Bagimu aku adalah angin yang di hembuskan bumi

Bagimu aku adalah jejak pasir yang akan di hempaskan oleh ombak

Dan bagimu aku adalah jiwa rapuh yang tak berguna

Layaknya seutas tali yang tak pantas di satukan…

Chapter I #Mistake# [Kyuhyun POV]

Karena kau hidup Mirrelle-ssi. Ah, tidak. Kesalahanmu karena kau bernafas dengan raga gadis yang kucintai.

Kata-kata yang ku lontarkan pada Mirrelle dua hari yang lalu masih saja terngiang jelas di pikiranku. Entah mengapa saat itu aku benar-benar sudah muak melihatnya. Aku tak sanggup jika harus berada di sampingnya lebih lama. Aura yang ia punya hanya membuatku sakit karena menyadarkanku bahwa gadis yang kucintai jiwanya sudah tiada.

Jika kau menganggap diriku aneh, tak masalah. Aku begitu mencintai gadis itu namun aku tak bisa menggapainya lagi. Ia terlalu jauh untuk ku jangkau karna aku tak lagi bisa melihatnya. Salah. Aku tak bisa merasakan sosoknya. Ya, aku bisa melihatnya. Aku bisa saja menyentuh dan merengkuhnya dalam pelukanku jika saja aku mau. Namun itu bukan dia. Hanya tubuhnya, hanya sosoknya yang masih ada. Aku tak peduli jika ia memiliki ingatan dari gadisku, tapi bagiku ia hanya Elf jahat. Ia pasti menginginkan dirinya menjadi manusia, dan kesalahan terbesar adalah ia menjadi manusia dengan raga Ha Kyo.

“Kyuhyun-ah, Teuki hyung ingin berbicara denganmu.” Kata Sungmin hyung sambil melongokkan kepalanya di balik pintu kamar. Aku memang tidak memiliki kegiatan hari ini dan sejak tadi pagi aku hanya menghabiskan waktuku dengan bermain game di dalam kamar. Aku enggan sekali untuk sekedar mengobrol dengan yang lain, karena jujur saja suasana hatiku sedang memburuk.

“Suruh saja dia masuk. Lagipula sejak kapan masuk ke kamar ini butuh izin dariku.” Tukasku kasar, bahkan berbicara dengan Sungmin hyung pun tidak membuatku sedikit lebih sopan.

“Tinggalkan kami berdua.” Tiba-tiba Teuki hyung sudah masuk dan menyuruh Sungmin hyung keluar. Ia berjalan menghampiriku yang tengah duduk di tepi kasur sambil mengenggam psp milikku.

“Apa ini tujuan hidupmu ketika menjadi manusia?” tanyanya parau, aku mengerti ia sedang menahan amarahnya terhadapku.

“Aku tidak mengerti maksudmu.” Jawabku tanpa mengalihkan pandanganku dari layar psp.

“Nyatanya kau tetap menjadi seorang iblis yang tak memiliki perasaan. Setelah ku pikir-pikir kau tak pantas menjadi manusia sedikitpun.”

“Jika ini berkaitan dengan Mirrelle, aku tak ingin membahasnya. Dan nyatanya sekarang aku sudah menjadi manusia.” Tukasku sengit. Aku melemparkan psp ku ke atas kasur lalu berjalan menuju lemari pakaian. Aku benar-benar tak ingin menatap wajah Teuki hyung.

“Kau melakukan kesalahan Kyuhyun-ah. Kau salah jika menganggap ia menjijikkan. Dan seseorang sepertimu tidak pantas mengucapkan kata itu di depan seorang gadis.” Katanya lagi dan kini darahku mulai mendesir menahan marah.

“Kenapa kau terus membelanya? Aku hanya tak suka jika ia berada di dekatku. Itu membuatku sulit bernafas dan sangat menyakitkan. Ia hanya mengingatkanku pada Ha Kyo.”

“Dia memang SHIN HA KYO, Kyuhyun-ah!!!” teriak Teuki hyung membuatku refleks menoleh padanya. Ia menangis. Untuk ke sekian kalinya aku melihat ia menangis karenaku.

“Kau yang bilang hanya raganya yang tetap hidup.” Kataku melunak. Jujur saja melihatnya seperti itu juga membuatku sakit. Setidaknya ialah hyung yang selalu menjagaku.

“Kau benar-benar tak mengerti arti hidup. Kau membuat kesalahan Kyuhyun-ah, kau tidak bisa bersabar padahal ketika kau menjadi iblis kau begitu sabar mengumpulkan kepingan jiwa.”

