Author : Bee

Main Cast : Go Miho, Eunhyuk,

Support Cast : Euncha, Leeteuk, Lee Jihoon, Suju member, SME artists

Rating : AAbK

Genre : Romance

1st published @ http://wp.me/p1rQNR-6g

 

^^^

 

Noona neomu yeppeo (geu geunyeoreul boneun naneun) Michyeo (ha hajiman ijaen jichyeo) Replay Replay Replay Chueogi nae mameul halgwieo (a apaseo ijaen mameul) Gochyeo (da dagaol ibyeorae nan) Replay Replay Replay

Terdengar Shinee menyanyikan lagu mereka dari atas panggung. Miho dan Euncha ikut bernyanyi juga, tapi tidak seheboh mereka yang berada di bawah sana. Saat ini Miho dan Euncha sedang berada di lantai dua, di kantor Lee Jihoon, ditemani pria itu menyaksikan penampilan para artis SME di halaman utama kampus mereka.

SME bekerja sama dengan beberapa sponsor, salah satunya adalah Universitas Miho, sedang mengadakan konser amal untuk menggalang dana bagi anak-anak penderita kanker. Konser diadakan di kampus mereka yang memang memiliki halaman luas dan panorama landscape yang indah karena terletak di tempat yang cukup tinggi. Kantor Jihoon menghadap langsung ke halaman tersebut sehingga bisa dimanfaatkan oleh Miho dan Euncha yang tidak berani menonton langsung karena takut ada apa-apa lagi. Jihoon sendiri kebetulan memang berniat lembur hari minggu ini, jadi dia memperbolehkan kedua gadis itu menemaninya di kantor.

“Ya, ya! Apa kalian tak kasihan padaku? Kupingku sudah hampir tuli gara-gara mendengar suara kalian yang tidak enak didengar!” Jihoon pura-pura protes, meski matanya tak lepas dari lembaran kertas yang berserakan di hadapannya.

Kedua gadis itu menoleh marah pada Jihoon. Enak saja orang itu bilang suara mereka tak enak didengar. “Orang yang ga bisa nyanyi diem aja deeeh!” sahut Miho kesal.

Meski ingin mengatakan hal yang sama, Euncha tidak bisa melakukannya, sebab dia sudah pernah melihat Jihoon menyanyi sewaktu pergi bersama pria itu ke pernikahan kakaknya. Pria itu menyanyikan lagu pernikahan untuk kedua mempelai dengan bagus sekali.

“Orang yang ga tau diem aja deeeeeh!” sahut Jihoon tak peduli sambil masih mengerjakan tugas-tugasnya.

Miho sebenarnya ingin membalas, tapi karena dia melihat Jihoon tidak terlalu memperhatikannya, dia memutuskan tidak mau membuang tenaganya sia-sia. Maka dia kembali menghadap ke arah luar, melanjutkan menonton, begitu pula dengan adiknya. Sayang, ternyata acara memasuki break sebentar.

Akhirnya Miho memanfaatkan kesempatan itu untuk pergi ke toilet, meninggalkan Euncha dan Jihoon dalam ruangan. Toilet itu berada tepat di depan ruangan Jihoon, sehingga Miho tidak perlu berjalan jauh-jauh. Lima menit kemudian dia sudah selesai dan segera keluar karena takut ketinggalan acara. Dengan terburu-buru dia melangkah keluar. Betapa terkejutnya Miho ketika di pintu toilet tubuhnya bertubrukan dengan seseorang.

“AKH!” orang itu berseru kesakitan karena benturannya cukup keras. Sementara Miho sendiri terpental lagi ke belakang, tidak kalah kesakitan.

Ketika keduanya melihat siapa yang ditabrak, mulut mereka melongo. Tepat sebelum keduanya sempat berkata apapun, terdengar suara seseorang keras, “Oppa, gwenchanha?!”

Miho melihat siapa yang bicara. Seorang gadis dengan seragam kru sedang memeriksa pria yang dipanggilnya Oppa dengan seksama. Gadis itu menoleh cepat ke arahnya. Pandangan marah yang tadinya terlihat di matanya langsung berubah menjadi benci begitu melihat Miho. “Seonbaenim! Hati-hati dong kalau jalan!” katanya sengit.

Miho meraba bahunya yang pegal sambil mengamati gadis itu. Seonbaenim? Memang anak ini adik kelasnya ya? Siapa ya? Apa teman Euncha?

“Sudahlah. Miho-ya, gwenchanha?” pria yang ditabrak Miho bertanya sambil mendekati Miho.

Miho mengangguk, “Gwenchanha, Oppa—“ jawabannya terputus oleh seruan dari pintu.

“Leeteuk Oppa!”

Pria yang ternyata Leeteuk itu menoleh dan tersenyum melihat Euncha. “Euncha? Jadi kalian berdua di sini?”

“Oppa ngapain di sini?” Euncha bertanya sambil tersenyum senang melihat Leeteuk. Diamatinya penampilan pria itu. Keren sekali. “Apa kalian juga akan tampil?”

“Ne!” yang menjawab bukan Leeteuk, tapi cewek yang tadi memarahi Miho. “Maaf, Seonbaenim, tapi Leeteuk Oppa harus segera kembali ke bawah. Toilet di sana tadi mengantri, jadi aku mengantarnya ke sini. Mohon jangan menghalangi,” katanya sok. Sesekali matanya melirik memberi peringatan pada Miho.

