AFTER STORY-BECAUSE U R MY IDOL (3/3)

Author : Minnie

Length : chaptered

Genre : romance

Cast : Lee Gikwang BEAST ,Cho Minkyung (OC) and other ilustration cast.

Disclamer :

* FF ini pernah di publish di akun facebook-ku, http://www.facebook.com/note.php?note_id=10150279824188546 .

* Minnie storyline only! No plagiat !

Backsong :

* Ost endless love –Reason (opening)

* Ost BBF – howl – love u

* TVXQ – why did I fallen in love with u

* BEAST –because of you (closing)

*********

@Pantai, 10.30 PM ….

Minkyung segera menarik rem dan mematikan gas mesin mobilnya.

Dia membenahi dirinya yang tak berantakan. Lalu menepuk dadanya dan menghela napasnya. Ini pertanda bahwa ia berani untuk melakukan ini. Kali ini ia harus berani mengungkapkan kata ‘aku-benci-kau’ kepada Gikwang. Mungkin ia akan mengungkap dengan kata yang berbeda namun dengan makna yang sama. Sehingga ini akan membuat Gikwang merasa patah dan lemah

lalu kecewa terhadap Minkyung. Dengan begitu, Gikwang mungkin akan lebih cepat melepaskan Minkyung dari pikirannya.
Dan untuk terakhir kalinya ia membuka buku diary-nya sendiri. Ia mencoretkan kesan terakhir di buku yang juga mengukir nama Gikwang di setiap lembarnya.

Minkyung fiction :

Aku bangga dengan hatiku. Hatiku berbunga , terbakar bahkan telah tersakiti karena perilakuku sendiri..tapi setidaknya hatiku masih bekerja secara alamiah.

…..

….

…..

Bagus sekali Gikwang memilih tempat ini. Sangat sepi dan menenangkan. Hamparan pasir putih bertabur luas di pantai itu. Suara gemuruh terdengar begitu dahsyat menghempas daun telinga. Tapi tidak untuk seorang Minkyung. Baginya,tempat ini sangat berbahaya bagi Gikwang terutama karena hawa dinginnya dan angin yang berhembus begitu kencang. Minkyung memikirkan itu sejenak dengan gaya yang tak bisa menutupi kepanikannya. Minkyung melebarkan langkah kakinya dan menancapkan matanya pada setiap sisi tepi pantai yang ia lewati untuk mencari namja dengan perban di kepala itu.

“Lee Gikwang,odieya??” Batinnya pelan. Tak lama,Tuhan mendengar keluhan pelan Minkyung.

Seorang namja dengan tegap berdiri di tepi deburan ombak pantai. Tubuhnya kadang terhuyung pelan dan merasa terbawa angin. Balutan di kepalanya membuat Minkyung lebih yakin bahwa itu adalah seorang member ter-pabo BEAST, Lee Gikwang.

“Aku kira kau sudah bertambah pintar saat ini!Ternyata tidak sama sekali….” Sapa Minkyung dengan sedikit bentakan pada Gikwang yang masih menghadapkan tubuhnya ke hamparan laut di depannya. Minkyung sendiri berdiri di belakang Gikwang,kurang lebih masih dalam radius 30 meter dari sisi Gikwang.

Minkyung melanjutkan, “Melawan perintah dokter dan perawat! Menolak meminum obat jenis apapun itu! Dan sekarang apa lagi yang kau lakukan?Kabur dari rumah sakit dan pergi ke tempat menyeramkan ini!Pabo! ” Seru Minkyung yang tetap di tempatnya.

“Kau peduli padaku?” Tanyanya pelan dengan menolehkan sedikit wajahnya ke kanan.Tampak ia sedang menerawang keberadaan Minkyung di belakangnya.

“Jelas aku peduli!!Karena aku dokter yang bertanggung jawab pada kesehatanmu!” Jawab Minkyung dengan mulai melangkahkan kakinya mendekat ke Gikwang. Dua meter kakinya melangkah dan berhenti.

Gikwang membalik tubuhnya.

“Keureyo?” Tanya Gikwang singkat sambil menatap terang-terangan ke arah mata Minkyung.

Minkyung berusaha menahan sinaran mata Gikwang yang begitu menusuk setiap otot saraf bola matanya. Minkyung berkali-kali menelan liurnya dan mengedipkan matanya singkat. Tampak jelas bahwa Minkyung gugup.

“Kau tau bila udara malam tak baik bagimu?? Terutama bagi lukamu yang belum begitu pulih!” Jelas Minkyung yang sedikit menunjukan aura marahnya.

