Author : Claudhia Safira (Park Hye Joong)

Title : Strawberry Lovellipop

Length : Continue

Genre : Romance

Cast :

* Casts :
– Kim Hyun Joong  (SS501) as Kim Hyun Joong
– Park Hye Joong as Park Hye Joong
– Kim Hyung Joon (SS501) as Kim Hyung Joon
– Song Hye Ra as Song Hye Ra
– Heo Young Saeng (SS501) as Heo Young Saeng
– Kim Hyun Ra as Kim Hyun Ra
– Kim Kyu Jong (SS501) as Kim Kyu Jong
– Song Hyu Rin as Song Hyu Rin
– Park Jung Min (SS501)  as Park Jung Min
– Han Sang Mi as Han Sang Mi

Extended Casts :
– Kim Min Joo as Hyun Joong’s mother
– Park Min Ho as Hye Joong’s father
– Byun Jang Moon (A’st1)  as Jang Moon
– Sung In Kyu as (A’st1) In Kyu
– Kang Hye Neul as Hye Neul
– Park Jung Jin (A’st1)  as Jung Jin

 

10.

(HAENGBOK)

 

3 bulan kemudian ……………………….

Hye Neul telah kembali ke Kanada. Dengan sedikit penjelasan dari Park Jung Jin –suaminya-, Hye Neul mau kembali lagi ke sisi Jung Jin. Sementara hubungan antara Hyung Joon-Hye Ra, Young Saeng-Hyun Ra, dan Kyu Jong-Hyu Rin semakin kuat saja. Mereka terus lengket satu sama lain.

Sementara itu, meski tidak bisa bertemu secara langsung, hubungan Jung Min dan Sang Mi juga semakin mesra, bahkan mereka sudah memutuskan untuk pacaran.

Lain halnya dengan Hyun Joong, di saat sahabat – sahabatnya telah menemukan tambatan hatinya, ia masih saja sendiri, berharap Hye Joong membukakan pintu hatinya untuk dia.

 

Sementara itu, Sang Mi mengajak Hye Joong jalan – jalan mengelilingi indahnya kota Perth.

“Tumben sekali kau mengajakku jalan – jalan.” ucap Hye Joong.

“Tidak ada salahnya kan. Lagipula mungkin ini jalan – jalan kita yang terakhir di kota Perth.”

“Kenapa begitu?”

“Ayahku akan pindah ke Korea. Mau tidak mau aku harus mengikuti ayahku. Di satu sisi aku senang karena akhirnya aku bisa pulang ke negeri asalku. Tapi di satu sisi aku juga sedih, karena aku harus berpisah denganmu. Padahal aku baru saja menemukan sahabat

yang benar – benar mengerti aku.” ucap Sang Mi dengan nada sedih.

“Kalau itu memang sudah keputusannya, mau bagaimana lagi. Kau jangan sedih, kita kan masih bisa berkirim e-mail. Kapan – kapan juga aku akan pulang ke Korea dan menemuimu.”

“Kau tidak ingin kembali ke Korea? Bagaimana saat aku pulang ke Korea nanti kau juga ikut bersama kami? Kebetulan kita kan sedang libur semester.”

“Kaundae……………..”

“Jadi kau tidak mau?” ucap Sang Mi dengan raut muka kecewa.

“Kau jangan menatapku seperti itu. Aku paling tidak tahan dengan ekspresi seperti itu.”

“Ayolah Hye Joong, ikutlah bersama kami. Nanti kalau liburan sudah berakhir, kau bisa kembali lagi ke Australia. Aku kan baru saja mengenalmu, aku tidak ingin begitu saja berpisah denganmu.”

“Baiklah jika kau memaksa.”

“Kau memang sahabatku. Nanti kalau sudah sampai Korea, kau tunjukkan di mana rumahmu. Kau tinggal di daerah mana?”

“Seoul.”

“Rumah ayahku juga di daerah Seoul. Awas sampai kau tidak menunjukkan di mana rumahmu!” ucap Sang Mi.

………………. ………. ………………..

 

Beberapa minggu kemudian, Hye Joong kembali ke Korea bersama Sang Mi dan keluarganya.

Di dalam pesawat, Sang Mi dan Hye Joong terus saja bercerita panjang lebar.

Akhirnya setelah beberapa jam dalam pesawat, mereka sampai juga di Seoul.

“Hye Joong, senang sekali rasanya setelah bertahun – tahun tak pernah mengunjungi kota kelahiranku, sekarang aku bisa menginjakkan kaki di sini.”

“Sekarang kau ikut makan bersama kami, nanti aku akan menyuruh supir untuk mengantarmu pulang, sekalian aku ingin melihat rumahmu.” ucap Sang Mi.

Hye Joong hanya bisa mengangguk.

 

Setelah makan, sesuai ucap Sang Mi, supir pun mengantar Hye Joong ke rumahnya, tentu saja sesuai dengan arah yang ditunjukkan Hye Joong.

“Kenapa kau mendadak keluar keringat dingin seperti itu? Kau tegang? Bukankah seharusnya kau senang bisa kembali pulang?” tanya Sang Mi.

