Author : Claudhia Safira (Park Hye Joong)

Title : Strawberry Lovellipop
Length : Continue
Genre : Romance

Cast :

* Casts :
– Kim Hyun Joong  (SS501) as Kim Hyun Joong
– Park Hye Joong as Park Hye Joong
– Kim Hyung Joon (SS501) as Kim Hyung Joon
– Song Hye Ra as Song Hye Ra
– Heo Young Saeng (SS501) as Heo Young Saeng
– Kim Hyun Ra as Kim Hyun Ra
– Kim Kyu Jong (SS501) as Kim Kyu Jong
– Song Hyu Rin as Song Hyu Rin
– Park Jung Min (SS501)  as Park Jung Min
– Han Sang Mi as Han Sang Mi
Extended Casts :
– Kim Min Joo as Hyun Joong’s mother
– Park Min Ho as Hye Joong’s father
– Byun Jang Moon (A’st1)  as Jang Moon
– Sung In Kyu as (A’st1) In Kyu
– Kang Hye Neul as Hye Neul
– Park Jung Jin (A’st1)  as Jung Jin

 

7.

Because  “I LOVE YOU”

 

Saat – saat yang paling mendebarkan bagi Hye Joong akhirnya datang  juga. Ya, hari ini adalah ujian yang sangat menentukan untuk kelulusan Hye Joong. Hye Joong melangkah dengan yakin. Belajarnya selama ini ia rasa sudah cukup untuk menghadapi ujian ini.

Di saat yang berbeda, siswa kelas 2 mengumpulkan tugas akhir mereka.

“Kau kenapa?” tanya Hyun Ra pada Hyu Rin yang terlihat lesu.

“Tidak ada apa – apa.” jawab Hyu Rin singkat.

“Jangan berbohong padaku.”

Kemudian Hyun Ra mengajak Hyu Rin ke suatu tempat.

“Sebenarnya, kau punya masalah apa? Ceritakanlah padaku. Kau jangan malu – malu, di sini tak ada orang, jadi kau bebas menceritakan semua masalahmu padaku.”

“Menurutmu aku orang yang seperti apa?”

“Kenapa tiba – tiba kau menanyakan hal itu?”

“Sudah, jawab saja”

“Kau adalah teman yang baik, supel, dan peduli terhadap semua orang.”

“Kau yakin?”

“Sebenarnya ada apa?”

Hyu Rin lantas menceritakan apa yang dialaminya.

“Jadi karena itu? Memang menurutku tak sepantasnya kau berlaku seperti itu pada Kyu Jong. Yang tidak kau suka itu kan Hyun Joong, bukan Kyu Jong. Jadi, jangan karena Kyu Jong adalah teman Hyun Joong, lantas kau ikut – ikutan tak suka padanya. Ditambah lagi kau memaki – maki dia seperti itu.”

“Lalu, apa yang harus aku lakukan?”

“Kenapa kau masih bertanya? Tentu kau harus minta maaf padanya.”

“Aku? Minta maaf? Kepadanya?”

“Di saat seperti ini, janganlah kau mengutamakan harga dirimu. Aku tahu, kau adalah orang yang menjaga harga dirimu, tapi untuk yang satu ini, aku rasa kau harus mengesampingkan harga dirimu.”

“Jika dia tak memaafkanku?”

“Itu urusan belakangan. Yang penting kau sudah punya itikad baik. Apa perlu aku temani?”

Hyu Rin menganggukkan kepala.

Mereka berdua lantas mencari keberadaan Kyu Jong. Ternyata Kyu Jong sedang duduk – duduk bersama teman – temannya.

“Lihat itu siapa yang datang!” ucap Jung Min.

“Kyu Jong, ada sesuatu yang ingin aku bicarakan padamu.” ucap Hyu Rin pelan.

“Mau bicara apa?”

“Aku…… aku………… aku ingin meminta maaf padamu.”

“Minta maaf? Apa kau punya salah kepadaku?”

“Kau jangan membuatku menjadi lebih tidak enak padamu. Aku minta maaf soal kejadian di rumahku beberapa hari lalu.”

“O………. soal itu, aku sudah melupakannya. Kau tak perlu minta maaf seperti ini.”

“Kau tak marah lagi padaku?”

Kyu Jong menggelengkan kepala.

“Terima kasih. Aku lega mendengarnya.”

“Hyun Ra ayo pergi” ajak Hyu Rin.

“Kami permisi dulu.” ucap Hyun Ra.

Tiba – tiba Hyun Joong memegang lengan Hyun Ra untuk mengucapkan sesuatu.

“Kerja bagus.” bisik Hyun Joong singkat lantas melepaskan pegangannya.

Hyun Ra lantas pergi bersama Hyu Rin dengan muka memerah.

“Hyun Joong berbisik apa padamu?” tanya Hyu Rin

“Bukan apa – apa”

 

“Kau berpacaran dengan Hyun Ra?” tanya Young Saeng tiba – tiba.

“Kenapa kau bisa berkata seperti itu?” tanya Hyun Joong.

“Tak biasa – biasanya kau dekat dengan perempuan selain dengan Hye Joong noona.”

“Aku hanya berteman dengannya. Dia gadis yang menyenangkan.”

“Kau tidak menyukainya?” tanya Jung Min.

“Tentu saja aku suka padanya, tapi hanya sebatas teman.”

………………. ………. ………………..

