MUST DO IT à baca dulu BECAUSE U R MY IDOL sebelum baca FF ini karena ini after story-nya!

Dan pls buat yang mampir baca ni FF , tinggalkan jejak kalian dengan comment…

Apapun itu comment kalian pasti akan kuterima walaupun hanya 1 kata…..

Ok??

GAMSAHAMNIDA!!

***************************************************************************

 

AFTER STORY – BECAUSE U R MY IDOL (1/3)

Author : minnie

Length : chaptered

Genre : romance

Cast : Lee Gikwang BEAST ,Cho Minkyung (OC) and other ilustration cast.

Disclamer :

* FF ini pernah di publish di akun facebook-ku , http://www.facebook.com/note.php?note_id=10150277613413546 .

* Minnie storyline only! No plagiat pls….

Backsong :

* Beast- easy (sincere ver.)

 

***********

Gikwang fiction: aku merindukanmu. Aku ingin mendekap erat bahu lembutmu dan sedikit menghembuskan nafas letihku …………

Anggota BEAST berusaha menahan gerak kaki namun ia memberontak dan akhirnya mereka membiarkannya pergi sendirian.

Ya itulah Lee Gikwang.

Gikwang menyeret kakinya menuju sebuah bar terdekat dari studio tempatnya berlatih. Hembusan nafasnya sangat berat. Lingkaran matanya sangat kelam. Tubuhnya membungkuk kesal. Dia kehabisan jiwa semangatnya. Entah mengapa sejak kejadian di TV itu,otaknya tak dapat berpikir jernih. Kata-kata MC itu sungguh memburamkan segala isi pikirannya.

“Kau sungguh namja yang lemah Gikwang-sshi!Kau hanya hanya menuliskan ini di diary mu.Satu kenyataan yang bisa kukatakan bahwa cinta itu bukan suatu siksaan.”

Satu gelas soju ia habisan dalam sekali tegukan.

Lakukan hal yang kau inginkan dan jangan ikuti kemauannya!

Dua gelas……..

Karena begitulah cinta kau kejar dan diperoleh. Selanjutnya kau akan memeluknya selamanya.

Tiga gelas soju habis Gikwang teguk dengan sempurna. Dia berteriak dan mengacak-acak rambutnya layaknya orang tak waras. Dia kembali mengeluarkan buku itu dari sakunya,

Gikwang fiction :

Aku muak hidup tanpamu.

Semua nya terasa hampa…… ottokhe?

***************************************************************************

@Beast’s dorm

BRAKK……

Gikwang membanting pintu dorm . Mukanya melipat kencang. Rambutnya tak tertata dengan rapi dan jalannya tak tegak.

Dia mabuk….. berat……..

Semua member BEAST sontak kaget.Dengan sigap, Doojon dan Yoseob segera memapah Gikwang menuju kamarnya.

Mereka memandang sedih Gikwang.

Akhir-akhir ini Gikwang sering ke bar dan minum soju dengan takaran yang tak wajar sehingga membuat dirinya mabuk berat bahkan lebih parahnya lagi ia bisa tertidur di bar. Kali ini dia beruntung karena dia bisa berjalan pulang ke dorm. Walapun dengan badan yang tak konstan untuk berjalan.

Saat waktu luang, ia menyendiri di sudut yang begitu gelap dan memegang sebuah puntung rokok di sela tangannya. Dia menghisap rokok itu. Ini bukan Gikwang yang mereka kenal.Gikwang adalah orang yang sangat memperdulikan kesehatannya bahkan hingga detail-detail . Tapi kini ia sungguh acuh tak acuh terhadap kesehatannya.

“Hyung,apakah tak sebaiknya kita membawa Gikwang ke psikiater?” Tanya Yoseob dengan wajah sedihnya.

“Anniya!!Gikwang akan baik-baik saja. Kita hanya perlu mendampinginya.” Jawab sang leader yang menolak permintaan Yoseob.

“ahhh shireo! Gikwang bukan lagi anak kecil! Dia bisa menyelesaikan masalahnya sendiri tanpa pendampingan kita.” Jawab Hyunseung asal.

“Hyaa hajimma! Gikwang benar-benar tak bisa menggunakan akal sehatnya kali ini. Jadi kita harus membantunya.” Tutur Yoseob yang kali ini benar-benar memberikan tatapan super gelisahnya.

“Aiisshhhh……Dalam keadaan sehat pun dia tak menggunakan akal sehatnya. Gikwang pabo!” Jawab Hyunseung asal (lagi).

