Tittle                : The Precious Gift

Author             : Trililiii

Genre              : Romance

Cast Yesung : – Kim Jong Woon, Kim Haera (Fictional), Super Junior’s other member, Kim Jongjin (OC), Park Jaerim (fictional, OC)

FF ini pernah diposting di blog pribadi author www.clanyuuki.wordpress.com, dibuat dalam rangka menyambut(?) ultah suami author, Kim Jong Woon aka Super Junior’s Yesung. Just check it out ^^

 

Looking at you
Just only a smile
A smile immersed with shyness
Your eyes looked sad when you looked at me
Perhaps that was when you were about to bid farewell

Repeating like everyday
My appearance
Missing you that it became restless

Hanya dengan menatapmu saja, sekalipun itu dari jauh, aku bisa melalui hariku dengan baik.

Haera’s POV

Aku menatap layar televisi di hadapanku yang sedang menayangkan acara Come To Play. Tamu yang hadir hari ini adalah beberapa artis yang berada di bawah naungan SM Entertainment yang baru saja selesai mengadakan konser di Paris beberapa hari yang lalu. Di negara ini hampir tak ada yang tak mengenal mereka, para idola yang mempunyai sejuta pesona saat berada di atas panggung maupun di dalam layar kaca seperti saat ini.

Bibirku tertarik membentuk sebuah senyum saat melihat satu sosok yang muncul bersama tiga orang temannya. Satu sosok dengan setelan jeans dipadukan jas hitam dengan dalaman baju berwarna putih itu tampak bersinar di mataku. Bukan, bukan karena efek kilatan kamera yang dibuat oleh kru acara tersebut yang menampakkan seolah mereka sedang dipotret oleh banyak penonton konser di Paris, tapi memang karena sosoknya yang tampak selalu bersinar di mataku. Ia berjalan melambaikan bendera Perancis dan Korea yang dibawanya, menoleh ke kanan dan kiri sambil tersenyum sebelum memasang kacamata hitamnya yang membuatku harus menggigit bibirku untuk menahan diri agar tak berteriak.

Aishh… kenapa dia bisa seimut itu??

Yah, dia memang imut. Wajahnya tak menunjukkan sama sekali bahwa umurnya sudah mendekati kepala tiga. Kim Jong Woon… namja yang membuatku nyaris gila karena mengagumi sosoknya tanpa bisa meraihnya. Dia terlalu sulit dijangkau mengingat dia sekarang adalah seorang superstar, salah satu member dari grup idola papan atas di negri ini, Super Junior.

Tapi inilah yang aku lakukan sekarang, menatap raganya yang selalu mampu membuat saraf-saraf tubuhku nyaris berhenti bekerja, seperti yang aku lakukan setiap hari. Mencari segala sesuatu yang berhubungan dengannya melalui media cetak dan internet, mengawasi setiap perkembangan hidupnya dari jauh tanpa disadarinya sedikitpun.

Aku hanya seorang fangirl yang mengagumi idolanya dari jauh. Memberi dukungan padanya untuk tetap dapat hidup sebaik mungkin di dunia ini. Untuk tetap melihatnya baik-baik saja tanpa kekurangan sedikitpun, untuk tetap melihatnya tersenyum. Tak peduli apakah senyum itu berasal dari hatinya atau bukan, paling tidak ia tampak bahagia di mataku.

Jika kau mengira menjadi fangirl itu mudah, maka kau salah. Saat menjadi seorang fangirl, memang akan ada perasaan membuncah karena senang saat melihat idolamu, mengupdate segala berita tentang kehidupan mereka. Tapi tak sepenuhnya seperti itu. Ada saat-saat dimana seorang fangirl sepertiku harus merasakan beratnya menjadi stalker dari kehidupan mereka yang dipenuhi lampu sorot dunia hiburan. Membeli album mereka, berdesakan untuk menonton konser mereka, mencari segala info tentang mereka. Semuanya butuh perjuangan, dan biaya tentu saja. Tapi itu tak seberapa berat jika dibandingkan dengan perasaan sakit yang juga ikut kurasakan saat melihatnya dalam masa-masa sulit, serta kenyataan bahwa –mungkin- sampai kapanpun aku tak akan pernah dapat meraihnya dan hanya dapat mengagumi sosoknya seperti ini saja.

Rasa lelah itu terkadang muncul, membuatku ingin berhenti saja dengan semua kegialaanku selama ini. Pernah aku mencobanya beberapa kali, tapi akhirnya selalu gagal karena baru sebentar saja aku sudah menyerah. Namja itu, yang lebih dikenal dengan nama Yesung, telah mengacaukan otakku selama tujuh tahun ini. Ya, tujuh tahun dan itu bukan waktu yang sebentar untuk tetap menunggu dan berharap ia dapat mendapati kembali sosokku dalam ingatannya. Aku sama sekali tak yakin dengan hal itu.

Flashback…

“Jadi itu benar?” aku memiringkan kepalaku untuk mencari matanya. Untuk pertama kalinya ia tak mau menatapku saat berbicara dengannya.

“Mwo?” ia memalingkan wajahnya.

“Kau tau apa maksudku, Jongwoon-ah…” aku tetap berusaha membuatnya menatap mataku, hal yang biasanya justru dilakukannya saat aku tak mau melihat matanya saat berbicara dengannya. Tapi kali ini berbeda, aku harus mendapat jawaban darinya.

Ia diam, tak menjawab pertanyaanku. Sibuk dengan pikirannya sendiri dan aku tak tau apa yang ada di dalamnya.

“Apa sebesar itu keinginanmu untuk menjadi  penyanyi?” tanyaku lirih. Aku menghentikan usahaku membuatnya menatapku, memilih menatap hamparan rumput yang ada di hadapanku.

“Eomma yang mendaftarkanku diam-diam, Haera-ya…” ia menolehkan kepalanya ke arahku.

“Dan kau diterima dalam audisi itu. Chukkae.” Ada perih yang menyayat dadaku saat mengucapkan itu. Tapi aku menutupinya dengan senyum.

“Mianhae.”

Aku menoleh cepat saat mendengarnya mengucapkannya. “Aniyo… kau tak perlu meminta maaf.” Aku memberi jeda sesaat pada kalimatku, memilah kata-kata yang tepat untuk diucapkan. “Ini mimpimu. Mimpi yang tak bisa kau raih kalau kau hanya menunggu keajaiban itu di Cheonan. Mimpimu ada di Seoul.”

“Tapi kau…”

“Eomma dan appamu menaruh harapan besar terhadapmu. Kau akan menjadi orang yang hebat bagi mereka,  juga Jongjin.” Dan aku… lanjutku dalam hati.

“Aku tak ingin menjadi penghalangmu dalam mencapai mimpimu, Jongwoon-ah… kau tak perlu mengkhawatirkanku.” Aku menghirup oksigen banyak-banyak untuk meringankan sesak yang mulai bergelayut di dadaku.

“Tapi bagaimana dengamu?” erangnya frustasi. Ia menjambak rambutnya sendiri dengan kesal. “Aku tak mau meninggalkanmu. Seoul itu jauh, kau tau?” ia melanjutkan sambil memejamkan matanya.

Aku  meraih wajahnya dengan kedua tanganku agar mau menatapku.

“Kau harus menjaga dirimu baik-baik di sana. Seoul kota yang besar dan kau akan menjalani masa training yang tidak ringan.” Aku merapikan rambutnya yang berantakan dengan jari-jariku.

“Sesibuk apapun kau nanti, jangan pernah mengabaikan kesehatanmu. Aku tak dapat mengingatkanmu setiap saat.” Aku merasakan mataku mulai memanas.

“Jangan memendam apapun yang kau rasakan sendirian. Ceritakan pada orang yang kau percaya, dan maaf aku tak dapat berada di posisi itu mulai sekarang. Kau akan memiliki banyak teman yang baik di sana.” Aku menurunkan tanganku dari rambutnya, mengangkup wajahnya.

“Kau harus pulang sesekali untuk menjenguk eomma dan appamu. Mereka pasti sangat merindukanmu saat kau tak ada. Kembalilah dan tunjukkan anak yang mereka besarkan telah menjadi orang hebat yang bisa mereka banggakan.”

“Haera-ya…” ucapnya pelan.

“Hm?” ia menurunkan tangaku dari wajahnya, menggengamnya dengan erat dan hangat. Demi Tuhan, aku mengiginkannya terus menggenggam tanganku seperti.

“Bagaimana dengan kita?”

Aku tersenyum pahit mendengar pertanyaannya. Aku harus mengatakannya, hal yang sudah kupikirkan masak-masak beberapa hari ini. Hal yang paling tidak aku inginkan sejak ia memintaku menjadi kekasihnya enam bulan yang lalu.

Tapi aku tak mungkin menunggu ketidakpastian yang timbul karena jarak yang membentang di antara kami nantinya, terlalu berat. Bukan hanya untukku, tapi untuknya juga. Aku tak mau membuatnya terbebani dengan hubungan yang terlalu sulit untuk dipertahankan seperti ini.

