Title: 「Vandalize」 ~1 of 2~

Author: Dead SWORDMASTER

Cast[s]:

-Kohara Kazamasa/Shou [Alice Nine]

-Amano Shinji/Tora [Alice Nine]

-Sakamoto Takashi/Saga [Alice Nine]

-Ogata Hiroto/Hiroto [Alice Nine]

-Cho Kyuhyun [Super Junior] as Evan Kirchev

-Lenna Kirchev (original)

-Choi Sooyoung [SNSD]

-Omi [Exist✝Trace]

-IV [ViViD]

Genre: action, bit drama

Rating: 15+

Length: continue, 4.877 words

Disclaimer: segalanya yang ada disini bukan punya daku kecuali ide dan plotnya dan tentunya Shou dan Tora, kesamaan bukan kesengajaan lho, selaen itu-itu daku lepas tangan deh (-_-‘)

Warning: Segala senjata dan perlengkapan yang digunakan disini BERBAHAYA. Seluruh aksi berbahaya dilakukan oleh stunt[?] yang sudah terlatih dan berpengalaman, dilarang mencoba tanpa pengawasan ahli #penting/gagpenting[?] Poster credit: DheeAKTF @ dheeaktf.wordpress.com [terimakasih banyak, kakak n_n]

Tanda “+++” menandakan harinya sudah tidak sama.

「Vandalize」 © SWORDMASTER 2011

The School of St. Aleksandrov, St. Petersburg, Russia

KOHARA Kazamasa, lebih senang jika dipanggil Shou, sejatinya merupakan pribadi tenang yang memilih menghadapi segalanya tanpa perlu ribut-ribut. Meski bentuk fisiknya bisa dibilang nyaris sempurna tanpa cacat sehingga mendatangkan decak kagum lawan jenis merupakan sesuatu yang sangat mungkin terjadi, pembawaan tenangnya tetap tersemat betul-betul. Melayani penghargaan gadis-gadis disekelilingnya, sikap kalem seolah tak peduli namun sangat disukai menunjukkan diri hampir setiap saat. Predikat siswa terbaik sekolah elit nomor satu di Rusia benar-benar kasat mata, disertai kemampuan intelegensi jauh diatas rata-rata telah menjadi jaminan untuk menghilangkan segala keraguan yang mungkin tertuju.

Namun kali ini keraguanlah yang menghampirinya, selepas menutup diam-diam sebuah pintu asrama lantai tiga dan memutar-mutar benda temuan di tangan. Magasin FMJ (Full Metal Jacket) itu jelas bukan miliknya, bukan juga milik seseorang dalam kamar yang barusan ia tinggalkan. Menggigit bibir, sebelah tangan yang bebas merusak tatanan rambut cokelat gelap berhighlight emas sembari memikirkan beberapa kemungkinan muncul begitu saja. Sampai akhirnya ia menggeleng frustasi…

Tak puas, Shou berniat untuk pergi dan berharap segera menemukan jawaban atas rasa penasarannya. Namun baru saja niat beranjak muncul di hatinya, mendadak bulu lehernya berdiri. Untuk pertama kali setelah sekian lama, keadaan memaksanya untuk waspada. Mata menatap tajam setiap sisi koridor bangunan tua gedung asrama, agak meminta ketelitian lebih saat jendela-jendela berhias kaca patri menghalau pandangan ke luar. Dan setelah setengah menit berlalu, Shou menarik napas…

Kelihatannya tak ada yang perlu dikhawatirkan.

___

ROOFTOP gedung itu panas terpapar matahari. Seorang lelaki mengintai sesuatu dibalik rentetan jendela asrama berhias aneka warna, menumpukan satu kaki di tepian dengan sikap tubuh sedikit sombong memikul rancangan Mikhail Kalashnikov di bahu. Senyumnya terkembang tanpa perasaan. Teriknya sinar tampak tak mengganggu meskipun sekujur tubuhnya dibalut pakaian serba hitam.

Mendongak menantang matahari, Tora menurunkan senjata api dengan gerakan singkat mengarahkannya pada sosok dalam gedung—yang nampak bingung menimbang-nimbang sesuatu. Ia tak perlu pembidik. Matanya jauh lebih dari cukup jika hanya untuk mengintai objek dari jarak sedekat itu. Bahkan kaca-kaca patri itu samasekali bukan halangan baginya.

Saat ia bersiap menarik pelatuk, getar kecil di saku belakang celana denimnya sempat membuatnya berhenti. Ia berdecak kesal, menurunkan Avtomat Kalashnikova-47 sebelum menyambut panggilan itu tanpa minat,

“Hurry up, Tora.”

Menyebalkan.

Memutus sambungan, Tora kembali fokus pada assault rifle di genggaman, mendapati targetnya telah berputar menghadap keluar jendela. Keberuntungan baginya, kaca-kaca itu akan menyembunyikan keberadaan dan memudahkan aksinya kali ini, walau tanpa itupun ia berani menjamin aksinya berjalan mulus sesuai rencana.

Secara pasti seringai lebar terukir, jari-jari mencengkeram kuat pegangan senjata, mengarahkannya dengan akurasi tinggi kelas internasional ketika tangan lain menopang laras panjang rifle buatan Soviet.

Target locked.

___

PELAJARAN terakhir hari Rabu yang membosankan serasa amat menyita pikiran. Hiroto membawa tubuhnya menyusuri koridor paling tepi bangunan asrama sambil memeluk buku sains tebal, sesekali menguap terang-terangan tanda kantuk mulai menyerang. Ah, ia benci Biologi.

