Title :      The Story Only I didn’t Know (Piano)

Author :  Meulu Primananda (LaaaadyDJ)

Lenght:  OneShoot (6.455 words)
Genre:   Mystery, Friendship,Angst, Little bit Romance, AU.
Cast :      Han Jaesun/Jung Gina – Oc’s or YOU

Lee Jeongmin – BoyFriend

Gong Chanshik – B1A4

Jotwins & Donghyun – BoyFriend (Cameo)

Other cast just Cameo

Ps :    AU! Aku tau kalo Donghyun lebih cinta ke Piano, tapi feel aku lebih dapet ke Jeongmin, mian. Warning : Perusakan karakter (Maybe?)

Summary  : When this mind going crazy by YOU!

Aku berjalan di sekitar koridor sekolah. Malam ini aku telat pulang karena ada yang harus aku selesaikan terlebih dahulu di kelas seni rupa. Langkah kakiku terhenti ketika mendengar lantunan musik piano klasik dari arah kelas musik. Gabungan nada yang terdengar sangat indah, namun  aku merasakan ada kesedihan yang dalam diantaranya. Kuberanikan diriku mendekat ke pintu kelas musik. Lampu ruangan itu menyala, aku membuka pintu kelas perlahan dan mengintip kedalam. Kulihat seorang gadis yang memakai seragam sekolahku sedang terduduk di depan sebuah piano klasik yang ada di situ. Seketika ia berhenti bermain dan menoleh ke arahku dengan tatapannya yang kosong. Dug, jantungku dan pikiranku berhenti bekerja beberapa detik setelah melihat wajah gadis itu. Manis. Sedetik kemudian aku tersadar dan dengan cepat menutup kembali pintu kelas kemudian berlari turun secepat mungkin. Detak jantungku memburu, tapi bukan karena takut. Entah kenapa aku sama sekali tidak merasa takut dengan apa yang baru saja terjadi. Yang kurasakan lain. Sesuatu yang membuat jantungku berdetak lebih cepat itu berbeda.

Aku sampai di halaman sekolah, dadaku sedikit sesak dan nafasku masih memburu. Aku berhenti sebentar dan mengatur nafasku agar kembali normal. Kudongakkan kepalaku untuk melihat ke lantai 3,tempat ruangan seni dan musik. Gelap, semua lampu kelas mati. Aku menggelengkan kepalaku cepat mencoba meyakinkan diri bahwa tadi aku hanya berhalusinasi. Setelah nafasku teratur, aku melangkahkan kakiku meninggalkan sekolah dan pulang ke rumahku.

***

     “Annyeong, Jeongmin-ah.” Sapa Donghyun kemudian meletakkan tasnya di kursinya.

“Annyeong.” Jawabku sopan, kemudian tersenyum sekilas kepadanya.

“kau tau, Jeongmin-ah! Aku sangat senang hari ini. Akhirnya kita akan masuk ke kelas musik lagi. Aku merindukan kelas itu, setelah sebulan lebih tidak menyentuh alat-alat musik disitu.” Riang Donghyun panjang lebar, dai lebih terdengar seperti membicarakan seorang gadis daripada membicarakan kelas musik.

“Ye.” kataku, tersenyum melihat tingkahnya.

“Ah, ya! Bukan kah hari ini juga hari pertamamu masuk kelas musik di sini?” Tanya Donghyun, aku mengangguk.

“Bagaimana kelas musik di sekolahmu yang lama? Apa menyenangkan?” Donghyun mencercaku dengan pertanyaan-pertanyaannya.

“well, aku tak tau. Honestly, aku tak pernah masuk kelas musik di sekolahku yang dulu. Aku tak suka musik dan aku selalu punya alasan untuk menghindari kelasnya.” Jawabku enteng.

“Mwoya?! Tak suka musik?” Donghyun mengucapkan kata-kata itu seolah itu kata sakral. Aku mengangguk.

“Kau aneh, Jeongmin-ah. Bagaimana bisa kau tak suka musik? Coba saja kalau kau ketagihan dengan musik nantinya.” Donghyun terdengar seperti orang yang setengah mengancam. Aku tertawa.

“Kau lucu, Donghyun-ah. Aku tak suka musik sekarang belum tentu suatu saat nanti aku akan terus tak menyukainya.” Ucapku, Donghyun mengangguk mengerti.

“Hajiman, kalau kau suka musik dalam jangka waktu tiga bulan ini, kau harus mau menggantikan piketku di kelas musik hingga kita lulus dari sekolah ini.” Tantang Donghyun.

“Mwoya?! Apa-apaan ini? Aku tak bilang ingin taruhan.” Ucapku terkejut.

“Aku tak mau tau. Ayo, bel sudah berbunyi dari tadi.” Donghyun menarik tanganku bersemangat.

“Hey, ya! Ya!” berontakku, namun Donghyun tak menghiraukannya dan terus menarikku ke kelas musik.

***

     Aku melangkahkan kakiku memasuki kelas musik. Ruangan ini tak berbeda dari yang kulihat semalam, hanya saja lebih terang karena ini siang hari.

“Nah, silahkan ambil alat musik kalian.” Perintah Guru Han, guru musik kami. Semua murid dengan patuh mengambil dan memilih alat-alat musik dari dalam lemari. Beberapa mengambil gitar, harmonica, dan sebagainya. Tapi sepertinya yang paling diminati adalah biola. Aku terdiam sejenak memperhatikan teman-temanku memilih alat musik mereka, sejujurnya aku sendiri bingung alat musik apa yang harus kupilih.

“Hey nak, ambil alat musikmu sekarang atau kau tak akan kebagian.” Guru Han berbicara padaku.

“ah, ne! Aku… akan akan pakai itu, bolehkah?” pintaku menunjuk piano klasik yang berada di salah satu sudut ruangan, piano yang sama dengan yang dimainkan gadis berseragam sekolah semalam. Kelihatannya tak ada satupun dari sekitar 30 murid di kelas ini yang tertarik untuk memainkannya. Guru Han memandangku dengan tatapan yang tak bisa kumengerti, antara campuran marah, takut, terkejut dan sebagainya. Aku balas memandangnya heran.

“Ah, Ya, Kau… Kau boleh memakainya.” Guru Han terdengar seperti baru tersadar dari lamunannya sendiri.

“err,kau bisa memainkan lagu klasik dengan piano?” Tanya Guru Han lagi, aku menggeleng.

“Anioo, tapi aku bisa memainkan beberapa lagu anak-anak.” Kataku jujur.

“Well, oke. Aku akan mengajarkanmu nanti.” Ucap Guru Han, aku menunduk berterima kasih kemudian berjalan menuju ujung kelas dimana piano itu berada. Bulu kudukku sedikit meremang ketika aku duduk di kursi piano. Kuperhatikan piano itu dari dekat. Sangat berdebu dan kentara sekali terlihat tak ada orang yang pernah memainkannya selama beberapa tahun ini, hal ini membuatku bingung mengingat gadis ‘berseragam sekolahku’ itu memainkannya semalam.

