Author : Ayuningtyas
Title : Absolute Music and Art
Length : Sequel
Genre : Romance
Main Cast :
–  MBLAQ member
– Hwang Dain (imagine as you)
Support Cast:
– Park Nana
– Cho Hyori
– Shin Hyoni

 

Absolute Music and Art –Inst. 10

 

Hwang Dain story…

 

From: Lee Joon sunbaenim

 

Kemarin kau pulang duluan ya? Kenapa tidak jawab pesanku?

 

Aku menelan ludah melihat pesan yang dikirimkan Lee Joon sunbaenim pagi ini, ottoke? Apa yang harus kukatakan padanya? Apa aku harus bilang kalau Seungho oppa ‘menculikku’ dan menghabiskan waktu seharian bersamaku? Ahhhh apa yang akan dikatakan Joon sunbaenim nanti?

Baru kutinggal sebentar, terlihat ada 2 pesan di HPku

 

From: Nana

 

Kamu ada dirumah tidak? Aku mau main kerumahmu.

 

From: Seungho oppa

 

Kamu dimana? Bisakah aku pergi ke rumahmu?

 

Belum sempat aku menjawabnya satu-satu, tiba-tiba Seungho oppa menelponku dan aku segera mengangkatnya dengan….. sedikit nervous dan gugup.

“Yeoboseo?”

“Dain-sshi… kenapa kau tidak jawab pesanku? Aku menunggumu nih,” jawab Seungho oppa diseberang telepon, “Aku ingin mengajakmu ke suatu tempat yang menyenangkan, mau tidak?”

Aku terbengong bengong mendengar perkataan Seungho oppa, “Ke…. Kemanakah sunbaenim?”

“Ikut saja, aku ingin bermain piano di jalan untuk menenangkan pikiranku yang stress karena ujian,” jelas Seungho oppa, “Aku jemput kamu 5 menit lagi ya?”

Aku mematikan telepon dengan pikiran yang melayang entah kemana. APAKAH INI KENCANKU DENGAN SEUNGHO OPPA?!?! HOW CAN?!?!

“Ah… micheoseo~~!!!” aku berputar putar dan berguling guling di kamar tidurku. Ahhhhhh kenapa ya rasanya sangat senang? Padahal dia sudah mengecewakanku loh. Apa dia berniat untuk….. ahhhh~!!! Aku bahkan tak bisa membayangkannya, hahahahhahaha *crazy*

“Oh iya, aku kan harus memikirkan mau pakai baju apa??? Aduh ottokke?! Masak aku harus Tanya ummaku sih? Omaigat omaigat….” Aku berlari bolak balik kamar saking kebingungannya. Kubuka lemari-lemari bajuku dan mencocokkan satu sama lainnya, astaga… kenapa rasanya bisa segila ini sih?!

Aku melirik HPku, oh iya…. Kan aku harus menjawab pesan Nana supaya ia tahu aku tak bisa menemaninya hari ini, “Okelah….. mianhae Nana-sshi… hari ini adalah hari keberuntunganku~”

 

To: Nana

 

Mianhae Nana-sshi… aku harus pergi ke suatu tempat. Mungkin lain kali saja ya?

 

Aku melempar HP ke kasurku dengan gembira, lalu mengangkat lukisan wajah Seungho oppa sembari berkata….

“Oppa…. Kau, membuatku gila seperti ini~ ahahahahaha joahae~~”

 

~~~~~

 

Park Nana story…

 

From: Dain

 

Mianhae Nana-sshi… aku harus pergi ke suatu tempat. Mungkin lain kali saja ya?

 

“Bagaimana nih? Padahal kan kita ingin menginterogasi dia. Eh dia malah pergi,” keluh Hyori yang membaca pesan di Hpku.

“Yasudah, mau diapakan lagi, masak kita harus memaksanya untuk tidak pergi?” jawabku menenangkan Hyori yang kecewa, “Oppa deul…. kita jadinya mau jalan-jalan kemana nih?”

“Kalian maunya kemana?” tanya Cheondung oppa sambil memain mainkan gitarnya, “Ah….. mungkin kita terlalu sibuk dengan diri kita masing-masing, sehingga Dain menarik diri dari kita. Kamu berpikir begitu tidak sih?”

Cheolyong oppa mengangguk, “Padahal kalian bertiga bersahabat. Tapi karena Dain tidak punya namchin, dia jadi sibuk sendiri juga. Seharusnya kita tidak boleh mengacuhkan dia.”

“Nee nee….” jawabku dengan nada yang agak sedih, “Bagaimana kalau kita menyusul dia saja. Mungkin saja dia pergi dengan appa umma nya, jadi tidak apa-apa kan kalau kita ikut dia?”

Hyori mengangguk dengan antusias, “Benar juga kau Nana-sshi~~ lagipula aku sudah bosan kalau ke studio terus…. memang sih pekan seni tinggal seminggu lagi, tapi kalau latihan terus kan capek.”

Cheondung oppa hanya tertawa mendengar pengakuan Hyori, lalu merangkulnya dengan mesra, “Arra arra….. kamu sudah berlatih keras demi band kita, aku salut padamu jagiya.”

Hyori yang mendapat perlakuan itu Cuma mesem mesem saja, “Nana-sshi, kau sudah kirim pesan ke Dain?”

“Oh iya aku lupa. Jakkamannyo..” jawabku sambil memencet HP dan langsung mengirim pesanku kepada Dain.

 

To: Dain

 

Memangnya kamu pergi kemana si Dain-sshi?

 

“Memangnya kamu yakin kalau Dain mau kita temani hem?” tanya Cheolyong oppa sambil memencet mencet HPku dengan iseng sehingga aku dan dia jadi saling memperebutkan HPku.

“Ya mungkin saja, aku tidak akan membiarkan dia asik dengan dunianya sendiri, sementara orang tua atau orang yang mengajaknya juga sibuk sendiri.” Jawabku, “Iiiiiiiih kembalikan Hpku dong oppa~”

Tiba-tiba ada satu pesan masuk ke Hpku. Aku segera membacanya tanpa ragu.

 

From: Dain

 

Aku juga tidak yakin mau kemana. Oh iya, jangan coba-coba membuntutiku bersama dengan Cheolyong Cheondung oppa dan Hyori. Arraseo?

 

“Waeyo? Kenapa wajahmu terkejut begitu?” tanya Hyori antusias, “Marebwa… marebwa~~!!”

Aku hanya bisa tertawa sambil berkata, “Dain nampaknya sudah membaca gerak gerik kita, hahahahahahaha ya sudahlah kita pergi ke tempat lain saja.”

 

