Love’s Journey (Part 2)

Author: Cho Min Hyun (Salsabila Nadhifa)

Genre: Romance

Cast:

* Cho Min Hyun (Author)

* Park Jung Soo (Super Junior)

* Cho Kyuhyun (Super Junior)

* Park Sun Hee (OC)

Rating: Teenager

Length:

Disclaimer: All the cast aren’t mine except Kyuhyun OCs. The plot and the story are mine J.

Note: Untuk para Jungsooholic, kalian bisa anggap ‘Cho Min Hyun’ di sini sebagai diri kalian sendiri. Hal ini ditujukan semata hanya untuk menghindari bashing J

Warning: Ini FF penuh dengan kegalauan, jadi jangan heran kalo isinya amburadul (authornya lagi mengalami galau berkepanjangan). Mungkin banyak typo bertebaran, biasa lagi galau (?).

Happy Reading! ^^

Cerita sebelumnya:

‘Tunangan? Yeoja itu tunangannya? Mati kau, Min Hyun.’ Batin Min Hyun. Ia nampak sangat syok.

“Min Hyun? Gwenchanayo?” tanya Kyuhyun setelah ia menyadari adanya perubahan ekspresi pada raut wajah yeoja di sampingnya itu.

“G.. gwenchana, Kyuhyun-ah, Nan neun gwenchana. Lebih baik.. kita pulang sekarang.” Ajak Min Hyun seraya menarik tangan Kyuhyun untuk menjauh dari pohon tersebut.

“Eh.. Ne, kajja.” Ujar Kyuhyun tergagap. Dengan otaknya yang pintar, ia dapat menyimpulkan bahwa seorang Cho Min Hyun MENYUKAI Park Jung Soo. Apa kesimpulannya itu salah? Tentu saja.. TIDAK.

-***-

*NORMAL POV*

Min Hyun pulang ke rumahnya dengan keadaan mengenaskan. Selama perjalanan pulang di bus, ia hanya mendiamkan namja di sampingnya -Kyuhyun- dan menatap keluar jendela dengan tatapan menerawang. Ia sibuk memikirkan tentang siapa yeoja itu, dan apa yang dilakukannya bersama Jung Soo. Tanpa ia sadari, seseorang memperhatikannya dari tadi. Melihat -atau lebih tepatnya memperhatikan- dengan seksama guratan di wajahnya, menerka raut mukanya, berpikir apa yang sekarang sedang yeoja itu pikirkan. Ne, orang itu -atau namja itu- adalah namja jenius yang sedang duduk di sampingnya, Cho Kyuhyun.

Sesampainya ia di rumah, ia segera naik ke lantai atas dan masuk ke dalam kamarnya. Seperti biasa, ia selalu menutup dan mengunci pintu kamarnya agar tidak ada seorang pun yang tahu apa yang saat ini sedang ia lakukan. Ia selalu melewati hari-harinya di dalam kamar yang tidak terlalu besar dan juga tidak terlalu kecil itu. Di dalam kamar itulah, dia tertawa, dia menangis, dia kecewa, dia marah, dia kesal, dan lainnya. Ia mengeluarkan semua ekspresinya di kamar itu. Kamar itu bagaikan tempat sampah baginya. Ya, tempat sampah. Tempat di mana ia membuang segala ekspresinya, yang tidak pernah ia tampakkan di depan orang lain. Kecuali, satu orang. Orang itu adalah Cho Kyuhyun, namja yang sudah ia anggap sebagai sahabat dekatnya. Ia bisa saja menangis dan tertawa di depan namja itu. Min Hyun memang menganggapnya sebagai teman dekat biasa, tetapi Kyuhyun.. apa ia berkata lain?

Di kamar, ia menangis sejadi-jadinya. Ia menumpahkan segala beban yang sedaritadi menggantung di hatinya. Melampiaskan segala amarahnya, menangis tanpa suara. Ia menangis selama setengah jam, hingga membasahi seluruh sarung bantal yang dipakainya sebagai tempat menangis.