Hari ini adalah pesta kelulusan siswa – siswi kelas 3. Semua siswa yang hadir malam itu tampak cantik dan tampan. Jika di pagi hari adalah pelepasan siswa secara formal dengan menghadirkan orang tua wali murid juga seluruh guru, malam ini adalah pesta kelulusan yang diadakan oleh sekolah khusus dihadiri oleh siswa – siswi kelas 3 dengan suasana yang tidak formal tentunya seperti tadi pagi.

“Park Hye Joong, aku ucapkan selamat padamu.” ucap Hyung Joon.

“Untuk apa?”

“Karena kau menjadi siswa dengan nilai tertinggi di sekolah ini. Pidatomu tadi pagi benar – benar menunjukkan kelasmu.”

“Terima kasih atas pujianmu. Kau terlalu berlebihan.”ucap Hye Joong.

“Mau berdansa denganku?”

“Tapi aku tidak bisa dansa”

“Aku akan mengajarimu.”

Sementara itu Hye Ra melihat dari kejauhan sahabatnya itu sedang berdansa dengan Hyung Joon.

“Mudah – mudahan Hye Joong memberikan kesempatan lagi untuk Hyung Joon” ucap Jae  Kyung dalam hati.

 

Beberapa saat kemudian………………..

“Hye Ra sshi, kau darimana saja? Dari tadi aku mencarimu” tanya Hye Joong.

“Aku jalan – jalan sebentar. Kalian berdua serasi sekali malam ini.”

Tiba – tiba saja ponsel Hye Joong berdering. Ada SMS dari Hyun Joong.

“Maaf, tampaknya aku harus pergi. Hyun Joong memintaku menemuinya.” ucap Hye Joong.

“Hye Joong tak pernah berubah” ucap Hyung  Joon.

“Apa maksudmu?”

“Sejak dulu, prioritas utamanya adalah Hyun Joong, Senang rasanya jika aku bisa menjadi Hyun Joong, setiap saat bisa bersama Hye Joong.”

“Bersabarlah Hyung Joon, aku yakin suatu saat Hye Joong akan menyadari betapa besarnya cintamu padanya.”

“Aku harus bersabar sampai kapan?”

“Mollayo. Tapi perjuangan membutuhkan kesabaran. Aku akan selalu mendukungmu, jadi kau jangan patah semangat.”

 

Di sisi lain …………………..

“Kenapa kau mengajakku ke sini?” tanya Hye Joong saat ia sampai di sebuah danau kecil..

“Sini, duduklah di sampingku noona. Di sini tempatnya tenang, jauh dari keramaian, bukankah tempat seperti ini yang noona suka?”

“Lalu, kenapa kau meyuruhku datang kemari?”

“Sebenarnya aku ingin berkata jujur pada noona. Hyung Joon memintaku membantunya untuk mendapatkan hati noona.”

“Lalu?”

“Lalu aku berpikir sebentar, kemudian aku menyetujuinya.”

“Kenapa kau menyetujuinya?”

“Karena kupikir inilah saatnya aku membalas semua kebaikan noona padaku. Demi mengurusku, noona tak pernah sekalipun berpikir untuk memiliki kekasih, lagipula aku rasa Hyung Joon adalah pria yang tepat untuk noona.”

“Kau pikir apa yang kau lakukan itu benar?”

“Aku rasa seperti itu.”

“Sejak kapan kau menjadi orang yang sok tahu seperti ini? Selama ini aku tak pernah punya pacar bukan semata – mata aku mengurusmu saja, tapi memang aku belum menemukan pria yang pas. Kau tak perlu susah susah untuk membantuku mendapatkan pacar, apalagi Hyung Joon. Karena hal itu sangat percuma. Aku tak pernah menyukai Hyung Joon. Dia aku anggap seperti teman biasa, sama seperti yang lain. Jadi aku mohon, jangan lagi kau membantunya untuk mendapatkanku, karena aku tak pernah menyukainya. Aku tak ingin memberikan harapan kosong padanya, jadi aku mohon, jangan lakukan ini lagi jika memang kau menyayangiku.”

“Maafkan aku noona, sungguh aku tak bermaksud membuatmu sedih. Aku hanya ingin membuatmu senang saja.”

“Jika kau ingin membuatku senang, belajarlah yang rajin, agar kau menjadi anak yang pintar, menjadi kebanggaan ayah dan ibu, dan jangan lagi membuat kedua orang tua kita 1sedih. Jadilah Kim Hyun Joong yang tangguh”

“Noona, malam ini indah sekali ya? Apa kau mau mendengarkan permainan harmonikaku?”

“Tentu saja aku mau. Aku ingin tahu sejauh mana kau mahir memainkan harmonika.”

Hyun Joong lantas memainkan harmonikanya. Malam semakin larut, seperti bulan yang tak akan pernah padam menyinari malam, Hyun Joong pun seperti tak mengalami kelelahan memainkan harmonikanya itu berjam – jam. Di sisi lain Hye Joong telah tertidur di pundak Hyun Joong.

………………. ………. ………………..

Beberapa minggu kemudian …………………

“Benarkah ayah?” ucap Hye Joong dengan terkejut.

“Benar, ayah tidak berbohong.”

Pagi itu Hye Joong benar – benar senang. Hingga makanan yang ada di depannya diabaikan begitu saja. Alasannya tak lain adalah ia berhasil mendapat beasiswa untuk kuliah di Australia.  Jadi beberapa hari yang lalu ayahnya menyuruhnya untuk menjalani test untuk mendapatkan beasiswa di luar negeri. Ayahnya mendapat bantuan dari temannya. Tak mau menyia – nyiakan kesempatan, Hye Joong segera mengambil kesempatan itu. Betapa bahagianya dia kala mengetahui dirinya termasuk 4 orang yang beruntung di antara ratusan pendaftar.

