Author: Stephanie Naomi

Title: Can’t I Love You? [Part 2]

Genre: Romance

Length: Two Shoots

Cast: Lee Ji Eun (IU), Wooyoung (2PM), Nickhun (2PM), Chansung (2PM), Min (missA), Jia (missA), Yang & Park Sonsaengnim (Imaginary Cast)

 

***

Ji Eun POV

 

Hari-hari terus berlanjut. Aku merasakan ‘perubahan yang luar biasa’ didalam diriku, terutama hatiku. Mulai detik ini aku harus melupakan Wooyoung, aku harus berhenti memperhatikannya diam-diam, aku harus berhenti mengenang saat Wooyoung mengantarkanku pulang, aku harus…. Pokoknya benar-benar melupakan Wooyoung. Nickhun seakan-akan ‘membantuku’ dengan  perhatiannya padaku.

 

Surprise!” Nickhun tiba-tiba sudah berada didepan kelasku saat bel pulang berbunyi. Aku hanya tersenyum tipis.

 

“Kau pulang denganku yaa…” ucap Nickhun lalu ia merangkul pundakku. Kami belum resmi pacaran tetapi tingkah lakunya padaku seakan-akan kami sudah resmi pacaran, membuat semua murid-murid mengira kami benar-benar sudah pacaran.

 

“Ya, baiklah.” balasku sambil terus berjalan bersamanya.

 

“Bagaimana kalau kita pergi ke kedai kopi bersama Chansung dan yang lainnya?

 

Mwo?!” tanyaku kaget. Tentu saja, pasti Wooyoung akan ada disana juga.

“Kenapa? Ada yang salah? Kau terlihat seperti kaget, Ji Eun-ah. Lagipula kau belum pernah bergabung dengan teman-temanku.” Nickhun bertanya dengan pandangan curiga. Aku langsung tersenyum.

 

Aniyo~.” Balasku buru-buru menetralkan suasana sebelum ia menanyakan hal-hal aneh lainnya. Nickhun hanya tersenyum lalu ia mencubit pipiku, membuatku sedikit merasa kesakitan.

 

“Kau lucu.” ucapnya singkat sambil terus berjalan menuju parkiran motor sekolah. Disana ia langsung memberikanku helm dan beberapa menit kemudian kami berdua melaju menuju kedai kopi langganan Nickhun didekat sekolah. Begitu sampai disana, Nickhun langsung menggandeng tanganku dan kami berjalan memasuki kedai kopi yang tidak begitu ramai. Aku bisa langsung melihat Wooyoung sedang sibuk dengan ponselnya, sementara Chansung sedang mengobrol dengan Min.

 

Yah! Lama sekali kalian berdua..” Chansung menyapa kami berdua.

 

Annyong… Maaf tadi kelasku keluarnya sedikit telat.” balasku terlebih dahulu.

 

“Aish, Ji Eun, kau tidak perlu merasa bersalah. Aku hanya ingin mengomeli Nickhun saja.” Chansung kembali membalasku. Nickhun memasang raut wajah yang cukup lucu. Kami berdua langsung duduk dihadapan Chansung dan Min, sementara Wooyoung duduk disebelah Min dan masih sibuk dengan ponselnya.

 

“Kalian sudah pesan?” tanya Nickhun. Chansung dan Min mengangguk sementara Wooyoung sepertinya tidak perlu ditanya karena sudah ada 1 mug berukuran sedang diatas meja dihadapannya.

 

“Baiklah, kau mau minum apa Ji Eun?” kali ini Nickhun bertanya padaku.

 

“Hot Chocolate.” jawabku pasti, karena ini salah satu minuman favoritku.

 

“Oke, tunggu sebentar ya.” lalu Nickhun pergi menuju counter cafe untuk memesan minuman dan mungkin juga makanan. Tidak sampai 5 menit ia sudah kembali dan ia mulai mengobrol dengan Chansung. Wooyoung hanya sesekali saja ikut mengobrol dengan Chansung dan Nickhun. Selebihnya ia lebih fokus dengan ponselnya. Aku pun mengobrol sedikit-sedikit dengan salah satu kakak kelasku yang eksis, Min onnie.

