Author : Claudhia Safira (Park Hye Joong)

Title : Strawberry Lovellipop

Length : Continue

Genre : Romance

Cast :

* Casts :
– Kim Hyun Joong  (SS501) as Kim Hyun Joong
– Park Hye Joong as Park Hye Joong
– Kim Hyung Joon (SS501) as Kim Hyung Joon
– Song Hye Ra as Song Hye Ra
– Heo Young Saeng (SS501) as Heo Young Saeng
– Kim Hyun Ra as Kim Hyun Ra
– Kim Kyu Jong (SS501) as Kim Kyu Jong
– Song Hyu Rin as Song Hyu Rin
– Park Jung Min (SS501)  as Park Jung Min
– Han Sang Mi as Han Sang Mi

Extended Casts :
– Kim Min Joo as Hyun Joong’s mother
– Park Min Ho as Hye Joong’s father
– Byun Jang Moon (A’st1)  as Jang Moon
– Sung In Kyu as (A’st1) In Kyu
– Kang Hye Neul as Hye Neul
– Park Jung Jin (A’st1)  as Jung Jin

 

9.

WELCOME AUSTRALIA!!!

 

Setelah semua persiapan telah ia lakukan, pagi – pagi sekali Hye Joong meninggalkan rumah guna menuju ke bandara. Setelah menunggu beberapa lama, akhirnya Hye Joong berangkat juga menuju Australia. Perjalanan kali ini memakan waktu beberapa jam. Di pesawat, Hye Joong hanya duduk terdiam sambil memandangi indahnya awan.

“Hyun Joong, maaf, aku tidak berpamitan kepadamu. Aku sungguh – sunguh tak sanggup mengatakannya. Semoga kau bisa menjaga dirimu.” ucap Hye Joong dalam hati.

Sementara di sisi lain, Ibu membangunkan Hyun Joong yang dari tadi tidak mau bangun.

“Hyun Joong, ayo bangun. Ini sudah siang. Apa kau tidak bersekolah?” ucap Ibu.

Biasanya hanya Hye Joong yang bisa membangunkan Hyun Joong. Karena sudah tabiat dari Hyun Joong, jika ia tidur, susah sekali untuk dibangunkan. Untuk urusan satu ini, satu – satunya orang yang bisa membangunkan Hyun Joong dengan cepat adalah Hye Joong.

Karena merasa frustasi dan sudah kehabisan akal, Ibu mengambil ember berisi air, lalu menyiramkannya ke tubuh Hyun Joong. Kontan Hyun Joong terbangun.

“Akhirnya kau bangun juga. Sudah sana cepatlah kau mandi.”

“Baiklah ibu.”

Beberapa menit kemudian, Hyun Joong bersiap untuk sarapan.

“Di mana noona?” tanya Hyun Joong.

“Hye Joong sudah pergi.”

“Pergi ke mana?”

“Kuliah di luar negeri.”

“Apa? Apa ibu serius?”

“Apa menurutmu wajahku ini ada tampang sedang bercanda?”

“Tapi kenapa ia tidak memberitahukan ini padaku?”

“Itu sudah keputusan Hye Joong.”

“Noona kuliah di mana?”

“Ibu tidak tahu. Ibu sudah berusaha bertanya, tapi Hye Joong merahasiakannya.”

“Ibu……………. kenapa ibu tidak memberitahukan hal ini kepadaku sejak  awal? Kapan noona kembali?”

“Hye Joong yang memintanya, jadi jangan salahkan ibu. Ibu juga tidak tahu kapan Hye Joong kembali.

Hyun Joong buru – buru menuju kamar Hye Joong.

Benar saja, di kamar itu yang tersisa hanyalah tempat tidur, almari, dan meja rias.

“Noona, kenapa kau pergi meninggalkanku begitu saja? Kau sungguh keterlaluan.”

………………. ………. ………………..

Akhirnya Hye Joong tiba di Australia, tepatnya kota Perth, ibukota negara bagian di Australia Barat. Berkat bantuan dari Pengacara Shim, Hye Joong dengan cepat mendapatkan apartement. Ia juga sudah mendaftarkan diri di salah satu universitas di kota itu dan dia dinyatakan diterima menjadi salah satu mahasiswa di universitas tersebut.

Ini semua berkat bantuan Pengacara Shim, kebetulan dia mempunyai seorang kenalan di Australia. Tapi tentu saja Hye Joong menyuruh pengacara Shim untuk merahasiakan hal ini dari siapa saja.

Berhubung jadwal kuliahnya besok baru dimulai, maka dari itu Hye Joong mempunyai waktu 1 hari untuk menata apartementnya. Cukup sibuk ia hari itu. Ia menata segala barang – barang sesuai tempatnya. Saat Hye Joong hendak menata barangnya, tiba – tiba ia menemukan sesuatu dalam kopernya. Tak lain adalah foto saat ia bersama Hyun Joong.

Melihat foto itu entah mengapa rasanya ingin sekali Hye Joong menangis. Kemudian buru – buru ia mengalihkan perhatiannya pada barang – barang yang lain.

 

Di Seoul, Hyun Joong sibuk mencari keberadaan Hyung Joon ataupun Hye Ra. Akhirnya bertemu juga ia dengan Hyung Joon dan Hye Ra.

“Ada keperluan apa kau dengan kami?” tanya Hye Ra.

“Kalian pasti tahu dimana noona sekarang.”

“Kami tidak tahu” jawab Hyung Joon.

“Bohong! Tidak ada gunanya kalian berbohong di saat seperti ini.”

“Untuk apa kami berbohong padamu! Hye Joong memang sempat berpamitan kepada kami dan bilang ia akan pergi ke luar negeri, tapi ia sama sekali tidak mengatakan ia pergi ke mana!” ucap Hyung Joon dengan tegas.

Hyun Joong hanya terdiam.

………………. ………. ………………..

Hari ini adalah hari pertama Hye Joong kuliah. Perasaan yang dialaminya sekarang adalah tegang, grogi, khawatir, sekaligus senang.

Tanpa sengaja ia menabrak seseorang.

“Oh…. i’m sorry.” ucap Hye Joong.

“It’s OK, No problem” ucap orang itu yang ternyata adalah seorang gadis.

“Where do you come from?” tanya gadis itu sambil melihat – lihat ke arah Hye Joong.

“I come from South Korea”

“Berarti benar dugaanku, kau juga orang Korea, sama halnya denganku.”

“Benarkah? Jadi kau juga orang Korea? Akhirnya aku bisa menemukan orang Korea juga di sini.”

