Title       : Is It Love?

Length  : Ficlet

Genre   : Romance

Cast       : Kim Jong Woon (Yesung Super Junior), Kim Hae Ra (OC)

Disclaimer :

ADIEZ-CHAN ©ALL RIGHT RESERVED
ALL PARTS OF THIS STORY IS MINE! NO OTHER AUTHORS! PLEASE DON’T STEAL, COPY AND RE-POSTING WITHOUT CONFIRM AND HOTLINK!
DON’T PLAGIARIZE!

KEEP COMMENT AND NO SILENT READERS HERE PLEASE!

________________________________________

 *

Dalam jarak yang begitu jauh, aku memberi jeda bagi diriku sendiri, untuk bertanya lagi kepada hati, apakah yang sedang dirasa adalah cinta?”

 

Sebuah mobil Renault Samsung SM5 berhenti di pelataran gedung Seoul Hotel. Seorang gadis yang sejak tadi duduk di bangku penumpang membentuk satu lengkungan dari dua sudut bibirnya. Sebuah senyuman yang memikat hati lelaki di sebelahnya. “Gomawo, oppa…” ucap gadis itu seraya menyentuh kenop pintu mobil tersebut.

“Chakkaman!” tangan lelaki itu dengan cepat menggenggam lengan gadis itu hingga gerakan lembutnya terhenti.

Gadis itu kembali memalingkan wajahnya dan menatap bingung lelaki itu, “Nee?”

“Hae Ra, gomawo…”

Dahi Hae Ra kini mengernyit. “Untuk apa, oppa?”

“Untuk datang ke ulang tahunku hari ini…”

Senyuman indah itu kembali mengembang dari bibir Hae Ra. Dia membenahi duduknya untuk lebih nyaman menatap mata kecil lelaki itu, “Jong Woon oppa, jangan berbicara seakan-akan kita baru menjalin hubungan kemarin sore. Dasar.”

Ucapan Hae Ra seakan menggelitik Jong Woon untuk ikut tersenyum bersamanya. Betapa gadis itu sungguh berarti untuknya. Dan kini, ketika dia menatap manik mata Hae Ra, dia bertanya dalam hatinya. Bagaimana hidupnya tanpa gadis itu? Akankah sama? Akankah hidupnya tetap sewarna pelangi? Karena rasanya, dia tak pernah bisa membahagiakan gadis itu.

“Hae Ra, mianhae, hubungan kita tidak bisa sama seperti pasangan yang ‘normal’. Aku… selalu menutupi eksistensimu dalam hidupku. Aku selalu mengaku tak punya yeoja. Aku pasti selalu menyakiti hatimu…”

Ekspresi gadis itu berubah kesal. “Nee, aku sakit hati. Lalu apa yang akan kamu lakukan?”

Jong Woon menggigit bibir bawahnya, menyesal. “Jeongmal mianhae, Hae Ra…”

Melihat rasa penyesalan yang tergurat di setiap garis wajah kekasihnya itu, Hae Ra tak mampu menahan tawanya, hingga akhirnya sebuah seringaian lucu muncul di bibirnya. “Oppa ini, ada-ada saja. Aku sudah tau konsekuensiku semenjak kamu mengatakan kamu menjadi trainee di SM. Terlalu terlambat jika kamu mengatakannya sekarang, karena aku sudah terbiasa. It’s not big problem.

 

“Apa kamu menyesal karena memilihku, Hae-Ra?”

 

Gadis itu menengadahkan wajahnya, menatap atap mobil, namun pikirannya tak lagi di sana. Entahlah apa yang ada dalam benaknya. “Dulu, ketika kamu baru saja menjadi penyanyi, kemudian ada satu wawancara di mana kamu mengaku tidak punya kekasih, hatiku sakit. Aku marah, namun tak terungkapkan. Aku hanya bisa memendamnya sendiri. Hanya bergulat dengan perasaanku sendiri, apakah aku memang ‘eksis’ di hatimu? Apakah aku sudah tidak cukup berarti bagimu?

“Aku pikir, dunia kita tak lagi sama. Yang paling menyedihkan dari sebuah perasaan cinta adalah, ketika aku harus bangun dari mimpi. Yeah, mimpi. Kamu, di Korea, menjadi pujaan begitu banyak gadis. Dan aku, pindah ke Singapore, ke Indonesia, dan tetap menjadi orang biasa. That was hard.

“Kamu tahu, orang yang mengatakan jarak bukan masalah, pasti mereka tidak tahu betapa meluapnya perasaan cinta itu ketika kedua pasang mata yang saling mencintai itu bertemu. Aku merindukanmu, setiap saat. Aku merindukanmu setiap aku sedih, aku merindukanmu setiap aku sakit. Tetapi aku paling merindukanmu ketika aku bahagia.”

 

“Aku juga merindukanmu, Hae Ra… Rindu itu kan dua hati yang saling bertaut.

 

Gadis itu tersenyum, “Aku tahu, oppa.” Dia terdiam untuk sesaat, dan melanjutkan, “Tapi dalam jarak yang begitu jauh, aku memberi jeda bagi diriku sendiri, untuk bertanya lagi kepada hati, apakah yang sedang dirasa adalah cinta?”

 

Lelaki di hadapannya tersentak sejenak hingga nafasnya tercekat, “Lalu? Apa jawabannya?”