Mengusapkan punggung tangan di kelopak, tanpa disadari ia berjalan ke arah yang salah sehingga ia tak berada di area khusus laki-laki melainkan sebaliknya. Samasekali tak heran ketika menemukan tak satupun wanita disana, Hiroto menikung di sudut tanpa rasa malu karena biasa, merasakan kulitnya diterpa cahaya hijau, kuning, merah, dan biru bersamaan.

Ia berhenti sebentar, mengeluarkan iPod putih dari saku hoodie dan memasang headset di kedua telinga mendesiskan intro keras musik rock sebelum menghentak-hentakkan kaki begitu mendengar dead voice diteriakkan sang vokalis. Sedikit banyak membantu menghilangkan kantuk walau tiap kali menengok judul buku di pelukan, rasanya beat heavy metal itu tak terlalu berfungsi.

Dan matanya terpaku dibalik mosaik jendela. Sirat-sirat kapas menggantung tinggi di langit, sinar matahari teramat terang menyilaukan, dan dibawah itu semua, sebuah sosok hitam berdiri di tepi rooftop, tampak memegang benda yang lumayan… berbahaya.

Tepat saat ia melihat senionya, Sang Murid Nomor Satu berdiri di seberang.

Saat itu juga ia tahu. Kepintarannya boleh saja jatuh bebas, tapi bagaimanapun juga, kali ini ketepatannya tak bisa dibantah. Melepas begitu saja buku-buku bersudut tajam, seketika ia berlari sebelum segalanya terlambat.

Even if they’re rivals, it just awhile before they became an extremely close friend.

___

LENNA Kirchev tersentak kaget dari tidur siang singkat. Merapikan dirinya asal sebelum lari tergopoh keluar, ia membekap mulutnya sendiri tak percaya ketika harus menjadi saksi pemandangan yang paling tidak menyenangkan seumur hidupnya.

PRAAANG!!!

PRAAANG!!!

PRAAANG!!!

Tiga jendela penghias koridor pecah beruntutan. Beling-beling lima warna bertebaran diatas parket cokelat tua pelapis lantai, menghujani dua sosok meringkuk tak jauh dari tempatnya berdiri. Satu teman sekelasnya yang terlampau dekat, sedang satunya lagi terlalu kondang untuk disebut terkenal. Siapapun akan tahu walau hanya melihat rambutnya saja, dia adalah Kohara Kazamasa, Sang Murid Nomor Satu.

Tetapi yang paling menyita keterkejutannya adalah teman sekelasnya yang jatuh di pangkuan Shou saat ini. Lelaki mungil yang mengecat rambutnya seputih salju itu terlihat tak berdaya. Headset menggantung di sebelah telinga sementara yang lain terkulai bebas diantara pecahan kaca. Satu sisi kepalanya berdarah.

Cepat-cepat Lenna mendekati mereka tanpa merasa perlu untuk takut pada hamparan kristal setajam silet. Hiroto, semata-mata karena lelaki itu memenuhi kekhawatiran di hatinya melebihi apapun juga. Namun harapannya untuk melihat Hiroto dalam keadaan baik langsung lebur…

Sebatang kaca biru tua tertancap di leher, menimbulkan sayatan panjang dari telinga hingga sepertiga bagian terakhir sebelum mencapai bahu, menampilkan lapisan bawah kulit bersemburat putih pucat menonjol ditengah memar kebiruan. Dan yang paling menggiriskan baginya adalah, ketika menemukan lingkaran serupa di kedua sisi kepala Hiroto. Itu adalah… bekas peluru.

Lenna jatuh berlutut saat itu juga, menangkap pandangan mata Shou yang seolah menjelaskan segalanya sebelum ia meminta. Shou menggeleng lemah, Lenna membiarkan dirinya menangis

manakala ia mendapati Hiroto tak bergerak sedikitpun sementara Shou memungut benda kecil di dekatnya.

Sebuah proyektil; barang bukti.

___

SERINGAI tak berperasaan itu pudar begitu saja. Tora mengernyit untuk sepersekian detik sebelum menurunkan senjatanya perlahan dekat selongsong kosong magasin yang terjatuh selepas ia melontar tiga tembakan tadi. Misi gagal namun ia sudah menduga, membunuh seseorang seperti Kohara Kazamasa bukanlah masalah main-main.

Ia mendengus kesal melihat jendela-jendela rusak parah menampilkan bocah berambut putih (Hiroto, ia tahu), Shou, dan sosok lain di satu tempat dibawah jendela paling selatan. Niatnya untuk menghabisi bocah itu terlaksana dengan sangat tidak elegan. Keberadaannya berhasil diendus dan larinya Hiroto benar-benar memporakporandakan rencana yang semula tersusun rapi.

But at least he had deceased that witness with his own hands.

Tora segera meninggalkan lokasi itu dengan malas saat poselnya bergetar kedua kali. Melihat sebaris inisial nama samaran yang sangat familiar, ia tahu akan ditegur karena melakukan hal yang sia-sia dengan jendela itu. Namun Tora berusaha biasa saat menanggapi,

“Aku tidak bisa bekerja sebagai orang luar. Masukkan aku.”

Memasang wajah dingin tanpa ekspresi sebelum melangkah meninggalkan gedung tua diluar komplek sekolah yang megah, sambil sesekali mendongak mengintip mendung tipis menutup matahari dan kacamata hitam terpasang, ia menggeser slide posel, memainkannya sejenak. Masuk, entah sebagai apa, merupakan ide bagus. Selain lebih leluasa, ia juga bisa melakukannya dalam lebih banyak cara dan lebih mudah mencari perlindungan. Ini bisa dibilang rencana yang nyaris sempurna.

+++

BUNGA-bunga putih bertangkai panjang disusun sejajar meski tak simetris. Ratusan siswa sekolah berkumpul dalam perasaan yang persis sama. Tak ada panggilan khusus namun mereka

datang dengan kesadaran sendiri untuk memberikan penghormatan terakhir bagi siswa yang tewas karena insiden penembakan hari lalu.

