Author : Claudhia Safira (Park Hye Joong)

Title : Strawberry Lovellipop
Length : Continue
Genre : Romance

Cast :

* Casts :
– Kim Hyun Joong  (SS501) as Kim Hyun Joong
– Park Hye Joong as Park Hye Joong
– Kim Hyung Joon (SS501) as Kim Hyung Joon
– Song Hye Ra as Song Hye Ra
– Heo Young Saeng (SS501) as Heo Young Saeng
– Kim Hyun Ra as Kim Hyun Ra
– Kim Kyu Jong (SS501) as Kim Kyu Jong
– Song Hyu Rin as Song Hyu Rin
– Park Jung Min (SS501)  as Park Jung Min
– Han Sang Mi as Han Sang Mi
Extended Casts :
– Kim Min Joo as Hyun Joong’s mother
– Park Min Ho as Hye Joong’s father
– Byun Jang Moon (A’st1)  as Jang Moon
– Sung In Kyu as (A’st1) In Kyu
– Kang Hye Neul as Hye Neul
– Park Jung Jin (A’st1)  as Jung Jin

 

8.

JEONGMAL    SARANGHAEYO

 

Semua orang dibuat shock oleh perkataan Hyun Joong. Mereka semua tidak menyangka jika Hyun Joong mencintai kakak tirinya sendiri. Park Jung Min, Heo Young Saeng, dan Kim Kyu Jong segera mengajak Hyun Joong ke suatu tempat untuk membahas masalah ini.

“Sejak kapan kau menyukai Hye Joong noona?” tanya Kyu Jong.

“Sejak aku pertama kali mengenalnya.”

“Kau tahu jika Hye Joong noona adalah kakak tirimu. Kau pun tahu jika tidak seharusnya kau mencintai dia, tapi kenapa kau masih melakukannya?” tanya Jung Min.

“Karena aku tidak bisa membendung perasaan ini. Yang namanya perasaan cinta itu sulit untuk dibendung, selama ini aku sudah berusaha untuk memendam dan melupakan perasaan ini, tapi semakin ku pendam, semakin sulit untuk aku melakukannya.”

“Hyun Joong, yang kau lakukan ini adalah sebuah kesalahan. Kau harus menyadarinya.”

“Kesalahan? Dulu sewaktu ayah masih ada, mungkin ini adalah sebuah kesalahan. Tapi sekarang ayah sudah tiada, antara aku dan noona juga tidak ada ikatan darah. Lantas, apakah yang aku lakukan ini adalah sebuah kesalahan?” tanya Hyun Joong dengan sedikit  emosi.

………………. ………. ………………..

 

Hye Ra pulang diantar Hyung Joon.

“Hyung Joon, aku sungguh terkejut dengan apa yang dikatakan Hyun Joong tadi.” ucap Hye Ra.

“Akupun begitu. Tak kusangka Hyun Joong akan bilang seperti itu.”

“Menurutmu, apa yang akan dilakukan Hye Joong?”

“Aku sendiri juga tidak tahu.”

“Lantas, apa yang harus kulakukan?”

“Biarkan Hye Joong sendiri dulu, dia masih shock atas kejadian ini, biarkanlah dia berpikir secara jernih. Setelah itu, kau harus menghiburnya.”

“Begitukah?”

“Sekarang, kau jangan memikirkan masalah ini terlalu dalam. Sebaiknya kau segera istirahat agar besok kau bisa segar kembali.”

“Terima kasih Hyung Joon atas nasehatmu. Aku masuk dulu. Berhati – hatilah ketika mengemudi, jangan ngebut.”

Hyung Joon hanya tersenyum.

 

Hye Joong terdiam di tengah kerumunan malam. Pandangannya tertuju ke arah bintang – bintang di langit, namun pikirannya bukan kepada bintang – bintang tersebut.

Ia masih teringat apa yang dikatakan Hyun Joong beberapa jam yang lalu bahwa Hyun Joong mencintainya. Ini benar – benar di luar dugaannya. Ia bingung apa yang harus dilakukannya sekarang, haruskah ia senang? haruskah ia bersedih?

………………. ………. ………………..

 

Pagi harinya di saat Hyun Joong dan ibu sarapan, Hye Joong sengaja tidak makan di meja makan. Untuk sementara waktu ia memilih untuk menghindar dari Hyun Joong. Ibu pun hanya terdiam seribu bahasa. Sudah beberapa hari ini ibu dan Hye Joong bersikap dingin padanya. Biasanya setiap kali sarapan ibu pasti berkata sesuatu pada Hyun Joong, entah itu nasehat ataupun hanya sekedar candaan.

