Author: Stephanie Naomi

Title: Music, Dream and Love [Part 3]

Length: Continue

Genre: Romance

Cast: Taecyeon, Wooyoung, Junho (2PM), Suzy (missA), Park Jin Young (Teacher), Bae Su Jung, Lee Jung Ah, Park Yoon Hae (Imaginary Cast)

Annyong! Langsung aja ya dibaca dan dikomen part ketiganya. Happy reading, pals ^^

* * *

Seminggu lebih telah berlalu Taecyeon masih tetap suka ikut bermain basket sepulang sekolah tanpa masuk ke dalam klub basket . Ia juga mulai intens berlatih dengan Suzy. Menurut Suzy, diluar jam latihan, sikap Taecyeon berbeda 180 derajat. Saat mereka bertemu diluar klub musik atau jam latihan, Taecyeon seperti tidak kenal dengan adik kelasnya itu, dan Suzy sendiripun juga tidak terlalu peduli dengan sikap Taecyeon yang berubah-ubah.

Istirahat kali ini Taecyeon duduk sendirian di kantin. Tangan kanannya memutar-mutar ponsel miliknya seperti sedang menunggu sesuatu dari ponsel itu, sementara tangan kirinya menggenggam minuman isotonik yang sedang ia minum. Minuman nya sudah habis, begitupun kesabarannya. Akhirnya ia meninggalkan kantin dengan perasaan sedikit sebal, berjalan menuju kelasnya.

“Taecyeon-ah!” panggil Junho tiba-tiba sambil berlari menuju Taecyeon yang berada cukup jauh didepannya.

“Ne~?” balas Taecyeon ketika Junho sudah berada dihadapannya.

“Sepulang sekolah kau tidak kemana-mana kan?”

“Mmm, tidak tahu. Memangnya kenapa?” jawab Taecyeon menggantung, “Pasti kau mengingkan sesuatu dariku.” tebak Taecyeon dengan wajah cool nya.

“BINGO!” balas Junho dengan senyuman lebarnya, sehingga mata kecilnya hanya terlihat seperti sepasang garis diwajahnya. Taecyeon tersenyum puas karena tebakannya benar lalu ia berjalan diikuti Junho disampingnya.

“Aku minta tolong kau untuk gantikan salah satu anak dari team basket. Ia mengalami cedera kemarin sore, sehingga ia tidak bisa bermain untuk pertandingan antar sekolah hari ini.” Junho menjelaskan.

“Aku?” Taecyeon sedikit kaget. Junho hanya mengangguk pelan, kali ini mata kecilnya seperti berbicara ‘tolong-aku-untuk-menggantikannya’. Taecyeon terdiam berpikir sejenak. Tadinya ia ingin menolak karena ia harus latihan dengan Suzy, tetapi mengingat salah satu sahabatnya ini adalah asisten pelatih dari tim basket sekolahnya, tentu ia tidak ingin mengecewakan sahabatnya.

“Baiklah, aku akan menggantikannya.” jawab Taecyeon membuat Junho tersenyum lebar.

“Jinjja gomawoyo, Taecyeon-ah! Kau memang sahabatku yang paling baik!” Junho langsung memuji dan menepuk-nepuk pundak sahabatnya yang memiliki postur tubuh yang lebih tinggi darinya.

“Tsk, kau ini. Memujiku jika ada maunya.” balas Taecyeon dengan cuek, lalu mereka berdua kembali berjalan menuju kelas karena sebentar lagi bel akan berbunyi.

Sementara itu, dikelas Suzy masih sibuk berkutat dengan soal matematika dihadapannya. Sungguh menyebalkan jika waktu istirahat harus digunakan untuk mengerjakan soal ulangan. Memang, mereka akan tetap mendapatkan waktu istirahat, namun kantin tidak akan ramai seperti biasanya dan Suzy tidak dapat bertemu Taecyeon. Padahal Suzy ingin membicarakan masalah latihan nanti sore. Akhirnya, setelah ia selesai mengerjakan soal matematika, ia memutuskan untuk mengirimkan pesan kepada Taecyeon. Tetapi ternyata Taecyeon sudah terlebih dahulu mengirimkan pesan kepadanya. Dan tidak hanya satu pesan.

“Kemana kau saat istirahat?”

“Aku perlu berbicara dengan kau. Temui aku didekat papan pengumuman.”

“Yah!!! Kau! Kenapa kau tidak bilang jika kelas kau sedang ulangan matematika?”

“Sepulang sekolah nanti, tunggu aku didepan gerbang sekolah. Kau tidak perlu ke ruang musik.”

4 Pesan dan tidak ada satupun yang bernada manis. Suzy membacanya dengan kesal dan raut wajah yang tidak menyenangkan. Sampai gurunya mengijinkan ia dan teman-teman sekelasnya untuk beristirahat sesuai waktu yang telah ditentukan, Suzy belum sama sekali membalas pesan dari Taecyeon. Taecyeon sendiri didalam kelas tidak terlalu memperhatikan gurunya, ia lebih memperhatikan ponselnya yang sedari tadi tidak memunculkan sesuatu yang diharapkan oleh Taecyeon. Taecyeon akhirnya menelungkupkan kepalanya dengan malas, setelah ia bosan, ia mencoba menggambar-gambar di agenda miliknya. Dan ketika ia kembali melihat layar ponselnya, ia secara tidak sadar tersenyum sendiri. Suzy membalas pesannya.

