Author : Bee

Main Cast : Go Miho, Eunhyuk

Support Cast : Euncha, Leeteuk, Suju member termasuk Zhoumi dan Henry

Cameo : Ji Sangryeol, Lee Donggun, Oh Sanghee, Junsu JYJ, Lee Sora

Rating : AAbK

Genre : Romance

PS :  Lee Sora, kakak Eunhyuk.

1st published @ http://wp.me/p1rQNR-6p

 

^^^

 

“Eomma, aku pergi!” kata Miho sambil mencium kedua pipi ibunya.

“Eommonim, kami berangkat dulu,” Eunhyuk ikut berpamitan pada ibu Miho. Pagi ini dia kembali menjemput Miho. Rutinitas ini sudah berjalan hampir satu bulan.

Dalam kurun waktu lebih dari tiga minggu, Miho dan Eunhyuk sudah seperti Miho dan Euncha dulu. Saling berbagi cerita, kirim-kiriman pesan, tiada hari tanpa menelepon dan bertemu. Yang hebatnya, tidak ada member Super Junior yang tahu. Eunhyuk cukup bangga akan hal ini.

Meski di satu sisi dia sudah menganggap Miho hanya sebagai Miho, tidak lagi terganggu oleh status transgendernya, di sisi yang lain dia lega karena tidak harus menghadapi pandangan penasaran dari teman-temannya. Cukup Leeteuk saja yang mengalaminya.

Hyungnya itu kini berstatus sebagai kekasih Miho. Di mata publik, Leeteuk dan Miho adalah pasangan. Meski banyak orang tidak menyukai hal itu, tapi hal itu sudah ditetapkan oleh SME. Ironisnya, hal itu justru Eunhyuk yang menyarankan. Dialah yang membujuk Leeteuk, Manajer Hyung dan ikut membantu bicara pada Sooman Sajangnim mengenai solusi ini.

Penyerangan terhadap Miho yang waktu itu dipergokinya ternyata hanya awalnya. Semakin hari fans yang tidak pengertian semakin tidak terima dan Miho mendapatkan banyak ancaman serta serangan. Akhirnya setelah didesak oleh Leeteuk dan—secara diam-diam—oleh Eunhyuk, Miho menerima penawaran SME agar mengadakan konferensi pers untuk ‘meresmikan’ hubungannya dengan Leeteuk. Fakta bahwa hubungan itu sebenarnya tidak pernah terjalin, hanya diketahui oleh anak-anak Super Junior dan Manajernya. Bahkan Sooman Sajangnim mengira bahwa Leeteuk dan Miho benar-benar berhubungan, meski tidak mengatakannya secara terang-terangan.

Sejak saat itu Eunhyuk sering mengantar-jemput Miho latihan teater ataupun mengunjungi Leeteuk. Di depan Miho dia bersikap seolah semua orang tahu hal ini, tapi sebenarnya dia melakukannya dengan diam-diam. Sampai saat ini dia berhasil mengelak dari situasi yang bisa membuatnya terpergok, dan dia berharap akan terus begitu.

Eunhyuk tidak ingin kesenangannya yang tidak seberapa ini diganggu oleh siapapun. Selama dia bisa berada di dekat Miho, itu sudah cukup.

 

^^^

 

Leeteuk mengetik pesannya untuk Miho, “Nanti malam kamu bisa datang ke dorm? Anak-anak baru pulang dari Taiwan. Kami butuh bantuanmu menghabiskan makanan.”

Pria itu tersenyum membaca kembali smsnya sendiri. Sent.

Lalu hatinya girang. Yeah, ketemu Miho lagi. Kapan ya terakhir dia bertemu wanita itu? Kalau tidak salah seminggu yang lalu, sebelum Super Junior M berangkat ke Taiwan. Wanita itu datang ke acara perayaan yang diadakan oleh salah satu brand pakaian yang menggunakan Super Junior sebagai model eksklusifnya. Tugasnya waktu itu adalah mendampingi Leeteuk, dan dia berhasil melakukannya dengan baik sekali.

Leeteuk menyadari, semakin hari dia semakin tertarik pada Miho. Saat ini dia sedang mengusahakan agar hubungannya dengan Miho bukan hanya di depan publik, tapi menjadi nyata. Sebab jujur saja dia tidak nyaman menjalani kehidupan pura-pura seperti ini. Selain itu perasaannya pada Miho juga bukan pura-pura. Meski Leeteuk tidak terlalu yakin bagaimana tepatnya perasaannya pada wanita itu, tapi dia tahu rasa suka itu ada.

Leeteuk tersenyum lagi dan menutup ponselnya. Kakinya melangkah ke area pemotretan. Sekarang kerja dulu, baru nanti memikirkan Miho.

 

^^^

 

Miho membuka ponselnya. Lalu tertawa kecil.

“Wae geurae?” di sebelahnya Eunhyuk bertanya penasaran.

“Oppa. Dia menyuruhku menghabiskan oleh-oleh kalian di dorm.” Miho menjawab sambil mengetik balasan untuk Leeteuk. “Siap, Boss! Demi makanan enak, Go Miho akan datang! Jam berapa, Boss?” ketiknya.

Eunhyuk mendengus. “Hah! Yang punya oleh-oleh siapa… yang nawar-nawarin siapa!” ujarnya pura-pura kesal. Miho mencibir menggodanya. Eunhyuk merasa ada yang mencubit kecil hatinya, seperti yang biasa terjadi kalau dia tahu Leeteuk menghubungi Miho. Hah, entahlah dia ini bodoh atau apa.

“Kamu ga ikhlas?” tanya Miho pura-pura tidak enak hati.

“Ne!” jawab Eunhyuk tegas. “Aku beli makanan kan untuk kumakan sendiri,” katanya melanjutkan. Aku ga ikhlas kamu dekat-dekat Leeteuk Hyung, bisik hatinya.

“Iiissh, kamu ini pelit banget sih?! Sebodo, yang penting aku udah diundang sama Hyung-mu, dan AKU AKAN DATANG… HAHAHAHA…” katanya menirukan suara Sinchan.