R.I.P

Ogata Hiroto

Masing-masing pelayat berjajar rapi sambil membawa bunga segar, meletakkannya berurutan diatas pusara dan beberapa membungkuk tanda hormat. Deretan mawar putih, calla, gerbera, dan bunga lili memperkuat suasana duka disamping orang-orang berbaju hitam dan berkacamata senada demi menyembunyikan keadaan mata. Dan tampak terbaur diantara mereka seorang lelaki tinggi berambut perak, berkulit putih pucat, menggandeng adiknya lembut sembari menuntun sementara adiknya sendiri memeluk buket berisi penuh lili putih.

Meletakkannya sambil duduk, Lenna mengusap sejenak pusara itu saat bersamaan namun tanpa disadari Shou duduk setengah berlutut disisinya, memegang setangkai mawar di ujung jari.

“Tragic, uh?”

Lenna menoleh cepat, “Excuse me?”

“Kematian Hiroto. Tragis, bukan?”

Evan Kirchev menggeleng tak setuju pada percakapan adiknya, dengan kasar menarik tangan Lenna dan membawanya pergi sebelum Shou mengajaknya bicara lebih banyak. Saat mendorongnya memasuki Diablo hitam mengkilap keluaran 1990, melalui pantulan bodi mobil, Evan melihat Shou berdiri, memandangi mereka bahkan hingga mereka meluncur meninggalkan pemakaman itu.

“Apa yang kakak lakukan?!”

“Aku tak menyukai orang itu.”

“Apa kakak membencinya karena posisi Murid Nomor Satu kakak digantikan oleh seseorang seperti Senior Kohara?”

“Diamlah, aku malas membahasnya.”

“Kenapa?”

“Terlalu banyak yang kau tidak tahu tentang dia.”

Lenna menghela napas keras, memasukkan kedua tangan ke saku blazer informal saat tangan kanannya menemukan sesuatu. Ia menariknya, membuka lipatan rapi kertas putih bertuliskan sebaris kalimat.

Kau lebih cantik daripada seorang malaikat.

Ia tak tahu siapa sang pengirim.

Evan melirik sekilas benda di tangan Lenna sebelum menepikan mobil dan merebutnya paksa. Sesaat kemudian dahinya berkerut. Ekspresi marah bercampur tak setuju terlukis jelas di wajah tampan itu sementara Lenna diam terpaku karena takut. Semburat merah kemarahan menghias pipi Evan. Tapi nada yang keluar dari bibirnya justru amat rendah hampir menyerupai bisikan sampai-sampai Lenna kesulitan mendengarnya.

“Jauhi Shou, atau kau berada dalam bahaya besar.”

Evan membuka kaca mobil, meremas serta melempar lipatan kertas ke badan jalan padat oleh rutinitas pagi hari.

___

SHOU duduk di pagar balkon kediaman sementara keluarga Ogata sambil memandang jauh keluar pagar halaman. Bayang dalam kepalanya tak lepas dari dua hal utama: kematian Hiroto dan… Lenna. Ia masih memiliki proyektil jacketed-lead yang kemarin menembus sisi-sisi kepala adik kelasnya yang mungil itu, juga catridge Full Metal Jacket yang masih utuh, yang ia temukan di kamar Lenna secara tak sengaja. Satu informasi yang pasti ia dapatkan saat penembakan itu: sasarannya adalah dirinya dan bukan Hiroto. Tapi siapa pelakunya? Tak mungkin itu Lenna.

Ia baru akan turun saat aliran udara lembut membelai tengkuknya disertai tekanan lemah di bagian atas tubuhnya. Tak perlu ia menengok, tangan kirinya naik begitu saja menyingkirkan benda yang membebani pundak dan seketika berputar menghadap gadis jangkung itu. Dengan rambut cokelat gelombang terurai berantakan dibawah telinga dan mata sembap kemerahan, dia tetap cantik meski jelas-jelas sudah banyak menangis.

“Tidak sekarang, Sooyoung.”

Shou menyampaikan penolakan halus. Sooyoung tampak tak mendengarkan dan malah menggantungkan kedua lengannya di leher Sang Murid Nomor Satu, mendekatkan hidung dan memandangnya intens dalam kontak fisik yang sangat dekat, berjinjit menyetarakan tinggi badan.

“Sooyoung, berhentilah, ini bukan saat yang tepat untuk—“

Punggung Shou tertekan ke dinding saat Sooyoung menautkan bibirnya, membungkam lelaki Asia itu dengan lidah masuk lebih dulu, memimpin permainan ciptaannya sendiri. Kuku-kuku jarinya telaten menyapu kulit leher Shou yang mulai bergidik diantara deru napas memburu, saat tangan lain mengusap bagian belakang rambut cokelat berkilauan.

Dan saat pintu menjeblak terbuka.

Seorang lelaki diambang pintu berjenggit melihat pemandangan tak menyenangkan itu. Sooyoung melepas Shou seketika, merasakan aura malu sangat kuat menekan dan pergi melewatinya tanpa memandang sedikitpun, sedangkan Shou memilih menyibukkan diri dengan membersihkan bibir, nampak enggan menelan ludah. Sesaat kemudian ia bergumam pelan,

“Ada apa, Saga?”

“Apa kalian benar-benar saling mencintai?”

“Kau kemari bukan untuk menanyakan itu.”

“Well, ada yang ingin bertemu denganmu dibawah.”

“Siapa?”

“Seorang pengacara.”

Pengacara?

Shou mengerutkan dahi. Ia bangkit walau keraguan menghampirinya lagi. Ia tahu sesuatu akan—atau telah—terjadi. Cepat atau lambat, peluru akan kembali menghampirinya…

…dan ia harus menghadapinya.

