Author : Bee
Main Cast : Go Miho, Eunhyuk
Support Cast : Leeteuk,
Cameo : Ji Sangryeol, Suju member
Rating : AAbK
Genre : Romance
1st published @ http://wp.me/p1rQNR-6z

^^^

Eunhyuk menatap gerbang rumah Miho dengan kesal. Dia sudah berdiri di sana selama hampir satu jam. Keluar masuk mobilnya berkali-kali. Ingin membunyikan bel tapi selalu tidak jadi. Sebab ini sudah jam 2 malam. Dia baru saja mengantarkan kakaknya pulang. Sepanjang jalan dia mendapat cerita yang mengejutkan dari kakaknya.
Ingatannya kembali pada kejadian saat dia sampai di asrama tadi. Belum sempat dia memasuki rumah, kakaknya sudah keluar. Wanita itu sudah siap pulang dan tidak bersedia menunggu lagi. Di mobil, awalnya Sora mengomel karena Eunhyuk tiba-tiba menghilang. Mereka semua baru sadar bahwa Eunhyuk tidak ada ketika Miho hendak berpamitan pulang.
“Bicara tentang Miho,” Sora mulai menyebut-nyebut makhluk yang membuat hati Eunhyuk tak karuan itu. “Kalian benar-benar bodoh ya. Masa ga bisa ngebedain yang mana laki-laki yang mana perempuan?”
Eunhyuk menoleh cepat pada kakaknya. Bagaimana kakaknya bisa tahu kalau Miho itu laki-laki? Apa anak-anak yang menceritakannya? Aish, seharusnya memang mereka tidak membeli soju tadi. Omongan mereka jadi tidak bisa dikontrol. Apa kakaknya akan melarang dia berteman dengan Miho sekarang?
“Itu…” Eunhyuk terbata.
Tapi Sora tidak memperhatikan, dia terus bicara, “Masa sampai harus tahu siklus datang bulannya dulu baru kalian sadar dia perempuan?! Bener-bener deh kalian ini. Kayaknya insting laki-laki kalian udah tumpul ya?”
“Eh? Datang bulan?” Eunhyuk kaget.
Sora menepuk dahinya. “Kamu itu kemana sih tadi? Jangan-jangan kamu juga ga sadar ya kalau Miho itu perempuan?”
Eunhyuk benar-benar terkejut sekarang. “Apa maksud Noona?”
Sora lalu menceritakan kejadian dengan Ryeowook tadi. Eunhyuk mendengarkan cerita kakaknya. Awalnya dengan penasaran, lalu lama-lama tercengang. Menurut kakaknya, Leeteuk sengaja ingin mengerjai yang lain. Mengetahui hal itu, tiba-tiba perasaan marah Eunhyuk berkobar-kobar. Leeteuk sengaja menyembunyikannya! Fakta bahwa Miho perempuan! Pantas saja dia terlihat enjoy ‘menjalin hubungan’ dengan Rubah itu.
Dan Miho! Apa pula wanita itu?! Teganya dia menyembunyikan semua itu dari dirinya? Sebegitu puasnyakah mempermainkan perasaan orang?! Menyenangkan sekalikah berpura-pura? Apakah hanya Eunhyuk yang merasa bahwa berpura-pura itu melelahkan?
Jadi apa artinya selama ini Eunhyuk menahan diri? Berusaha sekuat tenaga mengabaikan ketertarikannya terhadap Miho? Hanya untuk memberi kesempatan kepada kedua orang itu kah? Hanya agar mereka lebih leluasa berhubungan kah?!
Pemikiran itu menohoknya. Apakah Leeteuk Hyung dan Miho benar-benar berhubungan? Apakah mereka berdua benar-benar berpacaran? Itukah sebabnya Miho baik-baik saja ketika Leeteuk menciumnya tadi? Pemikiran bahwa Miho marah padanya di teater karena sudah memeluk wanita itu lebih disebabkan karena perasaan bersalah wanita itu pada Leeteuk, membuat Eunhyuk benar-benar marah. Jadi selama ini dia hanya menjadi orang bodoh yang tidak realistis.
Haha! Kalau Miho sampai tahu perasaannya, pasti saat ini dia sudah sedang ditertawakan oleh wanita itu. Ditertawakan dengan hina, pikirnya miris.
Kembali ke saat sekarang, Eunhyuk menatap pagar rumah Miho dengan perasaan tak tergambarkan. Baiklah kalau wanita itu memang tidak menganggapnya cukup penting untuk diberi tahu mengenai jati dirinya yang sebenarnya. Dia mengeluarkan ponselnya, lalu mengetik pesan.
“Jadi kau wanita, eh? Hahaha! Aku tertipu! Kau dan Leeteuk Hyung sukses besar. Maaf, mulai besok aku sibuk. Jadi silakan saja kau minta Leeteuk Hyung mengantarmu pergi setiap hari.”
Terkirim.
Lalu Eunhyuk menyesal. Kenapa dia berkata begitu? Bukankah Miho tidak pernah memintanya mengantar? Bukankah selama ini dia mendekati Miho atas inisiatifnya sendiri? Kata-katanya tadi bernada seolah Miho memanfaatkannya. Padahal itu tidak benar. Dialah yang memanfaatkan status Miho dan Leeteuk untuk mendekatinya.
Dengan perasaan kalah, sedih dan kesal Eunhyuk memasuki mobilnya, membawanya pergi dari tempat itu. Dia berjanji mulai saat ini tidak akan lagi memikirkan Miho. Biar dia membunuh perasaannya, mumpung belum terlalu berkembang.
Benarkah demikian? Lalu kenapa hatinya justru lebih terasa sakit sekarang, begitu tahu bahwa Miho dan Leeteuk bisa jadi adalah pasangan yang sebenarnya?

