Title       : White Dove

Length  : One-shot

Genre   : Romantic, Sad, Drama

Cast       : Lee Chaerin (CL 2NE1), Kwon Jiyong (G-Dragon Bigbang)

Disclaimer :

ADIEZ-CHAN © ALL RIGHT RESERVED
ALL PARTS OF THIS STORY IS MINE! NO OTHER AUTHORS! PLEASE DON’T STEAL, COPY AND RE-POSTING WITHOUT CONFIRM AND HOTLINK!
DON’T PLAGIARIZE!

KEEP COMMENT AND NO SILENT READERS HERE PLEASE!


___________________________________________________________

We’re a story that never gets told,a daydream that I’ll never get to hold.

 

– Prolog –

 

“Chaerin, besok kamu harus menemui lelaki yang sudah eomma jodohkan denganmu.”

Gadis yang baru saja menapakkan jejaknya di anak tangga terbawah itu tersentak, dalam sekejap dia telah mengalihkan tatapannya kepada seorang wanita paruh baya yang menatapnya tajam, “Eomma! Aku tidak—“

“Eomma tidak mau menerima kata tidak. Kamu sudah berkali-kali menolak perjodohan yang eomma tawarkan padamu. Eomma tidak mau tahu alasan kamu lagi. So, be sure you will prepare yourself.”

“Eomma…”

Belum selesai gadis itu mengungkapkan serangannya, tatapan tajam dari wanita di hadapannya sudah menghujamnya tepat di kedua manik matanya.

Gadis itu tak berkutik sedikitpun, terdiam. Dari balik sosok eomma-nya, dia bisa melihat seorang lelaki menatapnya dengan pandangan shock, diikuti dengan rasa terluka, hancur. Gadis itu bisa merasakannya, karena hal yang sama kini telah merasuk di dalam relungnya. Namun keduanya membatu pada tempatnya, tak mampu berbuat apapun.

“Nee, eomma,” ucapnya lemah, akhirnya. Gadis itu kemudian melenggang menjauhi wanita tersebut.

“Kamu mau ke mana?”

“Villa. Aku ingin menenangkan diriku.” Sebelum eomma-nya bisa membuka bibirnya, dia melanjutkan, “Besok aku akan datang. Eomma tenang saja.” Pandangannya kemudian beralih pada sosok lelaki yang sejak tadi mematung dan menatap semua kejadian di hadapannya, “Kwon Jiyong, kamu yang menyetir. Aku malas.”

“Nee, agasshi.”

***

 

The hardest part of dreaming about someone you love is having to wake up.

 

Angin malam itu berhembus kencang, memasuki celah-celah jendela yang tak terkunci dengan benar. Hening, hanya terdengar tetes-tetes hujan yang beradu dengan genting bangunan. Menyisakan suara rintik yang mencoba menenangkan gelapnya malam. Samar terasa bau khas tanah yang menyegarkan, dan terkadang menyakitkan.

Sosok yang membeku di balik kaca itu menggosok-gosokkan kedua telapak tangan mungilnya, mengharapkan kehangatan yang mungkin bisa terpancar dari balik kulitnya. Sepertinya sweater yang membalut tubuhnya yang mungil tak mampu melindunginya dari menusuknya udara yang masuk melalui sela-sela rajutannya. Kedua mata kucingnya menatap taman vila yang hanya berwarna abu itu dengan pandangan menerawang, seakan jiwanya tak lagi menetap pada raganya. Sesaat kemudian, tangannya menggenggam kalung yang melingkar indah di leher jenjangnya, meraba tiap teksturnya. Dan satu tetes kristal bening berhasil melarikan diri dari mata tipisnya.

“Agasshi, bila kamu terus di sana, kamu bisa sakit…” seseorang berbicara padanya dengan nada memohon dari depan pintu kamarnya.

“Biar saja,” balasnya dingin tanpa mengalihkan tatapannya. Tak ada emosi yang terpancar dari suaranya, namun cara seperti itulah yang seolah mampu membunuhmu. Tangannya kemudian bergerak menghapus tetesan yang durhaka atas dirinya.

“Agasshi… jebal…”

“Di sini bukan di rumah. Kamu tahu kan aku tidak suka kamu panggil seperti itu.”