 

 

 

Wooyoung POV

 

Entah kenapa hari ini aku sangat tidak bersemangat. Aku hanya sibuk berkutat dengan ponselku sambil sesekali menyahut pembicaraan Chansung dan Nickhun. Sementara Ji Eun kuperhatikan ia sibuk mengobrol dengan Fei. Hampir satu jam berlalu, sampai akhirnya tiba-tiba Nickhun menerima telepon dan ia meminta ijin untuk pulang duluan.

 

“Bagaimana dengan Ji Eun, Nickhun?” tanya Chansung.

 

“Aku benar-benar minta maaf, Ji Eun-ah, aku tidak bisa mengantarkanmu pulang hari ini. Ibuku sudah menungguku.” jawab Nickhun sambil meminta maaf pada Ji Eun. Ji Eun hanya mengangguk, menuruti perkataan Nickhun. “Memang anak yang polos.” gumamku dalam hati sambil terus memperhatikan Nickhun yang sekarang sudah keluar dan sudah pergi dengan motornya.

 

“Ji Eun, bagaimana kalau kau pulang dengan Wooyoung?” tawar Chansung kepada Ji Eun. Aku melihat raut wajahnya sedikit gelagapan, entah kenapa. Aku jadi teringat kembali pada kejadian aku menemukan fotoku dibawah mejanya.

 

Sorry, aku tidak bisa mengantarnya. Aku ada urusan lain.” jawabku cepat. Min langsung membujuk Chansung untuk mengantarkan Ji Eun pulang. Akhirnya Chansung setuju dan kami semua langsung meninggalkan kedai kopi itu.

 

Mobil Chansung sudah melaju terlebih dahulu sebelum akhirnya mobilku pun melaju menuju rumahku. Aku mengemudi melewati taman kota dan aku melihat motor Nickhun terparkir didekat taman itu. Aku memperlambat laju mobilku untuk mencari Nickhun dan bingo! Aku mendapatkan ia sedan bersama perempuan lain, entah siapa. Ia mengenakan seragam sekolah yang tidak ku kenal.

 

“Jadi, Nickhun berbohong pada Ji Eun?” Aku sedikit tidak percaya melihat temanku berbohong pada adik kelas yang kukenal dengan kepolosannya.

 

15 menit aku menunggu Nickhun didalam mobil yang kuparkirkan tidak jauh dari motornya dan akhirnya Nickhun selesai mengobrol-ngobrol dengan perempuan itu. Perempuan itu naik taksi dan Nickhun langsung mengenakan helmnya dan bersiap untuk meninggalkan tempat itu. Aku langsung menghampirinya.

 

Yah Nickhun-ah!” sapaku seperti tidak tahu apa-apa. Nickhun terlihat sedikit kaget.

 

“Hei, Wooyoung. Kenapa kau ada disini?” tanya Nickhun seraya memakai jaket kulitnya.

 

“Aku ingin pulang dan aku lewat sini, tapi karena aku melihatmu disini jadi aku ingin bertemu denganmu sebentar.” jawabku santai.

 

“Kau melihatku??”

 

Ne. Dengan perempuan tadi. Pacarmu?” todongku tanpa basa-basi. Nickhun terdiam sejenak, lalu ia melepas helmnya kembali.

 

Ne.” jawabnya pelan. “Tolong jangan bilang pada Ji Eun masalah ini.” sambungnya buru-buru. Aku hanya tersenyum kecil.

 

“Nickhun-ah, aku tidak pernah bilang apa-apa pada pacar-pacarmu sebelumnya, sampai akhirnya mereka tahu sendiri sifat burukmu itu.” balasku membuat Nickhun seperti mati kutu, “Sebaiknya kau pilih, perempuan itu atau Ji Eun. Aku dengar perkataanmu pada Ji Eun, jika ia melunak padamu, maka kau akan berubah. Aku merasa ia sudah mulai menerimamu tapi kau mengingkari janjimu sendiri.” sambungku lagi. Nickhun terdiam sesaat sebelum akhirnya ia bersuara.

 

“Apakah kau menyukai Ji Eun?” tanya Nickhun dan kali ini giliranku yang mati kutu. Sudah 1 bulan berlalu setelah kejadian Ji Eun pingsan dan foto yang kutemukan di bawah mejanya. Dan setelah hari itu, tanpa kusadari aku memperhatikan Ji Eun, saat istirahat maupun saat Nickhun menceritakannya padaku dan Chansung.