“Ya! Jang Rena! Bicaralah yang sopan!” Euncha menatap gadis itu galak sekali hingga yang ditatap memerah wajahnya karena salah tingkah.

Leeteuk yang melihat gejala tidak enak memutuskan untuk menengahi, “Sudah, sudah. Aku ke toilet dulu,” katanya. Lalu dia berpaling pada Miho. “Kau tunggu sebentar di sini ya..” ujarnya sambil tersenyum lebar ke arah Miho.

Rena terlihat kesal mendengar itu. Sementara Euncha terlihat puas. Dengan dagu diangkat, dia mendekati Miho dan berdiri di sebelahnya. Gadis itu menatap Rena tajam. Tapi Rena bukan gadis lembek. Sudah lama dia menyimpan perasaan tidak suka kepada Miho. Padahal nenek itu sudah tua, tapi masih bertingkah seperti remaja. Mencuri perhatian cowok-cowok sekampus. Terhadap Euncha sebenarnya dia tidak punya masalah, hanya sepertinya Euncha pasti memihak Miho habis-habisan apapun kasusnya, jadi seringkali dia seperti mengkonfrontasi keduanya, padahal dia hanya membenci Miho. Terlebih setelah gadis itu berhasil membuat skandal dengan Choi Minho dan Leeteuk.

Miho sendiri tidak menyadari kebencian Rena. Atau mungkin itu karena dia sudah terbiasa dengan tatapan benci sesama wanita sehingga tidak terlalu merisaukannya lagi. Dia malah sedang berusaha mengingat siapa gadis ini. Benarkah dia juniornya? Kok Miho tidak ingat? Memang dalam dunia seorang Go Miho, keberadaan orang yang tidak pernah benar-benar berinteraksi dengannya sama dengan penonton yang jati dirinya tersembunyi oleh lampu sorot. Mereka ada di sana, tapi mata Miho tidak mampu melihatnya.

Leeteuk menyelesaikan urusannya, lalu segera keluar. “Miho, Euncha, tontonlah kami,” katanya langsung pada kedua gadis tersebut. “Kalian menonton dari belakang panggung saja, sekalian bertemu yang lainnya,” mata Leeteuk berbinar-binar mengatakannya.

“Tapi, Oppa…” Rena menentang permintaan Leeteuk.

“Wae?” tanya pria itu agak tajam. Dia kurang suka pada sikap Rena. Selain sikapnya yang kurang ajar pada Miho, gadis ini tiba-tiba seolah menguasainya. Padahal mereka kenal saja tidak.

“Eissh, kenapa kalian tidak menutup pintunya!” terdengar suara dari arah ruangan Jihoon. Rupanya pria itu tampak terganggu dengan keramaian di depan ruangannya sebab Euncha tidak menutup pintunya dengan benar. Saat melihat Leeteuk, pria itu langsung terdiam.

Leeteuk melihat Jihoon juga dan otomatis langsung menunduk sopan, “Anyeonghaseyo,” sapanya.

Lalu terdengar juga suara Rena, “Anyeonghaseyo, Seonsaengnim,” ujar gadis itu hormat.

“O,” jawab Jihoon singkat. “Rupanya sedang ramai di sini,” kata pria itu canggung.

Leeteuk berkata riang, “Ah, Jihoon ssi, ayo ikutlah juga. Saya sedang mengajak Miho dan Euncha untuk datang ke area backstage.”

Jihoon tersenyum. “Begitu ya? Tawaran yang bagus sekali. Sayangnya aku harus menyelesaikan pekerjaanku, jadi aku memilih tidak ikut. Kalian kalau mau pergi, pergi saja. Tinggalkan tas kalian di sini agar tidak repot. Aku masih di sini sampai sore, kok,” ujar pria itu memberi ijin pada Miho dan Euncha.

“Oppa yakin tidak apa-apa?” Euncha terlihat ragu. Dia ingin menemani Jihoon, tapi khawatir membiarkan Miho berkeliaran sendiri.

Jihoon tertawa. “Ya! Kau pikir aku anak kecil? Ini kan kantorku. Sudah, kalian pergi saja. Asal hati-hati. Di sana banyak fans,” ujarnya memperingatkan.

“Tenang saja, Jihoon ssi. Saya yakin mereka akan aman di tempat kami,” Leeteuk menenangkan Jihoon. Dia menghormati pria itu. Tingkahnya benar-benar menunjukkan kedewasaan usianya.

“O,” Jihoon menjawab santai. “Geundae, Rena. Kau magang lagi ya?”

Rena mengangguk kecil, tersipu disapa oleh Profesor muda yang tampan itu. Jihoon tersenyum padanya, “Bekerjalah yang rajin. Tapi jangan lupa, lusa kau masih ada presentasi yang harus dilakukan, mengerti?”

Rena tersenyum lebar. Sesaat dia lupa akan keberadaan Miho yang selalu membuatnya naik darah meski wanita itu tidak sedang melakukan apapun. Profesor Lee Jihoon memang dosen favoritnya di kampus. Selain masih muda dan enak dilihat, pria itu juga sangat mudah didekati dan sering dijadikan tempat curhat bagi banyak mahasiswa. “Ne, Seonsaengnim!” serunya sebagai jawaban.

