Tiesa

All character here belong to themselves

Tiesa © blackfreesia

Ficlet

Angst/Romance

Broken!Luna/Onew

~oo00oo~

Don’t Like, Don’t Read

~oo00oo~

Salju jatuh di atas rambut mereka, dan udara dingin disekeliling terasa menggigit kulit. Waktu serasa menggantung sia-sia di udara dingin, menunggu sepasang anak muda yang diam di tengah salju untuk bicara barang hanya sepatah. Mereka tak mempedulikan dinginnya salju. Mereka diam.

Onew diam, mencoba mengeluarkan kalimat yang tersangkut di tenggorokan. Mencoba menggetarkan pita suaranya. Mencoba memecahkan kesunyian. Dan mencoba jujur, walau menyakitkan. Luna juga diam, tak bertanya, dan hanya menunggu sang laki-laki berbicara.

Salju masih turun dengan lebatnya, menumpuk di atas rambut mereka—yang tak mereka coba singkirkan. Dan mereka masih diam.

Onew membayangkan senyuman manis seorang gadis yang meluluhkan hatinya dan selalu muncul di pikirannya. Membayangkan wajah cantiknya yang terlihat dingin namun Onew tahu itu hanya kulit luarnya, karena sesungguhnya dia hangat––menghangatkan hati Onew. Setiap gerakan yang dia buat membuat Onew mengaguminya.

Onew mencintainya. Onew menginginkannya.

Dan gadis itu bukan Luna.

Luna—“

“—lebih baik kita akhiri saja hubungan kita.”

Nyut.

Kalimat tadi serasa menghantamnya dengan sangat keras. Luna merasa sesak. Dan dia mencoba menahan air matanya. Dia menatap Onew.

Benar, tidak ada. Tidak ada cinta untuknya.

Sedari dahulu,  memang tidak pernah ada. Luna saja yang tak mau mengakuinya—

dan membohongi dirinya.

~oo00oo~

 “Kenapa?” pertanyaan bodoh yang meluncur dari mulutnya.

Tak perlu bertanya, karena dia sudah tahu dengan jawabannya.

Onew tidak mencintainya! Tidak pernah!

Luna mengingat tatapan bahagia Onew kala bersama gadis itu—tatapan yang tak pernah dia lihat ketika bersama dirinya. Senyum Onew tulus. Luna ingin menangis. Gadis itu tak perlu melatihnya senyuman agar terlihat manis. Gadis itu tak perlu selalu bersikap manis. Gadis tak perlu selalu terlihat cantik. Dan gadis itu, tak perlu berusaha keras agar Onew memperhatikannya, melihatnya, dan mencintainya. Tak seperti dirinya.

Tak peduli seberapa kerasnya usaha Luna, Onew tak pernah mencintainya.

Nyut.

Sekali lagi dada Luna dihantam. Luna merasa sulit bernafas.

Luna bertanya-tanya, mengapa bukan dia.

“Maaf Luna, aku mencintai Jessica.”

“Tapi, apa dia juga mencintaimu?”

“Aku tidak buta Luna. Dia juga mencintaiku.”

Benar, Onew tidak buta.

Disini Luna yang buta—atau pura-pura buta, seribu kali menyakinkan dirinya bahwa Onew mencintainya—Onew akan mencintainya. Dengan sengaja, memalingkan diri dari kenyataan.

Hening.

Onew selalu berusaha untuk mencintai Luna. Mencoba menerima segala kebaikannya, mencoba memujinya dengan tulus. Tak ingin menyakitinya. Tapi, tetap saja dia tak bisa. Seberapa pun keras dia mencoba, tetap saja Jessica yang hadir di pikirannya, yang dia cintai. Bukan Luna!  Onew pikir, selama mereka bersama, seiring waktu berjalan, dia akan bisa mencintai Luna.

Tapi dia salah. Cinta tak bisa dipaksakan.

Onew memalingkan wajahnya. Melihat guratan kesedihan di wajahnya, membuat rasa bersalah Onew semakin besar.

“Luna, aku sadar cinta tak bisa dipaksakan.”

“Aku tak ingin membuatmu semakin menderita Luna, karena itu—“

“Aku mengerti, Oppa. Aku mengerti,” potong Luna dengan suara seperti tercekik.

“Maaf.”

~oo00oo~

“Semuanya sudah berakhir, Oppa. Kau tak perlu menderita lagi karena aku.”

“Maaf.”

“Jangan minta maaf lagi, oppa.” (Bukan kau yang harus minta maaf, tapi aku)

Hening.

Hujan salju mulai mereda. Waktu kembali menggantung sia-sia. Onew membersihkan salju di rambutnya. Luna berusaha menahan air matanya yang hampir menerobos keluar.

“Nee Oppa, apa kau pernah—walau hanya sekali, walau hanya secuil saja—mencintaiku.”

“Jangan bertanya dengan jawaban yang sudah kau tahu, Luna. Jika, aku mengatakan jawabannya, kau hanya akan terluka.”

Hening lagi.

“Aku berdoa, semoga kelak kau menemukan orang yang kau cintai dan mencintaimu.” Onew berusaha tersenyum.

Onew berbalik, memberikan Luna sedikit privasi untuk menangis.

Sosok Onew semakin mengecil seiring pandangan Luna yang mengabur karena air mata. Hari ini, biarlah dia menangis sepuasnya, seolah-olah air matanya akan habis.

Semoga kelak Luna akan menemukan orang yang dia cintai dan mencintainya. Semoga.

FIN

 —

Fans Luna tolong jangan pukul saya #kabur