“Kau harus mempersiapkan segalanya. Urus paspormu. Tiga minggu lagi kau berangkat.” Ayah menjelaskan semuanya pada Hye Joong.

“Baiklah ayah, aku akan memberitahukan ini pada Hye Ra.”

“Hye Ra!”

“Mworago? Dari suaramu tampaknya kau sedang senang.”

“Benar sekali. Kau tahu, aku berhasil mendapatkan beasiswa kuliah di luar negeri!”

“Yang benar??? Aku turut senang mendengarnya. Kapan kau berangkat?”

“Tiga minggu lagi.”

“Aku harus mengadakan acara untuk merayakan hal ini!”

“Acara apa?”

“Nanti kau juga akan tahu.”

 

Di tempat lain Hyun Joong bertemu dengan Hyung Joon di sebuah café.

“Untuk apa kau mengajakku kemari?”tanya Hyung Joon.

“Bagaimana kuliahmu? Kabarnya kau telah diterima di salah satu universitas di Seoul?”

“Begitulah. Lantas, apa tujuanmu sekarang?”

“Aku hanya ingin meminta maaf padamu, Hyung.”

“Minta maaf kepadaku?”

“Dulu aku pernah berjanji padamu akan berusaha agar kau bisa mendapatkan hati noona. Tapi ternyata aku tak bisa melakukannya. Bukan karena aku tak mau. Jujur, aku telah berupaya membujuk noona agar dia mau membuka hatinya untukmu, tapi noona sama sekali tak tertarik padamu. Percuma saja aku memaksanya. Sekali lagi maafkanlah aku.”

“Tak apa. Aku hargai niat baikmu. Aku juga sudah mulai menyerah mendapatkan hatinya. Aku sadar bahwa selama ini ia tak pernah menyimpan perasaan padaku. Mungkin karena dia mencintai pria lain.”

“Mencintai pria lain? Siapa?”

“Entahlah, aku merasa saat ini Hye Joong sedang mencintai seorang pria. Tapi entah siapa.”

Kemudian ponsel Hyung Joon berdering.

“Ada apa Hye Ra?”

“Apa kita bisa bertemu sekarang?”

“Bertemu sekarang? Memangnya ada apa?”

“Ada sesuatu yang penting yang ingin aku katakan padamu, tapi tak bisa aku katakan lewat ponsel. Kita bertemu di taman dekat sekolah, aku tunggu kau di sana.”

Hyung Joon lantas menutup ponselnya.

“Maaf Hyun Joong, aku ada janji. Lain kali kita berbincang lagi. Aku permisi.”

 

Sesampainya di taman…………

“Kau datang juga. Ada sesuatu yang ingin aku katakan padamu.”

Hye Ra lantas menceritakan bahwa Hye Joong mendapatkan beasiswa kuliah di Australia. Hye Ra juga menjelaskan bahwa dia ingin membuat pesta untuk merayakan keberhasilan Hye Joong  juga sebagai pesta perpisahan, sehari sebelum Hye Joong berangkat.

“Ini bisa menjadi momen yang baik padamu untuk mengutarakan perasaanmu padanya.”

“Aku rasa aku sudah menyerah untuk mendapatkan Hye Joong.”

“Kenapa kau menyerah? Sudah banyak rintangan yang kau hadapi, tapi kau menyerah di tengah jalan begitu saja?Ini bukan Hyung Joon yang selama ini aku kenal.”

“Hye Joong tak pernah menyukaiku. Jadi percuma saja jika terus aku paksakan.”

“Hyung Joon……………”

“Aku berterima kasih sekali karena kau telah memberikan support mu padaku. Tunggu, kenapa aku baru sadar. Kenapa kau peduli sekali padaku?”

“Apa?” Muka Hye Ra jadi memerah.

“Selama ini kau yang begitu menggebu – gebu agar aku pantang menyerah mendapatkan Hye Joong. Sebenarnya untuk apa kau lakukan itu? Hye Joong sama sekali tak menyukaiku, mungkin kau juga tahu hal ini. Apa manfaatnya padamu jika aku berhasil mendapatkannya?”

“Itu…. itu… ah sudahlah, aku pergi dulu.”

“Hai Hye Ra, kau belum menjawab pertanyaanku.”

Hye Ra yang telah pergi tak menggubris perkataan Hyung Joon.

“Song Hye Ra, kau benar – benar bodoh!” ucap Hye Ra dalam hati.

………………. ………. ………………..

Hyun Joong telah mengetahui jika Hye Joong mendapatkan beasiswa ke luar negeri. Tentu ia senang mendengarnya. Tapi hati kecilnya mengatakan ia sedih jika harus berpisah dengan Hye Joong. Sejak kecil, Hye Joong selalu ada di sisinya, ia tak tahu apa yang akan dilakukannya tanpa Hye Joong di sisinya.

“Hyun Joong, kenapa hari ini kau tampak murung?” tanya Hye Joong melihat dongsaengnya itu duduk terdiam di kamarnya.

“Aku hanya ingin sendiri.”

“Apa kau sedih aku akan pergi ke Australia?”

“Tentu saja aku senang noona kuliah di Australia. Bukankah itu impian noona dari dulu?”