Kusapukan debu yang menempel di tutup pelindung tuts dengan tanganku, debunya ikut terangkat dan membuat tanganku kotor. Kubuka penutup itu perlahan dan debu mulai berterbangan di sekitarku. Kukipas-kipas tanganku di wajahku agar debu-debu itu menjauh. Setelah debu-debu itu tak lagi berterbangan di sekitarku,aku menoleh kearah guru Han, menunggu perizinan darinya untuk memainkan piano ini. Namun yang kudapati adalah semua orang di kelas musik –kecuali guru Han yang berada di tengah-tengah kelas sekarang sibuk membuka buku absennya– memandangku dengan tatapan aneh. Aku sungguh merasa heran sekarang, ada apa sebenarnya dengan piano ini? Namun kuabaikan tatapan-tatapan itu dan kembali fokus dengan piano yang berada di hadapanku ini.

“Ya,  semua! Kelas di mulai dari sekarang. Mainkan lagu apapun yang kalian bisa, aku akan memeriksa kalian satu persatu.” Aba-aba guru Han. Murid-murid yang mempunyai alat musik sama mulai bergabung dengan teman-temannya dan memainkan lagu yang sudah mereka sepakati.

Aku memandang pianoku kemudian mulai menekan salah satu tutnya, suaranya terdengar agak sumbing. Mungkin karena sudah lama tak ada yang meminyakinya. Kucoba menekan tut yang lain, terdengar sama saja. namun piano ini masih bisa dipakai, keadaannya lumayan bagus untuk ukuran ‘benda-yang-tak-pernah-di-rawat’. Aku mulai mencoba memainkan lagu anak ‘Twinkle Twinkle Little Star’, permainanku tidak buruk juga mengingat aku sudah tidak memainkan piano sejak umurku 10 tahun, dan itu sudah lebih dari 7 tahun yang lalu.

“Ada masalah?” Guru Han tiba-tiba datang. Aku menoleh, “tidak, hanya saja sedikit berdebu dan kurang diminyaki.” Kataku.

“Err, yah. Memang tak ada yang merawatnya beberapa tahun belakangan ini.” Tutur Guru Han, dari wajahnya terlihat sedikit bersalah.

“Kalau kau izinkan, aku ingin membersihkan piano ini.” Tawarku. Guru Han kembali memandangku dengan tatapan tak kumengerti itu lagi.

“Err, kau yakin?” Tanya Guru Han, aku mengangguk cepat.

“Baiklah, kau boleh membersihkannya.” Setuju guru Han.

“Gamsahamnida.” Kataku, sedikit menunduk hormat.

“Cheonmaneyo.” Jawabnya.

“Well, sekarang akan kuajarkan kau memainkan musik klasik dengan piano ini.” Sambungnya lagi, kemudian mengajarkan langkah-langkah dasar bermain piano, kunci dan nada blog, serta tempo dan gerakan jari lainnya. Namun anehnya selama guru Han mengajarku, jarinya sama sekali tak menyentuh tuts piano ini. Beliau hanya menunjukkan caranya dan menyuruhku mempraktikkannya. Setelah setengah jam berlalu, aku sudah bisa memainkan sebuah lagu klasik sederhana dengan baik. Guru Han bilang aku sangat cepat belajar.

Sudah lewat 3 jam ketika waktu pembelajaran habis. Semua murid membereskan barang-barang mereka dan meletakkan alat-alat musik ke tempat mereka mengambilnya tadi.

“Donghyun-ah, Kajja!” ajakku.

“ah, Ye!” Jawab Donghyun ketika ia selesai dengan barang-barangnya.

“Hmm, Jeongmin-ah. Biasa kemari sebentar?” seseorang memanggilku, ternyata Guru Han.

“Ne! mianhae, Donghyun, kau duluan saja.” Bisikku, Donghyun mengangguk dan berjalan keluar dari kelas musik.

“Jeongmin-ah, aku punya buku panduan memainkan piano. Ambillah.” Guru Han menyerahkan buku bersampul hitam pekat dan bergambar blok-blok nada berwarna silver.

“Terima kasih seonsaengnim.” Kuterima buku yang diserahkannya dan membungkuk sedikit.

“ah ya, satu lagi. Sebenarnya piano itu milik anak perempuanku, kami membawanya ke sekolah saat tahun pertama dia di sini agar dia lebih bebas bermain piano. Dulu dia sangat ingin menjadi pianist terkenal. Tapi karena dia sudah tak ada… aku serahkan piano itu padamu. Sudah hampir 2 tahun tak ada yang berani menyentuh piano itu.” sambung Guru Han. Apa mungkin yang semalam itu…

“Jinjja? Sekali lagi terima kasih, guru Han. Aku senang kau mempercayakan ini padaku.” Ucapku, sekali lagi membungkukke arahnya.

“Ne, terima kasih kembali. Kalau begitu aku permisi dulu.” Pamit guru Han. Aku menunduk hormat padanya. Setelah kupastikan guru Han sudah pergi, aku menoleh sekali lagi ke arah piano itu sekali lagi. Yang kurasakan sekarang adalah perasaan penasaran yang besar terhadap piano ini. Sejujurnya piano ini sudah menarik perhatianku sejak malam aku melihat gadis itu memainkannya.

***

“Jeongmin-ah, kau tidak takut?” Tanya Donghyun ketika kami sedang makan siang.

“Takut? Takut kenapa?” aku balik bertanya heran.

“Piano itu. Maksudku apa kau tak tau tentang piano itu? Tentang siapa pemilik piano itu sebelumnya?” Donghyun mencoba memberiku clue.

“Maksudmu anak perempuan guru Han yang sudah tidak ada itu?” Tebakku.

“Bingoo!” Donghyun menjentikkan jarinya.

“Memangnya anak guru Han itu kemana?” tanyaku.

“Aigoo Jeongmin-ah, yang namanya sudah tidak ada lagi artinya meninggal.” Jawab Donghyun kedengarannya sedikit frustasi meladeniku.

“Meninggal?” ulangku pelan, nyaris tak terdengar.

“Hai, Hyung!” Si kembar Jo datang tepat ketika aku hendak menanyakan lebih lanjut tentang anak guru Han.

“Hai.” Jawab Donghyun sedangkan aku hanya tersenyum kepada mereka. Si kembar meletakkan baki makanan mereka diatas meja dan duduk di hadapan kami. Mereka adik kelasku tapi mereka sering bermain bersama Donghyun dan teman-teman lebih tua dari mereka.

“Jeongmin Hyung, aku dengar kau memainkan piano itu di kelas musik.” Ucap Youngmin, si kembar yang paling tua –setidaknya lebih tua 6 menit dari kembarannya– dan berambut blonde itu sembari memasukkan beberapa potong roti kemulutnya.

“Ne! waeyo?” jawabku santai.

“Aigoo hyung! Apa kau tak tau ceritanya?” kali ini Kwangmin yang bertanya, kembar yang paling muda dan berambut tembaga.

“Maksudmu tentang anak guru Han yang meninggal itu?”

“Ne! Namanya Han Jae Sun.” jawab mereka kompak.

“Dan dari kabar yang kudengar juga, dia dibunuh!” sambung Youngmin, aku terkejut mendengarnya.

“Dibunuh? Maksudmu?” tanyaku heran.