^^^

Pagi itu, Miho memakai sepatunya dengan perasaan tak jelas. Ibunya mengamati dari belakang dan berulang kali melihat ke arah pintu. Akhirnya beliau bertanya juga, “Apa Eunhyuk sedang show lagi, Miho? Dia tidak mengantarmu hari ini?”
Miho berkonsentrasi pada sepatunya. Dia berpikir bahwa Eunhyuk pasti tidak mau lagi bertemu dengannya setelah kemarin dia meneriakinya seperti itu. Mungkin pria itu sekarang ketakutan menghadapi Miho yang ternyata mudah sekali histeris. Meski tidak mau mengakuinya, Miho merasa sedih dan kehilangan. Biasanya pagi-pagi cowok itu sudah mengiriminya pesan yang memberi tahu jam berapa dia akan datang menjemput. Tapi pagi ini tidak ada sms sama sekali.
Miho merogoh tasnya, lalu menggigit bibir. Ponselnya mati. Pantas saja. Tadi malam dia mematikannya untuk dicharge.
“Aku ga tau, Eomma.” Miho menjawab pertanyaan ibunya sambil menyalakan ponselnya. Sebetik harapan muncul. Bahwa Eunhyuk akan menjemputnya pagi ini. Bahwa dia akan menemui senyumnya lagi di luar gerbang. Bahwa Eunhyuk akan kembali bersikap biasa dan sabar padanya seperti sebelum-sebelumnya.
Harapannya semakin melambung ketika dia menerima satu sms.
Lalu dia terhempas jauh ke dasar bumi. Sms itu memang dari Eunhyuk. Tapi isinya bernada marah. Dan sepertinya dia tidak akan lagi merasakan suntikan semangat pagi dari pria itu. Dia menelan ludahnya. Sekuat tenaga dikontrolnya suara, memberi keterangan pada ibunya. “Dia ada jadwal pagi, Eomma.” Miho menoleh dan memberi senyuman pada ibunya, “Aku pergi dulu ya?”
Ibu Miho menerima kecupan putrinya di kedua pipi. Mulutnya berujar khawatir, “Pakai taksi saja kalau begitu.”
“Aku bisa telat kalau harus menunggu taksi datang. Ga apa-apa kok Eomma. Sudah ga ada yang jahat kok. Aku bisa sendiri. Ga enak kan setiap saat harus ngerepotin Eunhyuk?” ujar anaknya sambil membenarkan letak tas di bahunya.
Tanpa menunggu jawaban dari sang ibu, Miho keluar dari pintu depan, lalu di gerbang dia melambai pada ibunya. Begitu gerbang menutup di belakangnya, Miho tercenung. Entah kenapa dia mengharapkan mobil Eunhyuk ada di sana, lengkap dengan pemiliknya yang memberikan cengiran tolol manis.
Tapi jalanan itu kosong. Tak ada apapun di sana. Miho menunduk. Tertatap olehnya sepatu santai berwarna keabuan yang dibelikan Eunhyuk pada hari dimana dia dipinjami sepatu kets oleh cowok itu. Hari itu rutinitas mereka dimulai. Hari itu, dia mulai menjalin persahabatan yang sebenarnya dengan seorang Eunhyuk. Ah, salah. Dengan Lee Hyukjae.
Cowok menyenangkan yang lucu dan sabar. Lelaki yang setia mendengarkan keegoisannya. Memberinya kekuatan di pagi hari dan mengantarnya tidur dengan pesan-pesan akrab. Membuatnya nyaman dengan tingkahnya yang spontan. Sosok yang petakilan tapi sanggup memberinya ketenangan kapanpun Miho berada di dekatnya. Bahkan saat pria itu sedang di luar negeri, tak sekalipun dia membiarkan Miho kesepian dengan selalu mengirimkan pesan-pesan asyik.
Miho menyadarinya sekarang, bahwa Eunhyuk telah jadi bagian dari hidupnya. Selama ini dia hanya menikmatinya tanpa berpikir sedikitpun bahwa suatu saat hal itu bisa berakhir. Berakhir akibat kesalahan yang tidak disadari telah dilakukannya.
Tak sekalipun ada niatnya untuk membuat Eunhyuk merasa dibohongi. Tapi tak pernah sekalipun selama mereka berteman, Eunhyuk memperlakukannya seperti dia bukan wanita. Panggilan Mihyung dari Eunhyuk selalu terdengar menyenangkan di telinga Miho, maka dia sudah menganggapnya sangat wajar. Tak terpikir olehnya bahwa selama itu Eunhyuk benar-benar menganggapnya laki-laki. Eotteohke?
Pandangan Miho mengabur dan tiba-tiba saja setetes air mata membasahi ujung sepatunya. Apakah dia menangis? Mengapa dia menangis? Miho terpekur menatap ujung sepatunya. Berusaha mencari alasan mengapa perasaannya begitu sakit dan air matanya tak bisa dihentikan.