Eunhyuk menjitak kepala Miho. Mengundang pelototan wanita itu padanya. “Mwo?” Eunhyuk malah menantang.

Miho mengulurkan tangan hendak menjitak balik Eunhyuk, tapi cowok itu berhasil menghindar. Ujung-ujungnya mereka berdua malah saling melancarkan serangan sampai di depan gedung teater Miho. Di sana Eunhyuk bertanya, “Aku pengin lihat latihanmu, boleh?”

Miho tidak menatapnya, malah sibuk berusaha mengambil tas perlengkapannya dari bangku belakang mobil Eunhyuk. Karena tidak teraih-raih juga, akhirnya Eunhyuk membantu mengambilkan. Cowok itu agak  mencondongkan badannya dan berhasil meraih tas Miho. Saat itu Miho menyadari betapa dekatnya tubuh Eunhyuk dengan dirinya. Dan apa yang sudah dicermatinya belakangan ini tampak jelas sekali lagi di benaknya. Sosok Eunhyuk, sedekat apapun pria itu padanya, tidak pernah menimbulkan rasa gugup dalam dirinya. Dia nyaman dan bahkan menikmati saat-saat kedekatan mereka.

Ketika Eunhyuk mengangsurkan tasnya, kedua pasang mata mereka bertemu. Miho tidak tahu kenapa tapi dia menyukai getaran yang timbul saat mereka saling bersitatap sedekat ini. Sayangnya seperti biasa, Eunhyuk selalu cepat-cepat berpaling. Ciss, dasar cowok petakilan, tidak bisa diam sejenak saja, pikirnya, padahal kan Miho masih ingin melihatnya. Tangannya terulur menjitak pelan kepala Eunhyuk. “Kena!”

Eunhyuk menoleh cepat. Kupingnya agak memerah. Miho berpikir itu karena Eunhyuk malu sebab Miho akhirnya bisa juga membalas. Dengan tiba-tiba dia tertawa penuh kemenangan, suaranya seperti setan, “Hiihihihihiii! Aku berhasil!”

Eunhyuk tampak kesal. “Eiish!” ujarnya mencoba membalas. Tapi Miho sudah lebih sigap, dia berhasil mengelak.

“Meeeerong!” kata wanita itu sambil keluar dari mobil Eunhyuk cepat-cepat dan memasuki gedung teater.

Di dalam mobil Eunhyuk cepat-cepat mengenakan jaket, topi dan kacamatanya. Begitu memastikan mobilnya telah terparkir dengan aman, dan jalanan cukup sepi, dia keluar sambil menunduk dan berlari memasuki gedung teater.

Walau tadi Eunhyuk sempat meminta ijin, itu hanya basa-basi. Ini bukan pertama kalinya cowok itu menonton Miho berlatih. Dia sudah beberapa kali ke sana saat sedang tidak ada jadwal, seperti hari ini. Dia sudah hapal letak ruang latihan Miho. Segera saja dia menuju ke lantai 2, tempat dimana latihan biasanya dilakukan. Sampai di depan pintu ruang latihan, dia bertemu Miho yang hendak meninggalkan ruang latihan. “Mau kemana?” tanya Eunhyuk terkejut.

“Ah, mau ke panggung. Ayo,” katanya sambil langsung menggandeng tangan Eunhyuk untuk turun. Eunhyuk menatap ruang latihan yang kosong dengan bingung. Sambil jalan Miho menjelaskan, “Aku belum cerita ya? Sejak dua hari yang lalu, kami sudah mulai berlatih langsung di atas panggung. Hari ini aku ke atas cuman untuk ngambil catatan naskahku yang kemaren ketinggalan.”

Eunhyuk mendengarkan lalu mengendapkan informasi itu dalam benaknya. Jadi ini akan jadi latihan panggung yang pertama dilihatnya. Sedang berpikir begitu, mendadak ponselnya bergetar. Ada sms masuk dari kakaknya. Mereka memang ada janji kencan hari ini, tapi dia juga ingin melihat latihan panggung Miho. Besok-besok waktunya tidak sesenggang hari ini.

Miho mengajaknya masuk melewati sebuah pintu bertirai. Di baliknya terdapat ruangan yang gelap. Pencahayaan hanya dipusatkan ke arah panggung. Selain itu, lampu yang dinyalakan sedikit sekali, hanya sekedar memberi tahu keberadaan jalan. Miho menyuruh Eunhyuk duduk di salah satu kursi, lalu dia sendiri berlari bergabung dengan beberapa temannya yang sudah lebih dulu datang.

Begitu duduk, Eunhyuk meraih ponsel dan membalas sms kakaknya, memintanya bertemu di gedung teater Miho, dan baru berkencan setelah makan siang. Dia tersenyum sayang. Bagi kakak beradik itu, saat-saat bertemu memang biasanya sangat menyenangkan, oleh karena itu mereka menyebutnya sebagai acara kencan. Tak berapa lama datang lagi balasan dari kakaknya. Akhirnya sambil menunggu latihan Miho dimulai, dia asyik ber-sms ria dengan sang kakak. Tak menyadari bahwa bangku-bangku penonton mulai terisi dengan orang-orang.

Ketika latihan dimulai, Eunhyuk berhenti berkirim pesan dengan kakaknya dan masih tak menyadari keberadaan serombongan orang di belakangnya. Dia mengikuti latihan Miho dan mengamati wanita itu dengan seksama. Meski sudah hapal alur ceritanya, Eunhyuk tak pernah bosan mengamati ekspresi Miho yang berubah-ubah di atas panggung. Sikap tubuhnya yang luwes mengikuti tuntutan naskah, suaranya yang berirama, Eunhyuk menikmati semuanya itu.

Cowok itu begitu larut dalam pengamatannya hingga ketika seseorang melintas di deretan bangku di depannya, dia merasa terkejut. Pria itu mengambil tempat sendirian agak jauh darinya, lalu duduk tenang. Apakah orang-orang umum diperbolehkan menonton latihan dengan bebas? Kalau dia kan sudah minta ijin dan bukan termasuk orang umum lagi, karena sudah beberapa kali menonton. Dan kok orang itu percaya diri sekali duduk di depan begitu? Biasanya orang baru kan duduk di belakang, pikirnya sambil menoleh. Saat itulah matanya membelalak.