“Menurut berita yang tersebar, kira-kira 2 tahun lalu sekitar pagi dini hari, Jae Sun noona masih berada di sekolah dan bermain pianonya. Menurut teman dekatnya tak ada yang aneh dari sikap Jaesun sebelumnya. Setelah dia selesai bermain, dia bersiap untuk pulang” Kwangmin mulai bercerita.

“Ne, ketika paginya Jaesun noona ditemukan sudah meninggal tertimpa lemari alat-alat musik. Ada yang mengatakan kalau ada yang sengaja menjatihkan lemari itu padanya.” Sambung Youngmin.

“Bagaimana bisa?” heranku.

“Ditemukan jejak kaki dan cobekan baju yang tersangkut di paku belakang lemari yang sedikit mencuat.” Timpal Donghyun.

“Semua orang di sekolah ini merasa shock, terutama guru Han. Walau begitu tetap saja beliau menolak untuk menindak lanjuti kasus ini, katanya hal itu akan membuatnya sedih dan selalu teringat kepada anaknya itu.” tutup Kwangmin.

Aku terhenyuk, entah kenapa perasaanku jadi tak menentu.

“Jeongmin-ah, kau tau dia?” Tanya Donghyun, aku mengikuti arah pandangannya.

“Yang mana?” tanyaku.

“Itu, yang duduk di samping Hyunseong.” Ucap Donghyun lagi. Aku menajamkan pengelihatanku.

“Ah, ya! Bukankah itu Gongchan, teman sekelas kita?” tanyaku sambil memperhaikan seorang namja yang sedang makan dengan Hyunseong. Namja itu tampan namun tatapannya terlihat kosong menerawang dan juga sepertinya dia pendiam.

“Nde, dia dulu adalah kekasih Jaesun.” Jelas Donghyun, aku membulatkan mulutku membentuk huruf ‘o’.

“Omong-omong, aku sudah berjanji dengan guru Han kalau aku akan membersihkan piano itu. aku berencana untuk membersihkannya besok sepulang sekolah.” Terus terangku.

“Mwoya?!’ seru mereka bertiga serempak.

“Hey, jangan tatap aku seperti itu! memangnya ada yang aneh?”

“kau yang aneh, Jeongmin-ah! Aish, kau ini benar-benar tak tau apa-apa atau hanya berlagak polos?” kesal donghyun.

“Dong! Dong! Dong!” si Kembar membuat gerakan seperti memukul gong dengan memukul kepala mereka dengan kompak. Aku tertawa melihat tingkah aneh JoTwin itu.

“Soal apa lagi? Apa arwah anak guru Han itu bergentayangan di sekitar piano itu?” tanyaku enteng setengah bercanda, namun mereka mengangguk dan menatapku serius.

“Menurut kabar sering terdengar suara piano pada malam hari di kelas musik.” Kata Youngmin, aku terdiam mengingat kejadian semalam.

“ah, itu baru kabar burung. Kita tak tau bagaimana yang sebenarnya, bukan? Sudahlah, kalian jangan percaya hal yang seperti itu.” aku berusaha menenangkan mereka.

“Tapi hyung, kau harus tetap hati-hati. Bagaimana kalau arwah Jaesun Noona tiba-tiba mengganggumu karena mengusik pianonya?” pesan Kwangmin.

“Ya! Kalian tenang saja. Sudahlah, kita harus kembali ke kelas sekarang. Kajja!” ajakku mencoba mengalihkan perhatian mereka dari masalah ini.

“Baiklah. Kami duluan.” Pamit Donghyun pada si Kembar.

“Ne!” jawab mereka kompak dan kembali menyantap makanan mereka.

***

Besoknya~

Pelajaran hari ini berakhir pukul 21.00 KTS, teman-temanku membereskan barang-barang mereka dan bersiap pulang.

“Donghyun-ah, kau pulang duluan saja. Aku harus membersihkan piano itu dulu.” Ucapku.

“Kau yakin? Baiklah.” Setuju Donghyun akhirnya, kemudian beranjak keluar dari kelas.

Kusampirkan tas dipunggungku kemudian berjalan menuju ruang kebersihan untuk mengambil kain lap dan cairan pembersih serta oli. Setelah yakin aku sudah mengambil semua yang kubutuhkan dengan benar, aku kembali berjalan menuju kelas musik.

Kreekkk…

Pintu kelas berderit ketika aku membukanya perlahan. Kuraba dinding mencari tombol lampu dan kutekan setelah kutemukan. Suasana menjadi lebih terang.

Ruangan ini kosong. Segera aku mendekat ke piano itu. Entah karena ini malam hari debu-debu piano ini terlihat lebih tebal dan kotor dai sebelumnya. Kugulung lengan bajuku, sedikit membuka kancing bagian atas seragamku agar lebih leluasa bergerak dan mulai membersihkan.

Mulai dari melap debu-debu, menyemprotkan cairan pembersih hingga meminyaki mesin tutsnya.

“Selesai!!” puasku sembari memperhatikan hasil kerjaku selama lebih dari setengah jam itu.

Aku duduk di kursi piano, lalu menekan salah satu tut nya. Sudah lebih baik dari kemarin siang. Kumainkan lagi ‘Happy Birthday’ sambil bernyanyi pelan. Tanpa sadar bibirku melengkung membentuk senyuman. Rasanya seperti kembali pada saat pertama aku bermain piano dulu.

Tiba-tiba, udara di sekitarku menjadi dingin, aku sedikit bergedik. Kugerakkan pandanganku dari tuts itu dan memandang kesekitar ruangan. Itu dia, gadis berseragam sekolahku yang sama dengan yang kulihat malam itu. Gadis itu memang manis, wajahnya terlihat sempurna walaupun pucat dan bola matanya hitam kosong. Aku tersenyum kearahnya.

“Kau tau aku?” herannya sembari menaikkan sebelah alisnya heran, suaranya yang dingin terdengar menggema di ruangan ini walaupun dia berbicara perlahan. Aku mengangguk, “Kau Han Jae Sun, anak guru Han, bukan?” kataku.

“Kau tau kisahku?” tanyanya lagi, matanya yang hitam pekat memandangku tajam.

“Tentu saja. Teman-temanku yang menceritakannya padaku.” Senyumanku masih belum hilang dari wajahku.

“Lalu kenapa kau sama sekali tidak takut denganku?” kali ini dia terdengar sedikit membentak dan kesal walaupun suaranya masih dingin dan seimbang. Aku tertawa,

“Kenapa harus takut? Maksudku kau kan tidak menyakitiku.” Jawabku enteng.

“Aku bisa saja melakukannya kalau aku mau.” Geramnya.

“Kalau begitu aku yakin kau tak mau menyakitiku. Sudahlah, ayo ke sini!” panggilku sembari menepuk-nepuk kursi di sebelahku, menyuruhnya duduk di situ. Gadis itu memandangku tajam namun mengikuti perintahku.

“Aku mendengarmu memainkan piano ini suatu malam. Permainanmu bagus.” Pujiku tulus.

“Terima kasih.” Jawabnya singkat.

“Ah ya, satu hal lagi. Kau juga cantik.” Akuku malu-malu. Semburat biru mulai terlihat menjalari pipi pucatnya.

“Aku mendengarmu hanya memainkan lagu anak-anak.” Dia berkata dengan nada mengejek, namun kentara sekali ia seperti tak mau mengacuhkan perkataanku sebelumnya.