“Perkenalkan namaku Han Sang Mi. Siapa namamu?”

“Namaku Park Hye Joong. Senang bisa berkenalan denganmu.”

“Apa kau mahasiswa baru di sini? Karena wajahmu nampak asing di kampus ini.”

“Benar. Aku mahasiswa baru di sini. Mohon kerja samanya.”

Ternyata mereka berdua sama – sama satu jurusan. Alhasil semakin akrablah mereka berdua. Dari perbincangan mereka berdua, terungkaplah jika Han Sang Mi sejak kecil sudah tinggal di Australia. Dia mengikuti ayahnya yang bekerja di Australia. Di Perth, Sang Mi susah sekali menemukan orang Korea, makanya dia sangat senang ketika akhirnya ia bisa bertemu Hye Joong.

………………. ………. ………………..

Kerjaan Hyun Joong selama ditinggal Hye Joong hanyalah diam dan diam di dalam kamar Hye Joong. Ibu sebenarnya merasa kasihan dengan Hyun Joong.

“Hyun Joong, kenapa kau jadi seperti ini? Kakakmu pasti juga akan kembali ke Korea.” ucap Ibu.

“Ibu sengaja kan menyuruh noona kuliah di luar negeri? Supaya aku tidak bisa dekat dengan noona. Ibu berharap dengan jalan seperti ini aku bisa melupakan noona. Tapi ibu salah besar! Aku tidak akan pernah berhenti mencintai noona!” ucap Hyun Joong dengan sedikit emosi.

“Kau tega sekali bicara seperti itu pada ibu. Asal kau tahu saja, ibu tidak pernah menyuruh Hye Joong untuk kuliah di luar negeri. Itu semua murni keinginan Hye Joong. Ibu benar – benar kecewa kepadamu!” ucap Ibu dengan nada marah.

Ibu lalu meninggalkan kamar. Kemudian terdengar suara orang mengetuk pintu. Setelah ibu membuka pintu, ternyata Hye Ra dan Hyung Joon yang bertamu.

“Hye Ra, Hyung Joon, wah kebetulan sekali kalian berkunjung. Ayo masuk.”

Ibu mempersilakan mereka duduk.

Lalu membuatkan mereka minum. Beberapa menit kemudian, ibu telah siap dengan minuman yang telah dibuatnya.

“Mari, silakan diminum” ucap Ibu.

“Terima kasih bibi.” ucap mereka berdua beriringan.

“Ada keperluan apa kalian kemari?”

“Tadi kami pergi jalan – jalan. Kemudian kami teringat bibi sangat suka dengan brownies kukus, jadi kami memutuskan untuk membelikannya untuk bibi.” ucap Hye Ra sambil memberikan bungkusan berisi beberapa kotak brownies kukus.

“Kalian tidak perlu repot – repot seperti ini. Terima kasih kalian telah membawakan kue kesukaan bibi.”

“Bibi kan sudah seperti ibuku sendiri. Jadi wajar kan jika seorang anak menyenangkan hati ibunya.” ucap Hye Ra.

“Apa kalian berpacaran? Soalnya ibu lihat akhir – akhir ini kalian sering jalan berdua dan terlihat sangat mesra.”

Muka Hye Ra dan Hyung Joon mendadak menjadi merah.

“Kami hanya berteman baik” ucap Hye Ra.

“Apa yang dikatakan Hye Ra benar. Kami hanya berteman baik.” ucap Hyung Joon menimpali.

“Berpacaran pun juga tidak apa – apa. Bibi malah senang. Kalian berdua tampak serasi.” ucap Ibu sedikit menggoda.

“Oh ya, bagaimana keadaan bibi dan Hyun Joong?” tanya Hyung Joon.

Wajah ibu seketika jadi berubah lesu.

“Apa pertanyaanku ini menyinggung perasaan bibi?”

“Tidak kok. Kami baik – baik saja.”

“Bibi, sebenarnya apa ada masalah antara bibi dan Hyun Joong?” tanya Hye Ra.

Ibu lantas menceritakan kejadian yang baru saja terjadi.

“Bibi sabar saja. Memang jiwa Hyun Joong masih labil. Apalagi ia harus berpisah dengan Hye Joong. Mungkin ini masih terlalu berat untuk Hyun Joong.” ucap Hye Ra.

“Entah sampai kapan ia bisa berhenti mencintai Hye Joong. Ibu pribadi tidak menyetujui jika Hyun Joong bersatu dengan Hye Joong. Kalian tahu sendiri, Hye Joong sudah aku anggap sebagai anak kandung Bibi sendiri. Jadi ibu tidak bisa membayangkan jika Hye Joong kelak menjadi menantu ibu.”

“Kami mengerti apa yang sekarang bibi alami. Bibi harus tetap tegar menghadapi ini semua. Kami akan sering – sering mengunjungi bibi.” ucap Hye Ra.

“Kalau begitu kami permisi pulang. Ada hal yang harus kami kerjakan.” ucap Hyung Joon.

“Hati – hati di jalan”

 

“Hyung Joon, apa menurutmu Hye Joong juga mencintai Hyun Joong?” tanya Hye Ra dalam perjalanan pulang.

“Hal itu mungkin saja, mengingat selama ini Hye Joong tak pernah dekat dengan pria lain. Mungkin hal itu karena Hye Joong menyukai Hyun Joong.”

“Hyung Joon, hadiah ini untuk siapa?” tanya Hye Ra saat melihat ada bungkusan berwarna merah jambu berbentuk hati.

“Rencananya hadiah itu akan kuberikan pada gadis yang aku cintai.”

“Nugu?”

“Dia adalah seorang gadis yang mampu menyihir hatiku. Aku begitu mencintainya. Aku ingin segera mengutarakan perasaanku padanya.”

“Kenapa kau tidak menceritakan padaku jika kau saat ini sedang mencintai seorang gadis?”

“Untuk apa aku menceritakannya padamu? Ini juga bukan urusanmu kan?”

Sepanjang perjalanan Hyung Joon menceritakan tentang gadis pujaan hatinya itu. Hye Ra sudah tidak kuat lagi untuk mendengarkannya.

“Tolong hentikan mobilnya!” ucap Hye Ra.

“Mworago?”

“Sudah, jangan bertanya kenapa. Tolong hentikan mobilnya!”

Kemudian Hye Ra turun dari mobil dan pergi meninggalkan Hyung Joon.

Hyung Joon yang masih tidak mengerti apa yang sebenarnya terjadi segera mengejar Hye Ra.

“Kau kenapa?” tanya Hyung Joon sambil menarik tangan Hye Ra.