“Tidak usah berbelit-belit hyung. Aku tahu apa yang ku lakukan dan ku pikir aku wajar jika aku berkata seperti itu.” kataku sambil mengambil sehelai kemeja putih lalu mulai mengenakannya.

“Sebentar lagi kau akan bertemu dengannya. Tapi sayang kyuhyun-ah, kau telah menyakiti hati dari gadis yang berjiwa murni. Kau akan mengalami beberapa kesulitan dalam hidupmu.” Kata Teuki hyung lalu berjalan ke arah pintu kamar hendak meninggalkanku.

“Apa maksudmu?” tanyaku heran. Kata-kata yang ia lontarkan terasa aneh di telingaku. Terlalu ambigu untuk aku mengerti.

“Kau akan mengerti seiring berjalannya waktu. Tapi sekali lagi ku tekankan, kau melakukan kesalahan Kyuhyun-ssi.” Ucapnya pelan namun berhasil membuat tubuhku bergetar, karena pertama kalinya ia memanggil namaku dengan sebutan formal. Ia benar-benar murka padaku.

***

Aku memutuskan untuk keluar dari dorm. Tak ada salahnya aku menikmati cuaca sore ini dengan berjalan-jalan di sekitar sungai Han. Aku mengenakan kemeja putihku dengan asal dan celana jeans hitam serta sneakers andalanku dengan sedikit penyamaran menggunakan masker. Aku tak ingin terlalu mencolok dan juga tak ingin di ketahui bahwa aku adalah Kyuhyun super junior. Hari ini aku ingin menjadi seseorang yang biasa dan menikmati hidup ini dengan sebuah ketenangan.

Sebenarnya aku sedang melarikan diri dari pertanyaan-pertanyaan hyungku. Mereka mengira aku mempunyai masalah dengan Teuki hyung karena mereka melihat mata Teuki yang sembab ketika keluar dari kamarku. Aku sudah menjelaskan pada mereka berkali-kali jika aku tak memiliki masalah, tapi mereka tetap saja tidak percaya. Hah! Memangnya mereka mengerti jika aku ceritakan?

“Permisi, bolehkah aku duduk di sini?” sapa sebuah suara lembut dan aku menoleh ke arah sumber suara.

Seorang gadis. Memegang sebuah tongkat panjang yang ia jejakkan ke tanah. Wajahnya sangat cantik, matanya bulat namun warna bola matanya sangat gelap. Ia tersenyum ke arahku namun matanya sama sekali tak menatapku. Dan barulah ku sadari jika gadis cantik ini buta.

“Si..silahkan.” jawabku gugup dan ia langsung duduk di sebelahku. Ia meletakkan tongkatnya tak jauh dari sisinya. Sekali lagi aku melihat malaikat yang di turunkan ke bumi.

“Gomawo. Apakah aku mengganggumu?” tanyanya memastikan dan lagi-lagi ia tersenyum.

“Tidak. Siapa saja boleh duduk disini.” Jawabku pelan. Aku tak bisa mengalihkan pandanganku dari gadis ini. Ia mengenakan rok panjang berwarna pink muda serta kaus putih yang di balut cardigan berwarna senada. Ia juga membawa tas kecil yang sekarang di letakkan di atas pangkuannya, membuatnya terlihat sangat cantik.

“Kau sendiri?” entah mengapa aku berani menanyakan hal itu karena jujur saja ini pertama kalinya aku berbicara dengan orang asing terlebih lagi wanita.

“Ne. Kau juga pasti sendiri.” Tebaknya langsung dan sebuah senyuman terukir di bibirku. Rasanya begitu menyenangkan menarik sebuah garis senyum dari bibirmu.

“Kau pasti sekarang sedang memandangku. Bertanya-tanya mengapa gadis buta sepertiku bisa ada di sini sendirian.” tebaknya lagi dan langsung mengenai sasaran. Mau tak mau aku tertawa mendengarnya.

“Memang benar, jika salah satu indra manusia kita tak berfungsi maka indra yang lain akan semakin peka.” gurauku masih tetap memandangnya. Baru pertama kali ini aku merasa nyaman di samping seorang gadis. Aku tak tahu apakah karena ia tak bisa melihatku atau memang karena gadis ini sungguh memikat.

“Kau tahu, sepertinya suaramu tidak asing bagiku.” Katanya tiba-tiba membuat kesenanganku memudar. Apakah ia menyadari bahwa aku seorang Cho Kyuhyun?

“Kau tahu aku siapa?” tanyaku tanpa basa-basi.

