Briste

All character here belong to themselves

Briste © blackfreesia

Ficlet, Double-fiction (fiksi kembar)

Angst/Romance

Broken! Thunder/IU slight Wooyoung/IU

~oo00oo~

For Chantia-eon

Hope you like it

~oo00oo~

Thunder ingin menghancurkan perasaan menyebalkan ini menjadi serpihan kecil hingga angin dengan mudahnya menerbangkannya kemana pun dia mau. Sudah cukup dia tercabik. Dia tidak mau!

Cinta Itu menyebalkan. Cinta itu menyakitkan. Kenapa dia yang menerima bagian yang menyakitkan dari cinta? Kenapa harus dia?

Bagaimana pun juga dia dan gadis itu tidak ditakdirkan untuk saling mencintai. Hanya Thunder yang mencintai dan gadis itu tidak.

Hanya Wooyoung, Wooyoung, dan Wooyoung yang memenuhi hatinya.

Sial! Mengingat kenyataan itu membuat Thunder lagi-lagi merasa seperti tersayat-sayat.

Park Sanghyun. Thunder. Mencintai IU

Lee Jieun. IU. Tidak mencintai Thunder.

Jang Wooyoung. Mencintai IU. IU mencintainya!

Thunder ingin melupakannya. Logika sudah berapa kali menyuruhnya melupakan gadis itu, menyuruhnya berhenti untuk tercabik, dan berhenti menjadi seperti orang bodoh, tapi disini logika dan nurani tidak menemukan titik temu. Semakin dia mencoba melupakan IU, maka semakin meluap-luap perasaannya pada IU —semakin besar pula lubang mengangga di hatinya.

Sudah Cukup.

Melihat senyuman itu, melihat tatapan itu—

Ah, sudahlah…

Sudah cukup, Thunder merasa tercabik.

Sudah cukup, Thunder melihat, merasakan, dan menyakini ada luapan kebahagian ketika gadis itu bersama sang pria pujaannya.

Sudah cukup Thunder melihat guratan bahagia di wajah cantik IU ketika bersama Wooyoung. Sudah cukup Thunder melihat lengkungan senyuman paling manis yang ditujukan hanya untuk Wooyoung seorang.

Thunder menghela nafas berat.

Thunder jadi teringat, saat tadi siang IU sedang mengobrol dengan Wooyoung. Dia begitu bahagia. Sesekali rona merah menghiasi wajahnya. Wajah yang tak pernah dia tunjukan ketika bersama Thunder. Betapa manisnya wajah yang merona itu, tapi juga terasa menyakitkan.

Thunder mengepalkan tangannya hingga terasa sakit.

 (“Thunder-oppa, aku dan Wooyoung-oppa hari ini jadian! Dia menyatakan cintanya padaku tadi siang! Aku tidak menyangka sama sekali dia menyukaiku.”)

Hentikan!

(“Thunder-oppa. Aku ingin Wooyoung-oppa juga menyukaiku.”)

Hentikan!

(“Thunder-oppa, hari ini Wooyoung-oppa tersenyum padaku dan menyapaku.”)

Hentikan!

(“Thunder-oppa, aku tidak bisa berhenti memikirkan Wooyoung-oppa.”)

Hentikan!

(“Thunder-oppa, Wooyoung-oppa itu tampan sekali, senyuman juga sangat manis.”)

Hentikan!

(“Thunder-oppa, aku menyukai Wooyoung-oppa.”)

Thunder mengutuk otaknya yang terus menerus memutar memori menyakitkan itu.

Dia tidak ingin mengingat berbagai memori menyakitkan yang tumpah dan berhamburan. Menusuk sanubari. Melukainya walau tak meninggalkan bekas luka.  Menghempasnya.

Jika perasaan menyebalkan ini bisa dengan mudah dibuang ke tong sampah, maka dengan senang hati sejak dulu dia melakukannya.

.

.

.

“Jieun, aku mencintaimu—sangat mencintaimu,” ucap Thunder pada kehampaan.

FIN

(silahkan baca dari paragraf akhir sampai dengan paragraf awal)

~oo00oo~

Akhirnya, saya bisa juga bikin double-fiction \(^0^)/

Tapi, bosan juga ya ff saya 3x berturut-turut temanya bertepuk sebelah tangan. Habisnya, gak ada ide lain TT

Chantia-eon ini requestanmu, maaf kalo lama. Hehehe… kembali ke requestan eon yang awal aja ya eon. Sekalian coba-coba bikin double-fiction.

Buat Thunder maaf dirimu yang polos aku bikin patah hati, salahkan Chantia-eon yang minta kamu patah hati #digamparChantia-eon

Oh ya, buat yang gak tahu double-fiction, paragraf awal hingga akhir dibalik  disatupadukan jadi sebuah cerita. Jadi, kalian bisa baca dari paragraf awal sampai paragraf akhir atau dibalik.

Masih gak ngerti? Baca sekali lagi dari paragraf awal sampai akhir, terus dibalik ya 🙂