“Sebenarnya aku juga berat mengambil keputusan ini. Di satu sisi aku ingin sekali kuliah di Australia, itu adalah impianku dari dulu. Tapi di sisi lain, aku tak sanggup berpisah dengan ayah dan ibu, terutama aku harus berpisah denganmu.”

“Apa noona akan merindukanku?”

“Tentu saja bodoh”

“Noona sudah mempersiapkan segala yang noona butuhkan?”

“Semua yang aku butuhkan telah aku masukkan di koper.”

“Apa hari ini noona sibuk?”

“Aniyo”

“Mau jalan – jalan bersamaku?”

“Eodiga?”

“Ke mana saja, asalkan bersama noona, aku sudah senang.”

“Baiklah. Kau harus mentraktirku es krim!”

“Perintah siap dilaksanakan! Ayo berangkat!”

Mereka berdua pun pergi mengitari kota selayaknya pasangan kekasih hingga malam menjelang.

Sesaat setelah Hye Joong dan Hyun Joong sampai rumah.

“Hye Joong, cepat ke rumahku sekarang, ajak Hyun Joong juga!” ucap Hye Ra.

“Sebenarnya ada apa hingga kau mengundangku dan Hyun Joong ke rumahmu?”

“Nanti juga kau akan tahu, yang  jelas cepatlah ke rumahku!”

“Ada apa noona?” tanya Hyun Joong.

“Hye Ra meneleponku. Katanya kita harus ke rumahnya sekarang.”

“Untuk apa?”

“Aku juga tidak tahu. Lebih baik kita ke sana sekarang.”

 

Beberapa menit kemudian, mereka telah sampai di rumah Hye Ra.

Hye Joong mencoba mengetuk pintu rumah Hye Ra, tapi tak ada jawaban. Hingga akhirnya Hye Joong menelepon Hye Ra.

“Aku sudah sampai depan rumahmu. Bukakanlah pintu.”

“Pintunya tidak aku kunci, jadi kau masuk saja.”

Saat Hye Joong membuka pintunya, rumah Hye Ra seperti rumah hantu, begitu gelap, menyeramkan, tanpa ada lampu yang menyinari.

“Kenapa begitu gelap sekali noona?”

“Aku sendiri juga tak tahu.”

Tiba – tiba lampu menyala.

“Surprise……………………!!!!!” teriak beberapa orang yang berada di rumah Hye Ra.

Hye Joong kaget bukan main. Ruang keluarga di rumah Hye Ra penuh dengan hiasan dari balon di mana – mana dipenuhi lilin – lilin kecil berbentuk hati di sudut – sudut ruangan.

“Hye Ra…… kau………….”

“Kami sengaja mempersiapkan kejutan kecil ini untuk merayakan keberhasilanmu juga sebagai pesta perpisahan.”

“Terima kasih karena kalian telah menyempatkan waktu untuk membuat acara seperti ini. Sungguh aku bingung harus berkata apa lagi.”

“Sudahlah, lebih baik kita mulai saja acara ini.”

Nampak beberapa orang yang datang di acara itu. Seperti Hyung Joon, Hyun Ra, Hyu Rin, Kyu Jong, Young Saeng, dan Jung Min.

Pesta berjalan dengan meriah. Sesekali Jung Min memperlihatkan aksinya dalam menyanyi dan menari.

“Kau senang?” tanya Hye Ra.

“Tentu saja.”

Tiba – tiba Hyung Joon menghampiri Hye Joong.

Ikutlah bersamaku. Ada yang ingin aku bicarakan padamu.

Hyung Joon mengajak Hye Joong ke suatu tempat. Melihat Hye Joong pergi bersama Hyung Joon, perasaan Hyun Joong menjadi tak keruan.

“Mworago?” tanya Hye Joong.

“Sebelum kau berangkat, aku hanya ingin mengatakan sesuatu padamu. Maafkan aku jika selama ini aku membuatmu merasa tak nyaman, aku sadar kau tak akan pernah menyukaiku. Meskipun begitu, kau akan tetap menjadi temanku kan? Jangan karena masalah ini, hubungan pertemanan kita merenggang.”

“Tentu saja tidak. Kau tetap temanku sampai kapanpun. Pria sepertimu tentu banyak yang menyukai. Pesanku, tolong jagalah Hye Ra, kau harus lebih memperhatikan dia. Aku rasa, dia menyukaimu.”

 

Saat Hye Joong dan Hyung Joon hendak kembali, Hyun Ra memanggil Hye Joong.

“Kak Hye Joong, ada hal yang ingin aku bicarakan padamu. Bisa minta waktu sebentar?”

Hye Joong menganggukkan kepala.

“Kakak, aku rasa aku menyukai Hyun Joong.”

“Kau menyukai Hyun Joong?”

“Benar kak, sejak pertama mengenalnya, aku sudah menyukainya. Kini perasaanku bertambah dalam padanya. Kak, apakah kira – kira Hyun Joong akan menyukaiku?”

“Selama ini Hyun Joong tak pernah menceritakan padaku jika dia menyukai gadis.”

“Oleh karena itu, aku tak berani mengatakan padanya. Aku ingin kakak menanyakan padanya, apakah dia menyukaiku? Tapi tolong jangan bilang aku yang menyuruh kakak.”

Entah mengapa rasanya hati Hye Joong sakit saat mendengar Hyun Ra mengatakan ia menyukai Hyun Joong.

“Akan aku usahakan, tapi aku tak janji.”

Pesta malam itu berlangsung hingga larut malam.

………………. ………. ………………..

Waktu cepat juga berlalu. Tak terasa besok Hye Joong sudah harus berangkat ke Australia.