Jihoon mengangguk senang melihat semangat Rena. Gadis pintar yang bersemangat. Sifatnya agak mirip Euncha, keras dan pantang menyerah, tapi kehausannya akan perhatian orang lain mengingatkannya pada Miho. Sayang, tidak seperti Miho yang tidak pernah ambil pusing pada orang-orang yang tidak dia suka maupun tidak menyukainya, Rena sering mengalihkan konsentrasinya untuk membenci orang yang tidak disukainya sepenuh hati, seperti pada Miho.

Ah, sudahlah. Toh mereka berdua tidak akan berinteraksi lebih jauh, pikir Jihoon sambil membalas anggukan pamit dari Leeteuk yang kemudian berjalan pergi bersama mahasiswa dan dua gadis favoritnya.

Pria itu memperhatikan keempatnya berjalan menjauh dan langsung agak kasihan melihat Rena yang nampak terpisah dari tiga orang lainnya.

Yang diperhatikan memang sedang kembali merasa kesal. Tidak bisa ya, masa indahnya tidak dirusak oleh rubah penyihir itu? Rasa irinya pada Miho memang sudah meluap-luap. Dia bukan gadis bodoh, bahkan termasuk yang terpintar seangkatannya, tapi masih tidak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan kepintaran Miho. Sayangnya, semua orang mengenal Miho sehingga kalau dia tidak bisa melampaui prestasi Miho yang tidak seperti manusia itu, dia tetap tidak akan dianggap unggul. Yang membuatnya lebih sakit hati adalah, dengan kemampuannya itu, Miho tampak tidak peduli bahkan menyia-nyiakan bakatnya dan malah beralih jadi wanita penggoda. Dasar jalang, pikirnya sewaktu melihat Miho bermanja-manja pada Leeteuk.

Leeteuk sudah tidak memperhatikan yang lain. Saat ini tiba-tiba semangatnya pulih dengan cepat. Setelah tadi merasa terganggu dengan udara panas dan pemikiran harus menampilkan gerakan-gerakan dance yang bisa membuat dehidrasi, sekarang dia merasa dia bahkan sanggup tampil selama satu jam penuh. Hanya karena bertemu Miho. Sama sekali dia tidak menyangka bahwa kampus ini adalah bekas kampus Miho.

Mereka berdua berjalan hampir tanpa menyadari keberadaan Euncha dan Rena. Euncha sih tidak masalah, dia toh bukan tipe yang suka bicara sambil berjalan, kecuali hanya berjalan berdua, atau topiknya benar-benar menarik. Malah ingatannya sekarang kepikiran ke kantor Jihoon. Merasa

kasihan pada pria itu karena harus bekerja di akhir pekan yang cerah seperti ini. Lalu dia ingat pesan Jihoon pada Rena. Dia menoleh pada Rena, lalu bertanya, “Ah, kau ada presentasi apa lusa?” tanyanya enteng.

Yang ditanya menatapnya lalu menjawab dan mulai bercerita mengenai kuliahnya. Hal itu mengawali percakapan keduanya. Leeteuk dengan Miho, Euncha dengan Rena, mereka berempat terus begitu sampai di area backstage ketika Rena harus memisahkan diri.

 

^^^

 

“Hei! Lihat siapa yang datang!” Leeteuk berseru antusias di ruang ganti.

Ya, karena ini adalah konser terbuka, semua artis ditempatkan hanya dalam dua ruang tunggu. Ruang tunggu pria dan wanita. Semua yang di dalam menoleh. Di sana ada member Suju yang lain, Shinee, serta DBSK.

Miho dan Euncha langsung berseru girang, “Gyaaa!!! HoMin!!!”

Bersamaan dengan beberapa member Suju yang berseru, “Mihyung!”

Eunhyuk yang mendengar seruan Miho dan Euncha langsung protes dengan sebal, “Ya! Kalian sudah tidak mengenal kami lagi ya? Cuman gara-gara ngeliat Yunho sama Changmin?!”

Wajah Euncha bersemu merah dan dia menatap Eunhyuk, “Mian Oppa…” katanya tidak enak. Tapi hanya sebentar karena sejurus kemudian dia dan Miho sudah sibuk mengatur rencana meminta tanda tangan Yunho dan Changmin.

“Eeeissh, kalian ini!” Leeteuk ikut-ikutan menggerutu. Dijitaknya pelan kepala Miho dan Euncha. “Tahu begini tidak kuajak kalian kemari!”

Euncha dan Miho memasang bibir manyun mereka memancing tawa dari anggota Shinee.

Terdapat tiga perbedaan sikap di ruangan itu ketika menghadapi Miho dan Euncha. Shinee, yang bersikap senang dengan tulus karena bertemu lagi dengan dua noona lucu yang penuh kejutan. DBSK yang bersikap sopan karena memang belum kenal. Serta Suju yang bersikap setengah senang, setengah agak canggung karena masih takjub dengan hasil ‘transformasi’ Miho dari pria ke wanita, tidak termasuk Leeteuk tentunya.

Pria itu kemudian menarik tangan Miho mendekati kelompoknya, sementara Miho menarik tangan Euncha. Sesampainya di sana, Sungmin berkata ramah pada Miho, “Mihyung, terima kasih kue berasnya waktu itu. Enak sekali.”

Miho tersenyum singkat ke arah Sungmin. “Begitu ya?” tanyanya gugup lalu memandang Yunho dan Changmin.

“Ya! Hyung! Kau ini benar-benar habis manis sepah dibuang ya? Begitu ngeliat mereka berdua ini kau langsung lupa sama kami? Begitu?!” protes Eunhyuk kesal sambil menunjuk Yunho dan Changmin.