 

Tentu saja. Itu benar cinta. Bahkan ketika aku menutup mata, aku masih dapat melihatmu.

Kali ini, Jong Woon menghela nafasnya lega. Apa jadinya jika jawabannya sebaliknya? Mungkin seketika itu dia hancur.

Kini aku sadar, apa artinya jarak jika hati kita sudah saling menggenggam? Aku yakin bahwa kamu di sini, juga mencintaiku, terlepas dari apapun yang kamu katakan pada semua orang.”

 

Hening. Keduanya bergulat dengan perasaan masing-masing. Bagi Hae Ra, ini adalah pertama kalinya dia mengungkapkan apa yang dirasakannya selama ini. Betapa dia telah terlalu dalam mempercayakan hatinya pada lelaki itu.

Sesaat kemudian, Hae Ra melanjutkan kata-katanya, “Dan mencintaimu tak perlu metafora, cukup kujalani saja. Karena aku tahu, kamu memberiku bahagia.”

 

Jong Woon terdiam. Atau lebih tepatnya, tercengang. Sebagian dari dirinya merasa bahagia karena ada seseorang yang mencintainya sedemikian besar. Namun hatinya yang lain baru saja menyadari, betapa gadis itu bergulat dengan perasaannya untuknya. Dan perasaan itulah yang menang.

Kini dia tahu, hidupnya tidak akan pernah sama tanpa Hae Ra. Tidak akan ada debaran jantung dan luapan hormon dalam tubuhnya ketika dia bersama gadis itu. Lebih jauh lagi, dia tidak akan pernah merasakan warna pelangi dalam hidupnya. Betapa gadis itu telah membawa hidupnya dalam taraf yang jauh lebih indah. Gadis itu adalah obat yang membuatnya menjadi candu untuk terus merasakan kebahagiaan dan cinta dari gadis itu.

 

“Setiap dari kita akan menjadi ‘yang selalu ada’ bagi seseorang yang entah dimana. Dan bagiku, seseorang itu adalah kamu, Kim Hae Ra…”

Senyum kecil sekali lagi terkembang dari bibir Hae Ra, kali ini diiringi dengan semu merah di kedua pipinya. “Nee, begitupun kamu bagiku.” Gadis itu melirik arloji di tangan kanannya dan melanjutkan,  “Sudahlah, ini sudah tengah malam. Oppa harus cepat-cepat istirahat, Jadwal oppa besok pasti sangat padat.”

“Ah, nee.” Jong Woon tersadar, dan menghembuskan nafas panjang. Karena sesungguhnya waktu begitu cepat bergulir ketika dia menikmati setiap momen bersama gadis itu. “Hae Ra, I wish I can stop time when I’m with you, so that we can be together forever…

Tawa Hae Ra mengembang. “Nee, I hope so.” kemudian gadis itu membuka pintu dan keluar dari mobil mewah itu. Ketika dia sudah berada di luar, dia melongok ke arah mobil melalui jendelanya. Good night, oppa…”

Sesaat kemudian, Jong Woon ikut membuka pintu mobilnya dan berlari ke arah Hae Ra. Dengan cepat tangannya meraih tubuh mungil Hae Ra dan menenggelamkannya dalam tubuhnya, sebelum gadis itu sempat menyadari apa yang baru saja dilakukan lelaki itu.

Seperti biasa, Hae Ra tak akan bisa menolak. Lelaki itu selalu melakukannya dengan spontan. Dan dia menyukai perlakuan-perlakuan kecil itu. Karena dia tahu, sebuah ciuman di pipi, ataupun sebuah pelukan dari seorang Don Woon adalah cara lain untuk mengungkapkan kata-kata yang tak bisa dia ungkapkan.

“Oppa? ini tempat umum! Bagaimana bila ada ELF yang melihatmu?” bisik Hae Ra panik, di balik pelukan Jong Woon.

“Tidak akan. Ini sudah tengah malam, dan rasanya penyamaranku sudah lebih dari cukup, ucapnya merujuk pada kacamata hitam yang menutup sebagian besar wajahnya yang tanpa make-up, topi, dan jaket ala pembalap.

“Hiisshh! Di depan orang lain saja kamu canggungnya minta ampun. Kenapa padaku sepertinya tidak sama sekali?”

Jong Woon tergelak, “Babo! Mana mungkin aku canggung padamu. aku sudah mengenalmu hampir di seluruh umurku!”

Mereka terdiam, menikmati sedikit lagi waktu yang dapat mereka rasakan bersama. Dan keheningan itu mampu mengungkapkan lebih banyak perasaan dibandingkan dengan kata-kata.

Apa lagi yang harus Jong Woon katakan? Mungkin bahasa tak sanggup mengungkapkan apa yang dia rasakan.Atau mungkin hanya satu ungkapan yang mampu dia ucapkan…

“Gomawo, Hae Ra. Untuk hadir di hidupku. You’re the one that make me smile. Forever.

 

Dan mencintaimu tak perlu metafora, cukup kujalani saja. Karena aku tahu, kamu memberiku bahagia.

____________________________________

fin.

Jangan tanya kenapa ficlet ini geje bangett. Karena saya memang dapet ide yang juga super geje. Huahahaha… 😀

Oke oke, kalau emang jelek, mianhae… ><

Atas nama saya, saya mohon komennya yaa…

Gomawoyoooo… (_ _)