“Apa menurutmu kita dapat bertahan?” pertanyaanku lebih bersifat retoris sebenarnya. Ia tak menjawab, hanya menatap mataku dengan pandangan sayu. Aku menggigit bibir bawahku, menahan cairan yang nyaris tumpah dari mataku.

“Kita berhenti sampai di sini.”

End of flashback…

-000-

Your leaving which had been known earlier
Has no difference from a pain which cause me almost dead to me right now
Time passes
I still can’t let you go
Letting you go
I’ve did too much for you

Bagaimana dua orang dipertemukan, atau dipertemukan kembali, semua itu penuh teka-teki.

Jongwoon’s POV

Aku mengerjapkan mataku yang masih terasa berat saat mendengar dering ponselku. Aku menggeliat sedikit, mencoba mengembalikan kesadaranku setelah tidurku yang cukup lelap malam ini. dengan tangan kiriku aku meraih ponsel yang masih berdering di atas meja kecil yang berada di samping tempat tidurku.

“Emm?” gumamku malas setelah menekan tombol hijau tanpa melihat siapa yang menelpon.

‘HYUNG KAU MASIH TIDUR?!!’ teriak orang di seberang sana. Dari suaranya aku mengenali kalau itu Jongjin, adikku.

“Ne , ada apa?” aku mengusap mataku dengan punggung tangan.

‘YA!!! KAU LUPA KALAU HARI INI PEMBUKAAN COFFEE SHOP KITA?’ Jongjin masih berteriak di ujung telepon. Aku menghela napas pelan, namun sedetik kemudian mataku langsung terbuka lebar.

“Aigoo… aku lupa!” seruku tanpa sadar.

‘Cepatlah kemari! Di sini sudah sangat ramai.’

Jongjin memutus sambungan setelah itu. Aku dengan cepat berlari ke kamar mandi.

-000-

Rasa senangku membuncah melihat banyaknya pengunjung yang datang ke Handel & Gretel di hari pertama Coffee Shop ini dibuka. Aku tak menyangka sambutannya akan sehebat ini, bahkan untuk berjalan dengan baik tanpa menabrak-nabrak orang saja susah sekali.

Senyumku tak berhenti terkembang melihat antusiasme pengunjung yang datang. Dengan begini aku tak kekhawatiranku tentang keluargaku jadi sedikit berkurang karena mereka bisa bekerja di tempat yang dekat dari jangkauanku.

Beberapa artis yang kukenal juga datang ke sini untuk berkunjung, termasuk beberapa member Super Junior. Ada banyak sekali ELF yang datang dan itu membuatku semakin bersemangat. Aku terus-terusan berjalan kesana  kemari bahkan ikut menjadi pelayan dengan membantu mengantarkan makanan kepada para pengunjung. Menyenangkan sekali melihat wajah mereka yang tak kalah antusias dariku.

Aku meraih tas ransel yang tadi kuletakkan di atas meja, lalu berjalan keluar tempat ini setelah berpamitan pada eomma dan appa. Pengunjung masih terus berdatangan padahal ini sudah menjelang sore.

Aku baru mengulurkan tanganku untuk meraih handle pintu mobilku saat aku merasa ada sesuatu yang aneh. Aku merasa ada seseorang yang mengawasiku dengan sangat intens sejak aku keluar dari toko. Memang ada banyak mata yang mengawasiku sejak tadi, karena memang ada banyak sekali pengunjung yang datang dan sebagian besarnya adalah ELF. Tapi entah mengapa aku merasakan sesuatu yang berbeda.

Aku menoleh ke belakang dan saat itu juga nafasku terasa tercekat. Wajah itu, aku mengenalinya dengan sangat baik. Wajah yang lekuknya terekam jelas di otakku selama bertahun-tahun. Wajah yang aku rindukan setengah mati namun tak dapat kujumpai selama ini karena pemiliknya tak pernah memunculkan dirinya di hadapanku sekalipun aku kelimpungan mencarinya.

Tanpa sadar tanganku yang tadi memegang handle pintu mobil terlepas begitu saja. Aku membalikkan tubuhku untuk menghampiri yeoja yang sama terkejutnya denganku. Namun belum sempat aku melangkah ke arahnya, gadis itu dengan cepat menutup wajahnya menggunakan brosur cafe dan membalikkan tubuhnya lalu berjalan dengan cepat meninggalkan tempat ini. Aku nyaris mengejarnya namun sedetik kemudian aku menyadari ada puluhan mata yang sedang memandangku dengan tatapan heran, membuatku mengurungkan naitku untuk mengejarnya. Akan menjadi masalah kalau aku mengejar seorang gadis dengan terang-terangan di hadapan puluhan ELF yang ada di sini sekarang.

Tanpa sadar kedua sudut bibirku tertarik membentuk senyum. Aku menemukannya…

-000-

It’s  because of my stupidness
Letting you go
Is because I am lacking in many ways
Please let me have a chance to breath again

Where can I start telling
When can I start telling
What can I tell
Those precious words had been forgotten, you will understand even if I don’t tell

Haera’s POV

Aku mengatur nafasku yang tersengal karena berlari cukup jauh dari cafe milik Yesung. Melihat ekspresinya yang terkejut karena menyadari keberadaanku tadi membuatku refleks menjauhi tempat itu secepat mungkin sebelum dia menyadari siapa aku. Ah, entahlah dia menyadari bahwa yang dilihatnya adalah diriku atau tidak, aku tidak peduli. Yang ada di kepalaku hanyalah segera menjauh darinya.

Bodoh? Ya. Bertahun-tahun untuk membuatnya menyadari keberadaanku. Tapi saat kesempatan itu datang aku malah menyia-nyiakannya.

Aku terlalu takut untuk bertemu dengannya, sekalipun selama ini aku sering berada di sekitarnya tanpa ia menyadari hal itu. Aku terlalu takut untuk menerima kenyataan bahwa aku bukanlah seseorang yang berarti lagi untuknya, bukan lagi gadis yang dulu menempati posisi spesial di hatinya. Bagaimanapun juga kondisinya sekarang sudah jauh berbeda dengan tujuh tahun lalu, saat dirinya masih bukanlah siapa-siapa, saat dirinya hanyalah seorang remaja yang baru lulus sekolah tingkat atas. Sedangkan sekarang ia telah menjadi bintang yang terlalu tinggi untuk kugapai. Lebih baik seperti ini, menatapnya dari jauh saja tanpa tau apa yang ada di pikirannya tentangku. Lagipula belum tentu juga ia menyadari bahwa gadis yang dilihatnya tadi adalah aku, Kim Haera.

Aku mungkin seorang pengecut. Berharap terlalu tinggi darinya namun tak mau berusaha sedikitpun untuk mencoba meraihnya haya karena rasa takutku, rasa takut bahwa ia menganggapku hanyalah seseorang dari masa lalunya yang tak berarti apa-apa saat ini. Haha, berulang kali aku menertawakan diriku sendiri karena hal ini.

Kuputuskan untuk kembali berjalan, kali ini menuju halte bus untuk pulang. Sesekali aku menengadahkan kepalaku, menarik napas dalam-dalam. Aku tersenyum sendiri mengingat raut wajahnya hari ini. Wajahnya Yesung tak secerah biasanya, bahkan terlihat sedikit pucat karena tak ada make up yang menempel di sana. Wajahnya juga menunjukkan lelah yang tak tertutupi, bagaimanapun juga ia sangat sibuk karena persiapan album Super Junior yang baru. Tapi wajah itu menunjukkan suka cita yang sangat besar hari ini. Akhir-akhir ini suasana hatinya pasti sangat baik, setelah peluncuran single duet dan lagu untuk soundtrack sebuah drama, hari ini ia meresmikan coffee shop keluarganya yang ia cintai melebihi apapun di dunia ini.

-000-

Those moments we spent together
Minutes and seconds which we misses
The shimmering, beautiful smile
Has to be kept in your heart

 

Jongwoon’s POV

Aku masih mondar-mandir dengan gelisah, sesekali mengacak rambutku kesal. Sejak tiga hari yang lalu pikiranku sama sekali tak bisa lepas dari gadis itu, gadis yang menghilang dari kehidupanku sejak tujuh tahun lalu.

Aku sedikit menyesali mengapa aku tak mengejarnya saja tempo hari, mengabaikan rasa takutku ia akan diserang ELF karena aku menemuinya untuk berbicara empat mata dengannya. Harusnya aku memang tak perlu sekhawatir itu dengan skandal yang akan beredar jika aku digosipkan menjalin hubungan dengan seorang wanita, toh nantinya aku pasti akan berusaha menjaganya dengan baik.

Yang terpenting untukku sekarang adalah dapat bertemu dengannya. Aku perlu memintanya menjelaskan kemana saja ia selama ini.

Aku beberapa kali menanyakan kepada Jongjin kemana perginya gadis itu, namun jawaban yang aku dapatkan selalu sama. Jongjin hanya tau ia pergi keluar kota  -Cheonan- setelah menamatkan kuliahnya. Dan setelah itu adikku tak pernah mendengar kabarnya lagi.