+++

MENGURUNG diri dalam kamar sempit asrama wanita, Lenna merasa sesak bukan karena terbatasnya ruang, namun karena larangan keras Evan hampir membuatnya pusing, terutama setelah ia menemukan pesan tertulis tanpa nama diatas meja belajarnya. Terlintas di kepalanya sosok Shou, namun menepisnya cepat-cepat karena Shou bahkan terlalu pintar untuk mengatakan kalimat-kalimat rayuan semacam itu.

Lenna, membatin sekali lagi, menyelipkan lembaran itu dibalik sampul buku harian sebelum menyimpannya dalam laci terkunci. Kedua telapaknya menutup wajah saat ia menghembuskan napas lelah. Keheningan menyergap rasa kehilangannya, sebab setelah ini ia tak akan bisa

menemukan sosok periang itu, yang senantiasa menghibur harinya dan selalu menempati posisi pertama orang kepercayaan, bersedia menjadi teman sepanjang waktu, meski mereka tak pernah saling suka. Bagaimanapun juga, Lenna tak pernah akrab dengan orang lain, bahkan dengan Evan.

Tak bisa mengabaikan tragedi penuh misteri, ia meraih barang elektronik di sudut meja, memandangnya lembut saat mengutak-atik daftar terpampang di layar menderetkan ratusan lagu dari berbagai artis dan genre, sampai pada lagu favoritnya. Ia memasang headset bernoda cipratan darah,

the GazettE – Cassis

Lenna membiarkan air mata mengalir saat bunyi lagu itu merambati telinganya. Tiga hari lalu ia masih bisa menyanyikannya bersama Hiroto. Tapi sekarang? Tidak samasekali.

Masih dengan latar lagu tersebut, Lenna mengelap pipi, menghidupkan laptop, mengecek email kalau-kalau ada yang menanyakan perihal tragedi Hiroto, walau ia yakin dirinya tak akan menanggapi. Dan benar saja, belasan surat elektronik mendominasi kotak masuk, keseluruhan dari ‘orang dekat’ dan semua menanyakan Hiroto. Ia membukanya satu persatu tanpa benar-benar mencermati, namun pikirannya terusik hanya oleh sebuah kalimat,

“Terlalu banyak yang kau tidak tahu tentang dia.”

Kalimat Evan.

Cepat-cepat ia menambah tab pada browser-nya, mengetik singkat sebuah alamat search engine dan memasukkan kata kunci sebelum menekan simbol di layar PC.

Kohara Kazamasa, 32.400 hasil.

“Apa Senior Kohara sebegitu terkenal? Hasilnya bahkan melebihi ‘Pavel Priluchnyy’. Lantas apa maksud kakak?”

Lenna menimbang-nimbang kemungkinan lain. Mungkin bukan Shou. Sedetik kemudian ia telah mengetikkan kata kunci baru setelah menghapus yang sebelumnya, dan terbelalak melihat hasil di baris pertama, terutama setelah membaca isinya.

STAF PENELITI LABORATORIUM ALICE EXPERIMENT TUTUP USIA

JENEWA – Salah satu peneliti utama ALICE Corporation akhirnya tutup usia pada umur 54 tahun. Beliau adalah staf peneliti di laboratorium ALICE Corp., ALICE Experiment. Dan kabarnya, beliau akan mewariskan seluruh kekayaannya pada putra tunggalnya yang sedang menempuh pendidikan di Rusia, Kohara Kazamasa, dengan jumlah total mencapai ratusan juta Euro…

“Sudah selesai membaca tentang ayahku?”

Lenna terlonjak seketika, tak sengaja menatap langsung dua iris hijau menghanyutkan itu, ketika ia terpaku dan Shou melambaikan tangan di depan wajah, menyadarkannya. Menyembunyikan semu merah di pipinya, Lenna bertanya balik,

“Ada yang bisa kubantu, Senior?”

“Ini milikmu?”

Shou menyodorkan magasin FMJ tepat di ujung hidung Lenna. Mulanya Shou mengira Lenna akan kaget, namun gadis itu justru memungut dan mengamati, tersenyum senang ketika ia menarik jacket peluru dan sebatang pensil menyembul di ujung tempat seharusnya proyektil berada.

“Ya. Pon—maksudku, Hiroto—memberikannya padaku sebagai hadiah ulang tahun. Terimakasih telah mengembalikannya, Senior Kohara, aku kira hilang.”

Kedamaian itu merengkuhnya sekejap, rasa bersalah tergantikan ekspresi samar kebahagiaan beberapa detik begitu Lenna menebarkan senyum menenangkan di hadapannya. Menumpukan satu tangan di meja, Shou merunduk.

“Ada yang ingin kau ketahui dariku?”

Senyum Lenna terlepas dari muka, memandang bergantian antara layar laptop dan Shou, sementara kedua tangan beradu di kolong mewakili hatinya yang kalut. Jika ia jujur… yang tergambar di pikirannya hanyalah suatu hal yang buruk.

“Tidak. Um… dimana Senior menemukan ini?”

“Sebelumnya aku minta maaf, aku yang mengambilnya. Aku datang ke kamarmu dan kulihat kau sedang tidur—tapi pintunya tak benar-benar tertutup—jadi kuurungkan niatku, sampai aku melihat benda itu dan menyitanya karena kupikir kau mau macam-macam.”

“Senior? Ke kamarku? Kenapa?”

“Mencari Hiroto. Biasanya dia bersamamu, kan?”

“Tidak hari itu.”

“Turut berduka cita, kau pasti sangat kehilangan.”

Lenna merasa matanya buram. Air mata, sudah pasti, tapi ia tak ingin menangis dihadapan senior yang sangat ia hormati ini. Maka ia menarik kabel headset, beralih memandang langit-langit.