“Ibu aku berangkat” ucap Hyun Joong.

Ibu tak meresponnya, malah asyik dengan makanannya.

 

Sesampainya di sekolah, Hyun Joong menghampiri teman – temannya.

“Bagaimana kabarmu hari ini?” tanya Kyu Jong.

“Baik.” jawab Hyun Joong singkat.

“Hyun Joong, bagaimana dengan Hye Joong noona?” tanya Jung Min.

“Hari ini dia tidak ikut sarapan, ibu pun dingin terhadapku.”

“Sebaiknya kau minta maaflah pada Hye Joong noona dan ibumu supaya mereka tidak bersikap dingin lagi padamu.” ucap Young Saeng.

“Untuk apa aku minta maaf? Aku tidak salah dalam hal ini.”

“Aku tahu itu, tapi cobalah kau pikirkan perasaan ibumu. Apa kau tidak menyesal mengatakan perasaanmu pada Hye Joong noona?” tanya Young Saeng lagi.

“Aku sama sekali tidak menyesalinya. Justru aku bersyukur karena aku sudah bisa mengatakannya. Selama ini, perasaan ini seakan menjadi beban dalam hatiku, tapi akhirnya aku bisa juga mengatakannya.”

………………. ………. ………………..

Hyun Ra terdiam di sudut kelas. Mengetahui hal itu, Hyu Rin menghampirinya.

“Kau kenapa?”

“Tidak kenapa – kenapa.”

“Jangan bohong, kau memikirkan masalah yang kemarin, kan?”

“Sungguh aku tidak habis pikir bahwa gadis yang selama ini dicintai Hyun Joong adalah kakak tirinya sendiri. Apa Hyun Joong sudah kehilangan akal? Kenapa dia bisa mencintai kakak tirinya sendiri?”

“Hyun Ra, kau tidak perlu memikirkan masalah ini. Ini kan bukan urusanmu. Biarlah Hyun Joong yang menyelesaikannya. Ia duluan yang mulai membuat masalah, tentu ia juga yang harus mengakhirinya.”

“Tapi……………..”

“Sudahlah………. Aku tahu kau masih menyimpan perasaan terhadap Hyun Joong, kau juga pasti sangat sedih saat mengetahui Hyun Joong mencintai Hye Joong. Tapi Hyun Ra, aku sudah mengatakan hal ini berkali – kali, lupakanlah Hyun Joong. Kau harus menyadari kenyataan ini. Kini saatnya kau membuka hati untuk pria lain.”

“Kau mungkin mudah mengatakannya, tapi itu sulit untuk aku lakukan. Aku sudah berusaha melupakan Hyun Joong. Tapi tetap saja tidak bisa. Bayang – bayang dia seakan tak bisa lepas dari penglihatanku. Kenangan – kenangan indahku bersamanya juga tak bisa aku lupakan begitu saja.”

Hyu Rin sudah kehabisan kata – kata untuk menasehati Hyun Ra agar melupakan Hyun Joong.

“Aku pergi ke toilet dulu.” ucap Hyu Rin.

Hyun Ra lalu pergi ke halaman belakang sekolah. Dia berdiri di dekat kolam ikan sambil memandangi pemandangan di sekelilingnya.

“Pemandangan di sini indah bukan?” ucap seseorang dari arah belakang yang memuat Hyun Ra kaget.

“Young Saeng! Kau membuatku kaget saja. Sedang apa kau di sini?”

“Kau sendiri, apa yang kau lakukan di sini?”

“Aku yang bertanya terlebih dahulu, kenapa kau yang balik tanya?”

Keduanya lantas memandangi pemandangan yang ada di depan mereka.

“Ini…..” ucap Young Saeng sambil memberikan Hyun Ra sebuah sapu tangan.

“Untuk apa?”

“Aku paling tidak sanggup jika berada di dekat wanita yang sedang menangis.”

“Aku tidak menangis.”

“Jangan berbohong, matamu sudah hampir sembap. Apa kau masih mau mengelak?”

“Kau ini bisa saja.”

“Jika kau mau, aku bersedia meminjamkan punggungku untukmu.”

Hun Ra pun lantas menangis sejadi – jadinya di balik punggung Young Saeng.

Beberapa menit kemudian……………….

“Terima kasih kau telah meminjamkan punggungmu padaku.”

“Apa kau sudah mulai baikan?”

Hyun Ra mengangguk.

“Tapi apa kau hanya mengucapkan terima kasih setelah kau membasahi seragamku?” tanya Young Saeng.

“Apa?”

“Traktirlah aku makan.”

“Bukankah biasanya pria yang mentraktir si gadis makan?”

