AFTER STORY-BECAUSE U R MY IDOL (2/3)

 

Author : Minnie

Length : chaptered

Genre : romance

Cast : Lee Gikwang BEAST ,Cho Minkyung (OC) and other ilustration cast.

Disclamer :

* FF ini pernah di publish di akun facebook-ku, http://www.facebook.com/note.php?note_id=10150278699328546 .

* Minnie storyline only! No plagiat !

Backsong :

* BEAST- light go on again

* BEAST- soom/breath

* BEAST – lightless

******************************************************************************

Gikwang-ah!! Kau mendengarkan ku??? Aku bilang jangan pejamkan matamu tetapi kenapa kau melakukan nya!! Ahh PABO!! GIKWANG-ah!!

Jlekkk!!

Gikwang melebarkan matanya. Ia langsung menyapu pandangan ke seluruh sudut ruang itu.

Semua tampak putih dan bersih. …

Dinding putih, kasur putih, tirai putih dan……. Infus??

Dia berusaha membangkitkan tubuh lemahnya. Dia tak suka tempat ini.Sangat tak suka terutama karena obat yang menggantung indah di sampingnya dan sebuah jarum yang menusuk tangannya lalu mengalirkan cairan ke dalam tubuhnya.

Ia berusaha untuk mendudukan tubuh lemahnya dan ………. jatuh kembali ke kasurnya. Ia mengerang kesakitan dan memegang bagian ubun kepalanya. Dia memegang tempurung kepalanya kuat .

“Aku harus pergi dari tempat ini! Tempat ini memuakkan…!!!” Tangannya meraih sisi infus itu dan melepaskan jarumnya.

Ia berusaha melangkahkan kakinya menuju pintu keluar kamar rawatnya. Bahkan kakinya yang belum bisa menyangga tubuhnya dengan kuat itupun, dipaksanya berjalan walau akhirnya ia terjatuh ke lantai.

Kreeekkk~~

Seorang perawat masuk ke kamar itu dan terkejut melihat Gikwang sudah tersungkur di lantai dengan kucuran darah di tangannya. Gikwang tak sadarkan diri.

******************************************************************************

H-4

@Gikwang’s room, 9 AM

Seorang dokter membenahi posisinya di atas kasur dan menyelimuti tubuhnya.Seorang perawat memasang kembali jarum infus di tanganya dan mengecek kembali kondisinya. Kini jarum itu diikat kuat dengan perban yang kuat agar Gikwang tak bisa melepasnya. Dokter itu menghela napasnya dan menatap wajah Gikwang yang tertidur pulas.

“Ahhh…. Apa sebenarnya mau anak ini?ckckkckc…” Dokter itu menggelengkan kepalanya.

“Semuanya sudah kembali normal,dok!” Lapor perawat itu.

“ah ne! Baguslah kalau begitu!” Kata dokter itu sambil memandangi Gikwang yang tertidur dengan pulasnya. Dokter itu tak lain adalah Cho Minkyung.

“Dok, saya menemukan ini.” Kata perawat itu sambil menyerahkan sebuah buku. “ Saya menemukan ini di saku jaketnya. Mianhamnida bila saya lancang. Saya sempat membaca isi buku ini dan di dalamnya tertera nama anda….” Lanjut perawat itu sambil menyerahkan buku itu lalu membungkukan badannya.

“ahh…Ajoesumnida!!Aku akan membawa buku ini. Aku pergi sekarang….” Minkyung menepuk punggung perawat yang masih membungkukan badan di depannya dan berjalan keluar. “Dan jangan bilang padanya bila aku membawa buku ini!” Perintah Minkyung pada perawat itu.

“Ne, arasho!” Perawat itu tersenyum dan membungkukan badannya kembali pada Minkyung.