Banyak sekali orang di belakangnya. Mereka semua memperhatikan panggung dengan seksama. Eunhyuk baru tahu bahwa drama teater itu, latihannya saja sudah mengundang banyak sekali peminat. Segera dia berpaling kembali ke depan.

Saat itu ponselnya bergetar lagi. Kakaknya sudah sampai di depan gedung teater dan bingung harus memasuki gedung yang mana. Eunhyuk bangkit dari duduknya, tepat saat Ji Sangryeol memberi perintah menghentikan latihan untuk beristirahat. Dia sudah berdiri di jalanan sempit yang diterangi lampu seadanya hendak keluar menjemput kakaknya, tapi Miho sepertinya melihat ke arahnya dan hendak menyapa. Dia jadi bingung. Mana yang harus dilakukannya dulu? Menjemput kakaknya atau menemui Miho dulu?

Ternyata, Miho hanya melambai santai ke arahnya dan bukannya mendekat padanya, dia justru mendekati pria yang tadi datang terlambat dan mengejutkan Eunhyuk, sepertinya mereka saling kenal. Kalau begitu sebaiknya dia segera menjemput Sora Noona. Sebentar saja Eunhyuk sudah berlari menaiki tangga menuju pintu keluar.

“Oppa!” diluar Eunhyuk mendengar suara kakaknya berseru memanggilnya dengan panggilan khusus. Dia berputar-putar mencari, dan begitu ketemu, kakaknya sudah berdiri di dekatnya. Senyum Eunhyuk melebar lalu langsung memeluk kakaknya hangat.

“Noona!” serunya.

Lee Sora melepas pelukannya untuk melihat kondisi sang adik. Diamatinya wajah Eunhyuk, lalu setelah puas karena tidak menemukan kekurangan apapun, dia segera memberondong adiknya itu dengan berbagai pertanyaan. Tentang kesehatannya, pekerjaannya, teman-temannya, shownya, oleh-oleh, dan sebagainya. Eunhyuk menjawab semuanya dengan tidak kalah antusias. Dia menceritakan semuanya sambil menggiring kakaknya memasuki gedung teater.

“Geundae,” Sora memotong, “Kenapa di sini? Emang kamu mau main drama?”

Mereka memasuki ruang pertunjukan, Eunhyuk membimbing kakaknya duduk di sekitar tempat duduknya tadi. “Ani,” jawabnya pelan. “Temanku yang sedang latihan. Aku cuman nganterin dia. Jadi sekalian aja ngajak Noona ke sini. Kita belum pernah kan, kencan di gedung pertunjukan?” jawabnya lucu.

Sora menyeringai senang, tapi sebelum dia sempat berkata apa-apa, Eunhyuk lebih dulu berbicara, “Noona, tunggu sebentar ya, aku mau ke toilet.” Sora mengangguk dan berkata dia akan menunggu Eunhyuk.

Merapatkan topinya, Eunhyuk berjalan keluar ruangan dan mencari toilet. Tidak butuh waktu lama. Dalam 10 menit dia sudah sedang berjalan lagi kearah ruang pertunjukan. Dia melihat beberapa orang gadis sedang berdiri berkerumun di depannya, lalu tiba-tiba salah seorang di antara mereka melihatnya dan mulai menunjuk-nunjuk padanya.

Perasaan Eunhyuk tidak enak. Mengikuti instingnya, dia membelok ke arah gang terdekat di sebelah kiri. Sambil menajamkan telinganya, dia mempercepat langkah. Firasatnya ternyata benar. Dia mendengar gadis-gadis itu menyebut-nyebut namanya. Mereka pasti fans. Sayangnya hari ini Eunhyuk benar-benar tidak punya mood dan persiapan untuk meladeni fans. Dia masih capek sekali sejak dari Taiwan kemarin. Dia hanya ingin bersantai dengan orang-orang yang membuatnya nyaman. Takutnya, kalau Eunhyuk memaksakan diri menemui fans, dia akan bersikap kurang baik dalam meladeni mereka dan membuat mereka kecewa. Jadi lebih baik dia menghindar.

Tapi rupanya gadis-gadis itu cukup gigih. Mereka berusaha mengejar Eunhyuk. Yang dikejar terus berusaha menghindar dengan berjalan semakin cepat. Bisa dibilang setengah berlari sekarang. Gedung ini sepertinya gedung lama. Dibangun dengan gaya barat, memiliki banyak lorong di dalamnya, sehingga Eunhyuk bisa dengan mudah berbelok mencari jalan, tapi dia yakin bahwa pada akhirnya nanti dia pasti akan harus mengakui bahwa dia tersesat. Sekarang saja dia tidak tahu sedang berada dimana.

Eunhyuk membelok ke kanan dan tiba-tiba dia menabrak tirai gelap yang dikiranya dinding. Seseorang menariknya ke dalam sana. Mulutnya dibekap sehingga teriakannya tidak bisa keluar. Sekarang ini dia berada di sebuah celah sempit, mungkin hanya setengah meter lebarnya. Di ujung celah itu terdapat jendela yang memberi cahaya ke dalam, memungkinkannya melihat siapa penyanderanya. Hatinya berdebar kencang.

 

^^^

 

Mau kemana, Eunhyuk? Pikir Miho ketika melihat pria itu keluar lagi setelah tadi sempat kembali ke dalam membawa seorang wanita. Miho tidak bisa melepaskan pengawasannya dari wanita itu dan Eunhyuk sejak mereka memasuki ruangan, meski mulut dan telinganya terus berkonsentrasi pada percakapannya dengan Donggun. Tingkah mereka mesra sekali, pikir Miho agak sengit.