PLETakK!waoww….. sebuah jitakan melayang indah di kepala Hyunseung…..

“HYAA!! HYUNG!!Aisshhh…joengmal….!Pedulilah dengan member pabo ini! Kita tidak akan mungkin membawa Gikwang dalam tur dunia BEAST bila keadaannya seperti ini. Aku yakin semuanya akan berantakan bila dia terus menyiksa dirinya seperti ini.” Jelas Yoseob.

“Hyung ottokhe? Tak adakah cara yang lebih cepat memberikan ketenangan bagi Gikwang? Tur kita akan dimulai tanggal 14 maret itu berarti 8 hari lagi dari sekarang. Dan 3 hari terakhir menuju tur akan disibukan oleh jadwal latihan dan persiapan lainnya. Jadi total waktu libur kita tinggal 5 hari. Ottokhe?” lanjutnya.

“Ahh ne!!Sepertinya aku memang harus membantunya kali ini.Ya.. membantu Gikwang bertemu Minkyung.” Kata Doojon perlahan sambil menarik bibirnya membentuk senyuman jahilnya.

“CARANYA??” seru semua member serentak.

Doojon berjalan menuju ke sebuah meja yang berada di pinggir ruangan itu .Menarik lacinya dan mengangkat sebuah kertas kecil. Dia membuka perlahan kertas yang tergulung itu dan terseyum. Lalu dia menunjukan kertas itu kepada semua member BEAST. (kecuali Junhyung karena ia sedang bersama Hara di rumahnya ).

“IGE MWOYA??” Kata member BEAST dengan serempak.

“Alamat rumah siapa ini hyung?”

“Jangan-jangan…..” Ujar Yoseob perlahan. Doojon memberikan senyuman itu lagi. Dia sungguh hanya tersenyum seperti memberikan teka-teki pada semua member BEAST ini.

“CHO-MIN-KYUNG!!!”Seru semua member dengan membulat mata mereka membentuk suatu lingkarang utuh yang menegangkan.

“Ding dong!” Seru Doojon membenarkan jawaban membernya.

Semua member meng-O-kan jawaban tebakan mereka yang benar.

Kini semua akan dimulai.Perjalanan Gikwang mencari belahan hatinya yang menghilang bertahun-tahun yang lalu.

Sebuah cinta akan kembali terukir dari sudut hati Minki couple ini atau akan terbakar habis tanpa sisa sedikitpun…..

Semuanya berawal dari alamat ini.

……………Busan………

******************************

Gikwang fiction :

Mungkin ini akan menjadi akhir dari segala kisah yang telah kubuat.

Mungkin……. atau……………………

Gikwang terbangun dari tidur lelapnya. Tepatnya kepalanya kini pusing berat. Berapa soju yang telah ia teguk semalam? 1?2? 3?? Ahh tidak 4 tepatnya. Rupanya dia telah merasa bahwa dirinya kini benar-benar gila. Dia memegang sisi kepalanya yang berputar hebat dan mencengkramnya. Dia berusaha jalan keluar kamar dengan menyeret kakinya sehingga berbunyi decitan yang lembut.

Ruangan tampak sepi. Tak ada seorangpun di dorm ini. Tak seorang member pun berada di dorm. Gikwang menelusuri dorm dan hasilnya memang nihil. Tak biasanya seperti ini. Tapi ia lelah mencari mereka, dia terduduk di sofa berwarna putih kapur di tengah ruang itu dan menyalakan televisi.

Dia terus membolak balik chanel TV tapi tak satupun menarik. Ia meneguk air putih yang kini ada di tangannya. Ini cukup membuat segala alkohol yang ada di dalam tubuhnya menjadi netral walaupun hanya sedikit.

“Ehh… ige mwoya?”

Sebuah kertas tergeletak di meja tengah itu. Sebuah kertas yang tampak seperti surat itu disertai lembaran kecil bertuliskan tulisan hangul tentunya.

 

Gikwang-sshi, apakah kau sudah bangun?

Sebelumnya kami ingin mengatakan padamu bila kami sedang berlibur saat ini.

Mian karena kami meninggalkanmu di dorm sendirian.

Kami rasa kau butuh istirahat lebih banyak maka kami meninggalkanmu di dorm itu.

Bersihkan dan jagalah dorm dengan baik Gikwang!kekekekke~~

ah ani, ani. Kau boleh menyusul kami.

Kau lihat alamat yang berada di kertas kecil itu?

Pergilah ke tempat itu karena kami menginap di situ,ottokhe??