 

“Entahlah. Tapi, kurasa kalau kau tidak merubah sifat burukmu ini, aku mungkin menyukainya.” jawabku lalu aku pergi meninggalkan Nickhun.

 

Dalam perjalanan menuju rumah, aku merasa sedang perang dengan hatiku sendiri.

 

“Apa maksud ucapanmu tadi, Wooyoung?!”

 

Itulah pertanyaan yang terus-terusan muncul. Aku benar-benar tidak tega jika akhirnya harus melihat Ji Eun mengetahui semua yang disembunyikan Nickhun darinya. Tapi, apakah aku tidak tega karena aku mulai menyukainya?

 

 

 

Ji Eun POV

 

Seminggu kemudian Nickhun mengajakku untuk menonton bersama. Aku menurutinya dan aku merasa sangat senang karena sudah lama aku tidak pergi jalan-jalan. Lalu setelah kami makan siang, Nickhun mengajakku untuk beristirahat di taman kota. Disana, aku dan Nickhun duduk disalah satu bangku taman yang kosong. Saat itu taman sedang sepi dan kami hanya terdiam, aku tidak tahu harus bilang apa dan mungkin dia juga. Namun pada akhirnya ia mengeluarkan suara.

 

“Ji Eun.”

 

Ne?”

 

“Apakah kau menyukai Wooyoung?” Pertanyaan Nickhun benar-benar menohokku. Aku tidak langsung menjawabnya.

 

“Kenapa kau tidak menjawab pertanyaanku, Ji Eun?” Lagi-lagi ia bertanya. Aku merilekskan diriku.

 

“Aku tidak menyukainya.” jawabku bohong.

 

Gojitmal.” balas Nickhun singkat. Aku mengangkat kepalaku dan melihatnya dengan pandangan heran.

 

Gojitmalhaji maseyo, Ji Eun-ah. Kau tidak pandai berbohong.” Nickhun melanjutkan kata-katanya. Aku hanya bisa terdiam lalu menunduk. Setelah itu ia memberikanku selembar kertas putih. Aku mengambil kertas itu dan refleks kaget melihat benda itu ada ditangan Nickhun. Bagaimana bisa, foto Wooyoung yang kusimpan diagendaku tiba-tiba ada ditangan Nickhun? Aku mengingat-ingat kejadian sebelum aku pingsan dikelas kurang lebih sebulan yang lalu. Nickhun bahkan tidak sempat membuka agendaku, karena aku sudah menarik dari tangannya terlebih dahulu. Aku kembali memperhatikan foto Wooyoung dengan gaya sedang menggembungkan pipinya. Ia terlihat sangat lucu didalam foto itu. Lalu aku melihat tulisan dibalik foto itu. Tulisan tanganku sendiri.

 

“Kenapa aku tidak menyadari kalau foto ini sudah hilang dari agendaku?” Aku masih terus bertanya-tanya dalam hati.

 

“Wooyoung memberikan foto itu padaku. Ia menemukannya di kolong mejamu saat sedang menolongku untuk membereskan mejamu.” Nickhun menjelaskan kebingungan yang tersirat diwajahku. Aku semakin kaget. Foto ini sampai di tangan Wooyoung? Berarti ia melihat juga tulisan yang kutulis. Berarti…

 

“Ia tahu perasaanmu padanya. Aku akhirnya mengetahui sebenarnya siapa yang kau sukai dan aku juga akhirnya mengetahui alasan kenapa saat itu kau menangis.” Nickhun kembali berbicara. Nada bicaranya tidak seperti biasanya, tetapi wajahnya masih bisa menutupi kekecewaannya. Ya… Pasti dia kecewa.

 

Aku hanya terdiam. Aku tidak membalas perkataan Nickhun. Aku menyimpan foto itu di saku jas seragam sekolahku.

 

“Aku akan tetap bersamamu, Nickhun. Kau tidak perlu khawatir.” Akhirnya aku angkat suara. Nickhun menggeleng perlahan.

 

Andwae. Aku mengingkari janjiku, Ji Eun. Aku bilang kalau kau melunak padaku maka aku akan berubah, kan? Tapi pada kenyataannya aku belum berubah. Wooyoung sendiri yang memergokiku sedang bersama perempuan lain. Maafkan aku, Ji Eun, aku berbohong padamu.” Nickhun membalas dengan kata-kata yang tidak pernah kuduga.