“Sekali – kali boleh kan gadis mentraktir pria makan?”

“Apa kau tidak malu?”

“Malu? Untuk apa aku harus malu. Baiklah jika kau tidak mau mentraktirku makan, bagaimana jika hari Minggu nanti kau menemaniku jalan – jalan.”

“Ke mana?”

“Ke mana saja. Asalkan hati kita menjadi senang.”

“Baiklah, aku setuju.”

“Aku jemput kau di rumahmu tepat pukul 08.00”

………………. ………. ………………..

Hyu Rin mencari – cari keberadaan Hyun Ra. Tak sengaja ia bertemu dengan Kyu Jong.

“Kyu Jong sshi, kau tahu di mana Hyun Ra?”

“Tadi aku melihatnya sedang bersama Young Saeng di halaman belakang sekolah.”

“Syukurlah. Aku akan menyusul Hyun Ra.”

“Hyu Rin, tunggu.” ucap Kyu Jong sambil menarik tangan Hyu Rin.

Hyu Rin sempat salah tingkah.

“Mworago?”

“Sebaiknya kau jangan menyusul Hyun Ra.”

“Waeyo?”

“Tadi aku melihat Hyun Ra sedang mengobrol bersama Young Saeng. Tampaknya mereka berdua sedang asyik berduaan, jadi sebaiknya kau jangan mengganggu mereka dulu.”

“Sejak kapan Hyun Ra jadi dekat dengan Young Saeng?”

“Sudah beberapa hari ini.”

“Sudah beberapa hari ini? Hyun Ra kelewatan, kenapa ia tidak menceritakan hal ini padaku?”

“Hyu Rin, ada hal yang bisa kita bagi dengan sahabat, namun ada juga hal yang ada kalanya kita simpan sendiri dalam hati. Seharusnya kau memaklumi itu. Kau juga tidak mungkin menceritakan semuanya kepada Hyun Ra, kan?”

“Aku menceritakan semua yang aku alami pada Hyun Ra.”

“Apa kau juga menceritakan siapa pria yang kau suka?”

“Tentu saja tidak.” ucap Hyu Rin dengan spontan.

“Benar kan apa kataku, ada hal yang tidak kau ceritakan pada Hyun Ra.”

“Setiap berbicara denganmu aku pasti selalu kalah. Kau curang!”

“Curang? Kau yang tidak pandai mencari alasan yang tepat.”

………………. ………. ………………..

Sepulang sekolah, Hyun Joong segera menuju kamarnya untuk merebahkan dirinya di atas tempat tidur. Ternyata Hyun Joong pun tertidur hingga malam.

“Jam berapa ini?” ucap Hyun Joong yang baru bangun.

Kemudian ia melihat jam tangannya. Jam menunjukkan pukul 7 malam.

“Sial! Aku ketiduran.”

Hyun Joong lantas bergegas untuk mandi. Saat hendak menuju kamar mandi, ia melihat Hye Joong menuju dapur. Hyun Joong memutuskan untuk mengikuti Hye Joong.

Saat melihat kehadiran Hyun Joong, Hye Joong  hendak menghindar. Tapi niatannya itu dicegah oleh Hyun Joong. Hyun Joong buru – buru menarik tangan Hye Joong.

“Kenapa noona menghindariku?”

“Hyun Joong, lepaskan tanganku.”

“Aku tidak akan melepaskannya sampai noona menjawab pertanyaanku.”

“Hyun Joong, lepaskan!” Hye Joong tak pernah berdiri pada posisi sedekat ini dengan Hyun Joong.

“Apa noona juga mencintaiku?”

“Hyun Joong, apa yang sedang kau bicarakan!” ucap Ibu.

“Kau tidak pantas menanyakan hal itu pada kakakmu sendiri!”

“Kenapa? Apa aku salah? Dulu memang dia adalah kakak tiriku, tapi sekarang di antara kita sudah tidak ada hubungan kekeluargaan lagi ibu.”

“Beraninya kau bicara seperti itu!”

“Ayah sudah tiada. Jadi tidak ada alasan lagi yang melarang aku mencintai noona.”

“Hye Joong sudah ibu anggap seperti anak kandung ibu sendiri. Jadi apa pantas anak laki – laki ibu mencintai anak perempuan ibu?”

“Tapi noona bukan anak ibu!”

“Hyun Joong, jaga bicaramu!”

“Aku sudah muak dengan semua ini. Semua menganggapku salah telah mencintai noona.”

“Aku akan berhenti mencintai noona jika noona sendiri yang mengatakan padaku bahwa ia tidak mencintaiku.” ucap Hyun Joong.

