Title : I Still Love You…

Genre : Romance, Angst, Tragedy (?), Hurt/Comfort

Rating : PG-13 / T / General

Casts : Leeteuk Super Junior, Kim Taeyeon SNSD

Disclaimer : Casts bukan punya saya. Plot cerita baru punya saya…

A/N : Ada yang mau nimpuk saya pake bata? *dihantam bangku sekolah*

Oke. Saya tau kalo saya ini emang bener-bener kurang ajar. Udah berbulan-bulan lamanya saya ngilang gitu aja. Nggak ada kabar apapun. Yah, salahkan tugas sekolah saya yang ngajak ribut sangat itu…

Ehm. Kali ini saya mau mempersembahkan ff request dari urielhakim yang minta ff TaeTeuk couple. Yah, maafkan saya yang buatnya lama… Dan hasilnya agak… aneh…

Silahkan dinikmati. Jangan lupa comment, ya~

***

Leeteuk menatap dengan getir ke arah halaman rumahnya melalui jendela kamar. Hujan deras yang turun saat ini membuat kaca jendela menjadi basah dan membatasi pandangan. Tapi bagi Leeteuk, hujan bukanlah penghalang baginya untuk memandang jelas halaman rumahnya yang saat ini basah terkena hujan. Justru pada saat hujan ia dapat kembali melihat siluet seseorang yang begitu ia cintai. Sosok seorang gadis yang sedang tertawa bahagia sembari menikmati jatuhnya air hujan yang menimpa tubuhnya. Sesosok gadis bernama Kim Taeyeon.

Taeyeon. Kim Taeyeon.

Nama itu terus-menerus berputar di otak Leeteuk, terlalu sering hingga ia menjadi tidak bisa mengabaikannya sedetik pun. Dan Leeteuk tahu betul apa alasannya.

Ia mencintai gadis itu.

Ia mencintai Kim Taeyeon.

Ia sangat-sangat mencintai gadis bersuara indah itu.

Entah. Entah berapa ratus atau ribuan kali ia sudah mengatakannya semenjak saat-saat menyakitkan itu. Ia terus-menerus merintih dan mengulang kata-kata yang berartikan sama setiap harinya…

Saranghaeyo. Aishiteru. I Love You. Wo Ai Ni. Te Queiro. Je t’aime. Ti Amo. Ich Liebe Dich. Ya Tebya Lubyu.

Ia bahkan mengucapkan sembilan bahasa yang berbeda. Sembilan macam kata yang semuanya berartikan bahwa ia mencintai gadis bernama Kim Taeyeon itu. Terlalu mencintainya hingga ia bisa mengesampingkan kodrat kehidupan dan terus berharap akan datangnya belas kasihan dari para malaikat yang ditujukan padanya untuk memberikan suatu keajaiban sehingga gadis itu akan berada di sisi Leeteuk, untuk sekali lagi. Sekali lagi sehingga Leeteuk bisa mengatakan perasaannya pada gadis itu.

Benarkah?

Percuma. Percuma. Percuma. Itu semua sia-sia. Taeyeon telah tiada. Dan orang yang sudah meninggal tidak akan bisa kembali lagi. Leeteuk sudah sangat-sangat tahu hal itu. Ia bukanlah seorang idiot yang berpikir bahwa seseorang bisa hidup kembali. Ia harus bisa menerima kenyataan bahwa gadis itu telah tiada.

“Jung Soo oppa!”

Ah, tapi Leeteuk tetaplah seorang manusia biasa. Ia sudah terlalu mencintai gadis itu. Rasa cintanya yang yang tidak pernah terucapkan terus bertumpuk hingga seluruh akal sehatnya seakan tertutup oleh perasaan itu dan ia terus-menerus bersikap bodoh dan tetap mengharapkan Taeyeon akan kembali padanya.

Sebodoh apakah dirinya?

Perlahan-lahan, air mata mulai turun dari kedua matanya, seiring hujan yang menjadi semakin deras di luar. Leeteuk menyandarkan tubuhnya ke pinggiran jendela kamarnya yang berwarna putih itu. Dingin, tentu saja. Tapi Leeteuk tidak peduli.

Leeteuk mulai mengutuki dirinya sendiri. Ia bodoh. Sangat-sangat bodoh. Kenapa ia dulu selalu menyia-nyiakan kesempatan yang datang padanya? Kenapa ia tidak bisa menggunakan waktu-waktu berharga itu? Dan kenapa ia tidak bisa mengakui perasaannya di saat gadis itu masih ada?

