Author: Stephanie Naomi

Title: Can’t I Love You? [Part 1]

Genre: Romance

Length: Two Shoots

Cast: Lee Ji Eun (IU), Wooyoung (2PM), Nickhun (2PM), Chansung (2PM), Min (missA), Jia (missA), Yang & Park Sonsaengnim (Imaginary Cast)

A/N: Annyonghaseyo ^^ Ini adalah FF cannon pertama saya. Dan ini juga jadi selingan dari cerita berseri saya (Music, Dream and Love). Maaf  sempet stuck karena sempet ada masalah sama modem jadi ga bisa internetan L Dan maaf lagi sebelumnya kalo ada kata-kata yang masih berantakan atau alur yang kurang menarik dari cerita ini hehehe… Terakhir, FYI, cerita ini dibantu dari segi pengeditan dan ide cerita oleh 2 teman saya. Oke langsung dibaca aja ya, jangan lupa komen/saran/kritik nya yah… Gomawo!😀

***

Ji Eun POV

 

Pulang sekolah seperti biasa aku tidak langsung pulang. Aku pergi ke kantin tapi bukan untuk makan. Aku membaca majalah sambil menunggu seseorang, tetapi ia tidak datang sementara jam sudah menunjukkan pukul 3 sore dan aku harus segera pulang. Akupun mengesap kopi dari gelas kertas hingga habis lalu aku pergi meninggalkan kantin. Aku mengenakan cappuchon hoodie ku dan berjalan cepat serta menunduk hingga aku menabrak seseorang.

Bruk

“Aw!” Aku meringis kesakitan. Aku jatuh terduduk dan aku melihat ada tangan terulur didepanku. Aku membuka cappuchon hoodie ku dan menemukan seseorang yang daritadi kutunggu-tunggu.

Mianhae… Mari kubantu kau berdiri.” ucapnya, menungguku menyambut uluran tangannya. Aku pun menyambut tangannya dan ia menarikku berdiri. Aku langsung membersihkan rok bagian belakang.

Are you okay?” Ia menanyakan keadaanku. Aku hanya mengangguk pelan sambil tersenyum.

“Baiklah. Aku duluan ya.” Ia pun berpamitan denganku dengan tersenyum manis dan ia berjalan menuju kantin. Mataku tidak bisa berhenti memperhatikan sampai ia benar-benar hilang dari pandanganku.

Wooyoung POV

 

Sepulang sekolah seperti biasa aku tidak langsung pulang. Aku biasanya berkumpul dulu dengan teman-temanku dikantin. Aku berjalan cepat menuju kantin karena mereka sudah ada disana terlebih dahulu. Aku berjalan cepat hingga aku tidak sengaja menabrak seseorang.

Bruk

 

“Aw!”

Mianhae… Mari kubantu kau berdiri.” Aku meminta maaf lalu mencoba untuk memberikan ia bantuan sebagai permintaan maafku yang nyata. Ia pun menyambut uluran tanganku dan aku menariknya sampai berdiri.

Are you okay?” Aku menanyakan keadaannya. Sepertinya ia terjatuh cukup keras. Ia hanya mengangguk sambil tersenyum manis.

“Baiklah, Aku duluan ya.” Aku pun berpamitan, mengingat teman-temanku sudah menungguku di kantin lumayan lama.

Di kantin aku langsung berjalan menuju meja tempat kami biasa berkumpul. Disana ada Chansung dengan pacarnya, Min dan juga sahabat Min, Jia serta Nickhun.

Yah! Kenapa kau lama sekali?” tanya Nickhun begitu aku duduk disebelahnya.

Mian… Tadi urusannya agak sedikit lama di ruang guru.” jawabku sedikit berbohong. Aku tidak ingin menceritakan kejadian tabrakan barusan.

“Oooh.. Oh ya, Wooyoung, kita sekarang mau ke kedai kopi. Kau mau ikut? Nickhun ingin bertemu dengan pacarnya.” Kini giliran Chansung angkat bicara.

“Pacar? Pacar yang mana lagi, Nickhun-ah?” tanyaku pada Nickhun. Ia mengubah posisi duduknya menjadi lebih santai.