“He…. benar juga ucapanmu. Untuk apa aku tegang….. Bodohnya aku.”

“Hye Joong, kenapa mendadak sikapmu jadi aneh seperti ini?”

“Apa? Benarkah? Huh….. hari ini cuaca benar – benar panas. Kau tidak kepanasan?”

“Kepanasan? Bukankah hari ini langit agak mendung?” ucap Sang Mi dalam hati.

Mobil berhenti di sebuah gang kecil.

“Di sini rumahmu? Sebelah mana?” tanya Sang Mi.

“Rumahku yang bercat kuning. Di gang ini, hanya rumahku yang bercat kuning, jadi mudah menemukannya.”

“Aku antar ya?”

“Tidak usah, aku bisa sendiri.”

“Kau yakin?”

Hye Joong mengangguk.

Supir lalu menurunkan barang bawaan Hye Joong dari bagasi.

“Hye Joong, aku akan berkunjung ke rumahmu besok.”

“Hati – hati di jalan.”

Mobil lalu melaju meninggalkan Hye Joong.

Entah karena kecapekan atau apa, tiba – tiba saja tas yang dibawa Hye Joong jatuh. Ia tidak bisa mengontrol tangannya agar tidak gemetaran.

“Tenanglah Hye Joong, kau pasti bisa menghadapi ini.” ucap Hye Joong menyemangati dirinya.

Kemudian, saat ia hendak memasuki gang, ia melihat Hyun Joong hendak membuang sampah di tong sampah di depan gang.

“Celaka!!!! Hyun Joong…….. Aku harus bersembunyi di mana?” ucap Hye Joong yang mulai panik.

Ia lantas bersembunyi di semak – semak. Saking paniknya ia sampai meninggalkan tas dan kopernya di depan gang.

Saat Hyun Joong hendak membuang sampah, ia melihat ada beberapa tas dan koper tergeletak di jalan.

“Siapa begitu teledor meninggalkan tas dan kopernya di jalanan.” ucap Hyun Joong.

Lalu ia membuang sampah dan kembali ke rumahnya.

“Hari ini aku harus tidur di mana? Rasanya tidak mungkin aku kembali ke rumah. Juga tidak mungkin aku pergi ke rumah Hye Ra.”

Lama Hye Joong berpikir, akhirnya ia memutuskan untuk pergi ke sebuah hotel yang letaknya tak jauh dari rumah.

“Untuk sementara waktu, aku tinggal di hotel dulu. Ini mungkin lebih baik.” ucap Hye Joong dalam hati.

………………. ………. ………………..

 

Pagi hari yang cerah. Sang Mi telah bangun dari tidurnya.

“Selamat pagi nona!” sapa salah satu pembantu yang bekerja di rumah Sang Mi.

“Ahjumma, kau?” tanya Sang Mi heran.

“Aku ditugaskan orang tua nona untuk membantu nona dan menjaga nona.”

“Oh…..”

“Aku sudah membuatkan sarapan untuk nona. Nona ingin saya membawakan ke kamar atau………….”

“Tidak perlu repot – repot bibi, aku ke ruang makan saja.”

“Baiklah”

Sang Mi lantas menuju ke ruang makan.

“Sang Mi, pagi ini kau ada acara?” tanya Ibu Sang Mi.

“Acara? Oh ya aku baru ingat! Aku ingin pergi ke rumahnya Hye Joong.”

 

Di tempat berbeda, Hyun Joong sedang sarapan bersama ibu.

“Hyun Joong, sekarang kau sudah kelas 3, kau harus giat belajar agar kau bisa diterima di perguruan tinggi yang kau pilih.” ucap Ibu menasehati.

“Baik bu, ibu sudah ratusan kali berbicara seperti ini. Tentu aku tak akan lupa.”

“Hari libur begini, kau mau pergi ke mana?” tanya ibu yang melihat Hyun Joong berpakaian layaknya seorang atlet basket.

“Teman – teman mengajakku bermain basket. Sudah lama kami tidak main basket, hitung – hitung melepas kerinduan.” jawab Hyun Joong.

“Aku jalan dulu bu” lanjut Hyun Joong.

“Berhati – hatilah di jalan.” ucap ibu.

Hyun Joong lalu meninggalkan rumah. Jung Min berjanji akan menjemput Hyun Joong di depan gang rumahnya.

Oleh karena itu, Hyun Joong menunggu Jung Min tepat di depan gang rumahnya.

Di saat yang sama, Hye Joong hendak pergi menemui ibu. Tapi langkah kakinya terhenti karena ia melihat Hyun Joong sedang berdiri di depan gang. Cepat – cepat ia bersembunyi di belakang pohon yang berada di dekatnya. Sebentar – sebentar Hye Joong menengok ke arah Hyun Joong, memastikan apakah Hyun Joong sudah pergi atau belum.

Di sisi lain, Hyun Joong merasa seperti ada yang mengawasi gerak – geriknya. Ia mengarahkan pandangannya ke sekeliling, tapi tak ada siapa – siapa. Lalu di suatu titik ia melihat sepintas, ada sesuatu, entah apa, tapi seperti seseorang yang sedang bersembunyi di balik pohon. Karena penasaran, Hyun Joong pun hendak menuju ke pohon itu. Hye Joong sungguh merasa was – was.