Kenapa, kenapa dan kenapa? Leeteuk benar-benar tidak bisa memaafkan dirinya sendiri karena kebodohannya itu. Ia sadar betul, penyesalan memang selalu datang terakhir di saat semuanya telah hancur. Tapi Leeteuk benar-benar merasa menyesal dan mengutuk dirinya sendiri karena tidak mengungkapkan perasaannya itu.

Padahal Taeyeon juga menyukainya. Padahal Taeyeon juga mencintainya. Kim Taeyeon menyimpan perasaan yang sama dengannya.

Tapi kenapa dulu Leeteuk tidak bisa merasakannya? Kenapa ia baru mengetahui hal itu setelah kepergian gadis itu? Bahkan ia mengetahuinya dari sahabat-sahabat Taeyeon, bukannya mendengarnya secara langsung dari gadis itu sendiri. Dari sahabat-sahabat Taeyeon.

Separah itukah kebodohannya?

Leeteuk sungguh-sungguh ingin melemparkan dirinya ke tengah jalan raya dan menanti sebuah kendaraan akan melindasnya ketika mendengar hal itu. Seberapa menyakitkannyakah saat mengetahui bahwa gadis yang dicintai ternyata juga memiliki perasaan yang sama, tetapi gadis itu telah tiada? Dan hal itu akan semakin parah kalau kau bahkan tidak menyadari perasaan gadis itu semasa ia masih ada di dekatmu.

Leeteuk benar-benar mengumpat untuk dirinya sendiri sekarang. Ia idiot. Sangat-sangat idiot. Dan mungkin ia adalah pria paling tolol di muka bumi ini. Adakah pria lain yang tidak bisa mengaku tentang perasaan yang ia pendam terhadap gadis lain? Jika, ya. Pria itu tidak akan lebih buruk daripada Leeteuk yang tidak merasakan perasaan yang sama dari gadis yang ia cintai.

Leeteuk memegang dadanya yang terasa sesak. Dan seiring dengan jatuhnya hujan di luar, kenangan tentang gadis itu kembali menyeruak keluar dan memenuhi pikiran Leeteuk…

“Taeyeon, kenapa kau memilih bunga mawar putih? Bukankah kau lebih suka bunga berwarna ungu?” Leeteuk menolehkan kepalanya, mencari sesuatu. “Ah, bunga anggrek itu berwarna ungu. Bagus sekali, lho. Kenapa kau tidak mengambil yang itu saja?”

“Tidak, oppa. Hei, kupikir aku mulai menyukai warna putih akhir-akhir ini.”

“Kenapa?”

Taeyeon tersenyum sembari memandang ke arah Leeteuk. “Karena warna putih adalah warna kesukaan orang yang kucintai, oppa. Lagipula, warna putih itu sama indahnya dengan seluruh hal yang ada pada orang itu.”

Putih… Bunga…

Leeteuk kembali mengutuk dirinya sendiri. Kenapa waktu itu ia tidak menyadari bahwa orang yang Taeyeon sukai adalah dirinya? Kenapa ia justru berpikir bahwa Taeyeon menyukai orang lain dan bukan dirinya sehingga ia malah bersikap ketus pada gadis itu saat itu?

Sial, sial, sial! Sungguh, Leeteuk benar-benar ingin mencekik dirinya sendiri saat ini. Entah iblis cemburu sialan mana yang membuatnya buta hingga tidak bisa berpikir dengan jernih dan mengabaikan petunjuk dari Taeyeon. Taeyeon menyukainya, bukan orang lain. Dan bukankah dengan tidak menyadari hal itu justru akan menyakiti Taeyeon juga?

Tentu saja. Menyakiti Taeyeon adalah hal yang paling dibenci oleh Leeteuk melebihi apapun. Dan apakah selama ini ia secara tidak sadar sudah membuat Taeyeon merasa sakit?

Ya! Tentu saja jawabannya adalah ‘Ya’, Park Jung Soo! Kau telah membuat gadis itu menderita! Semua itu salahmu!

Leeteuk semakin membenci dirinya sendiri mengingat fakta itu…

“Oppa, bagaimana perasaanmu saat kau menyukai seseorang, tetapi orang itu ternyata tidak menyukaimu? Ah, atau hanya menganggapmu sebagai saudaranya, mungkin. Bagaimana menurutmu?”

