Author : Ayuningtyas
Title : Absolute Music and Art
Length : Sequel
Genre : Romance
Main Cast :
–  MBLAQ member
– Hwang Dain (imagine as you)
Support Cast:
– Park Nana
– Cho Hyori
– Shin Hyoni

Absolute Music and Art –Inst. 9

Jung Byunghee story..

Kalau aku menang, biarkan aku berteman dengan Joon sunbae oke?

 

Aku menggaruk kepalaku pusing, bagaimana bisa? Aku…. Oppanya, membiarkan seorang dongsaengku bergaul dengan si otot idiot itu?!

“Byunghee sunbaenim….. ada sesuatu yang membebani pikiranmu?” tiba-tiba Hyoni memecah lamunanku dengan suara ringan dan petikan-petikan senar gitar yang ia pegang.

Aku menggeleng dengan wajah yang frustasi, “Aniiyo… aku hanya sedang melamun saja.” Jawabku sambil memencet mencet HP mencari nomor kontak Seungho.

“Sunbae mencari sesuatu? Kenapa kelihatannya gusar sekali?” tanya Hyoni lagi. Astaga, bahkan ia bisa mendeteksi setiap gerakanku~ seniman macam apa dia? Begitu memperhatikan hal sekecil mungkin.

To: Seungho

 

Dimana kau? Ada sesuatu yang ingin kubicarakan.

 

“Hyoni-sshi….. bagaimana kalau kau panggil aku oppa saja?” hemh.. disaat saat seperti ini, aku malah membicarakan omong kosong. Tapi, tidak apa-apalah. “Kita kan sudah akrab sekarang. Akan terdengar sangat kaku kalau kau memanggilku Byunghee sunbae terus-terusan.”

Tak kuduga, Hyoni menjawabnya dengan penuh antusias. “Jinjja?! Ah…. Aku masih tidak percaya oppa mengatakan hal itu, hehehehehe gamsahabnida~”

Aku tersenyum sekaligus terpana melihat wajah Hyoni yang ceria. Entah kenapa dia agak sedikit lebih ceria dibandingkan waktu pertama kali bertemu denganku. Dulu ia terlihat takut, gugup, dan kaku jika berada di dekatku. Tapi sekarang rasanya berbeda…

Trililililing~~ HPku bernyanyi. Aku harap yang membalas pesanku adalah Seungho.

From: Seungho

 

Aku ada dirumah, waeyo? Apakah sebegitu inginnya ditanyakan?

 

“Hyoni-sshi… mau pulang sekarang? Aku harus pergi ke rumah Seungho untuk membicarakan sesuatu,” ujarku. “Gwenchana?”

Ia mengangguk dengan kikuk sambil menaruh gitarnya kembali ke dalam tasnya, “Nee… aku juga tidak merasa kalau sudah sesore ini. Oh iya,….. yang tadi oppa ajak bicara itu…. Dongsaeng oppa?”

“Oh kau melihatnya ya? nee dia seperti kau dan Seungho; tetangga yang sudah kuanggap dongsaeng,” jawabku sambil menghela napas. “Akhir-akhir ini dia agak berubah menjadi appeun yeoja. Yah….. tapi tidak separah yang kau pikirkan lah, maka itu aku ingin pergi ke rumah Seungho untuk membicarakannya.”

Untung saja Hyoni bukan tipe yeoja yang banyak bertanya. Ia hanya mengangguk sedikit dengan wajah yang lucu dan ia mengangkat tas gitarnya yang kelihatan besar jika dibandingkan dengan tubuhnya.