Seseorang tersebut mendekat ke arahnya dengan ketukan kaki yang konstan, menawarkan sebuah cangkir berisi minuman dengan asap harum yang mengepul. Senyum khasnya kemudian mengembang, “Nee, Rin-nie…”

Chaerin, nama sosok tersebut, menaikkan kedua sudut bibirnya dan menatap lembut lelaki di hadapannya. Tangannya perlahan meraih cangkir minuman tersebut dan menikmati aroma yang tercium darinya. “Humm… coklat hangat? Gomawo, Jiyong oppa…”

“Tidurlah, ini sudah larut. Besok kamu ada acara penting, kan?”

“Aku tidak ingin tidur.”

Lelaki di hadapan Chaerin itu menghela nafas pelan, menyerah. Gadis itu tak akan mau mengalah dan menuruti ucapannya, Jiyong tahu itu. Atau lebih tepatnya, dia terlalu mengenalnya. “Oke oke. Kamu duduk saja di sofa, aku akan mengambilkan selimut untukmu. Udara malam ini terlalu dingin.”

“Nee.”

Jiyong berbalik meninggalkan Chaerin sejenak, menghilang dari daun pintu. Gadis itu menatap punggung lelaki itu dengan tatapan nanar. Dia menggigit bibir bawahnya pelan, seolah menahan rasa sakit yang tak tertahankan di dadanya. Ketika bayangan lelaki itu akhirnya tak tertangkap oleh matanya, dia berjalan menuju sofa di tengah ruangan tersebut.

Kembali pikirannya melayang jauh dari raganya berada. Perlahan, tanpa dia sadari bulir-bulir air mata mengalir perlahan dari sudur matanya. Betapa orang tersebut begitu baik terhadapnya.

Dan betapa dia… sungguh mencintai lelaki itu.

 

Dan di sinilah mereka, di atas sofa yang menghadap jendela penuh tetesan hujan dan berembun, berpelukan tanpa jarak. Seolah tak terpisahkan. Namun hanya ‘seolah’, karena pada akhirnya, mereka tahu apa yang akan mereka hadapi.

Perpisahan.

“Aku tak ingin berpisah, oppa…” ucapnya lirih, di sela kehangatan dii balik kehangatan seorang Jiyong. Bulir air mata yang sejak tadi menggenang, jatuh satu demi satu, membuat anak sungai di pipi halusnya.

“Begitu juga denganku, Rin-nie…”

Chaerin berbalik dan menatap Jiyong penuh harap. Nada suaranya begitu tenang, namun dia masih bisa merasakan ada gelegak sarat emosi di sana, “Aku akan menolak perjodohan ini, oppa. Aku tidak mau berpisah denganmu. Ayolah, oppa… Jangan menyerah begitu saja…”

Jiyong terdiam. Perlahan dia menggigit bibir bawahnya. Dia ingin, namun tak mampu. “Kamu tak bisa menolak setiap perjodohan Nyonya Besar tawarkan padamu.”

“Aku tidak mau!!” balasnya histeris. Satu tetes akhirnya berhasil menuruni pipinya, lagi.

“Kamu akan kehabisan alasan, Rin-nie. Begitu juga denganku.”

 

***

 

Twelve years ago…

“Oppa… kamu di mana?” seorang gadis kecil mulai terisak seraya terus berlari di sekeliling taman kediamannya yang megah.

“Aku di sini, Rin-nie…” seorang lelaki melambaikan tangannya dari tengah taman sambil berteriak kepadanya.

Seketika satu senyuman bahagia mulai merambat di bibir gadis itu. Dia berlari menuju si lelaki dan memeluknya dari belakang. “Oppa sedang apa?”

“Membuat ini.” Lelaki itu menunjukkan hiasan kepala dari bunga liar yang tumbuh di taman itu, kemudian dia meletakkannya di atas kepala gadis itu, diantara rambut lurusnya yang tergerai. “Neomu yeppundae.”

“Uwaaa… gomawoo…” gadis itu tertawa girang, berdiri dan memainkan peran seorang putri di hadapan lelaki kecil itu. Dan kemudian satu seringai puas muncul dari kedua sudut bibir lelaki itu.”

“Chaerin!” seorang wanita paruh baya mendekat, membuat keduanya sontak terdiam.

“Eomma?”