“Kau Cho Kyuhyun super junior.” Jawabnya langsung dan sukses membuatku terkejut.

Mungkinkah ia pura-pura buta?

“Aku tidak pura-pura buta Kyuhyun-ssi. Seperti yang kau katakan, jika salah satu indra manusia kita tak berfungsi maka indra yang lain akan lebih peka.” Terangnya seolah bisa membaca pikiranku.

“Darimana kau tahu aku Cho Kyuhyun?”

“Suaramu. Suara yang keluar dari mulutmu sama persis dengan suara dari lagu yang ku dengarkan.” Jawabnya sambil menyibak rambut coklatnya dan aku dapat melihat jelas earphone yang tersemat di telinganya. Ia mendengarkan laguku.

Ketika tak ada lagi yang percaya dengan keajaiban, aku akan melangkah maju membelanya

Ketika cinta tak lagi menyambut, aku yang akan mencoba untuk meraihnya

Karena itulah awal dari sebuah kepahitan yang hinggap di dunia

Chapter II #Fall in Love with Evil# [Mirrelle POV]

Aku memandang punggungnya yang membelakangiku dengan tatapan nanar. Sebegitu bencinyakah ia kepadaku? Hingga untuk menatap sekilas ke arahku ia tak mau. Aku menanyakan alasan dari sikap Kyu padaku ke Teuki oppa. Tapi aku tak mendapatkan jawaban apa-apa. Ia hanya mengatakan jika Kyuhyun sedang stress. Lalu jika memang begitu kenapa ia melampiaskannya padaku? Ia bisa bersikap baik ke gadis lain terutama member Fleur yang lain, tapi kenapa hanya padaku ia bersikap seperti ini? Sekarang aku benar-benar muak! Karena hampir setiap hari aku memikirkannya, dan itu semua sukses membuat aku gila.

“Mirrelle-ah chukkae! Akhirnya Fleur mendapatkan penghargaan sebagai pendatang baru terbaik.” Seru Wookie oppa sambil menjabat tanganku erat di sertai anggukan member Super Junior yang lain kecuali Kyuhyun tentunya. Kami semua sedang berada di sebuah klub malam elit untuk merayakan kemenangan semua grup idola dari SM. Tapi karena hanya aku yang berasal dari SM mau tak mau aku menghadiri pesta ini sendiri tanpa memberku yang lain.

“Gomawo oppa. Ini semua berkat dukungan kalian.” Kataku lembut. Mereka pun sibuk dengan percakapan mereka masing-masing. Aku merasa sendirian sekarang terlebih lagi Teuki oppa sepertinya juga sibuk dengan urusannya. Ah.. sebentar lagi dia akan pergi wajib militer, sanggupkah aku tanpa dirinya? Mengingat selama ini dia yang menjagaku.

Aku kembali memandang Kyu yang tengah berbicara dengan Sungmin oppa. Wajahnya benar-benar tampan, terlebih lagi ia mengenakan jas berwarna putih dan ia benar-benar terlihat seperti malaikat. Aku tidak berbohong jika aku pernah bertemu dengannya ketika aku masih kecil. Ingatanku yang berangsur-angsur pulih selalu meyakinkanku terhadap kerinduan pada namja satu itu.

“Jangan melihatku seperti itu.” Sebuah suara menyadarkanku ke alam nyata. Kyu berada tepat di hadapanku dan aku sama sekali tidak menyadarinya. Suara dinginnya tetap sama seperti saat dia melontarkan kata-kata aneh tempo hari. Aku bernafas dengan raga gadis yang di cintainya? Hah! Benar-benar menyebalkan.

“Aku tidak melihatmu! Bukankah kau benci padaku? Kau tidak ingin melihatku lagi kan? Mengapa kau berdiri di hadapanku sekarang?” tanyaku sengit dan tentunya setengah berbisik karena aku tak mau ada orang lain yang mendengar.

“Benar aku membencimu. Bahkan merasakan kehadiranmu pun aku merasa jijik. Tapi asal kau tahu, aku berdiri di hadapanmu sekarang ini karena kau menghalangi jalanku. Dan aku sangat tidak mau mengucapkan kata ‘maaf’ atau permisi padamu.” Jelasnya membuatku lagi-lagi terhenyak hebat. Tapi kali ini aku tidak akan menangis, aku sudah berjanji pada diriku untuk tidak terlihat lemah pada namja sialan satu ini.