“Lalu?” tanyaku, kembali tersenyum kepadanya.

“Kenapa kau tak memainkan lagu lainnya?” ia berkata padaku, namun tatapannya menerawang lurus ke depan.

“Well, hanya itu lagu-lagu yang kuketahui. Lagipula aku tak suka musik.” Jujurku.

“Omong kosong. Kalau kau tak suka musik, kenapa kau bisa dan mau memainkan pianoku?” kembali nada sindiran terdengar dari kata-kata Jaesun.

“Aku tak suka musik bukan berarti aku ‘anti’ dengan yang namanya musik atau segala sesuatu yang berhubungan dengan itu. Aku memainkan alat musik dan bernyanyi, namun hal itu tak bisa membuatku merasakan apapun. Dengan begitu apa yang kukerjakan sia-sia karena aku hanya bisa menghibur orang lain, sedangkan diriku sendiri tidak terhibur dengan hal itu. Karena itulah aku tak menyukai musik.” Jelasku panjang lebar.

“Dasar bodoh. Kau itu salah, jika kau memainkannya dengan hati dan perasaanmu kau pasti akan merasa lebih baik.” Bantahnya, aku mengangkat bahuku mengisyaratkan kata ‘entahlah’. Sejujurnya aku kehilangan rasa terhadap musik sejak berumur 10 tahun yang lalu, dan sekarang aku nyaris merasakannya lagi setiap tuts piano ini berbunyi. Tapi aku tak yakin itu karena aku kembali menyukai musik lagi.

“Kau manusia teraneh yang pernah aku temui,dan aku yakin kau satu-satunya manusia yang bisa membuat arwah sepertiku bingung atas apa tentangmu.” Gadis itu berkata dingin padaku.

“Terima kasih, aku anggap itu sebagai pujian untukku.” Lagi-lagi aku kembali tersenyum padanya.

“Michyeo!” Desisnya.

“Boleh aku menjadi temanmu?” pintaku, gadis itu memandangku tajam dengan alis sebelah kirinya terangkat.

“Kau benar-benar gila!” Serunya.

“Mollayo. Tapi boleh kan kita berteman?’ Pintaku lagi, gadis itu akhirnya mengangguk mengiyakan. Senyumanku semakin lebar dan jantungku berdetak lebih cepat.

Entah ada yang merasukiku atau apa, yang jelas malam ini aku yang memulainya untuk berteman dengan arwah penasaran anak guru musikku.

***

     “Eomma, aku pergi dulu.” Pamitku.

“Berhati-hatilah, jangan pulang terlalu larut.” Wanti-wanti eommaku.

“Ye!” jawabku singkat. Aku berjalan kembali ke sekolah setelah pulang dan berganti baju. Aku membawa beberapa makanan ringan karena aku tak sempat makan di rumah tadi.

Aku langsung menuju lantai tiga setelah sampai di sekolah, tepatnya ke kelas musik. Kupencet tombol lampu untuk membuat ruangan ini lebih terang. Kosong!

“Jaesun-ah!” Panggilku, tak ada yang menyahut.

“Jaesun-ah!!” panggilku lagi, sunyi!

“Aku tau kau ada di sini, jangan bersembunyi.” Ucapku santai. Plop! Tiba-tiba Jaesun sudah berdiri di hadapanku.

“Bagaimana kau tau?” tanyanya monoton dan dingin.

“Kau bisa saja tak terlihat, tapi udara dinginmu tak bisa kau sembunyikan.” Jelasku tersenyum. Jaesun merengut, kuacuhkan dia dan berjalan menunu piano klasik milik Jaesun. Ia terus menatapku dingin.

“Kau mau?” tawarku mengeluarkan sebungkus biscuit coklat.

“Kau mau mengejekku atau apa?” ketus Jaesun sambil memplototiku dengan tatapan matanya yang kosong itu.

“Memangnya kenapa?” heranku sembari memasukkan sepotong biscuit itu ke mulutku.

“Aku sudah tak makan selama dua tahun belakangan ini.” Udara bertambah dingin ketika Jaesun bicara.

“Benarkah? Masa kau tak pernah makan lagi, minum darah manusia mungkin?” penasaranku.

“Kau terlalu banyak menonton film horror. Arwah atau hantu tak memerlukan apapun untuk tetap berada di dunia. Kami sudah mati, ingatlah!” Sinisnya.

“Mianhae…” Ucapku, segera menelan yang terlanjur kumakan dan menyimpan isinya.

“Kau lanjutkan saja makannya, aku tau perutmu masih kosong sejak tadi sore.” Ucapnya masih dengan irama dinginnya.

“hmm, arasseo!” kukeluarkan kembali biscuit tadi dan memakannya. Selagi aku makan, Jaesun duduk di sampingku dan membuka penutup tuts piano. Perlahan jarinya mulai menari di atas tuts piano, lantunan irama yang indah namun menyedihkan kembali terdengar. Aku kembali meletakkan makananku dan memejamkan mataku menikmati alunan musik yang dimainkan Jaesun. Terlihat jelas campuran emosi yang kuat dalam nada yang kudengar. Aku semakin terhanyut dalam lantunan indah permainan jari-jari Jaesun yang dengan lincah dan indah melompat seolah menari diatas tuts piano tersebut.

[Background Music : IU – The Story Only I Didn’t Know (Inst)]

     Lagu ini!

Tiba-tiba aku tersentak dan menyadari lagu apa yang dibawakan Jaesun. Memori-memori masa kecilku yang berusaha aku kubur dalam-dalam kembali datang dan berputar layaknya film bioskop. Menampilkan klise-klise dari gambaran masa yang indah dan kelam dalam satu waktuku yang aku coba dengan keras untuk menutupnya rapat-rapat dalam peti memoir kelam yang sacral dan hampir tak tersentuh milikku. Cairan bening mulai mengalir dari pelipis mataku.

Aishh! Seorang namja kini sedang menangis dan terisak. Memalukan! Dia bahkan tak memikirkan kalau ada seorang gadis (lebih tepatnya arwah seorang gadis) disampingnya. Pemandangan namja yang terisak bukan sesuatu yang bagus terlebih didepan seorang yeoja. Ah, tangisan namja itu semakin menjadi. Ia terlihat seperti anak kecil saja, atau memang bisa di bilang begitu. Pikiran namja itu kembali kepada saat usianya masih sepuluh tahun. Tak ada piano, tak ada ruang kelas, tak ada arwah gadis manapun di pikirannya sekarang. Hanya ada danau buatan kecil, berlumut, dan berkabut. Dingin! Hingga sesuatu yang lebih dingin dari es mengenai bahunya, namja itu kembali tersadar dan piano, ruang kelas, serta arwah seorang gadis kembali ke pikirannya sekarang. Walaupun klise-klise film tentang masa lalunya masih berputar jelas di kepalanya.

“Neo gwanchanayo? Ada masalah dengan laguku?” Jaesun menggoyangkan bahuku, aku tersadar dan buru-buru menghapus air mata yang terlanjur membanjiri mataku.

“Anioo, hanya saja lagumu membuatku teringat masa laluku.” Ucapku sembari menarik nafas panjang kemudian menghembuskannya perlahan.