“Kecuali bila kau memakan obat yang kusarankan pada dokter Han tadi, mungkin lukamu akan tahan terhadap hawa dingin! Tapi kenyataannya kau membuang obat itu terlalu jauh dari dirimu dan begitu pula kesembuhanmu yang juga terlempar jauh!” Jelas Minkyung penuh penekanan.

“Aku membenci obat dan sampai kapanpun aku tak kan mau memakannya…” Jawab Gikwang dengan santainya. Gikwang memasukan jemarinya di saku celananya dan berjalan 3 meter mendekati Minkyung. “Karena obat hanyalah racun bagiku…” lanjutnya singkat.

“Hah?? ” Minkyung mendengus pelan. “ SEBERAPA PABO-NYA DIRIMU SAAT INI,HAH? BAGAIMANA KAU BISA MENGATAKAN ITU BILA KAU SENDIRI SERING MENEGUK MINUMAN KERAS DAN MENGHISAP ROKOK YANG JELAS-JELAS LEBIH MEMBERIKAN RACUN PADA HATIMU!!JELASKAN PADAKU DENGAN ALASAN YANG LEBIH LOGIS,LEE GIKWANG!” Bentak Minkyung yang kini terlihat jelas memberi banyak penekanan dengan intonasi yang luar biasa tinggi.

“Kau sungguh membaca detail isi diary-ku..” Gikwang terkekeh pelan. Minkyung kembali menelan liurnya dan menatap tajam Gikwang.

“Aku seorang dokter dan kau tak bisa menipuku, Gikwang-sshi!” Lanjut Minkyung memberikan sebentuk keyakinan bahwa asumsinya selama ini salah.

“Mungkin beberapa hari yang lalu aku bisa mengerti mengapa kau tak mau meneguk obatmu. Itu karena aku ber-amsusi sendiri bahwa kau alergi obat atau semacam terkena sindrom steven-johnson. Sindrom di mana kulit dan membran mukosa memberikan reaksi berlebihan terhadap suatu obat atau infeksi. Sehingga tubuh menganggap zat yang masuk tersebut adalah benda asing yang akan menimbulkan reaksi antibodi dalam tubuh.Jelas aku memikirkan itu karena obat yang akan kugunakan padamu adalah obat antibiotic yang memacu terjadinya sindrom ini. Di sini aku kembali salah melakukan prosedur kesehatan .Seharusnya aku mengecek timbulnya sindrom ini dengan menyuntik sampel antibiotic di tubuhmu dan melihat reaksinya.” Minkyung menarik nafasnya sebentar dan melanjutkan pembicaraannya kembali. “ Lalu sampai akhirnya aku mengetahui kau membenci obat karena kau menganggap obat itu racun bagi tubuhmu yang dapat mematikan fungsi hati. HELL!! Ini cukup tak masuk akal bagiku. Kau harus…” Suara Minkyung terpotong.

“HENTIKAN! AKU TAK BUTUH PENJELASAN ILMIAHMU SAAT INI! TENTANG OBAT ITU, KUAKUI AKU SALAH DAN KAU BENAR! TAPI AKU DI SINI BUKAN UNTUK MENDAPAT MATA KULIAH DARIMU….” Bentak Gikwang yang mulai melangkahkan kakinya hingga mencapai 5 meter di dekat ke Minkyung. “Tapi aku di sini untuk mendapatkan penjelasan tentang kita… antara aku dan kau…” Katanya pelan sambil menarik kakinya sekitar 2 meter lebih dekat.

“Tak ada yang perlu kau dapatkan dan tak ada yang perlu kujelaskan..” Jawabnya singkat dan Minkyung berjalan mendekat ke Gikwang. Sepuluh meter berjalan dan berjalan lagi. Kini tinggal 2 meter jarak antara mereka.

Minkyung meraih tangan Gikwang dan menariknya., “ Ayo kembali ke rumah sakit! Atau kau akan mengalami hal buruk malam ini…” Tapi Gikwang menahan dirinya .Gikwang bertahan pada posisinya. Minkyung berusaha menarik tangan Gikwang dan berusaha menggerakan kaki

Gikwang untuk mengekor di belakangnya. Tapi gagal. Gikwang melepas tangan Minkyung yang melingkar di pergelangan jarinya.

“SHIREOO!!Sebelum kau menjelaskan semuanya….” Bentak Gikwang.