Kami tak memaksamu untuk menyusul kami tapi satu hal yang ingin kukatakan, bahwa di tempat itu akan nada sesuatu yang membuatmu terkejut.

Sangat terkejut dan mungkin kau bisa tersenyum lepas setelahnya. …

Kami akan menunggumu mu~~ jalgayo!

 

Gikwang membuka lembar bertuliskan alamat itu.

“BUSAN?? Ahh… jincha….. !! Lebih baik aku di rumah saja.” Katanya dengan santai. Dia mengulurkan kakinya di sofa itu dan membaringkan tubuhnya.

Tak salah, Pikiran nya kembali melayang kepada seorang yoega yang bernama Cho Minkyung itu. Entah sampai kapan Gikwang akan melakukan hal ini. Menulis diary tanpa sebuah kesan menarik dan penuh kesedihan tentang yoega itu.

Pabo namja! Mungkin bukan hanya dirinya namun banyak namja yang melakukan hal ini . Yahh… tipe namja yang gampang menyerah dan menerima takdir. Lalu begitukah watak Gikwang sesungguhnya ??

Beberapa menit berbaring ringan di sofa itu seraya memejamkan mata dan menghela napasnya perlahan. Lalu dia tersentak dan membangunkan dirinya. Entah apa yang ada di pikirannya kali ini. Dia bangkit berdiri dan mengemasi barangnya lalu berlalu ke luar dorm.

“Aku harus ke Busan!!” Gumamnya dalam hati.

Dengan detak jantung yang tak beraturan , dia menuju ke airport dan terbang menuju Busan.

Gikwang fiction :

Cukup…

sudah cukup untukku dan untukmu….

***************************************************************************

@Busan

Gikwang menghentakan kakinya dengan sempurna di bandara Busan. Langkahnya teratur menghentak lobby bandara yang disebut Gimhae airport itu. Dan seperti biasa ia mengenakan kacamata hitam , jaket tebal dan tentunya earphone di telinga nya. Sesekali ada b2uty yang mengenalinya dan mengambil fotonya dan ia melambaikan tangan pada para b2uty. Mereka tampak girang dan senang.

“Hyung,kita ke alamat ini!” Perintahnya pada seorang sopir van yang telah lama ia kenal.

“Ne, ara….” Jawabnya sambil memberikan senyumannya dan sesekali melihat wajah suntuk Gikwang dari kaca .“Hari ini pasti akan menyenangkan Gikwang-shhi. Jadi hapuslah dulu wajah murungmu itu.” Lanjutnya.

“Menyenangkan??Semoga! Palli……” Jawab Gikwang sambil menoreh senyum di sudut bibirnya.

Mobil melaju dengan kecepatan standart ke alamat itu.

Alamat itu sangat asing di benak Gikwang. Sama sekali tak tergores di otaknya tentang alamat itu. Sangat asing untuk kota sebesar Busan…..

Gikwang fiction :

Ahhh aku lelah…. Aku ….. aku….

Mungkin hari ini….

Semua kan kuakhiri hari ini….

***************************************************************************

1 jam…

2 jam….

3 jam….

Akhirnya ia sampai di tempat itu…..

Sebuah penginapan dengan arsitektur Korea kuno terlihat jelas di depan matanya.Dengan bilah-bilah kayu yang rendah,dan bamboo yang menjulur panjang pada bagian depan.

Ia melangkahkan kakinya masuk ke penginapan itu. Lalu berjalan menyusuri lobby yang cukup panjang. Dan akhirnya sampai di lobby utama.

Tampak putih dan berbau obat.Bau yang cukup memuakkan hidung Gikwang. Yaa… dia membenci bau obat. Dulu memang ia menyukai bau ini terutama karena obat membuat tubuhnya sehat. Tapi kini, obat adalah musuh bagi dirinya. Sejak ia mengerti bahwa obat sesungguhnya racun bagi hati. Hati berfungsi menetralkan racun akan bekerja keras untuk menetralkan racun yang masuk ke dalam tubuh termasuk obat. Dan bila terlalu banyak mengkonsumsi maka fungsi hati sendiri akan mati.

Maka Sedikitpun Gikwang tak mau menyentuhnya…

Sedikitpun tak kan pernah……

Gikwang mulai melepas maskernya dan melihat setiap sudut ruang itu. Sangat bersih dan sederhana. Lampu yang begitu menyinarinya berwarna begitu cerah dan menarik dengan corak kuning merekah di pinggirnya. Merah dan kuning , warna yang cukup memperoleh perhatian Gikwang.