“Kau boleh bilang aku cengeng atau apa, karena kenyataannya begitu.” Lanjutku cepat.

“Apa berat?” tanyanya. Aku memandang Jaesun tak mengerti. “Maksudku apa masa lalu sangat berat sapai-sapai kau menangis di depanku?” tanyanya lagi.

“Mungkin bagimu tidak terlalu berat, tapi bagiku menyakitkan jika mengingatnya.” Kataku perlahan, berusaha tersenyum kearahnya. Jaesun hanya terdiam dan menatapku heran.

“Kau mau mendengar ceritaku?” tawarku, Jaesun mengangguk cepat.

“Saat itu umurku masih 9 tahun dan aku masih tinggal di Seoul. Aku menyukai musik, terutama piano. Kalau kau tanya kenapa aku menyukai piano saat itu,  jawabannya simple. Hanya karena seorang gadis kecil manis yang menjadi sahabatku dulu, Jung Gira.” Aku memulai ceritaku,

“Aku bertemu dengannya di rumahku. Saat itu dia dan keluarganya berkunjung kerumahku. Aku yang bosan dengan pembicaraan dua keluarga ini yang sebagian besarnya berbicara tentang bisnis akhirnya menarik diriku. Aku pergi dari ruangan tempat mereka berkumpul dan bermain piano milik ibuku di ruang musik rumahku. Tanpa kusadari ternyata Gira mengikutiku dan memperhatikanku bermain piano. Dia berkata permainanku bagus dan dia menyukainya, semenjak itu kami bersahabat.” Aku menarik nafas sejenak kemudian melanjutkan ceritaku.

“Dia menyukai piano -atau lebih tepatnya mencintai alat musik itu-, sedangkan aku yang awalnya hanya iseng bermain piano menjadi suka dengan itu karenanya. Seiring waktu berjalan, aku merasakan bagaimana rasanya menyukai piano tanpa ada campur tangan orang lain. Maksudku aku tulus mencintai piano ada ataupun tidak ada Gira di dekatku saat itu. Satu tahun berlalu, tepatnya ketika umurku 10 tahun aku mendapat kesempatan untuk membawakan lagu dengan piano klasik di sebuah konser musik klasik yang terkenal. Aku sangat senang, begitu juga Gira. Terlebih lagi karena nantinya aku akan membawakan lagu kesukaannya.

“Aku memberinya 3 tiket konser supaya ia bisa datang bersama keluarganya ke konser musik yang menjadi tempat pertunjukan pertamaku itu, dia berjanji akan datang. Tapi hingga saat aku selesai tampil, meraka tak juga datang. Aku mendapat kabar bahwa mobil yang mereka tumpangi saat hendak menuju tempat konser itu bertabrakan dengan bus. Kedua orangtua Gira meninggal dan Gira sendiri mengalami amnesia. Dia akhirnya diasuh oleh keluarga terdekatnya dan aku sama sekali tak boleh mengunjunginya saat itu. Satu tahun berikutnya, aku dan keluargaku pindah ke Jepang karena orangtuaku bertugas di sana. Aku merasa sangat bersalah karena kecelakaan itu terjadi ketika mereka mau ketempat pertunjukanku. Oleh karena itu, aku mulai tak suka musik. Entah kenapa aku tak bisa membenci musik, sesuatu dari diriku tak mengizinkan aku membenci itu.

“Lagu itu, lagu yang kau main tadi adalah lagu kesukaan Gira yang aku mainkan pada malam itu. aku berusaha keras agar aku tak mengingat, mendengar, ataupun memainkan musik itu karena akan mengingatkanku terhadap kejadian itu.” Tutupku, kembali menghela nafas panjang.

“Aku turut menyesal.” Ucapnya, aura dinginnya sedikit berkurang.

“Sudahlah, bukan salahmu mengingatkanku kepada lagu itu. Lagipula kejadian itu sudah lama sekali.” Aku tersenyum meyakinkannya. Jaesun terdiam sejenak kemudian memalingkan wajahnya kembali kepianonya. Jari-jarinya kembali bermain di atas tuts, tapi kali ini dia memain lagu yang berbeda.

“Lebih baik?” Tanya Jaesun, aku terdiam sejenak berusaha mencerna lagunya. Aku kenal lagu ini, ini lagu tiga beruang. Lagu yang sering dinyanyikan ibuku ketika aku kecil dulu. Aku tersenyum dan mengangguk.

Gom se-mari-ga han chi-be-yi-so

Appa gom, amma gom, ae-gi gom

Appa gummun tung-tung-hae

Omma gummun nal-shin-hae

Ae-gi gommun na bul-gwi-ya-wa

Hishuk hishuk cha-rhan-da

     Aku bernyanyi pelan, perasaanku menjadi lebih baik. Kulirik Jaesun, wajahnya memang tidak tersenyum tapi aku dapat merasakan ia juga merasa lebih baik dari hawa dinginnya yang perlahan berkurang.

“err, Jaesun-ah. Boleh aku bertanya sesuatu?” ucapku, Jaesun menghentikan permainannya kemudian mengangguk perlahan.

“Kenapa kau masih disini dan tidak melanjutkan perjalananmu kemalam atas. Kau tentu punya alasan, bukan?” tanyaku. Jaesun melakukan suatu gerakan yang terlihat seperti sedang menghembuskan nafas panjang –kalau saja aku tak ingat bahwa dia sudah ‘meninggal’ mungkin aku sudah beranggapan kalau ia memang sedang menghela nafasnya.

“untuk Gongchan, Pianoku dan untuk satu hal yang harus aku tuntaskan walaupun aku tak tau apa itu.” Jawab Jaesun cepat seolah tidak ingin memperpanjang pembicaraan ini.

“Kau benar-benar dibunuh?” tanyaku lagi. Jaesun terdiam sejenak, matanya menerawang lurus ke depan.

“Belum saatnya kau mengetahui itu sekarang.” Singkatnya, jari-jarinya mulai memainkan tuts piano lagi. Aku memutar kepalaku menghadapnya dan mencoba menebak ekspresinya. Tapi tetap, air mukanya dingin, tenang dan kosong. Tak ada emosi yang dapat aku tangkap dari itu.

“Aku akan menceritakannya jika waktu itu tiba.” Sambungnya terus memainkan pianonya. Sepanjang malam itu, aku terus memperhatikannya bermain piano. Apa ini tandanya aku mulai menyukai musik kembali? Entahlah! Aku melupakan makanan yang kubawa tadi dan terus terfokus memperhatikan arwah ini memainkan pianonya.

***

     Sinar matahari merambah masuk melalui celah-celah jendela dan menyentuh wajahku, membuat tidurku terganggu. Kubuka mataku perlahan. sudah pagi! Batinku. Kurenggangkan badanku sejenak dan menguap. Selimut meluncur turun dari tubuhku dan sedetik kemudian aku menyadari bahwa ruangan ini bukan kamarku. Kembali kukerjabkan mataku, mengenali bahwa aku masih berada dikelas musik dan tertidur dengan posisi duduk sementara kepalaku tergeletak diatas piano. Sepertinya semalam aku mendengarkan permainan Jaesun hingga tertidur.