“Haruskah kita pulang sekarang? Kaja oppa~” jawabnya sambil menungguku yang sedang beres-beres

~~~~~

Hwang Dain story…

From: Nana

 

Dain-sshi… apa tadi kau pulang bersama Joon sunbaenim?

 

From: Hyori

 

Yak, apa yang kau lakukan bersama Joon sunbae?? Apa ia menculikmu?

 

“Siapa sih yang mengirimkanmu pesan sampai sebegitu banyaknya?” Joon sunbae berusaha mengintip HPku dan dengan cepat aku menghalaunya.

“Aniiyo…. Teman-temanku hanya bertanya kenapa aku pulang lebih cepat hari ini tanpa berkumpul sebentar dengan mereka,” bohongku. “Tapi… berkumpul dengan mereka sebenarnya kurang menyenangkan. Karena mereka punya pasangan masing-masing, jadi hanya aku sendiri yang lajang. Hehe”

Joon sunbae mengangguk angguk sambil meminum teh berry buatan umma yang segar. Dalam hati aku meruntuk, kenapa sih teman-temanku begitu terkejutnya karena sekarang aku dekat dengan namja ini?

“Aku…. Membuatmu menjauh dari teman-temanmu ya?” tanya Joon sunbae tiba-tiba. Heng sepertinya dia mau mulai menyalahkan dirinya lagi~

Aku menggeleng, “Anii… kenapa sunbae.. eh kenapa oppa bisa berpikir begitu? Kan tadi sudah kujelaskan kenapa. Benar kan?”

Joon sunbae mengangguk sambil tersenyum seperti kelinci, “Dain-sshi… kalau aku lihat, appa dan ummamu musisi semua ya?”

“Hahahaha iya, hanya aku satu-satunya pelukis dalam garis keturunanku.” Jelasku sambil menggaruk garuk kepala, “Tapi dulu ada sih yang pelukis… kakek buyutku. Selain itu semuanya musisi dan penari.”

Joon sunbae mengacak acak rambutnya dengan liar, eh…. memang sih dia selalu melakukan hal itu. Tapi entah kenapa aku jadi agak takut melihat tingkahnya yang aneh itu *shiver*

“Oh jesonghabnida~~ aku suka rambut kuningku. Seperti Maetel di Galaxy Express 999.” Lagi-lagi Joon sunbae menyebutkan tokoh kartun yang tidak aku tahu, “Itu kartun tahun 1973, mungkin kau tidak mengenalnya… aku tahu itu dari hyung hyung tetanggaku.”

Aku manggut-manggut lagi. Sepertinya hari kami berdua penuh dengan anggukan kepala -_- “Pantas saja oppa tahu, padahal oppa kan lahir tahun 88. Apalagi aku yang lahir tahun 92, mana aku tahu~”

Tiba-tiba Joon sunbae tertawa gembira, “Hahahahahahaha kureyo? Pantas saja kau selalu bingung kalau aku sudah membicarakan tokoh itu.” Jawabnya antusias, “Oh ya… Dain-sshi, mau tidak gambarkan Maetel untukku? Aku punya fotonya loh.”

Sembari aku meminum teh berry punyaku, ia mengeluarkan gambar tokoh kartun dengan mata yang lebar dan besar, rambut kuning panjang dan tubuh yang dibalut pakaian serba hitam. terlihat sangat melankolis, sekaligus cantik.

“Mau pakai kanvas atau kertas? Kalau pakai kanvas dan cat minyak, bayar ya. soalnya cat ku sudah mau habis, hehehehe.” Jawabku asal.

“Pakai kertas saja, di buku sketsamu..” jawab Joon sunbae, “Tapi dalam waktu 5 menit mulai dari sekarang. Ottoka?”

Aku menelan ludah. Apa dia memberikan sebuah tantangan untukku? Kenapa tiba-tiba ia….. ah biar saja deh, lagipula aku suka tantangan.

“Joa…” jawabku singkat. “Aku ambil buku sketsaku dulu ya di dalam.”

~~~~~

Author tells…

Hyori dan Nana berjalan cepat mendekati Dain yang sedang jalan sendirian di kampus seni rupa. Mereka berjalan cepat untuk mendapatkan informasi yang sangat mereka butuhkan, agar tak terjadi salah paham.

“Hwang Dain~!!” panggil dua yeoja itu dengan satu sentakkan, membuat Dain yang sedang asiknya berjalan, menjadi terhenti langkahnya. Ia menengok kea rah dua temannya yang wajahnya… terlihat agak aneh untuknya kali ini.