Di sisi lain, atau tepatnya di depan kamar tidur Min Hyun, seorang namja menyandarkan tubuhnya pada pintu kamar tersebut. Ia menerawang ke arah langit-langit di depan kamar itu. Tanpa ia lihat, ia sudah tahu kalau sekarang yeoja di dalam kamar itu sedang menangis, walaupun tanpa suara. Setelah setengah jam menunggu dan berdiam diri di depan pintu kamar tersebut, ia memberanikan diri untuk mengetuk pintu yang kini ada di hadapannya itu.

TUK TUK!

Dari dalam kamar, Min Hyun segera mengelap air matanya dan berusaha mengontrol kembali suaranya agar tidak terdengar seperti habis menangis. Setelah itu, ia menjawab ketukan dari luar pintu kamarnya.

“Nugu?” tanya Min Hyun setelah mengontrol kembali suaranya dan membuat suaranya terdengar dingin seperti biasa.

“Aku. Cho Kyuhyun.” Jawab seseorang dari luar kamar tersebut. Min Hyun membelalakkan matanya, terkejut akan apa yang baru saja ia dengar.

“M.. mwo? Cho.. Cho Kyuhyun? Apa, apa yang kau lakukan di sini?” tanya Min Hyun kaget, bicaranya tergagap.

Seseorang membuka pintu kamar Min Hyun dan kini seseorang itu -atau lebih tepatnya seorang namja itu- telah berdiri tepat di depan Min Hyun. Min Hyun ternganga, ia masih heran dengan penampakan di depannya. Namun sesaat kemudian namja itu memeluknya, dan berbisik lembut tepat di telinganya.

“Menangis saja. Aku tahu kalau kau baru saja menangis.”

Min Hyun masih ternganga, ia bertambah heran atas hal yang dilakukan oleh namja di depannya ini. Tetapi sesaat kemudian, ia menangis di pelukan namja tampan bernama Cho Kyuhyun tersebut.

“Huu.. Hiks.. Hiks. Huwaa..” tangis Min Hyun meledak. Ia memukul-mukul dada bidang namja di depannya. Entah karena apa.

Kyuhyun hanya bisa terdiam melihat yeoja di depannya ini menangis. Ia bingung ingin mengatakan apa, dan ia juga bingung ingin melakukan apa. Yang sekarang ingin dia lakukan hanyalah meringankan beban yeoja yang menganggapnya hanya sebagai ‘teman’.

Tetapi kejadian itu hanya berlangsung sesaat, dengan cepat Min Hyun kembali ke sifat dasarnya. Ekspresi wajahnya datar, dan gayanya terkesan dingin. Acuh tak acuh. Ia melepaskan pelukan Kyuhyun perlahan, dan berjalan ke arah wastafel yang ada di kamarnya.

“Neo.. Gwenchanayo?” tanya Kyuhyun sedikit hati-hati. Ia takut yeoja itu akan tersinggung.

“Gwenchana. Memangnya aku kenapa?” jawab Min Hyun dengan nada datar tetapi dalam tempo yang cepat. Secepat detak jantungnya yang sekarang sangat gugup ini.

“Tapi, tadi kau.. menangis.” Ujar Kyuhyun lagi, masih hati-hati dan sedikit terbata-bata. Tiba-tiba Min Hyun tertawa, berusaha terlihat bahagia tetapi tampak sangat dipaksakan. Terdengar menyayat hati malah.

“Menangis? Mungkin ini adalah tangisan pertama dan terakhirku, arraseo? Maaf sudah merepotkanmu, aku tidak mau kau terlibat lebih jauh.” Balas Min Hyun masih dengan tawa getirnya. Kyuhyun sangsi mendengarnya.

“Apa maksudmu dengan ‘terlibat lebih jauh’? Kenapa kau menangis?” Tanya Kyuhyun berpura-pura bodoh, padahal ia sudah tahu pasti apa penyebabnya. Yang ia inginkan sekarang hanyalah kepastian dari bibir yeoja misterius di depannya ini.

Min Hyun menatap Kyuhyun tajam. Mata bulatnya semakin membulat, memperlihatkan aksen ketidaksukaan yang sangat dalam. Kyuhyun tahu kalau Min Hyun pasti tersinggung, tapi sepertinya rasa ingin tahunya mengalahkan pikiran rasionalnya.