“Jika kau ingin tahu apakah bagian ‘ratusan Euro’ dari berita ayahku itu benar atau tidak…” Shou mengeluarkan secarik kertas dan meletakkannya diatas rentetan tombol keyboard. “…bacalah salinan itu. Permisi.”

Sesaat setelah pintu menutup, Lenna membaca apa yang tertera pada kertas pemberian Shou yang belakangan ia ketahui sebagai salinan surat wasiat. Beberapa kalimat awal samasekali tidak menarik, namun di akhir Lenna merasa tubuhnya sangat janggal.

Lebih dari 300 juta Euro kini berada di tangan Shou.

Ia membanting tubuhnya diatas kasur.

___

LELAKI itu berjalan tegap dalam balutan jaket jins hitam pudar berjahit benang biru tua mencolok, menyandang ransel terisi hampir penuh, beberapa kali mengecek jam tangan digital memastikan dirinya tak salah jadwal sebelum berhenti di muka gerbang megah berlapis logam mulia dan tersenyum, tak salah lagi. Kepalanya mendongak tinggi, menyinarkan kilau rambut hitam panjang saat mata tertutup kacamata hitamnya menangkap tatahan huruf-huruf Kiril yang terkesan agak terlalu berharga dipasang disana. Tapi biarlah, toh tujuannya kesini bukan untuk mengomentari hal itu.

Сант-Александров Счолий

St. Aleksandrov School

Komplek sekolah ini terlalu luas untuk dijelajahi, namun menemukan bangunan sekolah menengah bukan hal sulit bagi Tora karena ia pernah kemari sebelumnya, meski hanya sebagai penyusup. Dan untuk pertama kali, Tora melangkah masuk secara legal—membawa dokumen resmi tanpa senjata berbahaya.

Petugas penjaga gerbang sempat menahannya sesaat karena ia tak berpakaian formal sesuai anjuran kepala sekolah, namun segera menunduk meminta maaf sesudah melihat tanda pengenal di tangan Tora.

“Selamat datang, Tuan Amano Shinji.”

+++

KERIUHAN kelas memecah konsentrasi Shou, membuatnya memejamkan mata dan menggeleng kesal dari buku sastra berbahasa Rusia diatas meja yang masih sangat lowong, membeberkan saat-saat paling mengganggu.

Hari bebas.

Sejumlah siswi berkerumun di sudut belakang, berbisik-bisik, beberapa meliriknya dengan pandangan tak lazim nyaris penuh keraguan. Sesekali Shou mendengar mereka menyebut namanya diikuti seruan ‘tak mungkin!’ samar berdesis. Hingga salah satu dari mereka mendekat sambil berusaha sopan,

“Shou, maaf… aku turut berduka. Atas ayahmu dan Hiroto…”

Shou tahu kemana gadis ini akan membawa percakapan. Media memang punya dampak buruk akan penyebaran gosip.

“Terimakasih, tapi aku tak ingin teman saat ini.”

Gadis itu tertegun, berbalik dengan kesal, menggeleng-gelengkan kepala, memberi tanda pada temannya bahwa dia tak berhasil. Tapi memang merusak pertahanan seorang Kohara Kazamasa hampir bisa dibilang mustahil selain karena ia cerdas, ia juga membenci satu hal klasik yang mengerubunginya setiap saat. Simpel saja, kebohongan.

Menekuri kembali buku sastra favoritnya, konsentrasi Shou kembali terpecah ketika seseorang berteriak ditengah kelompok murid ekstrakurikuler musik tak jauh dari pintu masuk kelas,

“Kalian dengar itu? Kita kedatangan guru pembina baru!”

“Siapa?”

“Sejauh yang kudengar, dia adalah mantan gitaris band ternama!”

Shou berusaha untuk tak terganggu. Namun segala suara itu tak mampu dianulir. Menutup buku tebal, ia melangkah keluar kelas menyusuri koridor terapit ruang-ruang berpintu terbuka, menampilkan sejumlah manusia merapat di dinding. Di sudut sana, beberapa meter didepan Shou, sosok lelaki jangkung berambut cokelat muda melambaikan sesuatu padanya sembari menyilang tangan dan menempel punggung. Lapisan jas seragam sekolahnya masih tampak baru, meski ini memasuki saat-saat terakhir tahun ajaran bagi mereka.

Saga memasang wajah malas cenderung suntuk. Sementara Shou menghampirinya sambil mengeluarkan sinar mata tajam khas Murid Nomor Satu, bahkan tiga siswi berparas Viking yang dilewatinya membulatkan mata seketika bertatapan langsung dengan mata hijau itu. Wajar, bukan hanya otak cemerlang kelebihannya, tapi justru sepasang iris berhias warna langka dominan hijau adalah magnet terkuat darinya yang mampu menjatuhkan wanita sekali tatapan

meluncur, indah bagai permata di dasar sungai dangkal. Tetapi jika ia boleh jujur, ia tidak terlalu menyukai matanya.

Saga menepukkan kertas hardcover di tangan kanannya ke bahu Shou, “Bosan?”

Yang bersangkutan hanya tersenyum tanpa arti, “Memangnya kau tidak?”

“Kau tahu aku sudah biasa. Dan kau… tidak. Kudengar ada pengajar baru disini.”

“Mantan gitaris?”

“Amano Shinji, kudengar itu namanya.”

Shou mengambil tempat sebelah Saga, memandang jauh keluar jendela lantai tiga gedung sekolah menengah yang sedikit tertutup daun jarum cedrus.

“Kau pasti tahu resiko seorang milyarder, terutama, muda.”

“Kupikir hanya aku yang tahu.”

“Yah, aku hanya ingin mengutarakan opiniku. Kejadian yang menimpa Hiroto itu… sepertinya salah sasaran.”