“Kalau aku bilang, sepertinya percuma karena kau tidak kenal padanya. Lagipula aku bertemu dia untuk memutuskan hubunganku dengannya. Aku sudah bosan. Aku sudah menemukan penggantinya.” Nickhun membalas ucapanku seperti manusia tidak berdosa.

“Bosan? Kau pikir dia barang?” Aku langsung refleks seperti menceramahi Nickhun. Aku memang kurang suka dengan sifat playboy  yang dimiliki Nickhun. Aku tidak tega melihat perempuan menangis karena dipermainkan.

“Kenapa? Kau ingin mendekati pacarku yang akan menjadi mantanku beberapa saat lagi?” Nickhun justru berbalik menyerangku. Aku terdiam beberapa saat.

Ani.” jawabku singkat.

“Lalu siapa penggantinya?” sambungku bertanya penasaran.

“Lee Ji Eun.” jawab Nickhun sambil tersenyum seolah-olah perempuan itu sedang berdiri dihadapannya. Aku sedikit bergidik ngeri.

“Yasudah kalau begitu kau mau ikut atau tidak?” Chansung kembali bertanya.

“Tidak, aku sedang tidak bersemangat.” jawabku jujur. Memang, kupikir untuk apa aku ke kedai kopi untuk melihat Nickhun memutuskan pacarnya lalu melihat pacarnya menangis dan Nickhun merayunya untuk tidak menangis dan… Sudahlah. Tidak penting.

“Kalau begitu kami duluan ya, bye Wooyoung!” Mereka berempat pun berpamitan padaku dan segera pergi meninggalkanku sendiri. Tidak lama setelah mereka pergi, aku pun segera meninggalkan kantin untuk pulang ke rumah. Tidak sampai 10 menit, aku sudah keluar dari area sekolahku dan berjalan menuju rumah. Dalam perjalanan aku melewati halte bis sekolahku dan aku melihat perempuan yang tadi kutabrak. Ia sedang menunggu bis dan aku tidak melihat ada banyak bis yang lewat. Jadi kuputuskan untuk mengantarnya pulang.

“Hei!” ucapku setelah mobilku berhenti didepan halte bis dan kaca mobil kubuka. Ia terlihat terkejut, namun raut wajahnya justru lucu saat terkejut.

“Hai..” balasnya padaku.

“Mau pulang bareng?”

Ji Eun POV

 

Aigoo sudah jam 3 tapi bis-bis masih penuh dan jarang lewat. Sungguh menyebalkan. Aku sudah berdiri disini selama setengah jam dan akhirnya aku memutuskan untuk jalan kaki saja. Tapi tiba-tiba sebuah mobil berhenti dihadapanku dan kaca mobil itu terbuka.

“Hei!” ucap sang pengemudi dari balik kemudinya. Aku benar-benar kaget saat melihat ternyata dia yang menyapa ku.

“Hai..” balasku karena tidak tahu harus bilang apa.

“Mau pulang bareng?”

Ia menawari tumpangan padaku! Oh my God… Setelah 2 tahun aku hanya bisa mengaguminya dari kejauhan, sekarang ia mengajakku untuk pulang bersama. Apakah aku harus menerima ajakannya atau menolaknya?

“Baiklah.” jawabku menerima ajakannya. Ia tersenyum dengan pipi chubby khas nya. Aku pun masuk dan menaruh ranselku di pangkuanku.

“Jangan taruh ransel mu disitu. Taruh dibelakang saja.” Ia mengambil tas dari atas pangkuanku dan memindahkannya ke jok belakang, dekat dengan tas sekolahnya.

Ne, gomawo.” balasku pelan. Aku tersenyum, berusaha menghilangkan rasa grogi dari diriku sendiri. Ia kemudian menyetir kembali mobilnya, setelah bertanya dimana rumahku. Kami berdua sama-sama terdiam, tidak tahu harus bicara apa. Aku hanya memandang kota Seoul disore hari dari balik kaca mobil, sementara ia berkonsentrasi dengan kemudinya. Hanya terdengar suara lagu radio yang ia pasang.

“Hei, kau suka lagu apa?” Tiba-tiba dia membuka suara, bertanya padaku.

“Hmm… Banyak.”