“Jika bagimu mengucapkan kata permisi itu sangat sulit, mengapa kau tak mendorong saja tubuhku ke arah yang tak menghalangi jalanmu. Bukankah lebih baik semua orang tahu bahwa kau sangat membenciku? Bahkan mungkin kau merasa jijik menghirup udara yang sama denganku?” balasku pedas. Baru pertama kali ini aku berbicara kasar pada orang lain dan kali ini kurasa ia pantas mendapatkan itu.

“Cih. Aku tak perlu repot-repot untuk menunjukkan hal itu ke orang banyak, aku juga tidak sudi menyentuh tubuhmu yang tak ubahnya seperti kotoran. Dan jika di dunia ini hanya tersisa udara di sekitarmu, aku lebih memilih mati daripada harus bernafas di samping dirimu. Karena bagiku, dirimu tak ubahnya seorang iblis yang memakai kedok Elf.” Bisiknya di telingaku lalu pergi begitu saja tanpa menghiraukanku yang berdiri termangu menatap udara kosong.

Sekali lagi. Ya, sekali lagi ia sukses mengoyak hatiku. Tapi meskipun sudah berkali-kali ia menghinaku, rasa rindu yang kurasakan padanya tak pernah pudar. Aku merasa pernah mengenalnya lebih dekat, pernah berbicara dengan dirinya tanpa harus mengeluarkan kata-kata kasar. Aku merasa, aku jatuh cinta dengannya sekalipun ia iblis.

***

Aku pernah dengar sebuah pepatah yang mengatakan bahwa cara ampuh menaklukkan iblis adalah dengan menempatkan seorang malaikat di sisinya. Mungkin ini adalah hal konyol, tapi itulah yang akan ku lakukan. Selama ini aku merasa aku terlalu kasar menghadapi hinaan dari seorang namja bernama Cho Kyuhyun itu, ya meskipun hinaannya itu terlalu menyakitkan bagiku. Tapi kodratku sebagai manusia menyuruhku untuk memaafkannya. Lagipula cintaku ini pasti bisa mengalahkan rasa benci Kyuhyun padaku. Ya, ku pikir aku memang mulai gila. Aku sadar aku mulai mencintai namja tengik itu dan selalu memikirkannya di tengah kesibukanku. Aku juga tidak ingin dan tidak pernah mau tahu lagi alasan ia membenciku. Yang terpenting sekarang adalah bagaimana caranya membuat ia menyukaiku dan menghilangkan rasa bencinya.

Sekarang ini aku tengah berdiri di depan pintu dorm Super Junior. Di tanganku sebuah kotak berisikan kue ulang tahun tengah ku genggam. Aku berencana membuat kejutan untuk Kyuhyun hari ini, karena tepat hari ini ia berulang tahun. Aku tak peduli jika ia akan marah-marah padaku karena aku tetap berkeliaran di sekitarnya. Aku hanya ingin menunjukkan padanya bahwa aku menyukainya.

Aku memencet tombol intercom lalu tak lama kemudian seseorang membukakan pintu untukku. Aku tersenyum ke arah Eunhyuk oppa yang wajahnya terlihat sekali lelah dan masih mengantuk. Mungkin mereka sudah mengadakan pesta perayaan untuk Kyuhyun.

“Annyeoung oppa…. Maaf mengganggu.” Sapaku pelan dan ku lihat ia mengerjap-ngerjapkan matanya kembali.

“Huamm… annyeoung Mirrelle-ah. Kau mencari Teuki hyung? Dia ada di dormnya, tidak di sini.” Tebaknya langsung dan langsung membuatku terkikik geli. Sebenarnya aku agak risih juga karena ia tidak mempersilahkan aku masuk. Tapi tak apalah.

“Anni… aku mencari Kyuhyun oppa.” Kataku pelan dan ku yakin sekarang nyawanya sudah kembali penuh.

“Mwo? Kau mencari iblis itu? Bukankah kalian…” ucapnya ragu namun aku langsung mengiyakannya.

“Dia adakan oppa? Aku sudah menyiapkan ini untuknya.” Aku menunjukkan kotak kue yang ku bawa. Eunhyuk oppa pun langsung mempersilahkan aku masuk dan jujur saja aku agak kaget karena dorm ini seperti kapal pecah. Sisa-sisa makanan berserakan di mana-mana. Hhh, beginilah jika para pria sehabis menikmati pesta.

“Hehe, maaf jika berantakan. Kau tahu, kami tidak sempat membersihkannya.” Kata Eunhyuk oppa seolah membaca keherananku. Ia mempersilahkan aku duduk di salah satu sofa yang tentunya tidak terjamah oleh sisa-sisa pesta.