“Aku kan sudah bilang, ‘aku tidak mau kau terlibat lebih jauh’, itu berarti kau tidak perlu mencampuri urusan pribadiku.”

“Aku perlu tahu. Karena aku sahabatmu.” Sambar Kyuhyun cepat. Min Hyun memelototkan matanya, memperhatikan Kyuhyun dari ujung rambut hingga kakinya. Merasa ada yang salah dengan ucapan Kyuhyun tadi, tapi tidak ada yang salah dari ucapan tersebut. Kyuhyun memang satu-satunya orang yang paling dekat dengan Min Hyun, walaupun pengartian ‘dekat’ itu jauh berbeda dengan kata dekat yang lain.

“Yah, kau benar. Tetapi aku tidak mau. Lebih baik kau tidak usah campuri urusanku atau kau tidak akan pernah bertemu denganku.” Ancam Min Hyun dingin. Tetapi Kyuhyun tidak bergeming. Ia tahu di saat seperti ini sangat sulit bagi Min Hyun untuk menceritakan masalah pribadinya. Tapi ini harus dilakukan, demi kebaikan Min Hyun sendiri.

“Aku tidak menginginkan keduanya. Aku hanya ingin kau membagi masalahmu denganku. Dengan cara apapun.” Jawab Kyuhyun santai, mata teduhnya melihat yeoja di depannya itu pasrah. Ia tahu kalau Min Hyun pasti sudah menyerah saat ini.

Min Hyun mendesah, kemudian kembali berkata, “Saatnya tidak tepat, Kyu. Aku tidak bisa mengontrol emosiku sekarang.” Ujar Min Hyun lirih, ia menahan air matanya agar tidak kembali jatuh di depan Kyuhyun. Ia tidak mau dianggap sebagai yeoja lemah. Karena ia benci itu.

“Gurae, aku mengerti keadaanmu sekarang. Aku pulang dulu.” Ucap Kyuhyun seraya bangkit dari duduknya dan berlalu pergi. Sedangkan Min Hyun, menumpahkan air matanya -yang sedari tadi ia tahan- lagi. Kali ini, untuk kedua kalinya, pertahanannya runtuh.

*NORMAL POV END*

*KYUHYUN POV*

Sesaat kemudian ia mendesah, kemudian kembali berkata, “Saatnya tidak tepat, Kyu. Aku tidak bisa mengontrol emosiku sekarang.” Ujarnya lirih, aku tahu ia pasti sedang menahan air matanya agar tidak kembali jatuh di depanku. Sudahlah Min Hyun, jangan membohongi aku. Aku tahu semua gelagat di balik wajah dinginmu itu.

“Gurae, aku mengerti keadaanmu sekarang. Aku pulang dulu.” Ucapku seraya bangkit dari dudukku. Mungkin untuk saat ini lebih baik ia sendiri dulu. Perasaannya sedang kacau sekarang.

Di depan pintu kamarnya, aku tidak segera pergi dan pulang, melainkan berdiri dan bersembunyi di balik pintu. Setelah itu, aku melihat ke dalam melalui celah pintu. Gotcha, benar tebakanku. Kau sedang menangis sekarang.

-***-

Keesokan paginya, aku pergi ke sekolah seperti biasa, dengan harapan dapat mendengarkan penjelasan secara lisan dari Min Hyun. Pagi-pagi sekali setelah mandi dan sarapan, aku bergegas berangkat dari apartemenku menuju ke sekolah dengan mobil silver kesayanganku. Di perjalanan menuju ke sekolah, aku melihat seorang yeoja berambut panjang berombak yang sedang menunggu bus. Sepertinya aku mengenali yeoja itu. Tapi siapa ya?