“Matilah aku, pasti Hyun Joong tadi tahu dan sekarang pasti dia akan ke sini. Apa yang harus aku lakukan sekarang?” ucap Hye Joong dalam hati.

Akan tetapi, ketika Hyun Joong hampir mendekati pohon itu, Jung Min keburu memanggilnya.

“Hyun Joong, apa yang sedang kau lakukan? Cepatlah naik.” ucap Jung Min.

“Biaklah.” ucap Hyun Joong.

Hye Joong yang masih berusaha mengintip, merasa lega sekali.

“Huh…… Terima kasih Tuhan, kau menyelamatkan ku hari ini.” ucap Hye Joong.

Hye Joong pun melangkahkan kakinya menuju ke rumahnya.

Sesampainya di depan pintu, ia hendak mengetuk pintu. Tapi entah mengapa muncul keraguan di hatinya.

Kemudian, ia memberanikan diri untuk mengetuk pintu. Beberapa saat kemudian, pintu dibuka.

“Hye Joong!!!” ucap Ibu kaget.

“Ibu!!!!” ucap Hye Joong seraya memeluk ibunya.

Kemudian Hye Joong masuk ke rumahnya.

“Kenapa kau tidak memberitahu pada ibu kau akan pulang? Ibu dan Hyun Joong kan bisa menjemputmu di bandara.”

“Tidak perlu repot – repot seperti itu, bu.”

“Cakkaman….”

“Mworago?”

“Mana barang – barang bawaanmu? Kau tidak mungkin pulang dari Australia tanpa membawa barang, kan?”

“I….itu………… sebenarnya aku………….. Aku menginap di rumahnya teman”

“Siapa? Hye Ra?”

“Bukan….bukan….. Aku menginap di rumahnya Sang Mi, dia teman kuliahku. Sebenarnya aku pulang ke Korea bersamanya, dan tadi malam baru sampai. Karena masih lelah, akhirnya aku menginap di rumahnya Sang Mi.”

“Lantas, mengapa sekarang kau tidak bawa barang – barangmu ke sini? Kau tidak berencana menginap di rumahnya Sang Mi terus, kan?”

“Masih belum sempat bu. Sudahlah bu, jangan membahas ini dulu. Aku rindu sekali dengan ibu. Apa ibu tidak rindu padaku?”

“Ibu mana yang tidak rindu pada anaknya? Apa sekarang kau sedang libur?”

“Benar… aku sedang libur makanya aku bisa pulang. Ibu, aku lapar, ibu masak apa hari ini?”

………………. ………. ………………..

 

 

“Hari ini kau semangat sekali!” ucap Kyu Jong pada Hyun Joong.

“Sudah lama aku tidak bermain basket, mumpung kali ini ada kesempatan, aku harus bermain dengan sungguh – sungguh.” ucap Hyun Joong.

“Ha….ha…..ha………………….”

Terdengar suara tawa yang sangat keras dari seseorang yang tak lain adalah Jung Min.

“Jung Min ah, kau kenapa? Kau sedang kerasukan?” tanya Young Saeng.

“Ngawur saja kau ini! Kau tidak tahu aku sedang bahagia?”

“Bahagia? Bahagia kenapa?” tanya Young Saeng lagi.

“Ternyata Sang Mi sudah berada di Korea. Sekarang ia hendak menemui temannya, kemudian ia akan menemuiku”

“Jadi hanya karena itu?” tanya Young Saeng.

“Young Saeng sshi!!!! Kau…………………”

“Aku hanya bercanda. Mianhaeyo”. ucap Young Saeng.

 

Sementara itu……………..

Hyung Joon dan Hye Ra hendak pergi ke rumah Hyun Joong. Mereka ingin menemani ibunya Hyun Joong. Memang setiap hari Minggu, mereka selalu meluangkan waktu untuk menemani ibunya Hyun Joong.

Di saat yang bersamaan…………..

“Bu, ada hal penting yang ingin aku bicarakan pada ibu.” ucap Hye Joong dengan nada serius.

“Apa yang ingin kau bicarakan? Bicaralah, ibu akan mendengarkannya.”

Kemudian Hye Joong mengutarakan semua yang ingin dikatakannya. Di saat yang bersamaan, tak sengaja

Hyung Joon dan Hye Ra mendengar perkataan Hye Joong.

“Hye Joong ah…………..” ucap Hye Ra.

“Hye Ra sshi……………” Hye Joong lalu memeluk sahabatnya itu.

“Apa tadi yang kau katakan itu……………………”

“Maafkan aku, sekali lagi maafkan aku” ucap Hye Joong dengan penuh isak tangis.

Lalu Hye Joong menghampiri ibu.

“Ibu, maafkan aku…. Sungguh maafkan aku, aku tidak bermaksud untuk menyakitimu”ucap Hye Joong yang lantas pergi meninggalkan rumah.

………………. ………. ………………..

 

Hyun Joong dan teman – temannya memutuskan untuk pergi ke rumahnya Hyun Joong untuk bersantai – santai sejenak.