“Hyung berhentilah berjalan kesana-kemari seperti itu. Kau membuatku pusing.” Keluh Jongjin yang yang duduk sambil menonton televisi.

“Aish, di mana aku harus mencarinya, Jongjinnie?” aku menjatuhkan tubuhku ke sofa, duduk di sebelah Jongjin.

“Kau saja yang bodoh. Salah sendiri kau tidak mengejarnya kemarin, dan sekarang kau kembali kehilangannya.”  Eku refleks memukul kepala Jongjin dengan kesal.

“Ya! Harusnya kau membantuku mencarinya.”

Jongjin tampak berpikir sebentar. “Hyung, ia berada di Seoul. Apa itu artinya ia berada di Seoul selama ini tapi kau tak tau?”

Aku menggaruk pipiku yang tidak gatal. Mungkinkah seperti itu? kalau memang benar, lalu kenapa ia tak menemuiku? Apa ia hanya tak sengaja sedang berada di Handle & Gretel kemarin?

“Tapi mengapa ia tak menemuiku?” bibirku mengimplementasikan pertanyaan yang berada di otakku.

“Karena kau bukan Jongwoon. Kau sekarang adalah Super Junior Yesung.” Jawab Jongjin pelan.

“De?” alisku bertaut mendengar jawaban Jongjin.

“Kau yang sekarang berbeda dengan yang dulu ia kenal, Hyung. Kau sudah menjadi bintang terkenal sekarang.” Jawabnya yakin.

“Tapi itu kan hanya pekerjaanku saja. Aku tetap Jongwoon yang dulu.” Jongjin tertawa mendengar ucapanku.

“Memang seperti itu. Tapi itu anggapanmu. Bagaimana dengannya? Ia menatapmu bukan sebagai Jingwoon yang dulu, kekasihnya saat usianya masih belasan tahun.” Jongjin meregangkan tangannya kemudian menguap lebar. “Aaaah, lelah sekali. Pengunjung kafe sangat banyak. Berkunjunglah kalau jadwalmu sedang longgar.”

Kamudian Jongjin meninggalkanku, berjalan menuju kamarnya.

Aku mencoba mencerna maksud dari ucapan Jongjin. Aku memang bukan Jongwoon yang dulu lagi. Yah, bukan lagi remaja belasan tahun yang bercita-cita menjadi penyanyi seperti yang dulu ia kenal. Aku sudah menjadi seorang artispapan atas  –setidaknya begitulah gelar yang orang sandangkan untukku-  di Korea Selatan. Aku kini menjadi member dari grup idol yangmemiliki ribuan fans dari berbagai Negara.

Apa ini yang dimaksud Jongjin? Apa ia merasa tak pantas lagi untuk bersanding denganku, atau paling tidak, untuk sekedar mengenalku? Kalau memang itu alasannya kabur dariku tempo hari, maka ia benar-benar gadis paling bodoh di dunia.

-000-

I prayed while heart aching
If we can still meet when the rain stops
I am very miserable right now
Your leaving made the current me suffer

Aku terlalu takut merasa kecewa jika perasaanku hanyalah sepihak. Aku memilih berdiri di titik aman, menatapnya dari jauh tanpa mengetahui apa yang ada di kepalanya tentangku.

Author’s POV

Haera bersandar dengan nyaman di sofa apartemennya pagi ini, ia sedang tidak ada jadwal pergi ke kantor. Semua naskah yang dikerjakannya telah ia rampungkan dan telah diantarkannya ke kantor kemarin sore sehingga ia punya waktu senggang dua hari kedepan. Satu keuntungan yang ia dapatkan sebagai seorang freelance editor untuk sebuah penerbit buku, ia bisa memiliki banyak waktu luang karena tidak ada jadwal yang mengharuskannya bekerja di kantor setiap hari. Kecuali jika ada deadline yang mendesak, bisa-bisa ia harus lembur untuk menyelesaikan pekerjaannya.

Ia menggoyang-goyangkan kepalanya mengikuti alunan lagu yang sedang dengarnya melalui earphone yang sedang dipakainya.

“Blow your mind… Kajja mr. simple. Blow your mind…” mulutnya bersenandung kecil sedangkan matanya terpejam.

Haera tak ada bosannya mendengarkan lagu itu sampai berulang kali sejak perilisannya tiga hari yang lalu. Dan sejak tiga hari yang lalu juga ia sering berteriak sendiri di apartemennya karena Super Junior jadi sangat sering muncul di televisi sejak peluncuran album kelimanya.

Haera melepas earphone-nya saat merasakan ponsel yang ia letakkan di sebelahnya bergetar.

“Yoboseo.” Ia menempelkan ponsel itu ke telinganya dengan tangan kiri.

‘Apa kau ada waktu nanti sore?’ Tanya sebuah suara di sana tanpa basa-basi.

“Waeyo, Jaerim-ah?” sebenarnya ia tak mempunyai sesuatu untuk dilakukan sore ini, tapi ia langsung menjawab pertanyaan sahabatnya itu.

‘Ayo keluar. Aku ingin mencoba kafe yang baru buka. Katanya sandwich di sana enak sekali.” Jawab Jaerim dengan ceria di ujung sana.

“Err… itu di mana?” Tanya Haera.

‘Tak jauh dari rumahku. Kau ikut ya? Akan kukenalkan dengan kekasihku?’

Haera mendengus kesal. Bagaimana mungkin sahabatnya itu mengajak bertemu dengannya, tapi sekaligus berkencan dengan kekasihnya, itu akan membuatnya benar-benar terlihat bodoh.

“Kau gila? Kau menyuruhku menontonmu pacaran, he?” ucap Haera kesal. Jaerim tertawa di ujung sana.

‘Aniyo… aku tidak ke sana untuk berkencan, bodoh. Keluarganya pemilik kafe itu.’

Haera mengangguk-angguk kecil, tapi kemudian tersadar kalau Jaerim tak dapat melihat anggukannya. “Baiklah. Tapi kau yang traktir.”

‘Kau tak pernah mau rugi.’ Cibir Jaerim. Haera hanya tertawa mendengarnya.

-000-

Haera’s POV

Aku mengernyitkan dahiku saat menyadari bus yang kutumpangi bersama Jaerim menuju ke tempat yang aku kenal.

“Sebenarnya kita akan ke mana?” tanyaku bingung.

“Kau diam saja.” jawab Jaerim sambil mengerlingkan matanya. Cish, gadis ini. Kalau bukan karena dia yang menraktirku, aku pasti sudah melemparnya keluar bus.

Aku mengetuk-ketukkan tanganku ke meja dengan kesal saat kami berdua sudah duduk di dalam kafe.ia memilhkan meja yang ada di sudut tempat ini, yang tidak terlalu penuh sesak dengan pengunjung yang datang.

“Kenapa kau tidak bilang kalau mau ke Handel and Gretel?” protesku padanya dengan sengit. Ia terkekeh mendengarnya.

“Waeyo? Bagus kan?”

Aku mendengus kecil. “Lalu apa maksudmu dengan mengenalkanku dengan kekasihmu, hah? Kau mau bilang kalau kau pacaran dengan Yesung?”

Ia tertawa kerasmendengar pertanyaanku. “Kau tak perlu secemburu itu padaku. Aku tak akan merebut Yesung-mu itu.”

Aku memukul kepalanya pelan. “Jadi kau berbohong akan mengenalkan pacarmu, hah?”

Baru saja ia akan menjawab pertanyaanku tapi batal karena seseorang datang ke meja kami. Jongjin, adik Yesung. Ia seumuran denganku. Namja itu tampak manis  mengenakan kaus putih dan celemek berwarna hijau toska. Tangannya memeluk sebuah nampan kayu yang ia gunakan untuk mengantarkan pesanan kepada pengunjung yang datang.

Ini pertama kalinya aku bertemu dengannya. Ah, bukan, ini kedua kalinya. Aku pernah bertemu dengannya  di Cheonan saat aku berkunjung ke rumah mereka. Tapi aku tak perlu khawatir ia mengenaliku, aku yakin ia tak akan mengenaliku mengingat kami hanya pernah bertemu satu kali sebelumnya.

“Hai.”  Sapa Jongjin sambil tersenyum manis kepadaku dan Jaerim. Tanpa sadar aku tersenyum geli mengingat beberapa hari yang lalu Yesung dengan kurang ajarnya mengupload fotonya yang sedang tidur dengan pose yang sangat lucu.

“Kau sudah lama?” tanyanya kepada Jaerim, membuat senyumku menghilang berganti dengan ekspresi keheranan.

“Tidak juga. di sini menyenangkan.” Jawab Jaerim sambil tersenyum manis pada Jongjin.

“Kau mengenalnya?” tanyaku heran. Bagaimana ia bisa mengenal Jongjin?

Jaerim mengalihkan pandangannya ke arahku, lalu kembali mendongakkan kepalanya untuk menatap Jongjin. Mereka tertawa bersamaan, membuatku semakin bingung.