Sejurus kemudian, seorang namja datang dari arah lain dengan senyum yang tampak sangat dipaksakan. Yeoja itu terlihat sangat bahagia melihat kedatangan namja itu. Ia memeluk lengan namja itu erat, dan tersenyum sangat lebar. Sedangkan namja yang dipeluk tangannya, hanya tersenyum kecut dan menerawang entah ke arah mana. Hei, namja itu sepertinya adalah Jung Soo, sedangkan yeoja itu.. Yeoja yang kemarin berada bersama Jung Soo di depan kedai es krim. Menggelikan? Mungkin. Karena menurut penglihatanku, Jung Soo tampak tidak suka berada di dekat gadis itu, sementara gadis itu justru malah merasakan kebalikannya. Nasib gadis itu MIRIS. Ah, aku malas membicarakan orang lain lagi. Lebih baik aku fokus menyetir agar segera sampai di sekolah.

Beberapa saat kemudian, aku sudah memasuki pelataran parkir di sekolahku. Aku memarkir mobilku di bawah sebuah pohon maple tempatku dan Min Hyun sering menghabiskan

waktu untuk membaca buku atau membicarakan suatu hal. Ini adalah tempat kesukaanku -atau mungkin kami- selain perpustakaan dan kamarku sendiri.

Sesampainya di kelas, aku sama sekali tidak melihat tanda-tanda kehadiran Min Hyun. Padahal biasanya jam segini ia sudah duduk di bangkunya dan membaca buku atau memainkan benda elektronik yang dianggapnya sebagai separuh jiwanya -baca: laptop-. Aku mendudukkan diri di kursi kayu (yang telah menjadi tempat dudukku) dan berniat untuk mengeluarkan kekasihku -psp-. Tetapi sesaat kemudian aku justru malah mendapati diriku sendiri sedang termangu melihat seorang yeoja beraura dingin itu melewati kursiku dan duduk di kursi miliknya. Dengan sisa kesadaran yang ada, aku mendekati kursinya dan berkata padanya.

“Min Hyun, kau..” ujarku terputus. Aku benar-benar tidak bisa mempercayai pemandangan di depanku ini.

“Wae? Jangan melihatku seperti itu.” Sambarnya cepat. Ia menyingkirkan mukaku dari hadapannya dan mulai fokus dengan buku yang baru saja dibukanya.

“Kenapa kau memotong rambutmu, babo?” tanyaku kesal, tapi dengan tempo yang lamban. Jadi kesan omonganku barusan terlihat seperti orang yang sedang cacingan.

“Suka-suka aku dong, yang punya rambut kan aku.” Jawabnya lagi, terdengar sangat santai. Ia menjawab dengan pandangan yang masih fokus ke bukunya.

“Tapi lebih bagus panjang.” Ujarku membela diri. Sulit kalau sudah bersilat lidah dengannya.

“Terserah padamu, mau bagus yang mana. Aku tidak peduli. Memangnya kalau sudah pendek kau mau apa? Disambung lagi?” balasnya, kali ini seraya menutup bukunya dan menatap ke arahku yang masih tenganga melihat penampilan barunya.

“Molla. Sudahlah, aku mau bermain lagi.” Ujarku seraya kembali ke kursiku. Aku sedang sangat malas untuk bertengkar dengannya. Tapi, jujur. Aku lebih suka rambut panjangnya.

*KYUHYUN POV END*

*NORMAL POV*

Sesaat kemudian, seorang namja berambut pirang masuk ke dalam kelas dengan wajah kusut. Ia berjalan menuju kursinya yang berada tepat di belakang kursi Min Hyun. Tepat di depan kursi Min Hyun, ia berhenti melangkah dan menyejajarkan wajahnya dengan wajah Min Hyun. Ia menyentuh rambut Min Hyun sebentar, kemudian dibalas dengan tatapan tajam dari sang empunya rambut.

“Mau apa kau?” tanya Min Hyun ketus. Tapi jauh di dalam hatinya, ia sangat senang saat ini.

“Ah.. ani. Hanya saja, itu.. rambutmu..” jawab namja yang ternyata Jung Soo itu seraya menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal. *salting*

“Wae? Tidak suka? Lantas kau mau apa?” balas Min Hyun sinis dengan intonasi cepat. Menutupi rasa bahagia yang sedang meluap-luap dalam hatinya.