Sesampainya di rumah, mereka dibuat penasaran karena Hye Ra dan ibu terlihat sembap matanya.

“Ibu, kau kenapa?” tanya Hyun Joong.

“Ibu tidak apa – apa.” jawab Ibu.

“Jangan berbohong padaku! Jika memang tidak kenapa – kenapa, mengapa mata ibu dan Hye Ra noona sembap seperti itu?”

Kemudian terdengar suara orang mengetuk pintu. Hyun Joong lantas membukanya.

“Anyeong Hasseyo! Apa Hye Joong di rumah?” tanya orang itu.

“Darimana kau bisa kenal Hye Joong noona?” tanya Hyun Joong.

“Aku…. aku temannya…………..”

“Sang Mi!” ucap Jung Min kala tahu siapa yang bertamu.

“Jung Min ah!” ucap gadis itu.

“Sedang apa kau di sini?” tanya Jung Min.

“Aku hendak menemui temanku, Hye Joong.”

“Jadi kau adalah teman noona selama di Australia?” tanya Hyun Joong.

Sang Mi menganggukkan kepalanya.

“Lalu kenapa kau sekarang datang kemari? Darimana kau bisa tahu ini adalah rumah Hye Joong noona?” tanya Hyun Joong.

“Kemarin aku mengantarkannya pulang.”

“Apa yang kau bilang tadi? Kau mengantarkannya pulang?”

 

Hye Joong merasa ada salah satu dari barangnya yang hilang.

“Ponsel!!! Di mana ponselku?” ucap Hye Joong yang panik.

“Apa jangan – jangan tertinggal di rumah?”

Hye Joong lantas memutuskan untuk kembali ke rumah guna mengecek apakah ponselnya benar tertinggal. Akan tetapi, alangkah terkejutnya Hye Joong mana kala tahu Sang Mi sedang berada di teras rumahnya dan ngobrol dengan Hyun Joong dan yang lainnya.

“Sang Mi sshi? Kenapa dia kemari? Untuk apa dia berbicara dengan Hyun Joong?” tanya Hye Joong dalam hatinya.

Karena tak ingin merusak suasana, Hye Joong lantas meninggalkan rumahnya.

………………. ………. ………………..

 

“Apa? Jadi selama ini kau kenal dengan Hye Joong? Tapi kenapa kau tak pernah memberitahukannya padaku?” tanya Jung Min.

“Kau juga tidak pernah bertanya padaku.” jawab Sang Mi.

“Sekarang, kau tahu noona ada di mana?” tanya Hyun Joong.

“Molla, kemarin dia aku antarkan sampai depan gang.”

“S…sebenarnya…. sebenarnya tadi Hye Joong kemari sebelum kau datang.” ucap Hye Ra tiba – tiba.

“Apa? Lalu, apa yang noona katakan?” tanya Hyun Joong.

Hye Ra terdiam. Sang Mi lalu menceritakan segala yang dialaminya bersama Hye Joong, termasuk di mana Hye Joong kuliah, dimana Hye Joong tinggal.

 

Beberapa jam kemudian…………

“Sang Mi sshi, aku sungguh senang bertemu denganmu.” ucap Jung Min.

Keduanya kini berada di taman. Hanya mereka berdua.

“Na do banggawayo.”

“Ternyata kau lebih cantik daripada di foto.”

“Kau mulai membual lagi.”

“Aniyo. Nae sinca.”

“Kira – kira bagaimana keadaan Hyun Joong sekarang? Aku sangat kasihan dengan dia.”

“Sudahlah, Hyun Joong sudah cukup besar untuk bisa mengurus masalahnya sendiri. Sekarang kita urusi masalah kita.”

“Masalah kita?” ucap Sang Mi.

“Benar. Dulu aku pernah berkata kepada diriku sendiri, akan mengatakan apa yang sangat ingin aku katakan ketika bertemu denganmu.”

“Apa itu?” tanya Sang Mi penasaran.

“Sang Mi sshi, saranghaeyo, apa kau mau menjadi pacarku?”

“Jung Min sshi”

“Tak peduli seberapa jauhnya jarak memisahkan kita, aku akan tetap mencintaimu. Kita memang baru pertama kali bertemu secara langsung, tapi setelah sekian lama aku chatting denganmu, aku merasakan hal ini, dan aku yakin perasaan ini tidak salah.”

“Jadi bagaimana?” tanya Jung Min lagi.

Sang Mi hanya tertawa dan menganggukkan kepalanya.

“Sang Mi sshi, kau menganggukkan kepalamu apa itu berarti kau?”

“Ya,, aku menerimamu.” ucap Sang Mi.

Jung Min sangat senang dan memeluk Sang Mi erat.

 

Sementara itu………………….

Hye Joong telah berada di dalam kamarnya. Ia berpikir sejenak.

“Apa hubungan antara Sang Mi dan Hyun Joong? Apa mereka saling kenal?” tanya Hye Joong.

Kemudian saat ia hendak mengambil sesuatu di dalam tasnya, tiba – tiba ada sesuatu terjatuh. Ternyata adalah sebuah buku milik Sang Mi.

“Bukankah ini buku milik Sang Mi? Kenapa bisa aku bawa?”