“Sepertinya begitu. Seharusnya aku berterimakasih pada Pon.”

“Terus terang saja, aku tertarik. Firasatku mengatakan bahwa dia ada disini.”

“Hati-hati dengan firasatmu.”

Shou ganti menepuk pundak Saga, berlalu tanpa ekspresi jelas ketika ia merasakan aura mencekam disekitarnya. Namun saat ia menoleh untuk mencari, tak ada siapapun.

___

GREENHOUSE belakang sekolah St. Aleksandrov tak sedang penuh oleh kuntum-kuntum bunga yang sedang bermekaran. Kebanyakan masih berupa bibit-bibit mungil berdaun dua atau tiga di bedeng-bedeng sebelah barat, kemudian kuncup-kuncup sebesar biji jagung di sebelah timur. Tora sebenarnya samasekali tak berniat berada diantara tanaman-tanaman itu, dan kalau bukan karena ia melihat sasarannya, sekarang ia pasti berada di tempat lain.

Lenna memetik sebuah krisan berbentuk bola putih, bukan satu-satunya yang ada, namun yang terbaik, untuk diselipkan keatas telinga saat ia berdiri dan bertatap muka dengan Tora.

Tora berjingkat samar, kaget akan dirinya sendiri yang bisa tertangkap sedekat ini dengan target. Sementara tepat didepannya Lenna tersenyum, Tora mencoba bersikap wajar seolah kejadian ini memang ia sengaja.

“Tampaknya sedari tadi anda mengikuti saya, Senior.”

Tora meneliti figur luar Lenna dalam sekejap. Biasa saja, pikirnya. Sejauh yang Tora amati, pembawaan Lenna agak terlalu tenang untuk hitungan seorang wanita.

Dan agak kurang cocok sebagai saksi pembunuhan… yang harus dimusnahkan.

“Kau baik-baik saja?”

“Kenapa anda menanyakan hal itu? Tentu saya baik.”

Tanpa basa-basi Tora mengayunkan tangannya dari belakang punggung. Ketidaksabaran menguasai sebelum menjilat bibir tipis penuh arogansi, mencabut Winchester Magnum dan menyangga dagu Lenna dengan moncongnya yang dingin bagai es, to the point.

“Sekarang?”

Lenna membeku, tubuhnya gemetaran. Pandangannya terasa memberatkan melihat senyum sinis itu tepat didepan mata, sementara kedua mata hitam lawan bicaranya begitu mengintimidasi. Ingin rasanya ia jatuh berlutut jika Tora tak lebih menekan senjata hingga kepalanya terangkat.

“Se-senior…”

“Akankah kau baik-baik saja jika kukatakan aku yang membunuh Hiroto, hm?”

Lenna tetap diam, tapi hanya beberapa detik. Saat ekspresi ketakutan itu berubah, saat itu juga tekanan pistol Tora melonggar.

Lenna menurunkan moncong dingin itu dari dagunya sendiri. Masih dengan memegang pucuk pistol, ia mempersempit jarak, meletakkan kepala di bahu kiri Tora sembari tangan menyelipkan kembali benda itu di belakang punggung pemiliknya penuh percaya diri.

“Saya yakin Anda tidak bermaksud melakukan itu… kepada Hiroto,” Lenna mendongak, “karena Anda bukan orang seperti itu.”

“Kenapa kau bisa yakin?”

“Untuk apa Anda membunuh Hiroto? Dia tak pernah membuat masalah dan kami telah bersama-sama sejak kecil. Kecuali…”

Senyum Tora terbentuk sangat samar, “Kecuali…?”

“Kecuali jika Senior Kohara—“ pupil Lenna melebar ragu-ragu, “Kenapa Anda ingin membunuh Senior Kohara?”

Tora menepis tangan Lenna dibelakang tubuhnya dan kembali menodongkan revolver perak di tangan, kali ini ke pelipis, “Tidak ada yang perlu kau ketahui…”

Tora hampir menarik pelatuk.

CRAKKK!!!

“Kau…”

Lenna menendang benda itu menghilang dibalik rumpun krisan, melukiskan senyum tak wajar diatas wajah cantik berubah penuh kepercayaan diri.

“Aku tahu…”

___

DERETAN foto-foto tergelar diatas meja, beserta jilid-jilid kertas berisi informasi mendasar orang-orang dalam foto tersebut, saat bibir tipis itu bergerak menuju garis lurus kekecewaan. Satu foto tepat dihadapannya tersilang spidol merah, diatas cetakan nama dalam kertas glossy berukuran mungil.

Ia baru saja menerima laporan dari seorang mata-mata sekaligus informan mengenai seorang agen. Ini semua diluar rencana. Dan ia tak memiliki orang lain yang seperti dia, karena kebanyakan hanya mau menurut jika diberi bayaran tinggi. Sedangkan kesabarannya sudah mulai terkikis karena berbagai tidakan yang benar-benar nyata dari buruan utamanya. Ia tak boleh membuang banyak waktu. Jika keadaan benar-benar tak membantu, ia harus bergerak, sekalipun ia sendiri harus turun tangan.

Ia mengeluarkan pena dari dalam tas selempang kulit sintetis dan sebuah map merah, meneliti nama-nama di dalamnya. Saat matanya menemukan apa yang dicari, segera ia melengkungkan sudut bibir, menggores bagian tengahnya dengan pena bertinta hitam.

Amano Shinji

Kedua mata cokelat jatuh pada lipatan hardcover hijau tua di sisi seberang meja. Mengambilnya cepat, kilau tinta perak huruf-huruf Kiril terpantul di permukaan matanya, dan ia tersenyum lebar.