“Aku hanya mau bilang, kau tampak lebih cantik seperti itu.” Ujar Jung Soo seraya berlalu menuju kursinya. Meninggalkan Min Hyun yang menundukkan kepalanya, menyembunyikan rona merah di pipinya.

Kyuhyun melihat kejadian tersebut, tetapi berpura-pura tidak melihatnya. Ia sangat tahu kalau Min Hyun sedang merona di sana.

-***-

“Kelompok praktikum kali ini akan saya tentukan secara acak.” Ujar Lee saengnim dan disambut dengan sorak keluhan para siswa.

“Baiklah, kelompok satu, Park Jung Soo, Cho Min Hyun, So Hyun Kwon, dan Yong Junhyung.”

Mata Min Hyun melebar. Ia menepuk pipinya dua kali, kemudian mencubitnya. Merasa heran karena berada satu kelompok dengan Jung Soo adalah hal yang sangat langka. Bahkan sejak kelas X sampai saat ini saja, ia baru 3 kali berada satu kelompok dengan namja berambut pirang itu.

Tiba-tiba, sebuah tangan halus memegang tangan Min Hyun yang sedang sibuk mencubit pipinya sendiri. Min Hyun terkejut, refleks ia menoleh ke belakang. Ke arah tangan itu berasal. Ia mendapati seorang namja tengah tersenyum padanya, memamerkan lesung pipit di wajah malaikatnya. Min Hyun terbengong, berpikir bagaimana bisa ia ada sedekat ini dengan seorang cheonsa. Jung Soo tertawa pelan, ia mencubit pipi Min Hyun dan seketika membuat yeoja itu tersadar dari lamunannya.

“Pipimu tembem, pantas saja kau suka mencubitinya.” Ujar Jung Soo seraya tersenyum ramah. Min Hyun mengernyitkan dahinya, merasa tidak mengerti dengan perkataan namja yang mirip cheonsa itu.

“Maksudmu? Memangnya kapan aku mencubit pipiku?” tanya Min Hyun polos. Di depan Jung Soo, aura dinginnya itu lenyap. Tak berbekas. Malah ia menjelma menjadi sesosok yeoja polos.

Tiba-tiba Jung Soo tertawa, membuat kerutan bertambah di dahi Min Hyun. Tawanya yang semakin keras membuat Min Hyun semakin penasaran atas apa yang sedang namja tu tertawakan.

“Kenapa kau tertawa? Ditanya malah tertawa.” Cibir Min Hyun. Jung Soo menghentikan tawanya kemudian berkata dengan penuh senyum pada Min Hyun.

“Baru saja kau mencubitnya. Masa’ lupa?”

Min Hyun berpikir keras, mencoba mengingat kapan ia mencubit pipinya. Akhirnya, ia menyadari kalau ada suatu kesalahan dalam pemahamannya.

“Ya! Tadi itu aku tidak bermaksud untuk mencubiti pipiku!”

“Oh ya?”

-***-

KRINGG.

Bel tanda pulang sekolah berbunyi nyaring. Semua murid berhamburan keluar kelas. Sementara Min Hyun masih menggeluti laptopnya di dalam kelas. Ia tampak (sangat) asyik dengan laptopnya, sesekali ia tersenyum, tertawa, bahkan menjerit.

“DORR!!” ujar seseorang tiba-tiba seraya menepuk pundak Min Hyun.

Min Hyun tidak menunjukkan ekspresi apapun -mau itu terkejut atau tertawa-, tetapi ia hanya menoleh dan menatap tajam ke arah orang yang telah dengan bodohnya mengganggu waktu browsingnya.

“Ya, aku sedang sibuk baboo!!” teriak Min Hyun kepada orang yang telah mengagetkannya. Ternyata orang itu adalah Park Jung Soo.

“Sibuk? Kegiatanmu itu tidak menunjukkan kalau kau sedang sibuk.”

Min Hyun memanyunkan bibirnya, kemudian segera fokus kembali kepada belahan jiwanya itu. Mengabaikan Jung Soo yang hanya melongo tidak jelas melihat ekspresi Min Hyun.