“Haera-ya… kenalkan, ini Jongjin, orang yang ingin kukenalkan kepadamu.” Jaerim menekankan suaranya pada kata-kata terakhirnya. Ia merangkul lengan kiri Jongjin dengan mesra. Membuatku menatap mereka berdua dengan tatapan tak percaya, aku bahkan tak sadar kalau mulutku menganga saat ini.

“Lama tak jumpa, Haera-ssi.” ucap Jongjin santai sambil tersenyum padaku. Mataku terbelalak mendengar ucapannya. Itu artinya ia mengenaliku?

“Eh?” hanya itu yang mampu keluar dari mulutku.

“Ah, kau sepertinya lupa denganku. Sudah lama sekali ya.” Jongjin terkekeh pelan.

Aku menatap Jaerim dengan pandangan penuh tanya. Tapi gadis itu hanya tersenyum tanpa memberi jawaban apa-apa.

“Ah… ne. Annyeong, Jongjin-ssi.” ucapku dengan nada menggantung.

“Apa kau merindukan hyung-ku? Ia akan ke sini sebentar lagi.” Aku nyaris terjungkal mendengar ucapan namja itu. Yesung akan ke sini? Sial, aku tak melihat jadwalnya hari ini. aku tak tau kalau ia sedang tidak sibuk, dan aku melupakan kemungkinan bahwa namja itu bisa ke sini kapan saja selama waktunya luang.

“Kalian ingin memesan apa?” Tanya Jongjin lagi. ia kemudian merekomendasikan beberapa menu kepada Jaerim yang sedang membolak-balikkan buku menu.

Aku meremas jemariku yang terasa basah. Rasa panik dengan cepat menyelimutiku. Tidak, tidak sekarang. Aku tidak siap bertemu dengannya sekarang. Aku mengusap dahiku yang mulai berkeringat dingin. Aku harus pergi secepatnya dari tempat ini sebelum namja itu datang dan aku tak dapat kabur lagi darinya.

“Haera-ssi, gwenchana?” Jongjin memegang pundakku pelan, membuatku mendongakkan kepalaku untuk menatapnya.

“Gwenchana.” Jawabku singkat.

“Tapi kau pucat.” Ucapnya lagi. Aku melirik Jaerim yang juga sedang memandangku dengan tatapan sedikit khawatir.

Aku menggigit bibir bawahku pelan. Tiba-tiba sebuah ide muncul di kepalaku. Ah, kebetulan sekali… aku jadi tak perlu mencari alasan lagi untuk pergi dari sini.

Aku kembali mendongak untuk menatap Jongjin, tapi ia sedang tersenyum orang yang ada di belakangku, mungkin pengunjung yang lewat. Kualihkan pandanganku ke arah Jaerim.

“Jaerim-ah… sepertinya aku sedikit tidak enak badan.” Aku mengusap dahiku lagi, bersikap seolah kepalaku sedang pusing atau apa.

“Tapi kau tadi tidak apa-apa.” ucap Jaerim padaku. Sudah pasti ia curiga pada sikapku. Gadis itu tau semuanya, tentangku dan Yesung.

“Ani… aku benar-benar sakit.” jawabku cepat, tanpa menyadari suaraku terdengar terlalu bersemangat untuk orang yang sedang tidak enak badan.

“Mianhae, Jongjin-ssi, Jaerim-ah… sepertinya aku harus pulang sekarang.” Mereka tak menjawab. Dalam hati aku merasa sangat lega mereka tak menghalangiku pergi.

Aku meraih tas tangan yang ada di sampingku. “Jongjin-ssi, aku pasti akan datang ke sini lagi lain kali.” Lanjutku dengan wajah memelas. Jongjin hanya tersenyum kecil.

Aku menghembuskan nafas lega lalu berdiri kemudian berbalik. Dengan sedikit menundukkan kepalaku, aku tersenyum karena berhasil membohongi mereka.

Aku mengangkat kepalaku dan mulai melangkah menuju keluar. Tapi baru dua langkah, gerakanku terhenti. Tubuhku seketika menegang, senyum yang tadi kukembangkan di bibirku langsung menghilang begitu menyadari seorang namja sedang tersenyum. Ia berdiri dengan jarak tiga meter di tepat hadapanku.

“Berniat kabur lagi, Haera-ssi?”

-000-

Jongwoon’s POV

Aku dengan cepat mengemudikan mobilku ke Handle & Gretel setelah menerima pesan yang dikirimkan oleh Jongjin. Gadis itu ada di sana.

Pikiranku terus dipenuhi berbagai pertanyaan. Bagaimana gadis itu ada di bisa sana lagi? kebetulan lagi? Apa ia berharap bisa bertemu dengaku di sana?

Tapi semua rasa penasaran itu aku acuhkan. Rasa senang bercampur gugupku terlalu dominan saat ini. Aku dapat menemui gadis itu lagi, setelah tujuh tahun. Aku tak akan membiarkanmu kabur lagi, Kim Haera.

Aku memasuki kafe, mataku dengan cepat mencari keberadaan Jongjin. Aku menemukannya sedang berdiri di sisi sebuah meja yang ada di sudut ruangan, dekat dengan dinding kaca yang menghadap ke luar kafe. Dua orang gadis duduk di sana, aku mengenali salah satunya adalah Jaerim, kekasih Jongjin. Ia pernah bertemu denganku sebelumnya. Aku tak dapat melihat wajah gadis yang satunya lagi karena posisinya yang duduk membelakangiku.

Aku berjalan ke meja tersebut, berhenti beberapa meter dari mereka. Jongjin yang menyadari kedatanganku tersenyum ke arahku. Aku baru akan melangkahkan kakiku lagi untuk mendekat, tapi Jongjin menyipitkan matanya ke arahku, member isyarat padaku untuk tidak bergerak dari tempatku berdiri sekarang.

“Jaerim-ah… sepertinya aku sedikit tidak enak badan.” Samar kudengar gadis yang membelakangiku tersebut berbicara kepada Jaerim.

“ Tapi kau tadi tidak apa-apa.” ucap Jaerim padanya, mata Jerim sedikit menyipit ke arahnya.

“Ani… aku benar-benar sakit.” jawab gadis itu cepat. Haha, lucu sekali. Semua orang akan segera sadar bahwa gadis itu hanya berpura-pura kalau ia mengucapkannya sesemangat itu.

Aku tiba-tiba menyadari satu hal. Gadis itu… Ya Tuhan, jadi ini maksud Jongjin. Gadis itu Haera. Dan ia mencoba untuk kabur lagi dari sini?

“Mianhae, Jongjin-ssi, Jaerim-ah… sepertinya aku harus pulang sekarang.” Gadis itu berbicara lagi.

“Jongjin-ssi, aku pasti akan datang ke sini lagi lain kali.” Lanjutnya setelah meraih tas tangan yang ada di sebelahnya.  Jongjin hanya tersenyum kecil.

Gadis itu berbalik, ia menundukkan kepalanya tapi aku bisa melihat dengan jelas kalau ia sedang tersenyum karena berhasil mengelabuhi Jongjin dan Jaerim. Aku tersenyum melihat tingkahnya yang kekanakan. Ya Tuhan, aku benar-benar merindukan gadis ini.

Ia mengangkat wajahnya, aku masih dapat melihat senyum samar yang terkembang di wajahnya. Namun sedetik kemudian senyum itu hilang saat ia melihatku yang berdiri tepat dihadapannya.

“Berniat kabur lagi, Haera-ssi?” tanyaku defensif kepadanya. Gadis itu masih terpaku di tempatnya, sepertinya ia terlalu terkejut dengan kedatanganku.

Dengan cepat aku menghampirinya dan meraih tangannya . Aku melirik Jongjin dan Jaerim yang tertawa sambil ber-highfive.

“Gomawo, JaeJin.” Aku memanggil mereka berdua dengan singkatan yang aku ciptakan untuk mereka, JaeJin.  Aku tersenyum kepada mereka berdua, dan mereka membalasnya dengan senyuman lebar.

Tanpa menunggu lagi aku menarik tangan Haera menuju keluar kafe, diiringi pandangan heran para pengunjung yang sedang ada di dalamnya. Tapi tak kupedulikan, urusanku dengan gadis ini menjadi prioritasku sekarang.

“Masuk.” Ucapku setelah membuka pintu mobil untuknya. Ia masih bergeming, berdiri dengan wajah pucat di sampingku. Aku mendorongnya masuk dan segera menutup pintunya. Dengan cepat berjalan memutar ke arah bangku kemudi dan pergi dari tempat ini sebelum semakin banyak orang yang melihat kejadian tadi.

Tak ada yang mencoba memulai percakapan sejak kami berada di dalam mobil. Aku sesekali meliriknya dari spion. Ia terus menunduk, memainkan ujung kausnya hingga sedikit kusut. Wajahnya sudah tak sepucat tadi, tapi raut kegugupan itu masih terlihat jelas. Ck, memangnya aku semenakutkan itu apa?