 

“Aku sudah tau ia playboy, seharusnya aku tidak menyakiti diriku sendiri seperti ini. Aku mulai menerimanya tetapi kenyataannya dia masih saja dengan sifat lamanya. Aku ingin marah tapi tidak bisa.”  Aku berbicara sendiri didalam hati. Tanpa kusadari air mataku mengalir.

 

“Maaf aku membuatmu menangis, Ji Eun.” Nickhun kembali bersuara. Kedua tangannya berada di kedua pipiku, dengan ibu jarinya yang berusaha menghapus air mataku yang mengalir perlahan.

 

“Terima kasih kau telah jujur padaku.” balasku pelan. Lalu ia memelukku sambil mengusap-usap kepalaku.

 

“Seharusnya aku menyadari dari awal kalau kau tidak pernah menyukaiku. Justru seharusnya aku mendukungmu untuk bersama Wooyoung.” ucap Nickhun yang hanya membuatku terdiam. Rasanya sekarang sudah percuma untuk kembali menyukai Wooyoung. Toh, perasaannya padaku tidak akan pernah berubah.

 

“Sekarang sebaiknya kau mengutarakan perasaanmu pada Wooyoung sebelum semuanya terlambat.”

 

Mwo? Percuma saja, ia tidak menyukaiku. Aku mendengar jawabannya waktu itu dari UKS.”

 

“Siapa tahu saja ia berbohong, sama seperti kau.” balas Nickhun jahil lalu ia langsung menarikku menuju motornya. Tidak lama kemudian Nickhun mengantarkan ku ke rumah Wooyoung, namun ternyata Wooyoung tidak ada dirumah. Kami bertemu dengan adik perempuan Wooyoung dan ia mengatakan jika kakaknya akan pergi kerumah neneknya selama beberapa hari dengan kereta. Aku dan Nickhun pun langsung bergegas menuju stasiun kereta. Nickhun menyuruhku untuk lebih dahulu mencarinya. Aku berdoa dalam hati agar Tuhan benar-benar memberikan kesempatan padaku untuk berbicara kepada Wooyoung.

 

 

 

Woooyung POV

 

Sekarang aku dalam perjalananku menuju stasiun. Aku ingin pergi ke rumah nenekku untuk menjenguknya dan juga mungkin memulihkan pikiranku yang sudah cukup kacau balau. Aku merasa aku sudah ikut campur dalam permasalahan Nickhun dan Ji Eun.

 

Aku sudah didalam stasiun dan sebentar lagi kereta ku akan berangkat. Tapi entah kenapa rasanya aku tidak ingin meninggalkan Seoul. Aku masih berdiri menyandarkan tubuhku di dinding stasiun yang dingin sambil mendengarkan lagu dari iPod ku. Tidak sengaja lagu favorit Ji Eun terputar.

 

“Aku mulai menyukaimu Ji Eun. Aku tidak pernah menyangka kau sudah menyukaiku terlebih dahulu. Terima kasih kau telah diam-diam menyimpan fotoku dan menulis lirik lagu favoritmu disitu.”

 

Aku hanya bisa berbicara dalam hatiku sendiri. Kereta yang seharusnya ku tumpangi sudah berangkat tetapi aku masih tetap bersandar di dinding stasiun yang dingin ini. Benar-benar aku tidak mengerti diriku sendiri. Sebenarnya apa mauku?

 

Ji Eun POV

 

Aku merasa aku sudah mencarinya hampir ke seluruh penjuru stasiun tapi aku tetap tidak menemukannya. Aku berjalan dengan langkah gontai menuju dinding stasiun, lalu aku bersandar di dinding dingin itu. Air mataku kembali mengalir. Apakah memang benar aku tidak dapat mencintainya? Aku tidak dapat mengatakan secara langsung tentang perasaanku? Aku kembali menangis tanpa suara, sampai Nikchun datang dan langsung memeluku.

 

“Menangislah disini. Dengan kau menangis disini, tidak akan ada seseorang yang tahu kalau kau sedang menangis sekarang.” ucap Nickhun setengah berbisik. Ia memeluku agar orang lain tidak melihat kalau aku sedang menangis.

 

Gomawo, Nickhun-ah.” balasku disela tangisku. Nickhun melepaskan pelukannya tetapi kedua tangannya berada dipundakku. Matanya menatap mataku. Lalu ibu jari tangan kanannya menghapus air mataku yang masih mengalir.