“Lagu favoritmu saat ini?” Dia kembali bertanya.

Can’t I Love You. Itu lagu kesukaan ku setiap saat. Waeyo?” Aku mencoba untuk menjawab dengan rileks dan melontarkan pertanyaan sehingga kami dapat perlahan-lahan mengobrol. Inilah yang memang ku inginkan: mengenalnya lebih dekat.

Aniyo~.” Dia menjawab dengan singkat lalu aku lihat ia memasang headset dan mengutak-atik ponselnya sebentar.

Yoboseyo…” Aku mendengar ia menelepon seseorang.

Yoboseyo… Dengan siapa ini?” Aku mendengar suara lain. Mereka bertelepon tetapi seolah-olah mereka berbicara didekatku.

“Aku Jang Wooyoung. Aku ingin request lagu untuk temanku.”

Dia menelepon radio yang sedang kami dengarkan dimobil! Dan dia merequest lagu… Untukku? Aku hampir tidak percaya.

“Siapa nama temanmu itu? Boleh kami semua tahu?” Penyiar itu bertanya kepada Wooyoung.

Wooyoung melihat ke arahku, “Hei, siapa namamu?”

Aku memperhatikan ia menatapku dengan mata mungilnya, “Lee Ji Eun.” jawabku.

“Namanya Lee Ji Eun. Aku ingin merequest lagu Can’t I Love You special untukknya.” Wooyoung kembali berbicara dengan penyiar itu melalui headset. Suaranya bisa kudengar dari radio walaupun volumenya pelan.

“Baiklah, akan langsung ku putarkan untuk Wooyoung dan Ji Eun lagu Can’t I Love You. Selamat mendengarkan…” Aku kembali mendengarkan suara penyiar itu dari radio lalu aku melihat Wooyoung melepas headset nya dan memperbesar volume radio. Intro piano dari lagu ini mulai terdengar, dan aku benar-benar tidak tahu harus bereaksi apa.

“Wooyoung oppa…” ucapku pelan dengan keberanian yang kupunya.

Ne?”

Gomawoyo...” jawabku sambil menunduk dan melirik ke arahnya. Aku melihat dia hanya tersenyum.

“Ini sebagai permintaan maafku padamu karena tadi membuatmu terjatuh. Apakah masih sakit?” ucapnya setelah tersenyum. Aku merasa wajahku memerah. Semoga ia tidak melihatnya.

Aniyo~, aku sudah baik-baik saja.”

“Baguslah.”

Aku benar-benar merasa bahagia, sangat bahagia. Saat ini aku merasa seakan-akan aku sudah akrab dengannya. “Apa maksud dari ini semua, Tuhan? Apakah ini pertanda baik untukku?” Aku bertanya-tanya dalam hati sendiri sambil mendengarkan lagu favoritku diputar dari radio. Bahkan aku sampai tidak sadar kalau aku sudah sampai dirumah.

“Ini rumahmu?” tanya nya saat ia berhenti didepan rumahku. Aku hanya mengangguk lalu ia mengambilkan tas ransel ku dari jok belakang dan memberikannya padaku.

Jinjja gomawoyo, Wooyoung oppa.” ucapku sebelum aku turun dari mobil. Ia hanya mengangguk sambil tersenyum. Rasanya aku ingin sekali mencubit pipi nya. Aku pun turun dari mobil dan kaca mobil pintuku terbuka.

“Kau masuklah duluan.” ucapnya dari dalam mobil. Aku hanya mengangguk, tersenyum, melambaikan tangan padanya dan masuk kedalam rumah tanpa melihat kebelakang lagi.

Wooyoung POV

“Kau masuklah duluan.” kataku kepada perempuan itu. Lalu ia hanya mengangguk sambil tersenyum dan pergi meninggalkan ku. Aku memperhatikannya sampai ia masuk kedalam rumahnya, lalu aku menutup kaca mobilku.

“Lee Ji Eun…” gumamku dalam hati dan sedetik kemudian aku tersentak. Ia adalah perempuan incaran Nickhun! Aku mengingat-ingat saat aku berbicara dengan Ji Eun dan aku melihatnya sebagai anak yang polos, sopan dan ramah. Aku merasa sedikit tidak rela jika Ji Eun harus menjadi ‘mainan’ Nickhun.