“Bagaimana kabarmu?” tanyaku mencoba memecah keheningan.

“Baik.” Jawabnya pelan tanpa mengangkat wajahnya.

“Baguslah.” Ucapku sambil mengangguk kecil. “Jadi kau di Seoul?” tanyaku retoris, jelas-jelas ia berada di sini sekarang.

Ia mengangguk tanpa mengeluarkan suara.

“Sejak kapan?” aku meliriknya sekilas.

“Tiga tahun lalu.” Kali ini ia mengangkat kepalanya, menatap ke depan.

“Dan kau tak mencariku?” aku menggigit bibirku sendiri setelah menanyakan hal itu. Astaga, pertanyaan macam apa yang baru saja kulontarkan?

Ia menolehkan kepalanya, menatapku dengan pandangan tak percaya. Aku menepikan mobilku di tepi sebuah taman yang cukup sepi.

“Ani! Untuk apa?” Nadanya naik satu oktaf sekarang. Aku tau ia sedang menutupi rasa gugupnya. Melihat tanggapannya seperti ini, aku tak jadi menyesal telah menanyakan hal itu kepadanya.

“Jincha? Kau tak merindukanku?” Godaku sambil mengerling ke arahnya. Aku memutar tubuhku untuk menghadapnya setelah mematikan mesin mobil.

“Mwo?” matanya membulat seketika, membuatku tertawa melihat ekspresinya. Gadis ini, masih sama seperti yang dulu. Selalu menunjukkan apa yang dirasakannya dengan mimik wajahnya.

“Aku mencarimu.” Ucapku santai.

“Eh?” ia menatapku bingung sekarang.

Aku mencondongkan tubuhku ke arahnya, membuatnya mundur secara refleks hingga tersudut di antara jok dan pintu mobil. Aku manatap matanya dalam.

“Aku merindukanmu.”

-000-

Haera’s POV

Aku tak percaya semuanya akan berjalan selancar ini. Aku mulanya berfikir aku akan pingsan atau apa saat berhadapan langsung dengan namja ini, namja yang tujuh tahun terakhir menyesaki pikiranku dengan sosoknya.

Tapi nyatanya tidak. Entah mengapa rasa gugupku bisa menghilang dengan cepat. Yah, tidak benar-benar hilang memang, aku masih sedikit gugup. Paling tidak aku sudah bisa mengontrol jantungku untuk tidak berdetak terlalu cepat. Aku merasa… memang beginilah seharusnya, aku ada di sampingnya. Untuk sejenak aku melupakan semua ketakutanku tentang apa yang ada di pikirannya tentangku. Aku juga  melupakan statusnya yang sekarang telah berbeda jauh denganku yang hanya seorang gadis super sederhana. Aku menatap sosok yang sedang duduk dalam satu mobil denganku ini sebagai seorang Kim Jongwoon yang kukenal dulu.

“Aku mencarimu.” Ucapnya santai. Aku terperangah mendengarnya. Dia pasti sedang bercanda.

“Eh?”

Dengan tanpa kuduga, ia mencondongkan tubuhnya ke arahku hingga aku tersudut di antara jok dan pintu mobil. Ritme detak jantungku berantakan seketika. Aku sampai menahan nafas.

“Aku merindukanmu.” Ucapnya dengan pelan namun tegas. Matanya menatapku lekat tepat di manik  mata. Aku tubuhnya dengan dua tangan, membuatnya sedikit terhuyung sebelum dapat duduk kembali dengan baik di kursinya. Namun kemudian ia tertawa keras sambil memegangi perutnya.

“Wajahmu lucu sekali, Haera-ya…” ucapnya masih dengan tertawa keras.

“Micheyoseo?!” teriakku kesal. Ia takmenghiraukanku, masih melanjutkan tawanya. Aku membuang pandangaku ke arah luar melalui jendela yang ada di sampingku. Namja ini membuatku gila.

“Ah ne… ne…” ucapnya akhirnya setelah tawanya selesai. “Mengapa kau kabur dariku?”

Aku tersentak, tapi sebisa mungkin tak menunjukkan wajahku kepadanya dengan tetap menatap keluar jendela. “Aku tidak pernah kabur.”

“Jincha?” tanyanya dengan nada mengejek. “Aku tau kau melihatku waktu itu dan kau langsung lari. Waeyo? Kau tak ingin bertemu denganku?”

“Ani… bukanbegitu…” aku menggantung ucapanku, bingung mau melanjutkan apa.

“Tadi kau juga hampir lari lagi kalau aku tak menyeretmu.” Lanjutnya lagi. Aku mendengus kesal, namja ini berniat memojokkanku huh?

“Tapi aku…”

“Sakit?” potongnya cepat. Aku berjengit saat tangannya tiba-tiba menempel di dahiku. “Kau tidak apa-apa.”

Aku menyingkirkan tangannya dari dahiku. “Aku ada urusan.” Ucapku akhirnya, tak bisa mencari alasan lagi.

Ia tertawa kecil. “Baiklah aku tak akan memaksamu menjawab. Tapi mulai sekarang jangan pernah kabur lagi, ara? Aku tak mau mencarimu dengan susah payah lagi.” Ia merogoh saku celananya, meraih ponsel kemudian menyodorkannya ke arahku.

Aku menghela nafas pelan. Menimbang-nimbang apa aku harus memberikan nomor ponselku atau tidak. Aku tau kali ini aku tak bisa bersembunyi lagi. Kalau namja ini benar akan mencari tahu keberadaanku, ia pasti akan mencari tahu dengan segala cara. Termasuk dengan mengintrogasi Jaerim. Dan aku yakin Jaerim tak akan menutupi apapun darinya mengingat gadis itu selalu kesal dengan sikapku yang bersikeras tak menemui Yesung selama ini. Jadi tak ada gunanya juga aku bersembunyi lagi. Mungkin di sinilah aku harus menyerah, bersiap menerima konsekuensi yang mungkin terjadi, termasuk ketakutan yang selama ini menghantuiku.

Aku meraih ponsel yang ia sodorkan di depan wajahku. Dengan sedikit gemetar mengetikkan beberapa nomor yang sudah kuhapal, nomor ponselku. Aku dapat melihatnya seringaian puas di wajahnya dari sudut mataku.

-000-

What matters me, I think of you every night
If there’s one day I don’t think about you
My heart will feel unsafe
You don’t know anything right?
You are not familiar with this kind of me
If only you would think about me anytime
If you could come back by then
That would be great

Adalah suatu kebodohan jika kau menyusuri waktu yang tak bisa disebut sebentar untuk mencari seseorang, namun ketika kau menemukannya kau malah membiarkannya lepas begitu saja.

Jongwoon’s POV

Gadis itu masih seperti yang dulu, seorang Kim Haera yang kukenal bertahun-tahun lalu. Dan untuk kesekian kalinya aku jatuh cinta pada gadis itu. Ternyata waktu yang terbentang di antara pertemuan terakhirku dengannya sampai sekarang tak cukup mampu membuatku kegilaanku akan dirinya hilang begitu saja.

Gadis itu, bisa-bisanya ia tak berani menemuiku dengan alasan yang sangat bodoh. Tujuh tahun menyia-nyiakan hidupnya untukku. Harusnya ia bisa menghubungiku, paling tidak ketika ia sudah berada di Seoul. Tapi yang dilakukannya hanyalah menjadi seorang fans yang bahkan tak berani menunjukkan dirinya di hadapanku.

Dan sekarang aku telah menemukannya. Bukan pertemuan yang tak disengaja, ada yang mengatur semuanya tanpa sepengetahuanku dan gadis itu.

Jongjin yang sebenarnya mengatur pertemuanku dengannya, adikku itu telah menceritakan semuanya padaku. Diawali dengan ketidaksengajaan Jaerim yang bercerita tentang sahabatnya yang mengidolakanku, dan memiliki masa lalu denganku, namun tak pernah berani menemuiku. Jongjin langsung dapat menebak siapa gadis itu dan mengatur pertemuanku dengannya bersama Jaerim. Ah, aku harus menraktir mereka kapan-kapan sebagai bentuk terimakasihku.

Aku menatap gadis itu lekat, ia sedang memeras handuk basah untuk mengompres pinggangku yang cidera saat menjadi bintang tamu di acara Dream Team. Aku memutuskan untuk pergi ke apartemennya setelah mendengarnya berteriak khawatir di telepon tadi. Aku merasa menjadi pasien sakit yang butuh seseorang dokter untuk mengobatiku, hingga aku mendatanginya. Tapi dokter itulah yang memaksaku untuk berobat padanya. (-_____-)”

Tapi kuturuti saja, lagipula aku merindukannya. Sejak pertemuan dengannya waktu itu, aku belum bertemu dengannya lagi, hanya beberapa kali menelponnya atau sekedar bertukar pesan. Aku terlalu sibuk dengan promo album hingga tak punya waktu untuk menemuinya.