“Aku tidak apa – apa!”

“Tapi kenapa kau tiba – tiba pergi seperti ini?”

“Aku tidak tahan mendengarkanmu selalu membicarakan gadis pujaan hatimu itu” Hye Ra keceplosan bicara.

“Kau cemburu?”

Merasa malu, Hye Ra pun lantas hendak pergi meninggalkan Hyung Joon. Tapi seketika itu juga Hyung Joon mencegahnya.

“Katakan yang sejujurnya kepadaku, apa kau cemburu?” tanya Hyung Joon sambil menatap tajam ke arah Hye Ra.

“Aku…………” ucap Hye Ra sambil terbata – bata.

“Kenapa? Kau tidak bisa menyangkalnya kan? Untuk apa kau cemburu? Bukankah hubungan kita sebatas teman biasa?”

Hye Ra hanya terdiam.

“Apa kau mencintaiku?”

Hye Ra yang tidak bisa menjawab lantas pergi meninggalkan Hyung Joon.

“Hye Ra, gadis yang aku maksudkan padamu adalah dirimu.” ucap  Hyung Joon.

Mendengar hal itu Hye Ra menghentikan langkahnya dan berbalik ke arah Hyung Joon.

Hyung Joon lantas mendekati Hye Ra.

“Aku mencintaimu.”

“Apa yang kau bilang tadi.”

“Aku mencintaimu. Aku sungguh – sungguh mencintaimu.”

“Apa kau serius?”

“Apa tatapan mataku menunjukkan aku tidak serius?”

Hye Ra lalu meneteskan air matanya seakan tak percaya. Hyung Joon pun lantas memeluknya.

“Tuhan tolong katakan padaku, apa yang aku alami hari ini bukanlah mimpi. Terima kasih Tuhan kau telah menjawab do’aku.” ucap Hye Ra dalam hati.

………………. ………. ………………..

 

Tiba – tiba saja Hye Joong teringat keluarga dan teman – temannya. Lantas ia membuka laptop kecilnya, kemudian ia mengakses internet. Hye Joong mengaktifkan Yahoo! Messengernya. Ternyata pada hari itu Hye Ra juga sedang online.

“Hye Ra…… bagaimana kabarmu?” itulah kalimat yang diketik Hye Joong.

“Hye Joong………. akhirnya kau menghubungiku juga. Aku baik – baik saja. Bagaimana denganmu?”

“Aku juga baik – baik saja. Bagaimana dengan Ibu dan Hyun Joong?”

“Hubungan mereka sedang tidak harmonis. Hyun Joong menyalahkan bibi karena dia mengira bibi menyuruhmu kuliah di luar negeri agar Hyun Joong bisa melupakanmu.”

“Apa? Kenapa Hyun Joong bisa berpikiran seperti itu?”

“Sebenarnya aku prihatin dengan kondisi Hyun Joong saat ini. Ia hanya bengong jika sedang tidak ada pekerjaan. Kau sih, pergi ke luar negeri tanpa pamit terlebih dahulu dengannya.”

“Aku tahu aku salah. Lantas apa yang harus aku lakukan?”

“Nasehatilah Hyun Joong.”

“Baiklah akan ku kirimkan e-mail padamu. Tolong berikan pada Hyun Joong.”

“Baiklah. Oh ya, Hye Joong aku dan Hyung Joon sekarang sudah resmi berpacaran”

“Benarkah itu? Wah chukkae…… Kalian berdua memang pasangan serasi. Bagaimana keadaan yang lain?”

“Akhir – akhir ini Hyun Ra jadi sering jalan berduaan dengan Young Saeng. Hyu Rin juga sering terlihat jalan berduaan dengan Kyu Jong. Sementara Jung Min sibuk online karena katanya ia mempunyai seorang teman special di dunia maya. Benar – benar aneh anak itu. Dia sendiri belum tahu wujud teman specialnya itu, tapi katanya ia begitu menyukai gadis itu.”

“Aku turut senang jika semua bahagia.”

“Kuliahmu bagaimana?”

“Lancar – lancar saja. Aku juga mempunyai teman baru, dia juga orang Korea Selatan.”

“Syukurlah. Kapan kau pulang?”

“Aku belum tahu.”

“Kalau begitu jaga dirimu. Sebenarnya aku ingin ngobrol banyak denganmu, tapi aku harus melanjutkan kuliahku. Anyeong!”

“Anyeong!”

 

Hye Joong jadi teringat kata – kata Hye Ra. Hubungan Hyun Joong dan Ibu sedang tidak harmonis. Kemudian ia menuliskan sebuah surat lalu dikirimnya ke e-mail Hye Ra.

 

Malam ini Hye Joong begitu sibuk. Maklum saja, banyak tugas yang harus ia kerjakan. Baru sekitar pukul 11 malam ia selesai mengerjakan tugas – tugasnya. Lalu iseng – iseng ia menulis dalam bukunya.

 

Heningnya malam menjadi bukti kebisuan. Aku menatap dalamnya dusta yang tergores laksana luka yang menyayat hati. Diamku yang berarti mencari-cari letak dusta pada luasnya nurani

 

Lalu ia menulis di halaman berikutnya.

 

Jika dia sebuah cinta, dia takkan menyiksa, namun mengisi. Dia tak memaksa namun mengerti. Dia tak datang dengan kata, namun menghampiri dengan hati, dia tak datang karena pernintaan, namun senantiasa hadir, jeritan hatiku tak terdengar oleh siapapun kecuali Tuhan.

 

“Bintang, kemarikan cahayamu, untuk menerangi malamnya dia, Tuhan… jangan berikan dia luka, tapi hadirkan baginya tawa……………. Malaikat, jaga dia agar dia selalu merasa tenang dan bahagia.” ucap Hye Joong dalam hati sambil menatap bintang – bintang di langit.

………………. ………. ………………..

Pagi itu Hye Ra pergi menemui Hyun Joong di kediamannya. Tanpa berkata apa – apa, Hye Ra menyerahkan selembar kertas pada Hyun Joong.

“Bacalah!” ucap Hye Ra yang lantas pergi.

Hyun Joong lantas membaca isinya.