“Yah!! Kau! Tidak bisakah kau mengirimkan pesan yang bernada baik?! Lalu, mengapa aku harus menunggumu digerbang sekolah? Aku tidak mau.”

Senyum Taecyeon berkurang setelah membaca pesan dari Suzy.

“Kenapa kau begitu keras kepala?!” oceh Taecyeon dalam hatinya, lalu ia membalas pesan itu.

“Jangan banyak tanya, turuti saja kata-kataku.”

Tidak sampai 5 menit, Taecyeon sudah menerima balasan dari Suzy.

”Siapa kau? Seenaknya saja menyuruhku. Apapun alasanmu dan ancamanmu, aku tidak mau menunggumu di gerbang sekolah. Lagipula, kau benar-benar keterlaluan. Giliran aku yang membawa minuman, kau malah membatalkan latihan seenak jidatmu saja.”

Pesan kali ini membuat Taecyeon tersenyum. Ia baru ingat kali ini giliran Suzy untuk membawa minuman. Taecyeon ingin membalas pesan dari Suzy, tetapi ternyata Yoon Sonsaengnim, Guru yang sedang mengajar dikelas Taecyeon, melihat Taecyeon yang sedang asyik sendiri dan tidak memperhatikan dirinya.

“OK TAECYEON-SSI!! Apa yang sedang kau lakukan?” bentak Yoon Sonsaengnim. Kelas sesaat menjadi sangat hening. Dengan cepat Taecyeon langsung memasukkan ponselnya ke dalam saku. Junho yang duduk disampingnya langsung memperhatikan sahabatnya yang sedang salah tingkah.

“Mmm…. Mmm.. Aniyo~.” jawab Taecyeon gugup. Yoon Sonsaengnim dikenal sebagai salah satu guru yang sangat disiplin dan tidak ragu untuk menghukum muridnya yang melakukan kesalahan.

“ANIYO?! Gojitmalhaji maseyo! Memangnya, kau pikir aku tidak melihat kau sibuk dengan ponselmu?”

“Mianhamnida, sonsaengnim…”

“Sekarang kau keluar dari kelas. Kau kuhukum sampai pelajaran ini selesai!”

“Berarti… Sampai pulang sekolah?!” Taecyeon tidak percaya dengan hukuman yang diberikan oleh Yoon Sonsaengnim.

“Iya! Karena pelajaranku berakhir sampai bel sekolah berbunyi. Jadi, sekarang kau cepat keluar dari kelas!” Yoon Sonsaengnim benar-benar sudah kehabisan kesabarannya. Ia memang benar-benar tidak menyukai murid yang tidak memperhatikan pelajarannya dan sibuk dengan ‘dunia’ nya sendiri. Tanpa sepatah katapun Taecyeon langsung keluar dari kelas dengan langkah gontai.

“Ada yang mau menyusul Ok Taecyeon?” tanya Yoon Sonsaengnim kepada muridnya yang lain didalam kelas. Semua murid menggeleng cepat dan Yoon Sonsaengnim kembali kepada materi pelajarannya. Di koridor, Taecyeon berjalan tanpa tau dimana ia akan menunggu sampai bel sekolah berbunyi. Tiba-tiba ia teringat akan sesuatu dan ia langsung berjalan dengan langkah tegas.

* * *

Suzy sedang asyik menyeruput minuman bersodanya di kantin sendirian, seraya membaca buku perpustakaan yang ia pinjam sebelum ia pergi ke kantin. Waktu istirahatnya tinggal 5 menit lagi sebelum ia kembali ke kelas dan memulai pelajaran selanjutnya.

“Kau harus menungguku sepulang sekolah nanti di gerbang sekolah.” tiba-tiba Suzy mendengar suara Taecyeon yang begitu dekat dengannya. Ia langsung menaikkan kepalanya yang sedari tadi menunduk karena membaca dan menemukan Taecyeon duduk tepat didepannya, hanya dipisahkan oleh meja kantin, menatapnya lekat-lekat tanpa berkedip sekalipun.

“KAU?!” Suzy sedikit kaget melihat Taecyeon yang seharusnya berada dikelasnya, bukan dihadapannya, “Kenapa kau sekarang ada disini?” sambung Suzy bertanya penasaran.

“Karena kau tidak patuh padaku.” jawab Taecyeon tanpa memberitahu hal yang sebenarnya.

“Tidak patuh padamu? Apa maksudmu??” Suzy sedikit kebingungan dengan jawaban Taecyeon.

“Sudah, lupakan saja. Pokoknya kau harus menungguku di gerbang sekolah sepulang sekolah nanti.” balas Taecyeon cepat.

“Untuk apa? Tidak mau.” ucap Suzy cepat lalu ia pergi meninggalkan kantin dan Taecyeon yang masih duduk disana.