“AKU BILANG BAHWA TAK ADA YANG PERLU DIJELASKAN KARENA MEMANG SEMUANYA SUDAH JELAS! Tak ada sesuatu antara kau dan diriku. Kaulah member BEAST dan aku seorang dokter ! Ini tak akan menyatu….” Jawabnya ringkas untuk menyelesaikan kemauan Gikwang.

“Itu bukan alasan! Perbedaan itu wajar dan kita masih dalam dunia yang sama. Kita sama menghibur orang di sekeliling kita dengan talenta kita ,cuma memang cara kita yang berbeda dalam penyampaiannya.Tapi intinya ,Kau dan aku adalah sama. Dan jelas kita dapat berjalan bersama juga…” Tutur Gikwang yang menatap Minkyung yang tampak membuang mukanya.

“Perbedaan itu tak dengan gampang seperti yang kau gambarkan! Aku berada pada tingkat paling rendah dan kau berada pada tingkat paling puncak. Di mana kau menghibur orang yang memang sudah menyenangimu sedangkan ku menghibur orang yang terkadang membenciku seperti kelakuan mu saat ini. Dan apa? Kita bersama? Omong kosong! Itu hanya harapanmu sedangkan aku tak kan pernah mengharapkan itu….” Kata Minkyung dengan mantap. Tapi dalam lubuk hatinya yang terdalam ia merasakan rasa sesak pada bagian tepi dinding hatinya. Serasa menusukan belati pada nadi yang sudah terputus, maka hatinya semakin hancur karena ulahnya sendiri.

“Apa yang diharapkan memang tak akan bisa menjadi kenyataan tapi setidaknya aku bisa merubah mimpi menjadi kenyataan. Mimpiku menjadi seorang member dari grup terkenal, aku mendapatkannya!Mimpiku untuk mendapat Daesang atas prestasi grup ku, aku mendapatkannya! Mimpiku untuk BERTEMU DENGANMU, aku mendapatkannya! Dan jelas mimpiku untuk membawamu kembali padaku, AKAN kudapatkan!” Jelas Gikwang dengan penuh perasaan.

“Sebegitu percayakah dirimu, Gikwang-sshi?” Minkyung mengungkap senyum evilnya. “Di hadapan yoega yang telah melupakanmu dari hidupnya dan menghapus memori tentang masa lalunya, Kau masih percaya diri untuk mengatakan itu??” Minkyung tersenyum getir. Pahit rasanya mengatakan itu.

“Tentu saja aku percaya diri dalam mengatakan ini!Karena aku tau bahwa yeoga itu membohongi perasaannya sendiri!” Gikwang berjalan mendekati Minkyung hingga jarak mereka tinggal 1 meter.

“Saat di sudut kota Nam-gu, kau merobek rokmu dan melekatkan-nya pada ubunku yang mengumbar darah begitu melimpah lalu mengatakan padaku agar tetap terjaga, Bukankah itu ungkapan rasa pedulimu padaku?Saat kau menangisi ku di dalam ambulance karena aku memejamkan mataku, bukankah itu suatu ungkapan ketakutan akan kehilanganku?? Saat kau menepis rasa traumamu terhadap menjahit dengan mengatakan ‘percayalah padaku Gikwang, kau akan baik-baik saja’, Bukankah itu karena kau takut terjadi sesuatu yang akan menewaskanku? Saat..” Lagi-lagi kata Gikwang terpotong.

“HENTIKAN! Itu semua karena aku seorang dokter! Layaknya seorang dokter yang takut kehilangan nyawa pasiennya. Itu wajar…” Mata Minkyung tampak memerah.Terlihat jelas di sudut pelupuk matanya yang memancarkan benih-benih kaca yang hendak jatuh ke pipi lembutnya.

“Dan saat kau membersihkan luka di wajahku lalu membelai dan meraba indah wajahku sampai akhirnya kau meletakkan kepalamu di kasurku, Bukankah itu ungkapan suatu kerinduanmu padaku,dr.CHO????” Gikwang mendekatkan wajahnya ke hadapan Minkyung .

DEG!! Minkyung tertegun sesaat.Matanya membulat menatap Gikwang yang mengetahui semua yang terjadi waktu itu.Terungkap sudah bahwa saat itu Gikwang hanya berpura-pura untuk memejamkan matanya supaya membawa kesan tragis bagi dirinya sendiri dan terlebih untuk mengetahui seberapa peduli Minkyung pada dirinya.