 

Hai Hyun Joong, bagaimana kabarmu? Baik – baik saja, kan? Apakah ibu sehat? Aku mendapatkan kabar bahwa kau dan ibu sedang tidak harmonis. Kau tahu, saat aku mendengarnya aku sungguh sedih. Hyun Joong, asal kau tahu, keputusanku kuliah di luar negeri semata – mata bukan karena perintah ibu, tapi ini murni keinginanku sendiri. Jadi tolong jangan salahkan ibu. Aku sendiri pergi ke luar negeri bukan karena ingin menghindar denganmu, tapi kuliah di luar negeri adalah cita – citaku dari dulu. Kau tak perlu bertanya aku sekarang di mana. Aku baik – baik saja di sini, kau jangan khawatir. Oh  ya, aku juga sudah menemukan seorang pria yang sangat aku cintai di sini, saat aku pulang nanti, aku akan mengenalkannya padamu, dan aku berharap kau juga telah menemukan gadis lain yang jauh lebih baik dariku. Sampai kapanpun kau tetap adikku yang tersayang. Pesanku, kau harus minta maaf pada ibu, jangan membuatnya sedih. Kau harus berdamai, jika tidak kau lakukan itu, aku tidak akan pernah menghubungimu lagi. Buatlah aku bangga terhadap prestasimu. Jika kau berprestasi, kau bisa mendapatkan beasiswa kuliah di luar negeri, dan siapa tahu kau bisa berjumpa denganku. Terakhir, jagalah dirimu baik – baik. Aku tidak mau melihatmu menjadi orang yang kehilangan semangat menjalani hidup. Aku paling tidak suka orang seperti itu. Jaga ibu baik – baik.

Anyeong!

                                                                        Hye Joong

 

Setelah membaca surat ini, rindu Hyun Joong kepada Hye Joong sedikit bisa terobati.

“Noona, apakah benar kau mencintai laki-laki lain?” ucap Hyun Joong dalam hati.

Hyun Joong lalu meminta maaf pada ibu karena ia telah salah sangka padanya.

“Noona, mungkin kau akan menganggapku sebagai adik. Tapi aku akan tetap mencintaimu” ucap Hyun Joong pelan.

………………. ………. ………………..

 

“Kau sedang apa?” tanya Hye Joong pada Sang Mi.

“Aku sedang chatting dengan seseorang.”

“Nuguseyo? Namching?”

“Aniyo, tapi hampir.”

“Orang mana?”

“Dia orang Korea, sama seperti kita.”

“Benarkah? Wah….. meskipun telah lama di luar negeri, tapi seleramu tetap saja orang Korea.”

“Aku kan cinta produk dalam negeri”

“Bisa saja kau.”

“Hye Joong ah, liburan semester ini aku dan keluargaku mau pergi ke Korea. Kau tidak ikut bersama kami?”

“Tidak. Mungkin tahun depan aku baru pulang.”

“Baiklah kalau begitu.”

Sebenarnya timbul keinginan Hye Joong untuk pulang. Tapi ia merasa saat ini bukan saat yang tepat untuk pulang.

 

Di tempat yang berbeda, Jung Min juga sedang asyik bergulat dengan laptopnya.

“Kau sedang chatting dengan Sang Mi lagi?” tanya Kyu Jong.

Jung Min hanya mengangguk.

“Sepertinya temanmu yang satu ini sudah dimabuk asmara. Lihat saja begitu excitednya dia.” ucap Young Saeng.

“Benar apa yang kau katakan Saeng. Jung Min ah, memangnya kapan gadis pujaan hatimu itu datang ke Korea?”

“Tiga bulan lagi dia akan ke Korea. Di saat itu juga, aku akan segera menemuinya dan mengutarakan perasaanku padanya.”

“Aku jadi penasaran dengan gadis itu, seperti apa sebenarnya dia sehingga membuat temanku ini mabuk kepayang dibuatnya.” ucap Young Saeng.

Tiba – tiba saja ponsel Young Saeng berdering. Lalu ia pun mengangkatnya.

“Baiklah, aku akan segera ke sana.” ucap Young Saeng

“Kau mau ke mana?” tanya Kyu Jong.

“Aku ada urusan sebentar.” jawabnya.

“Aku yakin ia hendak menemui Hyun Ra.” ucap Jung Min beberapa saat kemudian.

“Apa? Kenapa kau bisa yakin?”

“Aku berani bertaruh denganmu, kurang dari seminggu mereka berdua akan resmi berpacaran.” ucap Jung Min dengan pasti.

“Baiklah, aku akan membuktikan apakah perkataanmu itu benar atau tidak.”

Kemudian Jung Min melanjutkan chattingnya dengan Sang Mi.

 

 Jung Min sshi, kalau aku kembali ke Korea nanti, kau mau aku belikan apa?

Aku tidak ingin apa – apa. Aku hanya ingin bertemu denganmu.

Kau ini bisa saja.

Waeyo? Aku bersungguh – sungguh.

Kenapa kau ingin bertemu denganku? Bagaimana jika aku adalah gadis yang sangat gemuk?

Hmm… maka aku juga akan menggemukkan badanku.

Kkkkkk…. Kau ini bisa saja. Keotjimalyo.

Wae? Naega sinca.

Ara…. ara… Hanguk namja  memang suka membual.

Andwae….. pria Korea sangat romantis..

 

“Mworago?” tanya Young Saeng.

“Ini, terimalah!” ucap Hyun Ra.

“Apa ini?”

“Itu bekal yang aku buatkan untukmu. Aku memasaknya sendiri.”

“Benarkah? Tapi….. untuk apa kau membuatkan bekal makanan untukku?”

“Memangnya tidak boleh? Ini sebagai ucapan terima kasihku. Selama beberapa bulan ini kau telah banyak membantuku dan membuat hatiku senang.”

“Aku membantumu dengan tulus, tak mengharapkan apapun.”

“Aku tahu, tapi tetap saja aku tidak enak hati. Makanlah ketika tiba di rumah. Setelah itu, beritahu padaku bagaimana rasanya.”

Young Saeng mengangguk.

“Kalau begitu aku pulang dulu.”

“Hati – hati di jalan!”

Young Saeng pun kembali ke rumahnya.

“Young Saeng ah, apa yang kau bawa?” tanya Kyu Jong.

“Ini…. makanan dari….”

“Dari Hyun Ra, kan?” ucap Jung Min tiba – tiba.

“Darimana kau tahu?” tanya Young Saeng.

“Sorot matamu mengatakan seperti itu.”

“Aku boleh memintanya, kan?” tanya Kyu Jong.

“Tidak!!!!! Kalian berdua jangan ada yang menyentuh ini!”

“Kau galak sekali” ucap Kyu Jong.

“Maafkan aku, aku hanya…………..”

“Hanya tidak mau jika bekal makanan dari gadis pujaan hatimu dimakan orang lain, karena ia memasakkan special hanya untukmu, benar kan?” ucap Jung Min.