*****************************************************************************

Minkyung melangkah menuju ruang prakteknya. Ia menggerakan sedikit bagian kepala dan badannya yang terasa pegal. Badannya merasakan letih yang luar biasa hari ini. Tubuhnya membunyikan alunan derit yang menyakitkan. Ini semua karena ia berjaga di rumah sakit hanya untuk si ‘Pabo’ Gikwang dan karenanya pula sekarang semua badannya terasa ingin terpecah menjadi keeping-kepingan linu yang menusuk dinding otot dan tulang Minkyung.

Sekitar 2 jam lagi, ia harus segera pergi menuju panti yang berada di daerah Dong-ju. Dia harus merawat anak-anak yang kurang beruntung di sana. Anak-anak yang memancarkan aura malaikat mereka dengan anggota tubuh yang tak lengkap. Akhir-akhir ini memang Minkyung sering berkunjung ke panti itu untuk melepas tawanya bersama mereka dan merawat mereka terlebih memberi kasih sayang yang tidak pernah mereka dapatkan dari orang tua mereka. Tidakkah ini hanya untuk menyembuyikan rasa rindunya pada oemma-nya yang telah meninggal 10 tahun yang lalu? Pahit rasanya mengingat detik itu. Detik di mana ia mengetahui oemma-nya telah tiada,di mana ia tak sempat merangkul kasih sayang dari oemmanya di detik akhir hidup oemmanya, dimana ia tak mampu memberikan suatu senyuman hangat bagi oemma tercintanya, di mana ia tak mampu memberikan kebahagian bagi oemmanya, dan juga detik di mana oemmanya menghembuskan akhir napas kehidupannya. Minkyung tak bisa melakukan itu semua. Hingga kini Minkyung masih merasa gagal dalam mewujudkan mimpi oemma-nya untuk menjadikannya seorang dokter. Karena kerap kali pasien yang ia tangani , gagal di tangannya. Yahh..pasien yang ia tangani kerap kali menghembuskan detik akhir hidupnya di depannya. Ini membuatnya sangat terpukul. Dan ia takut sekarang adalah bagaimana bila Gikwang yang

sekarang berada di bawah kendalinya sebagai dokter, juga akan berakhir seperti pasien lain yang ditanganinya.

*flasback

Malam itu….

Minkyung merasakan sakit yang luar biasa di dadanya saat ia melihat orang yang ia kagumi, orang yang ia sayangi dan orang yang hingga kini masih ia cintai, tersungkur lemah di pangkuannya dengan tetesan darah pada dahinya. Ia berusaha membuat Gikwang terjaga saat itu tapi Gikwang sepertinya tak mendengarkan perkataan Minkyung. Hingga akhirnya Gikwang memejamkan matanya.

“Gikwang-ah!! Kau mendengarkan ku??? Aku bilang jangan pejamkan matamu tetapi kenapa kau melakukan nya!! Ahh PABO!! GIKWANG-ah!!”

Minkyung berangsur panik dan tubuhnya semakin bergetar hebat. Ia menangis dengan teriakan yang luar biasa kuat dan terus menahan darah yang keluar dari kepalanya. Kejadian seperti ini pernah dialaminya saat menangani pasien bernama Lee HaeMin yang juga memiliki pukulan keras di kepalanya ,dan sudah tertebak bahwa Minkyung gagal menangani pasien ini. Ia menghembuskan napas terakhirnya sesaat setelah matanya terpejam. Sejak saat itu, Minkyung tak pernah menangani pasien yang terlibat dalam suatu kecelakaan . Tapi malam itu….

Seolah mengukit trauma yang telah terukir di pikiran dan hatinya….

Ketakutan itu kembali menyusuri diri Minkyung dan membayangi Minkyung. Ia sangat takut bila dia gagal lagi menyelamatkan orang. Lebih membahayakan lagi bagi dirinya bila Gikwang tak terselamatkan . Dan bila itu terjadi, Minkyung akan masuk dalam rumah yang sama sekali tidak pernah Minkyung bayangkan. Rumah sakit jiwa.