^^^

Ibu Miho menatap pintu gerbang yang menutup. Hatinya bagai genderang yang ditabuh sekuatnya. Cemas luar biasa. Hal yang selalu terjadi kalau Miho berangkat sendiri.
Kurang lebih sebulan yang lalu, perwakilan dari SME meneleponnya, bahkan kemudian mendatangi rumahnya, untuk meminta ijinnya agar Miho dibolehkan menjadi pacar Leeteuk. Mereka memberinya gambaran besar apa yang sedang terjadi. Wanita itu mendengarkan sambil membayangkan wajah anaknya yang beberapa kali pulang dengan lesu dan tubuh terluka. Kadang Miho sangat kotor dan acak-acakan, dan itu karena diserang beberapa orang. Dia benar-benar cemas ketika itu.
Lalu orang-orang itu mengatakan bahwa dengan ‘meresmikan’ hubungan Leeteuk dan Miho, mereka akan memberikan pengawalan pada Miho selama masih ada orang-orang yang tidak terima. Awalnya ibu Miho ragu, tapi ketika semakin hari Miho semakin sering pulang dengan tubuh tak karuan, wanita itu akhirnya memaksa anaknya untuk menjalin hubungan dengan Leeteuk.
Miho menolak mentah-mentah permintaannya, tapi dia terus memaksa anaknya itu. Bahkan dia berlagak sakit karena cemas. Suaminya mendukungnya, bahkan ikut bicara pada Miho untuk menuruti permintaan mereka. Bukan hal yang mudah karena Miho sepertinya tidak bergeming. Sampai akhirnya suatu malam, Miho pulang dengan kondisi paling buruk yang pernah dilihatnya.
Malam itu tidak ada kepura-puraan lagi. Begitu menasihati anaknya sekali lagi agar menerima usul SME, dia terjatuh lemas akibat kecemasan yang sangat besar. Dia sebenarnya tidak ingin Miho melihatnya, tapi rupanya hal itu justru berhasil mengubah keteguhan pendirian Miho. Sambil menangisi sakitnya, putrinya yang cantik itu akhirnya mengiyakan untuk menjalani peran sebagai pacar Leeteuk untuk beberapa waktu.
Sejak itu, selama beberapa hari Miho selalu ditemani oleh orang lain suruhan SME ketika pergi, dan beberapa hari setelahnya, Eunhyuk mulai muncul dan menjadi pengawal tetap Miho. Ibu Miho tahu siapa Eunhyuk dan heran kenapa justru Eunhyuk yang muncul, bukannya Leeteuk. Tapi keheranannya tidak pernah terlontar keluar.
Belakangan ini Eunhyuk sepertinya sedang sangat sibuk, jadi Miho terpaksa pergi sendiri. Biasanya Miho menggunakan taksi, tapi kali ini anaknya itu hendak naik bus. Bagaimana ini? Semoga tidak terjadi apa-apa. Ah, tapi mungkin tidak ada salahnya kalau dia menelepon Leeteuk. Toh Miho pernah memberi tahu nomor pria itu beberapa waktu lalu ketika dia memaksa memintanya.