Semua yang diungkapkan Gikwang memang benar bahwa Minkyung rindu Gikwang,peduli terhadap Gikwang , takut kehilangan Gikwang dan bahkan mencintai Gikwang. Tapi Minkyung hanya terdiam.

“Kau tau bila cinta itu seperti angin? Kau tak akan pernah bisa melihatnya tapi kau bisa merasakannya di setiap detak jantungmu, di hela napasmu , di aliran darahmu. Karena cinta ada dalam dirimu. Begitu pula aku.Aku tau aku mencintaimu, tepat ketika aku menyadari bahwa tidak ada orang lain yang bisa membuatku tersenyum, menangis dan membuatku mengingat

semua itu dalam waktu yang sama.Dan aku mengetahui kau mencintaiku, saat………” Gikwang memotong pembicaraannya lagi.

“Lebih baik kau hentikan pembicaraan kosong ini! Kata-katamu sebenarnya tidak mempunyai makna untuk menjelaskan perasaanmu.Kau boleh membentuk seribu kata-kata, seribu bahasa.Tapi kata-kata bukan bukti unggulnya perasaanmu. Dan ini tak kan pernah merubah keputusanku untuk pergi dari hadapanmu…” Kata Minkyung yang terkesan acuh tak acuh pada segudang kata manis yang diungkapkan Gikwang.

“Terserah apa katamu!Bila kau tetap tak ingin kembali ke rumah sakit, aku tak peduli! Aku akan pergi sekarang……” Minkyung membalikkan badannya dan melangkahkan kakinya selangkah ke depan. Dia menatap ke depan dan air matanya jatuh ke pipinya.

“Dan aku mengetahui kau mencintaiku, saat aku melihat binar matamu yang memancarkan suatu kehangat dan kenyamanan tersendiri.Walaupun kini mata itu mengalirkan suatu aliran kepedihan dan kesedihan atas kebohonganmu sendiri…” Ungkap Gikwang tanpa ragu . Ia bisa menerka keadaan Minkyung yang sedang meneteskan butiran lembut air dari tepi matanya.

Minkyung berhenti melangkahkan kakinya. Ia menunduk dan membiarkan air mata itu mengalir membasahi pipi dan dagunya. Ia kembali menghembuskan napasnya dan menghadap ke depan lalu menggoreskan tangannya di wajahnya untuk menghapus air mata yang terlalu deras mengalir itu. Perlahan ia kembali melangkah….

1 langkah…… dan….

BUKK~~~

Gikwang memeluk Minkyung dari sisi tubuh Minkyung yang terbelakangkan. Ia mencengkram kuat tubuh Minkyung seakan tak ingin melepasnya untuk pergi lebih jauh lagi. Gikwang melihat semua keterpaksaan itu.

“Napeun yoega(bad girl)….” Bisik Gikwang pelan. Gikwang perlahan merendahkan dagunya ke pundak Minkyung dan mencengkram tubuh Minkyung lebih kuat. Gikwang merasakan betapa jantung Minkyung berdetak tak beratur, napasnya yang tersengal dan suara isaknya yang sangat lembut.

“Kau datang sebagai orang asing di acara fanmet BEAST. Berbaju putih dengan ikatan rambut apel. Sungguh manis terlihat. Itulah yang membuatku selalu memperhatikanmu di setiap detik acara fanmet itu. Hingga akhirnya kau tersungkur di antara ratusan b2uty maka dengan sigap aku menolongmu. Mulai saat itu kau menyatakan bahwa kau adalah fansku yang bisa dibilang terobsesi padaku. Aku senang mendengar hal itu karena aku tak perlu susah-susah mengejarmu. Lalu kau berjuang di trainee Anyoung entertainment untukku dan bahkan meninggalkan oemmamu hanya untukku. Kau berkata bahwa kau pengagum besarku di hadapanku .Dan dari hal kecil itulah, kau telah mengukir perasaanku yang kini terpatri kuat di hatiku.” Gikwang merasakan tetesan air membasahi tangannya. “Tapi apa yang kini kau katakan? Kau melupakanku? Kau membenciku?” Tanya Gikwang perlahan sambil tetap mengarahkan pandangannya pada arah depan.

Minkyung tetap terdiam sejenak. Dirinya serasa membeku melihat berbagai pengakuan Gikwang secara langsung. Ia bahkan tak bisa menggerakan lidahnya karena memang terasa kelu untuk digerakan. Ia hanya mendengar seruan lembut Gikwang yang diiringi dengan dentuman detak jantungnya yang kuat melekat pada punggung Minkyung.