“Hyun Joong…………” ucap Hye Joong.

“Sekarang katakanlah padaku noona, apa kau mencintaiku?”

“Kali ini kau benar – benar keterlaluan Hyun Joong. Ayahmu baru saja meninggal dan kau tega melakukan ini padanya!” ucap Ibu.

“Biarkanlah noona menjawab, apa dia mencintaiku atau tidak.”

Hye Joong tidak menjawabnya. Ia hanya terdiam.

“Hye Joong, jawablah!” ucap Ibu.

Hye Joong lantas menampar Hyun Joong dan segera pergi ke kamarnya.

“Itu kan jawaban yang kau minta. Ibu tidak akan pernah setuju jika kau mencintai kakakmu sendiri!” ucap Ibu.

………………. ………. ………………..

Hye Joong semakin tidak nyaman dengan keadaan ini. Setiap hari Hyun Joong dan ibu selalu bertengkar gara – gara dia. Akhirnya Hye Joong mengambil satu langkah penting dalam hidupnya.

Pagi itu, ia hendak bertemu dengan Hye Ra dan Hyung Joon.

“Ada keperluan apa hingga kau ingin menemui kami?” tanya Hye Ra.

“Aku hanya ingin berpamitan dengan kalian berdua.”

“Berpamitan?” ucap Hye Ra dan Hyung Joon serentak.

“Aku ingin kuliah di luar negeri. Mungkin dua hari lagi aku berangkat.”

“Hye Joong, bukankah ini terlalu tiba – tiba?” tanya Hyung Joon.

“Aku sudah memikirkannya masak – masak. Aku juga telah meminta bantuan Pengacara Shim untuk mengurusi segala keperluanku untuk kuliah di luar negeri.”

“Kau ingin kuliah di mana?” tanya Hye Ra.

“Hye Ra, selama aku berada di luar negeri, jaga dirimu baik – baik. Aku akan terus mengirimkan e-mail kepadamu tiap minggu. Hyung Joon, kau adalah orang yang paling aku percaya untuk menjaga Hye Ra. Jaga dia baik – baik. Jangan sampai kau membuatnya menangis. Titipkan juga salam perpisahanku pada semuanya. Maaf aku tidak bisa menyampaikan salam perpisahanku ini pada mereka secara langsung.”

“Hye Joong apa kau sudah mantab atas keputusan ini?”

Hye Joong menganggukkan kepala.

“Kalau memang ini sudah keputusanmu, aku tidak bisa menolaknya lagi. Kau juga harus menjaga dirimu baik – baik. Sebenarnya kau ingin pergi ke mana?” tanya Hye Ra.

“Untuk sementara aku tidak bisa mengatakan ini kepadamu. Jika waktunya sudah tepat, aku akan memberitahukannya.”

“Aku mengerti.”

 

Hye Joong juga berpamitan pada ibu.

“Hye Joong, kenapa rencanamu ini mendadak sekali?”

“Ibu, aku sudah memikirkan ini masak – masak.”

“Kau ingin kuliah di mana?”

Hye Joong terdiam.

“Kau merahasiakan hal ini karena Hyun Joong? Kau ingin menghindar darinya? Tapi kenapa harus dengan cara seperti ini?”

“Tujuanku bukan semata – mata untuk menghindar dari Hyun Joong, di samping itu aku ingin membanggakan ayah. Dulu rencanaku untuk kuliah di luar negeri tertunda, sekarang adalah saat yang tepat untuk menjalankan rencanaku.”

“Hye Joong, sampai kapanpun dan apapun yang terjadi kau tetap anak ibu.”

“Sampai kapanpun ibu juga ibuku.”

Ibu lalu memeluk Hye Joong.

“Jaga dirimu baik – baik. Ibu hanya bisa mendoakan yang terbaik untukmu.”

“Do’a ibu sudah cukup untukku. Ibu, ibu jangan bertengkar lagi dengan Hyun Joong karena aku. Aku sedih sekali jika melihat ibu dan Hyun Joong sering bertengkar karena aku.”

“Ibu mengerti.”

“Kapan kamu berangkat? Ibu akan mengantarmu.”

“Tidak perlu ibu. Kondisi ibu sedang tidak sehat. Aku bisa sendiri”

“Tapi Hye Joong,………….”

“Ibu….. Aku mohon…….”

“Baiklah jika itu memang maumu. Kau memang seperti ayahmu, keras kepala.”

“Ibu bisa saja”

“Kau tidak berpamitan dengan Hyun Joong?”

“Aku rasa ini bukan saat yang tepat. Ibu saja yang memberitahunya.”

………………. ………. ………………..