“Gwenchana…” tukasku cepat dan Eunhyuk oppa langsung hilang ke arah dapur. Aku meletakkan kotak kue yang ku bawa di atas sofa lalu mulai memunguti sisa sampah yang berserakan di lantai. Jujur saja aku sama sekali tidak tahan jika melihat sebuah ruangan yang berantakan. Jadi aku memutuskan untuk membersihkannya dan ku anggap itu sebagai hadiah ulang tahun untuk Kyuhyun oppa.

“Sedang apa kau di sini?” tanya sebuah suara dingin yan sangat ku kenali. Aku mendongak dan melihat dirinya yang berdiri tak jauh dari tempat aku berjongkok membersihkan sisa-sisa makanan. Sorot matanya tajam dan seolah bertanya dengan kehadiranku di dormnya.

“Membersihkan ini. Kalian ini jorok sekali.” Jawabku enteng dan tersenyum. Aku akan tetap bertahan dengan keputusanku. Aku pasti bisa mengubah iblis satu ini.

“Keluar. Ini bukan dorm mu.” Katanya lagi.

“Eunhyuk oppa mempersilahkan aku masuk, lagipula dorm ini juga bukan milikmu seorang.” Aku tetap berjongkok memunguti sampah-sampah itu, tak menghiraukannya yang mungkin saja akan meledak sebentar lagi.

“Apa yang kau inginkan?” tanyanya kasar. Ia menginjak sampah yang baru saja ingin ku pungut dan mau tak mau aku bangkit berdiri dan menatap wajahnya yang tampan.

“Hanya ingin bertemu denganmu dan mengucapkan selamat ulang tahun. Saengil chukkae hamnida Kyuhyun oppa.” Jawabku dengan penuh semangat.

“Apa kau tak punya harga diri? Aku berulang kali mengatakan bahwa aku membencimu! Sedikitpun aku tak ingin merasakan kehadiranmu!” bentaknya kasar dan itu membuatku sedikit takut. Aku melihat Eunhyuk oppa dan Wookie oppa menghampiri kami tapi mereka tidak mengucapkan sepatah kata pun dan aku tahu mereka juga tak berani terhadap Kyu.

“A..aku tahu. Apa aku salah jika aku hanya ingin mengucapkan selamat di hari ulang tahunmu? Kau tak perlu merasa terbebani dengan kehadiranku, anggap saja aku hanya sampah yang ingin berada di dekatmu.” Balasku. Entah keberanian dari mana aku mengucapkan kata-kata itu.

“Jangan pernah muncul di hadapanku lagi! Sekarang pergi! Aku muak padamu!” ia membentakku lagi. Aku berjalan ke arah sofa dan mengambil kue yang ku bawa lalu menyodorkannya ke arah Kyu, berharap hatinya akan luluh dengan usahaku.

“Untukmu. Aku membuat sendiri kue ini hanya untukmu.” Kataku pelan dan ku lihat matanya membulat keheranan.

“Apa kau mulai gila? Aku secara jelas membencimu dan kau membuatkanku kue? Atau jangan-jangan kau menaruh racun di dalamnya agar aku mati?!” tuduhnya asal dan ku rasa ia terlalu banyak bermain game dan itu membuatnya agak sedikit gila.

“Tentu saja tidak. Lagipula kau kan yang membenciku, bukan aku yang membencimu.” Jawabku lugas dan kali ini keningnya berkerut heran.

“Lantas apa?! Kau tahu, sikapmu ini membuatku semakin membencimu! Sebenarnya apa yang ada di otakmu yang bodoh itu?!” tanyanya kasar. Matanya menyiratkan kemarahan.

Aku menghembuskan nafas lalu menarik nafas panjang. Aku sekarang benar-benar tidak bisa berpikir dengan jernih. Aku menatap matanya dengan tajam lalu mengucapkan kata-kata yang mungkin adalah sesuatu yang sangat bodoh yang pernah ku katakan.

“Kau ingin tahu apa yang ada di dalam otak bodohku ini? Kau! Setiap detik nafasku hanya kau yang selalu menghiasi pikiranku! Dan kau tahu, aku selalu merasa yakin sekali kau pernah mengatakan bahwa kau memintaku untuk menjadi malaikatmu! Itu semua membuatku semakin memikirkan dirimu! Aku tak peduli sedalam apa kau membenciku, dan aku juga tak pernah ingin tahu alasan di balik itu semua! Karna bagiku mencintai dirimu adalah hal yang paling menyakitkan dibandingkan di benci olehmu!”