“Oh, nae chingu~!! Ada ap… wek??!!” Dain sangat terkejut melihat kedua temannya menghampiri…. sekaligus mencekik lehernya gemas, “Yak, yak~!! Ada apa sih?!”

“Jangan bilang kau belum bayar tagihan teleponmu sampai-sampai kau tak membalas pesan kami,” kecam Hyori. “Ige mwoya? Hah, hah?? Ige mwoji~~?!”

Dain yang awalnya kebingungan, langsung memucat wajahnya saat melihat foto dirinya bersama Joon sedang naik motor bersama, “Em…. Anu, kita sekarang adalah chingu. Dia adalah chinguku, tanya saja sama umma dan appa. Bahkan kami bercengkrama bersama.”

Nana menarik alisnya bingung, “Kau dekat dengan namja yang paling diidolakan di sekolah ini? Micheoseo?? Kau mau mati dikeroyok oleh….. fansnya?” tanyanya dengan suara sepelan mungkin.

“Hanya sekali dua kali kok dia pulang denganku. Bahkan jarang sekali, jangan khawatir.. semuanya akan baik-baik saja,” jawab Dain dengan wajah yang bingung, “Sudah ya.. aku ada kelas nih 5 menit lagi.”

“Jamsimanyo…” Hyori melepas cekikan main-mainnya dan mencengkram pundak Dain, “Dia.. tidak melakukan sesuatu yang jahat padamu kan? Kau pasti tahu kan kalau wajahnya bahkan tidak bisa dibilang anak baik-baik, dia itu apeun namja Dain-sshi~~ lihat saja rambutnya yang kuning it…”

“Jangan menilai dia hanya dari rambutnya dong~” keluhku, “Apa sih yang kalian takutkan kalau aku berteman dengannya? Jega gwenchanasimika… aku bisa pastikan itu sekarang kan? Ada luka tidak di sekitar tubuhku? Tidak ada kan? Sudah ya, jaelgeyo..”

Lagi-lagi Dain dihalangi oleh Nana dan Hyori, “Lalu…… bagaimana dengan Seungho sunbaenim?”

Wajah Dain berubah menjadi tidak enak sesudah mendengar nama namja itu, “Sudahlah tidak usah membicarakan dia. Dia tuh yang apneun namja, dia tuh yang….. ah lupakan saja. Sudah ya~”

Dain menepuk kedua temannya sambil melangkah pergi. Ia merasa bingung, kenapa chinguduel nya sangat khawatir melihat kedekatannya dengan Joon.

“Ah… apa sih yang mereka pikirkan tentang Joon oppa, ia cukup baik kok. Bahkan ia kemarin sampai berteriak karena melihat sketsa Maetel buatanku, sepertinya dia terlalu berlebihan. Tapi aku menghargai dia karena ia mengagumi hasil kerjaku. Tidak ada salahnya kan?” ucap Dain meruntuk sendiri. Ia duduk di kelas melukis dan segera mengeluarkan alat-alat kerjanya, disaat itu juga HPnya bergetar memperlihatkan sebuah pesan.

From: Joon sunbaenim

 

Makan siang bersama? J

 

Dain tersenyum membaca pesan itu, “Lihat… bahkan ia mengajakku makan siang kali ini, dia sebenarnya tidak apeun kok. Ia bahkan sangat baik dan….”

“Hwang Dain. Apakah kau sudah siap menerima kelas selanjutnya?” tegur seosangnim yang sepertinya mendengarkan dumelan Dain.