“Cihhh…jaman berkembang begitu pesat!Sungguh pintar designer saat ini!Membuat 2 warna lampu dalam 1 buah bohlam. ” Gumam Gikwang sambil menyengirkan sudut bibirnya.

Tak lama kakinya langsung melangkah ke resepsionis .Jelas untuk menanyakan keberadaan member BEAST. Dia merasa para member cukup memiliki selera yang tinggi hingga bisa tinggal di tempat ini.Tempat yang cukup bersih dan sepi …….

“Annyeonghaseyo, ada yang bisa kami bantu?” Sapa resepsionis itu sambil memamerkan gigi runtutnya yang menampik-kan gigi taring yang lebih tersunggingkan sebagai gingsul.

“Ahh.. kau mengenali ku bukan?? Aku mencari sebagiannya.. mereka berada di kamar nomor berapa?” Tanya Gikwang dengan sombongnya.

“Mworago??Apa maksud anda??Sebagian??Mungkin kah yang kau maksud itu seseorang??” Tanya resepsionis itu kebingungan .

“Seseorang???anni! sebuah grup dan aku adalah bagiannya .Kau sungguh tak mengenaliku?? Aku mencari me…” Tutur Gikwang yang ingin mulai membuka identitas sebenarnya tentang dirinya.

“CHO MINKYUNG!! Ahh aku mengingatnya sekarang. Kau pasti mencari Cho Minkyung bukan??? Sayangnya dia sudah tidak tinggal di asrama ini..” Seru sang resepsionis dengan bangganya.

“Ah ne? CHO MINKYUNG?? Chakkaman!! Aku ke sini mencari 5 member BEAST yang lain. Apa mereka tak berada di sini?? Lalu apa yang kau katakan tadi?? Asrama?? Bukan kah ini penginapan??” Tanya Gikwang yang semakin bingung dengan semua ini. Mungkinkah ini pengaruh alcohol yang diminumnya semalam. Apakah alcohol itu belum hilang dari tubuhnya hingga Minkyung kembali muncul ke dalam pikirannya kembali. “Ahh mungkinkah aku salah dengar? Mianhamnida….” Lanjutnya sambil menundukan kepalanya.

“Ani! Ani!! Kau tidak salah dengar!Aku memang mengatakan Cho Minkyung pernah berada di sini.” Jawab resepsionis itu untuk meyakinkan Gikwang. Resepsionis itu lalu mengambil sebuah buku yang tampak seperti sebuah tumpukan dokumen. “Ini dr. Cho!” lanjut resepsionis itu sambil menunjukan sebuah biodata lengkap dengan foto Cho Minkyung.

“Ahh ne…” jawab Gikwang terbata-bata melihat foto Minkyung yang kini berjas putih. Dengan rambut panjang terurai dan sebuah kacamata bening yang melingkar di matanya, Minkyung tampak begitu alami. “Jincha yeppuda..” Katanya sambil terus memandang foto Minkyung.

“Ne! dr.Cho sangat cantik, baik dan perhatian kepada pasien. Banyak pasien kami yang menyebutnya malaikat karena ia selalu membantu warga miskin yang berobat dengan cuma-cuma. Semua pasien menyukai senyum manisnya yang menampilkan ketulusan dirinya. Bahkan dari kami tak bisa mengingat dia pernah berada di atas panggung bersama grup yang kini begitu terkenal, eM-Gie.” Puji Resepsionis itu panjang lebar. Tampaknya resepsionis ini sangat kenal dengan Minkyung hingga ia bisa mendeskripsikan Minkyung dengan sempurna. Ya.. memang benar yoega yang sedang diceritakan resepsionis itu adalah Cho Minkyung, seseorang yang selalu membayangi kehidupan Gikwang.

“Ternyata dia sudah meraihnya dengan sempurna. Aku senang mendengarnya.”Jawab Gikwang yang terlihat sedikit senang saat ini. “Lalu di mana dia saat ini?” Tanyanya.

“Ehm mollayo, sejak keluar dari asrama ini, dr.Cho sulit untuk dihubungi. Dengar-dengar tahun ini dia akan melanjutkan studi S2 di Amerika.”Jawab resepsionis itu yang tampak sedikit sedih.

“Ahhh JOENGMAL?? AMERIKA??” pekik Gikwang terkejut .