Aku tak pernah tau kebahagiaan sesungguhnya sampai ketika aku mendapatkan cintamu

Dan aku juga tak pernah tahu bagaimana penderitaan sampai aku kehilanganmu

Terima kasih telah mengenalkan aku pada kedua rasa yang takkan pernah ku lupa seumur hidupku

Chapter III #Apologize# [Kyuhyun POV]

Aku benar-benar tidak mengerti dengan gadis satu ini. Jelas-jelas aku sangat membencinya tapi ia malah selalu berada di dekatku. Terlebih dia mengatakan dia mencintaiku. Apa yang ada di otaknya itu? Tidakkah ia malu dan bukankah seharusnya ia membenciku karena aku juga membencinya?

“Kau gadis rendah! Seorang gadis tak pantas mengatakan hal itu!” seruku kasar. Ia menunduk, menyembunyikan setiap jengkal wajahnya dalam-dalam. Ia terdiam, tak membalas perkataanku, padahal ia lebih berani membentakku di bandingkan hyung-hyungku sendiri.

“Kenapa kau diam? Kau baru sadar bahwa kau memalukan? Atau kau takut karna perasaanmu di ketahui orang lain?!” aku tetap saja membentaknya dan tak peduli dengan perasaannya hingga sebuah isak tangis muncul dari gadis yang berhadapan denganku ini.

“Aku tak pernah malu dan takut. Aku, aku hanya tak menyangka bisa mengatakan perasaanku padamu. Meskipun kau membenciku, aku tetap memikirkanmu. Aku selalu berusaha untuk menghindari perasaanku tapi aku tak sanggup. Aku selalu yakin aku pernah mengenalmu dengan dekat.” Ucapnya di sela tangis. Mata bulatnya memandangku dengan tatapan nanar. Tidak ada kebohongan di sana, melainkan sebuah keyakinan saat ia mengakui perasaannya.

Mata yang sama dengan gadis kecilku. Suara yang sama dengan gadis abadiku. Lalu mengapa aku harus membencinya? Bukankah ia mengingat semua hal yang terjadi antara aku dan dirinya? Ia mengingat ucapanku yang memintanya untuk menjadi malaikatku? Lalu atas dasar apa aku membencinya?

Aku berbohong jika aku mengatakan aku tak ingin memeluknya. Aku berbohong jika aku jijik berada di dekatnya. Aku berbohong dengan semua yang aku rasakan terhadapnya. Aku membohongi diriku sendiri. Dirinya sangat memikat hatiku, karena sesungguhnya aku mencintainya. Tapi hatiku selalu membantah itu semua hanya karna jiwanya tak lagi sama. Tapi sekarang, mengapa melihatnya menangis seperti ini membuatku menderita? Mengapa hatiku terkoyak? Benarkah aku sudah melakukan kesalahan?

“Mian.. jeongmal mianheyo.” Kataku lembut. Ia berhasil membuat es di hatiku mencair.

Ia memandangku dengan tatapan heran. Untuk pertama kalinya aku menyunggingkan sebuah senyum tulus ke arahnya. Membuat pipinya bersemu merah. Aku merengkuh tubuhnya ke pelukanku. Merasakan setiap hangat dari nafasnya yang berhembus di dadaku. Aku tahu ia pasti sangat kaget dan heran dengan perubahan sikapku. Aku melepas pelukanku lalu menangkupkan kedua tanganku di wajahnya.

“Terima kasih telah kembali padaku.” Ucapku pelan lalu mencium bibir mungilnya dengan lembut, disaksikan oleh kedua hyungku.

If the sky above you, should turn dark and full of clouds

And that old north wind should begin to blow

Keep your head together and call my name out loud and soon i will be knocking upon your door

You just call my name and you know where ever I am

I’ll come running to see you again

Winter,spring,summer or fall

All you got to do is call and I’ll be there.

***

Semua hyungku tahu jika aku resmi berpacaran dengan Mirrelle dan mereka semua memberiku selamat. Rasanya sudah lama sekali aku tak merasakan kebahagiaan seperti ini, karna jujur saja aku selalu marah-marah di depan mereka semua. Teuki hyung juga memberiku selamat namun ada sorot kesedihan yang terpancar dari matanya. Aku berusaha untuk menanyakannya namun ia malah menjauh dan tak ingin berbicara denganku. Meskipun aku sedikit heran aku tak ingin berpikir macam-macam terhadapnya. Sebenarnya aku juga masih memikirkan kata-kata Teuki hyung waktu itu. Ia bilang aku akan mengalami kesulitan dalam hidupku namun aku sama sekali belum merasakan hal itu.

