Author : Bee

Main Cast : Go Miho, Eunhyuk

Cameo : Lee Donggun

Rating : AAbK

Genre : Romance

PS :  Lee Donggun, cowok ganteng. Gyaaahahaha, maksudnya aktor ganteng yang filmnya bejibun, pacarnya Han Jihye (aktris). Oh Sanghee, ada dalam cerita tapi tokohnya belum (mungkin ga akan) dimunculin, adalah penulis drama Dangshin Cham Yeppeuda / You’re So Pretty.

Maaf postnya lama. Ada pelengkap hidup yang harus dijalani. *JJJIAH! Gaye lu, Sil,, Fosil..! Bukannye segala unsur kehidupan udah lu jalanin semua ye? Pan elu fosil..*

1st published @ http://wp.me/p1rQNR-66

 

^^^

 

“Kau mau? Akan kuberikan. Lalu setelahnya kau berikan nyawamu untukku. Kita impas kan? A— ae— a-i-u-e-o—“ Miho melatih vokalnya di kamar.

Saat ini dia sedang melatih naskah yang diberikan padanya. Sudah genap satu minggu dia jadi perabotan tetap di rumah. Kakinya sudah jauh lebih baik dari sebelumnya. Bengkaknya sudah hilang, dan yang lebih bagus lagi, sakitnya sudah jauh berkurang. Dua hari setelah kakinya mati rasa, Miho merasakan sakit luar biasa pada pergelangan kakinya yang menyebabkan dia terus mengeluh sepanjang hari. Bahkan saat sedang tidak digunakan, pergelangan kakinya terasa sakit bagai dipuntir-puntir. Obat dari dokter memang membantunya mengurangi rasa sakit, tapi hanya sebentar. Jauh sebelum masanya minum obat, sakitnya sudah terasa lagi. Terpaksa Miho bertahan sebab dia tidak mau jadi budak pil-pil beracun itu.

Selama seminggu itu, Euncha hanya mendatanginya beberapa kali, tidak sesering biasanya, tapi adiknya itu sudah mengatakan dengan jelas bahwa dia akan mengurangi intensitasnya bertemu Miho karena dia akan mulai bergerak menentukan hidupnya sendiri. Miho bisa melihat kekecewaan Euncha sewaktu mengatakannya, tapi gadis keras kepala itu memaksa untuk tidak membicarakan hal itu lagi. Dia bertekad bahwa bukan hanya Miho yang bisa berusaha mencapai mimpinya, dia juga akan melakukannya. Jadi dia tak bisa menemui Miho sesering yang dulu lagi.

Miho sedih mendengarnya. Dia tidak ingin kehilangan Euncha. Selama ini gadis itu selalu menemaninya. Sebagian hatinya protes kenapa mereka tidak bisa berjalan bersama meraih mimpi, tapi sebagian lagi—bagian hatinya yang lebih dewasa—menyadari bahwa Euncha juga butuh untuk memiliki hidup. Tidak melulu mengurus dan menemaninya. Miho rasa, jauh sebelum ini dia sudah tahu akan hal ini, makanya dia memutuskan untuk ikut kelas akting dan teater diam-diam. Namun bagaimanapun, dia masih berhutang maaf pada Euncha. Dia ingin sakit hati adiknya hilang. Itulah sebabnya dia kemudian memutuskan menerima peran yang ditawarkan Sangryeol Sajangnim.

Peran yang sangat menarik. Tentang gadis sakit jiwa karena trauma masa lalunya. Jiwanya berubah menjadi psikopat yang semakin lama semakin sakit karena semakin banyak korban mati di tangannya. Meski berakhir tragis, namun si gadis akhirnya bisa menemukan penyembuhnya. Kisah yang mirip dengan masa lalunya sendiri, hanya bedanya dia tidak menjadi psikopat dan kesembuhannya tidak berakhir dengan kematian. Miho ingin Euncha melihatnya ketika memainkan peran ini. Melihat perbedaan antara Miho dan si peran.

“Miho-ya!” terdengar suara ibunya tiba-tiba membuka pintu kamar.

“Ay, kamchagi!” Miho kaget melihat ibunya masuk tiba-tiba. “Eomma!” protesnya.

“Cepat turun. Ada tamu untukmu!” Ibu Miho seperti tidak melihat kekagetan anaknya dan malah menyuruh Miho cepat-cepat turun dengan wajah berseri-seri.

Miho meredakan kekagetannya lalu dengan penasaran mengikuti ibunya ke ruang depan. Di sana, berdirilah seorang pria berpakaian resmi sedang melihat foto keluarga Miho.

“Ah, jogiyo, seonsaengnim, ini anak saya, Miho.” Ibu Miho menegur sang tamu.

Tamu itu berbalik dan Miho memperhatikannya. Usianya mungkin hampir 40, terlihat dari sikap tubuhnya, tapi wajahnya nampak seperti anak kecil kalau saja tidak berhias kumis tipis dan sedikit jenggot di dagunya. Tulang pipinya tinggi, begitu pula badannya. Tubuh ramping, sikapnya sangat terjaga. “Nugu…seyo?” Miho bertanya ragu.

Pria itu tersenyum penuh percaya diri. “Perkenalkan, nama saya Lee Donggun,” ujarnya sambil menyerahkan kartu nama. Marseille Enterprise, begitu tertera di kartu namanya. “Saya pendiri agensi itu,” dia menambahkan sambil menunjuk kartu nama tersebut.

“Ah, sebaiknya kita bicara sambil duduk. Ayo silakan duduk, Seonsaengnim,” ajak ibu Miho dengan ramah. Baik Miho maupun Lee Donggun menurut, tapi ibu Miho malah beranjak sambil berkata, “Saya ambilkan minum dulu.”