Kuambil kain yang tadi terjatuh dari tubuhku dan sekarang tergeletak di lantai. Aku tak ingat sempat memakai kain ini semalam. Aku  melipat kain itu, kemudian meletakkannya diatas piano klasik Jaesun dan beranjak pergi ke toilet sekolah untuk membasuh wajahku.

Ketika aku kembali, sudah ada seorang namja yang terduduk di kursi piano Jaesun. Aku mengenalinya sebagai Gong Chanshik atau yang lebih sering dipanggil Gongchan. Ia hanya duduk dan tak melakukan apa-apa, sesaat kemudian bahunya bergetar terlihat seperti orang yang sedang terisak. Aku memandang kesekeliling kelas musik, kutemukan Jaesun sedang terduduk di tiang atap langit-langit kelas sembari menatap Gongchan. Tatapannya terlihat lebih lembut dari sebelumnya dan dapat kulihat di pipi pucatnya sudah terdapat aliran cairan bening dari matanya. Mungkinkah Jaesun menangis karena Gongchan? Entah kenapa terasa sedikit sakit walau hanya memikirkannya.

“Aku pulang, Jaesun-ah.” Pamitku bergumam kemudian berjalan pelan meninggalkan tempat itu dan pulang.

***

Few day later~

“Jeongmin-ah!” seru Donghyun , aku menoleh.

“Ye?” sahutku.

“Bisa temani aku ke toko buku pulang sekolah ini?” ajak Donghyun, aku berfikir sejenak.

“Mianhae, sepertinya tidak bisa. Aku harus segera pulang.” Tolakku, Donghyun mengerutkan keningnya heran, “Waeyo?” tanyanya.

“Ada yang harus aku kerjakan sepulang sekolah… Dirumah.” Sambungku cepat ketika tatapan Donghyun berubah menjadi tatapan curiga.

“benarkah? Apa kau baik-baik saja, Jeongmin-ah? Belakangan ini kau menjadi sangat aneh.” Curiga Donghyun.

“Aneh? Aku tak mengerti maksudmu?” aku mulai was-was.

“Sekarang kau selalu pulang lebih cepat, bahkan tak pernah lagi menungguku untuk pulang bersama. Kau sering diam melamun ketika sedang berkumpul dan bercerita dengan teman-teman lainnya, dan kalau aku kerumahmu, kau selalu tidak ada. Ibumu bilang kau langsung pergi lagi setelah berganti baju dan kembali pulang ketika larut malam. Bahkan pernah sabtu malam kemarin kau tak pulang sama sekali. Sebenarnya kau kenapa?” Talak Donghyun dan semakin menyipitkan matanya padaku, curiga. Aku menggigit bibir bawahku,apa yang harus aku katakana padanya?

“Jeongmin-ah! Kenapa diam?”

“err, itu…” haruskah aku bilang bahwa aku kembali ke sekolah untuk bertemu arwah Jaesun dan bersamanya bermain piano hingga larut malm? Tidak mungkin, Donghyun pasti mengira bahwa aku sudah gila.

“Err, aku… Punya urusan di luar.” Jawabku cepat.

“Urusan apa?” desak Donghyun semakin heran.

“Hmm, hanya tentang… yah, suatu tugas. Kau tak perlu tau, tak ada sangkut pautnya denganmu.” Karangku asal berusaha menutup pembicaraan ini.

“Sudahlah, aku harus pulang sekarang. Bye Donghyun!” pamitku segera beranjak meninggalkan Donghyun. Kurasakan tatapan namja itu terus mengikutiku hingga aku keluar dari kelas dan berjalan cepat menhindarinya.

***

     “Jaesun-ah, kenapa kau menghantui pianomu?” Tanyaku suatu malam,Jaesun menghentikan permainan pianonya dan menatapku dengan tatapan dingin khas miliknya.

“Well, kedengarannya kau penasaran sekali. Akan kuceritakan sekarang kalau kau mau, lagipula waktuku disini tak lama lagi.” Ucapnya, aku balik memandangnya heran sedangkan dia tak merasaa terusik dengan tatapanku dan kembali memainkan pianonya.

“Tak lama lagi? Memangnya setiap arwah mempunya jangka waktu untuk tetap eksis didunia?” tanyaku.

“Tentu saja! semua arwah memiliki jangka waktu untuk menghantui, dewan dunia atas telah mengatur semua kebijakan tentang arwah termasuk waktu untuk mengantui sesuatu. Jika tidak dapat dipastikan kalau kami –para arwah- yang akan menguasai dunia karena jumlah kami semakin hari semakin bertambah.” Jelas Jaesun panjang lebar, aku mengangguk mengerti.

“Lalu, kapan waktumu akan berakhir?” tanyaku lagi.

“Kurang lebih satu minggu lagi dalam hitungan manusia.” Jawabnya kalem.

“Apa kau akan kembali kesini lagi? Bagaimana jika kau belum menyelesaikan tugasmu? Bagaimana kehidupan para arwah setelah ini? Dan apa yang membuat arwah bisa menghantui sesuatu?” tanyaku bertubi-tubi karena penasaran, Jaesun menatapku tajam.

“Kau ini terlalu banyak bertanya! Tapi baiklah, akan aku jelaskan. Pertama, arwah yang sudah kembali kedunia atas tidak bisa kembali untuk menghantui ataupun menampakkan dirinya kepada manusia. Kedua, karena pada dasarnya arwah yang kembali kedunia itu karena permintaannya sendiri, mereka harus menyelesaikannya dengan tepat waktu. Kalau tidak itu bukan urusan dewan atas lagi dan mereka harus kembali melanjutkan perjalanannya kedunia atas tak perduli tugas itu selesai atau tidak.

“Ketiga, aku tak tau pasti. Tapi yang jelas nantinya akan ditentukan apakah kami akan jadi penghuni surga atau neraka sesuai dengan amal dan ibadah yang kamilakukan didunia sebelum meninggal. Dan keempat, itu urusan pribadi setiap arwah! Arraseo?” Jelas Jaesun panjang lebar.

“Ap–”

“Sudah cukup pertanyaanmu, bisa kita kembali ke pembicaraan awal?” potong Jaesun ketika aku baru hendak bertanya lagi. Kututup mulutku dan mengangguk.

“Well, aku harus mulai darimana? Ceritanya terlalu panjang.”

“Apa kau dibunuh?” tanyaku langsung.

“tentang hal itu… Iya, bisa dibilang aku memang dibunuh.malam itu, ketika aku baru pulang setelah berjalan-jalan dengan Gongchan, aku mendengar Guru Han bertengkar dengan istrinya. Mereka meributkan tentangku, yang mana dari percakapan mereka aku tau kalau aku bukan anak kandung mereka. Guru Han dulunya merusak mobil yang dipakai keluargaku sehingga mereka berdua tewas dalam sebuah kecelakaan. Aku yang mendengar semua itu hanya bisa terdiam karena terpukul dengan kenyataan itu, Gongchan memelukku menenangkan. Sebelumnya, guru Han dan istrinya tak begitu baik padaku. Bahkan mereka sering menganggapku tak ada di rumah itu. Satu-satunya alasan mereka mau memeliharaku karea sebenarnya aku pewaris Jung Corp kalau aku sudah berumur 22 tahun nanti.

