe me? Pertanyaan-pertanyaan seperti itu selalu berputar di kepalaku tanpa henti. Seharusnya dia tahu… aku tak akan meninggalkan dia, seburuk apapun keadaannya.”

 

“Well. Jika kamu pikir dia meninggalkan kamu karena kamu tidak cukup berarti buat dia, dan dia tidak percaya padamu, betapa buruknya pikiran itu. Seandainya alasan dari semua sikapnya itu adalah dia tidak cukup kuat dan tidak rela meninggalkan kamu, bahkan untuk meninggalkan ‘selamat tinggal’ sekalipun.

Dia sudah menuntaskan hidupnya, memenuhi janjinya pada Tuhan dan pergi lebih cepat. Itu semua sudah di luar kuasa kita, Eun Kyo.”

 

I just wanna go back to that time and hug him tightly. And never let him go from me.”

 

“Relakan dia, dan jadilah orang yang lebih kuat. Kamu bisa, Eun Kyo…”

 

The world will keep on movin, and I’ll keep on standing. Please stay around me, Soo Hee…

“Hey. Do you forget us? Your friends? Do you forget seven girls in your hand phone wallpaper? We are your friends, rite? We always beside you, dear…”

 

“Gomawo, Soo Hee… Sekarang aku tahu mengapa Tuhan menciptakan kalian. Mungkin karena Dia tahu, aku lebih membutuhkan tawa daripada tangisan…

 

Hidup bukanlah tentang seberapa sakitnya kita di masa lalu, tapi bagaimana rasa sakit itu bisa membuat kita lebih kuat di masa sekarang dan yang akan datang.

_______________________________________________________

Fin.

Bagaimana?
Iya, saya tau ini pendek. Tapi saya bingung mau dipanjangin kayak gimana lagi. Soalnya awalnya FF ini hanya berbentuk drabble. Tapi semoga puas. Amiin… >__<

Well, saya tidak akan bilang bahwa ini adalah fiksi, namun saya juga tidak akan bilang bahwa cerita ini 100% fakta. Karena pada kenyataannya, ada orang yang bernasib seperti Choi Eun Kyo yang menunggu seorang Choi Seung Hyun.

Hanya saja, saya pikir, di dunia ini, mungkin cerita ini pasti ada. Tidak hanya satu Choi Eun Kyo, melainkan banyak Choi Eun Kyo, dengan berbagai versi cerita. Well, it’s just one version. 😀

 

Thanks for Soo Hee a.k.a Diyan Yuska Umma yang bikinin poster di atas yang –Oh Tuhan- it’s beyond my imagination, uda mau dijadiin karakter di sini, beserta saya kopas kata-katanya. Very thankful ummaa… 😀

Thanks for my little family, JiLo. Sama seperti kata-kata yang saya tulis di atas, sekarang aku tahu mengapa Tuhan menciptakan kalian. Mungkin karena Dia tahu, aku lebih membutuhkan tawa daripada tangisan.
semacam menyentuh kan kata-kata ini? Hohoo…

 

Ah, nee. Jangan lupa, keep comment guys.

Gomawoyoooo… (_ _)

Iklan