“Ahh ne! Kau tahu bukan bila dokter spesialis di Korea harus memperoleh gelar S3 maka ia akan menempuh studi lanjutnya tahun ini. Dia ingin menjadi dokter spesialis untuk anak-anak…” Jawab resepsionis itu sambil merapikan dokumen yang berantakan di depannya. “Tapi mungkin dr.Cho masih berada di Korea saat ini. Dr.Cho tak kan pergi diam-diam. Dr.Cho adalah seorang yang ramah jadi mungkin ia akan kembali ke sini lagi saat ia akan melanjutkan studi S2-nya”

“ahh ne. Arassho…” Jawab Gikwang sambil menganggukan kepalanya. “Mungkin ini bukan takdirku.” Lanjutnya pelan yang sedikit mengungkapnya kata-kata yang artinya nyaris sama dengan aku-menyerah-untuk-mencarinya.

“Kejarlah dr.cho!! Kau dan dr.cho selalu melakukan hal yang sama! Aku mengerti kalian saling menyayangi.” Ujar resepsionis dengan mantap. “Ikuti kata hatimu, aku yakin kau pasti akan menemukannya.”

“Ehh?? Mana mungkin itu bisa terjadi. Hatiku selalu berkata dengan buruk. Hatiku tak pernah mengarahkanku padanya.” Keluh Gikwang.

“Hari ini….. hatimu sudah mengarahkannya. Bila tidak ,kau tak mungkin berada di tempat ini saat ini.”jelas resepsionis itu.

“Tapi aku mengunjungi tempat ini untuk bertemu dengan member BEAST bukan karenanya…” Gikwang menyanggah perkataan resepsionis itu.

“Anniya!!Di sudut pintu hatimu..” Jawab resepsionis itu sambil menepuk-nepuk dada kirinya. “Telah membisikan sesuatu padamu hingga membawamu kemari. Percayalah kau akan menemukannya…”

Kata-kata itu sungguh menyejukan hati Gikwang. Sesungguhnya Gikwang juga merasakan itu. Perasaan di mana hatinya menariknya untuk menuju tempat ini. Bukan semata-mata ingin berlibur dengan member BEAST tetapi untuk sesuatu yang mungkin akan membuatnya tertawa dan senang. Ternyata ini jawabannya,Cho Minkyung,Seseorang yang entah di mana sekarang…

“Ahh baiklah! Aku akan menemukannya! Aku berjanji padamu!” Kata Gikwang dengan mantap.

“HWAITING!! Jalga..” Kata resepsionis itu sambil melambaikan tangannya kepada Gikwang yang mulai melangkahkan kakinya menuju pintu keluar.

Sejenak ia hampir sampai di pintu keluar asrama itu. Tetapi ia mengingat sesuatu.

Nomor telepon!! Pasti resepsionis itu memiliki nomor telepon Minkyung!!

Gikwang segera menarik kakinya kembali ke lobby itu. Ia menggerakan kakinya dengan cepat menuju lobby utama. Tapi sayang, Resepsionis itu sudah tak ada. Gikwang mencarinya di setiap sudut ruang lobby dan menanyakan kepada dokter yang kini melalang lintang di depannya. Tapi nihil!!!! Gikwang tak menemukannya.

“Aiishhhh… Pabo!Gikwang Pabo!kenapa selalu begini.,,,” Sesal Gikwang pada dirinya. “Ini tandanya aku sungguh harus mencarinya dengan perjuanganku sendiri. Okay, Ikuti kata hatimu Gikwang……” Katanya sambil menyemangati dirinya sendiri dengan mengepalkan tangan kanannya dan menepukan pada dadanya.

Gikwang melangkahkan kakinya keluar. Kini ia sungguh keluar dan meninggalkan asrama itu. Mesin dinyalakan dan mobil van itu berjalan. Entah ke mana tujuannya, mungkin ia akan mengelilingi daerah ini. Yaa…. Itu daerah Namgu..

Gikwang menampakkan wajah senangnya. Mungkin dia akan berterima kasih pada member BEAST kali ini. Kalau bukan karena mereka, mungkin hari ini Gikwang tak kan menemukan titik terang tentang Minkyung. Tapi satu sisi, Gikwang ingin marah pada mereka karena telah membohonginya. Mengapa mereka tak berkata jujur saja pada Gikwang bahwa ia menemukan alamat Minkyung?? Mengapa ia begitu membuat ini seolah-olah akan kejutan yang mengesankan bagi Gikwang?? Semua harus diralat.