“Sudah berulang kali kan eomma katakan padamu, jangan memanggilnya ‘oppa’! dia hanya seorang anak pelayan!” tatapannya kemudian beralih pada lelaki kecil yang kini menunduk takut, “Dan kamu, Jiyong. Berani sekali kamu memanggil Chaerin hanya dengan sebutan nama?!”

“Jeongmal joseonghamnida…” ucapnya, masih dengan takut-takut.

Wanita itu kemudian pergi meninggalkan mereka yang masih menunduk, meninggalkan jejak-jejak langkah diantara rerumputan.

Chaerin kemudian beralih, menatap Jiyong yang masih tertunduk, “Oppa?”

“Agasshii, tidak seharusnya anda memanggil saya dengan sebutan itu,” ucapnya masih dengan kepala yang menghadap tanah.

“Oppa, kalau ada eomma saja aku memanggilmu dengan nama, dan kamu memanggilku dengan sebutan ‘agasshii’. Kalau tidak ada, kamu harus memanggilku ‘Chaerin’.”

Wajahnya terangkat, berani menatap gadis itu. Tatapannya seakan tak percaya, “Benarkah?”

“Nee. Yagseog, oppa…”

“Yagseog!”

 

***

 

Two years ago…

 

“Agasshi, anda tunggu di sini dulu, saya akan mengambil mobil di tempat parkir,” seorang lelaki mulai berlari meninggalkan seorang gadis yang terdiam memandang tetes-tetes hujan yang seakan tak ingin berhenti, menggenang di jalanan yang becek.

Gadis itu mengalihkan pandangannya ke arah lelaki itu cepat dan sontak tangannya bergerak, hanya mengikuti refleksnya, mencekal lengannya dengan keras, “Tidak usah. Aku ingin memandang hujan. Kita ke café di sebelah itu saja.”

“Tapi…”

“Dan sudah berulang kali, jangan panggil aku agasshi kecuali di hadapan eomma. Arasseo?”

“Nee, Chaerin-nie.”

“Good.”

 

Café itu hanya café kecil dengan kaca-kaca besar yang menampilkan embun-embun hasil dari Kristal-kristal hujan yang tak henti untuk membasahinya. Dan di meja di samping kaca-kaca itulah, dua orang manusia duduk dan menikmati coklat hangat yang masih mengepul, menyisakan aroma yang menggugah penciuman.

“Rin-nie…”

Chaerin menurunkan cangkirnya dan membalas tatapan Jiyong. Dia tak bisa mendekskripsikan arti dari pandangannya. Seduktif? Tidak juga. Berharap? Mungkin lebih tepat. Namun berharap untuk apa?

“Nde?”

“Aku sayang kamu.”

“Aku juga sayang oppa.” Chaerin tersenyum sambil meminum minuman kembali.

Jiyong meraih lengan kecil Chaerin, membuatnya kembali berhenti menikmati seduhannya, “Aku serius, Lee Chaerin. Ini bukan rasa sayang antara seorang agasshi dengan pelayannya. Ini… seperti rasa sayang seorang pria pada wanita. Aduh… kamu mengerti maksudku kan?”

Kedua mata Lee CHaerin yang tipis langsung membulat, tak mempercayai pendengarannya sendiri. “EH? Bagaimana bisa, oppa?”

“Aku tak tahu. Ini muncul begitu saja tanpa aku menyadarinya.” Dia kembali menatap dua mata kucing gadis di depannya dengan pandangan menuntut, seolah harapan tak cukup lagi membendungnya. Perasaan itu telah menjadi sebuah obsesi. “Jadi, bagaimana, Lee Chaerin?”

“Oke.”

“Hah? Apanya yang oke?”

“Oke. Bagaimana kalau aku mau? Aku juga menyayangimu, Jiyong oppa.”

Kini, giliran Jiyong yang terhenyak. Benarkan pendengarannya ini bekerja? Benarkah seorang Lee Chaerin mau menerima seorang buttler sepertinya? Jika ini merupakan mimpi, jangan bangunkan dia. Karena semuanya terlalu sulit untuk sekedar dicerna. “Kamu juga… Bagaimana bisa?”

Chaerin hanya mengedikkan kedua bahunya. “Entahlah. Mungkin sama seperti rasa itu bekerja untukmu.”

“Jadi mulai sekarang kita…”

“Yepp.”