“Whatever.” Ujar Min Hyun pendek.

“Oh, ok. Jangan menghadiahiku ucapan sinismu itu. Aku hanya ingin bilang INI SUDAH JAM PULANG, BABOO!!” teriak Jung Soo tiba-tiba, membuat Min Hyun membalikkan badannya dan menatap sinis ke arahnya.

“Memangnya kalau sudah jam pulang kenapa? Suka-suka aku mau pulang kapan.”

“Up to you lah. Aku hanya ingin bilang kalau Satpam Lee akan menutup pintu gerbang lebih cepat, karena ia ada urusan penting.” Ujar Jung Soo seraya bangun dari duduknya dan melangkah ke luar kelas.

“Masa bodoh lah.. Ya, tadi kau bilang apaa?! Satpam Lee akan menutup pintu gerbang?!” tanya Min Hyun panik seraya membereskan laptopnya. Jung Soo yang ditanya hanya mengangguk.

“Dadaahh Min Hyunn.. Kutinggal ya!”

“Anii!! Jangkamman!” teriak Min Hyun seraya berlari mengekori Jung Soo yang sudah terlebih dulu berlari.

Sesampai mereka di depan gerbang sekolah, Jung Soo berhenti berlari. Kesempatan ini dimanfaatkan oleh Min Hyun untuk mengejar Jung Soo. Tapi, di saat yang bersamaan, Min Hyun juga terhenti setelah melihat seseorang yang ada di depan gerbang itu. Seorang yeoja berparas cantik dan berambut panjang sedang berdiri menyandar di tembok gerbang sekolah. Tampaknya,ia sedang menunggu seseorang. Tapi, ada hal yang membuat Min Hyun dan Jung Soo terkaget. Karena yeoja itu adalah.. Park Sun Hee.

“Ya, Jung Soo! Aku sudah menunggumu dari tadi. Ayo pulang.” Ajak Sun Hee seraya menggandeng tangan seorang namja yang sudah terikat hubungan pertunangan dengannya itu.

“A.. Eh.. Sun Hee! Lepaskan tanganku!”

Sun Hee tidak melepaskan tangan Jung Soo, malah mempererat gandengannya dan terus menyeret namja itu menuju tempat parkiran.

*NORMAL POV END*

*MIN HYUN POV*

Sesampai di depan gerbang sekolah, Jung Soo berhenti berlari. Kesempatan ini kumanfaatkan untuk mengejar Jung Soo yang sudah berani mengerjaiku. Tapi, di saat yang bersamaan, kakiku malah ikut terhenti setelah melihat seseorang yang berada di depan gerbang itu. Seorang yeoja berparas cantik dan berambut panjang sedang berdiri menyandar di tembok gerbang sekolah. Tampaknya,ia sedang menunggu seseorang. Tapi, ada hal yang membuatku -dan mungkin Jung Soo- terkaget. Karena yeoja itu adalah.. Park Sun Hee.

“Ya, Jung Soo! Aku sudah menunggumu dari tadi. Ayo pulang.” Ajak Sun Hee seraya menggandeng tangan seorang namja yang -kuketahui- sudah terikat hubungan pertunangan dengannya itu.

“A.. Eh.. Sun Hee! Lepaskan tanganku!”

Sun Hee tidak melepaskan pegangan tangannya, tapi aku tahu kalau ia malah semakin mempererat pegangannya. Mereka menghilang di belakang pos penjaga sekolah, mungkin menuju ke tempat parkir. Yang kubingungkan, kenapa Sun Hee harus bersikap seperti itu? Lagipula aku tidak punya hubungan khusus dengannya, kan -walaupun aku menyukainya-? Hahh.. masalah ini membuat kepalaku sakit. Padahal aku sama sekali tidak terkait dengan masalah ini bukan? Kenapa aku rela berpusing-pusing hanya untuk memikirkan masalah yang bukan masalahku seperti ini? Sama sekali bukan Min Hyun yang biasa. Sudahlah, lebih baik sekarang aku pulang dan beristirahat.

Aku melangkahkan kakiku menuju jalan raya, hendak pulang ke rumah tercinta. Tapi siapa sangka, seseorang memperhatikanku sejak tadi..