“Hye Joong, apa semua keperluanmu telah kau siapkan?” tanya Ayah.

“Semua sudah aku persiapkan ayah.”

“Ayah hanya bisa berpesan, jaga dirimu baik – baik di sana. Kau harus bisa menghidupi dirimu sendiri, jangan lupa makan yang teratur, jangan belajar terlalu keras, refresing juga perlu kau lakukan. Ayah percaya kau bisa menjaga dirimu baik – baik.”

“Baik ayah, ayah cerewet sekali.”

“Jika suatu kelak ayah tiada, kau harus selalu bersemangat menjalani hidup, ayah tak mau melihatmu murung seperti orang kehilangan harapan hidup. Ayah akan sedih jika sampai kau seperti itu”

“Ayah……………….. kenapa ayah bicara seperti itu?”

“Pada akhirnya manusia juga akan pergi meninggalkan dunia ini bukan? Ayah hanya berjaga – jaga, jika ayah pergi secara mendadak, setidaknya ayah telah menyampaikan pesan ayah padamu.”

“Sudahlah ayah, jangan bicara seperti itu lagi. Ayah tidak berangkat ke kantor?”

“Untung kau ingatkan. Ayah sampai lupa. Ayah berangkat.”

“Hati – hati di jalan, ayah.”

Sore harinya Hyun Joong telah pulang dari sekolah.

“Hyun Joong, ada sesuatu yang ingin kakak bicarakan padamu.”

“Mau bicara apa noona?”

“Kakak lihat akhir – akhir ini kau semakin dekat dengan Hyun Ra, apa kau menyukainya?”

“Noona….. kenapa noona bisa berpikiran semacam itu? Hyun Ra hanya aku anggap sebagai teman biasa, tidak lebih.”

“Apa benar? Tapi kenapa kau dekat sekali padanya? Kau memberikan perhatian lebih yang tak kau berikan pada wanita lain, kalau bukan suka, lantas namanya apa?”

“Aku juga memberikan perhatian yang lebih pada noona, apa itu artinya aku juga menyukai noona?”

“B….bukan begitu maksudku, maksudku….”

“Jangan sekali – kali noona berniat menjodohkanku dengan Hyun Ra, aku tidak menyukainya.”

“Siapa yang ingin menjodohkanmu dengannya?”

“Aku hanya memberikan warning.”

“Kenapa sampai sekarang kau belum memiliki pacar?”

“Noona juga sampai sekarang belum punya pacar.”

“Kau ini pintar sekali membuat orang tak berkutik.”

“Karena aku Kim Hyun Joong, adiknya Park Hye Joong yang sangat hebat.”

“Kau ini bisa saja.”

Tiba – tiba telepon rumah berdering. Hye Joong mengangkatnya.

“Iya benar. Apa? Andwae!!!!!” Hye Joong lantas menutup telepon.

“Ada apa noona? Kenapa noona menangis?”

“Hyun Joong…………ayah…………………”

“Ayah kenapa?”

“Ayah mengalami kecelakaan mobil. Sekarang dia di rumah sakit.”

“Kecelakaan mobil?”

Ibu, Hyun Joong, dan Hye Joong segera menuju rumah sakit tempat di mana ayah dirawat.

Betapa terkejutnya mereka mana kala tahu kondisi ayah yang sangat parah. Ayah mengalami luka serius di bagian kepala, kaki, dan tulang rusuknya.

“Dokter, bagaimana kondisi suami saya?”

“Saya sangat menyesal. Tapi maaf, suami Anda tidak bisa terselamatkan. Lukanya yang dialaminya terlalu serius.”

“Apa? Dokter pasti bercanda. Suami saya tidak mungkin meninggal.”

“Saya serius nyonya. Mohon maaf, saya permisi, ada pasien yang harus saya tangani.”

Ibu tak bisa menerima kenyataan ini. Saking shock­nya, ia sampai pingsan. Hyun Joong dan Hye Joong segera menolong ibu.

Hye Joong tak bisa berhenti meneteskan air matanya.

“Ayah, kenapa ayah meninggalkan kami begitu cepat? Ayah jahat sekali pada kami.”

“Noona, jangan menyiksa diri seperti itu. Aku juga sedih menerima kenyataan ini.”

………………. ………. ………………..

 

Siang harinya ayah telah dikubur. Ibu masih tak bisa menerima kenyataan ini, sering sekali ibu jatuh pingsan.

“Hye Joong, aku turut berduka cita atas meninggalnya ayahmu.” ucap Hye Ra.

“Terima kasih Hye Ra.”

“Lebih baik kau istirahat dulu”

“Aku tak apa – apa. Bagaimana kondisi ibu?”

“Sekarang ibumu sedang istirahat di kamarnya. Kasihan bibi, cobaan ini mungkin begitu berat untuk dihadapi.”

Akibat kejadian ini, Hye Joong tidak jadi berangkat ke Australia, beasiswanya terpaksa dibatalkan.

 

Saat malam menjelang, tampak Hyun Joong sedang menemani ibunya di dalam kamar. Sedangkan Hye Joong berdiri di dekat jendela kamarnya. Tetesan air mata membasahi wajah Hye Joong saat ia mengenang kembali masa – masa indahnya bersama ayah.

 

Pagi harinya, Pengacara Shim mendatangi kediaman Hyun Joong.

“Nyonya Kim, saya tahu Anda masih berduka atas kejadian yang menimpa keluarga Anda. Tapi saya harus menyampaikan surat wasiat dari Tuan Park.”