Aku kembali fokus menyetir mobilku karna aku sekarang tengah berada di jalanan kota Seoul. Aku ikut menyanyikan lagu yang tengah ku putar di dalam mobil. Sejujurnya aku sangat lelah karna aku baru selesai dalam pemotretan bersama salah satu artis wanita yang sedang terkenal. Aku sengaja membawa mobil sendiri agar memudahkanku menjemput Mirrelle di lokasi syutingnya. Mungkin aku bukanlah tipe pria romantis, tapi menjemputnya memiliki kesenangan tersendiri bagiku. Berada di sampingnya membuat diriku sangat nyaman.

Ckitt!!

Aku mengerem secara mendadak karena menyadari ada seseorang yang melintas di depanku. Aku langsung keluar dari mobil dan betapa kagetnya aku melihat gadis buta itu tengah berdiri ketakutan di depan mobilku.

“Hana-ssi? Gwenchana?” tanyaku menghampirinya lalu merengkuh bahunya yang gemetar. Mengapa bisa ia menyebrang sendirian di sini?

“Kyuhyun-ssi? i..itu kau?” tanyanya lirih. Bahkan dalam keadaan takut seperti itu ia bisa mengenali diriku. Intuisinya benar-benar peka.

“Ne, ayo ikut aku.” Ajakku padanya dan ia mengangguk kecil. Aku membukakan pintu mobil untuknya dan kami berdua pun langsung melesat ke tempat favorit kami. Tepi Sungai Han.

Kau membuatku tersenyum tanpa sebab apapun

Kau membuatku tertawa walau tak ada hal apapun yang lucu

Dan sialnya kau juga membuatku jatuh, pada saat aku semestinya menjauh

Chapter IV #Finding Her# [Ending]

Namanya Lee Hana. Ia memberitahu namanya di pertemuan kedua kami. Ya, aku sering sekali bertemu dengannya di tepi Sungai Han. Kami tidak pernah berjanji untuk bertemu. Tapi setiap kali aku ke sini ia pasti ada dan sedang duduk manis sambil mendengarkan iPod nya. Umurnya baru dua puluh satu tahun, dan entah mengapa aku merasa beruntung ia lebih muda dariku. Meskipun aku lebih tua tapi ia sangat dewasa. Ia senang sekali bercerita hal-hal yang unik denganku, membuatku merasa nyaman di sampingnya.

Aku takkan berbohong bahwa aku tertarik dengannya. Ia gadis yang cantik andai saja ia dapat melihat kecantikannya. Aku sangat suka setiap kali ia mulai bercerita. Ekspresinya benar-benar hidup dan membuatku tak pernah bosan mendengar ceritanya. Ia juga tak malu mengakui bahwa ia fansku, dan yang paling ajaib lagi ia hafal semua lagu yang kunyanyikan hanya dengan mendengarkannya.

Ia tinggal di sebuah panti asuhan di daerah Kangnam. Ia bekerja di situ sambil merawat anak-anak yang memilliki nasib sama seperti dirinya. Aku tidak pernah mengerti bagaimana ia melakukan itu semua dengan penglihatannya yang terbatas. Ia juga bercerita padaku bahwa ia suka sekali berjalan-jalan sendirian. Ia suka mendengarkan gemerisik daun yang tertiup angin. Aku pernah menemukannya tengah berdiri di tepi Sungai Han sambil menengadahkan kepalanya padahal saat itu hujan sedang turun. Ia tak peduli tubuhnya menggigil kedinginan dan ketika aku bertanya mengapa ia tak berteduh, kau tahu apa jawabannya?

Hujan di awal musim adalah berkah dari Tuhan, dan aku tak ingin kehilangan cinta yang di berikanNya lewat hujan.

“Kau pasti sedang memandangiku lagi.” Katanya membuyarkan lamunanku. Aku pun menggaruk-garuk kepalaku karna malu.

“Sedang apa kau di sana? Dan mengapa sendirian?” tanyaku mengalihkan pembicaraan.

“Kau tahu kan aku senang berjalan-jalan. Dan ku rasa aku ingin sekali ke pusat perbelanjaan. Tapi tak ku sangka aku malah bertemu denganmu, bahkan kau ingin membunuhku.” Jawabnya sambil tersenyum mengejek.