Tetapi sesaat, Ia memberanikan untuk menggerakan bibirnya.

“Kurasa semua orang bisa berubah ,Gikwang-sshi. Begitu pula aku. Jangan memandang lebih bila aku dulu menyukaimu. Karena pada faktanya,aku tidak lagi menyukaimu dan mengagumimu. Jadi mohon mengertilah…” Jawab Minkyung yang sedikit terbata-bata. Perih rasanya mengatakan hal seburuk itu pada Gikwang.

“Kurasa kau kini menjadi 4D princess. Karena kau mengubah dirimu dalam sesaat. Sesaat peduli padaku, sesaat acuh padaku. Sesaat jujur padaku, sesaat bohong padaku. Sesaat mencintaiku dan sesaat membenciku.” Kata Gikwang pelan sambil mempererat dekapannya.

“Terserah apa katamu!! ” Acuh Minkyung yang berusaha menghentikan aliran air dari sudut matanya itu.

“Cihh……Kini bolehkah aku berkata jujur padamu? Biar ini impas untukku dan untukmu. Sesaat yang lalu aku bilang aku mencintaimu . Itu memang bohong. Dan setelah aku melihat sikapmu yang memuakan ini ,kini aku menyadari semua, bahwa aku…… ”

Gikwang mengubah pandangannya. Ia memandang wajah Minkyung yang terkelungkupkan oleh rambut ikalnya yang sedikit berantakan. Bibirnya mendekat pada sisi telinganya dan berkata,

“Bahwa aku sangat mencintaimu dan hanya mencintaimu!Karena bagiku,kaulah satu-satu nya yang telah mengubah setiap detik di kehidupanku menjadi tebaran bunga kebahagiaan dan juga serpihan kepedihan…..” Bisik Gikwang lembut.

“Jangan katakan itu lagi!!” Bentak Minkyung yang masih menundukan kepalanya. Tangannya mengepal keras dan air matanya semakin jatuh bertubi-tubi.

“MWE?? Katakan mengapa kau tak mau menerimaku lagi??” Tanya Gikwang pelan.

“Masa lalu adalah tempat yang bagus untuk disinggahi tetapi tidak untuk ditempati.Dan tak baik untuk terus dikenang. Jadi tolong lupakan aku!Apapun itu alasannya,menjauhlah dari hidupku!” Minkyung menghela napasnya. Minkyung terlalu kelu untuk mengungkapkan kalimat aku-benci-kamu.

“Mweyo?Kenapa aku harus menjauh darimu?aku tak mau melukai hatiku lagi.” Gikwang menghela napasnya sejenak. “Dan kenapa kau begitu keras kepala,Cho Minkyung! Jangan lukai hatimu dengan goresanmu sendiri.” Bentak Gikwang tapi Minkyung tetap bersikeras pada dirinya. Minkyung berusaha melepaskan pelukan Gikwang tapi Gikwang mencengkramnya kuat.

“Lepaskan aku ,Gikwang-shi! Tak ada gunanya kau terus menahanku! Hatiku sudah beku untukmu!” Mulut Minkyung kembali mengatakan kebohongan. Sejujurnya,hati Minkyung sangat lunak untuk dirasuki Gikwang dan bahkan untuk parasit dari ketulusan cinta Gikwang.

Minkyung tetap berusaha menghempaskan tangan Gikwang tapi ia terus gagal. Matanya semakin memudarkan air mata yang bertambah deras. Minkyung meronta. Gikwang hanya tenang menahan Minkyung yang terus berusaha melepaskan diri dari Gikwang. Justru Gikwang semakin mendekap tubuh mungil Minkyung.

“Gikwang-ah……” Suara Minkyung terdengar sangat lemah dan bergetar. Tangan Minkyung terus berusaha melepaskan pelukan Gikwang. “ Lepaskan….” Pintanya yang tampak sudah putus asa.

“ Shireo…” Desah Gikwang pelan. “Jangan pernah lari dariku.Semakin kau lari, maka semakin sering aku mengejarmu.Jangan harap kali ini aku melepasmu.” Jelas Gikwang yang kini menggantungkan kepalanya di kepala Minkyung.