Bersamaan dari sisi yang lain, terdengar seruan Key, “Noona sombong sekali, kami tidak disapa!” Memang saat ini kelima member Shinee masih dirias untuk penampilan mereka berikutnya sehingga mereka tidak bisa mendatangi Miho untuk menyapa.

“Hyung?” tanya Yunho membuat sebagian besar anggota Suju terdiam.

Euncha dan Miho langsung saling pandang dan berusaha menyimpan senyum. Di sebelah Miho Leeteuk sudah tidak tahan sehingga tawanya terlepas keras. “Ahahahaha!” memancing tawa Euncha dan Miho juga. Yang lain hanya memandang bingung.

“Annyeong, Key,” seru Miho manis.

Sementara di sebelahnya Leeteuk berkata, “Yunho, Changmin, kemari,” dengan nada menyuruh. Yang disuruh mendekat. “Kenalkan, ini Miho,” kata Leeteuk menunjuk Miho lalu beralih ke arah Euncha, “Dan ini adiknya, Euncha.”

Yunho dan Changmin tersenyum lebar. “Wah, kakak beradik yang cantik. Kalian bukan artis?” tanya Yunho.

Wajah kedua gadis itu bersemu merah karena senang dipuji, sementara di sisi lain member Suju kecuali Leeteuk dan Eunhyuk merasakan bulu kuduk mereka meremang melihat tatapan Yunho yang seperti menggoda Miho. Leeteuk hampir terpingkal lagi memperhatikan reaksi dongsaeng-dongsaengnya, sementara Eunhyuk tiba-tiba merasa tidak suka pada Yunho. Dia bergerak cepat mendekati Yunho yang masih menggenggam tangan Miho, lalu membebaskan tangan Miho dari genggaman Yunho.

Baik Yunho maupun Miho terkejut, dan Miho langsung memprotes Eunhyuk. “YA!”

Sementara itu, member Suju lainnya menghela nafas lega senang dengan keselamatan Yunho yang terjaga.

“DBSK!” tiba-tiba terdengar seruan dari pintu masuk. Ternyata sekarang giliran DBSK untuk tampil.

Seruan itu membuat perhatian Miho teralih dan memberi kesempatan pada hati Eunhyuk untuk lebih tenang. Dia selalu berdebar-debar terintimidasi kalau sifat galak Miho sudah keluar.

Begitu Yunho dan Changmin keluar, Miho langsung mendelik lagi pada Eunhyuk. “Kamu ini ga bisa ya, liat orang senang?! Hilang kan kesempatanku minta tanda tangan?!”

Euncha ikut-ikutan nimbrung, “Ne, Oppa! Aku kan juga pengin foto bareng mereka. Kenapa sih Oppa ini?!”

“Sudah, sudah,” Leeteuk menengahi. “Nanti juga mereka balik lagi. Kalian kan masih bisa minta foto sama tanda tangan pas itu,” katanya.

“Tapi kan tadi chemistry-nya udah dapet, Oppa! Gara-gara Unyuk, nih!” Miho masih tidak terima.

Leeteuk gemas melihat muka Miho. Tanpa disadarinya, dia mencubit pipi Miho lalu mengacak rambutnya sayang, “Aigoo, uri Miho. Kalau marah manis sekali.”

Member Suju yang lain langsung melotot melihat pameran skinship itu. Oh Tuhan, tolong kembalikan leader kami yang polos dan murni… doa mereka sungguh-sungguh, termasuk Heechul yang tiba-tiba berharap Tuhan benar-benar ada. Malah Eunhyuk yang jadi tidak ingat Tuhan. Dia hanya tahu, hatinya tidak suka melihat interaksi antara Leeteuk dan Miho.

Belum sempat cowok itu melontarkan protesnya, terdengar suara Minho di dekat mereka, “Noona, bagaimana kakimu?”

Miho memalingkan wajah dan senyumnya langsung terpasang manis untuk Minho. Eunhyuk meledak. Dia bangkit lalu duduk paling jauh dari Miho sambil memainkan ponselnya.

Member Suju lain mendesah, “Tidak, Minho-ya… rasanya kami lebih terima kalau kau dengan Taemin,” pikir mereka dalam hati. Mereka semua berusaha memalingkan wajah, tak sanggup melihat kebahagiaan Minho yang tak ditutup-tutupi begitu bertemu Miho.

“Aku sudah sembuh,” kata Miho ceria sambil menunjukkan kakinya.

“Hmm, baguslah,” Minho tersenyum senang. “Ngomong-ngomong, kok Noona bisa bertemu Leeteuk Hyung?”

Leeteuk yang menjawab pertanyaan itu, “Aku tadi bertemu dia di toilet. Kalian ga tahu kan? Toilet di atas ternyata sepi, jadi ga perlu ngantri. Dan ini ternyata bekas kampus Miho.”

Minho membuka matanya makin lebar, tapi yang bersuara justru Key, “Jadi kalian kuliah di sini dulu, Noona?” dia bertanya pada kedua gadis itu.

“Bukan dulu,” Euncha mengoreksi. “Kami baru sebulan kok dinyatakan lulus.”