Perlahan jarak mereka mulai mengabur, dan satu kecupan hadir di dahi seorang Lee Chaerin dari seorang buttler bernama Kwon Jiyong. Diantara keduanya, ada satu kelegaan yang memenuhi ruang dada mereka.

Dan begitulah semua perjalanan ini dimulai. Dan dimulai dari hari itulah mereka menyatukan rasa. Menjalani semua rasa tersiksa tanpa keluhan, karena merakalah yang memilih jalan tersebut. Cinta mereka memang bukan cinta terlarang, namun tetap saja cinta mereka adalah cinta yang tidak bagaimana mestinya.

Mereka belajar untuk beradaptasi dengan segala rintangan yang harus mereka lalui. Chaerin maupun Jiyong, sudah cukup puas dengan pertemuan-pertemuan rahasia mereka, dengan hanya sekedar memandang dari kejauhan seolah tak peduli, mencuri pelukan, ataupun kecupan selamat malam ketika Chaerin akan menemui bunga mimpinya.

Mereka sudah cukup puas dengan semua itu. Dan tak sedikitpun mengharap untuk lebih dari itu.

***

Make your wish. Now believe in it. With all your heart.

 

Di balik pelukan kekasihnya, Chaerin meraba kembali liontin di kalung yang melingkar di lehernya. Satu-satunya pemberian dari seorang Kwon Jiyong untuknya, lambang dari kesetiaan keduanya. Gadis itu mengamati setiap teksturnya. Liontin dua merpati yang saling mematuk, dan tentu saja, timeless.

“Oppa, aku ingin seperti merpati.”

“Humm? Kenapa?”

“Kamu tahu, kan. Merpati itu simbol kesetiaan, mereka tidak pernah berganti pasangan. Mereka akan setia pada pasangannya hingga ajal menemui mereka. Bahkan ketika salah satunya mati, pasangannya akan terus memandangi jasadnya, mematuk-matuk seolah tak ingin berpisah. Tak mau memakan apapun, hingga pada akhirnya, pasangannya tersebut akan ikut meninggal menyusulnya. Bukankah hal itu hebat? Aku pikir, betapa besar cinta mereka.”

“Nee.” Jiyong hanya menjawab pelan, dia tahu ke mana arah pembicaraan itu. Kedua manik matanya tak lepas dari apapun yang dilakukan gadis itu.

“Dan aku iri dengan mereka.  Mereka bisa mengungkapkan perasaannya dengan bebas. Coba perhatikan ketika sang jantan bertalu-talu memberikan pujian, sementara sang betina tertunduk malu. Aku ingin cinta kita sesimpel itu. Tidak ada batasan untuk mereka. Sedangkan kita? Harus satu kasta lah, tidak boleh dengan orang ini lah, itu lah. Aku capek!”

“Husshh… itu untuk kebaikanmu.”

“Tapi aku tahu yang baik buat aku, oppa. Kamu yang terbaik buat aku…”

Jiyong terdiam. Baginya pun begitu. Dia juga membenci batasan itu, yang membuatnya tak bisa terus menghela nafas yang sama dengan gadis yang dicintainya. Dia hanya mengurai surai-surai rambut lembut Chaerin.

Gadis itu merebahkan kepalanya di dada Jiyong seraya terus mengamati liontinnya. Tatapannya menerawang jauh entah ke mana. “Oppa, kalau aku dilahirkan kembali, aku ingin jadi merpati yang bulunya putih bersih.”

Seketika Jiyong tersentak, bola matanya membulat menatap gadis itu dengan pandangan tak percaya, “Kamu mau melakukan apa, Chaerin?! Berjanjilah padaku kamu jangan melakukan hal yang bodoh!”

Chaerin mengedikkan bahunya pelan. “Entahlah, oppa.”

“Chaerin!”

“Nee nee, oppa. Tapi berjanjilah padaku, kamu juga harus memilih menjadi merpati putih jika nanti dilahirkan kembali.”

“Kenapa—“ Jiyong tak melanjutkan pertanyaannya, terkatup oleh tatapan memohon gadisnya. “Oke oke. Aku akan memilih menjadi merpati.”

Gadis itu kembali menundukkan kepalanya menatap hujan yang masih membasahi tanah dengan egoisnya sembari tersenyum. “Oppa…”

“Nee?”