ST. ALEKSANDROV SCHOOL GRADUATION BALL

+++

SAGA terpaksa menghentikan aktivitas rutinnya—bermain game online—ketika ponsel di seberang ruangan bergetar keras. Enggan ia melangkah, ia membuka flip dan mendekatkan benda itu ke telinga, mendengar suara familiar berbasa-basi sejenak sebelum bertutur serius,

“Sudahkah kau mendapat pasangan?”

Saga melemaskan lehernya yang kaku, menekuknya ke kanan dan kiri, “Kurasa belum.”

“Baguslah kalau begitu. Aku ingin minta tolong.”

“Apa lagi?”

“Jauhkan Lenna-ku dari Kohara Kazamasa. Temani dia.”

“Tapi—“

“Terima kasih.”

Sambungan diputus. Saga mengacak-acak rambut, berpikir penuh kekesalan saat ia harus dipertemukan kembali dengan bagian dari masa lalunya. Ia masih bisa bersikap sedikit tenang namun tidak lagi saat ia kembali ke hadapan PC-nya dan sebaris kalimat berkedip-kedip cepat di layar,

No lives left, game over.

___

Nevsky Avenue, St. Petersburg, Russia

LENNA memeluk kantong kertas berisi bahan makanan di belakang Evan, menyusuri Nevsky Avenue, jalan utama yang terbentang di sepanjang Nevsky. Ketika mereka berjalan tepat diatas jembatan yang melintang diatas kanal Griboedov, Lenna berteriak,

“Kakak, tunggu!”

Evan menengok ke belakang. Menghampiri Lenna dengan wajah kosong tanpa minat dan mendesah malas,

“Ada apa?”

Lenna menurunkan belanjaan ke dekat kaki, sementara tangannya sibuk bekerja di tas selempang berlogo raksasa Dolce&Gabanna dan menarik keluar sebuah benda segiempat bersampul hardcover hijau tua, menyerahkan pada Evan.

“Untuk apa? Aku sudah bukan murid sana lagi sekarang.”

“St. Aleksandrov sangat menghormati keberadaan Murid Nomor Satu seperti kakak. Kakak akan menjadi tamu VIP.”

“Baik, akan kupertimbangkan. Kau sudah dapat pasangan?”

“Belum. Kurasa tak akan ada yang mau mengajakku.”

“Ada satu orang,” Evan mengambil alih kantong kertas belanjaan miliknya, memberitahu Lenna dekat sekali dengan wajah, mendramatisir, “Sakamoto Takashi.”

+++

St. Aleksandrov School Library, St. Petersburg, Russia

SHOU tak bergeming dari layar PC ketika Sooyoung menyerahkan benda bersampul hardcover itu ke hadapannya, alih-alih melirik sekilas sebelum kembali konsentrasi, meninggalkan Sooyoung di ambang kekesalan.

“Shou—“

“—Kau memintaku?” akhirnya.

Sooyoung mengurungkan niat bicara, menyaksikan Shou mencoret beberapa hal diatas buku catatan yang muat dimasukkan dalam saku dengan sikap terdidik mengagumkan, memandang balik penuh selidik.

“Kau yakin?”

Seperti gerakan slow motion Shou menutup laptop hitam mengkilap tanpa menunggu jawaban, menjejalkan catatan ke balik jas formal seragam sekolah dan menyiapkan pena, saat Sooyoung terpaksa mengikutinya berjalan menuju jajaran rak setinggi lebih dari lima meter penuh termuat buku.

Membetulkan letak kacamata, tiba-tiba ia berbalik, merasakan tubuh Sooyoung menabrak cukup keras. Namun tertolong oleh tinggi badan mereka yang terpaut cukup jauh.

“Maaf…”

Shou menahan pinggang Sooyoung dengan lengan, “Kau tidak apa-apa?”

“Ya, jadi…?”

Sooyoung mengayunkan undangan di tangan penuh semangat. Shou menggeleng perlahan, sesaat terdengar lenguh singkat dari bibir tipis lelaki itu seiring ia melepas pegangan terhadap lawan bicaranya. Hanya sedetik, ketika raut kekecewaan itu kembali ceria manakala Shou sengaja membisiki telinganya dari belakang dengan dramatis.

“But I have to done some preparation first.”

“As you please, dear.”

Secara refleks tangan Sooyoung bergerak keatas, membelai leher jenjang halus bagai lapisan velvet dan menghirup sengak aroma keringat bercampur parfum buatan Italia yang sudah jadi ciri khas seorang Kohara Kazamasa, seolah mendapat ijin untuk ‘masuk’. Ia tak bisa menyembunyikan betapa keras degup di dadanya, meski tak ia rasakan Shou mengalami sedikitpun perubahan ekspresi.

“Sure?”

Shou memancing Sooyoung, mendesah tepat didepan telinga dan meniup bagian di bawahnya selagi menahan tubuh Sooyoung yang tiba-tiba lemas, tergoda.

“Tell me one thing.”

“What?”

“Why me?”

“Because…” Sooyoung mendongak, mencoba menatap langsung mata Shou, “…I’m not the only girl who want to be your partner, and I have no much time to wait. But I’m the one who deserve you.”

Shou mengangkat sudut bibir, “As always.”

“Are you going to torture me, huh?”

“Maybe…” Shou menggunakan satu tangan untuk memegang tengkuk Sooyoung. Dan dengan satu tekanan kecil, tubuh kurus itu jatuh tak sadarkan diri.

“…yes.”

Ia menyandarkan gadis itu dan meletakkan sebuah buku terbuka di tangannya.

___

TORA sedari tadi memandangi undangan hijau tua diatas meja. Ia samasekali tak punya ide tentang siapa yang jadi pasangannya, selain karena ia memang tak minat untuk bersosialisasi dengan lawan jenis sekitar sini. Namun selepas termenung lama, pilihannya jatuh pada seorang rekan kerja di tempat yang (untungnya) tak terlalu jauh.

