Title : Crimson Sunset

Cast : Shim Changmin (TVXQ) – Shin Mirrelle (as member girl group of Sorciere)

Length : Ficlet

Summary : Love is too precious to be ashamed of

Comment as always!

Changmin POV

Its feel better if you love me now…

Aku memejamkan mataku, memutar kilasan indah tentang diriku dan dirinya. Aku merindukannya berada di sisiku. Merindukan celoteh riangnya yang jarang sekali ia tunjukkan di depan khalayak ramai. Namun, sisi tempat dimana ia berdiri kini telah kosong di gantikan oleh udara yang menghimpit dadaku. Tidak, dia tidak kemana-mana. Dia tidak singgah ataupun hatiku singgah untuk orang lain. Karena dia disini, tetap bersamaku sekalipun jarak membentang jauh di antara kami.

Ia hanya pergi sementara, menemui seluruh fans yang mencintainya di negeri sebrang sana. Mungkin tidak sulit bagiku untuk menyusulnya. Tidak sulit untukku menggapai dirinya hanya karena sebuah kata jarak. Karena bagiku, tak ada bedanya jika ia tak mencintaiku. Aku tak tahu bagaimana perasaannya terhadapku. Aku tidak tahu apa yang ia rasakan ketika mendapat perhatian kecil dariku.

Aku selalu menyempatkan diriku untuknya, memberikan sedikir ruang dan waktu untuk dirinya bersandar di bahuku. Meskipun aku tahu ia tak membutuhkan hal itu. Dia gadis yang kuat, gadis yang mampu berdiri dengan tonggak miliknya sendiri. Tapi ada satu sisi dimana ia membutuhkan orang lain untuk menopang tubuhnya. Satu sisi yang selalu ia sembunyikan rapat-rapat tanpa berniat pun membukanya termasuk diriku.

Tapi aku tidak akan pernah menyerah. Bukan untuk menguak luka hatinya dan mencari celah dari kelemahannya. Aku hanya ingin… ia melihatku. Menyadari kehadiranku yang akan selalu ada untuk dirinya. Sampai kapanpun. Sampai udara yang menghimpit dadaku ini lelah untuk mencari sedikit ruang kosong. Hingga paru-paru ini tak mampu lagi berfungsi dengan semestinya.

“Pesawat akan segera mendarat….” Suara pramugari itu membuyarkan lamunanku. Bahasa asing yang sedikit ku pahami seolah menyadarkanku untuk kembali kedunia nyata.

“Kau yakin akan menjalankan rencanamu di negeri Paman Sam ini?” Yunho hyung bertanya padaku. Aku tersenyum, mengangguk dan mengiyakan. Aku tak butuh waktu lama untuk menyadari sedalam apa perasaanku padanya. Dalam kehidupanku, sejauh apapun itu aku melangkah aku akan selalu kembali pada dirinya.

I’m not sure this is a world I belong in anymore. I’m not sure that I want to wake up.

“Seorang Shim Changmin selalu percaya diri he?”

Aku tersenyum kikuk. Namun kali ini Yunho hyung salah, aku tak sepercaya diri itu. Aku tak seyakin itu bisa mengambil hatinya dengan mudah. Karena sebelumnya sudah ada seseorang yang mampu merebut kelemahannya.

“I love her more than I think I should, hyung.”

“Hem… kurasa itu bagus. There is a place you can touch a woman that will drive her crazy. Her heart.” Kata Yunho hyung bijak. Aku tertawa kecil, jarang sekali ia mampu berkata seperti itu tentang sesuatu yang di sebut cinta. Termasuk aku.

Shin Mirrelle POV

Then I realize what it is. It’s him. Something about him makes me feel like I am about to fall. Or turn to liquid. Or burst into flames.

Dia datang hari ini. Ah tidak, maksudku dia tiba di Amerika hari ini bersama Yunho oppa. Aku tahu, aku seperti orang bodoh mencari segala berita tentangnya lewat internet. Aku bisa saja dengan mudah bertanya pada staff apa saja kegiatannya sekarang. Atau sekedar ingin tahu bagaimana penjualan album barunya di negeri Sakura sana. Tapi aku tidak melakukannya. Benar-benar tidak bisa melakukannya. Bukan karena aku tak menyukainya ataupun tidak peduli dengannya. Namun aku takut, aku takut menghadapi kenyataan bahwa perasaan ini tak sama dengan apa yang di rasakannya.

Aku menganggap diriku konyol, seperti sebuah itik buruk rupa yang menanti seorang pangeran merubah dirinya menjadi putri cantik. Tapi kehidupan bukanlah dongeng yang bisa dibuat dan dirubah sesuka hati. Pada kenyataannya aku selalu takut dengan perasaan yang ku miliki untuk dirinya. Aku takut jatuh dan tak mampu bangkit kembali saat mengetahui pahitnya perasaan ini. Dia… sekalipun aku bersinar, sinarnya jauh lebih memukau dibandingkan diriku.

Aku selalu merasa apa yang kurasakan ini tidak benar. Terkadang aku berpikir, mungkinkah ini hanya perasaan seorang fans terhadap idolanya? Seperti yang di rasakan semua fans grup ku ketika melihat kami bernyanyi. Aku selalu merasa tenang ketika mendengar suaranya, bahkan mengetahui bahwa ia baik-baik saja cukup membuat udara di sekeliling tubuhku menjadi hangat. Hal-hal kecil yang membuat dunia terasa lebih indah dibandingkan kenyataannya.

Why did he have to be so gorgeous? Why did he have to stand so close, and why did I still love him so much?

 “Mereka sudah datang.”