“Menurutku?” Leeteuk berpikir sesaat. “Tentu saja sangat menyakitkan, Taeyeon. Kupikir salah satu hal yang paling menyakitkan dalam cinta, selain perpisahan, adalah merasakan perasaan cinta yang bertepuk sebelah tangan. Memangnya kenapa?”

“Err… Aku… menyukai seseorang, tapi dia sepertinya tidak menyukaiku… Aku hanyalah adik baginya,” Taeyeon menghela nafas berat. “Ternyata itu menyakitkan, ya…” nada suaranya mulai terdengar bergetar karena menahan tangis.

Cinta yang bertepuk sebelah tangan, ya? Itu sangat-sangat menyakitkan…

Saat itu, Leeteuk bersumpah untuk menghajar siapapun orang yang sudah membuat Taeyeon menangis. Ia tidak suka melihat gadis pujaannya itu harus menangis karena orang lain.

Tapi, akankah sumpah itu masih berlaku saat orang yang membuat Taeyeon menangis ternyata adalah dirinya sendiri? Ia sendiri yang ternyata telah membuat Taeyeon menangis menahan sakit.

Memang, ia tidak mungkin memukuli dirinya sendiri. Ia bukannya seseorang yang putus asa hingga menganggap bahwa dirinya sendiri itu tidak berguna – biarpun Leeteuk sendiri berpikir seperti itu. Atau setidaknya, Leeteuk tidak mau dianggap sakit jiwa – belum. Tapi ia bisa menjalankan sumpah itu dengan melakukan hal lain. Seperti meloncat dari lantai dua – atau bahkan atap rumah mungkin? Ah, ataukah ia harus membuat dirinya sendiri terserempet sebuah mobil?

Leeteuk akan melakukan apapun. Biarpun itu akan membunuhnya.

Tidak masuk akal? Tentu saja. Cinta memang bisa menjadi sangat tidak masuk akal. Leeteuk tahu itu. Tapi Leeteuk tidak akan peduli dengan fakta rasional apapun.

Asalkan itu bisa membuat Leeteuk memenuhi sumpahnya dan membuatnya merasakan sedikit rasa sakit yang terus-menerus dirasakan oleh Taeyeon karena kebodohannya itu, apapun akan ia lakukan dengan senang hati.

Karena ia yakin, rasa sakit yang Taeyeon rasakan selama ini tidak akan bisa ia balas dengan apapun yang ia lakukan untuk melukai tubuhnya…

“… Apa yang kau cari kali ini, Taeyeon?” tanya Leeteuk ketika ia mendapati Taeyeon sedang mondar-mandir dengan panik dan sesekali terlihat mencari-cari sesuatu.

“Gelangku hilang. Bisa kau bantu aku mencarinya, oppa? Gelang itu berwarna putih dan memiliki hiasan di sekelilingnya.”

Leeteuk menghela nafas pelan. Dia lalu membuka lemari buku Taeyeon dan sedetik kemudian ia sudah membawa sebuah gelang yang dimaksudkan oleh Taeyeon. “Ini.”

“Ah! Terima kasih, oppa!” seru Taeyeon gembira. “Tapi, bagaimana kau bisa menemukannya secepat ini?”

“Kau baru saja membaca buku, Taeyeon. Gelang itu pasti kau tinggalkan tidak jauh dari sesuatu yang berhubungan dengan tempat buku itu berada,” Leeteuk tersenyum. “Penyakit pelupamu itu memang harus segera disembuhkan.”

“Ini sudah bawaan sejak aku lahir, oppa.”

Leeteuk tertawa. “Ngomong-ngomong, kenapa kau sampai panik mencari gelang seperti itu? Memangnya apa istimewanya, sih?”

Taeyeon tersenyum sembari mengamati gelang putih yang indah itu. “Aku… berniat memberikan gelang ini saat hari ulang tahun orang yang kusukai. Jadi, tentu saja ini istimewa bagiku.”

Bodoh. Bodoh. Bodoh. Bodoh. Bodoh.

Berapa kali ia harus mengulangi kata itu?

Leeteuk itu bodoh. Dan ia sudah sangat mengetahui hal itu.