~~~~~

 

Shin Hyoni story…..

 

naneun neoui Sweety… naegen neomu yeppeun neo

ojig neoman boyeo

jigeum naege dagawa nal an-wajwo niga neomu joh-aseo naegen

neomu sojung hangeol…

 

aku termagu mendengar Byunghee sunbae melantunkan lagu ‘You’re my +’ karangan Seungho oppa dengan indahnya. Suaranya begitu khas, dan falsettonya……. Membuat seluruh bulu kudukku berdiri.

“Ahhhh melelahkan sekali.” Jawab Byunghee oppa segera setelah ia menyelesaikan lirik terakhirnya, “Tapi… gwenchana, menyanyikan lagu akustik sangat menyenangkan. Apalagi kalau diiringi olehmu, Hyoni-sshi.”

Aku manggut manggut sambil masih memetik metik gitar membawakan lagu-lagu kesukaanku sembari menunggu Byunghee oppa yang masih istirahat. Tiba-tiba HPku berbunyi tanda satu pesan masuk.

 

From: Seungho oppa

 

Yak, sampai kapan kau petik gtarmu dan hnya mnunggu Byunghee? Dia bkn namja yg peka dgn hal sprti itu, jd kau harus brsiaga juga. Arrajie?

 

Eh, ige mwoji?? Kenapa tiba-tiba si orang kurang tidur itu mengirim pesan seperti itu? Tadi dia bilang, ia akan pergi dengan seseorang. Jangan-jangan dia membuntutiku?

“Hyoni-sshi…. bisa tolong ambilkan HPku di loker sana?” Byunghee oppa menunjuk ke loker tempat ia selalu menaruh barang-barangnya, “Aku sepertinya terlalu lelah untuk berjalan.”

Aku mengangguk sambil bangkit dari kursi untuk mengambil HPnya. Namun saat aku berjalan, tiba-tiba kakiku tersandung sesuatu sehingga aku terjatuh menimpa lengan kiriku.

“Aigo~~” pekikku karena terkejut dengan insiden tersandung ini. Byunghee oppa yang melihatnya sangat terkejut dan berusaha membantuku bangkit.

“Omona, Hyoni-sshi~ gwenchana?!” tanyanya panic sekali, “Mianhaeyo~ tadi aku tak sengaja melonjorkan kakiku hingga membuatmu tersandung, mianhae~~ mianhae~~~”

Aku mengangguk sambil mencoba berdiri sebisa mungkin, “Nee gwenchana oppa, hanya tersandung kok. Belum tersambar mobil, hehehehe.” Jawabku sambil menuju ke loker dan mengambil HP oppa, “Nih HPnya op…… aish~!”

“Eh, waeyo? Ada apa dengan tangan kirimu?” Byunghee oppa memegang lengan kiriku dan menekan nekan lembut pundakku. Tapi…. Entah kenapa rasanya sakit sekali sampai-sampai aku mendesis.

“Aish…. Kok sakit ya?” tanyaku berusaha setenang mungkin, padahal sebenarnya aku cukup pesimis. Kalau tangan kiriku terkilir, otomatis aku tidak bisa menekan cord gitar dan…..

“Ottokkajie?” ungkap Byunghee oppa sambil masih memegangi lengan kiriku, “Kalau begini kau pasti tidak bisa…… ah ottokke? Pentas seni padahal seminggu lagi, aku tidak mungkin cari pendamping…..”