Lalu saat Hye Joong membuka – buka isi bukunaya, ada sesuatu yang terjatuh. Saat ia mengambilnya, ia sangat terkejut.

“Foto Jung Min?” ucap Hye Joong.

“Apakah selama ini laki – laki yang dibicarakan Sang Mi itu adalah Jung Min? Celaka aku, pasti Sang Min menceritakan semuanya pada Hyun Joong, apa yang harus aku lakukan sekarang?”

 

Malam menjelang, sudah seharian ini Hyun Joong mencari keberadaan Hye Joong, tapi sama sekali tak membuahkan hasil.

“Noona, kenapa kau menghindariku? Kenapa kau juga berbohong padaku? Kau bilang kau telah menemukan pria yang mengisi hatimu, tapi kenyataannya?”

Hyun Joong mendengar ada suara dering ponsel. Ia bingung suara ponsel siapa yang berbunyi, sedang ponselnya dari tadi ia matikan. Kemudian, ketemulah asal muasal suara dering ponsel itu.

“Bukankah ini ponselnya noona?” ucap Hyun Joong.

Kemudian ia membuka ponsel clamshell itu, ternyata sebuah pengingat.

“Bersemangatlah!” Hyun Joong membaca apa yang tertulis di pengingat itu.

“Apa jangan – jangan tadi noona sempat ke kamarku?”

Hyun Joong lalu membuka – buka isi ponsel Hye Joong.

 

Beberapa hari kemudian……………

Hye Joong memutuskan untuk segera kembali ke Australia hari ini juga. Ia tidak mau mengambil resiko dengan menunda – nunda keberangkatan.

Sementara itu…………….

“Hyun Joong, aku hanya bisa membantumu memberitahukan informasi tentang di mana Hye Joong kuliah dan tinggal. Selebihnya, maaf aku tidak bisa membantumu. Andai saja orang tuaku belum pindah ke Korea, aku pasti akan mengantarmu ke Australia.”

“Tidak apa – apa Sang Mi, kau jangan terbebani akan masalah ini. Sekarang, sebaiknya kau bersenang – senanglah dengan Jung Min. Ia sudah lama menunggu kedatanganmu.”

“Noona, aku berjanji aku akan menyusulmu ke Australia. Aku akan belajar sungguh – sungguh agar aku bisa mendapatkan beasiswa kuliah di Australia. Tunggu aku, noona.” ucap Hyun Joong dalam hati.

………………. ………. ………………..

 

Beberapa bulan kemudian…………..

Hyun Joong berhasil mendapatkan beasiswa kuliah di Australia di salah satu universitas. Usahanya selama ini tak sia – sia.

Akan tetapi, rasa kecewa sedikit menggelayuti hati Hyun Joong, meskipun ia berhasil mendapatkan beasiswa kuliah di Australia, tapi bukan di universitas dimana Hye Joong berada. Jika Hye Joong di Perth, maka Hyun Joong di Adelaide. Ia tak tega sebenarnya meninggalkan ibu sendirian, tapi ibunya bisa mengerti. Lagipula, Hye Ra juga akan terus menemani ibunya, itu membuat hati Hyun Joong lega.

Sesampainya di Australia, Hyun Joong segera pergi ke kota Perth. Tempat pertama yang dituju adalah apartement Hye Joong. Sesuai apa yang dikatakan oleh Sang Mi, Hyun Joong lalu menuju ke sebuah kamar. Ia mengetuj pintunya.

Saat pintu dibuka, alangkah kagetnya Hyun Joong saat melihat orang yang dihadapannya itu bukanlah Hye Joong, tapi seorang gadis blasteran Australia – India.

“Excuse me, Is it Hye Joong’s room?” tanya Hyun Joong.

“No, it is’nt. It is my room.”

Ternyata sudah beberapa bulan yang lalu Hye Joong pindah.

Kemudian Hyun Joong menuju tempat dimana Hye Joong kuliah. Ia menanyakan ke bagian yang mengurus data – data mahasiswa tentang apakah ada mahasiswa

bernama Park Hye Joong yang kuliah di fakultas kedokteran. Ternyata ada 5 orang yang bernama Park Hye Joong. Hyun Joong lalu meminta alamat kelima orang tadi. Setelah mendapatkannya, Hyun Joong memutuskan untuk mendatangi alamat tersebut satu persatu esok hari.

………………. ………. ………………..

 

Sebenarnya hari ini Hyun Joong berniat untuk mendatangi alamat yang telah ia dapatkan. Tapi sepertinya ia harus menunda dulu keinginanya itu. Tugas – tugas kuliah yang begitu banyak membuat seluruh badannya seakan lemas, ditambah lagi, tempat dimana ia tinggal tidaklah dekat dengan alamat – alamat tersebut.

Baru seminggu kemudian, ia bisa mempunyai waktu untuk mendatangi alamat – alamat tersebut. Dibutuhkan hampir sehari untuk mendatangi kelima alamat itu, tapi kelima orang itu ternyata bukanlah Hye Joong yang ia maksud. Ia pun kembali dengan tangan hampa.

“Hye Joong noona, kenapa susah sekali mencari keberadaanmu.” keluh Hyun Joong.