“Silakan Pengacara Kim, kemukakan apa yang suami saya tulis dalam surat wasiatnya.”

Pengacara Kim lantas membacakan isi surat wasiatnya. Bahwa seluruh harta tak bergerak seperti rumah beserta asset – asetnya dipercayakan pada ibu untuk mengurusnya. Sedangkan sebidang tanah beberapa ratus hektar dipercayakan kepada Hyun Joong untuk mengurusnya. Sedangkan sebidang tanah di daerah Busan diberikan kepada Hye Joong. Selain itu, Hye Joong juga mendapatkan uang untuk pendidikannya. Rupanya mendiang ibunya Hye Joong telah menabung sedikit demi sedikit untuk Hye Joong, ayahnya pun juga menyisihkan beberapa uangnya untuk Hye Joong. Selain itu, seluruh uang asuransi diberikan pada Hye Joong, Hyun Joong, dan ibu.

“Apa ada yang keberatan terhadap isi surat ini?”

Semuanya menggelengkan kepala.

“Baiklah kalau begitu, saya permisi pulang.”

“Terima kasih Pengacara Park.”

“Sama – sama Nyonya.”

………………. ………. ………………..

 

Beberapa minggu setelah kematian ayah, kehidupan berlangsung seperti biasanya. Meskipun sesekali tampak kesedihan di muka mereka.

“Ibu, aku berangkat sekolah dulu.” ucap Hyun Joong.

“Hati – hati di jalan.”

 

Sesampainya di sekolah……………………….

“Hyun Joong, apa kau…………………” ucap Kyu Jong.

“Sudahlah Kyu, aku tidak apa – apa. Jangan mengkhawatirkan keadaanku.”

“Syukurlah kalau begitu.” ucap Kyu Jong.

“Kyu Jong, kemarin malam tak sengaja aku melihatmu di café bersama dengan Hyu Rin, apa yang sedang kalian berdua lakukan?” tanya Young Saeng.

“I…itu.. aku … ” ucap Kyu Jong dengan terbata – bata.

“Semakin dilihat, kalian berdua semakin mencurigakan. Aku juga pernah melihatmu berduaan dengan Hyu Rin di taman sekolah. Apa kalian berdua sudah pacaran?” tanya Jung Min.

“Bukan, kalian salah sangka. Waktu itu tak sengaja aku bertemu Hyu Rin. Sedangkan waktu di café, dia mentraktirku. Katanya sebagai permintaan maafnya karena selama ini dia telah berbuat tak menyenangkan padaku.”

“Kau menyukainya?” tanya Hyun Joong.

Kyu Jong hanya bisa diam. Dia bingung harus menjawab apa.

“Sudah aku duga. Kau menyukainya kan? Meskipun kau mencoba mengelak, tapi dari tatapan matamu mengisyaratkan bahwa kau menyukainya.” ucap Young Saeng.

“Kenapa kalian semua jadi membahas aku? Young Saeng, kau sendiri bagaimana? Apa sudah menemukan gadis yang kau sukai?”

“Kau mencoba mengalihkan pembicaraan. Sampai sekarang aku belum menemukan gadis yang aku suka, bagaimana denganmu, Jung Min?”

“Aku? Sebenarnya beberapa hari ini aku mendapatkan teman dari dunia maya, namanya Han Sang Mi, dia orang Korea, tetapi ia tinggal di Australia. Meskipun belum pernah bertemu, tapi aku sudah merasa cocok dengan dia. Bagaimana denganmu, Hyun Joong? Kau sudah mengutarakan perasaanmu pada Hyun Ra?”

“Hei…. kenapa kau bicara seperti itu?”

“Bukankah kau menyukai Hyun Ra?”

“Siapa yang bilang? Selama ini aku tak pernah menyukainya, aku hanya menganggapnya sebagai teman.”

“Apa kau yakin dengan ucapanmu itu? Kau benar – benar tidak menyukainya?” tanya Jung Min sekali lagi.

Hyun Joong menganggukkan kepala.

Hyun Ra yang sedari tadi berdiri di belakang Hyun Joong mendengar ucapan Hyun Joong barusan. Betapa terpukulnya hati Hun Ra.

“Hyun Ra, sedang apa kau di situ?” tanya Young Saeng yang baru saja sadar ada Hyun Ra di situ.

“Aku, aku hanya………………. maaf aku pergi dulu.” ucap Hyun Ra yang segera pergi karena ia sudah tak tahan untuk menangis.

“Hyun Ra, tunggu!” ucap Hyu Rin mengikuti Hyun Ra.

“Ada apa dengannya?” tanya Hyun Joong.

“Kau ini memang kurang peka terhadap perasaan seorang gadis. Hyun Ra pasti mendengar bahwa kau tidak menyukainya, maka dari itu ia bersikap aneh seperti itu.”

“Apa ada yang salah dengan ucapanku?”

“Hyun Joong, Hyun Joong………….. aku saja bisa merasakan jika Hyun Ra itu menyukaimu, apa kau tidak bisa merasakannya?” ucap Young Saeng.

………………. ………. ………………..

“Hyun Ra, ada apa denganmu?” tanya Hyu Rin.

“Aku tidak apa – apa.” jawab Hyun Ra singkat.

“Matamu sudah bengkak seperti itu dan kau masih bilang tidak ada apa –apa? Apa ini karena perkataan Hyun Joong?”