Lee Donggun tampak tidak menolak ditawari minum begitu. Senyum masih tidak lepas dari wajah pria itu yang sekarang sedang memperhatikan Miho dengan seksama. Membuat gadis itu jengah. Miho tidak bodoh. Kalau memang benar orang ini pemilik agensi, tentu saja dia harus memastikan sasarannya—dalam hal ini Miho merasa dirinya adalah sasaran—sesuai dengan kebutuhan. Tapi tatapan terang-terangan seperti yang dilakukan pria itu membuat Miho mengkeret. Miho tidak keberatan seandainya dia memberi tatapan menilai, tapi gadis itu tidak bisa memutuskan apakah tatapan Lee Donggun itu tatapan menilai atau malah tatapan pria lapar. Ekspresi pria itu terlalu rumit untuk dideteksi.

“Jogiyo,” akhirnya Miho tidak tahan. “Tolong jangan melihat saya seperti itu,” katanya defensif dan sedikit ketus.

Miho melihat kilatan di mata pria itu. “Waeyo?” tanya Lee Donggun dengan tenang.

“Saya tidak suka saja. Apa maksud anda datang kemari?” terang-terangan Miho mengalihkan pembicaraan.

Lee Donggun melebarkan senyumnya sedikit, lalu mulai bicara. “Sebelumnya, saya ingin anda tahu bahwa saya kenal anda dari dua sumber. Yang pertama, anda tentunya kenal Ji Sangryeol dan sepupunya, Oh Sanghee?” Donggun segera melihat bahwa gadis itu langsung paham maksudnya, memang Sangryeol sudah bilang padanya bahwa dia sudah bercerita mengenai Donggun pada Miho, jadi dia tidak heran kalau Miho langsung paham. Donggun melihat ada yang langsung berubah dari sikap Miho. Tubuhnya sama sekali tidak bergerak, tapi pandangannya tidak sewaspada tadi.

“Jadi, anda orang yang dibicarakan oleh uri Sajangnim tempo hari,” Miho merespon. Berpikir bahwa pantas saja Sajangnimnya tersasar nama dari Maseille menjadi Marcel, nama itu tidak umum—setidaknya di Korea.

Donggun mengangguk. “Ya, tapi bukan hanya itu,” lanjutnya membuat Miho penasaran. “Sebelumnya saya sudah pernah melihat anda, tapi tidak punya kesempatan untuk menegur. Namun sepertinya jodoh kita baik karena kita mengenal orang yang sama. Tadinya saya sempat putus asa tidak bisa menemukan anda lagi.”

“Maksud anda?” Miho agak tersesat di sini.

“Anda masih ingat insiden penamparan Choi Minho?”

Miho membuka mulutnya. Jujur saja dia terkejut lelaki ini menyebut-nyebut peristiwa itu.

“Saya ada di sana waktu itu,” Lee Donggun menjelaskan lebih lanjut. “Saya sering menelusuri Myeongdong untuk mencari orang-orang baru. Saya melihat anda waktu itu dan mengikuti anda cukup lama. Sewaktu hendak menyapa anda, terjadilah insiden itu.”

Miho menyentuh hidungnya. “Jeongmalyo?!” Miho terkejut. Tidak menyangka hari itu benar-benar ada pencari bakat yang sedang berkeliaran.

Kletek-kletek, terdengar suara cangkir beradu dengan tatakannya dari dalam rumah. Ibu Miho datang membawakan minuman. “Silakan diminum,” kata sang ibu kemudian duduk di sebelah anaknya.

Donggun mengucapkan terima kasih kemudian segera meminum minumannya. Setelah itu tatapannya kembali pada Miho, “Benar. Dan saya merasa sangat beruntung kemarin sewaktu Sangryeol ssi mengatakan bahwa dia mengenal anda. Saya berterima kasih padanya untuk alamat anda.”

Miho tidak mengatakan apapun. Dia hanya menatap Donggun agar pria itu melanjutkan apapun yang ingin dikatakannya. Senyum Donggun semakin lebar melihat itu. Sejak pertama melihat Miho, dia sudah yakin gadis itu memiliki sesuatu yang istimewa. Kematangan sikap dan keluguan seorang bocah bercampur dengan proporsi yang pas dalam dirinya. Gadis ini cerdas, Donggun sudah bisa menebaknya dari awal. Selama mengamati Miho di Myeongdong, perasaannya serasa melonjak keras. Dia seolah menemukan produk siap pakai yang tanpa cacat. Yang perlu dia lakukan hanyalah mengemasnya dengan baik. Itu akan memotong anggaran training besar-besaran. Sebagai pebisnis, di matanya Miho adalah produk yang sangat berharga; sebagai orang yang mengerti seni, baginya Miho adalah bintang.

Donggun memutuskan melanjutkan bicaranya, “Jadi, saya tidak mau menunggu lagi, takut kehilangan kesempatan. Maukah anda bergabung dengan agensi kami, Miho ssi?”

“Omo!” Ibu Miho berseru mendengar itu. Dia memang orang rumahan, tapi dia tahu bahwa lelaki di hadapan mereka ini bukan amatiran. Dia langsung percaya begitu orang itu tadi mengatakan bahwa dia dari agensi bintang.

Miho menahan senyumnya. Dia tidak bisa begitu saja percaya pada orang ini. Paling tidak dia harus memastikan dulu siapa orang ini. Benarkah pria ini orang yang sama dengan yang dibicarakan oleh Sangryeol atau bukan. Kebetulan itu terlalu bagus untuk langsung dipercaya, meski tidak dipungkirinya bahwa hatinya melonjak senang.