“Aku tidak usah datang ya… Oppa bawa aku pergi saja, sejauh mungkin dari tempat ini,” ucapnya tenang, namun sedikit merengek. Ada riak kecil di ujung pandangannya, dan Jiyong tak ingin melihatnya.

“Rin-nie, kita sudah membahasnya. Kamu harus datang ke tempat itu.”

“Tapi aku tidak mau.”

“Begitu juga denganku.”

“Lalu kenapa kamu tetap tidak mau?!”

“Karena kita tahu apa yang kita lakukan ini salah.”

“Lalu kenapa kita masih mengawalinya kalau kita tahu ini semua salah?! Aku tidak siap dengan kata ‘akhir’. Aku bahkan tidak pernah berpikir tentang hal ini. Aku tidak siap, dan tidak akan pernah siap. Kenapa, oppa?!!”

“Maafkan aku, Lee Chaerin. Jeongmal mianhae.”

“Please always stay by my side. Don’t  let go my hand. Jangan pergi, oppa…” isaknya.

“Aku tidak bisa, Rin-nie. Maafkan aku…” lelaki itu memeluk Chaerin lebih erat dalam pelukannya. “Aku sayang kamu… tapi aku tidak bisa. Maafkan aku…” dalam pelukan tanpa jarak itu, dia meratap dan berulang kali mengecup surai rambut gadisnya. Dan beningnya air mata mulai berebutan keluar dari kedua bola matanya. Jiyong menangis, tanpa suara.

 

***

 

Even if we break up, my heart will never change.

 

“Chaerin, bangunlah…” Jiyong mengecup ujung dahi Chaerin dengan lembut, sepenuh hati yang dia miliki. Karena hari inilah hari terakhir dia bisa memiliki wanita tersebut. Kecupan itu begitu dalam dan lama, menunjukkan betapa dia tak ingin melepas gadis itu.

Namun dia tak pernah punya pilihan lain.

Ketika gadis itu membuka kedua matanya, dia segera melepaskan kecupannya dan menjauh dari gadis itu. Dia berjalan menuju pintu tanpa memandang gadis itu sekali lagi. “Kita harus segera pulang.”

Gadis itu menatap punggung lelaki itu, untuk ke sekian kalinya dalam putaran waktu 24 jam yang tersedia untuk mereka. Dia akan merindukan punggung itu. Dia akan merindukan sosok itu. Senyum itu, mata itu, kebaikan itu, perhatian itu. Dia akan merindukan segalanya.

Betapa dia benar-benar ingin terus menghabiskan nafasnya dengan lelaki itu di sisinya. Tak bisakah dunia berpihak pada mereka?

Kali ini saja, dunia, berpihaklah pada mereka…

Chaerin beranjak dari sofanya dan menghambur memeluk Jiyong. Menyandarkan sebagian tubuhnya di punggung kokoh lelaki itu. “Stop right here before I show tears. Stop right here, before separation comes. Don’t deceive our love. Please don’t go, Kwon Jiyong…”

Kwon Ji Yong melepaskan pelukan Chaerin perlahan, dengan hati yang sudah seberat karang. Betapa pelukan itu sesungguhnya hal yang paling diinginkannya. Dia mungkin tak ingin membutuhkan apapun selain Lee Chaerin. Namun kini, dia akan kehilangan satu-satunya yang dia butuhkan. Mampukah dia?

Lelaki itu berbalik, dan kini dua pasang manik mata itu saling berhadapan, dan mereka bisa melihat betapa cinta masih betumbuh secara liar dari cahaya yang terpancar dari keduanya. “Saying farewell, how am I supposed to be well? How am I supposed to send you away while smiling? It’s hard, Chaerin. But we must do it.”

Mata yang telah memerah itu, untuk ke sekian kali, membiarkan tetesan bening jatuh meninggalkan pelupuk tempatnya menggenang, membasahi pipi dan dagunya. Gadis itu kembali menghamburkan dirinya dalam dada lelaki di hadapannya itu. “Tolong peluk aku dengan kedua tangan kamu, dengan badan kamu. Terima aku disana. Sebentar saja, Kwon Jiyong. Supaya aku ikhlas melepas kamu, menerima semua kenyataan bahwa kita tak bisa bersama.”

