Cerita ini diadaptasi dari komik jepang dengan judul yang sama, Honey Flower (Tatsuya Kiuchi) yang terbit tahun 2007. Aku sukaa banget sama komik ini, makanya aku jadiin FF. Walaupun ceritanya diadaptasi dari komik, tapi bikin ni ff ga mudah lho. So, jangan jadi ‘silent reader’ yahh.. coment kalian itu sangat berarti ^^

 

 

Honey-Flower

author : yen yen mariti
cast : super junior choi siwon
genre : romance

length : oneshot

 

Kediaman keluarga Choi, keluarga bangsawan. Tuan besar yang baik hati dan Nyonya yang lembut. Juga ada beberapa pelayan yang bekerja di rumahnya.

Hari ini sepertinya akan sangat sibuk. Karena Tuan Choi pergi ke Inggris menjemput keponakannya (anak laki-laki dari adik perempuannya) untuk dijadikan anak angkat. Sebab, sudah lama sejak mereka menikah, mereka belum dikaruniai anak satupun.

Dan hari ini, kami (para pelayan) akan menyambut kedatangan mereka berdua.

“selamat datang” sambut kami pada Tuan Choi saat Beliau memasuki ruangan rumah yang diikuti seorang anak laki-laki bertopi dibelakangnya.

“Aku pulang” seru Tuan Choi. “Yeobo aku pulang”.

“selamat datang yeobo” istri tuan Choi menyambut kedatangan suaminya. Seperti biasa pasangan ini selalu bersikap hangat satu sama lain.

“ah ya semuanya tolong dengarkan aku. Mulai sekarang kita akan menambah satu anggota keluarga baru.” Tuan Choi melirik anak laki-laki bertopi yang tadi ikut masuk dengannya. “perkenalkan namanya adalah Siwon. Tapi karena sekarang dia adalah anakku jadi namanya adalah Choi Siwon.”

Anak laki-laki yang Tuan Choi maksud memperkenalkan dirinya pada kami semua. Suaranya berat, berkesan sangat berkharisma. Seperti yang dikatakan Tuan Besar tadi, namanya adalah Choi Siwon.

Siwon membuka topi yang sedari tadi hampir menyembunyikan seluruh wajahnya. Astaga, baru pertama kali aku melihat rambut seperti ini… indah !!                  “tampan yah? Dia itu punya darah inggris” bisik Bibi Jung (kepala pelayan di sini) seraya menyikut sikuku. Aku tidak menjawab perkataannya. Mataku membulat menatap wajah Tuan Muda Choi. Terkagum-kagum.

“Chitose di rumah ini hanya kau yang umurnya paling dekat dengan Siwon” perkataan Nyonya Choi mengalihkan perhatian mataku.

“maksud Nyonya ?”

“tolong aku. Aku ingin kau bisa akrab dengannya, Chitose”

“ekhhh… maksud nyonya apa aku yang harus mengurus segala kebutuhannya ?”

“ya, kumohon” nada biacara Nyonya Besar yang sangat lembut membuat semua orang yang mendengarnya sulit untuk menolak permohonannya.

“baik Nyonya”. Tundukku. Keluarga Choi adalah keluarga yang terpandang di kota ini. Dan juga beliau sudah memperkejakan aku yang jadi yatim piatu di usia tujuh tahun. Sampai kapanpun rasanya kebaikannya tak kan bisa kubalas dengan apapun. Jadi, demi keluarga Choi, apapun itu aku akan melakukannya.

***

            “Chitose bagaimana si Tuan itu ? apa dia menyeramkan ? apa dia menggunakan bahasa asing??” tanya salah satu temanku yang juga merupakan pelayan di rumah ini.

“emmhh rasanya tidak begitu. Tidak ada yang salah darinya.” Aku menggigit-gigit jariku, mencoba mengulang kejadian yang baru saja terekam oleh memoriku saat aku mengantar teh ke kamar Tuan Muda Choi barusan.   “tapi, kenapa kau tanya begitu?”

“tidak. Tpi apa kau pernah lihat rambut dan mata yang seperti itu?” tanyanya sedikit berbisik. Takut-takut nanti ada yang mendengar.

“ehhh iya juga sih. Tapi… tetapi itu indah.” Aku kembali membayangkan penampilan Tuan Muda. Ya, rambutnya memang aneh dari orang yang ada di korea, warnanya coklat pekat. Matanya juga… matanya tajam, tapi berkesan hangat. Indah !!

***

            sesudah seminggu, aku sudah mengerti dan cukup paham dengan sifatnya. Dia baik, ramah, rajin belajar dan sedikit menyebalkan. Hahaha

saat aku sedang menjemur pakaian di halaman belakang…

“ini bunga apa ?” suara tuan muda mengagetkanku, aku melirik bunga yang dimaksudnya.

“ahh itu bunga azalea, madu di dalamnya manis dan enak.”

“bagaimana cara menghisapnya ?” mata tajamnya penuh keingintahuan.