Minkyung memegang lembut pergelangan tangan Gikwang dan mengecek nadi Gikwang. Tak berdenyut sedikitpun. Mungkin karena ia panik maka ia tak dapat berkonsentrasi mendengar detak nadi Gikwang. Tapi sekali lagi ia berusaha merasakan detak nadi itu dan malangnya ia tetap tak merasakannya. Tubuhnya semakin terhuyung kuat dan air matanya semakin mengucur deras.

Setidaknya perjalanan berlangsung selama 20 menit hingga sampai di rumah sakit. Busan international Hospital, sebuah rumah sakit yang dibangun 3 tahun lalu dengan kapasitas 1000 kasur lengkap dengan fasilitas berstandart internasional. Minkyung dibantu perawat lainnya, membawa Gikwang ke Unit Gawat Darurat.

Minkyung segera mengenakan jas putih ,masker kedokteran serta sarung tangan latex . Kini penampilannya telah sempurna sebagai dokter. Ia menghela napasnya pelan dan berharap Gikwang masih berada di dunia ini. Ia merobek baju Gikwang yang berlumur darah dan menekan dada Gikwang. Berulang kali ia menekan dada Gikwang tapi tak ada respon. Ia memasangkan oksigen di bilah hidungnya.

“Cepat pasangkan elektrokardiografi!” Perintah Minkyung pada seorang perawat. “Dan bersihkan darah itu dari kepalanya. Aku akan menjahitnya…” Perintahnya lagi.

“Tapi dok, anda …..” Seorang perawat terkesan takut dengan tindakan Minkyung .

“Percayalah padaku! Kali ini aku pasti berhasil!” Kata Minkyung sambil menggegam tangan perawat itu dan mengambil benang dan jarum khusus untuk menjahit luka. Perlahan ia mendekatkan diri pada Gikwang. Memandang lembut dan kembali menghembuskan napasnya.

Kau akan baik-baik saja Gikwang.Percayalah padaku……

Minkyung memulai aksinya. Ia menarik masuk dan keluar benang itu. Dengan cermat ia melakukan di sisi tempurung Gikwang. Dan 36 jahitan terpasang sempurna di kepala Gikwang.

“Semuanya kembali normal dok!” Seru seorang perawat. Minkyung tersenyum senang dan begitu pula pada sekumpulan perawat yang menemaninya menolong Gikwang hingga 2 dini hari ini.

“Ahhh kalian sudah bekerja keras hari ini! Kalian boleh istirahat sekarang! “ Kata Minkyung agar membiarkan dirinya bersama hanya dengan Gikwang.

Ia memutuskan untuk menunggu Gikwang malam itu. Ia menarik sebuah kursi dan mendudukan dirinya di sebelah Gikwang. Sedikit-sedikit ia mengecek infus yang ada di sampingnya.Semua berjalan normal.

Ia menatap wajah Gikwang yang tampak pucat saat ini. Ia mengusap jidat Gikwang yang masih tergores darah. Ia membersihkannya darah itu dengan belaian lembut tangannya. Ia menyentuh setiap lekukan wajah Gikwang. Mata bulat yang tertutup kelopak dengan bulu mata yang indah, hidung yang menjulur panjang dan bibir yang tampak putih padam. Rahang Gikwang yang begitu kuat memberi strukur indah pada wajahnya.

Kau sangat…….tampan Gikwang-ah…

Bukankah ini sebuah pujian bagi Gikwang? Sepertinya Minkyung sedang melantur saat itu karena dirinya yang lelah menjalani aktivitas sehari yang full dengan kegiatan kedokteran yang sangat utuh .

Ia membalikkan badannya dan berencana untuk meninggalkan Gikwang sendirian di ruang itu. Tapi tubuhnya serasa dipaku di tempat itu. Ia seakan tak mau untuk beranjak dari tempat itu.