Semua orang lalu mulai bicara. Bertanya mengenai kuliah Miho dan Euncha. Eunhyuk tetap duduk di tempatnya, pura-pura sibuk dengan ponsel, padahal sebenarnya dia ingin bergabung dan tahu lebih banyak tentang Miho. Tapi dia kesal karena pertama, Miho terlalu menikmati perhatian semua orang, tak tahu kenapa Eunhyuk tidak menyukai itu. Alasan kedua adalah, karena lagi-lagi Leeteuk tahu lebih dulu informasi mengenai Miho. Meskipun rasanya tidak masuk akal, tapi Eunhyuk benar-benar sebal dengan itu. Saat semua orang sibuk bercakap-cakap dengan gembira melibatkan kakak-beradik penarik perhatian itu, Eunhyuk memilih pergi keluar untuk meredakan perasaannya yang tidak jelas.

Baru lima menit di luar, pengarah acara mendatanginya, menyuruhnya bersiap-siap karena sebentar lagi mereka harus naik ke panggung. Eunhyuk mengiyakan kemudian kembali memasuki ruang ganti. Saat melihat Miho masih tampak bahagia dikelilingi teman-temannya, Eunhyuk menarik nafas dalam. Saat menghembuskannya kembali, dia melakukannya bersama suara yang cukup keras, “Ayo semuanya! Giliran kita sebentar lagi!”

Suju members menoleh ke arahnya yang sedang berdiri di pintu. Begitu melihat wajahnya yang serius, mereka segera bangun dan berpamitan pada Miho, meninggalkan Shinee dan kedua kakak beradik itu di dalam ruangan.

“O, sampai nanti,” balas Miho ramah pada mereka. Tak sengaja matanya bersitatap dengan Eunhyuk. Perasaan Miho mengatakan ada yang mengganggu pikiran anak itu, buktinya dia langsung melepaskan tatapannya dari Miho. Meskipun tahu bukan urusannya, Miho tetap merasa penasaran .

“Noona, ajak aku berkeliling kampusmu,” pinta Minho tiba-tiba mengagetkan Miho.

Miho dan Euncha terlihat bingung. “Eh?” kata Euncha.

“Iya, Noona. Kami juga,” tiba-tiba Taemin sudah berdiri di dekat mereka.

“Tapi bukannya kalian masih harus tampil?” tanya Euncha tidak yakin.

“Ani, kami hanya tinggal tampil untuk penutupan kok. Yang terakhir, bareng-bareng bersama yang lain,” kali ini Onew yang bicara.

“Nanti kalo ada yang liat gimana?” Euncha lagi yang berbicara. Di sebelahnya Miho hanya mengikuti percakapan mereka. Ada sesuatu yang membuat pikirannya tak bisa sepenuhnya lepas memikirkan tatapan Eunhyuk.

“Makanya kami minta kalian yang mengantarkan. Kalian kan kuliah di sini, pasti tahu jalan-jalan rahasia dong,” ujar Minho lagi. Kali ini dia terang-terangan menatap Miho.

Yang ditatap hanya tersenyum. Tak lama kemudian tatapan yang terarah padanya sudah bertambah menjadi tatapan dari Euncha, Taemin, dan juga Onew. Miho terlihat bingung sekilas lalu menjawab santai, “Ayo aja kalo aku sih.”

“Yeeeiiy!” seru Taemin dan Onew. Sementara Minho melemparkan senyum yang manis sekali untuk Miho.

 

^^^

 

Berputar dan angkat tangan, ekspresi muka garang, dan… selesai. Akhirnya. Eunhyuk memberikan senyum terakhirnya sebelum turun panggung bersama yang lain. Para penonton berteriak-teriak menyerukan nama Super Junior dan beberapa member, tapi Eunhyuk tidak mendengar itu semua. Sepanjang penampilan mereka tadi, hatinya galau. Super galau. Tatapan Miho sebelum mereka naik tadi telah menyebabkan segalanya memburuk.

Di sana tadi, Eunhyuk menyadari bahwa ada sesuatu pada Miho yang membuatnya tak mampu melepaskan diri dari Rubah itu. Seperti dia telah benar-benar disihir untuk terus mengamatinya, memikirkannya. Saat dilihatnya begitu banyak orang mengelilingi Miho, tiba-tiba keresahan melandanya. Dia tersadar bagaimana rasa tidak suka menyeruak dalam hatinya. Padahal itu seharusnya tidak perlu.

Untuk apa dia merasa panas melihat pandangan Miho yang memuja Yunho dan Changmin? Apa alasannya dia tiba-tiba membenci cara Minho tersenyum tersenyum pada Miho? Kenapa dia semakin lama semakin sebal pada Leeteuk yang dengan mudahnya melakukan skinship dengan

Miho? Kalau saja bisa, Eunhyuk ingin membungkus semua rasa yang membuatnya tidak nyaman itu lalu membuangnya di tempat sampah. Tapi dia tidak bisa.

Sejak peristiwa di kantor polisi itu, tak sekalipun Eunhyuk berhasil meloloskan diri dari bayangan seorang Go Miho. Sedikitpun niatnya tak bergeming untuk berhenti mengirimi sms pada Rubah itu. Hanya sekali waktu, sekali waktu yang jarang sekali terjadi, Eunhyuk berhasil mengingat bahwa Miho bukanlah wanita tulen.

Padahal wanita-wanita cantik berkeliaran di sekitarnya. Junior-juniornya sangat banyak yang tak kalah sempurna dari Miho. Mereka bahkan lebih muda. Lalu kenapa hanya Miho yang ada di pikirannya? Dia bahkan tak sedekat itu dengan si Rubah.