Kenapa aku harus peduli? Siapa aku?” Aku bertanya pada diriku sendiri lalu aku pun segera pergi dari rumah Ji Eun menuju rumahku sendiri.

***

Istirahat kali ini aku hanya berempat. Nickhun menghilang entah kemana. Mungkin ia menemui Ji Eun atau sedang menelepon pacarnya yang lain. Aku menghabiskan makananku sambil sesekali memperhatikan orang yang keluar masuk kantin. 5 menit kemudian makananku sudah habis dan aku berpamitan pada Chansung untuk mencari buku diperpustakaan dan dia tidak masalah selama Fei bersamanya.

Aku menaiki tangga dan langsung berjalan menuju perpustakaan. Tiba-tiba aku teringat Ji Eun dan aku memutuskan untuk menemuinya sebentar. Atau setidaknya aku melihat apakah dia bersama Nickhun atau tidak.

“Hei, apa kau kenal dengan Lee Ji Eun? Dia kelas berapa ya?” tanyaku pada adik kelas perempuan yang sedang berjalan didekatku.

“Ji Eun onnie? Tentu saja. Dia kelas 2-1.” jawabnya ramah. Aku pun mengucapkan terimakasih dan pergi berjalan menuju kelas 2-1 yang berada di koridor seberang. Ketika aku sampai didepan kelasnya, aku tidak langsung membuka pintu kelasnya tetapi aku melihat dulu keadaan kelas itu dari jendela kecil dipintu. Aku mengintip kedalam dan melihat Ji Eun sedang berkutat dengan catatannya ditemani Nickhun.

Ji Eun POV

 

Istirahat kali ini aku sengaja tidak pergi ke kantin. Badanku terasa lemas, entah mengapa sepertinya aku sakit. Aku hanya menidurkan kepalaku diatas meja sambil sesekali mencoba untuk mencatat pelajaran yang tadi belum sempat aku catat karena aku merasa pusing. Aku ingin sekali ke kantin dan membeli makanan tetapi rasanya aku tidak kuat berjalan. Tiba-tiba saja aku menerima 1 pesan dari Nickhun.

“Kenapa kau tidak ke kantin? Mau kubelikan roti?”

Sudah selama 2 minggu Nickhun seperti mendekatiku. Aku berusaha untuk tidak menggubrisnya tetapi aku merasa justru ia semakin mendekatiku. Aku jadi ingat waktu pertama kali tidak sengaja bertemu dengannya.

***

Flashback Ji Eun

 

Saat itu istirahat hampir selesai dan aku juga baru selesai menyelesaikan catatanku. Aku buru-buru ke kantin agar mendapatkan roti coklat kesukaanku karena roti itu paling laris dikantin sekolah. Aku sudah dikantin dan hanya tinggal aku sendirian. Aku buru-buru ke tempat dimana roti itu diletakkan disebuah keranjang dan tersisa satu roti coklat! Bingo! Aku tersenyum puas. Tapi ketika aku mengambilnya, sebuah tangan juga mengambilnya sehingga tangan kami beradu. Aku melihat pemilik tangan itu dan ternyata dia adalah Nickhun, kakak kelasku. Aku langsung melepaskan tanganku dari roti coklat itu. Ia pun melakukan hal yang sama.

 

“Untuk kau saja.” ucapku.

 

“Aniyo~, untukmu saja.” Ia membalas dengan memberikan roti itu padaku tapi aku menepis nya perlahan.

 

“Untukmu. Okay?” Aku membalasnya singkat lalu aku pergi meninggalkannya. Tiba-tiba tangannya menarik tanganku dan membalikkan badanku.

 

“Wae?” tanyaku bertepatan dengan bel sekolah berbunyi.

 

“Sekarang roti ini untukku, tapi aku berjanji akan terus mentraktirmu roti-roti coklat yang lainnya sebagai pengganti roti ini. Kau harus mau, okay?”

 

“Terserah kau saja.” Dan aku meninggalkannya di kantin.