“Tak ada salahnya aku di sini dulu hingga jam 5…..” Minkyung tersenyum.

Satu jam berlalu,Gikwang belum juga terbangun dari tidur lelapnya hingga Minkyung menyandarkan kepalanya pada kasur Gikwang .Tangan Minkyung yang lain memegang sisi jemari Gikwang yang membingkai indah di jemarinya.

*end of flashback

Minkyung mencoba meraba buku itu. Sebuah buku kecil dengan corak warna biru kehitaman dengan gambar hati di tengahnya. Cihh… inikah sebuah buku diary dari seorang namja bernama, Lee Gikwang? Gikwang sangat menyukai hal yang berbau manis rupanya . Ini terlihat dari tulisan tangan yang digoreskan dengan bolpoint berwarna dengan hiasan bunga di atasnya. Selalu ada gambar bunga melati di atasnya. Tapi mengapa bunga melati? Bukankah bunga melati suatu simbol untuk pernikahan?

Minkyung mencoba lembar per lembar buku yang sebenarnya memperlihatkan tulisan buruk Gikwang yang kadang sudah luntur. Mungkinkah Gikwang menulis saat air matanya mengalir indah di pipinya??

Gikwang fiction :

Aku ingin bersamamu….

Setiap detik…menit….. jam….hari….minggu…..dan tahun…..

tapi semuanya hanya anganku semata….

Gikwang fiction :

Cho Minkyung….

Kau ragaku yang hilang ditelan angin malam yang menghempas pelupuk wajahku…….

Bogoshipoyo~

Gikwang fiction :

lagu baru… album baru……style baru…. Jiwa baru…. Batin baru……

lalu bagaimana dengan hatiku? Tak seorangpun menempati bagian terkecil pintu hatiku….

Hanya kau dan kau…

Gikwang fiction :

Kau sumber semangatku…..

Kami menang triple crown di semua acara music ……

Kadang Minkyung tersenyum melihat karya fiksi dalam sebuah buku diary Gikwang. Tapi kadang ia sedih melihatnya,lebih tepatnya saat ia tak bisa membaca beberapa lembar yang basah total sehingga tulisannya sangat tak jelas untuk dibaca.

Minkyung terus membalik buku itu hingga lembar terakhirnya. Lembar yang sama tertulis di buku diary Minkyung.

Gikwang fiction :

Ahhh aku lelah…. Aku ….. aku….

Mungkin hari ini….

Semua kan kuakhiri hari ini….

Minkyung fiction :

Memang…memang….

Harusnya kuakhiri saja semuanya…

Setidaknya kata-kata itu menunjukan bahwa mereka telah berniat melupakan kehidupan percintaannya. Tetapi kenapa begitu niat itu ada di depan mata, Gikwang kembali muncul di hadapn Minkyung. Ini membuat hati Minkyung goyah.

Rupanya aku akan melangkah lebih dulu Gikwang. Mianne….kau dan aku kini berbeda….

Minkyung melempar buku itu di atas meja prakteknya dan kemudian menyambar tasnya. Tak lupa ia menggantungkan jas putihnya di ujung ruang praktek itu. Waktunya habis hanya untuk membaca diary Gikwang yang ternyata juga mengungkap fakta buruk tentangnya.

Merokok dan mabuk, hal yang paling dibenci Minkyung.

Kini ia beranjak ke panti asuhan.

******************************************************************************

@Gikwang’s room, 6 PM

Kepala Gikwang merasakan hentakan yang luar biasa dashyat. Ia mencengkram bagian kepalanya erat dan menahan rasa sakit itu. Ia berusaha melebarkan matanya tapi gagal. Ia sungguh merasa sakit. Ia mencengkram selimut yang dikenakannya dan melemparkannya ke bawah. Ia mengerang dan kakinya mulai menendang sisi kasur itu dengan keras.