“Aku sedang tidak fokus tadi. Menjadi artis itu sungguh melelahkan.” Timpalku dengan gurauan. Ia tersenyum kecil dan angin meniup rambut panjangnya yang bergelombang. Membuatnya terlihat sangat cantik, bahkan lebih cantik dari Mirrelle, gadisku.

“Aku hanya bergurau Kyuhyun-ssi.” Katanya lagi lalu terdiam.

Aku juga terdiam dan sama sekali tak melepaskan pandanganku darinya. Aku sadar tak seharusnya aku bersikap seperti ini karna aku sudah memiliki seorang kekasih yang begitu sempurna di mataku. Namun aku tak bisa dan tak pernah bisa mengacuhkan gadis yang melihat dunia dengan hatinya ini. Ia tak pernah mengeluh dengan kekurangannya, membuatku yang manusia normal mensyukuri betapa Tuhan memberiku berkah yang begitu banyak.

Hana pernah memberitahuku bahwa ia dulu bisa melihat. Tapi sebuah kecelakaan merenggut kedua matanya yang indah. Ia mengatakan ia pernah merasa sendirian di dunia ini namun semenjak dirinya bisa melihat dunia dengan hatinya, hidupnya berubah. Ia menjadi lebih kuat dan bahagia dengan segala sesuatu yang ada di sekitarnya.

“Kyuhyun-ssi mengapa kau ingin berteman denganku?” tanyanya tiba-tiba membuatku kaget

“Hmm karna kau menyenangkan dan baik hati.” Jawabku sekenanya.

“Darimana kau tahu aku baik? Bagaimana jika aku hanya berpura-pura?” tanyanya lagi memojokkanku.

“Kau bukan gadis seperti itu.” Jawabku mantab.

Ia terdiam lalu tiba-tiba menyenderkan kepalanya di bahuku. Aku tidak menolak karna jujur saja aku senang ia berlindung denganku.

“Kau tahu, aku tak pernah menyangka bisa bertemu denganmu. Selama ini aku tak pernah bergaul dengan orang lain dan kau adalah orang pertama yang mengajakku bicara. Setidaknya kau mau berteman denganku, padahal kau seorang idola.” Jelasnya.

Aku tersenyum kecil dan entah dorongan darimana aku mengacak rambutnya pelan. “Idola juga manusia dan ku yakin orang-orang yang tak mau berteman denganmu adalah orang bodoh.”

“Kupikir seorang Kyuhyun tidak akan bisa berkata manis.” Sindirnya padaku lalu menegakkan kembali kepalanya. Rasanya ada yang hilang saat itu juga.

“Kau percaya dengan dunia selain dunia kita?” tanyanya. Raut wajahnya berubah menjadi muram.

“Maksudmu?”

“Pernahkah kau melihat malaikat atau iblis?”

Eh? Apakah dia mantan…

“Tidak.” Jawabku berbohong.

“Aku pernah. Ketika masih kecil.” Katanya pelan dan sukses membuat tubuhku bergetar hebat.

“Malaikat atau iblis?” tanyaku pelan dan sedikit gemetar.

“Malaikat bersayap iblis.” Jawabnya pelan lalu sebutir air mata membasahi pipinya.

“Kau…”

“Kau iblis itu kan Kyuhyun-ssi?” tanyanya padaku.

Aku terhenyak hebat dan merasa diriku terhempas. Siapa dia? Siapa gadis ini?

Hana berdiri lalu berjalan ke arah sungai Han. Matahari hampir saja terbenam dan ia terlihat sangat cantik karena wajahnya tertimpa sinar matahari.

“Percayakah kau jika ku katakan aku adalah Shin Ha Kyo?” tanyanya lagi sambil menolehkan wajahnya ke arahku dan tersenyum tulus. Lalu sebuah sayap putih keluar dari tubuhnya yang mungil. Dan di situlah ku sadari siapa dia, gadis kecilku. Gadis abadiku yang sesungguhnya.

When you are unhappy, The devil wears a grin

But he starts to run in

When the light comes prowling in, I know he’ll be unhappy

Cause i’ll never wear a frown

Maybe if we keep on smilling, He’ll get tired of hanging round

If i forget to say my prayers, The devil jumps with glee

But he feels so awful, When he sees me on my knees

So if you feel of trouble, And you never seem to move

Just open up your heart and let the sun shine in

.Fin.

Note : haloo aku muncul dengan sebuah ff yang tambah aneh! Hehehehe semoga suka dan tolong commentnya! Kalo lagi normal akan berusaha saya lanjutkan! Kali ini quotes nya banyakkan pke b.indo soalnya author lagi males mikir yang pke b.ing! Saya kabur! *chu*