Aku memetik bunga azalea yang sedang berbunga lebat di halaman ini ,”begini cara menghisapnya. Dari bagian belakangnya,” aku menghisap ujung belakang bunga azalea dan tuan muda mengikuti.

“wah begini ya? Enak dan juga manis.” Bibirnya melebar, memamerkan senyum indahnya. Mata tajamnya berbinar-binar, membuatku semakin terkagum-kagum padanya.

“astaga, baru kali ini aku melihat rambut dan mata seindah ini.” Ucapku pada diri sendiri. Saat kuperhatikan matanya, warnanya seperti madu.

“apa itu caramu memuji laki-laki?” tanyanya santai. Ah sial ! ternyata dia mendengar.

“emmh, tuan muda begitu tampan” jujurku.

“begitu ya ? kalau begitu kuterima itu sebagai kata-kata pujian”. Ucapnya ramah. Rasanya wajahku merona. Walaupun aku seperti ini, dia mau menerima perasaanku ^^.

 

***

            Hari ini cuaca agak dingin, mungkin karena sekarang akan memasuki musim gugur.

“Tuan muda,” panggilku pada Siwon  yang sedang duduk  bersantai di teras belakang, “mau minum teh ?”

“ya” jawabnya. Kubawa nampan berisi dua gelas teh dan beberapa kue.

“dingin ya.” Ucapnya lalu menenggak teh yang kuberikan.

Cuaca dingin, ditemani teh hangat. Waktu yang sangat cocok untuk saling berbincang-bincang.

“Chitose.” Tuan muda melirik kearahku. “pinjam pahamu”

“hah?”  aku mengeryitkan dahi.

PLUK. Tuan muda menjatuhkan kepalanya di pahaku, “ternyata kaki besarmu berguna juga ya.”

Aduhhhh ! bagaimana ini ? DEGH-DEGH-DEGH. Jantungku berdegup kencang. Seperti bunga…bunga…bunga… kalau mekar pasti sangat indah.

Setelah hari itu…

“Chitose” panggil Tuan besar.

“iya tuan” aku beralan mendekat.

“kau melakukannya dengan sangat baik. Terimakasih ya.”

“eh?”

“rumah ini bahagia memiliki pelayan sepertimu” tuan besar menepuk-nepuk pundakku.

“bukan masalah tuan.” Balasku. Saat itu aku sadar, aku tak mampu menggapainya. Aku hanya pelayan, ya benar. Aku sampai dimana,sejauh apa.. diizinkan dekat dengannya. Yang kurasakan kalau berjalan bersamanya seperti pasangan muda ^^. Aku sadar aku hanya pelayan. Tapi bolehkah aku merasa senang ??

 

***

“Chitose ayo jalan-jalan” ajak Tuan muda di suatu sore.

“baik. Tapi kita mau jalan-jalan ke mana tuan ?”

“ke taman saja ya.”

Sore itu kami berjalan bersama di taman yang tak jauh letaknya dari rumah. Seperti biasa, aku berjalan mengikutinya dari belakang, sebagai seorang pelayannya.

TAP !! Tuan muda menarik tanganku.

DEGH-DEGH-DEGH….

“Tuan muda..”

“apa?”

“tangan. Tolong lepaskan tangan saya.” Pintaku dengan suara pelan.

“ini bunga azalea kan?” Tuan muda menarik tanganku ke bagian taman yang ditumbuhi bunga azalea.

“Ah iya. Tuan muda masih ingat ya?”

“itu karena kau yang memberitahuku”.    “Chitose… sejak datang ke negeri ini, sikapmu, perhatianmu, perkataanmu, sudah begitu banyak menolongku.” Ungkapnya tenang.

Sejak Siwon datang ke negeri ini, sikapnya, perhatiannya,perkataannya… seperti madu yang manis. Sepertinya aku akan mencair. Tuan muda, aku menyukaimu. Suka. Sepertinya aku telah jatuh cinta padamu.

“Chitose, aku menyukaimu”

“Tuan muda aku—–“ degh.degh.degh… detakan jantung ini semakin tak menentu.

“tentu saja ini bukan cinta sebagai keluarga, chitose” ungkapnya lagi.

“tapi aku… hanya pelayan. Aku hanya gadis desa. Tuan muda..” ucapku lirih—menahan perih.

“meski begitu aku tetap memilihmu.” Tuan Muda menatap dalam mataku. Dia tersenyum. Memamerkan dua lubang dalam yang menempel di pipinya. Indah.

Aku meneteskan air mata. Tuan muda menggenggam kedua tanganku, menariknya perlahan mendekatkan tubuhku pada tubuhnya.

Hangat… ia mencium dahiku.

“saranghae” bisiknya, terdengar jelas ditelingaku.

‘suatu saat akan ada orang lain di sisinya. Walau begitu, untuk saat ini walaupun hanya sebentar.. semoga seperti bunga yang mekar di dada ini. Semoga terus bertumbuh’

-FINISH-