 

“Ayo kita kejar Wooyoung. Kau masih punya waktu, Ji Eun.”

 

Belum sempat aku berkata apa-apa, Nickhun sudah menarikku keluar dari kereta bawah tanah. Dan aku menemukan Wooyoung di seberang jalan sedang naik taksi.

 

“Wooyoung!!! Wooyoung oppa!!” Aku berteriak-teriak seperti orang gila.

 

Taksi yang ditumpangi Wooyoung sudah bergerak dan aku langsung mengejar taksi itu. Nickhun tidak menahanku sama sekali. Aku berlari dengan sekuat tenaga untuk mencapai taksi itu, namun hasilnya percuma. Aku sudah tidak kuat lagi dan aku berhenti berlari dengan nafas terengah-engah. Tiba-tiba saja Wooyoung berdiri dihadapanku.

 

Yah! Kau kenapa berlari-lari seperti orang bodoh?” Wooyoung mengomeliku. Aku menatapnya.

 

“Kenapa kau tidak mendengar panggilanku?” Aku berbalik mengomelinya.

 

“Tidak apa-apa. Kenapa kau mengejarku?”

 

Aku berdiri tegak dan sekarang kami berdiri berhadapan.

 

“Foto ini, apa kau sudah melihatnya?” ucapku malu-malu sambil menyodorkan foto “konyol” Wooyoung. Ia terlihat cukup kaget.

 

Ani. Yah! Darimana kau mendapatkan foto ini?!”

 

Aku merasa sangat malu. Apakah Wooyoung benar-benar tidak mengetahui foto ini atau ia hanya pura-pura?

 

“Rahasia. Bukan urusanmu. Yasudahlah.” Aku membalas pertanyaannya singkat lalu meninggalkannya dengan langkah gontai. Tiba-tiba ia menarik pergelangan tanganku dan membuat jarak kami sangat dekat.

 

“Kenapa kau tidak pernah jujur padaku, Ji Eun?”

 

Aku terdiam. Aku mengalihkan pandanganku darinya, tetapi dia memegang daguku dan memaksaku untuk melihat matanya.

 

“Hmm… Aku… Takut.” Aku menjawab dengan kata-kata bodoh. Tetapi ia justru tersenyum.

 

“Takut? Dasar bodoh.” ucapnya singkat lalu ia mencium keningku. Aku tidak percaya dengan apa yang barusan ia lakukan. 5 detik kemudian ia mencubit pipiku dengan cukup keras.

 

“AW!” Aku berteriak kesakitan.

 

“Sakit kan? Ini bukan mimpi, Ji Eun. I wanna accept you as the one most important girl for me.…”kata-katanya terputus. Aku menunggu kata-kata selanjutnya dengan perasaan gugup, “Aku merasa aku mulai menyukaimu.”

 

Mataku melebar. Aku benar-benar masih tidak percaya. Lalu tiba-tiba dia mencium hidungku.

 

“Kau masih tidak percaya padaku, Ji Eun-ah?”

 

Aku melihat ia seperti ingin mencium bibirku, jadi aku langsung membekap mulutnya. Wajahnya sedikit menunjukkan protes padaku.

 

“Aku percaya padamu. I love you too.” Aku menjawab singkat lalu tersenyum. Dia tersenyum lucu dan tanpa ia sadari aku mencium bibirnya dengan cepat sambil berjinjit, lalu aku berlari meninggalkannya.

 

Yah! Ji Eun-ah! Kau curang!” Aku mendengar dia berteriak-teriak. Beberapa orang dijalanan memperhatikan kami tapi aku tidak peduli. Aku terus berlari sampai tiba-tiba giliran Wooyoung yang membuat kejutan untukku. Ia menggendongku didepan, persisi seperti membawa orang yang pingsan. Aku memintanya untuk menurunkan ku karena kali ini, ini benar-benar memalukan. Tetapi ia terlihat tidak peduli.

 

“Ini akibat kau curang, Ji Eun.” ucapnya padaku. Aku hanya tertawa. Aku benar-benar bahagia. Kejadian ini sungguh-sungguh diluar dugaanku dan sungguh-sungguh lebih membahagiakan dibandingkan dengan apa yang selama ini kubayangkan.

 

“Terima kasih Tuhan. Inilah jawaban dari kesabaranku selama ini.”

 

 

 

 

THE END

Iklan