“Benar. Eh… Bukan begitu maksudku.” ucap Young Saeng meralat perkataannya.

“Sudahlah Saengie, kau tidak usah berbohong lagi pada kami. Kau menyukai Hyun Ra, kan?” ucap Jung Min.

“Kau bicara apa sih?”

“Cepat sana utarakan perasaanmu, jika tidak, Hyun Ra akan diambil orang lain. Apa kau mau hal itu terjadi?” ucap Jung Min.

“Sudahlah, aku mau memakan bekal ini dulu.”

“Jung Min, kau benar – benar ahli dalam hal percintaan.” puji Kyu Jong.

“Tentu saja. Aku sudah berpengalaman menghadapi masalah percintaan remaja. Aku juga melihat dari sorot matamu kau sedang mencintai seorang gadis”

“Aku? Kau jangan mengada – ada.” mendadak muka Kyu Jong menjadi merah.

“Kenapa begitu kebetulan. Kita mencintai seorang gadis di saat yang bersamaan. Mungkin kita ditakdirkan untuk menikah di hari yang sama.”

“Bicaramu sudah mulai ngelantur.”

Malam itu Young Saeng hendak tidur. Tapi tiba – tiba ia teringat akan sesuatu. Ia lalu mengambil ponselnya, menekan beberapa tombol, dan akhirnya terhubung.

“Hyun Ra, kau sudah tidur?”

“Jika aku sudah tidur, tentu aku tidak akan mengangkat teleponmu, kan?”

“Kau benar. Pertanyaanku ini sungguh bodoh. Aku hanya ingin mengatakan bahwa masakanmu tadi sungguh enak, apalagi sup kimchinya, aku sangat menyukainya.”

“Benarkah itu? Aku senang sekali, karena ini adalah pertama kalinya aku memasak makanan, dan hasilnya memuaskan.”

“Jadi ini pertama kalinya kau memasak? Itu artinya aku orang pertama yang mencicipi masakanmu, beruntungnya aku.”

“Kau ini bisa saja.”

“Aku hanya ingin menyampaikan itu saja. Cepatlah tidur, ini sudah malam. Aku juga sudah mengantuk. Selamat tidur.” ucap Young Saeng.

“Saengie….. Saengie….. jadi kau meneleponku hanya untuk mengatakan hal itu? Kau sungguh lucu.” ucap Hyun Ra dalam hati.

………………. ………. ………………..

“Hye Joong, kamarmu sungguh rapi. Tidak seperti kamarku.” ucap Sang Mi ketika masuk ke kamar Hye Joong.

“Ayahku yang menyuruhku untuk selalu merapikan kamarku, agar aku nyaman dalam belajar.”

“Kau pasti sangat menyayangi ayahmu. Ayahmu kerja apa?”

“Dulu dia bekerja di sebuah perusahaan farmasi.”

“Sekarang?”

“Sekarang ayahku sudah tenang di alam sana.”

“Hye Joong, maaf, bukan maksudku untuk…..”

“Tidak apa – apa Sang Mi.”

“Hye Joong, yang di foto ini kau dengan pacarmu?” tanya Sang Mi sambil menunjuk ke arah foto yang ditaruh Hye Joong dalam sebuah pigura di atas lemari kecilnya.

“Bukan, dia adik tiriku.”

“Mwo? Benarkah? Tapi kalian lebih pantas menjadi sepasang kekasih daripada kakak-adik.”

“Selama ini kau selalu bercerita tentang lelaki pujaan hatimu yang katamu orang Korea itu. Tapi kenapa sampai sekarang kau belum juga menunjukkan fotonya padaku? Aku kan juga ingin tahu.”

“Mianhae Hye Joong, aku lupa. Padahal aku sudah berencana membawa fotonya, tapi selalu kelupaan.”

“Tidak apa – apa. Siapa nama lelaki itu?”

“Namanya Park…………..” belum sempat melanjutkan perkataannya, tiba – tiba ponsel Sang Mi berdering.

“Tunggu sebentar. Ayahku menelepon.”

Hye Joong lantas membuka laptopnya. Dia mengecek surat – surat  yang masuk di e-mailnya. Ada sebuah pesan dari Hyun Joong.

Noona, kenapa kau menyampaikan pesan melalui Hye Ra noona, kenapa kau tidak langsung mengirim pesan ke e-mailku? Apa kau sengaja menghindar dariku?

Sudahlah lupakan saja. Oh ya, kabarku dan ibu baik – baik saja. Tapi kami sungguh sangat merindukanmu. Sekarang tidak ada lagi orang yang mendengarkan curahan hatiku di malam hari. Tidak ada lagi orang yang dengan sabarnya membangunkanku tidur, merapikan kamarku, dan tidak ada lagi orang yang mendengarkan lantunan harmonikaku. Aku sudah cukup banyak kemajuan memainkan harmonika. Kau mau tahu? Makanya, kau harus pulang secepatnya.

Ibu juga berpesan kepada noona supaya noona menjaga diri baik – baik. Do’a ibu akan selalu menyertai noona. Begitu katanya.

Sudah beberapa bulan ini aku tidak pernah berjumpa dengan noona. Apa noona tidak rindu padaku?

Noona, aku tidak peduli meskipun kau bilang kau sudah menemukan kekasih di sana, aku juga tidak peduli kalau ibu tidak suka aku mencintai noona, aku juga tidak peduli dengan perkataan orang. Aku akan terus mencintaimu. Kini aku tidak takut lagi untuk mengatakan bahwa aku mencintaimu. Aku masih menantikan jawaban darimu, dan aku akan sabar menantinya.

 

Cinta adalah sebuah keberanian…..

Berani memulai walau tahu akan berakhir………..

Berani berkhayal walau tahu sakitnya jatuh………..

Berani mencinta walau tahu pahitnya luka …………….

Dan berani memiliki walau tahu perihnya kehilangan………

 

Begitulah isi pesan yang dikirim Hyun Joong lewat e-mail. Hal ini membuat Hye Joong menjadi sedih, dan tanpa disadarinya air matanya keluar begitu saja.

“Hye Joong, aku pulang du…………….”

“Hye Joong, kau menangis?” Tanya Sang Mi.

“Tidak….. tadi mataku kemasukan debu. Kau mau pulang?”

“Oh…. iya… ayahku tadi menelepon, menyuruhku untuk cepat pulang, aku pulang dulu. Anyeong!”

“Anyeong!”

………………. ………. ………………..

“Kyu Jong, kita harus bertemu sekarang di taman!” ucap Hyu Rin.