Aku membalikkan tubuhku menghadap pintu kamar hotel dan mendapati kepala Hyun Mi menyembul dari balik pintu.

Nugu?”

“Someone who would cry because you, Unnie.” Hyun Mi menjawab dengan tidak sabar. Gadis cantik itu mengangkat bahu ketika melihat reaksiku yang masih sedikit bingung. Ia melenggang pergi tepat disaat aku ingin bertanya siapa yang dimaksudnya.

Aku menutup jurnal milikku. Ada sebuah foto di sana dan aku selalu menyimpannya dengan baik. Berada di tempat yang jauh dengannya membuatku sangat tersiksa. Tak bisa melihat senyumannya secara langsung ataupun mendapatkan perhatian kecil yang terkadang ia tujukan padaku.

I miss him more than I think I should.

Aku beranjak bangun dari tempat tidurku. Rasa lelah itu tidak akan pernah terasa jika aku sudah melihat wajahnya, sekalipun itu hanya selembar foto usang yang kudapatkan dari internet. Aku… benar-benar gadis yang konyol.

Unni, ppalli wa!” suara tinggi Hyun Mi kembali terdengar. Aku bergegas keluar kamar dan mendapati ruang tamu hotel di penuhi oleh beberapa staff.

Aku mengedarkan pandanganku ke setiap sosok yang berdiri di sana. Dan aku mendapatinya tengah berdiri dengan senyuman mengembang ke arah member grupku yang lain. Tubuhnya yang menjulang tinggi dan atletis terlihat paling mencolok di mataku. Ia mungkin tak setampan Yunho oppa, tidak secantik Jaejoong oppa atau member yang lain. Tapi… sampai kapanpun aku akan selalu bisa melihatnya dari jarak sejauh apapun. Karena di sinilah aku berdiri, di tempat yang selalu berporos pada dirinya.

Ever since time began, people have recognized their true Love by the light in their eyes.

Changmin POV

I want you to be weak. As weak as I am.

Udara itu tak lagi menghimpit rongga dadaku. Kini udara itu terasa lapang, terasa membebaskan dan menyejukkan. Bahkan melihat dirinya tanpa senyuman pun mampu membuat diriku berpijak utuh pada tempatnya. Ia tak perlu terlihat cantik, tak perlu terlihat memukau dibandingkan membernya yang lain. Hanya dengan sebuah kemeja putih kebesaran serta celana hitam pendek andalannya ia bisa terlihat begitu memukau di mataku.

Aku tak peduli ketika rambutnya tak tertata rapi seperti seorang putri. Aku tak peduli jika pakaian yang ia kenakan bukanlah gaun terbaik yang dipakainya di atas panggung. Dan sungguh aku tidak peduli jika wajah cemberut itu menghiasi setiap detik kehidupanku. Karena yang kuinginkan adalah dia, bukan orang lain.

“Merindukanku?” tanyaku sambil tersenyum kecil. Angin sore di balkon hotel membuat rambut coklatnya tergerai sempurna. Menghiasi langit senja yang bersenandung lembut di balik awan.

“Jangan bergurau, Shim Changmin.” ia mengelak. Memamerkan senyum kecilnya yang begitu ku suka di balik keangkuhannya.

“Kalau begitu, bagaimana jika aku yang merindukanmu?”

Tubuhnya berbalik cepat menghadap ke arahku. Alisnya bertaut dan demi Tuhan, apapun yang dia lakukan dia akan selalu terlihat cantik dimataku.

“Tidak percaya?” tanyaku pelan. Aku menghadapakan tubuhku ke samping, memandang siluet tubuhnya yang diterpa matahari senja. Bahkan, sinar matahari tak mampu menutupi pesonanya.

“Ba…bagaimana mungkin?”

Aku menjentikkan jariku. Menimbulkan irama pelan seolah aku mendapatkan sebuah hadiah yang begitu mengejutkan.

“That’s when you know for sure somebody loves you. They figure out what you need and they give it to you—without  you asking.”

Matanya membulat lebar mendengar perkataanku. Mungkin bahasa Inggrisku tidak terlalu bagus, namun setidaknya aku mampu memberikan sesuatu yang romantic untukknya. Meskipun ku akui aku bukanlah tipe pria seperti itu.

“Sometimes I think my whole life has been about holding on to you. Kira-kira seperti itu.” kataku lagi. Ia masih tak bergeming, masih menatapku dengan kedua matanya yang terukir sempurna.

“Sepertinya bahasa Inggrismu menurun Kyoungie-ah,” aku mencubit pipinya dan mensejajarkan mataku dengan mata miliknya. Berpura-pura kecewa karena ia tak menanggapi perkataanku.

“I love you not only for what you are, but for what I am when I am with you. Remember it.”

Aku melepaskan kedua tanganku di pipinya. Memasukkan kedua tanganku ke saku celana dan hendak berbalik meninggalkannya, tak peduli ia menolakku namun aku telah berhasil mengutarakan apa yang kurasakan.

Chankaman.” Gumamnya pelan, tangan kanannya menarik siku tanganku. Senyumku mengembang, gadis ini benar-benar…

“You are the only one who has understood even a whisper of me, and I will tell you that I am the only person who has understood even a whisper of you.” Katanya pelan nyaris berbisik.

Aku menarik kedua tangannya lalu membenamkan tubuhnya ke dalam pelukanku. Nafasku benar-benar terasa lapang sekarang. Seolah semua udara berlomba-lomba masuk kedalam tubuhku, perasaan ini begitu meluap. Aku… bahkan nyaris ingin berteriak mendengar pengakuannya.

“Neon nae ga yeoja ya.”(Kau adalah gadisku) kataku lalu mencium puncak kepalanya selembut mungkin.