“Yah! Bae Suzy!” kata Taecyeon sedikit berteriak sambil mengejar Suzy, lalu ia berhasil menggapai lengan Suzy dan membuat Suzy menghentikan langkahnya.

“Mwo? Sudah kubilang aku tidak mau. Lebih baik aku pulang saja jika kau ingin membatalkan latihan hari ini. Lagipula, untuk apa menunggumu? Memangnya ada suatu hal yang penting? Katakan saja sekarang.” ucap Suzy panjang lebar.

Taecyeon terdiam, tidak menjawab pertanyaan Suzy. Suzy pun melepaskan lengannya dari Taecyeon dan berjalan menaiki anak tangga menuju lantai 2, dimana kelasnya berada. Tanpa ia sadari, Taecyeon berjalan mengikutinya di belakang dan menyalip langkahnya.

“Baiklah, tidak akan kupaksa kau.” ucap Taecyeon yang menyalip langkah Suzy sambil berlalu. Suzy berhenti menaiki anak tangga, memperhatikan Taecyeon yang terus berjalan meninggalkannya. Suzy menghela nafas dan meniup poni dengan hembusan udara dari mulutnya, seperti kebiasaannya, lalu kembali berjalan menaiki anak tangga dan menuju ke kelasnya. Sebelum ia memasuki kelas, ia melihat Taecyeon di koridor seberang, memasuki ruang musik.

“Aneh. Seharusnya dia kan kembali ke kelasnya? Tapi… Ah sudahlah, bukan urusanku.” ucap Suzy pada dirinya sendiri dan ia pun segera memasuki kelas dan duduk di bangkunya.

* * *

Bel sekolah berbunyi dan Suzy menjadi orang yang terakhir keluar dari kelasnya. Koridor lantai 2 saat itu sudah sepi dan ia langsung menuruni anak tangga dan berjalan menuju gerbang sekolahnya. Ketika ia sampai di gerbang sekolahnya ia berhenti sejenak, meyakinkan diri apakah Taecyeon benar-benar menginginkan dirinya menunggu di gerbang sekolah atau hanya sekedar iseng saja. Suzy pun memutuskan untuk menunggu Taecyeon selama 5 menit. Waktu terus berlalu dan sudah lebih dari 5 menit Suzy berdiri di gerbang sekolah sambil sesekali melihat ponselnya, namun ternyata tidak ada sosok Taecyeon muncul atau sekedar menelepon untuk bilang “Tunggu sebentar.” Akhirnya Suzy memutuskan untuk pulang saja daripada menunggu Taecyeon yang tidak jelas keberadaan dan kabarnya.

Sementara itu Taecyeon sedang berada diruang ganti tim basket, bersama Junho dan juga anggota tim basket sekolahnya. Terlihat dari raut wajah Taecyeon yang tidak sabar karena ingin segera mencegat Suzy sebelum ia kembali ke rumahnya namun tidak bisa karena ia masih harus mendengar briefing dari pelatih dan juga temannya sendiri yang dipercaya menjadi asisten pelatih. Sebenarnya, masih ada banyak pemain cadangan yang dapat menggantikan posisi adik kelasnya yang sedang cedera itu, tapi pemilihan pemain pengganti menjadi tugas yang diberikan pelatih kepada Junho dan langsung saja Junho memilih sahabatnya itu. Tentunya pemain cadangan yang masih adik kelas dari Junho dan Taecyeon tidak dapat protes dengan keputusan yang telah dibuat oleh asisten pelatih mereka.

“Baiklah sekarang kita bisa langsung pergi. Sampai jumpa disana.” ucap Junho menutup briefing siang itu dan semua anggota langsung bubar dan keluar dari ruang ganti mereka kecuali Taecyeon dan Junho yang berdiri menunggu Taecyeon yang sedang mengutak-atik ponselnya.

“Taecyeon-ah kau ini sedang apa? Sampai kapan aku harus menungguimu?” ucap Junho tidak sabar.

“Junho, sebaiknya kau berangkat duluan saja. Aku akan menyusul. Masih ada keperluan yang harus kuselesaikan.” balas Taecyeon dengan ponsel ditelinganya.

“Kau ini, baiklah, aku duluan. Tapi kau jangan sampai telat. Pertandingan dimulai kurang lebih 45 menit lagi dan sebaiknya 15 menit sebelum pertandingan kau harus sudah sampai.”

“Araesso. Aku bukan anak kecil lagi, Junho-ah.”

“Tapi, kau suka bertingkah laku seperti anak kecil.” ucap Junho sebelum ia keluar ruang ganti. Saat ini Taeceyon sudah memakai seragam basket yang dipinjamkan oleh Junho dan sepatu basket miliknya sendiri. Tas olahraga sudah bersandar di pundaknya berisikan baju ganti dan juga tidak ketinggalan partitur piano. Entah untuk apa kegunaannya saat itu.

“Kemana kau Bae Suzy? Mengapa ponselmu tidak aktif?” gumam Taecyeon sendiri sebelum akhirnya ia keluar dari ruang ganti, tidak lupa membawa helm putih miliknya. Ia mengendarai motornya ke arah yang berlawanan dengan arah menuju lapangan basket.

* * *