Saat Donggun mengatakan sesuatu, perhatian Miho teralihkan pada beberapa gadis yang ikut keluar di belakang cowok itu. Mereka anggota kelas drama dari Institut Seni Seoul yang hari ini kebetulan sedang mengadakan outdoor class di teater mereka. Memang, meski kecil dan sedikit gaung di dunia komersial, teater milik Ji Sangryeol ini dikenal bukan amatir dan konsisten menampilkan pertunjukan-pertunjukan berbobot. Jadi tidak heran kalau kelas drama dari beberapa universitas maupun institut seni sering menghadiri latihan dan pertunjukan mereka sebagai salah satu sumber pembelajaran.

Insting Miho mengatakan bahwa beberapa gadis yang mengikuti Eunhyuk keluar itu bukan hendak belajar. Apakah mereka bisa mengenali Eunhyuk? Haruskah dia memperingatkan cowok itu? Ah, tapi bukankah dia seorang selebriti kawakan? Harusnya sudah terbiasa dengan serbuan fans yang tiba-tiba dong.

Tapi Eunhyuk lelah. Cowok itu baru datang tadi malam. Tadi pagi bukankah dia melihat sendiri kerutan-kerutan lelah di sudut mata Eunhyuk? Ah sebaiknya aku ikuti saja diam-diam. Kalau terjadi sesuatu, aku mungkin bisa membantu Eunhyuk, putus Miho.

Dengan sopan dia berpamitan pada Donggun, kemudian beranjak mengikuti gadis-gadis tadi. Dia berusaha sedekat mungkin dengan mereka agar bisa menangkap apa yang mereka bicarakan. Ternyata mereka memang bermaksud mengikuti Eunhyuk yang sekarang sedang di toilet.

Kejadian berikutnya cepat sekali. Tahu-tahu, begitu keluar dari toilet, Eunhyuk berbelok dan mulai berjalan cepat. Miho langsung sadar bahwa Eunhyuk sedang menghindari gadis-gadis itu. Padahal tadinya dia sudah hendak menolong Eunhyuk dengan mengalihkan perhatian mereka, tapi cowok itu malah lari. Gagal deh rencana jeniusnya. Terpaksa Miho mencari alternatif lain untuk menyelamatkan Eunhyuk. Dia ikut mengejar cowok itu di belakang para gadis tadi.

Lalu datanglah apa yang ditunggu-tunggu oleh Miho. Eunhyuk berbelok ke arah belakang panggung. Miho tahu jalan lain untuk mencegatnya. Semuanya tepat waktu. Ketika Eunhyuk melintas, Miho sudah siap di tempatnya.

Hap! Dia berhasil menyekap cowok itu sebelum pergi lebih jauh. Ketika Eunhyuk akhirnya melihat siapa penyergapnya, Miho bisa melihat matanya membelalak. Cengiran Miho tidak bisa ditahan. Dia puas operasinya berhasil. Operasi penyelamatan Eunhyuk.

 

^^^

 

Eunhyuk perlahan meletakkan tangannya di kedua sisi kepala Miho. Wanita itu sedang menoleh ke kiri, berusaha berkonsentrasi mendengarkan suara tapak kaki para pengejar Eunhyuk. Sama sekali tidak menyadari mata Eunhyuk yang lekat menatapi wajahnya.

Bahkan dalam jarak sedekat ini kulit Miho terlihat amat halus.  Dalam posisi mereka sekarang, Eunhyuk dapat mencium aroma tangan Miho yang lembut. Wajah mereka hampir bersentuhan, membuat Eunhyuk hampir mengerang putus asa. Mata Miho tidak terpaut jauh dari matanya, sebab wanita itu memang tinggi. Untuk mencegah datangnya bayangan yang tidak-tidak, Eunhyuk mengalihkan pandangan. Dia menatap sisi kepala Miho.

Hal yang salah untuk dilakukan, sebab sekarang tanpa bisa dicegah dia membayangkan dirinya menciumi telinga mungil wanita itu. Mengharapkan jarinya bisa menyusuri kulit kepala Miho dan tersesat dalam helaian rambutnya yang halus mengikal.

Miho tiba-tiba berpaling dan melepaskan tangannya sehingga jarak antara kedua bibir mereka hanya beberapa senti saja. Hidung mereka sudah bersentuhan. Jangan ditanyakan sedekat mana tubuh mereka sekarang, yang jelas Eunhyuk sekarang sedang berusaha menghitung domba khayalan untuk mengalihkan perhatiannya dari lekuk-lekuk tubuh Miho yang terasa jelas di tubuhnya.

Miho sama sekali tidak menyadari efek kedekatan mereka. Setelah yakin keadaan aman, Miho mengeluarkan cengirannya. Dengan senang dia malah mengajak Eunhyuk bercanda. Digesek-gesekkannya hidung mereka berdua dan tangannya memegangi pinggang Eunhyuk.

Eunhyuk tidak kuat lagi. Ini jauh terlalu berat untuk ditanggung pria manapun. Dia mengangkat wajahnya frustasi, tidak sengaja menyenggol pucuk hidung Miho dengan bibirnya. Kemudian dia menatap Miho tepat di matanya. Dengan kendali diri yang tinggal setipis benang, dia memeluk Miho erat. Alih-alih mencium wanita itu seperti yang sangat diinginkannya, Eunhyuk meletakkan dagunya di bahu Miho sambil memejamkan mata. Tolong jangan sebut dirinya lemah. Dia sudah berusaha sekuatnya, tapi sihir Miho terlalu kuat memanipulasi akal sehatnya, pikirnya mengangkat sebelah tangan untuk membelai kepala Miho.

Tangan Eunhyuk kini berada di lekukan pinggang Miho. Memeluk wanita itu semakin lama semakin erat. Perlahan telapaknya bergerak menyusuri tulang punggungnya yang berlekuk menggoda. Bibirnya mengecup bahu Miho dari balik kaus yang dikenakan wanita itu. Bisa dibilang Eunhyuk saat ini sedang melumat Miho pelan-pelan dalam pelukannya.

Miho terkejut setengah mati. Awalnya dia terdiam karena kaget, lalu lama-kelamaan, kesadaran akan apa yang sedang dilakukan Eunhyuk menyiram hatinya dengan rasa dingin. Rasa dingin itu merembet terus keluar tubuhnya. Pelukan Eunhyuk kali ini berbeda. Dia sudah beberapa kali dipeluk cowok itu. Semuanya ringan dan menenangkan. Tapi kali ini berbeda, Eunhyuk membuatnya ketakutan. Apalagi mereka sedang berada di tempat sempit yang lebih sempit dari gang. Miho bisa merasakan kepanikannya datang seperti dia melihat dementor yang mendekat.