“Bodohnya aku. Untuk apa aku menangis, jika memang Hyun Joong tidak menyukaiku, seharusnya aku bisa menerimanya dengan lapang dada, tapi kenapa………..”

“Sudahlah, berhentilah berbicara. Aku jadi semakin sedih melihatmu seperti ini.” ucap Hyu Rin sambil memeluk sahabatnya itu.

“Hyu Rin, ternyata kau benar. Hyun Joong tidak pernah menyukaiku. Aku saja yang bodoh selama ini berusaha mendekatinya.”

“Kau tidak bodoh, sudahlah tenangkanlah dirimu. Di dunia ini masih banyak lelaki lain yang mungkin jauh lebih baik daripada Hyun Joong. Mungkin juga ada seorang pria yang diam – diam menyukaimu dan hendak mengutarakan perasaannya padamu.”

“Terima kasih Hyu Rin atas nasehatmu.”

Tiba – tiba ponsel Hyu Rin berdering.

“Kyu Jong! Untuk apa kau meneleponku?”

“Bagaimana keadaan Hyun Ra? Apa dia baik – baik saja?”

Timbul sedikit rasa kecewa pada diri Hyu Rin. Kyu Jong meneleponnya hanya untuk menanyakan Hyun Ra.

“Dia sekarang sudah baik – baik saja. Kau tak perlu khawatir.”

“Tolong sampaikan kepada Hyun Ra, atas nama Hyun Joong aku meminta maaf pada Hyun Ra atas kejadian tadi.”

“Tidak ada yang perlu disalahkan. Karena ini menyangkut masalah perasaan.”

“Terima kasih.”

“Siapa yang menelepon?” tanya Hyun Ra.

“Kyu Jong.”

“Jadi sekarang kau dan Kyu Jong sudah saling bertelepon? Perkembangan hubungan kalian pesat juga ternyata.”

“Hyun Ra………………….”

Di tempat lain, Hye Ra bertemu dengan Hyung Joon di sebuah café.

“Untuk apa kau mengajakku ke sini? Apa ada yang ingin kau bahas tentang Hye Joong?” tanya Hye Ra.

“Kenapa kau bicara seperti itu?”

“Tidak…… hanya saja selama ini setiap kali kau bertemu denganku pasti ingin membicarakan Hye Joong.”

“Itu kan dulu.”

“Kalau sekarang?”

“Kalau sekarang, aku ingin dekat denganmu. Apa itu salah?”

“Aku tidak ingin menjadi tempat pelampiasanmu.”

“Maksudmu?”

“Karena Hye Joong menolakmu, lantas jangan kau jadikan aku sebagai tempat untuk membalaskan rasa sakit hatimu.”

“Apa kau tidak percaya padaku?”

“Untuk apa aku harus percaya padamu.”

“Kau ini……………..”

………………. ………. ………………..

 

Keesokan harinya, tanpa sengaja Hyun Ra bertemu dengan Hyun Joong.

“Hyun Ra, ada sesuatu yang ingin aku bicarakan. Apa kau ada waktu?”

“Apa ini menyangkut masalah kemarin?”

Hyun Joong mengangguk.

“Sudahlah tidak ada yang perlu dibahas dari masalah kemarin.”

“Teman – temanku bilang, tak seharusnya aku bicara begitu saat kau ada di situ.”

“Tidak apa – apa Hyun Joong. Kau jangan mengkhawatirkan aku.”

“Kau yakin?”

“Sudah sana pergi, teman – temanmu pasti sudah menunggumu.”

Hyun Ra lantas duduk – duduk di sekitar taman sekolah. Beberapa menit kemudian, datanglah Young Saeng.

“Hyun Ra, sedang apa kau di sini?”

“Young Saeng, aku sedang menikmati pemandangan.”

“Boleh aku ikut bergabung denganmu?”

“Apa?”

“Pemandangan di sini ternyata bagus juga. Sudah lebih dari 2 tahun bersekolah di sini, tapi aku baru tahu hal ini. Sungguh aku murid yang tidak berguna.”

“Memang kau murid yang tidak berguna. Kau ini kurang peka terhadap lingkungan sekolahmu sendiri.”

Young Saeng menatap Hyun Ra.

“Aku hanya bercanda. Jangan kau anggap serius.” ucap Hyun Ra sambil tertawa kecil.

“Ternyata kau manis juga kalau sedang tersenyum.”

“Kau pandai membual juga ternyata.”

“Biasanya seorang gadis jika sedang dipuji pasti akan senang. Tapi kenapa kau malah menuduhku membual?”

“Memangnya sudah berapa kali kau memuji seorang gadis?”

“Seingatku, aku hanya memuji ibuku dan adik perempuanku saja.”

“Jadi kau belum pernah memuji gadis lain?”

Young Saeng menggelengkan kepala.

Sore harinya Hyun Joong pulang dari rumah.

“Kenapa tiba – tiba ibu memasak udang goreng? Bukankah ibu tidak suka udang goreng?”

“Kakakmu yang membuatnya. Katanya kau itu suka sekali dengan udang goreng, jadi dia ingin membuatkannya untukmu.”

“Apa? Jadi noona yang membuatkannya untukku? Aku harus mencobanya.”

Baru saja Hyun Joong hendak mengambil udang tersebut, ibu mencegahnya.

“Sabarlah sedikit. Kita tunggu Hye Joong.”

Tak berapa lama kemudian, datanglah Hye Joong.

“Noona, terima kasih telah membuatkan udang goreng untukku.”

“Memangnya siapa yang membuatkan untukmu?”