“Kalian main apa saja sih sampai cidera seperti ini? Bahkan dongsaengmu juga banyak yang terluka.” Ia mengomel dengan wajah kesal.

“Kami hanya terluka kecil, Haera-ya…” ucapku memberikan penghiburan. Aku meringis saat ia menekan handuk dengan sedikit keras ke pinggangku yang memar.

“Tapi tetap saja namanya cidera. Apa mereka tak memeriksa keamanan tantangannya sebelumnya, hah? Donghae oppa sampai berdarah, Sungmin oppa juga. Eunhyuk oppa dan Leeteuk oppa juga terluka. Aku tau jadwal kalian sangat padat. Bagaimana kalu hal ini sampai mengganggu kerja kalian?” ia menggumam panjang lebar sambil tetap mengompres pinggangku.

“Perusahaan kalian juga begitu. Aku tak suka kalian terus-terusan bekerja tanpa waktu istirahat seperti itu! Kalian bukan robot yang tidak butuh istirahat.” Lanjutnya lagi.

“Kenapa kau jadi memarahiku?” tanyaku kesal.

“Aku tidak memarahimu. Aku hanya…” ia menggantung ucapannya.

“Terlalu mengkhawatirkanku, eh?” tanyaku menggodanya, membuat wajahnya  sedikit bersemu merah. Ia memalingkan wajahnya, berpura-pura sibuk memeras handuk yang dipegangnya. Aku tersenyum kecil lalu mengacak rambutnya gemas.

“Aku baik-baik saja. Percayalah.” Ucapku lembut.

“Besok kau harus check up ke dokter. Donghae oppa juga, dia mendapat luka yang cukup parah.” Gumamnya pelan.

“Baiklah, Tuan Putri.” Aku membungkukkan badanku seolah memberi hormat.

“Aish… jangan memanggilku seperti itu. Menjijikkan.” Ia menggembungkan pipinya, membuatku harus menahan diri untuk tidak mengulurkan tanganku untuk mencubitnya.

Ia melangkah meninggalkanku, menuju dapur untuk meletakkan baskom dan handuk yang digunakan untuk mengompres lukaku tadi. Aku menurunkan kaus yang tadi kuangkat sebatas dada, kemudian menyandarkan punggungku ke sofa yang sedang kududuki. Aku memejamkan mataku. Seluruh tubuhku terasa sakit dan ngilu, efek dari rasa lelah dan juga rasa nyeri yang kurasakan berdenyut dari memar-memar yang timbul akibat kejadian tadi.

“Kau akan pulang ke rumahmu?” aku mendengar langkahnya mendekat.

“Ani. Aku akan ke dorm.” Jawabku tanpa membuka mataku.

Untuk beberapa saat tak ada yang membuka suara di antara kami. Aku masih tetap memejamkan mataku, menikmati keheningan yang entah mengapa terasa sangat nyaman saat ini.

-000-

Haera’s POV

Masih hening sejak beberapa saat yang lalu, tak ada yang memulai pembicaraan. Ia masih menutup matanya, tapi aku tau ia tak tidur. Kumanfaatkan untuk mengambil kesempatan memandangi wajahnya, memuaskan mataku dengan setiap detil lekuk tubuhnya. Tubuhku meremang menyadari aku berada di dekatnya, sangat dekat.

Semua kilasan kejadian yang pernah terjadi antara kami berputar cepat di otakku, seperti rol film yang memutar adegan demi adegan. Tapi ini bukan film, semua itu nyata dan sekarang tergambar dengan sangat jelas di kepalaku.

Kilasan pertama adalah saat kami pertama kali bertemu di sekolah, saat aku mendaftar klub seni di sekolah dan ia adalah ketua dari klub tersebut. Dilanjutkan dengan adegan saat ia menyatakan perasaannya kepadaku di sebuah taman kecil dekat sekolah kami. Lalu bagaimana kami berpisah, yang berakhir dengan tangisanku di kamar sepanjang malam hingga membuat eommaku panik setengah mati.

Yang selanjutnya memenuhi kepalaku adalah masa-masaku menjadi seorang fangirl yang nyaris gila karenanya. Aku ingat dengan sangat jelas saat aku berangkat ke kantor dengan mata bengkak sebesar bola pingpong  ketika mendengarnya harus dirawat di rumah sakit karena pingsan saat memaksakan diri berlari marathon dalam sebuah kegiatan amal. Juga saat aku tak henti-hentinya tersenyum saat ia mendapatkan penghargaan sebagai artis paling berbakti, suatu penghargaan yang sangat ia banggakan, dan membuatku juga merasa sangat bangga terhadapnya.

Semuanya melintas dengan cepat di kepalaku, tawa dan tangis yang pernah ada. Membuatku tersenyum samar, menyadari kini ia berada di hadapanku, dengan jarak urang dari satu meter.

“Aku pulang.” Matanya terbuka tiba-tiba, membuatku gelagapan seketika karena takut ia menyadari aku memperhatikannya sejak tadi.

“Ah, ne.”

Ia beranjak dari duduknya lalu meraih ransel yang ada di sampingnya. Syukurlah, sepertinya ia tak menyadari apa yang kelakukan sejak tadi.

Aku mengantarnya sampai depan pintu apartemenku.

“Cepat tidur, ara?” ucapnya tegas, matanya terlihat sayu karena kelelahan. Aku mengangguk kecil.

“Ah, baiklah. Aku pulang.” Ia terlihat bingung dengan kata-katanya sendiri. Ia menggaruk kepalanya yang aku yakin tidak gatal, terlihat ingin mengatakan sesuatu, tapi diurungkannya.

Aku terus menatapnya saat ia membalikkan tubuhnya, dan kemudian berjalan dengan pelan menjauhiku. Tapi baru beberapa meter dariku, ia menghentikan langkahnya lalu kembali berbalik mengahdapku.

“Haera-ya…”

“Waeyo?” aku menatapnya bingung. “Apa ada yang ketinggalan?”

Ia tak menjawab, hanya menatap lurus ke mataku. Beberapa detik kemudian ia melangkah dengan cepat ke arahku, membuatku mengernyitkan dahiku karena kebingungan. Namun yang terjadi di detik selanjutnya membuatku benar-benar kehilangan seluruh oksigenku. Ia meraih leherku, dengan cepat menyapu bibirku dengan sesuatu yang basah dan hangat. Bibirnya.

Aku masih terpaku dan membelalakkan mataku saat ia mulai melumat bibirku dengan lembut. Tak ada emosi maupun nafsu yang dalam setiap kecupannya. Ia menciumku seolah ada rindu yang nyaris membuatnya meledak karena tertahan dalam waktu yang sangat lama, dan ia mencurahkan semuanya dengan setiap kecupan lembut yang diberikannya padaku. Aku butuh sesuatu untuk menopang tubuhku sekarang.

Aku masih tak mampu meraih kesadaranku dengan cepat saat ia akhirnya melepaskan ciumannya. Ia memindahkan tangannya dari leherku, mengelus lembut pipiku sambil menatapku dalam. Aku hanya mampu memberikan pandangan tak percaya, terlalu shock dengan apa yang baru saja dilakukannya.

“Cepat masuk. Aku tak ingin kau sakit.” ucapnya  lembut, ada senyum samar yang tersirat di wajahnya.

Aku masih berdiri di depan pintu sampai ia menghilang dari pandanganku. Aku meraba bibirku, masih belum mampu percaya sepenuhnya ia baru saja menciumku. Aku bahkan masih merasakan hangat bibirnya. Ya Tuhan…

-000-

The phrase I love you
The phrase from me that only you can listen to
The phrase I miss you
The phrase that says I wanted to hug you
The only one
I want to protect you
Once again
For you
To be by my side again

Author’s POV

Haera menatap komputernya dengan mata terbelalak lebar. Di hadapannya terpampang suatu halaman web dari fansite Yesung dengan judul “HADIAH UNTUK ULANG TAHUN YESUNG”. Ia mengehela nafas berat menyadari harga dari kado-kado yang diberikan untuk namja itu sama sekali tidak bisa dibilang murah. Laptop ASUS Lamborghini, sepasang anting berlian dan satu set produk perawatan kulit yang harganya pasti tidak bisa dikatakan murah. Itu baru beberapa saja, belum lagi dengan fansite lain yang juga beramai-ramai mengadakan project untuk ulang tahun namja tersebut.

Haera berjalan dengan malas ke sofa setelah mematikan komputernya. ia belum menyiapkan apapun untuk namja itu. Tidak seperti tahun-tahun sebelumnya yang selalu ia lewatkan tanpa membelikan hadiah secara khusus untuk namja itu, biasanya ia hanya sekedar mengikuti project suatu fansite dengan menjadi donator di situ. Tapi tahun ini ia ingin special, bagaimanapun juga ia telah bertemu dengannya.

Namun mengingat hadiah-hadiah yang baru dilihatnya tadi, Haera hanya dapat tersenyum miris. Ia tak punya uang sebanyak itu untuk membelikan hadiah semahal itu. Ia tau sebenarnya Yesung tak akan mempermasalahkan hal itu bahlan jika ia tak memberikan apapun, tapi tetap saja ia ingin memberikan sesuatu mengingat hubungan mereka menjadi sangat  dekat sekarang.

