Author: Stephanie Naomi

Title: Music, Dream and Love [Part 2]

Length: Continue

Genre: Romance

Cast: Taecyeon, Wooyoung, Junho (2PM), Suzy (missA), Park Jin Young (Teacher), Bae Su Jung, Lee Jung Ah, Park Yoon Hae (Imaginary Cast)

 

Annyonghaseyo! Maaf beribu maaf banget kalo lanjutannya ini kelamaan😦 I got some trouble with my modem… Jadi sekarang baru bisa dinikmatin lanjutannya. Langsung aja dibaca yah ++ dikomen. Semoga menyenangkan hati semua para pembaca! ^^

 

***

 

Taecyeon sedang duduk didepan Piano Grand miliknya yang berada diruang keluarganya. Beberapa kertas partitur tersebar di atas Piano Grand itu. Ada pula yang tersebar dilantai. Sementara Taecyeon sendiri sibuk dengan pensil dan 3 kertas di hadapannya. Sesekali ia menulis, sesekali ia bermain piano. Terus begitu sampai ia mendengar ponselnya bergetar. Ia pun langsung mengambil ponselnya diatas Piano Grand tersebut dan mendorong slide ponsel miliknya ke atas.

 

“Yoboseyo?”

 

“Taecyeon ssi, Suzy imnida.”

 

“Aku tau. Aku menyimpan nomormu. Ada apa?”

 

“Ada apa?!” gumam Suzy dalam hati. Rasanya ia ingin meledak. Namun ia tidak mau ajakkannya kali ini gagal.

 

“Kulihat… Permainan basketmu bagus hari ini.” kata Suzy, dan setelah itu ia merasa bodoh dengan awal percakapan yang tidak penting itu.

 

“Jadi kau meneleponku hanya untuk memuji permainan basketku? Kau ini hanya membuang waktuku saja.” Taecyeon sedikit mengomel, “Lagipula, memangnya kau tahu kalau aku suka bermain basket? Kau kan hanya mengenalku di klub musik saja.” sambungnya yang membuat Suzy sedikit kebingungan harus menjawab apa.

“Ya, memang aku tidak tahu, tapi aku mendengar teriakan-teriakan penggemar mu.” jawab Suzy seadanya.

 

“Oh… Begitu. Jadi tujuanmu meneleponku hanya untuk bicara hal ini?” tanya Taecyeon yang tidak langsung di jawab Suzy, “Baiklah, kumatikan saja telefon mu. Sampai jum….”

 

“Yah! Aku ingin mengajakmu latihan untuk lagu duet.” jawab Suzy buru-buru sebelum lagi-lagi usahanya gagal.

 

“Latihan? Ooooh… Aku hampir lupa kalau aku harus duet denganmu.” Taecyeon dengan santai membalas ocehan Suzy. Ia bangun dari bangku piano nya dan menuju bar kecil didapur untuk mengambil minum.

 

“Kau memang benar-benar keterlaluan.” ucap Suzy mencibir.

 

“Hey hey hey, aku ini kakak kelasmu. Sopan sedikit.” protes Taecyeon. Suzy memang tidak pernah memanggilnya dengan embel-embel Oppa.

 

“Aku tidak peduli. Aku hanya ingin kita latihan sesegera mungkin. Konser tinggal 1 bulan lagi.”

 

Taecyeon diam sejenak. Ia menegak segelas air putih dan menaruh gelasnya kembali di atas bar kecil itu.

 

“Taecyeon ssi?” terdengar nada bicara Suzy yang tidak sabar dari ujung telepon Taecyeon.

 

“Ya… Baiklah. Kita latihan sekarang.”

 

“Sekarang?” kali ini giliran Suzy yang kewalahan sendiri. Rencana awalnya ia ingin tidur terlebih dahulu karena ia cukup capek hari ini.