“Lantas, udang goreng itu untuk siapa?” ucap Hyun Joong dengan reaksi sedikit kecewa.

“Aku hanya bercanda. Ini memang aku buatkan untukmu.”

“Noona membuatku khawatir. Baiklah kalau begitu, aku akan segera memakannya.”

“Hye Joong ada salah seorang teman ibu yang ingin menjodohkan anak lelakinya denganmu, apa kamu mau?”

“Ibu, aku belum memikirkan sampai ke arah situ. Aku ingin fokus terhadap pendidikanku dulu.”

“Tapi kan tidak ada salahnya. Lagipula anaknya baik, ibu sudah pernah bertemu dengannya sebelumnya”

“Ibu, tapi aku memang benar – benar tidak tertarik.”

“Hye Joong……………”

“Sudahlah bu, jika memang noona tidak mau jangan dipaksa!” ucap Hyun Joong dengan sedikit emosi.

“Ada apa denganmu Hyun Joong? Kenapa kau yang emosi?”

“Ibu, besok sabtu aku berencana mengundang beberapa teman untuk makan malam di sini, apakah boleh?”

“Tentu saja boleh. Ibu justru sangat senang, jadi rumah kita menjadi ramai.”

Saat malam tiba…………………

“Hyun Joong,  besok Sabtu undanglah teman – temanmu untuk makan malam di rumah kita.” ucap Hye Joong.

“Dalam rangka apa?”

“Selama ini mereka kan sudah banyak mensupport kita, anggap saja ini sebagai wujud rasa terima kasih kita kepada mereka.”

“Baiklah noona, aku akan beritahu mereka.”

………………. ………. ………………..

Hari ini Hye Joong sangat sibuk mempersiapkan makanan untuk makan malam nanti. Dia ingin memberikan sesuatu yang spesial kepada teman – teman yang telah banyak memberikan dukungan kepada dirinya dan keluarganya. Hingga akhirnya pada malam hari, semuanya telah siap sedia.

“Wah…. Hye Joong….. apa benar kau yang mempersiapkan semua ini?” tanya Hye Ra tak percaya ketika pertama kali menginjakkan kakinya di ruang makan.

“Tentu saja. Aku khusus memasakkan semua ini hanya untuk kalian.”

“Aku sudah tidak sabar mencicipi masakanmu.” ucap Hyung Joon.

Setelah semuanya hadir, Hye Joong pun segera mempersilakan semua untuk makan.

“Hmmm…… Hye Joong onni, masakanmu benar – benar lezat.” puji Hyun Ra.

“Khamsa Hamnida Hyun Ra.”

“Sering – sering saja kau masak seperti ini Hye Joong.” ucap Hye Ra.

 

Selesai makan, mereka semua berkumpul di ruang keluarga.

“Hye Joong, aku dengar ibumu menjodohkanmu dengan seorang pria, apa itu benar?” tanya Hye Ra.

“Iya, itu memang benar.”

“Lantas, apa kau menerima tawaran ibumu?”

“Tentu saja tidak.”

“Kenapa?”

“Karena aku masih ingin fokus pada kuliahku.”

“Hye Joong, ini kesempatan emas untukmu.”

Hyun Ra dan Hyu Rin yang sedari tadi memperhatikan Hye Joong dan Hye Ra tiba – tiba saja ikut menanggapi.

“Betul onni, seharusnya onni menerima tawaran itu. Aku yakin, bibi pasti memilihkan calon yang baik buat onni.” ucap Hyun Ra.

“Aku setuju dengan Hyun Ra.”

“Kenapa kalian jadi ikut – ikutan?” tanya Hye Joong heran.

“Sebagai sesama gadis, kita merasa berkewajiban untuk mengutarakan pendapat kita.” ucap Hyun Ra.

“Kalian ini bisa saja.”

Hye Ra melihat Hyun Joong sedang melintas.

“Coba aku tanyakan pada Hyun Joong, jika dia mendukung rencana ibumu, maka kau harus mengiyakan tawaran dari ibumu.”

“Hyun Joong, apa kau setuju Hye Joong dijodohkan dengan pria pilihan ibumu?”

“Apa?” Hyun Joong menghentikan langkahnya.

“Aku bilang, apa kau setuju Hye Joong dijodohkan?”

Hyun Joong berdiam sebentar.

“Aku tidak setuju.” jawab Hyun Joong tegas.

“Kau tidak setuju? Kenapa?” tanya Hye Ra.

“Apa aku perlu menyebutkan alasannya?”

“Tentu saja.”

Semua mata kini tertuju pada Hyun Joong. Lalu Hyun Joong menarik Hye Joong ke arahnya. Suasana hening sejenak.

“Karena aku mencintai noona.” ucap Hyun Joong.

Kontan semua yang ada di situ kaget, termasuk Hye Joong.

“Hyun Joong, apa yang kau bicarakan? Ini bukan waktunya untuk bercanda.” ucap Young Saeng.

“Aku tidak bercanda. Aku serius, aku memang mencintai noona.”

“Hyun Joong, apa yang kau bilang tadi?” ucap Ibu  dari arah belakang yang sepertinya mendengarkan apa yang barusan dikatakan Hyun Joong.

Ibu lantas menghampiri Hyun Joong dan menamparnya.

“Kau ini, benar – benar……….” ibu tak kuasa melanjutkan kata – katanya, ia segera pergi meninggalkan Hyun Joong.

Hye Joong melepaskan genggaman tangan Hyun Joong kemudian berlari menuju kamarnya.

………………. ………. ………………..