“Ada apa memangnya?”

“Sudah, kau tidak perlu banyak tanya. Cepatlah ke taman sekarang. Aku tunggu!”

Beberapa menit kemudian, Kyu Jong telah sampai di taman. Di sana telah ada Hyu Rin menunggu di bangku taman.

“Hyu Rin, Mworago?”

“Hyun Ra berkata kepadaku bahwa lusa ia akan ikut orang tuanya kembali ke Los Angeles!”

“Lantas?”

“Kau ini pabo sekali!!! Jika Hyun Ra benar – benar pergi ke luar negeri, bagaimana dengan Young Saeng?”

“Apa hubungannya kepergian Hyun Ra ke luar negeri dengan Young Saeng?”

“Kyu Jong, apa kau tidak tahu, Young Saeng dan Hyun Ra itu saling mencintai, tapi mereka sama – sama tidak mau mengakuinya.”

“Jung Min juga bilang begitu.”

“Kita harus menyusun rencana agar Hyun Ra mengurungkan niatnya itu.”

“Bagaimana caranya?”

“Itu yang sedang aku pikirkan sekarang. Kau punya ide?”

Kyu Jong menggelengkan kepalanya.

“Aku akan coba memikirkannya.”

Saat keduanya sedang berpikir bagaimana cara menyatukan Young Saeng dan Hyun Ra, tiba – tiba saja ada seseorang memanggil Kyu Jong.

“Kyu Jong!”

Merasa namanya dipanggil, Kyu Jong pun menoleh.

“Kyu Jong! Ternyata benar dirimu.” ucap wanita itu sembari berlari menuju Kyu Jong dan memeluknya.

“Kang Hye Neul, bagaimana kau bisa kemari?” tanya Kyu Jong.

“Aku tadi melihatmu, tapi aku tidak bisa memastikan itu dirimu atau bukan. Makanya aku mengikutimu hingga ke sini.”

“Kau….. bukankah seharusnya sekarang kau berada di Kanada bersama dengan suamimu?”

“Aku akan segera bercerai dengan Jung Jin.”

“Kenapa?”

“Karena aku sama sekali tidak bahagia dengannya, ia selalu membuatku sedih. Dulu aku berpikir menikah dengannya adalah keputusan yang tepat, ternyata keputusanku ini salah.”

Hyu Rin benar – benar merasa seperti diacuhkan. Tak tahan dengan keadaan ini, ia pun pergi meninggalkan mereka berdua.

“Hyu Rin, kau mau ke mana?” tanya Kyu Jong.

“Aku tidak ingin mengganggu kalian berdua. Aku pulang dulu.”

Kyu Jong hendak mengejar Hyu Rin, tapi niatannya ini dicegah oleh Hye Neul.

“Aku masih ingin bicara banyak denganmu, kau ada waktu kan?”

 

Sepanjang perjalanan pulang, Hyu Rin tak henti – hentinya mengeluh.

“Mereka berdua itu, apa sengaja mengumbar kemesraan di hadapanku? Apa mereka tidak sadar itu tempat umum? Lagipula kenapa Kyu Jong tak pernah bercerita padaku jika dia sudah mempunyai pacar?”

………………. ………. ………………..

 

 

“Sayang, kau sudah menelepon ajumma?” tanya Hyung Joon.

“Sudah sayang. Bibi bilang dia ada di rumah, jadi kita bisa ke sana.”

Beberapa menit kemudian, mereka telah sampai di rumah Hyun Joong.

“Selamat sore Bibi!” sapa Hye Ra.

“Selamat sore! Wah, jadi kalian sudah resmi berpacaran?” tanya ibu saat melihat Hyung Joon dan Hye Ra berpegangan tangan dengan mesranya.

Keduanya hanya tersenyum malu.

“Bibi sedang memasak ya, aku bantu ya?”

Sementara Hye Ra sedang membantu Ibu, Hyung Joon menemui Hyun Joong di kamarnya.

“Hai Hyun Joong, senang berjumpa denganmu.” sapa Hyung Joon.

“Sedang apa kau di sini?”

“Apa aku tidak boleh berkunjung ke rumahmu?”

“Bukan begitu maksudku. Duduklah.” ucap Hyun Joong mempersilakan Hyung Joon duduk di meja belajarnya.

“Kamarmu ini berantakan sekali. Apa kau tak pernah membersihkannya?”

Hyun Joong hanya melirik ke arah Hyung Joon.

“Bukan maksudku menyinggungmu, tapi bukankah lebih enak jika melihat suasana kamar yang rapi dan bersih?”

“Aku malas menatanya, biar saja seperti ini.”

“Hyun Joong, apa kau masih mencintai Hye Joong?”

“Kenapa kau tanya seperti itu, Hyung? Tentu saja aku masih sangat mencintainya.”

“Meskipun terdengar aneh, tapi aku akan mendukungmu untuk mendapatkan Hye Joong.”

“Kau memang benar – benar aneh Hyung. Di saat yang lain menentangku, kau justru mendukungku. Kenapa kau mendukungku?”

“Karena aku rasa Hye Joong juga memiliki perasaan yang sama kepadamu. Tapi dia tak enak hati terhadap ibumu. Aku sedikit banyak bisa mengambil kesimpulan dari peristiwa ini. Tapi ini sekedar dugaanku saja.”

“Apa itu? Katakanlah.”

“Hye Joong sengaja kuliah di luar negeri selain untuk mencapai cita – citanya juga untuk menghindar darimu. Hye Joong menyimpan perasaan yang sama denganmu. Tapi bedanya kau akhirnya berani mengakuinya, sedangkan Hye Joong tidak. Ia mungkin merasa tidak enak dengan sekelilingnya. Terutama ibumu. Selama ini kau adalah adiknya, tapi jika kemudian status itu berubah, tentu akan menimbulkan sebuah kejanggalan. Akhirnya satu – satunya jalan adalah menghilang dari pandanganmu. Selain untuk mencegah terjadinya konflik juga supaya dia bisa melupakanmu. Ini hanya sekedar dugaanku saja.”

Hyun Joong berpikir sejenak. Ada benarnya juga dugaan Hyung Joon.

“Hyun Joong, Hyung Joon, makanan telah siap. Cepatlah kemari!” seru Hye Ra.

………………. ………. ………………..

 

“Ada masalah apa? Kenapa datang dengan wajah manyun seperti itu?” tanya Hyun Ra.