Ia harus mengaku kepada dirinya sendiri saat ini. Mengaku tentang suatu hal yang membuat Leeteuk ingin membunuh dirinya sendiri. Mengaku bahwa ia telah menyakiti gadis yang ia cintai seumur hidupnya. Menyakiti gadis itu karena kebodohannya sendiri.

Sudah sekian kali Taeyeon memberikan suatu isyarat bahwa orang yang ia cintai adalah dirinya. Tapi sekian kali pula Leeteuk tak pernah menyadari hal itu. Ia malah berpikir bahwa ada pria lain yang telah merebut hati Taeyeon darinya.

Padahal seluruh isyarat Taeyeon sudah sangat-sangat jelas. Orang yang tidak mengenal mereka berdua pun pasti juga tahu bahwa Taeyeon mencintainya. Bukan orang lain.

Tetap saja, Leeteuk tidak menyadarinya.

Dapatkah Leeteuk menyalahkan orang lain untuk kebodohannya itu?

Tidak akan pernah. Leeteuk tidak mungkin menyalahkan siapapun. Tidak ada seorang pun di dunia ini yang patut ia salahkan. Sang iblis yang menutup akal sehatnya waktu itu pun juga tidak akan pernah bisa ia jadikan alasan utama untuk kesalahannya. Iblis-iblis terkutuk itu pasti hanya tertawa gembira sembari berpesta dan memandang keputusasaan Leeteuk dengan senang. Tidak mungkin pula ia timpakan seluruh kesalahan pada para malaikat yang berada di atas sana dan melihat kelakuan Leeteuk yang telah menyakiti gadis baik itu…

Ya, Tuhan… Malaikat? Leeteuk mulai meragukan kata-kata itu…

Dulu, Leeteuk sering mengatakan dan juga disebut-sebut sebagai malaikat tak bersayap yang ada di bumi ini oleh banyak orang. Angel without wing’s, begitu istilahnya. Dan Leeteuk sangat-sangat bangga akan hal itu.

Tapi sekarang, masih dapatkah ia mendapatkan sebutan itu?

Bah! Malaikat apanya? Ia bukanlah malaikat! Ia hanya seorang manusia biasa yang terlalu bodoh dan munafik! Tidak ada malaikat yang menyakiti perasaan seseorang hingga terlalu dalam dan meninggalkan bekas menyakitkan di sana! Dan tidak mungkin ada malaikat yang membohongi orang lain, termasuk dirinya sendiri!

Ia hanyalah manusia biasa…

Leeteuk menatap dengan getir ke arah halaman rumahnya melalui jendela kamar. Hujan deras yang turun saat ini membuat kaca jendela menjadi basah dan membatasi pandangan. Tapi bagi Leeteuk, hujan bukanlah penghalang baginya untuk memandang jelas halaman rumahnya yang saat ini basah terkena hujan.

Hujan yang turun masih sama derasnya dengan tadi. Dinginnya bingkai jendela putih di kamarnya itu masih sama. Air mata Leeteuk masih belum juga berhenti. Serta pikirannya masih sangat penuh dengan segala macam kenangannya tentang gadis itu.

Sama. Semuanya masih tetap sama.

Semenjak kehilangan gadis itu, seluruh hal yang ada pada hidup Leeteuk seakan menguap. Semuanya bagaikan hal yang sama untuknya. Ia tidak merasakan apapun lagi kecuali waktu yang tetap berjalan dan setia mengiringi kehidupan ini. Selain itu… nihil.

Leeteuk bahkan tidak merasakan sakit saat terjatuh ke arah jalan raya dan tertabrak sepeda. Sedikit pun tidak ia rasakan adanya rasa sakit pada tubuhnya.

Ia tidak peduli biarpun seluruh fisiknya telah mati rasa. Raganya mungkin memang tak merasakan apapun, tapi jiwanya tetap serasa tercabik-cabik. Ia tidak akan mungkin bisa merasakan sakit yang mendera tubuhnya kalau rasa sakit lain yang jauh lebih menyakitkan dan terus  menggelayuti pikiran serta hatinya itu tetap ada. Nyeri pada dadanya jauh lebih membuatnya merasa menderita dibandingkan rasa sakit pada luka-luka tubuhnya.

Ya, itu memang sangat menyakitkan. Adakah sesuatu hal yang bisa meringankannya?