 

“Aish, bocah ini. Tadi kau memaksaku, sekarang aku jawab “Ya”, kau malah kebingungan. Sebenarnya apa mau mu?” nada bicara Taecyeon naik satu oktaf. Ia kembali berjalan menuju Piano Grand hitam miliknya dengan mengapit ponsel antara telinga dan pundaknya, tangannya yang bebas membereskan partitur-partitur yang berantakan.

 

“Geraeyo. 30 menit lagi kita bertemu di ruang musik sekolah.” balas Suzy cepat tanpa ingin ada lanjutan perdebatan antara ia dan kakak kelasnya itu.

 

Klik. Hubungan telepon pun terputus. Belum sempat Taecyeon mengucapkan kata-kata “Sampai bertemu nanti.”, tapi adik kelasnya itu sudah langsung mematikan teleponnya. Taecyeon langsung menutup slide ponsel nya dan memasukkan ponsel miliknya ke dalam saku celananya. Ia pun berjalan menuju kamarnya sambil membawa setumpuk partitur-partitur piano yang telah ia bereskan. 10 menit kemudian, Taecyeon sudah siap dengan sweater abu-abu yang dipadukan dengan celana hitam. Ia menenteng postman bag favoritnya untuk membawa kertas partitur-partitur miliknya. Tidak lupa ia membawa helm putih kesayangannya.

 

“Kau mau kemana, Taecyeon-ah?” tanya Park Yoon Hae, ibu Taecyeon, sambil berjalan menuruni tangga rumahnya yang sangat besar.

 

“Latihan, Eomma. Konser sekolah tinggal 3 minggu lagi.” jawab Taecyeon.

 

“Tapi, kau kan sudah punya piano sendiri?”

 

“Latihan duet. Ada dua lagu yang harus menggunakan 2 piano. Dan hanya 1 lagu yang menggunakan 1 piano.”

 

“Kalau begitu, kapan-kapan ajak teman duet mu latihan dirumah. Eomma ingin mendengar permainan piano nya.”

 

“Ne~ nanti akan aku ajak dia kesini. Doakan saja ia mau.”

 

“Doakan? Memangnya ada apa dengan dia? Kau ada masalah dengannya?”

 

“Aniyo~, dia hanya adik kelasku, jadi kami tidak terlalu dekat.”

 

“Oooh, araesso. Baiklah, hati-hati Taecyeon-ah.”

 

“Ne, eomma. Aku pergi dulu.” ucap Taecyeon mengakhiri pembicaraan dengan ibunya. Ia bergegas menuju motornya yang terparkir di garasi indoor rumahnya.

 

Tidak sampai setengah jam, Taecyeon sudah sampai disekolahnya, tepatnya di ruang musik. Ia tidak melihat Suzy ada disana. Ia mengambil ponselnya, tetapi mengurungkan niatnya untuk menelepon Suzy dan memutuskan untuk mengomelinya nanti saja. Sambil menunggu Suzy ia bermain beberapa lagu yang sudah ia hafal dengan salah satu piano di ruang musik. 20 menit kemudian, Suzy datang dengan tergesa-gesa, dengan partitur-partitur yang berantakan didalam dekapannya. Ia menggunakan dress berwarna hijau toska, jaket kulit berwarna hitam dan juga legging hitam semata kaki.

 

“Kau yang membuat janji tapi kau sendiri yang mengingkarinya. Aku sudah terlalu lama disini. Kau berhutang waktu padaku.” ocehan Taecyeon langsung mengalir tanpa henti seraya Suzy berjalan menuju piano diseberang piano yang ditempati Taecyeon.

 

“Mianhae…” jawab Suzy singkat. “Lagipula, kurasa kau yang datang kecepatan.” sambung Suzy membela dirinya sedikit.