Kreekk~~

“Aigooo… tuan Lee, gwaencanahaseyo???Tuan??” seorang perawat bersikap sigap dengan keadaan Gikwang. Ia kembali mengecek keadaan Gikwang.

Semua normal. Lalu mengapa ia menjerit kesakitan seperti ini?

Perawat memanggil dokter umum di tempat itu karena ia mengetahui bahwa dr.Cho sudah pergi sejak 3 jam yang lalu. Maka dengan cepat dokter itu datang ke kamar Gikwang dan mengecek keadaan Gikwang. Suara erangan Gikwang terlalu bising bahkan gerakannya terlalu keras menghentakkan kasur itu. Ini tak wajar.

“Beri dia obat penenang!Dia hanya shock setelah kejadian siang tadi.” Perintah dokter itu pada perawat .

“Baiklah,dok!” Perawat itu segera menusukan jarum suntik yang berisi obat penenang ke selang infuse Gikwang.

2 menit….

3 menit…

5 menit…

Gikwang mulai tenang dan tertidur.

******************************************************************************

H-3

@Gikwang’s room,6 AM……

Seorang perawat membukakan jendela kamar .Matahari telah memerlihatkan teriknya ke tubuh Gikwang. Perlahan mata Gikwang melebar. Sedikit dan secara pelan ia membangkitkan tubuhnya dari kasur.

“Annyeonghaseyo tuan Lee!” Sapa perawat itu. “Anda tidak berusaha untuk kabur dari rumah sakit ini lagi , bukan?” Tanya perawat itu sambil menunjukan senyum ledeknya.

“Cihhh….. Aku baru saja ingin menanyakan padamu, gimana caranya bisa keluar dari tempat dengan aroma yang memuakkan ini.”

“Anda harus tetap berbaring di tempat ini hingga besok lusa.” Jelas perawat tersebut sambil mengecek keadaan Gikwang. “Sesungguhnya anda bisa keluar dari tempat ini besok tetapi

karena anda tak mau meminum obat yang disarankan dokter maka kepulangmu diundur hingga lusa.” Jelas Perawat itu sambil mengganti perban Gikwang.

“Sudah kuduga bila orang di tempat ini akan sama memuakkan dengan bau obat-obatan di sini.” Jawab Gikwang sambil menyimpulkan senyum getirnya. “Kejam dan suka memaksa.” Lanjutnya.

“Lalu begitukah Dr. Cho?Kejam dan memaksa?” Tanya perawat sambil memandang Gikwang tajam. “Dia yang menyuruhku melakukan ini semua. Menjaga anda dan memberi obat tapi anda selalu menolaknya. ” Kata Perawat ini dengan mengangkat kedua alisnya.

“Dr.Cho?” Gikwang memutar otaknya pelan. “ Cho Minkyung maksudmu?” Tanya Gikwang pada perawat itu.

“Sapa lagi kalau bukan dia.” Jawab perawat itu santai dan mengemasi alat pemeriksaan-nya. “Aku pergi dulu! Dan ingat jangan coba-coba kabur,tuan Lee!” Perawat itu berlalu dari ruang perawatan Gikwang.

“Cihhh…. Perawat macam apa dia sampai berani mengancam pasiennya!” Gikwang mendengus pelan.

Mungkin ini memang mimpi buruk bagi Gikwang.Mungkin ia memang harus menjalaninya saat ini.Semua demi pemulihan tubuhnya dan kepalanya yang kini seperti seorang ilmuwan .Ya… itu karena seperempat bagian rambut di ubunnya dicukur untuk meletakan alur jahitan zig zag yang sekarang terpajang indah di kepalanya.

“Di mana buku ku?” Gikwang menyari buku diary nya. Buku yang menuliskan setiap rahasia Gikwang. Baik itu tentang kehidupannya maupun Cho Minkyung.

“Jangan katakan bila ia mengambilnya” Kesalnya sendiri. “Tapi tak ada salahnya bila ia membaca diary ku karena itu pun juga tentangnya.” Gikwang terkekeh pelan.