Eunhyuk yang belum menyadari datangnya kepanikan Miho, terus membelai punggung wanita itu. Di kepala Miho, tangan satunya melakukan apa yang sudah dari dulu didambakannya, meremas rambut Miho sedikit, kemudian menyusuri kulit kepalanya langsung dengan jemarinya. Nafasnya mulai terasa lebih berat karena emosi dan hasrat. Makin menumpulkan sensitivitasnya terhadap kondisi tubuh Miho.

Miho mencengkeram erat pinggang Eunhyuk. Kali ini ketakutannya jauh lebih mengerikan. Kalau biasanya dia akan menyembunyikan diri dalam dunia isolasi, sekarang dia tak mampu melakukannya. Secara keras kepala kesadarannya tidak mau tenggelam. Akibatnya tubuhnya mulai bergetar karena ketakutan mulai mencekamnya.

Miho mendorong Eunhyuk lalu bergerak menjauhi pria itu secepat yang dia bisa. Perasaan dan otaknya bekerja dengan tidak masuk akal. Dia ketakutan, tapi otaknya memberontak ketika ketakutan itu datang. Hatinya menyuruhnya berlari, tapi sesuatu di kepalanya menyadari Eunhyuk dengan begitu jelas. Pria itu adalah satu-satunya pria selain ayahnya yang bisa Miho peluk dengan nyaman, sekaligus pria yang saat ini menakutinya teramat sangat.

Kekalutan Miho tampak jelas. Eunhyuk bisa mendengar suara nafasnya yang memburu. Wanita itu menjauhinya dan bergerak ke sudut celah sempit tempat mereka berada, membuat Eunhyuk teringat akan hewan kecil tak berdaya yang ketakutan menghadapi pemangsanya di acara dokumentasi Afrika yang sering dia tonton. Seketika rasa bersalah menghantamnya, memupuskan gairah apapun yang sempat muncul. “Mihyung…” katanya tercekat.

Miho malah makin surut ke belakang. Matanya terbelalak.

Eunhyuk mengulurkan tangannya, Miho panik, karena sekarang tubuhnya sudah membentur dinding. Saat Eunhyuk melangkah mendekatinya, wanita itu tiba-tiba berteriak, “Ga (Korean, yang berarti ‘pergi’)! Jangan mendekat!”

Eunhyuk terkesiap. Matanya terkerjap mendengar seruan Miho. Sejenak kemudian dia menyadari apa yang dikatakan wanita itu, lalu mundur menurutinya. Sampai jarak mereka sejauh panjang celah sempit itu, Eunhyuk baru bisa melihat sedikit keberanian muncul di mata Miho. Sedikit sekali, tapi dia bernafas lega.

Kedua manusia itu terus saling menatap mengawasi satu sama lain. Eunhyuk begitu khawatir pada Miho sekaligus sedih karena reaksi Miho itu diakibatkan olehnya, sementara Miho terus terombang-ambing antara fobia dan kesadaran dirinya akan Eunhyuk. Entah sudah berapa lama mereka seperti itu ketika terdengar dering telepon.

Eunhyuk meraba sakunya, “O, Noona. … Ne, aku sudah selesai. … Ya, aku sebentar lagi kembali. … Maaf…” Miho mendengar suara Eunhyuk menjawab telepon.

Begitu telepon ditutup, Eunhyuk berkata, “Itu kakakku. Aku ingin mengenalkannya padamu. Dia—“

“GA!” jerit Miho. “Pergi dari sini! Aku tak ingin dekat denganmu sekarang!” Miho berseru putus asa, mengabaikan apapun penjelasan Eunhyuk.

Tanpa bisa dicegah, Eunhyuk terluka. Miho melihatnya, tapi tak ada yang bisa dilakukannya. Eunhyuk membangkitkan rasa takutnya. Tak ada lagi yang bisa dilakukannya. Dekat-dekat dengan pria itu membuatnya gemetar, dan ketakutannya tidak menguasai seperti biasanya. Ketakutannya terasa. Dia tidak mau merasakannya. Eunhyuk harus pergi.

Melihat Miho menutup matanya rapat-rapat karena tidak mau melihatnya, Eunhyuk mundur dengan sedih. Dia memang merasa bersalah karena memeluk Miho dan meraba pinggangnya. Dia merasa bejat karena menimbulkan sinar ketakutan dalam mata wanita itu. Tapi hatinya begitu sakit mendengar Miho tak ingin dia membantu mengatasi ketakutannya, padahal biasanya dia bisa menenangkan wanita itu.

Akhirnya Eunhyuk berjalan mundur pelan-pelan. Dia keluar dari celah sempit itu dalam diam. Meninggalkan Miho dalam kesendirian. Sebelum benar-benar pergi, dia mengintip sekali lagi ke dalam celah, lalu berkata lirih, “Aku pergi.”

Hati Miho mencelos mendengar nada bicara Eunhyuk. Tapi matanya tidak mau membuka. Dia belum siap. Benar-benar belum siap.

 

^^^

 

“Kamu dimana?”

“Di kampus, Eonnie.”

“Temani aku, Eunchanie… Aku mohon.”

Euncha terdiam. Dia lalu menatap Jihoon di depannya. “Kemana?” Euncha bertanya pelan.

“Ke asrama Suju.”

“Eunhyuk Op—”

“Aku maunya denganmu!” ketus Miho langsung. Euncha mendengar Miho menarik nafas dengan gemetar.

“Eonnie gwaenchanha?”

Miho merintih, “Eunchanie, kumohon temani aku…”

“Ya. Aku akan pergi denganmu. Jam berapa, Eonnie?” jawabnya iba sambil menatap Jihoon yang melihatnya dengan penasaran.

“Jam 6. Aku di teater,” Miho menjawab lagi dengan gemetar.