Dain menganggukkan kepalanya sambil menahan ketawa. Gara-gara Joon oppa, semuanya jadi heboh~

~~~~~

Hwang Dain story…

“Joon sunbae mengajakku makan dibelakang aula gedung tari. Apa tidak berbahaya?” gumamku sembari membaca pesan dari Joon sunbae, “Tapi kan aku tidak bawa bekal. Memangnya dia mau membagi bekalnya denganku?”

Seharusnya kalian tidak perlu bingung mengapa aku mengatakan kalau di belakang aula gedung tari membahayakan. Tapi berhubung kalian belum tahu, aku akan memberitahukannya.

Jika kalian ingin ke belakang aula itu, kalian harus melewati gedung musik karena ‘kebetulan’ ada akses masuk kesana bagi para murid yang memang suka menghabiskan waktunya untuk menyendiri seperti aku. Pintu utamanya dijaga oleh petugas yang akan melarang siswa selain jurusan tari unttuk memasuki wilayah aula. Yah secara anak tari memang melaksanakan praktek kuliahnya disana, setiap hari.

Dan kalau melewati gedung musik…. Kalian pasti tahu dong aku akan berpapasan dengan siapa saja? Bukan hanya Byunghee oppa yang menyebalkan itu. Bahkan kau bisa bertemu Cheolyong dan Cheondung oppa yang tak segan-segan untuk mencegat dan menginterogasiku, sudah bisa ditebak kalau itu perintah dari yeochin mereka.

“Memang sih kalau di belakang aula sepi dan jarang sekali ada orang yang kesana.” Keluhku, “Tapi…. Kenapa Joon sunbae malah membuatku curiga dengan…. Eh?”

Aku mendengar dentingan piano yang sepertinya sedang melantunkan musik klasik. Aku yang ingiiiin sekali melihatnya, harus menguatkan hati untuk berjalan terus. Joon sunbae menunggu~

“Oke… ayo jalan terus, Dain…” ujarku pada diri sendiri, “Ayo gerakkan kakimu, apneun yeoja…. Lets….. lets see the pianist~ huaaaaakh~~~”

Badanku rasanya tak bisa melawan kalau sudah mendengar suara dentingan piano. Rasanya tak bisa kalau tak melihatnya, aku merapatkan telinga dan mendekati pintu yang setengah terbuka itu. Ruang musik, yah…. Teringat dengan peristiwa pekan lalu…

“Siapa ya yang memainkan pianonya kali ini?” aku mengintip sedikit ke dalam ruangan. Belum aku lihat sang pianis, tiba-tiba alunan permainannya menjadi keras dengan tempo yang cepat.

Glek, aku menelan ludah saat mendengarnya. “Piano sonata no 3 di F minor op 57? Apakah anak-anak instrument sebegitu hebatnya sampai-sampai bisa memainkan nada-nadanya yang lumayan sukar itu?” gumamku. Yah berhubung aku suka melihat pertunjukkan piano sejak kecil, aku mampu menebak permainan piano klasik.

“Oke, permainannya sudah selesai. Apakah dia…. Eh?” tiba-tiba aku mendengar dentingan tuts piano dengan tempo yang cepat kembali, jarang-jarang aku mendengar hal seperti ini di kampus musik. “Astaga, kali ini Waltz di C Sharp minor….. nomor berapa ya, kok aku bisa lupa?”

“Op. 64 no. 2, hebat sekali kamu bisa menebaknya.”

Aku terlonjak mendengar suara yang menyapaku dari belakang, yang tak lain dan tak bukan adalah Seungho sunbaenim, “A…. a….. annyeonghaseo sunbaenim~”

Ia tersenyum sambil menepuk nepuk kepalaku, “Senimannya Byunghee ternyata bisa mengetahui permainan piano yang aku lakukan 12 tahun yang lalu ya?”

“Nee, aku memang menyukai permainan piano sejak kecil,” jawabku gugup, “Tapi…. Tanganku tidak diberkahi kemampuan yang indah itu, kemampuan untuk menari diatas tuts-tuts piano yang tanpa noda itu. Makanya….. nomu joahae,”

Seungho oppa mengangguk angguk, “Nado…. Aku bersyukur mempunyai bakat di bidang gitar dan piano. Tapi…. Aku tidak pernah melihat sebuah goresan tangan yang nyata seperti lukisan-lukisanmu.”

Tiba-tiba Seungho oppa membekap mulutku dan segera mendorongku masuk ke dalam ruang musik.

Ya Tuhan, apa yang akan namja ini lakukan padaku? Kenapa aku tidak berkutik seperti ini? Ah, Joon sunbaenim…. Mianhae, sepertinya kali ini aku melanggar janjiku padamu…