“Kyu Jong benar – benar keterlaluan. Dia bermesraan dengan seorang gadis di depanku. Apa maksudnya ia melakukan ini? Apa dia ingin membuatku cemburu? Cara itu terlalu biasa,  dia benar – benar bodoh. Apa dia pikir dengan cara seperti itu bisa membuatku cemburu?”

“Tapi sekarang kau sedang cemburu.”

“Apa yang kau katakan? Aku tidak cemburu, aku hanya kesal terhadap tingkahnya.”

“Jangan kau dustai hatimu. Semenjak berteman denganmu, baru kali ini aku tahu kau marah – marah karena melihat seorang laki – laki bermesraan dengan seorang gadis. Kau cemburu kan?”

“Hyun Ra………. Jangan memojokkanku seperti itu.”

“Kau jangan percaya begitu saja terhadap apa yang kau lihat. Tak selamanya apa yang kita lihat itu adalah kejadian yang sebenarnya. Kau mintalah penjelasan terhadap Kyu Jong.”

“Untuk apa aku meminta penjelasannya? Aku tidak ada hubungan apa – apa dengannya, jadi apa yang dia lakukan itu bukan urusanku.”

“Kau bilang itu bukan urusanmu, seharusnya kau tidak perlu marah kan kalau Kyu Jong bermesraan dengan gadis lain?”

“Hyun Ra ah…………………..”

“Hyun Ra, apa kau jadi pergi ke luar negeri?”

Hyun Ra mengangguk.

“Kau tega sekali meninggalkanku sendirian di sini.”

“Bukan maksudku tega kepadamu.”

“Apa tidak ada yang bisa mencegahmu supaya tidak pergi?”

“Jika dia mencegahku, mungkin aku tidak akan pergi.” ucap Hyun Ra dalam hati.

 

Beberapa hari kemudian, Kyu Jong berkumpul di rumah Jung Min. Di sana telah ada Hyun Joong, Young Saeng, dan tentu saja Jung Min si empunya rumah. Saat itu, Kyu Jong tidak sendirian, rupanya Hye Neul juga ikut.

“Hye Neul Noona? Sejak kapan kau datang?” tanya Jung Min.

“Sudah beberapa hari yang lalu. Lama tak bertemu, kalian kini menjadi pria yang lebih dewasa.”

“Mana suamimu?” tanya Hyun Joong.

“Cuaca hari ini panas sekali, aku jadi haus. Jung Min, di mana dapurmu?” tanya Hye Neul mengalihkan pembicaraan.

Jung Min lalu menunjukkan di mana dapurnya.

“Besok Hyun Ra berangkat, lantas apa yang akan kau lakukan Young Saeng?” tanya Hyun Joong.

“Apa yang harus kulakukan? Tentu saja aku akan mengantarnya sampai ke bandara sambil melambaikan tangan.”

“Young Saeng ah, ini bukan saat yang tepat untuk bercanda” keluh Kyu Jong.

“Kami semua tahu perasaanmu terhadap Hyun Ra. Young Saeng, percayalah padaku, Hyun Ra juga mencintaimu. Tapi kau tak juga memberikannya kepastian. Yang dibutuhkan wanita dari seorang pria adalah kepastian, wanita tidak mau digantungkan.” ucap Jung Min.

“Apa jika aku mengungkapkan perasaanku padanya lantas ia akan mengurungkan niatnya?”

“Hal itu tidak bisa dipastikan, tapi setidaknya kau sudah lega karena telah mengungkapkan perasaanmu, Hyun Ra pun lega karena kau memberikannya sebuah kepastian.”

“Besok dia berangkat jam 8 pagi. Kau harus sampai sana sebelum jam 8 dan ungkapkanlah perasaanmu padanya.” ucap Hyun Joong.

Mereka lalu ngobrol – ngobrol santai. Hye Neul tampak mendekati Kyu Jong, ia seakan ingin terus lengket dengan Kyu Jong, tak mau pisah barang sedetik pun.

Di sisi lain, Hyu Rin sedang berlari sangat kencang menuju ke sebuah tempat.

“Hyun Rin!” tanya Jung Min.

Semua mata pun kini mengarah ke arah Hyu Rin yang ada di depan pintu dengan nafas yang terengah – engah.

“Cepatlah!!!!” ucap Hyu Rin dengan terengah – engah.

“Aku tidak mengerti apa yang kau katakan” ucap Jung Min.

“Penerbangan Hyun Ra dimajukan hari ini. Sekarang ini, Hyun Ra sedang menuju ke bandara bersama orang tuanya. Jadi sebaiknya kita segera ke bandara.” ucap Hyu Rin dengan sisa energi yang dimilikinya.

Tak pelak, semua orang di situ pergi ke bandara. Di perjalanan menuju bandara, Hyu Rin hanya duduk diam mengatur pernafasannya. Kyu Jong sebenarnya ingin menanyakan bagaimana kondisinya, tapi tangan Hye Neul selalu menggandengnya, yang menyebabkan Kyu Jong tak bisa berbuat apa – apa. Hyu Rin dari tadi melihat bagaimana Kyu Jong begitu dekat dengan gadis bernama Hye Neul itu. Ia terus saja mengarahkan pandangannya ke arah dua orang itu.

“Hye Neul adalah cinta pertama Kyu Jong. Sejak kecil mereka telah tumbuh bersama. Saat Kyu Jong hendak mengutarakan perasaannya, ternyata Hye Neul sudah menerima pinangan pria lain.” ucap Hyun Joong yang tahu dari tadi Hyu Rin memperhatikan Kyu Jong dan Hye Neul.

“Oh begitu rupanya” ucap Hyu Rin singkat.

 

Beberapa menit kemudian, sampailah mereka di bandara. Young Saeng segera pergi mencari di mana keberadaan Hyun Ra. Lama ia tak menemukannya. Hingga akhirnya……

“Hyun Ra!” ucap Young Saeng.

“Young Saeng. Kau datang kemari? Sendirian?” tanya Hyun Ra.

“Apa kau harus pergi?” tanya Young Saeng.

“Tentu saja. Sudah tidak ada lagi yang perlu aku lakukan di sini.”

“Bagaimana denganku? Apa kau ingin membuatku merasa tidak tenang?”

“Young Saeng, kenapa kau bicara seperti itu?”

“Aku mencintaimu Hyun Ra”

“Young Saeng”

“Aku benar – benar mencintaimu. Tolong janganlah kau pergi, tetaplah di sini, di sisiku.” ucap Young Saeng sembari menggenggam kedua tangan Hyun Ra.

“Aku….. aku juga mencintaimu………” ucap Hyun Ra dengan sedikit menangis

Young Saeng pun memeluk Hyun Ra.