^^^

“Yoboseyo?” Leeteuk mengangkat teleponnya.
“Yoboseyo? Leeteuk ssi?” dia mendengar suara seorang wanita.
“Ne. Maaf ini siapa?” tanyanya berhati-hati. Nomor ini tidak dikenalnya. Tadi sudah coba diabaikannya, tapi nomor yang sama terus-menerus menelepon sejak pagi. Setelah diperhatikan, itu ternyata nomor rumah.
“Ini, ibunya Go Miho.”
Leeteuk terdiam. Begitu juga wanita itu. Selama tiga detik yang aneh keduanya tidak tahu harus bicara apa.
Lalu Leeteuk bisa menguasai diri. “Oh, annyeonghasimnikka, Eommonim.”
Ibu Miho menjawab basa-basi juga. Lalu dia berkata bahwa sudah dari tadi dia mencoba menelepon, tapi tidak diangkat-angkat. Dengan tidak enak Leeteuk mengatakan bahwa dia sedang shooting dari tadi dan tidak memegang ponsel. Tidak mungkin kan dia berkata bahwa dia sengaja menghindari telepon asing? Ini ibu Miho!
Lalu percakapan segera berubah menjadi serius ketika ibu Miho mengingatkan Leeteuk mengenai janji SME yang hendak mengawal Miho. Janji yang tidak pernah diketahuinya. Dia menjadi sangat terkejut mendengar itu. Dia pikir selama ini Miho mau berpura-pura menjadi pasangannya karena berhasil terpengaruh oleh bujukan SME. Tidak pernah terlintas dalam pikirannya SME sampai mengiming-imingi keluarga Miho segala. Tapi Leeteuk memutuskan menyimpan perasaannya untuk nanti, saat bertemu manajernya untuk meminta penjelasan.
Ternyata keterkejutannya tidak sampai di situ. Ibu Miho menyebut-nyebut Eunhyuk yang wanita itu bilang “menjadi sangat sibuk belakangan ini jadi tidak bisa mengantar-jemput Miho lagi”. Eunhyuk mengantar-jemput Miho selama ini? Wah, itu berita menarik, pikir Leeteuk sambil mulai merasa tidak enak membayangkan kedekatan dongsaengnya itu dengan Miho. Tapi lagi-lagi ditekannya perasaan itu. Hal itu bisa menunggu.
Sebelum menutup telepon, ibu Miho sekali lagi mengingatkan ‘janji’ SME akan pengawalan Miho. Dari nada suaranya Leeteuk bisa mendeteksi kekhawatiran yang tidak dibuat-buat, sehingga hatinya langsung merasa ikut khawatir. Dia berusaha menenangkan dan memberi janjinya untuk membicarakan hal ini dengan manajeman.
Setelah mereka saling mengucapkan salam perpisahan, Leeteuk mengedarkan pandangannya, dan begitu menemukan sosok manajernya, dia berjalan mendekati pria itu dengan langkah pasti. Manajer Hyung punya beberapa hal yang harus dijelaskannya, kata Leeteuk dalam hati.