Wajah Haera bersemu merah mengingat kejadian malam itu, saat Yesungmenciumnya dengan tiba-tiba. Sampai saat ini ia tak tau apa arti dari ciuman tersebut, dan ia terlalu malu untuk menanyakannya kepada namja itu.

Entah mengapa ketakutan yang ia tahan selama bertahun-tahun itu menghilang sedikit demi sedikit. Bagaimana perasaan Yesung saat ini bukanlah fokus utamanya. Ternyata bisa berada sedekat ini dengan namja itu saja sudah membuatnya sangat bersyukur. Hal ini jauh lebih baik daripada sekedar memandangnya dari jauh sebagai seorang fans.

Gadis itu meraih ponselnya dan mengetik sebuah dengan cepat.

To : Rimmie

Jaerim-ah, antarkan aku mencari sesuatu.

-000-

Haera’s POV

Aku masih berada di toko bersama Jaerim. Ini toko kesekian yang kami masuki untuk mencari kado, tapi belum ada yang kusuka. Kalaupun ada, pasti harganya sangat mahal dan uang yang ada di sompetku tak cukup untuk membelinya.

“Jaerim-ah… aku harus membeli apa?” tanyaku nyaris putus asa.

“Bagaimana kalau jam tangan saja?” sarannya. Aku berpikir sebentar. Bukan ide yang buruk, jam tangan artinya akan selalu digunakannya, artinya ia akan selalu mengingatku jika melihat jam tanga tersebut.

“Eumm… boleh.” Jaerim langsung menarikku menuju etalase yang memajang banyak jam tangan, gadis ini juga sudah muali bosan sepertinya sehingga menginginkan kegiatan ini cepat berakhir.

Aku baru memerhatikan beberapa model jam namun tiba-tiba pandanganku tertuju pada deretan dompet yang terjejer di etalase yang letaknya tepat di sampingku. Mataku langsung tertarik pada sebuah dompet kulit berwarna hitam dengan model sederhana, tapi aku suka modelnya.

Aku melirik harganya, sebenarnya tidak bisa dibilang benar-benar murah. Tapi setidaknya aku masih bisa menyisakan sedikit uang di dalam dompetku jika aku membelinya.

“Sajangnim, aku lihat yang ini.” kataku kepada penjaga toko  sambil menunjuk dompet yang kumaksud.

Aku mengamati dompet itu dengan seksama setelah penjaga toko tersebut mengambilkannya untukku. Aku menunjukkannya kepada Jaerim yang ada di sebelahku. “Otte?”

Jaerim tersenyum lebar sambil mengacungkan kedua jempolnya. Aku tak tau itu senyum karena ia suka pada benda pilihanku atau karena akhirnya aku memutuskan untuk membeli sesuatu sehingga kami bisa pulang secepatnya.

Aku merasakan ponselku bergetar di saku celanaku. Segera kutekan tombol hiaju dengan cepat tanpa melihat siapa yang menelpon.

“Yoboseo?”

‘Ah… Haera-ssi. Ini aku, Leeteuk.’ Aku mengernyit heran saat mendengarnya. Leeteuk? Maksudnya Leeteuk yang itu? tapi bagaimana mungkin ia menelponku.

“Leeteuk nugu?” tanyaku.

‘Ya… bagaimana au bisa tak mengenali calon kakak iparmu ini?’ ada tawa renyah yang sangat kukenal. mataku membulat seketika.

“LEETEUK OPPA?” aku tak dapat menahan jeritanku sekarang. Aigoo, leader dari Super Junior sedang menelponku.

‘Ne.’ jawabnya senang.

“Aigoo… oppa ada apa menelponku? Bagaimana bisa tau nomor ponselku?” cecarku bersemangat.

‘Nanti saja kujelaskan. Kau ada di mana sekarang?’

“Aku di toko aksesoris dekat gedung KBS. Waeyo?” tanyaku heran.

‘Tetap di sana. Hyuk akan menjemputmu sebentar lagi. Ara?’ jawabannya semakin membuatku bingung.

“Tapi, oppa…”

‘Jangan membantah atau kau akan mengahancurkan rencana kami.’ potongnya cepat lalu kemudian memutus sepihak sambungan telepon.

Aku menatap ponselku dengan pandangan heran kemudian melirik Jaerim yang hanya dibalas dengan mengangkat bahunya. Kualihkan pandanganku ke penjaga toko yang masih menungguku.

“Sajangnim, tolong bungkuskan yang ini.”

-000-

“Oppa, ada apa sebenarnya?” tanyaku pada Eunhyuk oppa yang ada di sampingku. Kami sedang berada di dalam lift sebuah gedung  tempat dorm mereka berada.

“Kau ikut saja, kami sedang merencanakan surprise party untuk Yesung Hyung.” Jawabnya. Aku tau ia tersenyum walaupun ia sedang memakai penyamaran masker dan hoodie.

Aku meremas tanganku yang mulai berkeringat, tangaku yang satu lagi menenteng tas kertas berisi kado yang tadi kubeli. Jaerim sudah pulang lebih dulu karena ada janji dengan Jongjin.

Aku sedang menuju dorm Super Junior. Bahkan dalam mimpi pun aku tak pernah membayangkan hal ini.

Aku mengikuti langkah Eunhyuk oppa setelah pintu lift terbuka. Sesaat kemudian sudah berada di pintu sebuah apartemen di lantai sebelas gedung ini. ia memasukkan beberapa digit angka kemudian membukakan pintu untukku.

“Masuklah, yang lain sudah menunggu di dalam.”

“Ah, ne. Gomawo.” Aku melangkah masuk dan mendapati tempat itu kosong, tak ada orang sama sekali.

“Kenapa tidak ada orang?” tanyaku padanya yang masih berdiri di depan pintu. Kulihat ia menyeringai mendengar pertanyaanku.

“Selamat bersenang-senang.” Ucapnya ceria lalu menutup pintu dengan cepat sebelum aku sempat menahannya. Aku memutar handle pintu berulang kali namun tetap tidak terbuka. Sial, namja itu mengunciku dari luar.

“Ya!!! Oppa buka pintunya! Ya!!!” aku berteriak keras sambil menggedor pintu berulang kali, namun kemudia menyerah. Percuma saja, namja itu pasti sudah pergi sekarang.

Aku menatap sekeliling ruangan, dan langsung menggerutu. Apartemen ini berantakan sekali. Barang-barang berserakan di mana-mana, mulai dari baju, komik, sampai bungkus makanan yang tak dibuang. Haish, mereka jorok sekali.

Pandanganku tertumpu pada sebuah kotak putih di ruang tengah. Ada kertas di atas kotak tersebut, tertindih sebuah lilin angka 27. Aku mendekat dan mengambil kertas tersebut. Sebuah memo?

Jangan kecewakan uri Yesungie !

-Para Malaikat Tampan-

Aku tertawa membaca isi dari memo tersebut. Para malaikat tampan, eh? Narsis sekali. Tapi memang mereka benar-benar tampan, sih.

Aku membuka kotak putih tersebut yang ternyata berisi sebuah birthday cake berwarna putih. Tidak ada tulisan berisi ucapan selamat atau apapun di atasnya, sepertinya mereka membelinya secara mendadak.

Aku menoleh cepat saat pintu menjeblak keras.

“Ada apa dengan Wookie? Bukankah tadi dia baik-baik sa… neo?” wajah Yesung yang terlihat panik saat memasuki ruangan ini langsung berubah menjadi keheranan saat melihatku ada di sini. Aku menggaruk pipiku yang idak gatal.

“Err… oppadeul mengunciku di sini.” Ucapku jujur.

“Lalu bagaimana dengan Wookie?” ia berjalan ke arahku, berhenti beberapa langkah di hadapanku.

“Wookie waeyo?”

“Teuk hyung  bilang dia sakit dan terus-terusan memanggilku, bahkan hampir di bawa ke rumah sa-“ ucapannya terhenti saat menyadari sesuatu. “Ah, mereka mengerjaiku.”

Namja itu mengacak rambutnya sambil tertawa, menunjukkan ekspresi kesal dan menetawai dirinya sendiri yang tertipu oleh para member.

Aku melirik jam dinding, sekarang sudah puku 12.08 “Kita rayakan sekarang?” tanyaku sambil tersenyum.

Ia tertawa lalu duduk di sampingku. Aku menyalakan memasang lilin ke atas kue dan menyalakannya dengan pemantik api yang ada di atas meja. Dengan perlahan kuangkat kue tersebut ke hadapannya.

“Make a wish?” tanyaku sambil menyunggingkan senyumku.

Ia memejamkan mata selama beberapa detik, lalu mematikan lilin tersebut dengan satu tiupan. Dengan sengaja ia mengambil krim kue tersebut dan mencolekkannya ke pipiku, membuatku langsung mendelik ke arahnya. Ia tertawa lepas melihatku kesal.