“Agasshi…”

Kedua tangan Jiyong akhirnya bergerak membalas pelukan gadis itu, menenggelamkannya semakin dalam di pelukannya. Dia menggigit bibir bawahnya sekali lagi, menahan air mata yang sebenarnya sudah berulang kali ingin jatuh dari matanya. Menyesali semua keadaan yang mereka hadapi. Bibirnya berbisik tanpa dia menyadarinya, “Saranghae, Lee Chaerin Agasshi…”

Dan akhirnya kristal-kristal jernih itu turun dari masing-masing pelupuk mata keduanya.

 

***

It is painful. It seems II still can’t move on without you. Like an idiot.

 

Kwon Jiyong memarkir mobil yang selalu dia kendarai untuk mengantar jemput sang agasshi itu jauh dari tempatnya berdiri. Entah mengapa, dia ingin berjalan jauh. Mungkin untuk menjernihkan isi pikirannya, mencoba menerima segala kejadian, menghadapi konsekuensi dari pilihan yang dia pilih.

Dia mungkin bisa menjalani sisa harinya tanpa Agasshi bernama Lee Chaerin. Mungkin.

Tangannya mengangkat botol mineral yang sejak tadi dibawanya dan menatap jalanan yang ramai oleh lalu lalang mobil. Kemana lagi dia harus menghabiskan waktunya sebelum menjemput sang Agasshi dari tempat perjodohannya?

Agasshi bilang, dia tidak ingin diantar ke tempat perjodohan, tapi ingin dijemput.  Agasshi bilang, Jiyong harus pergi dari hadapannya, atau dia tak bisa pergi ke tempat perjodohannya. Agasshi bilang, “Selamat tinggal, Kwon Jiyong…”

Dan dia menuruti semuanya. Dia selalu berusaha patuh pada keinginan sang Agasshi. Terlebih karena hatinya telah menjadi milik sang Agasshi. Hingga mungkin hanya kata kematian yang mampu menghentikan obsesinya pada gadis itu.

“Hhhh… Selamat tinggal, Lee Chaerin Agasshi…”

 

Hello hello..~~

Kwon Jiyong refleks merogoh sakunya dan mencari-cari ponselnya yang berdering nyaring. Tangannya menekan tombol hijau di ponsel itu. Belum sempat dia menjawabnya, orang di seberang telepon sudah berteriak nyaring, “JIYONG! Segera ke rumah, sekarang!!”

Kakinya dengan segera melangkah melewati jalan raya tanpa melihat sekeliling. Jantungnya dengan cepat berdetum, ada firasat buruk yang kini sedang menghantuinya. “In Na-ssi? Ada masalah apa?!”

Wanita bernama In Na yang menjabat menjadi kepala pelayan itu semakin histeris, sesekali dia terdengar menarik nafas dengan tergesa. Nada suaranya Nampak frustasi, sesekali ada isak tangis di sela keheningan yang terselip. “Chaerin… bunuh diri. Dia tidak bisa tertolong lagi.”

“Apa?! Bagaima—” ucapannya terpotong ketika dia melihat sebuah mobil melintas ke arahnya dengan kecepatan yang belum sempat dia perhitungkan.

BRAAAKK!!

Dia telah terhempas ke jalan sebelum dia menyadari segalanya.

 

***

 

– Epilog –

 

Seekor merpati putih terbang di atas kerumunan orang yang mengerubungi sebuah jenazah lelaki yang baru saja tertabrak mobil. Merpati itu mengepakkan sayapnya, menikmati langit kebiruan yang membebaskannya dari rasa terhimpit. Dia berhenti ketika akhirnya sampai di hadapan seekor merpati yang lain, yang hinggap dengan manis di tepi genting bangunan. Mata mereka saling menatap secara seduktif. Pancaran cinta itu tak pernah hilang, atau lebih tepatnya, tak akan pernah hilang.

“Kamu lama sekali? Aku menunggumu…”

“Maaf…”

“No problem. Aku suka menunggumu.”

Sepasang merpati seputih salju saling menempelkan kepala mereka, berbagi cinta yang tak pernah bisa mereka ungkapkan pada dunia.

“I love you, Mrs. Kwon Chaerin.”

“I love you too, Mr. Kwon Jiyong.”

Keduanya kemudian meninggalkan genting dan saling berputar menuju hamparan langit. Sesaat kemudian, mereka menghilang dari pandangan manusia.

 

We’re a story that never gets told, a daydream that I’ll never get to hold.