 

Akhirnya, setiap kali hari Minggu Hyun Joong selalu meluangkan waktu untuk ke Perth, siapa tahu ia bisa bertemu dengan Hye Joong.

Kemudian pada suatu hari, Hye Ra menelepon.

“Hyun Joong, cepatlah pulang, ibumu sedang sakit sekarang. Ia terus saja memanggil namamu.” ucap Hye Ra.

Mendengar hal itu tentu saja Hyun Joong panik, segeralah ia pulang.

………………. ………. ………………..

 

“Bagaimana keadaan ibu?” tanya Hyun Joong saat sampai di rumah sakit.

“Ibumu kritis.” jawab Hye Ra.

“Kenapa ibu bisa sakit begini? Apa kau tidak menjaganya dengan baik? Aku sudah berpesan padamu untuk menjaga ibuku dengan baik!” ucap Hyun Joong dengan nada sedikit marah.

“Hyun Joong, kau jangan menyalahkan Hye Ra seperti itu. Ibumu sakit kanker hati. Dan itu sudah lama ia alami, hanya saja ia tidak mau cerita. Jadi tolong berhentilah menyalahkan Hye Ra.” ucap Hyung Joon.

“Apa kau bilang tadi? Ibuku sakit kanker hati?”

Dokter keluar dari ruangan.

“Apakah di sini ada yang bernama Hyun Joong?”

“Joneun.”

“Dari tadi Nyonya Kim memanggil Anda. Masuklah.”

“Omma……………”

“Hyun Joong, kau pulang. Ibu sungguh rindu padamu.”

“Ibu…. aku juga rindu pada ibu. Kenapa ibu merahasiakan penyakit ibu dariku?”

“Ibu hanya tak ingin kau sedih.”

“Justru dengan seperti ini ibu membuatku sedih.”

“Hyun Joong, ada yang ingin ibu katakan padamu.”

“Apa bu?”

Ibu lalu mengatakan sesuatu pada Hyun Joong.

“Berjanjilah pada ibu, meskipun ibu sudah tidak ada di dunia ini, kau akan tetap semangat menjalani hidup. Buktikan pada ibu kau mampu menjadi seseorang yang berhasil.”

“Aku berjanji ibu. Aku akan menjadi orang yang sukses, sehingga ibu bangga padaku.”

Sesaat kemudian, ibu menutupkan matanya untuk selamanya.

“Omonim…………………….!!!!!!!” teriak Hyun Joong.

………………. ………. ………………..

 

 

Seoul, November 4th 2011

Hyung Joon telah hidup bahagia dengan Hye Ra. Mereka akhirnya menikah dan sekarang Hye Ra telah hamil 5 bulan. Hal yang sama juga terjadi pada Young Saeng-Hyun Ra, Kyu Jong-Hyu Rin, dan Jung Min-Sang Mi. Bahkan, mereka memutuskan untuk mengadakan pesta pernikahan secara bersama – sama. Katanya sih untuk membuktikan kekompakan mereka. Meskipun telah memiliki pasangan hidup, mereka tetap bisa kompak. Sebenarnya mereka juga menginginkan Hyun Joong bergabung, tapi apa mau kata. Sampai sekarang pun Hyun Joong belum menemukan seorang pendamping hidup. Hyun Joong masih disibukkan dengan pekerjaannya sebagai manager di sebuah perusahaan besar di Perth, Australia.

“Hyun Joong ah, kapan kau menyusul kami?” tanya Kyu Jong.

“Aku masih belum memikirkan hal ini.” jawab Hyun Joong.

“Ingat, umurmu sudah tidak muda lagi. Kau harus cepat – cepat mencari pasangan hidup.” ucap Jung Min.

“Kau cerewet sekali.”

“Hyun Joong ah, sekarang kau memang benar – benar berbeda. Kau lebih terlihat berwibawa dengan jas itu. Kau benar – benar menjadi seorang laki – laki sekarang.” puji Hyun Ra.

Tiba – tiba ponsel Hyun Joong berdering.

“Baiklah, aku akan segera ke sana.”

“Mworago?” tanya Young Saeng.

“Aku harus segera pergi. Ada urusan yang tidak bisa aku tinggal.” jawab Hyun Joong.

“Kau benar – benar tega. Di hari pernikahan sahabatmu kau masih memikirkan pekerjaanmu.” keluh Kyu Jong.

“Jeongmal mianhae……… Lain kali aku akan menemui kalian.”

Hyun Joong segera menuju bandara.

 

Setelah Hyun Joong meneyelesaikan kuliahnya di bidang arsitektur, ia ditawari pekerjaan oleh sebuah perusahaan yang bergerak di bagian pembangunan. Setelah bertahun – tahun bekerja dan menunjukkan prestasi kerjanya, Hyun Joong pun naik jabatan menjadi seorang manager proyek pembangunan. Tiap hari ia disibukkan oleh proyek ini dan itu yang memaksanya harus berpindah – pindah tempat. Meskipun begitu, ia juga terkadang menyempatkan waktu untuk mencari Hye Joong, walau kadang hasilnya nihil.