“Anda tentu mengerti bahwa,” Miho menjawab sambil tersenyum. “Sebagai orang awam di dunia entertainment, saya harus bersikap hati-hati, bukan?”

Donggun akhirnya tertawa. Sudah diduganya. Miho bukan barang yang mudah didapat. “Saya mengerti. Oleh karena itu, saya sudah menyiapkan penawaran untuk anda.”

Miho mengangkat alisnya.

“Begini, saya juga tidak ingin memiliki artis yang hanya mengandalkan fisik. Mungkin anda belum pernah dengar, tapi agensi kami tidak mencari idola. Kami mencari individu dengan bakat akting karena itulah fokus agensi kami—mengingat saya berlatar belakang teater. Jadi, apapun yang terjadi, mereka yang menjadi artis kami haruslah seseorang yang sudah diaudisi.” Donggun mulai menjelaskan dengan lebih semangat.

“Khusus untuk anda, karena anda tidak mendatangi kami, melainkan kami—ah, maksud saya, saya—yang mendatangi anda, saya akan meluangkan waktu sedikit lebih lama untuk mengamati bakat anda,” Donggun memperhatikan Miho masih hanya diam, jadi dia melanjutkan lagi, “Saya tahu anda menerima peran dari naskah terakhir yang ditulis oleh Oh Sanghee ssi, nah selama persiapan masa pentas, anda akan melihat saya beredar di sekitar anda. Mengamati anda berlatih, dan pada akhirnya menyaksikan pertunjukan itu sebelum memutuskan apakah kami jadi mengontrak anda atau tidak.”

Miho tercenung mendengar itu. “Apa maksud anda, ini semacam masa percobaan?”

Donggun menipiskan bibirnya, “Kalau anda lebih suka menyebutnya begitu, yah.. ya.”

“Apa ada syarat khusus yang harus saya penuhi selama masa itu?”

“Tidak. Biasanya ada, tapi kali ini tidak. Saya percaya pada anda. Kalau kita sepakat dengan pengaturan ini, hal tersebut tidak akan mengikat kedua belah pihak. Saya hanya akan mengawasi anda dalam kapasitas artis. Anda tidak bertanggung jawab terhadap agensi kami, begitu pula sebaliknya. Kalau boleh disederhanakan, saat ini saya hanya meminta ijin untuk mengawasi kegiatan panggung anda.”

Miho mengangguk-anggukkan kepalanya. Tapi lalu dia teringat apa yang sedang dilakukan SME. “Maaf sebelumnya, tapi… Anda tentu tidak mengira bahwa anda satu-satunya yang memberi saya penawaran kontrak seperti ini, kan?” Miho mengindikasikan situasinya.

Kali ini Donggun terkejut. Ada yang sudah menawari Miho? Sangryeol tidak mengatakan apa-apa tentang itu. Tapi dia harus bersikap tenang. “Tidak, tentu saja tidak. Saya tidak heran kalau ada orang lain yang tertarik merekrut anda. Tapi untuk anda ketahui, ini peraturan umum yang berlaku di seluruh dunia, saya rasa, bahwa seorang artis hanya bisa bernaung di bawah satu agensi.”

Miho segera memutus ucapan Donggun. “Ya, ya, saya tahu itu. Saat ini saya masih mempertimbangkan. Belum memutuskan. Dan tawaran anda memberi saya pandangan lain, saya berterima kasih untuk itu.”

Donggun tersenyum tulus untuk pertama kalinya sejak bertemu Miho, “Baiklah, itu kabar gembira untuk saya.”

Miho tertawa kecil, “Silakan diminum lagi,” tawarnya lebih ramah dari sebelumnya. Pria itu kemudian meminum minumannya.

Selama beberapa menit berikutnya mereka bercakap-cakap ringan dan melibatkan ibu Miho dalam pembicaraan mereka sampai akhirnya Donggun memutuskan bahwa misinya sudah tercapai. Dia pun berpamitan dan pergi meninggalkan pintu rumah sambil dipandangi oleh Miho dan ibunya setelah mendapatkan kalimat kesepakatan dari mulut Miho.

Di dalam rumah, ibu Miho sangat senang dengan tawaran yang didapat anaknya. Dan dia juga bertanya agensi lain apa yang menawari anaknya itu kontrak. Miho menolak menjawab dan malah mengalihkan perhatian ibunya dengan meminta dibuatkan snack-snack rumahan.

 

^^^

 

“Aku ingin mengambil bajuku, kapan aku boleh bertamu?”

Eunhyuk memandang ponselnya dengan kosong. Itu sms dari Miho. Sehari setelah peristiwa menghebohkan di asrama waktu itu, dia menerima sms dari nomor tak dikenal yang ternyata adalah Miho. Gadis itu mengucapkan terima kasih atas semua pertolongannya sejak dari kantor polisi dan meminta maaf karena membuat kamarnya bau.

Eunhyuk sangat girang sekaligus heran darimana Miho mendapatkan nomornya. Gadis itu bilang dia minta nomor Eunhyuk dari Leeteuk. Sejak itu mereka sering berhubungan lewat pesan teks dan meninggalkan twitter. Dia senang karena dia tidak perlu merecoki Leeteuk lagi untuk bertukar pesan dengan Miho. Dan sekarang bukan hanya Leeteuk yang memiliki nomor Miho, meski masih baru Hyungnya itu yang berani menelepon Miho dengan leluasa. Sampai sekarang Eunhyuk masih belum berani menelepon Miho.