“Jangan pergi. Tetaplah di sisiku.”

“Hyun Ra, cepat sedikit, pesawat sudah mau tinggal landas.” ucap Ibu Hyun Ra.

“Baiklah ibu.” ucap Hyun Ra sambil melepaskan pelukan Young Saeng.

“Hyun Ra sshi…………….”

“Maaf Young Saeng, aku harus pergi.”

Young Saeng yang kecewa segera pergi meninggalkan Hyun Ra.

Ibu Hyun Ra mengetahui sesuatu telah terjadi pada anaknya.

“Jika memang kau tetap ingin tinggal di Korea, ibu mengizinkannya. Lagipula Bibi Song juga sudah kembali, jadi dia bisa merawatmu.”

“Ibu?”

“Jagalah dirimu baik – baik.”

“Terima kasih ibu.”

Hyun Ra lantas mengejar Young Saeng dan memeluknya dari belakang.

“Kau ingin meninggalkanku sendirian di sini?”

“Hyun Ra…. Kau tidak…”

“Aku tidak jadi berangkat.”

“Benarkah?”

Hyun Ra mengangguk.

 

“Akhirnya mereka bersatu juga. Sial sekali nasibku sampai sekarang belum mempunyai pasangan” ucap Hyu Rin.

“Ayo kita pulang, biarkan mereka berdua bersenang – senang dulu.” ajak Jung Min.

Saat hendak pergi, Kyu Jong mencegah Hyu Rin.

“Mworago?” tanya Hyu Rin ketus.

“Bagaimana keadaanmu?”

“Tidak usak sok perhatian kepadaku. Kau urus saja Hye Neul.”

“Kenapa kau galak sekali padaku? Apa kesalahan yang aku buat kepadamu?”

“Aku pergi dulu. Jangan mencegahku!”

Ketika hendak mengejar Hyun Ra, Hye Neul mencegah Kyu Jong.

“Ada hal yang ingin aku bicarakan padamu.”

“Lain kali saja, aku sedang ada urusan.”

“Aku ingin sekarang!!!!!”

Hye Neul lalu mengajak Kyu Jong ke suatu tempat di dekat rumah Kyu Jong.

“Ada apa sebenarnya?” tanya Kyu Jong.

Tanpa berkata sepatah katapun, Hye Neul langsung memeluk Kyu Jong.

“Kyu Jong, kumohon jangan tinggalkan aku lagi. Tetaplah di sampingku, melindungiku, seperti dulu.” ucap Hye Neul sambil menangis.

“Hye Neul……………..”

“Aku tahu, tindakanku menerima lamaran Jung Jin adalah sebuah kesalahan. Aku baru menyadarinya sekarang jika yang aku butuhkan di sisiku adalah kau, bukan Jung Jin.”

Hyu Rin yang tidak sengaja lewat, mengetahui kejadian itu.

“Hyu Rin sshi!” ucap Kyu Jong.

Hyu Rin lantas meninggalkan mereka berdua.

“Hyu Rin sshi, cakkaman!!” ucap Kyu Jong.

Hye Neul hendak mencegah Kyu Jong dengan menarik tangan Kyu Jong. Tapi Kyu Jong segera melepaskan genggaman Hye Neul.

“Kyu Jong, kau…………”

“Maafkan aku Hye Neul, aku tidak bisa berada di sisimu lagi. Aku telah memilih jalan hidupku sendiri.”

“Kyu Jong sshi….”

“Mianhae………..”

Kyu Jong segera mengejar Hyun Ra.

“Hyun Ra sshi, tunggu, jangan berjalan secepat itu.” ucap Kyu Jong.

“Kenapa kau mengikutiku? Urusi saja Hye Neul mu itu. Jangan pedulikan aku.”

“Mana bisa aku tidak mempedulikanmu. Aku ingin menjelaskan bahwa di antara Hye Neul dan aku tidak ada hubungan apa – apa.”

“Kau ini lucu. Meskipun di antara kau dan Hye Neul terjalin sebuah hubungan, itu tidak menjadi masalah untukku. Lagipula kita kan tidak ada hubungan apa – apa, jadi kau mau menjalin hubungan dengan gadis lain, itu hak mu.”

“Lantas mengapa kau tadi berlari sambil menangis saat melihat Hye Neul memelukku?”

“Itu….itu karena……………. aku tidak mau mengganggu kalian.”

“Tapi mengapa kau menangis? Kau cemburu?”

“Mmmm….ma….mana mungkin aku cemburu, kau jangan mengada – ada.”

“Lihat mataku dan katakan kau tidak cemburu. Katakan kau tidak memiliki perasaan lain kepadaku seperti yang aku rasakan padamu.” ucap Kyu Jong dengan nada serius.

“Kyu Jong sshi, apa – apaan kau ini?”

Kyu Jong lantas menarik Hyu Rin.

“Ayo katakan kalau memang kau tidak menyukaiku!”

“Aku……”

“Kenapa?”

“Kenapa kau membuatku menjadi seperti ini. Kau membuatku selalu memikirkan dirimu. Kau juga membuatku tertawa, sedih, gembira, marah, cemburu. Kenapa Kyu Jong? Kenapa kau melakukan ini padaku?”

Kyu Jong lantas memeluk Hyu Rin.

“Aku mencintaimu Hyu Rin. Aku sangat sangat mencintaimu. Jadilah orang yang selalu berada di dekatku, mengisi setiap lembaran dalam hidupku. Percayalah, aku tidak lagi menyukai Hye Neul, aku hanya menganggapnya sebagai teman, tidak lebih. Aku tidak ingin kau terus salah paham.”

“Maaf….”ucap Hyu Rin lirih.

“Maaf karena aku telah salah paham kepadamu. Aku juga tidak tahu mengapa aku harus marah saat melihatmu dengan Hye Neul.”

“Tidak apa – apa. Aku justru senang, karena itu tandanya kau juga mencintaiku.”

“Kau percaya diri sekali.”

“Kau masih menyangkal juga? Baiklah kalau begitu, aku kembali ke sisi Hye Neul saja.”

“Eh….jangan…………!” ucap Hyu Rin spontan.

“Benar, kan dugaanku. Kau juga mencintaiku.”

“Baiklah…..kali ini kau yang menang, aku menyerah!”

“Sekarang hari apa?”

“Senin”

“Berarti tepat di hari Senin ini Kyu Jong dan Hyu Rin meresmikan hubungannya.”

Hyu Rin hanya bisa tersenyum.

………………. ………. ………………..