 

Keesokkan harinya dan hari-hari selanjutnya ia benar-benar menepati janjinya yaitu membelikanku roti coklat. Aku tidak mengerti maksud dan maunya apa, ia terus datang ke kelas sambil membawa roti tiap kali aku tidak ke kantin. Dia juga sering menghubungiku dengan memberi pesan padaku, padahal aku tidak pernah memberikannya nomor ponselku. Sampai minggu lalu, ia mengajakku untuk keluar makan dan nonton bersama, tetapi aku menolaknya dengan halus. Aku tidak ingin mengecawakan Wooyoung walaupun dia tidak tahu kalau aku sangat menyukainya. Apalagi aku tahu kalau Nickhun adalah sahabat Wooyoung.

 

Flashback END

***

Dan siang ini, ia mengirimkan pesan tetapi aku tidak membalasnya. Sebenarnya aku membutuhkan roti untuk mengisi perutku, tapi aku malas jika harus dia yang membawakannya untukku. Aku ingin Wooyoung yang datang dan membawakannya padaku.

 

“Yah yah yah! Ji Eun! Kau baru saja berbicara dengan Wooyoung kemarin dan sekarang kau menginginkan dia membawa roti untukmu?” Hatiku seperti mengomeli diriku sendiri. Aku memukul pelan kepalaku yang terasa sedikit pusing untuk menyadarkan kalau tidak mungkin Wooyoung akan datang dan membawakanku roti. Justru saat ini yang benar-benar datang adalah Nickhun.

“Hei, kenapa tidak membalas pesanku?” tanya Nickhun sambil berjalan ke arahku. Ia duduk dibangku sebelah kiriku. Aku hanya diam lalu menidurkan kembali kepalaku menghadap arah lain. Aku tidak ingin melihatnya karena aku benar-benar tidak tertarik padanya. Ditambah saat aku mengetahui sedikit gosip miring tentang sifat playboy yang ia miliki.

“Ji Eun, kau sakit?” Nikchun kembali bersuara. Kali ini ia bangun dan berdiri dihadapanku. Ia memperhatikanku dari jarak yang dekat. Aku pun langsung menegakkan kepalaku dan duduk normal. Aku kembali mencatat pelajaran dari papan tulis.

“Ji Eun, jawab aku, apakah kau sakit?” Nickhun bertanya lagi. Kali ini dia duduk dibangku sebelah kananku.

Aniyo~.” jawabku singkat tanpa melihat kearahnya. Lalu tiba-tiba tangannya memegang tangan kananku yang sedang menulis, membuatku berhenti menulis.

“Kau harus makan roti ini dulu.” Ia mengambil pulpen dari tanganku dan meletakkan roti diatas telapak tanganku. Aku langsung membukanya dan melahapnya tanpa bersuara. Aku melihatnya terus memperhatikanku. Aku mengalihkan pandanganku ke arah lain.

“Kau tidak kembali ke kelasmu?” tanyaku disela-sela mengunyah.

“Tidak, aku akan menunggumu sampai kau selesai menghabiskan roti itu.” jawabnya lagi, lalu ia mengambil sebuah buku dari atas mejaku. Aku kaget ketika tahu kalau buku yang dia ambil adalah buku agenda ku.

ANDWAE!” pekikku sambil merebut buku itu dari tangan Nickhun. Nickhun terlihat kaget dan aku buru-buru memasukkan buku itu kedalam ranselku.

Wae?” tanya nya penasaran.

Aniyo… Aku hanya tidak suka jika ada orang yang melihat agendaku.” jawabku jujur. Memang aku tidak suka apalagi isi agenda itu kebanyakan adalah tentang Wooyoung. Dan aku juga menyelipkan satu foto Woooyung di agendaku.

Aku selesai menghabiskan roti coklat itu dengan lahap. Aku bangun dari tempat dudukku untuk membuang bungkus roti ditempat sampah didepan kelas. Ketika aku bangun dari tempat dudukku, aku merasa tidak seimbang, tapi sepertinya Nickhun tidak melihatku karena ia sedang bermain dengan ponselnya. Aku berjalan pelan, tetapi tiba-tiba aku kehilangan keseimbanganku. Aku jatuh dan semua terasa gelap…

Wooyoung POV

 

Aku merapatkan tubuhku ke dinding disebelah pintu kelas. Nickhun ternyata benar-benar ingin mendekati Ji Eun. Yasudahlah, kuputuskan untuk kembali ke kelas saja, lagipula istirahat sebentar lagi berakhir. Ketika aku sudah berjalan cukup jauh, aku mendengar Nickhun memanggilku.