*MIN HYUN POV END*

-***-

*JUNG SOO POV*

Waktu yang sama, lapangan parkir Anyang Art High School..

“Sun Hee! Sudah kubilang lepaskan tanganku!”

Sun Hee melepaskan tangannya, tapi ia tetap berdiri membelakangiku.

“Masuk ke dalam mobil.” Perintahnya dengan nada datar.

“Shireo. Aku mau pulang naik bus saja.” Tolakku, dengan nada datar pula.

Karena tidak ada jawaban atau tolakkan darinya, aku berjalan ke arah luar lapangan parkir. Hendak kembali ke jalan raya, dan menyetop bus.

Tapi setelah itu, kudengar teriakannya, masih dari arah mobil audi putih itu.

“TIDAK ADA YANG MEMPERSILAHKANMU UNTUK PERGI!”

“Memang iya, tapi tidak ada juga yang melarangku untuk pergi bukan?” jawabku tenang, keadaan yang sepi di sekitar sini membuat suaraku yang tidak keras terdengar lantang.

Tiba-tiba Sun Hee berbalik dan berjalan ke arahku. Ketika ia berada tepat di depanku, ia menarik tanganku untuk masuk kembali ke arah mobil audi putih itu. Dengan cepat aku melepaskan pegangan tangannya, dan gerakan tersebut sukses membuatnya berbalik ke arahku.

“Bukankah sudah kubilang kalau aku ingin pulang naik bus?”

“Untuk apa naik bus kalau punya mobil? Supaya bisa terus bersamanya? Begitu?”

“Bersamanya? Bersama siapa maksudmu hah?”

“Tidak usah pura-pura tidak tahu, Jung Soo. Karena kau pasti sudah tahu, untuk apa aku katakan lagi.”

“Ho. Jadi maksudmu Min Hyun? Memangnya kalau aku ingin terus bersamanya kenapa? Tidak boleh?”

“Ne, tidak boleh. Sekarang masuk ke mobil karena kita harus segera pulang.” Ujarnya lagi seraya kembali menarik tanganku.

“Lepaskan!” ujarku lagi, seraya melepaskn cengkeramannya dan berlari menjauhi lapangan parkir.

“JUNG SOO!” teriaknya dari kejauhan, tapi aku tidak peduli. Aku berlari ke arah halte bus yang terletak tepat di depan sekolahku. Lalu segera menaiki bus yang kebetulan sedang berhenti di halte tersebut.

*JUNG SOO POV END*

-***-

*KYUHYUN POV*

Mungkin, tanpa Min Hyun sadari, sedari tadi aku mengikutinya. Aku juga melihat dengan detail kejadian dari kelas tadi sampai sekarang ini. Sekarang ini, ia sedang berjalan ke rumahnya yang memang berada satu blok dengan rumahku. Ia berjalan dengan gayanya yang seperti biasa, ringan dan seakan serampangan.

“Min Hyun!” panggilku tiba-tiba tanpa aku sendiri sadari. Aduh, mulutku ini..

Ia berbalik, kemudian menatapku dengan tatapan mau-apa-kau-memanggilku? Aku hanya tersenyum lebar, bingung ingin berbicara apa.

“A.. annyeong.” Dengan tololnya, aku malah mengucapkan sapaan kepadanya. Padahal kan di sekolah tadi aku sudah bertemu dengannya –“

Ia hanya mengernyitkan dahinya, kemudian kembali berjalan membelakangiku. Dasar Kyuhyun babo, kau ini belajar dari mana sih?

“Eh Min Hyun, jangkamman!” ujarku tanpa kusadari (lagi) seraya berlari ke arahnya. Sebenarnya apa yang otakku ini inginkan, sih?

“Ada apa lagi? Ingin menyapa lagi?”

“Eh ani. Aku hanya.. aku hanya..” aduh, apa yang terjadi denganmu Kyuhyun? Kenapa kau jadi gugup di depan gadis dingin berkcamata ini?

Min Hyun diam, kelihatannya ia menungguku untuk menyelesaikan perkataanku.