Minkyung menghentikan geraknya. Tangannya terhempas ke bawah. Ia kembali menelungkupkan wajahnya yang diiringi oleh rambut ikalnya. Tak ada gunanya lagi Minkyung melakukan ini semua pada Gikwang. Bila Minkyung terus melakukan aksi ini maka semuanya akan berakhir buruk pada Gikwang. Bukan hanya masalah perasaannya tetapi juga masalah lukanya. Bila dihitung, sudah 3 jam Gikwang berdiri di tempat ini. Semakin lama ini akan membahayakan Gikwang. Minkyung berpikir bahwa kebohongan dan keegoisan tak bisa memusnahkan cinta yang telah melekat di hati mereka. Cinta mereka seperti penyakit langka yang tak akan pernah ditemukan vaksin untuk menghancurkannya apalagi memusnahkannya. Minkyung menyadari itu dan ia mengubah pola pikirnya.

Gikwang mengecup puncak kepala Minkyung lalu menurunkan wajahnya pada pundak Minkyung.Kepala Minkyung menengadah dan ia meraih tangan Gikwang yang sedang memeluknya. Minkyung membuka gerai rambutnya dan menyangkutkan pada daun telinganya. Ia menatap wajah Gikwang yang kini berada hanya 10 cm dari wajahnya.Gikwang mengecup air mata yang tersisa di pipi Minkyung dan sampai akhirnya kecupan itu melekat pada bibir manis Minkyung.

Minkyung membalikan tubuhnya dan memegang pundak Gikwang lalu mereka bertaut dalam ciuman hangat.Sesaat Minkyung melepaskan ciuman itu.

“Mianne….” Kata Minkyung lirih. Gikwang menatap wajah yoega yang tampak sangat berantakan itu. “Pabo! Dr.Cho pabo….” Gikwang mengusap lembut air mata yang membasahi pipi Minkyung dan menarik kembali Minkyung ke dalam bibir lembutnya.

************

D-day

@Gikwang’s room, 1 AM

Gikwang membaringkan tubuhnya pada kasur perawatan itu lagi. Ia tak lagi mengelak karena yang menanganinya secara langsung adalah Minkyung.Mengambil kesempatan ini, Minkyung menjejalkan segala obat ke tubuh Gikwang.Terutama antibiotic dan vitamin.

“ Apa kau perlu penjelasan langsung tentang obat?Apakah obat akan berpengaruh pada fungsi hati atau tidak? ” Tanya Minkyung sambil menarik ujung suntikan dan mengisinya dengan antibiotic.

“ANDWEE! Sudah cukup aku mempelajari hal-hal yang berbau kedokteran.Aku muak mempelajarinya!” Kata Gikwang acuh. “Dan aku percayakan saja padamu,dr.Cho!” Jawabnya singkat sambil tersenyum manja.

“ Ah ajoesumnida!” Minkyung membalas senyuman Gikwang lalu menusukan jarum suntik itu ke kulit epidermis Gikwang hingga masuk ke sel-sel darah Gikwang.

“Aaaa….!” Teriak Gikwang pelan.

Minkyung menarik suntikan itu pertanda bahwa cairan antibiotic itu sudah masuk ke tubuh Gikwang. Minkyung merapikan peralatan kedokterannya dan menarik sebuah kursi lalu meletakkan di sebelah Gikwang.

“ Istirahatlah…” Minkyung mendorong badan Gikwang hingga terbaring ke kasur. “Tenanglah! Aku tak kan ke mana-mana hingga esok hari..” Lanjut pelan.

“Baguslah!Setidaknya itu berita bagus untukku..” Kata Gikwang lirih. “Aku harus kembali besok. Mau tak mau aku harus kembali ke Seoul esok….” Lanjutnya pelan. Gikwang memberikan tatapan kesedihan pada Minkyung.

“Melihat kondisimu yang masih rentan, aku mungkin melarangmu untuk kembali ke Seoul.” Cegah Minkyung datar. “Tapi mengingat kau yang terlalu keras kepala seperti ini, maka Aku akan memperbolehkanmu kembali ke Seoul esok dengan syarat kau harus meminum obat-obat yang kuberikan padamu..” Tutur Minkyung lanjut.

“Siap,dr.cho! Semua obat yang kau berikan akan kuminum sampai habis!” jawab Gikwang secara lantang dan penuh keyakinan. “Dan ikutlah denganku ke Seoul, Minkyung-shi?” Tanya Gikwang pelan sambil meraih sisi pergelangan Minkyung yang berada di sebelahnya.

“Aku tak bisa…” Jawabnya Minkyung pelan . Hal yang sekaligus memberikan jawaban terburuk bagi Gikwang. “Seharusnya kau tau bagaimana pekerjaanku sebagai dokter. Aku tak bisa pergi sesuka hatiku di hari ‘full work’ seperti ini. Banyak pasien yang harus kutangani…” Ungkapnya lagi sambil melepaskan jaket putih yang dari masih melekat di tubuhnya.