“Wooyoung-ah, cepat tolong aku!” Nickhun berteriak minta tolong. Aku membalikkan badan dan melihat ia sedang menggendong Ji Eun yang sepertinya tidak sadarkan diri. Aku buru-buru menghampirinya.

“Wae? Apa yang terjadi padanya?” Aku bertanya kepanikan. Aku memang termasuk tipe orang yang panikan.

“Dia pingsan. Tolong minta ijin pada Park Sonsaengnim dan tolong bereskan meja belajarnya. Aku akan mengantarnya pulang jika ia sudah sadar.” Nickhun menjelaskan sekaligus meminta tolong padaku. Setelah itu ia langsung berlari menuju UKS di lantai satu. Sementara aku mencari Park Sonsaengnim dan mendapatkan ia dilapangan bersama murid-murid kelas 2-1 yang akan berolahraga.

“Sonsaengnim..”

“Wooyooung? Apa yang kau lakukan disini?” Park Sonsaengnim terlihat kebingungan.

“Aku ingin meminta ijin. Lee Ji Eun hari ini tidak bisa mengikuti pelajaran karena dia sedang sakit. Aku ingin membereskan mejanya dan Nickhun yang akan mengantarnya pulang.”

Mwo?! Sakit? Sakit apa dia?” Park Sonsaengnim terlihat kaget.

“Aku kurang tahu.” jawabku jujur.

“Oke, aku mengijinkanmu untuk membereskan meja nya dan Nickhun yang mengantarkannya pulang. Tapi kenapa harus kalian berdua? Teman sekelasnya bahkan tidak ada yang tahu.”

“Mmm… Masalah itu… Tadi aku dan Nickhun tidak sengaja lewat didepan kelas 2-1 saat dia jatuh pingsan.” jawabku bohong. Park Sonsaengnim hanya mengangguk-angguk saja. Aku membungkukkan badanku dan langsung kembali kelas 2-1. Meja Ji Eun terletak di baris ketiga. Hanya meja nya saja yang masih berantakan. Aku memasukkan pulpen kedalam kotak pensilnya, lalu aku juga memasukkan buku-buku pelajaran yang tergeletak diatas mejanya. Aku mengambil satu buku catatan yang masih terbuka dan melihat catatan Ji Eun yang sangat rapi. Catatan itu belum selesai ditulis. Aku melihat ke papan tulis dan ternyata Ji Eun belum selesai menyalin catatan itu dari papan tulis. Aku terdiam sebentar sebelum akhirnya aku memutuskan untuk melanjutkan catatan Ji Eun yang belum selesai. Tidak sampai 5 menit catatan itu sudah selesai kutulis. Walaupun tulisanku tidak serapi tulisannya, tetapi setidaknya masih bisa terbaca dengan jelas. Aku langsung memasukkan buku catatan itu kedalam tas. Tiba-tiba pulpen dari atas meja yang tadi kupakai jatuh kebawah. Aku mengambilnya tetapi kemudian aku melihat selembar kertas putih yang juga sepertinya tidak sengaja jatuh. Aku mengambil pulpen itu kemudian aku mengambil selembar kertas putih itu. Sedetik kemudian, aku benar-benar terkejut dengan apa yang kulihat diselembar kertas putih itu.

Ji Eun POV

Pelan-pelan cahaya masuk kedalam mataku. Aku merasa seperti baru bangun tidur. Aku pelan-pelan membuka mataku dan melihat ke sekelilingku. Tidak ada siapa-siapa disana sampai 5 detik kemudian aku melihat Nickhun masuk dan menghampiriku. Dia duduk dibangku sebelah ranjangku.

“Dimana aku? Aku kenapa?” tanyaku padanya. Mau tidak mau aku harus bertanya padanya.