Eunhyuk menyandarkan punggung ke sofa di ruang ganti, menutup wajah dan memejamkan matanya dengan lelah. Tak peduli dengan teman-temannya yang ribut. Seseorang duduk di sebelahnya, kemudian Eunhyuk mendengar suara orang itu bicara, “Hyuk, Miho itu yang kemarin ada kasus dengan Minho ya?”

Eunhyuk membuka matanya dan menatap Yunho di sebelahnya. “O, wae?” tanyanya singkat.

“Wah, brengsek kecil itu. Beruntung banget dia. Bisa langsung dekat dengan cewek secantik itu,” Yunho berkata ringan. Niatnya murni memuji.

Eunhyuk menjawab, “Alah, cantikan juga Victoria,” Eunhyuk setengah mati mengucapkan kebohongan itu. Hatinya sudah lelah menyuruh dirinya sendiri supaya menganggap orang lain lebih cantik dari Miho, jadi kini dia ingin orang lain yang beranggapan begitu agar dirinya punya dorongan untuk berpikir begitu juga.

Yunho tertawa. Menurutnya, kecatikan seorang wanita itu sudah sangat biasa karena hidupnya selalu dikelilingi selebriti-selebriti cantik. Tapi melihat wanita yang bukan selebriti secantik itu bahkan tanpa dandanan lengkap adalah sesuatu yang langka. Oleh karena itu dia menganggap Miho wajah baru yang menyenangkan. “Iya sih, tapi Victoria kan udah sering diliat, Miho kan baru sekali ketemu. Gila, itu wajahnya mulus banget ya? Emang enak jadi orang muda,” katanya.

Eunhyuk tidak suka. Sangat tidak suka mendengar kata-kata Yunho. Jadi Miho menarik hanya karena baru sekali lihat? Bagi Eunhyuk, Victoria, Sulli, IU, dan artis-artis cewek lainnya tetap cantik-cantik walau sudah dilihat berulang kali. Miho juga akan begitu, bukan hanya karena wanita itu wajah baru dalam kehidupannya. Dia agak kesal pada Yunho, maka kemudian dia tersenyum konyol, “Hehe, orang muda? Memang kau pikir berapa umurnya?”

Yunho memandang Eunhyuk dengan agak heran. “Berapa ya? Yah, paling baru masuk 20.”

Menggunakan jawaban salah itu sebagai alasan, Eunhyuk menjitak Yunho, “Kau harus memanggilnya Hyung, bodoh!” katanya spontan menyebut hyung. Oops, dia keceplosan.

Yunho mengernyit heran. “Hyung?”

Eunhyuk nyengir makin lebar. “Mian, aku liat Leeteuk Hyung, jadi aku bilang begitu. Maksudku kau harus memanggilnya Noona.”

Yunho melihat sekeliling mencari keberadaan Leeteuk Hyung. Aneh, lelaki itu sedang berada hampir di belakang Eunhyuk, bagaimana Eunhyuk bisa melihatnya? Tapi apa katanya tadi? Miho itu Noona? “Becanda kamu!” katanya pada Eunhyuk.

“Ani. Jinjja. Yang bisa dipanggil Oppa oleh Rubah itu cuman Leeteuk dan Heechul Hyung. Kita semua lebih muda darinya. Kalau Euncha, baru. Dia emang lebih muda dari kita,” rasanya sih gitu, pikir Eunhyuk mengingat-ingat kapan Euncha pernah mengatakan usianya, tapi sepertinya tidak pernah. Eunhyuk hanya tahu gadis itu selalu memanggilnya Oppa.

“Kenapa kau memanggilnya Rubah?” Yunho makin penasaran. Rupanya dia memang banyak ketinggalan berita akibat kegiatan DBSK yang terlalu padat.

Agh, Yunho terlalu banyak bertanya, pikir Eunhyuk. Padahal dia sedang ingin berpikir sendiri. “Mian, Yunho-ya. Aku harus ke toilet. Udah ga tahan nih. Ngobrolnya entar aja ya dilanjutin?” tanpa menunggu jawaban Yunho, Eunhyuk langsung bangun dari duduknya dan beranjak keluar ruangan.

Saat ini di belakang panggung sedang ramai sekali. Semua artis sudah tampil dan tinggal di akhir nanti mereka akan tampil bersama-sama. Tapi itu masih 45 menit lagi. Sekarang ini di atas panggung sedang dilakukan acara bagi-bagi hadiah, jadi kalau dia mau mengasingkan diri, inilah saatnya. Eunhyuk teringat Leeteuk mengatakan bahwa di lantai dua tadi toiletnya cukup sepi, jadi mungkin di sana memang sepi. Akhirnya Eunhyuk memutuskan pergi ke sana.

Keputusan yang tidak disesalinya. Di sana memang kosong dan banyak angin. Eunhyuk bisa mengistirahatkan pikirannya di sini. Meskipun hanya lantai dua, tapi dari tempat ini terlihat sepotong panorama landscape yang cukup mengundang decak kagum. Baru disadarinya bahwa kampus ini terletak di atas bukit. Jadi inilah tempat Miho menuntut ilmu sampai sebulan yang lalu, pikirnya.