“ ah ara.” Jawab Gikwang dengan penuh kekecewaan.

“Tapi aku akan mengunjungimu saat konser di Seoul tanggal 14 Maret. Aku bisa pastikan itu!Aku bisa pastikan memegang spanduk beast bertuliskan Lee Gi kwang ,lengkap dengan light stick BEAST.” Jawaban ini cukup menenangkan Gikwang.

“ Ahhh joa!!! Aku akan membelikan tiket untukmu sehingga aku bisa menempatkanmu pada posisi VIP. Tepat di depan panggung kami.” Jawabnya dengan penuh semangat.

“Ahh ne! Sekarang tidurlah…” Suruh Minkyung pelan dan menarik selimut hingga menutupi setengah bagian Tubuh Gikwang.

“Chakkaman!” Gikwang melepas selimut yang telah dikerudungkan oleh Minkyung. “Aku dengar kau akan mengambil S2 tahun ini. Jinchayo? Benarkah itu?” Tanya Gikwang dengan penuh penasaran.

“Dari mana kau mengetahui ini?” Tanya balik Minkyung.

“eiii…Kenapa kau balik tanya padaku?”

“Karena aku hanya pernah mengungkapkan pemikiranku tentang pengambilan studi S2 itu kepada orang…….” Minkyung menghentikan kata-katanya sejenak. “ Kepada orang yang kini sudah dalam dimensi yang berbeda dengan kita.” Jawab Minkyung sambil memeluk bagian tubuhnya yang merasakan hawa dingin.

“Seorang yoega yang tingginya sepundakku dengan kacamata berbingkai hitam pekat yang mengitari kacanya,rambut lurus sebahu dan sedikit senyuman yang menampakkan gigi taringnya

yang menggantung. Dia yoega yang juga menyuruhku untuk mencarimu dengan mengikuti kata hatiku. Dia yoega yang memberiku semangat untuk menemukanmu.” Jawab Gikwang pelan.

“ Kau ke asramaku?” Tanya Minkyung lagi.

“Bingo!Aku menemukan yeoga itu di asramamu. Di tengah ruang lobby yang awalnya sepi. Dan anehnya ketika ia pergi ruang lobby itu menjadi sangat ramai dengan langkah para orang berjas putih.” Dahi Gikwang mengkerut.

“Ah aku tak percaya dengan namanya hal-hal mistik seperti ini. Dan mengingat ia adalah orang terdekatku selama ini, tak menyangkal bahwa ia membantu pertemuan kita.” Jelas Minkyung secara perlahan.

“ Mwo??Mistik? Apa maksudmu?” Gikwang tersentak. Ia memiringkan tubuhnya menghadap Minkyung.

“Yoega itu memang resepsionist. Dia baik, ramah dan sangat perhatian pada setiap penghuni asrama. Tapi menurutku hanya dialah yang dapat mengerti perasaanku ,di mana aku kesepian dan sedih akan kepergiaanku dari hadapanmu. Dia tempat di mana aku mencurahkan segala isi hatiku dan begitu pula dia yang selalu mendengarkan segala ceritaku dengan sangat baik. Hingga detik akhirnya, saat dia terbaringkan di rumah sakit, ia tetap memperdulikan kisah tragis percintaanku ini. Karena misinya saat itu adalah bertemu denganmu dan menyatakan bahwa aku masih mencintaimu. Tapi nyatanya sebelum misinya berjalan selangkahpun, ia sudah menghembuskan napas terakhirnya karena penyakit leukemia yang di deritanya. Itulah oenni San-mi.” Jelas Minkyung panjang lebar.

Gikwang menelan liurnya. Bulu kuduknya bergidik.Ia mengelus tangannya yang terasa dingin

“Ahh ne? Kau sedang mengarang sebuah cerita,Minkyung-shi?Aku tak kan percaya dengan hal itu. Jelas-jelas aku bisa melihat wanita itu dengan tubuh yang tampak..” Gikwang berusaha menepis cerita Minkyung yang sebenarnya masuk ke otak Gikwang .Namun Gikwang tetap tak bisa menerima bahwa yoega yang saat itu ia temui di asrama hanyalah roh.