Gikwang merogoh tasnya dan mengambil sebuah i-phone putih . Lalu memencet sebuah nomor di kontaknya. Sapa lagi yang dia hubungi kalau bukan sang leader, Yoon Doo jon.Dia yakin bahwa leader ini yang mempunyai ide yang terlalu brilliant ini.

“YOEBSEYO GIKWANG – AH!!!!” Rasanya handphone Doojon di loudspeaker. Terdengar jelas bahwa ini bukan suara 1 atau 2 orang tetapi 5 orang.

“IGE MWOYAAAAA???” Seru Gikwang balik pada mereka.

“Mwe??Mwe?? Kau senang bukan dengan kejutan kami…” Suara soeb-soeb.

“Kau sudah menemuinya??? Aaa…… kau pasti sangat senang!” Suara aneh onta muncul. Yahh.. ini Dongwoon.

“Jalani liburanmu dengan baik bersamanya!! Tak usah hiraukan kami. Kami akan baik-baik saja di Seoul.hahahha!” Tawa ini. Tawa aneh Doojon yang menampakkan kebanggannya.

“HYAA!!!! Aisshhhh jincha…!” Keluh Gikwang sambil menghela napasnya. “Mwe?? Jelaskan padaku mengapa kalian tak jujur padaku bahwa kalian telah menemukan di mana Minkyung berada? Sejak kapan kalian menyembunyikan ini dariku?Hah? Dan Doojon hyung! Kau bangga bisa melakukan ini?Cihh…” Tanya Gikwang.

“oww…jelas saja!!” Terdengar nada sombong seorang leader yang begitu bangga dengan dirinya karena bisa menemukan 2 buah hati yang terpisah.. “Ahhh ani ani. Kami tak bermaksud membohongimu.Kami hanya…”

“ Hanya ingin member surprise padaku??Ini bukan kejutan lagi…” sahut Gikwang.

“Mwe?? Sekarang kenapa lagi??” Tanya seorang hyung yang paling aneh di dorm ini, Hyun Seung.

“Katakan sesuatu yang baik pada kami…” Kini suara Junhyung muncul yang nada gelisahnya. Ia berharap sesuatu berjalan dengan baik. Memang di saat para member merencanakannya, dia tak turut karena ia sedang berada di rumahnya. Tapi setidaknya hari ini ia bersama member BEAST untuk mendengar kabar gembira dari dongsaeng itu.

“Aku tak menemukannya. Dia telah pindah…” Jawab Gikwang dengan nada yang sedikit menurun. Jelas ini berita yang menyedihkan bagi member BEAST.

“Goetjimal….” Jawab Junhyung tak percaya.

“Ahh jincha??” Begitu pula Yoseob yang tak percaya.

“Mana mungkin…” Dan Dongwoon yang juga tak percaya.

“Aku mengeceknya kemarin dan dia masih berada di asrama itu kemarin. Tapi mengapa di tiba-tiba pindah saat kau datang….” Jelas Doojon.

“Hyung,ottokhe??Mungkinkah Minkyung melihat penyamaran hyung saat itu.” Sahut Yoseob. Pupus sudah harapan member BEAST untuk membuat Gikwang kembali senang.

“Molla.” Jawab Doojon yang terdengar kecewa.”Gikwang-ah, mianne… kali ini aku gagal lagi membuatmu senang….”

“Gwaencana hyung! Sejak kapan hyung memikirkan kebahagiaanku??kekekke..” Gikwang mengubah suasana sedih itu dengan mengalihkan pembicaraannya.

“PABO! Sejak kita semua bersama!!Karena aku sebagai leader,maka aku bertanggung jawab atas kebahagiaanmu dan member yang lain….” Jelas Doojon

“Tentunya kami juga memikirkan kebahagiaanmu,hyung!!” Sahut Yoseob.

“ahh… gomawo! Setidaknya kalian telah memberi titik terang padaku!” Jawab Gikwang memberi semangat lagi pada member BEAST .Bagaimanapun juga semua member telah berusaha untuk menemukan Minkyung.

Gikwang memandang kaca jendela van yang menampakan kegelapan kota yang menunjukan pukul 11 ini. Dia kembali tersenyum. “Aku akan menemukannya sendiri! Aku akan membawanya pada kalian… “ Lanjutnya.

“Baiklah! Jaga kondisimu di sana! Kau hanya punya waktu 5 hari di Busan karena seterusnya jadwal kita telah padat.Tour, konser, perform,CF dan sebagainya telah menunggu kita.”

“ARA!!”

“HWAITINGG!!” Seru semua member. Gikwang menjauhkan telepon dari sisi telinganya.