******************************************************************************

H-2

@Gikwang’s room ,7 AM

Seorang perawat datang kembali dan mengecek keadaan Gikwang. Tentunya juga membangunkan Gikwang dari tidur lelapnya dengan hamparan matahari yang kini meluas di kamar rawatnya. Dia membuka kelopak matanya dan melihat perawat itu lagi. Perawat itu mengecek suhu tubuh Gikwang, mengganti infuse Gikwang, mengecek detak nadinya dan mengganti perban Gikwang. Perawat itu membuka perlahan perban Gikwang dan menunjukan senyumannya pada Gikwang.

“Luka anda sudah membaik. Anda benar-benar bisa pulang besok..” Kata perawat itu sambil melepas perban Gikwang dan mengolesi obat ke ubun Gikwang.

“Aaaa….” Erang Gikwang menahan rasa perih akibat olesan obat itu. Perawat itu hanya tersenyum dan kembali membalutkan perban ke kepala Gikwang.

“Semuanya normal! Anda harus tetap melakukan full rest hari ini. Semua hanya untuk pemulihan. Bila anda mengelak lagi maka semuanya akan diundur termasuk kepulangan anda!” Jelas perawat itu . “Baiklah aku pergi! Annyeonghaseyo!” kata perawat itu dengan nada datarnya.

“Perawat di tempat ini sungguh tak ramah dan tepatnya juga selalu memaksa.” Kesal Gikwang ambil memukul guling yang berada di sebelahnya.

“Dan dia bilang bahwa hari ini aku harus full rest??LAGI??” Gumamnya pada dirinya sendiri. “Ahh…persetan dengan ini semua! Aku juga butuh udara segar!” Kata Gikwang perlahan sambil sedikit memicingkan sudut matanya. “ Tapi tidak jam ini…” lanjutnya.

Gikwang merubuhkan badannya di kasur yang tak cukup empuk itu. Dia membolak-balikan posisi tubuhnya dan menatap langit-langit kamar perawatannya. Dia terlihat sedang memikirkan sesuatu dan sesaat dia tersenyum jahil.

@Gikwang’s room, 8 PM

“Dia tak ada di ruangannya!” Seru seorang dokter yang hendak mengecek keadaan Gikwang. “Cepat panggilan dr.Cho!” Perintah dokter itu pada seorang perawat yang mengekorinya.

Perawat itu segera melangkahkan kakinya lebarnya menuju ruang praktek dr.Cho . Dalam waktu 3 menit perawat itu telah berada di ruang praktek Minkyung yang berada di lantai dasar. Sampailah pada pintu ruang praktek Minkyung. Ia menghela napasnya sebentar dan menatap pintu itu kembali .Antara yakin dan tak yakin, ia perlahan mengetuk pintu ruang itu.

~tok~tok~tok~

“Masuk!” Terdengar suara Minkyung yang lembut untuk menyuruh perawat itu masuk. Perlahan perawat itu menarik pelan ganggang pintu berwarna perak itu dan melangkah masuk ke ruang praktek Minkyung.

“Dr.Cho,sebelumnya saya mengucapkan maaf kepada anda. Joengmal … joengmal … joengmal …. mianhamnida!” Kata perawat itu sambil berkali-kali menghempaskan tubuhnya ke depan membentuk lekukan 90 derajat ke arah depan. Jelas Minkyung bingung dengan perkataan perawat itu.

“Apa ada sesuatu buruk terjadi?” Tanya Minkyung yang masih kebingungan. Minkyung bersiap untuk mengenakan jas putihnya dan stethoscope yang berada di mejanya.