 

“Maaf? Aku akan memaafkan kau nanti. Dan partitur itu? Kau biarkan lecek didalam pelukan mu? Kau ini bodoh sekali.” Taecyeon kembali mengomel, tidak mempedulikan pembelaan diri dari Suzy. Namun kali ini Suzy tidak membalas. Ia merapikan kertas partitur-partitur nya yang cukup lecek dengan menggosokkan telapak tangannya diatas kertas itu, berharap bisa lurus kembali.

 

“Yah, kenapa kau diam saja?” nada bicara Taecyeon mulai biasa, walaupun masih terdengar sedikit menyebalkan. Suzy tetap diam dengan aktivitasnya dan Taecyeon mulai curiga. Karena Suzy tidak terlihat, tertutup dengan katup Piano Grand yang sengaja dibuka agar suaranya terdengar jelas, Taecyeon pun menghampiri Suzy untuk melihat apa yang sedang Suzy lakukan.

 

“Aish, sesange~! Kau ini, bodoh sekali. Bukan begitu caranya. Sampai kapanpun tidak akan pernah lurus jika seperti itu.” Taecyeon mengoceh lagi, kali ini dengan menarik kertas-kertas yang sedari tadi dikerjakan oleh Suzy. Suzy terperangah, matanya mengikuti arah Taecyeon yang sedang berada berjalan menuju rak buku-buku diruangan itu. Taecyeon mengambil 2 buku yang cukup tebal dan mulai menyelipkan kertas-kertas partitur milik Suzy diantara halaman-halaman kertas di buku tersebut. Terakhir, Taecyeon mengambil 1 buku yang tidak kalah tebal juga dan menaruhnya diatas 2 buku yang telah diselipkan kertas-kertas partitur milik Suzy.

 

“Dengan begini, kertasnya akan kembali lurus, walaupun tidak seperti baru, tapi setidaknya lebih baik daripada usahamu yang bodoh itu.” ucap Taecyeon ketika sudah menyelesaikan pekerjaannya itu dan berjalan kembali menuju pianonya. Suzy tetap diam. Kali ini ia tidak punya kertas partitur sama sekali. Ia marah dan kesal. Bagaimana ia akan berlatih jika kertas-kertas itu tidak ada dihadapannya?

 

“Hey. Aku tidak mengerti dengan jalan pikiranmu. Kenapa kau tetap diam? Sudah bagus aku bantu kau.” Taecyeon mulai mengoceh lagi.

 

“SUDAH PUAS KAU MENGUTUKKU BODOH?” teriak Suzy kesal. Nada bicaranya 2 oktaf lebih tinggi daripada Taecyeon. Taecyeon kaget dari balik pianonya. Tapi sedetik kemudian, ia tidak mau kalah membalasnya.

 

“KAU MEMANG BODOH! Kalau kau tidak bodoh, kau akan melakukan hal yang sama denganku, atau hal yang lebih briliant daripada aku. Dan yang terpenting, kau akan membawa kertas-kertas itu dengan tas!” bentak Taecyeon. Acara latihan mereka berantakan seketika.

 

“Kalau begitu, kau tidak usah berduet denganku, aku memang bodoh, tidak pintar sepertimu!” dan Suzy langsung berlari keluar dari ruang musik. Taecyeon diam sesaat dibangku pianonya, merasa dirinya bersalah karena telah menghancurkan acara latihan. Sedetik kemudian, Taecyeon berlari menyusuri koridor lantai 2, karena memang ruang musik berada di lantai 2, tapi ia tidak menemukan Suzy. Taecyeon berpikir cepat dan ia langsung menuju kamar mandi perempuan. Ia mengetuk pelan pintu kamar mandi itu.

 

“Suzy, keluarlah.” nada bicara Taecyeon mulai kalem, namun tidak balasan dari dalam kamar mandi.

 

“Suzy, aku tau kau berada didalam. Cepat keluarlah. Aku berjanji tidak akan bilang kau bodoh lagi.” Taecyeon kembali berbicara.