“Aku juga tak percaya! Tapi mengingat dia masih mempunyai hutang padaku saat itu. Hal ini tak mungkin disangkal. Umur kematian baru 20 hari dan itu memungkin arwahnya masih melayang

di sekitar asrama.Menurut beberapa keyakin orang-orang yang memiliki penerawangan, seseorang yang meninggal dunia akan terus membiarkan arwahnya menjelajahi tempat-tempat yang disukainya dan menyelesaikan hutang yang belum terlunaskan sebelum hari ke 40. Jadi mungkin saja kan? ” Minkyung menaikan alisnya sambil menatap Gikwag

“Eiiii….. kau telah berubah menjadi paranormal rupanya!” Canda Gikwang mengganti suasana yang cukup menegangkan itu. Gikwang meng-iya kan pernyataan Minkyung walaupun ia tetap tak percaya dengan hal-hal mistik itu. Begitu pula Minkyung.

“Ahhh…harusnya aku tak membahas ini!” Minkyung menunduk dan menghela napas sejenak. “Masalah pengambilan studi S2-ku, aku masih memikirkannya. Melihat kinerjaku yang masih cukup buruk ini maka aku memutuskan untuk mengambil S2 pada umurku 31 tahun.”

“Itu berarti 2 tahun lagi!” Sahut Gikwang kegirangan. Minkyung hanya menggangguk pelan.

“Assa!” Jawab Gikwang sambil memberikan sentikan kecil pada tangannya. “Berarti aku masih punya waktu..” Lanjutnya.

“Waktu untuk?Bersamaku?” Jawab Minkyung asal.

“Melamarmu… !” Jawab Gikwang blak-blakan.

“Ahh ne???Kenapa kau mengungkap hal seperti itu padaku? Harusnya itu menjadikan kejutan.” Sesal Minkyung.

“Aku hanya mengungkapkan pemikiranku saja.” Jawab Gikwang asal. Minkyung mendengus kesal. Mereka terdiam sejenak.

“Seandainya aku bisa mengukir namamu di bintang agar semua orang tau bahwa aku hanya mencintaimu..” Gombal Gikwang menghidupkan suasana lagi.

“Aihh…Jincha! Sepertinya mangkuk bubur di sebelahku ini cukup untuk menjejalkan mulut gombalmu itu,Gikwang-shi.” Canda Minkyung. “Jangan merayuku dengan kata-kata yang sering kudengar di televisi.” Ledek Minkyung pelan.

“Ahh kau mengetahuinya?” Jawab Gikwang sedikit malu.

“Sejak kejadian di pantai tadi…” Jawab Minkyung secara samar.

“Baiklah kau menang! Dan aku ingin tidur sekarang…” Ungkap Gikwang dengan malu dan menarik selimutnya hingga menutupi dirinya seutuhnya.

“Pabo!” Ledek Minkyung. “Pabo Gikwang!” Ledeknya lagi sehingga membuat Gikwang menurunkan selimut dari tubuhnya. Minkyung tersentak sejenak akibat tatapan tajam Gikwang. Perlahan Gikwang menahan tangan Minkyung lalu mendudukan dirinya dan mengecup bibir Minkyung sejenak.

“Aku ingin tidur!Jangan berisik!Jalga~” Perintah Gikwang pelan yang lalu membungkus tubuhnya dengan selimut dan membelakangi Minkyung. Di balik selimutnya, Gikwang tersenyum hangat. Senyum yang begitu melepas kegembiraan dan kebahagiaan atas akhir penantian yang berujung pada sebuah penemuan yang akan terus utuh dan tidak akan terpisahkan lagi.

Minkyung menatap Gikwang yang membelakanginya dan tersenyum. Ia meraih tasnya dan mengeluarkan buku diary. Dua buah buku diary. Minkyung meletakkan kedua buku tersebut di atas meja rawat Gikwang . Ia mengambil penanya dan membuka lembar terakhir pada masing-masing buku diary itu. Lalu menulisnya secara bergantian…

Minkyung and Gikwang fiction :

Terkadang aku harus berpura-pura bahagia dan baik-baik saja …

Hingga akhirnya, aku menyadari bahwa itu kekuatanku untuk melangkah….

Melangkah,mengejar dan memelukmu….

*************

~FIN~

Huaaa…. Akhirnya selesai!!!

pada bosen ga zie baca ni FF(minki couple)???

Author masih punya 1 cerita lagi ttg minki couple..

Hint :konser beast + lamaran (?)

Ni bakalan jadi ending minki couple….

Kekekke…jangan lupa comment yak…

Don’t be silent reader!

Don’t bash!

Iklan