“Kau pingsan. Sekarang kau di UKS. Sebaiknya kau istirahat saja.” jawab Nickhun, namun tidak seperti biasanya. Ia terlihat seperti orang yang baru saja mendapatkan masalah. Tapi aku tidak peduli. Aku tidak ingin membuatnya kepedean. Aku tidak tertarik padanya, dan aku tidak ingin memberikan harapan palsu padanya. Lagipula aku ingat kalau dia terkenal dengan sifat playboy, membuatku sedikit menjaga jarak dengannya.

“Siapa yang membawaku kesini? Kau?” Aku kembali bertanya. Aku mencoba untuk duduk, walaupun kepalaku masih pusing. Nickhun membantuku untuk duduk.

“Aku…” jawab Nickhun singkat.

Aku ingin segera bangun dari tempat tidur tapi Nickhun menahan tubuhku dan dia duduk disebelahku, diatas kasur UKS.

Wae?” tanyaku sambil melihat wajahnya. Ia tersenyum.

“Lee Ji Eun… Aku menyukaimu. Aku benar-benar menyukaimu. Kau berbeda dengan perempuan lain yang pernah kukenal. Tidak mudah untuk mendekatimu. Sifat kerasmu itulah yang justru membuatku semakin ingin mengenalmu..” Nickhun menjawab sambil terus memandangiku. Aku mengalihkan pandanganku tetapi ia meraih rahangku dengan tangan kanannya dan ‘memaksa’ ku untuk tidak mengalihkan pandanganku dan hanya melihat matanya.

“Aku tahu kenapa kau begini padaku. Pasti karena sifat playboy yang sudah melekat didiriku…” Ia kembali berbicara dengan nada menggantung, “Tapi aku benar-benar menyukaimu. Mungkin aku bisa berubah jika kau mau mulai melunak padaku.” sambungnya lalu ia pergi meninggalkanku sendiri di UKS.

Aku kehilangan kata-kata. Apa yang harus kuperbuat sekarang? Aku menyukai Wooyoung tetapi kenapa Nickhun yang justru menyukaiku? Aku menggeleng-gelengkan kepalaku. Ini gila! Aku hanya menyukai Wooyoung! Bukan sahabatnya, Nickhun. Aku pun segera memakai sepatuku dan bersiap untuk keluar dari UKS.

Wooyoung POV

Aku hampir saja membuka pintu UKS kalau saja aku tidak mendengar pembicaraan Nickhun dan Ji Eun. Nickhun duduk disebelah Ji Eun dan ia terus-menerus menatap mata Ji Eun. Aku mengurungkan niatku untuk masuk kedalam UKS.

“Lee Ji Eun… Aku menyukaimu. Aku benar-benar menyukaimu. Kau berbeda dengan perempuan lain yang pernah kukenal. Tidak mudah untuk mendekatimu. Sifat kerasmu itulah yang justru membuatku semakin ingin mengenalmu..”

“Aku tahu kenapa kau begini padaku. Pasti karena sifat playboy yang sudah melekat didiriku…”

“Tapi aku benar-benar menyukaimu. Mungkin aku bisa berubah jika kau mau mulai melunak padaku.”

Aku tidak mendengar Ji Eun berkata apa-apa. Tidak lama kemudian Nickhun keluar dari UKS dan aku berpura-pura seperti tidak mendengar apa-apa.

“Apakah ia sudah sadar?” tanyaku dengan tas Ji Eun di pundakku.

“Sudah.” jawab Nickhun lalu aku pun memberikan tas ransel Ji Eun kepada Nickhun.

“Tolong ijinkan aku pada guru kita, Yang Sonsaengnim, kalau aku mengantarkan Ji Eun pulang.” ucap Nickhun padaku. Aku mengangguk lalu aku mengeluarkan selembaran kertas putih yang kutemukan tadi kepada Nickhun. Ia tersentak.

“Apa maksudnya?” tanya Nickhun sambil terus memperhatikan selembar kertas putih yang ternyata adalah fotoku sendiri. Terdapat tulisan dibalik foto itu:

Jang Wooyoung-December 2009.

“ I want to be the one most important for you

 Please hurry and accept my heart.”