 

“Yah! Suzy! Sampai kapan kau mau didalam terus?! Kesabaranku mulai habis. Cepatlah kau keluar dan kita selesaikan latihan hari ini! Kau mengerti? Aku tunggu kau diruang musik! Cepat!” kata Taecyeon dengan nada yang lebih tinggi dari sebelumnya dan langsung pergi menuju ruang musik. Dari dalam, Suzy mendengar derap langkah Taecyeon yang menjauh. Begitu ia yakin Taecyeon sudah jauh dari kamar mandi perempuan, ia langsung membuka pintu kamar mandi itu.

 

“Tsk! Kenapa kau begitu menyebalkan. Dalam sedetik kau bisa menjadi malaikat tetapi sedetik kemudian kau kembali menjadi iblis. Dasar lelaki menyebalkan.” gerutu Suzy dalam hatinya sambil merapikan dress nya, lalu ia kembali ke ruang musik untuk latihan.

 

Dalam radius kurang lebih 100 meter, Suzy mulai bisa mendengar dentingan piano yang diciptakan oleh Taecyeon. Emosinya sudah lenyap. Terdengar dari lagu yang dibawakan Taecyeon penuh penghayatan: Largo, George Frederic Handel. Suzy mendengarkan dari luar ruang musik, ia sengaja tidak mau masuk karena ia tidak ingin mengacaukan permainan Taecyeon. Largo adalah salah satu lagu yang akan dibawakan Taecyeon pada konser sekolah nanti. Taecyeon bermain sampai akhir dengan sangat baik. Dan keheningan tercipta setelah Taecyeon selesai bermain.

 

“Aku sudah tidak marah padamu dan aku pegang janjiku tadi. Masuklah.” ucap Taecyeon seakan-akan mengetahui keberadaan Suzy diluar ruang musik. Suzy pun langsung berjalan masuk tanpa melihat Taecyeon dan duduk di depan satu piano yang masih kosong.

 

“Permainan mu bagus.” kata Suzy seadanya.

 

“Kalau permainanku jelek, aku tidak akan bisa memenangkan beasiswa itu.” balas Taecyeon.

 

“Jadi, kau serius dengan beasiswa itu? Dan kalau kau memenangkannya, kau akan benar-benar pergi ke Eropa?” tanya Suzy dengan mata melebar.

 

“Tentu saja. Itu salah satu tujuan hidupku.” jawab Taecyeon mengalir, dan sesaat kemudian keduanya tidak berbicara sepatah katapun.

 

“Oooh…” mulut Suzy membulat, tanpa mengeluarkan suara, “Sekarang, bagaimana aku bisa latihan jika kertasku sedang dalam proses brilianmu itu?” tanya Suzy bersuara, mengalihkan pembicaraan.

 

“Kita bisa menggunakan partitur ku. Kita latihan lagu dengan single piano dulu saja, bagaimana?” tawar Taecyeon.

 

“Eh?” Suzy merasa sedikit grogi ketika Taecyeon menyuruh untuk duduk disebelahnya. Seharusnya ia berpikir sampai sejauh ini ketika ia menerima tawaran untuk duet dengan Taecyeon pada konser akhir tahun.

 

“Tapi, aku belum terlalu bisa lagunya. Aku baru belajar lagu double piano.” sambung Suzy buru-buru sebelum Taecyeon menyadari bahwa Suzy grogi.

 

“Sesange! Kau ini, baru belajar piano 1 tahun? Tidak usah langsung tempo cepat, kita main tempo sedang dulu saja. Ayolah, kau benar-benar membuang waktuku saja.”Taecyeon terdengar seperti ingin marah, namun nada bicara nya kembali normal.

 

“Ne~.” Jawab Suzy singkat dan dengan cepat ia berjalan menuju piano Taecyeon dan duduk disebelah Taecyeon, serta mencoba menghilangkan semua rasa grogi yang sedang ia rasakan. Mereka pun berlatih terus sampai tidak terasa waktu terus berlalu dan lagu Eine Kleine Nachtmusik (Serenade in G major KV 525) mereka mainkan dengan cukup baik, walaupun masih dalam tempo sedang dan masih ada beberapa part yang berantakan.