“Tiba-tiba ponselku berbunyi, aku mendengar guru Han dan istrinya terdiam. Kuputuskan untuk segera lari dan kusuruh Gongchan untuk segera pulang. Meskipun awalnya dia tak mau, setelah aku memaksanya dan membuatnya  bersumpah bahwa ia tak akan menceritakan hal ini kepada siapapuu, akhirnya dia mau menurutiku. Itu saat terakhir aku melihatnya ketika aku masih hidup. Setelah dia pergi, aku kembali ke sekolah untuk menenangkan diri. Sepanjang malam aku bermain piano, cuma itu yang bisa membuatku lebih baik.

“Ketika aku mulai merasa lelah aku bangkit dan berencana untuk ke toilet, lemari itu tiba-tiba menimpaku. Sebelum pandanganku kabur, aku melihat guru Han berdiri di belakang lemari, tersenyum padaku kemudian lari. Setelah itu,semua gelap.” Jaesun mengakhiri ceritanya. Aku kembali terdiam, tenggorokanku terasa tercekat tak tau harus mengatakan apa. Guru Han yang selama ini terlihat baik ternyata…

“Aku mencintai pianoku, lebih dari apapun, itu salah satu alasanku untuk kembali. Dan Gongchan, dia mengetahui semua yang dilakukan guru Han  dan dia tak merasa tenang karenanya. Aku tau dia merasa bersalah padaku karena tak bisa memberitahu siapapun yang mungkin dapat menolongku tentang hal ini. Aku sering melihatnya menangis disini, dan aku tak suka melihat orang yang aku cintai menjadi seperti itu. sedangkan satu alasan lagi, aku masih belum tau.” Kali ini Jaesun menjelaskan kenapa ia masih disini. Hatiku sedikit mencolos mendengar Jaesun berbicara tentang Gongchan. Dia mencintai Gongchan, dan namja itu juga mencintainya. Kenapa aku tak bisa menerima itu? kurasa perasaanku mulai menjadi aneh.

“Aku ingin minta tolong padamu.” Ucap Jaesun serius.

“Tentang apa?”

“Gongchan. Aku ingin kau mengatakan pada Gongchan kalau aku baik-baik saja dan aku memintanya untuk hidup dengan tenang.”

“Kenapa tidak kau katakana sendiri?”

“Aku rasa aku terlalu pengecut untuk itu.” jujurnya, dengan perasaan yang bercampur aduk aku menyanggupi permintaannya. Jaesun tersenyum cerah dan memelukku erat, badanku terasa membeku ketika bersentuhan dengan kulitnya. Baru kali ini aku melihatnya tersenyum. Jaesun lebih terlihat seperti malaikat daripada arwah penasaran ketika tersenyum.

***

     Lima hari berlalu sejak saat itu, tapi baru hari ini aku siap melaksanakan permintaan Jaesun. pagi ini aku datang ke sekolah lebih cepat dari biasanya untuk menunggu Gongchan, aku akan mengatakan apa yang ingin Jaesun katakan padanya.

“Gongchan-ssi!” panggilku ketika melihat Gongchan sudah mulai memasuku gerbang sekolah.

“Nae?” Tanya Gongchan sambilmenunjuk dirinya sendiri.

“Nde. Ada yang ingin aku bicarakan.” Ucapku.

“Denganku?”

