Title : Lovely step sister PART II

Author : AnDee

Length : continue

Genre : Romance

Main Cast :

1. Lee Donghae

2. Park Hanna

3. Cho Kyuhyun

 

Hari ini aku tidak ada pekerjaan yang harus aku lakukan, jadi aku berniat seharian saja di rumah. Istirahat, karena besok aku kan berangkat ke Jepang untuk konser bersama grupku disana. Sepertinya Hanna juga tidak ada pekerjaan hari ini. Dia memang belum bekerja dimanapun dan sepertinya belum melamar pekerjaan dimanapun. Aku melihatnya baru bangun dan berjalan menuju dapur. Mungkin sarapan, entahlah kami tidak pernah bertegur sapa. Pernah, tapi pasti dalam konten pertengkaran. Atau bila kusapa, responnya tidak mengenakkan.

PRAAANGGG!!

“KYAAAAAA!!!!”

Aku langsung melompat dari sofa ruang TV ketika mendengar teriakan dan gelas pecah dari arah dapur. Aku menemukan Hanna terduduk dengan tubuh gemetar dan gelas pecah di depannya. Tidak lama kemudian para pelayan rumah ini datang.

“Gwenchana?” tanyaku padanya.

Nafasnya memburu, sebenarnya dia baru melihat apa sampai ketakutan seperti ini?

“Hanna-ssi, gwenchana?” tanyaku lagi sambil memegang bahunya.

“Nona Hanna mianhaeyo, aku tidak tau kalau kucing itu masuk ke dapur.” Ujar seorang pelayan dengan wajah menyesal.

Mwo? Jadi dia lemas dan ketakutan seperti ini karena seekor kucing? Jadi seekor kucing bisa membuatnya begini takut? Tidak salah gunung es seperti dia takut dengan seekor kucing.

Hanna kemudian mengatur nafas, “gwenchana.”

Dia mencoba bangkit tapi terduduk lagi.

Aku memaksa membantunya, tidak mungkinkan dia terus terduduk seperti itu di dapur. Aku membawanya ke ruang TV dan meminta pelayan membawakan air putih.

“Minumlah dulu, biar kau lebih tenang.” Aku mengangsurkan air putih itu padanya.

Dia membuang muka, aku menghela nafas kemudian menaruh air putih itu ke meja.

“Kau pasti senang melihatku tidak berdaya seperti tadi.” Ujarnya dingin.

“Ne?” dia bilang apa? Apa ekspresiku ini kelihatan sebegitu bahagia melihatnya ketakutan seperti tadi? Aku justru ikut panik sekaligus kaget melihatnya.

Dia menoleh ke arahku dengan tatapan sinis seperti biasa.

Aku tersenyum sinis, “jangan samakan aku seperti kau yang senang melihat oranglain tidak berdaya.” Jawabku akhirnya, tidak terima dengan tuduhannya.

“Mwoya?!” dia menyipitkan matanya.

Aku berdiri, “aku justru khawatir dengan keadaanmu tapi justru kau berkata seperti itu? harusnya aku bawa saja kucing lain agar kau pingsan.”

Aku kemudian beranjak pergi meninggalkannya yang masih kesal menatapku.

**

Appa dan Ahjumma (panggilan untuk ibu tiriku)pulang dari luar kota dan membawa peliharaan baru yang seketika membuat lututku lemas. Kucing! Aku tau ahjumma itu membenciku diam-diam, makanya dia membawa kucing.

“Mwoya? Kau takut kucing? Aigooo… mianaa, eomma tidak tau.” Jawab Ahjumma itu ketika melihat wajahku pucat melihat anak kucing yang ia bawa.

“Gwenchana, ini terapi yang bagus untuk Hanna.” Jawab Appa sambil tertawa.

Lelucon paling tidak lucu sepanjang masa!

“Kalau sampai anak kucing itu mendekatiku, aku akan membunuhnya.” Jawabku.

“Membunuhnya? Menyentuhnya saja kau tidak punya nyali.” Donghae ikut-ikutan menggodaku, membuatku semakin kesal.

Aku membalik tubuhku masuk ke dalam kamar dengan hati kesal.

 

Aku tertawa melihat ekspresi ketakutan Hanna melihat eomma membawa anak kucing yang lucu. Aku heran dengan anak itu, bagaimana bisa dia takut dengan mahluk mungil yang lucu ini?

Aku meraih anak kucing yang dibawa eommanya, dan memandangnya sejenak. Baiklah namanya Minnie saja. Dia lucu sekali.

**

Hanna menelan ludah dengan wajah tegang malam itu ketika ia sedang duduk nonton TV di sofa dan anak kucing itu tiba-tiba mendekati sofa tempat ia duduk. Ia benar-benar

takut dengan kucing, karena ketika usianya 5 tahun ia pernah dicakar kucing hingga membuatnya terluka dan berdarah. Trauma. Ia juga pernah pingsan ketika SMP ada temannya yang iseng melempar kucing kepadanya. Dan sekarang, ketika anak kucing itu mendekatinya ia hanya bisa membeku.

Dan hap, sekali lompat anak kucing itu naik ke sofa.

Tiba-tiba sepasang tangan mengangkat anak kucing itu, “Yaa! Minnie-ah, noonamu itu taku padamu, jangan kau dekati dia.” Donghae muncul dan berbicara pada anak kucing itu dengan jarak yang cukup dekat, membuat Hanna merinding.

“Kajja.” Ujarnya kemudian.

 

Hanna menghela nafas lega ketika Donghae dan anak kucing itu sudah berlalu. Kalau tidak ada Donghae, dan anak kucing yang sok akrab dengannya itu duduk dipangkuannya, mungkin dia sudah pingsan sangking ketakutan.

“Gwenchana?” tanya Donghae.

Hanna menggeleng tanpa mengeluarkan suara.

“Baguslah. Untung kau tidak membunuhnya. Minnie bukan kucing yang jahat. Dia masih anak-anak, jadi tidak akan melukaimu.” Jelasnya lagi mencoba meyakinkan Hanna.

Hanna hanya mengangguk.

“Wae?” ia kemudian bertanya ketika melihat Donghae terus berdiri di depannya.

“Kau…. tidak ada yang ingin kau ucapkan denganku?”

Hanna menghela nafas, “baiklah. Terima kasih.” Jawabnya kemudian beranjak pergi.

Donghae tersenyum saja melihat tingkah Hanna.

**