Sekarang Miho meminta ijinnya untuk bertamu. Haruskah dia katakan “sekarang”? Saat ini Eunhyuk memang sedang kosong. Baru nanti sore dia ada jadwal. Tapi nanti dipikirnya Eunhyuk ingin bertemu dengannya, gengsi dong. Lagipula, tidak ada orang lain di rumah. Nanti mereka hanya berdua dong.

Ah, tapi Miho kan laki-laki, pikirnya.

Justru karena itu! Sisi hatinya yang lain mengingatkan. Bagaimana kalau nanti dia diserang oleh Miho? Bagaimana kalau Miho itu beneran siluman rubah yang bisa menghipnotis sehingga Eunhyuk akan menuruti semua kemauannya? Eunhyuk bergidik oleh bayangannya sendiri.

Tapi baju Miho saat ini membuatnya gelisah. Tumpukan baju yang kemarin lupa dibawa pulang oleh pemiliknya itu ada di lemari. Bukan tumpukannya yang jadi masalah, karena memang hanya empat potong. Tapi, jenisnya. Ahjummonim yang bertugas membersihkan baju-baju Suju berkomentar tidak enak pada Eunhyuk sewaktu menyerahkan baju-baju yang sudah rapi, “Lain kali aku tidak mau kalau disuruh mencuci baju pacarmu! Masa perempuan tidak bisa mencuci baju sendiri?!” gerutu wanita setengah baya itu.

Saat itu Eunhyuk hanya bisa senyum-senyum tidak enak, tidak punya kesempatan untuk menjelaskan karena ahjummonim langsung ngeloyor pergi. Begitu Eunhyuk melihat baju-baju Miho, baru Eunhyuk memahami kenapa wanita itu tidak suka. Ternyata di sana ada dalaman Miho. Tangan Eunhyuk langsung terasa panas. Hampir saja dia menjatuhkan tumpukan baju yang sedang dipegangnya. Hingga kini, baju Miho—keempat potongnya—masih tersimpan rapi di lemari Eunhyuk. Tak berani disentuhnya tapi selalu terlihat oleh matanya.

Tiba-tiba datang sms lagi:

“Apa kau pergi? Maaf, sebenarnya tadi aku sudah menghubungi Leeteuk Oppa dan hendak menemui kalian di tempat kerja, tapi Oppa bilang sebaiknya aku ke rumah karena kau ada di rumah. Jadi aku sekarang sudah hampir sampai di tempat kalian.”

Apa? Jadi Miho sudah menghubungi Leeteuk dulu?! Kenapa dia selalu jadi nomor dua?! Amarah Eunhyuk langsung melonjak melampaui segala pikiran buruk yang tadi mampir di benaknya. Dia membalas:

“Maaf, aku baru baca sms-mu. Datanglah, aku ada di rumah.” Sent.

Baru semenit, datanglah balasan dari Miho:

“Tolong bukakan pintunya. Aku bohong, sebenarnya aku sudah di depan pintu.”

Apa?! Eunhyuk langsung melihat pakaiannya. Apa dia berpakaian pantas? Bagaimana ini? Kenapa mendadak begini? Di hadapan Eunhyuk tersebar bungkus cemilannya. Botol jus tergeletak sembarangan. Eunhyuk benar-benar sedang menikmati waktu luangnya. Laptopnya terbuka lebar memperlihatkan game yang sedang dimainkannya. Untung dia tidak sedang menonton video yadong. Entahlah, akhir-akhir ini dia seperti hilang semangat menonton video-video begitu. Tapi sekarang bukan itu yang penting.

Miho sudah di bawah, dan tempat ini benar-benar berantakan! Lalu Eunhyuk memutuskan, sudahlah, daripada Rubah itu menunggu kelamaan, lebih baik dia membiarkannya masuk. Toh makhluk itu dasarnya juga laki-laki, jadi pasti sudah tidak heran lagi dengan kondisi berantakan begini.

Eunhyuk membuka kunci dan bicara di interkom. “Miho-ya, masuklah!”

Mendengar suara Eunhyuk, di bawah Miho nyengir ke arah penjaga. “Permisi,” katanya. Penjaga yg tadi menahan Miho akhirnya membiarkan wanita itu masuk.

Eunhyuk membukakan pintu untuk Miho dan menahan nafas. Astaga, makhluk ini mungkin memang jadi-jadian, tapi kecantikannya pasti memang sudah dari sononya, pikir cowok itu melihat wajah Miho yang berseri-seri. Hari ini dia memakai celana pendek hitam dengan t-shirt hijau. Rambutnya mengikal lembut membingkai wajahnya yang berbentuk hati. Tangannya terangkat menunjukkan bawaannya pada Eunhyuk. Mulutnya berseru riang, “Tadaaaa!”

Mau tidak mau Eunhyuk tersenyum girang. “Apa itu?” tanyanya.

“Permisi…” Miho memasuki rumah sambil melepas sepatunya datarnya. “Aku bawa cemilan dan es krim! Hari ini panas, jadi kupikir es krim akan enak.” Miho berkata seperti anak kecil. Di belakangnya Eunhyuk menutup pintu dan memperhatikan bahwa Miho juga menggendong tas di punggungnya.

“Cemilan?” Eunhyuk bertanya.

Miho masuk dan terpana melihat ruangan di depannya. Bungkus cemilan berserakan dimana-mana. Dia menoleh ke arah Eunhyuk, “Ini,” diangkatnya kotak bekal yang sengaja dibawanya dari rumah. “Aku minta ibuku membuatkan ini. Sengaja kami bikin banyak, karena kalian berbanyak.”