Tunggu, fakultas apa ini? Sepertinya sesuatu yang berhubungan dengan hewan deh. Apakah peternakan? Yah, sepertinya sih begitu. Eunhyuk tersenyum. Sulit baginya membayangkan Miho mengurus babi-babi di kandang. Atau ayam. Apakah wanita itu juga memarahi babi dan ayamnya sama seperti dia memarahi Eunhyuk? Sambil mengenakan celana super pendek dan high heels, mungkin? “Hahaha…” tanpa bisa dicegah tawa kecil keluar dari mulutnya.

Lalu matanya menangkap sesuatu. Membuat tawanya sontak berhenti dan hatinya bergemuruh. Dia mengenali sosok Miho. Di bawah sana, sedang berdua saja bersama Minho!

 

^^^

 

“Tunggu, yang lain mana?” tanya Miho celingukan.

Tadi mereka berjalan bertujuh. Shinee, Euncha, dan Miho. Tapi sekarang mereka berdua terpisah dari yang lain. Miho tidak sadar apa yang menyebabkan mereka terpisah. Tahu-tahu saja mereka sudah tinggal berdua.

Minho ikut celingukan. “Iya, ya. Dimana mereka? Tadi dari arah belakang situ kita masih bersama, kan?” tanyanya berbalik menatap Miho.

Miho mengangguk-angguk lucu, membuat Minho kehilangan alasan untuk melihat ke arah lain. “Ayo kita cari mereka,” wanita itu mengusulkan.

Sebenarnya Minho lebih suka mereka tidak mencari yang lain. Berdua begini cukup menyenangkan, hehehe. Tapi tidak mungkin dia mengatakannya kan? Jadi tanpa mengiyakan dia hanya menuruti Miho dan berjalan di belakangnya.

Kini mereka sedang berada di halaman dalam kampus yang di tengahnya terdapat kolam buatan kecil. Miho berjalan dengan langkah-langkah pasti di tengah halaman. Minho menyadari bahwa dengan kaki yang baik-baik saja ternyata Miho bisa berjalan cukup cepat meskipun langkahnya kecil-kecil. Sebagai laki-laki, matanya mau tidak mau tertarik pada goyangan halus pinggul Miho ketika berjalan. Menggemaskan. “Noona, tunggu aku,” kata Minho pura-pura tertinggal.

Miho menoleh. Begitu melihat Minho ternyata agak jauh di belakangnya, dia nyengir, lalu berhenti menunggu Minho. Begitu berhasil menyamai posisi Miho, Minho segera memasukkan tangannya ke dalam celana. Dia butuh melakukannya sebab tadi hampir saja dia meraih tangan Miho dan menggandengnya.

“Ayo kita coba lihat di sana,” kata Miho menunjuk satu arah.

“Tapi tadi kita datang dari sana kan?” Minho menunjuk arah sebaliknya.

“Iya, tapi kalau mereka mengambil satu belokan yang berbeda, mereka akan berakhir di sana,” Miho kembali menunjuk arah yang tadi ditunjuknya.

Mata Minho menangkap sesuatu. “Oh! Apa itu Noona?” tanyanya menghampiri pagar pembatas antara halaman dalam itu dengan jurang di hadapannya. Dia melihat sebuah bangunan yang menarik perhatian di bawah sana.

Miho melihat ke arah yang ditunjuk Minho, lalu menjawab, “Oh, itu istal kuda.”

“Kuda?” Minho terlihat tertarik lalu menghampiri pagar pembatas lebih dekat. “Wah, kalian bahkan punya istal kuda? Kampus ini hebat sekali. Mungkin aku juga sebaiknya kuliah di sini.”

Miho tergelak. “Untuk apa? Kau harusnya masuk kampus seni,” katanya sambil menghampiri Minho.

Minho berbalik. “Berarti Noona bercita-cita jadi dokter hewan ya?”

Miho tersenyum dan menggeleng. “Aku kuliah di sini cuman disuruh oleh orang tuaku,” jawabnya.

“Jinjja?! Berarti aslinya Noona ga mau?”

Miho menggeleng, “Ga, aku ga mau. Hati-hati, kamu bisa jatuh kalau berdiri terlalu ke tepi seperti itu,” Miho memberi peringatan pada cowok yang jauh lebih muda itu. Memang pagar pembatas yang digunakan hanya berupa kawat berduri yang dipasang renggang. Di keseharian kampus memang jarang ada orang yang sedekat ini dengan pagar pembatas, jadi tidak pernah terjadi hal-hal yang buruk sebelumnya.

Minho rupanya lebih tertarik pada kehidupan Miho dibandingkan peringatannya, maka dia melanjutkan pertanyaannya, “Jadi Noona maunya kuliah di mana?”

“Di institut seni. Aku pengin jadi artis.”

Minho membelalakkan matanya, dia hendak berseru, tapi kakinya menginjak tanah lunak di belakangnya hingga tubuhnya terjengkang. Melihat itu Miho terkejut lalu cepat-cepat menarik Minho agar tidak terjatuh. Yang terjadi kemudian adalah Minho terhuyung-huyung menubruk Miho. Dalam sekejap keduanya berpelukan.

Selama beberapa detik, tidak ada yang berbicara. Suasana sangat sepi. Miho tiba-tiba menyadari bahwa dia hanya berdua dengan seorang lelaki. Bulu kuduknya meremang. Dari tadi dia ditemani Euncha, tapi sekarang adiknya itu menghilang. Dia berusaha menenangkan dirinya. Mengingat ini masih siang dan keramaian hanya satu blok jauhnya dari tempat mereka saat ini. Tapi dulu, Miho pernah mengalami hal terburuk di hidupnya sementara keramaian hanya berjarak beberapa meter saja, dan tak ada bantuan sama sekali.