“nee!! Aku tutup sekarang!!” Ia meletakkan i-phone nya di bangku van dan ia kembali memandang suasana malam dari dalam kaca jendela mobil van.

Dingin dan mencekam.

Suasana tempat ini tak seramai dulu. Kota ini terlihat sunyi saat ini. Tak banyak kendaraan melaju di tempat ini. Kadang hanya 1 atau 2 mobil yang lewat setiap menitnya.Lampu-lampu rumah tampak redup dan tenang. Jelas karena ini mulai menuju tengah malam. Mungkin

tempat ini tampak seperti sebuah pedesaan tanpa sawah di sekelilinginya. Tapi suasana sunyi dari pendesaan sungguh terasa di tempat ini.

“Gikwang-sshi, kita sudah berjalan 22 km dari tempat tadi. Sekarang bisakah kau katakan ke mana arah tujuan kita???Ini sudah larut. Kau pasti juga butuh istirahat….” Tanya sopir van itu. Sopir itu tak lain adalah manager BEAST, Joonkun. Jelas saja jika ia mengkhawatirkan Gikwang.

“Molla. Terus saja jalan. Satu jam lagi….” Jawab Gikwang.

“Tapi lihatlah keadaanmu sekarang, Gikwang-sshi.Kau harus jaga kesehatanmu untuk konser minggu depan. Mungkin setelah konser kau tak kan bisa menikmati waktu istirahatmu.” Tutur manager Joonkun. “Banyak Negara yang kita kunjungi mulai dari Jepang, Thailand, Malaysia, Singapore, Filipina,Indonesia,Australia lalu kita akan terbang ke Eropa untuk Cube concert dan…..”

Suaranya manager Joonkun semakin samar di telinga Gikwang. Yaa… itu karena Gikwang telah memasang sepasang earphone di daun telinganya. Volume yang hampir memenuhi ruang telinga cukup menghilangkan suara manager Joonkun dari dirinya.

Manager Joonkun menyadari bahwa Gikwang telah acuh dengannya dan ia hanya bisa terdiam dengan melaju mobil van itu tanpa tujuan yang jelas.

I said sorry to you…

I just can said this to you…

Sorry to make you worry because me….

Sorry to make you miss me in every second of your life….

Sorry to make you cried in hard way because of me…

I said sorry to make you love me in whole of your life. …

My deepest heart say sorry to you and please…

Please leave me alone ….

And please forget me…..

Please……

Itulah sepenggal lirik lagu yang dibuat Cho Minkyung . Lagu ini tercantum dalam album terbaru eM-Gie. Tampaknya lirik ini ungkapan isi hatinya buat Gikwang dan Gikwang juga menyadari itu. Beberapa hari yang lalu, Gikwang melempar jauh lagu itu dari telinga nya karena itu hanya membuatnya memutar kembali memori saat Minkyung pergi dari sisinya. Tapi kini, Lagu itu kembali berputar dan menggoyah hatinya. Bahkan pelupuk matanya memancarkan butiran air yang terujungkan. Gikwang kembali merasakan kepedihan perpisahan itu.

“Chakkaman!” Sesuatu mengubah pandang Gikwang. “Berhenti di sini!” Gikwang membuka van itu dan keluar tetapi ia kembali ke dalam van itu. Bukan untuk mengurungkan niatnya tetapi dia mengambil masker untuk menutupi wajahnya.

“Gikwang-ah, odieya??” Tanya manager Joonkun penasaran. Tapi Gikwang kembali acuh terhadap manager Joonkun dan berlalu.

Gikwang berlari ke sudut lorong itu. Beberapa menit yang lalu, ia melihat seorang yoega dan seorang anak kecil berlari ke lorong itu diikuti beberapa namja bertubuh kekar. Gikwang hanya khawatir terjadi sesuatu yang buruk dengan mereka maka Gikwang mengikuti arah gerak yoega itu dengan pelan. Wajahnya tampak samar karena lampu yang sekejap mati dan hidup.

“SEBENARNYA APA MAU KALIAN TERHADAP ANAK INI??HAH??” Bentak keras yoega itu pada segerombol namja yang setidaknya berjumlah 7 . Lima di antaranya bertubuh sangat kekar dan berperawakan tinggi.

“Kami hanya mau kau menyerahkan anak itu pada kami!” Seru salah seorang namja bertubuh kekar itu.