“Waaah, jinjja?” mata Eunhyuk melebar melihat bawaan Miho. “Ini buatan ibumu? Wah, pasti enak. Ayo kita buka, aku ingin mencicipi!” cowok itu segera mengambil kotak bekal dari tangan Miho dan membawanya ke meja. Di sana dia duduk di lantai dan mulai membongkar oleh-oleh dari Miho.

“Kau sendirian?” Miho bertanya sambil berjalan pelan ke arah Eunhyuk. Kemudian duduk di tempat yang kosong.

“Waaa! Kue beras!” Eunhyuk kegirangan membuka kotak bekal itu. Segera dicomotnya sepotong kue beras dan dimasukkannya ke mulut dalam satu suapan. Kini mulut cowok itu penuh sekali.

“Yha! Makannya pelan-pelan aja. Masih banyak kok itu!”

“O, masisseo!”

Miho nyengir. “Tentu saja! Ibuku yang buat!” katanya tanpa bisa menutupi rasa bangga.

Eunhyuk mencomot sepotong kue lagi. “Mmm,” matanya terpejam sesaat, “Ini benar-benar enak. Apalagi gratis. Ayo kau coba juga,” katanya mengambilkan sepotong untuk Miho kemudian mengarahkannya ke mulut wanita itu.

Miho langsung terbawa oleh sikap riang Eunhyuk. Sambil tertawa dia menerima suapan dari Eunhyuk. Tadi dia memang tidak sempat mencicipi, hanya langsung menaruhnya dalam kotak bekal dan membawanya pergi. Begitu menggigitnya, matanya terbelalak lebar. “Hmmm! Kau benar. Ini enak sekali!” katanya lalu ikut turun ke lantai dan mulai mencomot satu lagi.

“Yha! Kenapa kau malah jadi ketagihan? Udah, satu aja! Kau kan bawa ini untuk kami!” Eunhyuk protes melihat sikap agresif Miho.

“Satu lagi. Habis sudah lama aku tidak makan jajanan buatan ibuku. Akhir-akhir ini dia sibuk nonoton sinetron.” Miho memilih kue beras yang ada di depannya dan memasukkan satu lagi ke dalam mulutnya.

Tiba-tiba dia menaruh tangan di pipi dan membelalak sambil berseru mengagetkan Eunhyuk, “Mmm!”

“Mwo?” Eunhyuk terkejut.

Miho menelan kuenya dengan susah payah, lalu mengambil sepotong yang sama dan mengarahkannya pada Eunhyuk. “Kau harus coba yang ini. Ibuku mengisinya dengan pasta kacang merah. Enak sekali.”

“Jinjja?” Eunhyuk penasaran lalu menerima suapan dari Miho. Ketika dia sedang mengunyah kuenya, Miho meraih kantong eskrim dan mengambil eskrim rasa vanilla. Dibukanya bungkus es krim itu, lalu langsung diberikannya pada Eunhyuk.

“Coba sambil makan ini juga,” Miho menyodorkan es krim batangan itu.

Awalnya Eunhyuk ragu, tapi melihat mata Miho yang memohon, dia akhirnya menuruti permintaan Miho dengan ragu-ragu. Sesaat dia tidak berkomentar apapun, tapi tak lama kemudian, lidahnya merasakan sesuatu yang baru dan mengejutkan, ternyata Miho benar, rasanya enak. Pasta kacang merah yang pekat dan es krim vanila yang dingin dan manis membuat kombinasi rasa di mulutnya terasa nikmat sekali. Tangannya terulur menutupi mulut, mencegah es krim yang sudah meleleh di mulutnya menetes keluar. “Bagaimana kau tahu ini akan enak?” tanyanya sambil lalu mengambil es krim dari tangan Miho dan menghabiskannya.

Miho masih terus mengunyah kue di mulutnya. Wanita itu tidak menjawab, hanya mengangkat bahu dan kedua tangannya, lalu nyengir menggemaskan. Membuat Eunhyuk hampir melongo memandangnya. Tanpa disadari keduanya, mereka kini sedang saling menatap.

Yang pertama merasa jengah dengan hal itu adalah Eunhyuk. Dengan segera cowok itu memalingkan wajahnya dan menatap laptopnya. Melihat game yang sedang dimainkannya tadi, Eunhyuk mengulurkan tangan ke arah mouse untuk menyimpan update terbarunya. Ketika tangannya sedang sibuk menyimpan, tahu-tahu Miho sudah mendekat padanya, “Apa yang sedang kau lakukan?”

Eunhyuk otomatis menoleh dan terkejut, “Waaa!” serunya. Wajah Miho dekat sekali.

Miho terkejut melihat reaksi Eunhyuk. “Wae?!” dipikirnya wajahnya belepotan sesuatu.

“Eissh, jangan dekat-dekat!” Eunhyuk protes spontan.

“Mwo?” Miho heran mendengar kata-kata Eunhyuk. Lalu wanita itu menyeringai, “Wae? Kau sedang apa? Jangan-jangan nonton yadong ya?” godanya. Padahal Miho sudah melihat monitor Eunhyuk dan cowok itu hanya main game. Dia sengaja menggodanya.

“Ani!” Eunhyuk mendebat. “Mana mungkin aku nonton yadong?”

Miho menjepatkan bibirnya mengejek Eunhyuk. “Kau ga usah bohong. Begini-begini aku mantan ELF, jadi aku tahu kebiasaanmu.”

Eunhyuk memutar tubuh membelakangi laptopnya. “Ya, itu kan dulu. Sekarang aku sudah berubah. Lebih dewasa!”

“Dewasa tontonannya?” tantang Miho.

“Jinjja! Aku udah lama ga nonton yadong kok! Liat, aku cuman lagi main game. Nih, liat nih…” Eunhyuk mempertahankan diri, tanpa sadar mengakui kebiasaannya menonton yadong.