“Oke. Eonnie yakin aku ga perlu datang sekarang?” tanya Euncha. Gadis itu pura-pura tidak melihat Jihoon yang membuang muka kecewa.

“Ga papa. Jam 6 aja.” Lalu diam sesaat. “Terima kasih, Eunchanie…”

“O, bukan apa-apa kok. Tapi Eonnie harus traktir aku.”

Miho tidak menjawab. Hanya terisak. Euncha bertanya-tanya apakah Miho sedang menangis. Kakaknya itu tidak pernah menangis beberapa tahun belakangan kecuali ketika mimpi buruk mendatanginya atau karena orang tuanya. Saat sedang sadar, wanita itu seolah jadi wanita tanpa kelenjar air mata setelah menyatakan diri sembuh dari depresinya.

Tanpa menjawab apapun lagi, Miho menutup teleponnya. Euncha hanya memandangi ponselnya dengan khawatir. Pelukan tangan Jihoon yang mengetat di pinggangnya mengembalikan kesadarannya akan situasi saat ini. “Mihonnie membutuhkanku,” katanya meminta maaf pada Jihoon.

Lelaki itu menatap Euncha dalam dan tahu bahwa tidak adil kalau dia memaksa Euncha tetap tinggal di sisinya. Gadis itu akan merasa terbebani. “Arasseo,” jawabnya.

“Maaf,” kata Euncha sambil membenamkan wajahnya di dada Jihoo.

Jihoon membelai kepalanya dengan sayang. “Sudahlah. Kalau aku berniat menikah denganmu, aku harus terbiasa dengan ini. Aku tidak keberatan kok.”

Euncha mendongak cepat. Memandangi wajah pria yang dalam beberapa minggu belakangan telah membuat dunianya berbeda. “Menikah?”

Jihoon mengecup Euncha singkat. “Ssireo? Eotteohke? Ayah dan ibuku sudah sangat ingin menyimpanmu dalam rumah sebagai menantu kesayangan…”

Euncha cemberut.

Jihoon tertawa, “Hahaha, tenang saja, aku sudah bilang pada mereka bahwa aku tidak mau cari uang sendiri. Aku ingin cepat kaya, jadi kau juga harus bekerja.”

Euncha tersenyum.

Jihoon jadi ingin mengecupnya lagi. “Dan mereka senang karena tahu kau akan bekerja di dekatku, jadi aku bisa selalu mengawasimu,” katanya sambil menggoda sudut mulut Euncha.

Euncha menoleh dan mencium Jihoon yang  langsung dibalas oleh pria itu. Sesaat kemudian gadis itu melepaskan ciumannya. “Aku ga pernah nyangka akan menggunakan lab ini untuk bermesraan. Sama profesorku, pula,” ujarnya sambil tertawa.

Jihoon menggesekkan hidungnya pada hidung Euncha, “Biasakanlah. Kelak ini akan jadi ‘sarang’ kita.”

Euncha menekan ujung hidung Jihoon dengan telunjuknya, “Itu, kalau aku diterima.”

“Aku sudah bilang tadi kan, ini akan jadi ‘sarang’ kita. Aku bilang akan, bukan kalau.” Jihoon menukas.

Awalnya Euncha hanya menatap bingung. Lalu perlahan pengertian merambati hatinya. Matanya terbelalak, senyumnya terbit. “Aku… diterima?” serunya tertahan.

Jihoon menoleh ke belakang. Diambilnya berkas yang sedari pagi sudah dipegangnya erat. Diserahkannya berkas itu pada Euncha. “Keduanya. Bulan depan kau sudah mulai bisa meneliti sambil membantuku membuat silabus pengajaran. Dan kantor itu,” Jihoon menunjuk sebuah ruangan di depan mereka, “akan jadi kantormu.”

Euncha menjerit kesenangan. Dia mengangkat berkas di tangannya tinggi-tinggi dan menari-nari aneh. Kepalanya bergoyang-goyang menyebabkan rambutnya yang terurai terlempar ke sana kemari. Jihoon tertawa melihat tingkahnya. Setelah kesenangan itu mereda, Euncha segera membuka berkasnya dan membaca surat keterangan penerimaan sebagai mahasiswa master melalui jalur penelitian dan sebagai bagian staf pengajaran. Dia menatap Jihoon terharu. “Terima kasih, Oppa…”

Jihoon mengangkat bahu. “Aku tidak melakukan apa-apa. Itu semua Dewan yang memutuskan.”

“Terima kasih, Dewan~” kata Euncha berlebihan sambil mengangkat tangan dan menengadahkan wajahnya ke langit-langit.

Jihoon merengkuh lagi pinggang Euncha. “Tapi kau jangan lupa, kau tahu informasi lowongan ini dari aku. Dan aku yang mengantarmu sewaktu kau menyerahkan berkas. Jadi sebaiknya kau membayar jatahku sekarang juga, gadis manis…”

Euncha terkejut. Tapi senang. Tangannya disusurkan ke pundak Jihoon. “Eotteohke? Aku belum mulai kerja, jadi aku tidak tahu harus membayar pakai apa…” katanya pura-pura bodoh.

Jihoon tidak sabar lagi. “Pakai ini,” katanya cepat sebelum mencium Euncha dalam.

Akhirnya mereka malah asyik berciuman sampai ada orang yang memasuki lab dan membuat mereka berpisah dengan canggung.

 

^^^

 

Asrama Suju ramai sekali karena semua orang sedang berkumpul di sana, ditambah Miho, Euncha, dan Sora. Makanan tersebar di meja, begitu pula dengan berbagai jenis minuman. Semua orang tampak bersenang-senang malam ini.

Meski begitu dalam hati Miho merasa kacau saat melihat Eunhyuk. Cowok itu pun merasa tak karuan saat matanya menangkap keberadaan Miho. Mereka duduk terpisah sejauh lebar ruangan. Eunhyuk tak berani mendekati Miho, takut wanita itu ketakutan lagi, sementara Miho tak sanggup membayangkan dekat-dekat dengan Eunhyuk.