Aku tak membalasnya. Aku tak ingin suasana ini menjadi medan perang kue antara aku dan dia.

Aku baru akan menyeka pipiku dengan tangan, tapi dengan cepat ia menahan tanganku lalu mengecup pipiku, mengambil krim itu dengan bibirnya. Aku dapat merasakan wajahku yang memanas karena perlakuannya. Dia benar-benar ingin membuatku serangan jantung atau apa?

“Ya!” bentakku kesal. Ia hanya tertawa keras, lagi-lagi membuatku mengerucutkan bibirku karena kesal.

“Kau tak ingin tau harapanku?” tanyanya setelha tawanya selesai.

“Mana boleh begitu. Harapanmu tak akan terkabul jika orang lain mengetahuinya.” Jawabku.

“Oh, ya? Kau benar-benar tak ingi n tau?” Tanyanya menggodaku.

“Ani.” Jawabku lagi. Bohong. Sebenarnya aku sangat penasaran dengan permohonannya.

“Aku ingin kau.” Ucapnya tiba-tiba. Aku menoleh cepat untuk menatapnya. Matanya lurus menatap balik mataku. Aku mencoba mencari kebohongan yang mungkin tersira dari situ, tapi aku tak menemukannya. Hanya ada keseriusan di sana.

“Apa maksudmu?”

“Aku mencarimu, Haera-ya… selama ini aku mencarimu,  dan kau tak tau itu. Aku mungkin bodoh karena tak benar-benar berusaha keras untuk menemukanmu. Seharusnya aku bisa bertanya kepada orang tuamu di Cheonan, tapi aku tak melakukannya. Aku hanya bertanya hal-hal tentangmu kepada Jongjin, dan ia juga kehilangan jejakmu.”

Aku tercekat mendengar ucapannya. Jadi dia mencariku? Dan dengan bodohnya aku selalu bersembunyi darinya.

“Tapi kau punya pacar waktu itu.” refleks mulutku menanyakan hal itu. Rasa penasaranku terlalu besar.

Ia tertawa pelan. “Aku menunggu saat dimana kita bisa bertemu lagi. Bertahun-tahun dan itu bukan hal yang mudah, kau tau? Aku merasa jenuh dengan penantian itu. Masalahnya aku tidak terlalu percaya pada hal yang bernama keajaiban, yang mungkin bisa mempertemukan dua orang yang terpisah secara fisik dan hati. Dan aku tak sebodoh kau. Apa maksudmu dengan menungguku tanpa menghampiriku sedikitpun, huh?”

Aku tertawa miris, menyadari semua sikapku selama ini. Aku memang mencintainya. Sangat. Tapi kenyataannya aku tak pernah memperjuangkan hal itu sedikitpun, malah tenggelam dengan segala ketakutanku yang tak beralasan.

Aku meraih tas kecil berisi hadiahku untuknya. “Aku tak bisa memberi yang lebih dari ini.”

“Aku hanya butuh kau sebagai hadiah terbaikku tahun ini.” Aku melongo mendengar ucapannya. “akan kubuka nanti.”

“Kalau saja aku tak menemukanmu sekarang, mungkin aku akan mempertimbangkan untuk menikah.” Lanjutnya lagi dengan santai, aku memandangnya dengan tatapan yang mulai mengabur.

“Kau… punya kekasih?” suaraku terbata.

“Emm… sayangnya tidak. Aku jadi harus menerima kenyataan bahwa sekarang aku terjatuh lagi dengan seorang gadis bodoh yang berhasil meluluhkan hatiku tujuh tahun lalu.” Ia mengembangkan senyumnya, dan saat itu juga akumerasakan sebulir air mata mengalir di pipiku tanpa bisa kubendung.

Ia mengulurkan tangannya, mengusap air mataku dengan lembut. “Nan jeongmal sayanghae…” ucapnya lembut.

Paru-paruku seperti diremas hingga aku merasa kesulitan bernafas saking senangnya. Aku tak benar-benar tahu apa arti kata yang baru saja ia ucapkan, namun aku tahu artinya tak akan jauh berbeda dengan harapanku. Tak tahan lagi, aku langsung memeluk tubuhnya, menyurukkan wajahku ke dadanya yang bidang. Kuhirup nafas dalam-dalam di sana, dapat kucium aroma parfum yang berbaur dengan wangi tubuhnya, aroma favoritku. Ia merengkuhku dengan kedua tangannya, membenamkan wajahnya ke rambutku. Penantianku selama ini… bolehkah aku menyesal karena telah menunda kesempatan seperti ini selama bertahun-tahun? Aku benar-benar bodoh.

“Apa artinya?” tanyaku setelah melepaskan pelukanku.

“Sayanghae?”

“Eung.” Kuanggukkan kepalaku.

“Sayang. Itu bahasa Indonesia. Artinya tak jauh berbeda dengan cinta. Aku tau itu karena Hyuk cukuo sering mengucapkannya.”

“Dan kau menggabungnya dengan kata saranghae?” tanyaku lagi. Ia menganggukkan kepalanya sambil tersenyum.

“Gurae…” aku mengalihkan pandanganku dari matanya. Euh, untuk menjawabnya saja aku merasa segugup ini.

“Nado… sayanghae…” ucapku pelan. Wajahku lagi-lagi memanas kali ini.

Kurasakan tangannya meraih daguku, mengangkatnya hingga aku mendongak dan menatapnya. Aku tau apa yang akan terjadi kemudian dan memutuskan memejamkan mataku saat wajahnya mulai mendekat. Kurasakan hembusan nafas hangatnya menerpa kulit wajahku, membuat ritme jantungku kembali berantakan. Aku meremas kausnya saat ia menyentuhkan bibrnya ke bibirku, mengecupnya pelan. Ia menarik tengkukku untuk memperdalam ciumanya.

Tanganku hendak melingkar ke lehernya saat tiba-tiba pintu menjeblak terbuka. Dengan cepat kudorong tubuhnya agar menjauh dari tubuhku. Terdengar suara riuh beberapa namja yang  berebut masuk ke dalam ruangan ini.

“Aaaah, tujuh menit saja kita terlambat ke sini kurasa kita akan mendapatkan keponakan dari mereka.” Aku bisa menebak itu adalah suara Ryeowook tanpa melihat wajahnya. Suaranya lembut, seperti sosoknya yang tampak polos seperti anak kecil, tapi tingkat ke-evilannya berbanding terbalik dengan kepolosannya itu. Aku tak berani melihat ke arah mereka, yakin bahwa wajahku sekarang pasti sudah merah padam.

“Lain kali jangan biarkan mereka berduaan saja, Hyung. Mereka akan menodai dorm kita.” Aku menatap sengit Kyuhyun yang sudah berada di hadapanku, mencolek-colek kue tart untuk memakannya.

“Ternyata ideku cemerlang. Aku kesal melihatnya diam-diam menggerutu karena tak menemukan ‘gadisnya yang hilang’.” Ucap Ryeowook senang.

“Dan rencana kita untuk mempercepat peresmian hubungan mereka berhasil.” Tambah Eunhyuk oppa dengan semangat.

“Aigoo, Hyung. Kau resmi berpacaran dengannya tepat di hari ulang tahunmu. Aku iri padamu.” Gerutu Kyuhyun yang langsung diiyakan oleh Eunhyuk dan Ryeowook.

“Sudahlah jangan menggodanya.” Ucap Yesung kesal.

“Ya, mari kita rayakan bersama. Aku membelikan banyak makanan untuk kalian” Leeteuk oppa masuk dengan membawa dua kantong plastic besar berisi makanan.

“Hyung kau melewatkan adegan penting.” Seru Hyuk oppa dengan keras. “Kau tau? Mereka tadi berci-“ Yesung dengan cepat membekap mulut namja itu dengan tangannya.

“Mereka berciuman, Hyung.” Timpal Ryeowook santai sambil memasukkan potongan kue ke dalam mulutnya.

“MWOYA?!!” Leeteuk oppa seketika berteriak keras.

Dorm ini seketika heboh dengan segala kegilaan semua penghuninya. Aku dan Yesung menjadi bahan ledekan mereka semua. Malam ini benar-benar akan menyenangkan kurasa.

Banyak hal yang bisa menunggu di dunia ini, termasuk cinta. Tapi semua hal memliki titik jenuh yang berbeda-beda waktunya, dan aku bersyukur kami telah menemukan cinta itu sebelum penantianku dan penantiannya menemui titik jenuh tersebut.

-FIN-

Ini FF pertamaku yang aku kirimkan ke FFL, maaf kalo abal banget.

Oh iya, eniwei kata-kata sayanghae itu aku nyomot dari FF Bee onnie yang nulis My Lovely Fox di FFL juga. Aku suka banget makanya aku masukin di sini. Kkk ^^

Dan buat semuanya yang udah mau baca, jeongmal gomawo… mohon kritik dan saran ‘yang membangun’. Kritik dan saran juga diterima melalui acc twitter aku @trililiii *deep bow*