Miho tertawa dan melihat sekilas layar laptop Eunhyuk yang tadi sudah dilihatnya. Karena wanita itu hanya tertawa dan mengabaikan bukti yang ditunjukkannya, Eunhyuk merasa makin ingin membela diri. “Kenapa ketawa?! Aku jujur, liat aja nih!”

“Neo pabbo. Berarti memang kau hobi nonton yadong? Cuman sudah lama kau ga nonton, gitu kan?” tanya Miho makin menggoda Eunhyuk. Muka cowok itu langsung memerah. “Ahahaha!” Miho tak tahan lagi dan melepaskan tawanya.

Eunhyuk tidak bisa berkata-kata lagi. Setengah dirinya malu, tapi setengahnya lagi tidak percaya dia bisa membuat Miho tertawa seperti ini. Rasanya kejadian minggu kemarin tidak pernah terjadi. “Ba, ba, bagaimana kondisimu?” Eunhyuk berjuang mengalihkan topik.

Tawa Miho berubah pelan. Dia memperhatikan Eunhyuk. Wajah cowok itu masih memerah, tapi sorot matanya jujur ingin tahu kondisi Miho. Wanita itu kemudian mengangkat kakinya, “Liat, kakiku udah sembuh,” cengirnya.

Eunhyuk melihat ke arah yang ditunjukkan Miho dan matanya terbelalak senang. Merah wajahnya berangsur-angsur menghilang. “O! Benar!” senyumnya lebar, lalu menghilang, “Geureom… yang lainnya?” Eunhyuk menambahkan ragu.

Cengiran Miho hampir hilang. Hampir. Gosh, memalukan sekali dia minggu kemarin. “Nan gwenchanha,” katanya menghindari tatapan Eunhyuk.

“Ya, Miho-ya. Kau itu berhutang penjelasan lho sama aku,” Eunhyuk mulai penasaran.

Miho hanya menatapnya datar, jadi Eunhyuk melanjutkan lagi, “Nih ya, coba, aku berlari-lari menjemputmu dari kantor polisi, memberimu tempat beristirahat, menggendongmu kemana-mana—“

“Arasseo! Arasseo!” Miho kesal karena diingatkan. “Oke, oke, aku cerita. Jadi hari itu tiba-tiba kakiku bengkak banget, kamu tahu kan? Itu lebih bengkak dari sebelumnya, dan mati rasa…” Miho memulai ceritanya. Matanya bergerak-gerak ke sana kemari menggambarkan ceritanya. Ekspresinya bermacam-macam, dan tangannya kadang-kadang menunjuk-nunjuk tak jelas.

Eunhyuk menikmati semua itu. Wajah Miho yang putih bersih, bibirnya yang agak basah karena sering dijilat saat bercerita, rambutnya yang bergoyang-goyang lucu. Tanpa sadar Eunhyuk meletakkan tangannya di sofa kemudian menggunakannya untuk menyangga kepala. Biasanya dia adalah pria cerewet yang suka mengacaukan cerita orang, tapi dia tidak mau memutus suara Miho yang terdengar sangat manis di telinganya saat ini.

Miho menoleh padanya tiba-tiba, tatapannya sayu, “…dan waktu itu tanganmu sedang menghangatkanku,” senyum di bibir Miho terkembang. “Terima kasih, Eunhyuk…ssi,” Miho ragu menyebut nama Eunhyuk, tapi lalu memutuskan menggunakan ssi agar tidak dikira terlalu sok akrab.

Eunhyuk mengerjapkan matanya. Dia sebenarnya tidak 100% mendengarkan cerita Miho, jadi sekarang dia agak bingung. Akhirnya dia memutuskan untuk bertanya, “Katanya kau tidak mau memanggil Oppa, tapi kenapa kau memanggil Oppa pada Leeteuk Hyung?”

“Eh?” Miho bingung. Eunhyuk menanyakan hal yang sama sekali melenceng dari ceritanya. Cowok itu mendengarkan ga sih? “Kenapa bertanya begitu? Kau ini dari tadi mendengarkan ceritaku ga sih?”

Eunhyuk menegakkan duduknya. “Iya, dengar. Kau diserang, kan? Lalu jatuh ke tempat sampah makanya badanmu bau—“ kata-kata Eunhyuk terhenti karena Miho menjauh darinya. “Kau mau kemana?”

“Kau tidak mendengarkan! Kau ngelamun ya dari tadi?! Huh, padahal kau yang minta aku cerita, tapi aku malah dikacangin!” Miho sebal dengan sikap Eunhyuk dan berusaha bangkit, hendak duduk di sofa lagi, menjauhi Eunhyuk.

Tapi cowok itu menarik tangannya sehingga dia terduduk lagi di lantai. Begitu sadar apa yang dilakukannya, Eunhyuk langsung melepas tangannya. “Iya, iya. Maaf. Aku emang agak ngelamun tadi. Jangan marah, ulangi lagi doooong, ceritanya… Aku dengerin bener-bener deh kali ini,” bujuknya menunjukkan gummy smile yang jadi ciri khasnya, tangannya membentuk tanda V.

“Ogah! Capek tau, cerita panas-panas begini.” Miho ngambek.

“Panas ya? Haus? Aku ambilin minum dulu ya, bentar ya…” Eunhyuk langsung bangun. Dalam sekejap dia sudah kembali dengan air dingin di tangan.

Miho masih cemberut. Air putih. Jus kek, apa kek, ini air putih doang! Tapi sebagai tamu yang baik, dia diam saja. Diterimanya air putih itu kemudian diminumnya hingga habis setengah.