“Anii anii… aniiyo, andwae~!” ucapku panik, “tidak apa-apa kok, aku bisa ke refleksi untuk minta pijat. Aku tidak mungkin meninggalkan tugas ini begitu… auuuuuu~”

Nyerinya terasa lagi saat Byunghee oppa menaruh tanganku, “Tuh kan? Bahkan ditaruh begitu saja sampai sesakit itu. Ottokke? Ahhhh nega jaelmothaesso~~~ coba saja kalau tadi aku tidak meregangkan kakiku, mungkin kau tidak akan tersandung dan melukai dirimu sendiri.”

“Gwenchana oppa, aku pasti akan segera pulih. Jangan khawatirkan aku.” Ucapku dengan tega yang membara, “Beri aku waktu 4 hari untuk menyembuhkan lenganku, niscaya aku pasti bisa menemani oppa minggu depan. Oke?”

Hwang Dain story…

 

“Em….. ini…… rumah siapa?” tanyaku ragu-ragu. Jangan bilang kalau ini rumah……

“Nee, ini rumah keluarga Yang.” Ucap Seungho oppa dengan penuh kebanggaan. “Keluarga Yang memiliki 2 putra yang mencintai musik, salah satunya Yang Seungho. Aku,”

Aigo….. hampir saja aku pingsan dibuat olehnya *lebay*

“Kaja, kenapa kau seperti mau pingsan begitu? Ayo kita masuk. Kau akan kuperkenalkan pada anggota keluargaku.” Jawab Seungho oppa sambil memegang sembari mendorong pundakku.

 

…..

 

Rumah keluarga Yang tidak begitu besar menurutku, hanya saja… rumah ini menunjukkan kalau rumah ini dihuni oleh seniman seniman remaja yang akan tumbuh dewasa dan sebentar lagi akan meniti karirnya, yah begitulah kesimpulanku.

“Annyeonghaseo omonim, ahbuji. Hwang Dain ibnida, aku adalah hoobae dari Seungho sunbaenim.” Aku membungkuk hormat pada mereka. Kedua orang tua Seungho oppa sangat ramah kepadaku, sementara Seunghoon; dongsaeng dari Seungho oppa cukup pendiam saat aku memperkenalkan diri.

“Ayo kutunjukkan kamarku,” ajak Seungho oppa, “Yak dongsaeng, kalau mau berangkat kuliah ketuk saja ya kamarku, jangan sungkan.”

Seunghoon menjawab seperlunya dan kami meninggalkan mereka ke kamar Seungho oppa. Begitu kami sampai di kamar, aku langsung ternganga begitu melihat isi kamarnya.

“Hahahaha sudah kuduga, kau pasti akan menganga melihatnya,” Seungho mengelus barangnya yang tak lain dan tak bukan adalah sebuah piano mini, “Akan kumainkan beberapa instrument untukmu, semoga kau bisa menjawabnya ya. hahahaha…”

Oppa duduk, membuka pianonya dan mulai memainkan sebuah lagu. Eh….. instrument Mozart yang jarang terdengar di media media, “Symphony 38 D Major Prague?”

Tiba-tiba permainannya berganti menjadi… nada yang slow dan romatis, Chopin kah? “Chopin nocturne di E-flat major, opus 55, nomor 2?”

Lalu instrument berubah lagi menjadi cepat, dan terdengar familiar. Aku mengeluarkan alat-alat gambarku sambil sibuk menerka instrumennya, “Hem…. Beethoven Appassionta Piano Sonata nomor 23 ya? astaga… memang terdengar familiar sih di telingaku. Aku sering mendengarkannya waktu bayi.”

JENG!! Tiba-tiba Seungho oppa membanting tuts menjadi suara yang sangat sember sehingga membuatku agak terkejut, “Wae… waeyo? Apa aku tidak boleh menggambar suasana kamar ini dan….. piano yang kau mainkan, sunbaenim?”

“Aku…….. terkejut dengan kemampuanmu Dain-sshi.” jawab Seungho oppa sambil mendekatiku, “Kenapa kau tidak coba mengasah bakatmu di bidang piano atau instrument lainnya?”

Aku tertawa mendengar kekaguman Seungho oppa yang aneh itu, “Sudah kubilang aku tidak berbakat di bidang musik. Bahkan aku suka namja yang…………. Hem lupakan saja.”

Seungho oppa duduk disebelahku sambil melongok buku sketsaku, sepertinya kalau dilihat lihat sih sepertinya ia tidak mendengar pernyataanku yang barusan.

“Ini…. Kenapa kamarku bisa tercetak senyata ini?” ia lagi-lagi menunjukkan kekagumannya terhadap coret-coretanku.

“Oppa, ini bahkan belum jadi sketsa.. baru sedikit coret-coret,” jawabku.

Namun tak kusangka, Seungho oppa merangkulku dan mengamati pekerjaanku dengan tekun, “Mari kita lihat tangan magismu beraksi.”

Aku termagu mendengar perkataan Seungho oppa yang melantun halus di gendang telingaku. Astaga, apa malam kali ini aku bisa tidur dengan nyenyak??