Leeteuk tertawa getir dengan air mata yang masih mengalir deras. Hujan di luar masih tetap sama, deras dan dingin. Tetapi Leeteuk mulai melangkahkan dirinya dan beranjak keluar dari kamarnya yang hangat dan tenang itu.

Halaman rumahnya. Tujuannya tidak perlu terlalu jauh. Tempat ini saja sudah menyimpan banyak sekali kenangan-kenangan tentang Taeyeon.

Leeteuk melangkahkan kakinya. Air hujan yang masih turun langsung mengeroyoknya dan membuatnya basah kuyup hanya dalam waktu sebentar. Kakinya yang tak beralas menginjak rumput-rumput terawat yang dingin itu. Kedua matanya terpejam dan kedua tangannya terentang lebar. Ia terlihat berusaha sekuat mungkin untuk menikmati turunnya hujan ini.

Fokus pikirannya saat ini hanyalah tentang gadis itu. Seluruhnya. Dan hujan ini adalah alat yang paling baik untuk mengingat segala hal yang terpahat pada otak Leeteuk tentang Taeyeon.

“Oppa, ayolah! Hujan itu menyenangkan!”

“Kemarilah, oppa.”

“Oppa!”

Tidak, tidak. Kali ini, Leeteuk tidak akan bersikap defensif dan menepis jauh-jauh seluruh kenangan tentang Taeyeon. Sudah terlalu lama ia melakukan hal itu dan Leeteuk sadar bahwa hal itu malah akan menyakitinya. Sekarang, ia sudah memutuskan untuk menghadapinya. Tidak mungkin ia bisa lari dari kenyataan selamanya. Ia harus berubah.

Leeteuk tersenyum tenang. Perlahan, kedua matanya mulai terbuka dan menatap langit di atasnya. Seulas warna biru mulai terlihat diantara kerumunan awan-awan hitam. Hujan yang tadinya deras itu mulai mereda dan hanya menyisakan rintik-rintik hujan yang jatuh dengan tenang.

Ia sudah memutuskan. Terperangkap dalam kesedihan selamanya itu benar-benar memalukan. Seberapa pun bodoh dan tidak bergunanya dirinya, berlarut-larut dalam perasaan menyesal itu memang menyakiti diri sendiri. Rasanya justru semakin sakit saat kau berusaha untuk memikirkannya.

Dan Leeteuk juga yakin, Taeyeon pun akan membenci kelakuannya yang bodoh itu. Ia tidak suka melihat orang yang ia sayangi harus menangis.

Leeteuk melemparkan dirinya ke tanah dan menatap langit di atasnya. Seluruh perasaannya pada Taeyeon masih tetap sama. Tidak akan berubah sampai kapanpun.

Yang perlu ia ubah hanyalah sikapnya dalam menerima kenyataan. Sikap konyolnya selama ini harus ia singkirkan.

Leeteuk meletakkan tangan kanannya tepat di jantungnya. Merasakan detak jantungnya yang stabil, bukannya rasa sakit yang selama ini ia rasakan itu. Ia mulai merasa ringan. Seakan seluruh bebannya selama ini telah menghilang.

Sesaat kemudian sebuah kalimat terlontar dari bibirnya, “Aku akan tetap mencintaimu, Taeyeon. Sampai kapanpun.” Kalimat pernyataan yang menandai bahwa ia sudah merelakan kepergian gadis itu.

Dan seiring dengan itu, hujan pun berhenti dan Leeteuk semakin yakin bahwa keputusannya saat ini benar-benar tepat.

Kehilangan dan pertemuan adalah hal yang selalu terjadi dalam roda kehidupan.

Kehilangan memang sangat menyakitkan…

Tetapi kehilangan bukanlah alasan untuk menyiksa diri sendiri.

Hadapi roda kehidupan itu.

Hidup tetap berjalan tanpa memperdulikan kesedihanmu…

 FIN

***

Yak, apa banget ini? Gagal? AAAAA~! *jerit-jerit di tengah warnet*

Oh, hampir lupa. Di atas ada 9 bahasa asing, kan? Itu kalo sesuai urutan pake bahasa Korea, Jepang, Inggris, Cina, Spanyol, Prancis, Italia, Jerman dan Rusia. Jangan tanya saya dapet ide bahasa begituan dari mana…

Yah, sudahlah. Setelah dibaca, mohon dicomment. Saya butuh comment anda sekalian~ Gomawo~