“Miho-ya, cerita lagi dong~” Eunhyuk membujuk dengan mengeluarkan jurus aegyo.

Yang dibujuk menoleh cepat. “Ya! Aku ini lebih tua darimu! Enak banget kamu manggil aku Miha-Miho-Miha-Miho!” rasanya Miho belum puas kalau tidak melihat Eunhyuk sengsara, padahal Eunhyuk sudah baik sekali padanya selama ini, jadi seharusnya kelakuan cowok itu yang tidak mendengarkan ceritanya tidak terlalu jadi masalah, tapi entah kenapa dia tidak peduli, dia ingin membuat Eunhyuk kebingungan.

“Oh! Jadi kau benar-benar lebih tua dari aku? Kau benar-benar 27 tahun? Aku pikir kau bohong!”

Ingin rasanya Miho menjitak Eunhyuk saat itu juga. Untung tangannya sedang memegang gelas. “Ngapain aku bohong sama kamu? Emang ada untungnya gitu? Panggil aku Noona!”

Eunhyuk tiba-tiba bergidik. “Idiiih, ogah gua!”

Miho mengangkat gelasnya dengan sikap mengancam, mulutnya mendesis. Di hadapannya Eunhyuk refleks melindungi kepala dengan tangan. “Panggil Noona ga?!” Miho tiba-tiba berubah jadi sadis.

“Ssireo!” seru Eunhyuk keras kepala. Miho bergerak, dan cepat-cepat sebelum Miho sempat menyerangnya, Eunhyuk berkata, “Arasseo! Arasseo! Aku akan panggil kamu lebih sopan, tapi aku ga mau panggil kamu Noona.”

Miho menurunkan gelasnya. Matanya menyipit, “Jadi apa?”

“Hyung. Ya? Abis di mata aku image kamu itu laki-laki. Oke? Gapapa kan?”

Miho tidak tahu bagaimana tepatnya perasaannya. Di satu sisi dia agak tidak terima karena Eunhyuk menolak menganggapnya perempuan, tapi di sisi lain, dia teringat pesan Leeteuk. “Hyung?” akhirnya wanita itu bertanya.

Melihat kekesalan Miho tidak sebesar tadi, Eunhyuk bersikap makin berani. “O. Hyung. Miho Hyung.. Eotte?”

Miho memundurkan badan dan menyenderkannya ke sofa. Dia tidak yakin harus berkomentar apa. Bagi Eunhyuk, sikap tubuhnya itu dianggap sebagai persetujuan. “Assa! Kalau gitu, aku akan memanggilmu, Miho Hyung!” lalu cowok itu tampak seperti berpikir. Seruannya kemudian mengejutkan Miho, “OH, HYUNG! Begini saja, biar orang-orang tidak terlalu curiga kenapa aku memanggilmu Hyung, aku nemu nama panggilan nih untuk kamu: MiHyung!”

Cowok itu menggigit bibir bawahnya, gusi atasnya terpampang lebar, “Eotte? Aku jenius kan?! Hahahaha!”

Sebenarnya Miho tidak ada masalah dengan itu. Setuju tidak, tapi menolak juga tidak, hanya saja, dia tidak rela Eunhyuk berpuas diri. Dengan kejam gadis itu akhirnya melaksanakan niat luhurnya menjitak Eunhyuk. Pletak!

“Ya! Hyung! Appeu!” teriak anak itu yang malah membuat Miho semakin ingin menyiksanya.

“Neo! Jangan ketawa lebar-lebar! Bau tau!”

“Mwo?!” Eunhyuk tersinggung.

Miho berpura-pura mendenguskan hidungnya di sekitar tubuh Eunhyuk. “Ya, bau apa ini?”

“Wae?” tanya Eunhyuk polos, mulai mengangkat lengan dan mencium-ciumi ketiaknya sendiri.

“Ummh!” Miho berseru sambil menutup hidungnya. Padahal dia tidak membaui apapun sebenarnya. “Kapan kamu terakhir mandi?” tanyanya dengan suara sengau karena hidungnya ditutupi.

“Eonje?” Eunhyuk tampak berpikir keras. “Kayaknya kemarin pagi deh.”

Miho kaget, tidak mengira bahwa Eunhyuk benar-benar belum mandi sejak 24 jam yang lalu. “YA! Pantas saja! Cepat sana mandi! Cepat! Ih, bau banget deh kamu! Hueek,” Miho bertingkah selebay-lebaynya.

Eunhyuk langsung bangkit menghindari serangan tangan Miho yang terarah ke arahnya. “Arasseo! Arasseo! Aku mandi sekarang!” dia mulai berjalan meninggalkan Miho. Belum sempat meninggalkan ruangan, dia berbalik lagi menuju meja. Tergesa-gesa dia membereskan laptopnya sambil memandangi Miho. Yang dipandangi hanya bisa balas memandang. Yah, dia tidak kaget sih, sebab sudah jadi rahasia siapapun yang pernah jadi ELF, bahwa laptop, ponsel, dan makanan adalah hal yang tidak mau dibagi oleh Eunhyuk.

Setelah barang-barangnya beres, Eunhyuk langsung melesat ke kamarnya dan berlanjut ke kamar mandi. Ternyata Miho bisa galak juga. Tadinya dia pikir Miho itu 100% manis. Eh, tak tahunya anarkis juga.

Sepeninggal Eunhyuk, Miho cekikikan sendiri. Sekarang dia memahami apa yang sering ditulis di internet, bahwa Eunhyuk sering memancing nafsu para seniornya untuk menjitak. Dia baru saja merasakannya tadi. Ada rasa senang tersendiri melihat wajah Eunhyuk tersiksa. Sepertinya memang sudah takdir anak itu untuk sering dikerjai.