Hati Eunhyuk harus berulang kali menekan rasa tidak sukanya ketika Leeteuk berada dekat-dekat dengan Miho dan wanita itu hanya tertawa dengan riang. Kenapa Miho takut padanya, tapi tidak takut pada Leeteuk? Protes hatinya. Otaknya yang menjawab, itu karena kau sudah melanggar batasmu, bodoh!

Eunhyuk tidak tahan ketika Leeteuk menyuapi Miho sepotong dumpling. Dia beranjak keluar ke balkon. Sebaiknya dia di sana saja, jadi tidak perlu melihat semua itu.

Miho sendiri berusaha sekeras yang dia mampu untuk tidak memperhatikan Eunhyuk. Meski usahanya seringkali berakhir dengan kegagalan. Keceriaan ini seperti palsu karena Eunhyuk tidak tertawa bersamanya. Sedihnya, saat Eunhyuk tertawa, Miho tidak bisa ikut tertawa. Intinya, malam ini kemurungannya benar-benar berada di level parah.

Dia dan Euncha datang berdua, setelah Eunhyuk datang bersama kakaknya. Pesta dadakan di asrama Suju memang dianggap antusias oleh semua orang. Bahkan Henry dan Zhoumi bisa bergabung bersama mereka. Dalam kondisi normal, Miho pasti sudah kegirangan karena ini pertama kalinya dia bertemu Henry dan Zhoumi. Sayangnya, Miho tidak dalam kondisi yang baik.

Henry mendekati Miho. “Noona, sejak kapan kau dekat dengan Leeteuk Hyung?” tanyanya.

“Ya!” seru Heechul. “Panggil dia Hyung!”

Henry melihat Heechul. Sinar matanya terkejut. “Waeyo?”

Para anggota Suju saling melirik. Hanya Leeteuk yang sudah meulai tertawa. Miho memukul lengan Leeteuk manja. “Oppa, kamu jahat!” katanya pelan.

Melihat interaksi di antara keduanya, semua anggota Suju kecuali Henry dan Zhoumi langsung merinding. “Hyung, sudahlah. Tidak ada media di sini, Manajer Hyung juga sudah pulang. Kalian jangan bertingkah begitu. Menjijikan!” protes Shindong dengan wajah hendak muntah.

Leeteuk makin terpingkal-pingkal, Miho akhirnya bisa tertawa lepas, mengikuti tawa Euncha yang juga sudah tertawa keras. Sora, Zhoumi dan Henry kebingungan. Saat itu Eunhyuk kembali memasuki ruangan karena hendak mengisi gelasnya kembali. Leeteuk bergerak mendekati Miho. Tanpa diduga pria itu mengecup pipi Miho lembut.

Kecuali Zhoumi dan Henry yang terkejut, semua member Suju mengeluarkan suara seperti muntah. Shindong, Heechul dan Kyuhyun bahkan melakukannya dengan berlebihan, mereka menggeletak ke lantai seolah pingsan. Yesung langsung bangkit meninggalkan ruangan itu, diikuti oleh Ryeowook. Sungmin membuang muka, Siwon dan Donghae menunjukkan ekspresi seolah dunia sudah kiamat.

Sora dan Euncha terpana, mulai mendeteksi ada yang tidak biasa dengan ekspresi Leeteuk. Eunhyuk terbelalak kaget. Hatinya bagai dicincang melihat Miho baik-baik saja setelah dicium Leeteuk. Dengan kasar dia meraih ponselnya lalu menelepon Junsu, hanya sahabatnya itu yang bisa diingatnya sekarang. Dia harus keluar. Sudah cukup, dia tidak sanggup lagi berada di sana. Tidak seorangpun menyadari kepergiannya. Tidak juga Miho.

Miho terlalu kaget dengan tindakan Leeteuk. Matanya terus menatap Leeteuk tak percaya. Berani sekali pria ini, pikirnya agak kesal. Leeteuk menangkap pandangan Miho dan hanya cengar-cengir dodol. Dalam hatinya dia bersorak, sekali merengkuh dayung, dua-tiga pulau terlampaui. Dia senang melakukannya. Membuat Miho terkejut, begitu juga dengan yang lain, juga senang bisa mencium Miho.

Miho mendesis. Dia setengah jengkel, setengah bingung tak tahu harus bagaimana. “Aku mau ke kamar mandi,” katanya beranjak meninggalkan ruangan itu.

Di kamar mandi dia teringat Eunhyuk. Dimana cowok itu? Apakah dia melihatnya? Apa yang harus Miho katakan padanya mengenai ciuman tadi? Dengan jengkel Miho membuka penutup toilet. Kenapa dia harus teringat Eunhyuk? Perasaan apa ini? Kenapa dia merasa agak bersalah teringat ciuman tadi? Lalu sebuah pemikiran mendatanginya, pasti dia merasa bersalah karena dia baik-baik saja ketika Leeteuk berbuat begitu sementara terhadap Eunhyuk dia menunjukkan reaksi yang berlebihan. Ya, sekarang Miho mulai merasa bahwa reaksinya tadi siang pada Eunhyuk adalah berlebihan. Seharusnya dia tidak mengusir Eunhyuk. Seharusnya dia tidak mendiamkan cowok itu. Seharusnya dia tidak perlu ketakutan terhadap Eunhyuk. Seharusnya dia tidak memikirkan Eunhyuk! Untuk apa?!

Dengan kesal Miho memelorotkan celananya lalu mendesah. Dipakainya lagi celananya dan keluar mencari Euncha. Dia datang bulan dan tidak membawa pembalut. Mungkin Euncha bawa. Kalau tidak, lebih baik mereka pulang saja. Sepertinya itu lebih baik.

Ternyata Euncha tidak membawa pembalut, tapi sebelum Miho sempat mengusulkan untuk pulang, Euncha sudah pergi meninggalkannya dan mendekati Sora. Di sana dia mengajak wanita itu ke depan kamar mandi dan menjelaskan situasi Miho. Sora tidak membawa pembalut, tapi tampon. Miho menerima saja. Tidak masalah yang mana baginya. Saat itu Ryeowook datang hendak buang air kecil dan menyaksikan apa yang terjadi.