“Seperti buronan yang sulit untuk ditahan di selnya..” Jawab perawat itu perlahan menuju arah pembicaraan . “ Gikwang berhasil pergi dari kamar rawatnya. Kami sudah mencarinya di setiap sudut rumah sakit ini tapi hasilnya nihil….. Joengmal….” Kata perawat itu yang hendak membungkukkan badannya kembali . Tapi dengan cepat Minkyung menahan alur tubuhnya yang mulai condong ke depan, dan kembali menegakkan Tubuh perawat itu.

“Aku sungguh gagal dalam tugasku.Menjagapun tak bisa bagaimana bila merawat orang…” Kata perawat itu pelan.

“Gwaencana! Aku sudah tau bahwa ia berencana untuk pergi dari rumah sakit ini sejak hari pertamanya di rawat.” Kata Minkyung perlahan mengambil tas dan kunci mobilnya.

“ Dan semua orang pernah gagal melakukan sesuatu di awalnya. Gagal dalam kemuliaan adalah lebih baik daripada menang dalam kehinaan. Orang yang gagal sekali-kali tidak rugi, selagi dia belum berputus asa. Kalau sekali maksud belum sampai, janganlah patah harapan. Jadi kau masih memiliki kesempatan magangmu hingga 2 hari ke depan. Ini bukan masalah bagiku.”

Sebuah quotes terselip di antara perkataan Minkyung untuk memberi semangat pada perawat itu. Perawat itu hanya terbelalak singkat dengan sifat baik Minkyung.

Mengingat beberapa hari yang lalu perawat itu juga sempat melakukan kesalahan pada tindakannya yang mengancam kegiatan magang-nya di rumah sakit ini hingga kepala rumah sakit menghentakan kata-kata keras padanya. Kini ia sungguh beruntung menjadi asisten dr.Cho, bagaikan malaikat tak bersayap menyambarnya di malam yang dingin ini, Begitulah sikap dr.Cho selama ini.

Lain sisi, Minkyung segera berlari menuju ruangan Gikwang di lantai 4 rumah sakit itu. Tentu tidak menggunakan kedua belah kaki panjangnya untuk berlari ke kamar rawat Gikwang tetapi dengan menggunakan kotak listrik bernama lift.

~room 471~enter~

Ruang rawat itu tampak rapi dan bersih. Obat-obat berserakan di meja sebelah barat kasur rawat itu. Terlihat wajah gelisah dr.Han –seorang dokter umum rumah sakit itu- yang kini tepat berada di depan Minkyung. Dia memegang sebuah kertas di tangannya. Bingo! Gikwang pasti meninggalkan jejaknya di sini!

“Dia meninggalkan ini!” dr. Han menyerahkan sebuah kertas pada Minkyung. “ Aku takut bila sesuatu buruk terjadi padanya. Lukanya memang sudah membaik tapi bila terkena udara dingin….. Aku tidak janji bila lukanya akan tetap menutup.” Jelas dr.Han dengan nada khawatirnya.

Minkyung mengganggukan kepalanya pertanda mengerti. Luka itu memang akan menutup pada suhu normal, di mana kulit epidermis dapat beraktivitas dengan normal untuk merekatkan secara perlahan dengan sekawanannya. Di suhu yang dingin tepatnya karena banyaknya angin yang berhembus, membuat kulit epidermis itu berhenti bergerak dan membeku. Layaknya orang yang berjalan di tengah badai besar maka ia tak akan mencapai tujuannya. Begitu pula dengan luka itu, maka luka di kepala Gikwang tak akan tertutup dengan sempurna. Dan itu menyebabkan banyak bakteri masuk ke dalam sel –sel di kepalanya dan dapat berakibat fatal pada perkembangan otaknya. Walaupun tampaknya otak pabo Gikwang memang sudah tidak berkembang.

Sejenak Minkyung berkutat pada lekukan kertas di tangannya. Ini jelas surat.

Dear Cho Minkyung / dr.Cho

Aku mengenalmu lebih dari setahun ……..

saat di mana aku melihat lekuk indah wajahmu dan paparan senyuman di belahan bibir manismu..