Miho merasakan sesuatu yang dingin menyentuh punggungnya. Begitu menoleh, dia langsung terlonjak. Es krimnya! Segera dia bangun sambil melongok ke dalam kantong plastik berisi es krim yang sengaja dibelinya agak banyak itu. Raut wajahnya berubah sedih, sepertinya es-es itu banyak yang sudah tak berbentuk. Untung Miho membeli yang dalam plastik, bukan yang bentuk cup. Dia memutuskan untuk menaruhnya dalam lemari pendingin. Sambil menebak-nebak, Miho mencari dapur. Tidak susah. Sebentar saja es krim-es krim itu sudah tersimpan aman di dalam freezer. Walau mungkin bentuknya sudah tidak indah lagi.

Kembali dari dapur, Miho melihat kondisi ruang tengah tempat dia dan Eunhyuk tadi duduk. Berantakan sekali. Tanpa berpikir wanita itu langsung memunguti sampah yang diciptakan oleh yang-mulia-Eunhyuk-yang-sedang-libur-siang-ini dan membuangnya ke tempat sampah.

Sewaktu kembali ke ruang tengah dari kamar mandi, Eunhyuk terkejut melihat ruangan yang tadi ditinggalkannya berantakan sudah bersih. “Hyung, kau tidak perlu melakukan ini,” katanya tidak enak.

Miho sudah selesai membereskan, jadi dia sekarang menggelosor di sofa. “Mana bisa aku diam saja melihat ruangan ini seperti pulau habis dilanda tsunami.”

Eunhyuk nyengir lagi ke arah Miho. Aish, anak itu terlalu banyak nyengir. Miho heran gusinya tidak kering-kering, pikirnya sambil meraih tas punggungnya. “Ini,” katanya pada Eunhyuk. “Aku kembalikan bajumu. Gomawo,” ujarnya menyerahkan celana dan kaus Eunhyuk yang dia pakai kapan itu.

Oh, jadi dia membawa bajuku toh, pikir Eunhyuk yang dari tadi penasaran dengan isi tas punggung Miho. Dia meraih bajunya sambil mengucapkan terima kasih, lalu menyuruh Miho menunggu sebentar sementara dia kembali ke kamarnya mengambil baju Miho.

Saat Eunhyuk berjalan ke kamarnya, Miho merasa ingin minum, jadi dia membawa gelas yang tadi dibawakan Eunhyuk untuknya—yang sekarang sudah kosong—ke dapur, mengambil air sendiri. Ah, sepertinya dia sudah terbiasa dengan tempat ini.

Eunhyuk kembali ke ruang tengah dan tidak menemukan Miho di sana. Dia mendengar suara-suara dari dapur, lalu pergi  ke sana. Miho sedang menunggu gelasnya penuh dan tidak menyadari kedatangannya.

Entah darimana, timbul pikiran Eunhyuk untuk jahil. Sama seperti yang sering dia lakukan dengan member lain, dia mendekati Miho pelan-pelan, menunduk sedikit. Lalu dengan mengejut, dari belakang dia mendorong lekuk lutut Miho dengan lututnya sendiri.

Miho yang tidak siap langsung kehilangan keseimbangan. Di tangannya sudah tergenggam gelas yang penuh. Respon refleknya yang pertama adalah mencari pegangan, dan tangannya meraih tangan Eunhyuk. Eunhyuk kaget sehingga terhuyung ke belakang. Akhirnya keduanya sama-sama jatuh ke belakang. Air di gelas Miho tumpah, baju di tangan Eunhyuk melayang entah kemana.

Lalu diam. Tak ada yang bersuara.

Dua detik kemudian Miho menyadari bahwa dirinya sekarang sedang berbaring telentang. Tangannya terangkat di atas kepala sambil memegang gelas kosong. Di kakinya terasa sesuatu bergerak. Begitu dilihatnya, ternyata itu sepasang kaki. Astaga! Eunhyuk.

Eunhyuk terbaring dengan kepala tertahan kaku. Saat jatuh tadi, dia sebisa mungkin mencegah kepalanya tidak terantuk lantai dan berhasil. Tapi kini yang jadi masalah, dia tertindih Miho. Wanita itu sepertinya tidak sadar sudah jatuh menimpanya. Tangan kiri Eunhyuk terangkat hendak mengelap mukanya yang basah akibat tumpahan air dari gelas Miho saat tiba-tiba gadis itu bergerak.

Tanpa diduga Eunhyuk, wanita itu berbalik sehingga sekarang wajah mereka berhadapan. Matanya membelalak khawatir. “Gwenchanha?” tanyanya penuh kekhawatiran ke arah Eunhyuk.

Eunhyuk tidak bisa menjawab. Tubuh Miho kini melekat ke tubuhnya di lantai. Tangan mungil wanita itu meraba dadanya yang tertutupi kaus basah. Itu saja sudah membuat Eunhyuk hampir hilang akal, dan kini wanita itu bergerak mencoba meraih kepalanya, “Kepalamu baik-baik saja? Tidak terbentur?”

Nafas Miho menyentuh pipinya, sementara sensasi tangannya yang dingin dan basah jelas terasa di pipi Eunhyuk. Tanpa sadar tangan Eunhyuk terangkat ke leher Miho, memegangi wajahnya dan menariknya mendekat. Terus mendekat hingga akhirnya Eunhyuk merasakan bibir Miho menempel di bibirnya. Yang Eunhyuk tahu, detik berikutnya dia sudah mencium Miho, terus dan semakin dalam.

 

-cut-