“SHIREOO!! “ Bentak yoega itu lagi. “ AKU TAU KAU AKAN MENYAKITINYA! ANAK INI BUKAN SAINGAN YANG PANTAS UNTUKMU! KALIAN PENGECUT!!” Seru yoega itu dengan lantang.

Gikwang tetap tak dapat melihat wajah yoega itu tapi suaranya….

Gikwang dapat mengenalinya…mungkinkah…

“BILA KALIAN MENYAKITINYA, KALIAN AKAN BERURUSAN DENGANKU!!” Seru yoega itu yang kemudian membelakangkan anak kecil itu di balik tubuh mungilnya. Yoega itu maju selangkah tepat lampu di bawah lampu yang redup dan menyala….

“ahh begitukah nona??”

“Kau berani sekali rupanya…. Baiklah…” Namja itu mendekat kan diri pada yoega itu.

Yoega itu maju dengan langkah beratnya dan menengadahkan kepalanya kepada namja kekar itu….

Dan lampu itu menyala sesaat…

CLAP!!

1 detik… 2 detikk….. 5 detikkk… dan mati…

Gikwang melebarkan matanya dan memastikan ini……

“AAA……” Terdengar suara jeritan yoega itu.

Gikwang berlari ke arah yoega itu. Ia mengambil sebilah kayu yang berada di dekatnya dan dengan sigap ia melayangkan pukulan ke namja-namja itu. Ia membelakangi yoega dan anak kecil itu untuk melindungi mereka dari serangan namja itu.

Dan seketika namja-namja itu rubuh…

Tempat itu kini benar-benar gelap tapi ia masih bisa melihat yoega dan anak kecil itu berdiri di belakangnya dengan tubuh gemetaran.Gikwang menjatuhkan kayu itu dan secara reflek memeluk mereka berdua untuk meredakan suasana.

PLETAAKKKK!!!!

Malang. Salah satu namja kekar itu lepas dari pukulan Gikwang dan kini Gikwang terkena pukulannya tepat di bagian kepalanya.

BRUUKK!!Gikwang rubuh dengan kucuran darah di kepalanya.

Namja-namja itu lari pergi meninggalkan mereka seakan tak ingin bertanggung jawab atas semua hal ini.

Yoega itu tersungkur di depan namja itu dan menangis. Begitu pula dengan anak kecil itu.

“Gwaencana?? Ahh ani…. ini tidak baik-baik saja..” Kata Yoega itu sambil terus meneteskan butiran halus air matanya ke tangan Gikwang.

“noe gwa…enca…na??” Kata Gikwang terbata-bata sambil menahan sakit di kepalanya.“Ul…ji…ma..yo….” Jawab Gikwang sambil menggengam tangan yoega itu.

“Gwaencana….go..ma…wo…” Yoega itu mengambil sesuatu dari tasnya. Sebuah senter dan menerangi wajah Gikwang yang tertutup masker.”Nuguseyo???Apa kau mengenalku??” Yoega itu menerangi wajahnya sendiri lalu kembali menyinari wajah Gikwang.

“Cho… Min…kyung……” Gikwang membuka maskernya .

“PABO!! Ahh mwe?? kenapa kau melakukan ini??Kenapa kau ada di sini??Kenapa???” Minkyung menghentikan pertanyaan yang terlalu beruntun itu. Kini bukan saatnya dia menanyakan itu pada Gikwang tapi yang terpenting adalah nyawa Gikwang. Kepala adalah bagian yang paling sensistif bagi tubuh. Bila terlambat menanganinya maka semuanya-pun akan berakhir. “Jangan bicara!Sekarang atur nafasmu dengan pelan dan biarkan begitu. Jangan biarkan dirimu tertidur, tetaplah sadar seperti ini!” Lanjut Minkyung sambil merobek bagian sisi roknya dan menutupi luka Gikwang.

Tak lama sirine ambulance terdengar…..

Cho Minkyung tetaplah bersamaku…… jebal,tetaplah bersamaku………

Gikwang menarik napas panjang dan terpejam….

TBC..

 

Uwaaa… author mau bow dulu ke reader yang nunggu kelanjutan ni FF…..

Mian, author baru bisa buat sekarang karena author sibuk dengan urusan sekolah…

JOENGMAL MIANNE!! *bow

Dan gimana ceritanya??makin aneh ya???

Mian, ni cuma dibuat dalam 1 malam ….

Jadi terlalu terburu-buru…

Part 2 dan 3 nya sudah ada dan tinggal dikirim ke FFL, tunggu aja ya…

Don’t be silent reader!

Don’t bash!

Iklan