Kali ini tempat yang dituju untuk proyek selanjutnya adalah di kawasan Townsville. Sesampainya di sana, ia istirahat sebentar di hotel. Barulah keesokan harinya ia mulai bekerja.

………………. ………. ………………..

 

Sekitar pukul 3 sore barulah Hyun Joong selesai bekerja.

Ia memutuskan untuk berjalan – jalan sebentar mengelilingi kota Townsville. Baru kali ini ia menginjakkan kaki di kota ini. Ia menuju ke sebuah komplek pertokoan kecil yang menjual beraneka ragam makanan dan minuman. Namun perhatiannya tertuju pada satu benda.

“Tuan dari Korea?” tanya penjual itu.

Hyun Joong menganggukkan kepala.

“Aigoo,,, ternyata benar dugaanku. Silakan dipilih tuan, toko kami memang kecil, tapi kami menjual beraneka ragam makanan di sini.”

“Ajumma, apa ajumma yang membuat ini sendiri?” tanya Hyun Joong seraya menunjuk ke sebuah lollipop.

“Bukan tuan, itu adalah buatan seorang dokter muda di sini. Dia sangat baik, setiap pagi ia selalu datang ke toko kami untuk menyerahkan lollipop ini pada kami. Malam harinya, ia ke sini lagi. Tapi bukan untuk meminta hasil penjualan lollipop ini, tapi untuk menanyakan bagaimana keadaan kami, terkadang ia juga membelikan kami makanan.”

“Kami?”

“Bukan hanya kepada saya nona itu berlaku baik, tapi kepada semua orang di komplek ini.”

“Tapi kenapa ia memberikan ini pada ajumma?”

“Katanya sekalian membantu menambah penghasilan bibi. Mungkin karena bibi satu – satunya penjual di sini yang berasal dari Korea, sehingga nona itu memberikan ini pada kami.”

“Siapa nama gadis itu?”

“Selama ini ia menyuruh kami memanggilnya Hye, jadi aku memanggilnya Dokter Hye.”

“Ajumma tahu dimana ia tinggal?”

“Bibi kurang tahu.”

“Bolehkah aku membeli ini semuanya?”

“Tentu saja tuan.”

Hyun Joong lalu menyerahkan beberapa lembar uang.

Ia kemudian masuk ke kamarnya sambil membawa beberapa bungkus lollipop strawberry berbentuk hati.

“Lollipop ini mengingatkanku kepadamu noona.” ucap Hyun Joong.

Ia lalu teringat perkataan ibunya sebelum meninggal.

“Hyun Joong, sebenarnya saat Hye Joong menemui ibu, ia mengatakan pada ibu bahwa ia sebenarnya juga mencintaimu. Tapi demi ibu, Hye Joong menahan perasaannya. Hye Joong benar – benar tak bisa menahan perasaannya lagi, apalagi untuk menyuruhnya membencimu. Ia benar – benar tak bisa melakukan ini. Ia juga sudah berusaha melupakanmu, tapi tetap tak bisa. Akhirnya satu – satunya jalan adalah menjauh dari kehidupanmu.Maafkanlah ibu. Ibu telah membuatmu dan Hye Joong menderita karena keegoisan ibu. Hyun Joong, kejarlah cintamu, ibu akan mendukungmu. Jagalah dia baik – baik. Jangan biarkan dia terluka dan menangis.”

Itulah ucapan ibu yang selalu terngiang di telinga Hyun Joong.

Ia lalu teringat akan ucapan bibi penjaga toko tadi.

“Apa benar jika dokter Hye itu?” ucap Hyun Joong dalam hati.

 

Karena penasaran, pagi – pagi sekali Hyun Joong menuju ke toko kemarin.

“Ahjumma….”

“Tuan!”

“Apa Dokter Hye memberikan lollipopnya kepada bibi?”

“Sampai sekarang belum tuan. Aku juga heran kenapa Dokter Hye belum kesini juga, padahal biasanya jam segini ia sudah datang. Sebenarnya ada apa tuan?”

“Aniyo. Ahjumma, kalau bertemu dengan dia, tolong berikan surat ini kepadanya. Tolong jangan tanyakan mengapa.”

“Baiklah tuan.”

 

Sore harinya…………………..

“Ajumma, maaf aku baru datang sekarang. Ini bi lollipopnya. Jika memang tidak laku, Ajumma makan saja” ucap Dokter Hye.

“Terima kasih dokter. Oh ya kemarin ada seorang pemuda yang membeli habis lollipop dokter. Dan dia juga menitipkan surat ini untuk dokter.”

“Benarkah? Aneh sekali.” dokter Hye pun segera membaca surat itu.

Cinta adalah sebuah keberanian…..

Berani memulai walau tahu akan berakhir………..

Berani berkhayal walau tahu sakitnya jatuh………..

Berani mencinta walau tahu pahitnya luka …………….

Dan berani memiliki walau tahu perihnya kehilangan………

Begitulah isi suratnya.

 

Wajah dokter Hye tampak panik.

“Ajumma, kau tahu siapa pemuda itu?” “Mollayo, sepertinya dia orang baru di sini, bibi belum pernah melihatnya sebelumnya.”