Awalnya pria itu tidak mengerti. Dia melihat tampon, dia melihat Miho menerimanya lalu masuk ke kamar mandi, tidak lama kemudian Miho keluar sambil mengucapkan terima kasih pada Sora. Tanpa disadari siapapun, termasuk dirinya sendiri, Ryeowook menyeletuk keheranan, “Mihyung, kau datang bulan?”

Muka Euncha memerah. Sora terlihat tidak enak ada cowok terang-terangan menanyakan hal seperti itu. Miho memandang Ryeowook polos. “Ya. Kenapa?”

“Kau datang bulan?!” Ryeowook baru menyadari pertanyaannya.

“O!” jawab Miho tidak sabar sambil keluar kamar mandi.

Ryeowook melupakan kepentingannya lalu segera menghambur ke ruang tengah. Di sana dia menubruk Leeteuk yang masih terpingkal-pingkal karena sekarang Donghae sedang menceritakan jati diri Miho yang ‘sebenarnya’ pada Zhoumi dan Henry. Kedua member terbaru Suju tersebut langsung tampak pias. Mulut mereka membuka-tutup tidak tahu harus bagaimana. Rasanya seperti dikhianati. Miho begitu cantik, dan ternyata makhluk itu adalah…

Hiiih, mereka berdua bergidik mengingat kecupan Leeteuk di pipi Miho. Henry, yang selama ini masih takjub dengan interaksi antar pria di Korea yang begitu leluasa menunjukkan kemesraan, menjauhi Leeteuk dengan segera. Mungkinkah Leeteuk benar-benar…

Keterkejutan Zhoumi dan Henry bertambah dengan datangnya Ryeowook. Cowok itu dengan muka kesal menerjang Leeteuk dan mulai memukuli lengannya. “Dasar pembohong! Pembohong! Sialan kau Hyung! Kau pembohong!” seru Ryeowook tidak terima.

Yang lain juga terkejut. Kenapa tiba-tiba Ryeowook menyerang Leeteuk? Yesung yang tadi akhirnya memutuskan keluar kamar lagi juga terkejut ketika di tengah jalan bertemu Ryeowook yang bermuka merah dan masam. Cepat-cepat diikutinya sang dongsaeng yang ternyata hendak menyerang Leeteuk.

Di mata Henry, Ryeowook terlihat seperti pacar pertama yang cemburu begitu mengetahui kekasihnya berselingkuh dengan wanita baru, dalam hal ini adalah Miho. Jujur saja, Henry berada dalam kondisi shock yang cukup serius.

Yesung menarik Ryeowook menjauhi Leeteuk. “Ya! Neo wae geurae?!”

Oke, jadi yang datang belakangan ini adalah dia yang sudah lama memendam perasaan pada Ryeowook. Atau pada Leeteuk. Aaagh, sebenarnya dia bergabung dengan grup yang seperti apa sih? Henry makin pucat memikirkan nasibnya.

“Dia bohong pada kita!” teriak Ryeowook.

“Bohong apa?!” Yesung balas berteriak.

“Mihyung itu wanita! Leeteuk hyung tahu!” balasnya lagi tidak terima, menciptakan keheningan di dalam ruangan itu.

Miho, Euncha dan Sora yang datang bersamaan juga ikut terdiam mendengar seruan Ryeowook. Di antara mereka, hanya Sora yang merasa benar-benar salah tempat. Ini benar asrama Suju bukan sih? Kok orang-orang ini aneh sekali?! Tentu saja Miho wanita!

Henry dan Zhoumi merasa otaknya beku. Tadi katanya pria, sekarang wanita, yang benar yang mana sih?

“MWO?!” Heechul yang pertama berteriak. “Bohong!” tuduhnya pada Ryeowook. “Bagaimana kau bisa berkata begitu? Kau sendiri baca kan pesan-pesannya? Di sana—”

Ucapan Heechul dipotong oleh Ryeowook. “Kalau dia pria dia tidak mungkin datang bulan seperti sekarang!”

Ruangan sepi lagi. Ketiga wanita yang sedang berdiri itu sekarang berwajah merah. Begitu pula dengan Leeteuk. Saat seorang wanita sedang datang bulan dan terang-terangan didiskusikan, hal ini baru pernah dialaminya.

Akhirnya Miho memutuskan untuk bicara. Dia melangkah di antara kerumunan. “Ne, aku seorang wanita. Annyeonghaseyo, Go Miho-imnida,” ujarnya terdengar jelas sekali karena semua orang masih terdiam.

 

^^^

 

“Ya! Kau mau main sampai kapan?!” tanya Junsu pada Eunhyuk yang sedang terus memainkan game di komputernya.

“Aku mau tidur di sini,” ujarnya singkat. Mukanya berkerut-kerut. Bukan karena game, tapi karena perasaannya juga berkerut-kerut.

Junsu mendesah kesal. Besok dia harus berangkat dini hari, tapi sahabatnya ini tampaknya sedang tidak bisa diajak kompromi. Akhirnya dengan kesal cowok itu membalikkan badannya menghadap dinding. Terserah Eunhyuk sajalah.

Ponsel Eunhyuk berdering. “Yoboseyo,” jawabnya singkat tanpa melihat siapa yang meneleponnya.

“Oppa! Eodi?!” suara Sora melengking kesal. “Bagaimana aku pulang?!” kesalnya pada Eunhyuk.

Sial, aku lupa pada Noona, pikir Eunhyuk. “Ne, aku pulang sekarang.” Klik. Langsung dimatikannya ponsel. Tanpa peduli pada komputer Junsu yang masih menyala, Eunhyuk melangkah ke pintu. Di sana dia berseru, “Aku pulang, Junsu-ya!”

Junsu terkejut mendengar suara Eunhyuk. Padahal dia sudah hampir tertidur. “Ya! Ya! Katanya tadi mau menginap di sini?!!” ujarnya sambil bangun mengikuti Eunhyuk keluar.

“Ga jadi. Aku pulang. Makasih gamenya.” Eunhyuk menyahut tanpa menoleh meninggalkan Junsu yang kesal.

 

-cut-