 

“Entahlah. Tapi kumohon kau jangan salah paham padaku Nickhun-ah. Aku tidak menyukainya. Lupakanlah foto itu. Lagipula aku yakin pasti dia akan menyukaimu. Mana ada wanita yang tidak menyukaimu?” jawabku menjelaskan pemikiranku pada Nickhun. Aku tidak ingin ada salah paham antara aku dan Nickhun hanya karena perempuan.

Nickhun hanya terdiam lalu ia menyimpan foto itu di saku seragamnya.

“Wooyoung-ah, kau benar-benar tidak menyukai Ji Eun, kan?” tanya Nickhun seperti memastikan.

Ne.” jawabku lalu aku menepuk pundak kanan Nickhun dan pergi meninggalkannya menuju kelas.

 

 

 

Ji Eun POV

“Wooyoung-ah, kau benar-benar tidak menyukai Ji Eun, kan?”

Aku menutup mulutku dengan kedua tanganku mendengar pertanyaan dari Nickhun untuk Wooyoung. Aku baru ingin keluar dari UKS tetapi aku mengurungkan niatku dan mendengar pembicaraan mereka yang terdengar jelas karena kami hanya dipisahkan oleh pintu dan dinding yang tidak terlalu tebal.

Jantungku berdegup 2x lebih cepat dari biasanya. Aku tidak mau mendengar jawaban yang keluar dari mulut Wooyoung, tetapi hatiku memaksaku untuk tidak menutup telinga dan mendengar terus pembicaraan mereka.

Ne.”

Aku mendengar jawaban Wooyoung, membuat kakiku rasanya lemas dan tidak kuat untuk menopangku berdiri. Aku bersandar lemas di dinding lalu aku jatuh terduduk di lantai UKS yang dingin. Perlahan tanpa kusadari air mataku menetes dan lama-lama berubah menjadi tangisan yang tidak bisa kubendung. Harapanku hancur. Semua yang telah kulakukan sia-sia.

“Wooyoung memang tidak pernah menyukaimu, Lee Ji Eun! Sadarlah!!”

Aku memaki diriku sendiri. Aku menangis tanpa mengeluarkan suara. Tiba-tiba aku melihat Nickhun berjongkok dihadapanku. Ia memegang rahangku dan mengangkat kepalaku. Raut wajahnya terkejut melihatku menangis.

“Ji Eun! Kenapa kau menangis?” Ia bertanya dengan nada panik. Tangisku semakin menjadi. Walaupun tidak mengeluarkan suara, tetapi air mataku tidak bisa berhenti mengalir. Nickhun menarikku dan memelukku dengan erat. Ia mengelus-elus kepalaku. Aku justru semakin tidak bisa menghentikan tangisku.

“Wooyoung tidak akan pernah memelukmu. Dia tidak akan pernah mengelus kepalamu. Dia tidak akan pernah menanyakan mengapa kau menangis. DIA TIDAK AKAN PERNAH MEMBALAS PERASAANMU!” Aku berteriak didalam diriku sendiri. Teriakan yang tidak bisa keluar dari diriku terganti menjadi air mata yang sekarang masih mengalir.

“Ji Eun, ku mohon kau berhenti menangis dan katakan padaku apa yang membuatmu menangis.”

Aku melepaskan diri dari pelukan Nickhun dan menyandarkan tubuhku didinding. Nickhun duduk dihadapanku dengan kedua tangan yang memegang tangan kiriku. Aku perlahan menghapus air mataku dengan tangan kananku walaupun rasanya percuma.

“Aku sudah memutuskan jawaban dari apa yang kau minta tadi.” Aku berbicara pelan dnegan sedikit terisak. Nickhun mengambil botol minuman dari ranselku dan memberikannya padaku. Aku meneguk perlahan air putih untuk menenangkan diriku.

“Lalu apa keputusanmu?” tanya Nickhun. Aku terdiam sejenak.

“Aku memutuskan untuk menghilangkan pandangan buruk tentang dirimu dan mulai melihatmu dari sisi positif.” jawabku dengan pahit. Nickhun tersenyum.

Gomawo, Ji Eun. Aku akan berubah untukmu.” ucap Nickhun lalu ia kembali memelukku. Aku tidak tahu apakah aku harus bahagia atau tidak.

***