Ia membuka slide ponsel. Nada tunggu berdengung sebentar disusul suara malas wanita dan dentuman musik rock bervolume tinggi.

“Apa yang membuatmu mau menghubungiku, hah?”

“Mau berdansa?”

“Serius.”

“Aku serius.”

Sesaat hanya terdengar teriakan-teriakan khas para rocker wanita di seberang. Tora menaksir, jika Omi benar-benar setuju, maka bisa jadi seluruh pendapatannya bulan ini habis untuk ‘menciptakan’ kesan feminin padanya, walau efeknya tak seberapa.

Omi bergerak mengecilkan volume speaker yang terhubung dengan PC, memberi jawaban sambil mengunyah permen karet,

“Oke.”

Tora menarik bibirnya membentuk seringai lebar berarti. Omi bukan hanya seorang rocker sangar yang mahir memetik gitar, namun juga blademaster yang keahliannya tak perlu lagi dipertanyakan. Sehingga kalau sampai dugaannya benar, ia tak perlu repot melindungi orang lain.

“Don’t forget to bring your weapons.”

“I know. It’ll gonna be a real serious party, I think.”

___

LENNA melangkah di selasar sepi paling utara komplek sekolah. Menyibak sedikit poni, kepalanya terangkat tegak lurus dan mata tepat bertemu dengan orang tak jauh dari tempatnya berdiri. Mengepit laptop hitam di tangan kanan, juntai rambut cokelat gelap menutup kepala dan sebagian leher serta dahi. Postur tegap setinggi lebih dari 180 senti berlalu di sampingnya dan Lenna baru ingat,

“Senior…”

Shou berhenti namun tak berbalik, memandang Lenna tak langsung.

“Apa kau yang meninggalkan ini di kamarku?”

Lenna memaparkan kertas yang tempo hari ia temukan. Shou tetap tak berbalik, sedikit memutar kepala hanya sampai matanya yang muncul diantara rambut mampu melihat simbol biohazard di sudut kiri atas kertas, sebelum tersenyum dan memandang kembali ke depan,

“Bukan aku.”

Dengus kecewa Lenna terdengar mencapai pendengaran Shou. Ia melipat kembali kertas itu dan memasukkan dalam saku.

“Lenn…”

“Ya?”

“Kehilangan sesuatu?”

Seketika Lenna menunduk, melihat gulungan kertas di sisi kaki kanannya dan memungut benda itu cepat, menemukan simbol yang sama.

We’ll be seeing each other, soon…

Semenit yang lalu Lenna masih merasakan benda itu di sakunya. Saat hendak memanggil Shou, lelaki itu hampir menghilang dengan mengucap pesan singkat mengherankan,

“Jaga dirimu.”

___

Nevsky Aster, St. Petersburg, Russia

SUASANA sore hari terekam jelas membosankan di sebuah kamar apartemen paling terkenal di Nevsky, meski letak sangat strategis dan banyak diperebutkan konsumen. Sebab dari kamar itu

bisa terlihat jelas pemandangan istana Winter Palace dan kilau memukau Katedral Kazan di malam hari, jika ia mau.

Namun ia tak bisa mengalihkan perhatian dari ponselnya ataupun undangan pesta di sisi lain. Sejak tigapuluh menit terakhir tak ada kabar maupun konfirmasi, sementara ia makin tak sabar menunggu, menantikan saat ia mengirim paket ke tempat tujuan.

Maka ketika ponselnya bergetar panjang di atas meja fiberglass bening, dan setelah berbicara sedikit, ia melengkungkan senyum tipis,

“Deliver all, now.”

IV tak lagi membuang waktu untuk menyambar jas putih non formal di sandaran kursi kayu kokoh, melapiskannya diatas kemeja putih lengan panjang dan menopang sebuah pak berisi barang-barang pesanan.

Pintu berderit menutup, meninggalkan kamar apartemen terjejali rak bahan kimia dan senjata api dalam keadaan kosong.

Ia selalu suka menjadi seorang supplier.

“Let’s start over.”

「Vandalize」/TO BE CONTINUED

Next on 「Vandalize」 ~2 of 2~

Sepasang mata hitam kelam sedingin es menyorotnya tajam tanpa ampun, dan Lenna tak sanggup menghindari tatapan itu. Ya, dia menatapnya, benar-benar lurus di matanya.

“The ‘real’ party had started, baby…”

Shou tersenyum ramah, meliriknya sekilas, sebelum menarik topengnya lepas dan tanpa ragu mencengkeram pergelangan si lelaki asing…

IV mengacungkan bilah pedang berkilau, memantulkan kobaran api membara di mata Tora…

BANG!

Garis hitam retakan terlukis diatas lapisan cat putih demikian kuatnya Shou menghantam dinding.

“Aku bekerja dibawah sebuah fasilitas bernama ALICE Corporation, top secret…”

Kemudian ia melangkah pergi begitu saja.

+++

Hola, para reader…! Ada yang kangen daku? Ada yang merindukan karya daku? Haha… daku aja ragu ada yang bisa gitu.

Oke, buat kalian-kalian yang menanti The Hooded One, sabar dulu ya, soalnya daku lagi ilfeel ngelanjutinnya. Inspirasi daku mengambang entah kemana u_u”. Maka dari itu daku bikin yang laen aja dulu. Kebetulan, di FFL jarang banget kan ada fic viskei? Daku nyumbang atuk dah, dalam rangka memperingati Alice Nine Day, hore…! *tebarbunga*

Satu hal penting, tolong jangan samakan ALICE Corp. sama ALICE punyanya CERN

Oke, segini aja sampahnya. Pertanyaan? Kritik? Protes? Silahkan komen n_n