 

“Kau berlatih dengan baik, Suzy.” kata Taecyeon setelah denting terakhir piano berakhir berbunyi. Ia mengambil 2 kaleng minuman isotonik dari dalam tas nya dan memberikan satu kepada Suzy. Suzy langsung menerimanya, membuka dan menegaknya dengan cepat.

 

“Kurasa lain kali aku harus bawa setengah lusin minuman khusus untukmu.” komentar Taecyeon melihat gaya minum Suzy yang mirip unta.

 

“Aish! Ini akibat kau tidak mau berhenti, aku capek sekali. Aku mau pulang.” balas Suzy sambil menaruh kaleng minuman itu diatas piano sekolahnya itu dan berjalan menuju tumpukan buku, dimana kertas partiturnya masih terselip disitu. Taecyeon menghampiri Suzy yang sedang mengambil kertas-kertas itu.

 

“Kau lihat, jauh lebih baik, kan?” ucap Suzy bangga melihat hasil dari ide nya itu tidak sia-sia.

 

“Ya, ya, ya. Aku sudah bilang dari awal, kau memang pintar.”

 

“Lain kali bawa kertas-kertas ini menggunakan map, araesso?!”

 

“Ara ara~…”

 

“Good. Kalau begitu, kau pulang duluan saja, biar aku yang bereskan.” Taecyeon bersikap lebih ramah kali ini. Suzy cukup terkejut dengan perubahan sikap Taecyeon yang tiba-tiba rajin. Suzy mengenal Taecyeon di dalam klub musik sebagai orang yang sangat cuek dengan sekitarnya.

 

“Jinjja?”

 

“Tentu saja tidak. Kau tidak ingat, kau hutang 2 kali padaku?” ucap Taecyeon. Suzy mencibir.

 

“Latihan selanjutnya, giliran kau yang bawa minum dan membereskan ruangan, oke?”

 

“Tsk. Lihat saja nanti. Aku pergi dulu.” kata Suzy cepat dan ia langsung melesat keluar. Saat itu matahari sudah mulai terbenam. Ternyata waktu tidak terasa berlalu cepat ketika ia sedang latihan bersama Taecyeon. Suzy memperlambat langkahnya. Ia mengingat Taecyeon dan hal-hal yang telah mereka lakukan sore ini. Taecyeon ternyata tidak seburuk yang ia bayangkan. Taecyeon dalam klub musik memang pendiam, bahkan jarang mencetuskan ide-ide. Tetapi, Suzy merasa hari ini Taecyeon menjadi sangat aktif dan bawel. Suzy tersenyum kecil, lalu ia kembali mempercepat langkahnya.

 

* * *

 

“Junho-ah?”

 

“Ne~ ada apa kau meneleponku?”

 

“Kalau kau pikir, apakah aku benar-benar akan mendapatkan beasiswa itu?”

 

“Tentu saja. Aku yakin 1000%, kau akan mendapatkan beasiswa itu dan berangkat ke Eropa.” jawab Junho dari ujung telefonnya.

 

“Tapi, aku sekarang merasa berat untuk meninggalkan Korea.”

 

“MWO??!!” Junho yang tadinya sedang bermalas-malasan diatas sofanya langsung duduk tegak dan menempelkan ponsel ke telinganya rapat-rapat, “Ada apa denganmu? Jangan bilang…”

 

“Yah! Jangan mulai bicara yang tidak-tidak. Sampai jumpa besok, bye.”

 

Klik. Hubungan telepon terputus. Taecyeon langsung menutup slide handphone, memakai helm dan langsung mengendarai kembali kendaraan kesayangannya itu menuju rumahnya. Sementara Junho bertanya-tanya pada dirinya sendiri apa maksud ucapan Taecyeon ditelefon.

 

* * *