Minho sudah tersadar dari keterkejutannya, tapi dia tidak ingin menjauh dari tubuh Miho. Aroma tubuh Miho wangi menyenangkan, dan tubuhnya relatif mungil dalam pelukan Minho, jadi dia masih ingin berlama-lama menikmati saat ini. Ketika dia mendengar suara Miho memanggil namanya dengan tercekat, dia hampir mendesah kecewa karena itu artinya dia harus mengakhiri kontak fisik kebetulan ini. Bermaksud menjauhkan tubuh Miho dari tubuhnya, Minho memegang lengan Miho yang terbuka dan mendorongnya lembut. “Maaf, Noona.”

Miho tidak menjawab, hanya memandang dada Minho lurus-lurus. Wajahnya terlihat agak pucat. Apakah Miho mengkhawatirkannya? Minho mulai berpikiran terlalu jauh. Ada rasa senang tak jelas yang muncul entah dari mana. Dia melambaikan tangannya di depan wajah Miho.

Miho seperti terkejut, lalu memandang wajah Minho. Cowok itu jadi tidak yakin dengan pemikirannya ketika melihat tatapan Miho. Sorot apakah itu? Apa Miho benar-benar ketakutan? Karena Miho tidak bereaksi apapun, Minho menyentuh pipinya lembut. “Noona? Aku tidak apa-apa,” ujarnya.

Sentuhan Minho bagi Miho menjadi stimulus gelombang panik yang lebih besar. Sekuat tenaga Miho mempertahankan kesadarannya. Terangnya cahaya siang membuatnya mampu bertahan meski keterpakuannya tidak bisa dienyahkan begitu saja.

“Miho-ya!” tiba-tiba Minho mendengar suara dari balik tubuhnya. Ketika berbalik, dia melihat Eunhyuk sedang berjalan cepat-cepat ke arah mereka. Setelah dekat, hyungnya itu sama sekali tidak mempedulikan sapaannya dan malah langsung meraih tangan Miho, menggosok-gosoknya cepat. Minho terkejut, tapi tidak bisa melihat ekspresi Miho.

Miho merasakan kehangatan itu datang. Matanya melihat Eunhyuk bagai topan yang datang tiba-tiba dan memporakporandakan gangguannya. Ketika Eunhyuk menggosok-gosok tangannya, dia melihat wajah Eunhyuk yang berkonsentrasi memberi kehangatan yang dibutuhkannya. Secara otomatis mulutnya berkata, “Eunhyuk-a…”

Eunhyuk mengangkat matanya dan menemukan tatapan Miho. Seulas senyum menenangkan tersungging di mulutnya. “Gwenchanha. Tidak ada yang terjadi,” ujarnya. Lalu entah dari mana datangnya, Eunhyuk mengucapkan kata itu, “Kemarilah,” sambil merengkuh Miho dalam pelukannya.

Miho menuruti instingnya untuk mendekat ke arah Eunhyuk. Dengan kedua tangan terjepit antara tubuhnya dan tubuh Eunhyuk, wanita itu meletakkan dagunya di bahu Eunhyuk. Nafasnya pelan-pelan teratur kembali seiring belaian tangan Eunhyuk di punggungnya yang menenangkan. Tubuh Eunhyuk nyaman sekali, pikirnya.

Eunhyuk merasakan tubuh Miho pelan-pelan menjadi rileks. Rasanya pas benar keberadaan Rubah itu dalam pelukannya. Eunhyuk merasa bahwa memang seharusnya begini.

“Kalian sedang apa?!” Minho berseru kaget melihat apa yang terjadi antara Miho dan Eunhyuk.

Miho belum ingin kehilangan kenyamanan ini, jadi dia mengabaikan pertanyaan Minho. Sebaliknya Eunhyuk, dia jadi sadar bahwa mereka sedang berpelukan di depan orang lain, jadi dia berusaha melepaskan Miho. Tapi Miho malah menelengkan kepalanya di bahu Eunhyuk seperti anak kecil yang sedang ditimang-timang agar tidur.

Eunhyuk tertawa salah tingkah, “Miho-ya. Bangunlah. Sudah tidak apa-apa.”

“Arasseo,” sahut Miho malas. Wanita itu lalu melihat ekspresi Minho yang shock dan menyadari efek perbuatannya terhadap pengertian orang lain. Dihelanya nafas kemudian dengan berat hati melepaskan Eunhyuk, “Gomapta,” katanya pada pria yang lagi-lagi berhasil menenangkannya itu.

Eunhyuk menggaruk belakang telinganya yang sebetulnya tidak gatal. Gawat, gimana menjelaskannya pada Minho?

Tepat saat dia berpikir begitu, dia mendengar suara Minho, “Apa kalian pacaran?!” tanyanya langsung.

Eunhyuk melotot. Dia menggeleng-geleng. Saking kagetnya dengan pertanyaan itu, dia tak sanggup mengeluarkan suaranya. Hanya sikap tubuhnya yang menunjukkan jawaban tidak. Namun Miho malah menggandeng lengan cowok itu dari samping dan berkata, “Ne,” dengan cueknya.

“MWO?!” terdengar seruan yang bukan hanya berasal dari mulut Minho, tapi ternyata juga dari mulut Euncha dan member Shinee lain yang sekarang berdiri tidak jauh di samping mereka.

 

 

-cut-