“Ye! Tapi bukan disini, ayo ikut aku.” Aku menarik Gongchan supaya mengikutiku.

~~~

“Jadi maksudmu, Jaesun masih ada disini?” Kaget Gongchan ketika aku selesai menceritakan semuanya kepadanya diatap sekolah, dapat kulihat bola matanya sedikit membesar dan bersinar setiap kali aku menyebut nama Jaesun.

“Ne! Tapi bukan dia, hanya ‘arwah’nya.” Jelasku.

“Aku tak peduli dengan wujudnya, bawa aku menemuinya, jebal~” Pinta namja itu, aku berfikir sejenak..

“Baiklah, Datanglah nanti malam sepulang sekolah kekelas musik.” Ucapku, Gongchan tersenyum berterima kasih padaku. Setelah itu aku pamit padanya dan segera menuju kelas.

Aku tiba dikelas musik lebih cepat daripada Gongchan dikelas musik.

“Jaesun-ah!” panggilku.

“Kau sudah mengatakan itu padanya?” Tanya Jaesun langsung ketika muncul dihadapanku.

“Sudah.” Singkatku.

“Apa katanya?” suara Jaesun terdengar lebih bersemangat.

“Ada yang ingin bertemu denganmu.” Aku sama sekali tak menjawab pertanyaannya. Jasun menatapku seolah bertanya ‘siapa?’.

“Jaesun-ah!” seru seseorang, reflek kami berdua menoleh, Gongchan sudah datang. Dapat kulihat Jaesun sangat terkejut melihat Gongchan yang kini sedang berjalan kearah kami dan sedetik kemudian menarik Jaesun dalam pelukannya. Melepas rindu, mungkin?

Lagi-lagi aku merasa ada yang tak beres dengan diriku, perasaan aneh yang nyaris terasa seperti meledak, marah. Segera aku melangkah pergi dari tempat ini dan meninggalkan mereka berdua.

Mungkin aku memang sudah gila, atau mungkin bisa dibilang lebih dari gila. Aku mencintai Jaesun, aku mencintai arwah! Aku tak bisa mengelak lagi, aku tak tau apa yang kurasakan dan aku nyaris mati sesak karena perasaan ini. Melihatnya dan Gongchan bersamanya membuatku sakit dan tidak nyaman. Tapi aku bisa apa? Semua masalah ini aku yang menyebabkannya dan karena itu juga aku harus mempertanggung jawabkan akibatnya.

Andai saja saat itu aku tak pulang terlalu larut, andai saja saat itu aku tak mengajaknya berteman, andai saja saat itu aku menolak kembali ke kota ini, andai saja— akkhh, CUKUP! Terlalu banyak per-andai-an.

Dan kembali malam ini aku tidak pulang, aku akan menenangkan diriku sejenak.

***

     “Jeongmin-ah, irona!” seru Donghyun, aku mengerjapkan mataku perlahan, sudah pagi. Aku terduduk dan mencoba mengumpulkan kembali nyawaku yang semalam berterbangan entah kemana.

“Neo gwanchanayo?” Donghyun bertanya meyakinkan keadaanku.

“Ne! ini dimana?” aku balik bertanya setelah menyadari kalau aku tak kenal dengan ruangan ini.

“Rumahku.” Jawab Donghyun.

“Bagaimana aku bisa berada disini?”

“Semalam aku menemukanmu sedang mabuk dan menangis di gang. Kau yakin baik-baik saja? semalam kau meracau tak jelas, aku tak mengerti apa yang kau bicarakan. Berulang kali kau menyebut nama Jaesun, Gongchan, Piano, arwah, dan ‘saranghaeyo’?” selidik Donghyun, aku kembali tersadar. ‘Kurang dari satu minggu lagi…’ kata-kata Jaesun tergiang ditelingaku.

“Jaesun! aku harus pergi!” ucapku lalu bangkit dan bergegas kembali ke sekolah.

“Hey, kau mau kemana?” Tanya Donghyun.

“Ada yang harus kulakukan, nanti kuceritakan padamu.” Jawabku dan segera berlari keluar dari rumah Donghyun.

***

     “Jaesun!” panggilku nyaris menjerit ketika sampai di kelas musik, Jaesun muncul dihadapanku.

“Kenapa mencariku pagi-pagi?” Heran Jaesun namun masih berbicara dengan nada dingin khasnya.

“Waktumu, hhh, apa h-hari ini?” tanyaku tak jelas dengan nafas yang tersenggal-senggal setelah berlari. Jaesun terdiam seolah mencerna kata-kataku dan sesaat kemudian dia kelihatan sudah mengerti.

“Ya, sebentar lagi.” katanya.

“Bagaimana dengan ‘tugas’ yang kau sama-sekali-tidak-tau itu?” cekatku.

“Well, kurasa tugas itu juga sudah selesai.” Jawabnya.

“Maksudmu?”

“Aku mendapatkan ingatan masa kecilku dulu. Aku sendiri heran kenapa aku baru mengingatnya diakhir waktuku ini. Tapi singkatnya aku ini sebenarnya adalah Jung Gira, Gira yang membuatmu menyukai musik sekaligus membencinya pada akhirnya. Kau ingat kisah yang kuceritakan dulu bahwa aku bukan anak kandung guru Han dan marga awalku adalah Jung. Aku sahabatmu dulu, aku kehilangan ingatanku setelah kecelakaan itu dan aku diasuh oleh keluarga terdekatku. Aku juga kehilangan kontak denganmu karena guru Han tak mengizinkanu berhubungan dengan masa laluku karena itu bisa membuatku teringat masa laluku dan merebut perusahaan itu darinya. Perbuata bodoh sebenarnya, seharusnya dia berfikir kalau anak kecil tak mungkin memikirkan tentang bisnis.

“dan setelahnya aku menyadari bahwa tugas terakhir yang membuat aku kembali kedunia ini adalah untuk membuatmu kembali menyukai musik. Dan kelihatannya aku berhasil.” Jaesun menutup ceritanya.

“Aku tak yakin begitu.”

“Tapi aku yakin. Hatimu tak mungkin berbohong walaupun pikiranmu berusaha menampiknya. Walaupun caraku sepertinya sedikit menyakitimu, aku tak bermaksud membuatmu mempunyai rasa padaku, jadi aku mohon maafkan aku.” Aku mematung mendengar penjelasannya.

“Well, terima kasih atas semua bantuanmu. Berkatmu juga, aku bisa menyelesaikan tugas lainnya.” Jaesun tersenyum lembut padaku, mau tak mau aku membalas senyumannya.

“Hajiman, ada yang ingin aku katakana padamu.” Tahanku lagi.

“Katakanlah, walaupun sebenarnya aku sudah tau.” Titahnya.

“Aku tau aku gila, tapi… saranghaeyo.” Ucapku lepas. Dan saat itu seolah beban berat sudah terangkat dari hatiku namun tergantikan oleh beban lain. Suasana menjadi diam yang tidak nyaman.

“Aku tau…” Jaesun mencoba memecah keheningan, namun segera saja diam itu datang kembali.

“Well, dari awal aku tau ini tak beres. Aku tak mungkin membalasmu, bukan? Jeongmal Mianhamnida.” Sambungnya lagi.

“Gwanchanayo, lagipula aku tak meminta balasanmu.” Aku berkata pelan.

“Aku harus pergi sekarang. Jeongmal gumayo, Jeongmin-ah.” Gadis itu memberikan senyum malaikat terakhirnya sebelum cahaya putih membalutnya. Semakin lama sinar itu semakin terang hingga membuat mataku silau. Debuman kecil terdengar dan ketika aku membuka mataku kembali agar bisa melihat semuanya dengan jelas, ruangan ini terlihat begitu tenang. Tak akan ada lagi arwah iseng yang sering muncul tiba-tiba, tak ada lagi arwah gadis yang terlihat anggun ketika bermain piano, tak akan ada lagi Jaesun. Air mata jatuh dipelipis mataku tanpa bisa kutahan lagi. benarkah semuanya sudah berakhir?

“Baik-baiklah, Jaesun. Aku akan merindukanmu setelah ini.” Ucapku terakhir kalinya. Aku lalu melangkah perlahan menuju piano milik Jaesun, jari-jariku memainkan tutsnya. Semuanya mengalir begitu saja, aku hanya memainkannya saja tanpa tau nada apa yang kumainkan. Iramanya pelan dan lembut, namun cukup baik.

[Background Music : Super Junior – She’s Gone (Inst)]

     Aku mencoba bernyanyi perlahan sembari menahan air mataku masih terus mengalir. Musik ini menyentuhku, membuatku merasakan setiap alunan nada-nada itu menusukku. Jaesun mungkin benar tentang rasaku terhadap musik, aku bisa merasakan irama ini semakin membuat air mataku tak terbendung.

Jaesun-ah, aku tak perduli apa kau masih bisa melihat dan mendengarku saat ini atau tidak. Aku berjanji akan menjaga pianomu dan memainkan dengan perasaanku.

***

^Prolog^

5 year later~

Dear, Jaesun (atau mungkin kau harus kupanggil dengan nama aslimu, Gina? Tapi sepertinya aku tetap memanggilmu Jaesun saja.)

Lama waktu berlalu sejak saat itu. apa kau sudah tenang disana, Jaesun-ah? Apa kau dapat melihatku? Aku sudah menjadi pianist terkenal sekarang dan itu berkat ulahmu, kau harus bertanggung jawab keke~ tapi kau tenang saja, aku merasa sangat bebas saat bermain piano. Jadi kau tak perlu merasa membuatku terpaksa bermain piano karenamu. Kumohon kau selalu mengingatku disana, karena nanti kita pasti akan bertemu lagi diatas sana. Dan pada saat itu tiba, aku akan membawa serta keluarga-masa-depanku dan juga Gongchan. Kau tau? Dia masih setia denganmu, dia bahkan tak ingin melirik gadis lain yang aku rasa lebih cantik darimu. Hei hei, aku tau saat membaca ini kau akan menatapku dengan tatapan ingin membunuh, tapi tenang, seperti yang kukatakan tadi Gongchan masih setia denganmu. Namun dengan begitu juga kau harus bertanggung jawab total terhadapnya, kali ini aku serius. Ah ya, hampir saja aku lupa. Jotwins dan Donghyun kirim salam padamu. Pasti kau akan tertawa sangat puas jika kau melihat wajah mereka ketika kuceritakan tentangmu lima tahun lalu. Dan lagi-lagi kumohon kau tenang saja, aku tidak menceritakan masalah guru Han itu terhadap mereka ataupun orang lain, itu masih menjadi rahasia kita berdua. Well, sudahlah. Aku yakin kau tak mau membicarakan tentang guru Han lagi bukan? Kalau begitu aku harus segera berhenti menulis. Lagipula aku harus segera membakar surat ini dan berharap semoga asapnya mencapaimu dan menyampaikan apa yang kutulis ini padamu, dan setelah itu aku harus naik keatas panggung dan tampil untuk menghibur semua orang termasuk diriku sendiri. Baik-baiklah disana, sampai bertemu hingga saatnya tiba.

Salam manis,

Lee Jeongmin (temanmu yang ‘sedikit’ gila –seperti katamu–)

*End*