“Mungkinkah…………………”

Kemudian dokter Hye mendengar sebuah lantunan nada yang begitu merdu. Karena penasaran, ia pun mencari tahu dimana asal suaranya.

Tibalah ia di sebuah pinggir danau kecil. Tampak seorang pria memainkan sebuah harmonika.

“Apa kabar, dokter Hye?” ucap pria itu yang kemudian membalikkan badannya.

“Hyun Joong ah…………….. Bagaimana kau………”

“Kau kaget melihatku di sini? Lama tak bertemu. Bagaimana kabarmu? Apa kau mau menghilang lagi?”

“Darimana kau bisa tahu aku di sini?”

“Ini…… dari lollipop ini. Kau membuat lollipop strawberry berbentuk hati, ini persis seperti yang kau katakan padaku sewaktu kecil bahwa kau ingin membuat strawberry lovellipop. Hem,, lumayan enak. Kau pasti bekerja keras membuat ini.”

Hyun Joong lantas melanjutkan perkataannya.

“Rupanya takdir yang telah mempertemukan kita di sini. Selama ini aku mati – matian mencarimu, tak tahunya kau bersembunyi di sini. Kau memang pandai bersembunyi”

“Bagaimana kabarmu?” tanya Hye Joong.

“Aku baik – baik saja, kau sendiri?”

“Seperti yang kau lihat.”

“Sudah 8 tahun lebih aku tak melihatmu, sekarang kau berubah menjadi seseorang dokter yang sangat anggun.”

“Apa pekerjaanmu sekarang?”

“Aku bekerja sebagai manager di bagian pembangunan.”

“Senang rasanya bisa melihatmu sukses.”

“Bagaimana permainan harmonikaku? Bagus ‘kan?”

“Kau sudah banyak mengalami kemajuan.”

“Aku rasa kau juga tahu kalau ibu telah tiada.”

“Ya, aku mengetahuinya. Hye Ra menceritakannya padaku.”

“Sekarang, apa kau ingin menghindar lagi dariku? Kau ingin pergi meninggalkanku lagi?”

“Hyun Joong ah…………………”

“Hye Joong, aku mencintaimu dari 8 tahun lalu hingga sekarang, perasaanku sama sekali tidak berubah padamu.”

“Kenapa kau tidak menjawabku? Kau juga mencintaiku kan?” lanjut Hyun Joong.

Hye Joong terdiam.

“Kau jangan membohongi perasaanmu lagi. Aku tahu kau juga mencintaiku. Ibu telah menceritakan semuanya kepadaku. Ponselmu, buku catatanmu, semuanya menggambarkan jelas perasaanmu, kau masih mengelak?”

“Hyun Joong ah………………”

“Sekarang di antara kita sudah tidak ada hubungan keluarga lagi, juga tak ada yang menghalangi cinta kita, apa lagi yang kau pikirkan?”

“Hye Joong, katakanlah jika kau mencintaiku.” ucap Hyun Joong seraya memeluk Hye Joong.

“A…k…aku…………….. Hyun Joong, aku mencintaimu.” ucap Hye Joong dengan nada gemetar.

Hyun Joong semakin mengeratkan pelukannya.

 

Mereka berdua kini duduk – duduk di pinggir danau.

“Bagaimana keadaan teman – temanmu?”

“Mereka telah menikah, tinggal aku sendiri yang belum menikah.”

“Kenapa kau tidak menikah?” tanya Hye Joong.

“Karena aku menunggumu.” jawab Hyun Joong.

Untuk sesaat, keduanya terdiam.

“Hye Joong ah, menikahlah denganku.” ucap Hyun Joong lagi.

“Menikah? Kenapa begitu terburu – buru.”

“Apa 8 tahun itu waktu yang singkat? Kau tak tahu betapa menderitanya aku mencarimu. Kau sungguh tak punya perasaan.”

“Mianhaeyo.” ucap Hye Joong.

“Bagaimana jawabanmu?”

“Jawaban?”

“Hei, aku sedang melamarmu sekarang. Kau mau menikah denganku?” tanya Hyun Joong.

Hye Joong menganggukkan kepalanya.

“Kau tidak memanggilku noona lagi?”

“Untuk apa? Tidak mungkin aku memanggil calon istriku sendiri dengan sebutan noona.”

“Kau bisa saja. Mainkanlah sebuah lagu untukku.”

“Hye Joong ah, aku tidak menyangka bahwa sebanarnya aku adalah pangeran impianmu. Pantas saja kenapa dulu kau membelikanku sebuah harmonica, sudah tahu aku tak bisa memainkannya. Tidak menyangka kau menyukaiku begitu lama” ucap Hyun Joong.

Hye Joong hanya tersipu malu. Hyun Joong lalu memainkan sebuah lagu dengan harmonikanya. Malam itu, mereka berdua menikmati indahnya malam yang ditaburi bintang – bintang.

 

Bintang, kemarikan cahayamu,

untuk menerangi malamnya ……………………….

Tuhan… jangan berikan dia luka,

tapi hadirkan baginya tawa…………….

Malaikat, jaga dia……

agar dia selalu merasa tenang dan bahagia.

 

———Selesai———–