Saat kau kegirangan dan terkejut melihat aku menepuk dengan lembut pundak lemahmu. ….

Saat kau dengan gaya aegyomu menyanyikan dan menggerakan lagu bad girl..

Saat kau menangis sedih karena sesuatu yang dianggap kejutan. …..

Saat kau menghempaskan air matamu di depan banyak orang karena prestasi mini album eM-Gie…

Saat kau tersipu malu akibat sentuhan bibir manisku….

Saat kau berteriak dan merintih sakit ketika orang yang sangat kau cintai meninggalkanmu..

Saat kau menggoreskan keputusan pahit di tengah kebahagiaan yang begitu menghunjamku…

Hingga akhirnya aku melihatmu melangkah jauh dari diriku dan menghilang…

Aku memang merasakan luka saat ini…bukan luka di kepalaku tetapi juga di hatiku..

Mungkin beberapa orang akan menyarankanku untuk menyembuhkan luka itu tapi aku memilih untuk menangisinya….terus menangisi kepergianmu dari sisiku….

Gikwang pabo! Yahh… itu memang aku….

Sulit bagiku untuk melupakan orang yang telah memberiku banyak memori indah yang selalu melayang di benakku. Dan ini terasa lebih sulit lagi, bila kau melupakanku.

Aku memang tak mendengar kenyataan yang menyakitkan ini tapi aku tak bisa membohongi diriku sendiri selalu ingin menyusuri dan mempelajari kepahitan itu.

Aku tak kan berusaha bangkit tanpa uluran tanganmu. Aku tak bisa menyembuhkan luka ini sendirian! Aku butuh seorang dr.Cho untuk mengangkat hatiku yang telah rapuh ini agar kembali utuh dan membinanya kembali dalam suatu lembaran abadi yang baru.

Aku tau kau peduli bukan hanya untuk diriku tapi juga untuk seseorang di sekelilingmu…..

Dan jika kau peduli padaku,temui aku di pantai sebelah tenggara Nam-gu…

Kau pasti tau tempat itu bila kau sudah memegang buku diary ku..

Denting jam semakin berputar menuju pergantian hari,cepat atau lambat kau akan menemuiku di tepi deburan pantai itu….

Aku menunggumu Cho Minkyung~~

Fr: Pabo Gikwang

 

“Aisshhhh….Kau tau di mana letak rumah sakit ini, Gikwang?” Minkyung bergumam pada dirinya sendiri. “Perjalanan ke Namgu butuh waktu berjam-jam dan ini sama saja membunuh dirimu perlahan…” Gumamnya lagi mengungkapkan rasa kesalnya pada kebodohan Gikwang .

“Sial! Dia memaksaku ke pantai itu. Mau tak mau aku harus ke sana. Ini bukan menyangkut perasaannya tapi hidupnya.” Gumam Minkyung pada dirinya lagi.

Dia segera mengambil buku mungil berwarna biru itu.Diary of Lee Gikwang. Rasanya buku itu ingin dibuang olehnya. Demi apapun itu, Minkyung mulai muak dengan buku diary Gikwang. Yaa…. karena setiap kata tertulis untuk dirinya. Dia muak melihat Gikwang menyiksa dirinya sendiri seperti ini. Rasanya niat untuk membuat Gikwang membencinya kan benar-benar terlaksana.

“Ahh… buku ini cukup membantuku rupanya…” Minkyung bergumam kecil dan pergi melangkah ke mobilnya.

Dia mengubah dirinya sesuai porsinya.Seorang yoega yang dingin dan sedikit….. kejam.

Minkyung fiction :

Aku tak kan pernah tau ke mana mata hatiku melangkah dan berpijak.

Sosokmu hanya bayang semu di hati.

Abadi bersama mimpiku……

Selamat tinggal Gikwang~

********

TBC~

 

Don’t be silent reader….

Don’t bash…