“Ehm. Aku.. hanya ingin tahu kenapa kau menangis kemarin.” Eh? Jadi ini yang ingin mulutku bicarakan? Hei mulut! Saatnya tidak tepat babo!

Eksperesi Min Hyun berubah, -sebenarnya tidak terlalu berubah, sih- ia mendengus, kemudian menatap kembali ke depan. Lalu, bukannya menjawab pertanyaanku, dia malah mengatakan hal aneh yang sebenarnya memang terjadi.

“Sepertinya kau sudah tahu, apa aku perlu mengatakannya lagi?”

Memang benar sih, aku sudah tahu. Tapi, paling tidak katakan sesuatu dong. Dasar yeoja maniak!

“Eh? Aku tidak tahu. Maka itu aku bertanya padamu.” Ujarku membela diri seperti seorang maling yang tertangkap basah tapi tidak mau mengaku.

“Oh begitu ya? Aku sudah lama menyukai Jung Soo. Apa kau puas dengan jawabanku?”

Walau aku sudah tahu, tapi jawabannya itu seperti menohok ulu hatiku dengan keras. Oh, come on, masa’ begini saja kau sudah patah hati Kyu?

“Apa..” ujarku terputus.

“Apanya?”

“Apa yang kau sukai dari pria seperti itu?”

“Hmm.. apa kau harus mengetahui hal sepele seperti itu?”

“Eh.. Ha.. haruslah! Lagipula, hal itu bukanlah hal sepele.” Jawabku tergagap, bingung mau jawab apa -_-

“Bukan hal sepele? Bukannya seharusnya bagimu itu hanya hal sepele?”

“Itu bukan hal sepele! Kau kan sahabatku, jadi hal seperti itu bukanlah hal sepele Min Hyun!” sepertinya dari tadi kami hanya mengulang-ulang kata ‘bukan hal sepele’.

“Hoo.. begitu ya? Menurutku Jung Soo itu namja yang baik.”

“Baik? Cih, dia itu bukan superman, kenapa semua yeoja menggilainya?” cibirku kesal.

“Ya, kenapa kau bicara seperti itu?”

“Menurutku, dia itu hanyalah anak mama.” *author nulis ini sambil dengerin Super Girl ver. Korean yang ada kata-kata ‘he is not superman, he is must be a mamma boy’ XD*

“Anak mama? Dari sudut pandang mana kau melihatnya?” tanya Min Hyun, ia tampak penasaran sekaligus bingung.

“Hmm.. hanya menurutku saja kok.”

“Hah! Kalau menurut sudut pandangmu mah, tidak ada orang yang bagus! Yang bagus hanya dirimu saja.” Kali ini gantian ia yang mencibir. Wajahnya lucu sekali.

“Ani. Ada kok orang lain yang bagus selain diriku. Menurut sudut pandangku.”

“Nugu?”

“Hmm.. rahasia.”

“Huh, dasar namja gila.”

*KYUHYUN POV END*

-***-

*NORMAL POV*

“Oemma!” jerit seorang yeoja kepada oemmanya.

“Wae gurae, Sun Hee?” tanya ibu tersebut kepada anaknya yang ternyata adalah Sun Hee.

“Ada seseorang yang aku benci!”

“Nuguya? Memangnya orang itu melakukan apa kepadamu?” tanya ibu tersebut cemas.

“Namanya Cho Min Hyun. Jung Soo menyukainya.”

“Jinjja? Lalu, apa yang harus oemma lakukan sekarang?”

“Terserah. Pokoknya aku tidak mau lihat ia berdekatan dengan Jung Soo.”

“Gurae, akan oemma urus.”

-***-

Jangan menyerahkan cintamu begitu saja kepada takdir. Kau harus bisa meraih sendiri cintamu itu. Karena cinta sejati pada akhirnya pasti akan bersatu.

-Salsa-

-***-

^T-B-C^

Ada yang berminat untuk membaca karya saya yang lainnya? Just click http://ffamatir.wordpress.com or http://seuliestory.wordpress.com at the end, I just wanna say RCL, and gomawoyo! ^^