^^^

Miho memandang keji pada pria di hadapannya. Pria yang dipandang itu balik menatapnya dengan kengerian tak terperi. Mulutnya yang dibungkam dengan sehelai kain kotor bergetar menahan waswas. Air matanya meleleh. Miho benar-benar menakutkan.
Di tangan wanita itu terdapat sebilah pisau tumpul. Perlahan dia mendekat sambil menyeringai pada pria tadi. Pria itu menggeleng-geleng kacau. Miho menjilat pisaunya di depan mata pria itu. Salah satu sisinya menoreh bibir, lalu Miho berlagak menjilat darah yang seharusnya keluar dengan nikmat. Dia kemudian berjongkok dan mengelus kemaluan pria yang disanderanya.
Pria itu terpecah antara awal ereksi dan ketakutan yang mencekam. Miho membisikkan kata-kata mengerikan yang diucapkan dengan manis. Pria itu tersengal-sengal lalu menegang ketika Miho menebaskan pisaunya ke arah kemaluannya yang sudah setengah tegang.
“AAAKH!” terdengar pekikan pelan.
“CUT!” Ji Sangryeol berseru kesal. “Jogiyo! Kalau mau berisik di luar saja!” teriaknya pada orang yang menjerit itu.
Orang yang menjerit itu, yang tak lain adalah Leeteuk, segera bangkit dan menunduk-nunduk memohon maaf dengan malu. Tangannya memegangi pusat selangkangannya. Keringat dingin terbit di tengkuknya.
Lalu dia duduk lagi di bangkunya dengan gelisah. Ini sudah pukul 7 malam, dan dia sudah 30 menit berada di bangku penonton, menunggu Miho selesai latihan. Sambil menunggu begitu, tanpa sadar dia terbawa oleh akting para pemain di depan sana. Apalagi ketika giliran Miho muncul, Leeteuk seolah dibawa ke sebuah dunia kelam yang penuh kebencian untuk membalas dendam. Miho di sana benar-benar tidak terlihat seperti Miho.
Dari tempatnya di atas panggung, Miho tidak bisa mengenali satu-satunya penonton mereka itu. Tapi keberadaan pria itu mengingatkannya akan Eunhyuk. Biasanya, kalau Eunhyuk punya waktu menonton latihannya, pria itu akan duduk diam tanpa suara. Tidak mengganggu, tapi Miho tahu matanya terus mengawasi. Lalu saat Miho menepi, tidak beradegan, matanya akan bersirobok dengan Eunhyuk dan cowok itu akan nyengir padanya memberi semangat.
Tidak lagi, sekarang. Sudahlah, pikir Miho murung. Satu-satunya cara agar sakitnya tidak terlalu terasa adalah dengan menjadi Sangji, wanita dalam drama ini yang terobsesi menyunat lalu membunuh pria-pria yang menurut penilaiannya sendiri dapat menjadi pelaku perkosaan gadis-gadis tak bersalah. Wanita psikopat yang diperankan olehnya.
Satu jam kemudian latihan selesai dan Leeteuk merasa tubuhnya digoncang oleh seseorang. Begitu membuka mata, dia menyadari dengan malu bahwa dia ketiduran. Saking ngerinya tingkah Miho di atas panggung, dia terpaksa menutup matanya agar tidak melihat adegan demi adegan yang sadis. Tapi ternyata dia kebablasan. Bukannya menutup mata saja, dia malah ketiduran. Orang yang membangunkan Leeteuk terdengar geli ketika Leeteuk meminta maaf, mengatakan bahwa latihan sudah selesai, lalu beranjak pergi.
Leeteuk mencegahnya. Dia menanyai orang itu dimana Miho sebab melalui pandangan sekilas dia tidak bisa menemukan wanita itu. Orang itu menunjuk suatu sudut di depan panggung yang agak gelap dimana terdapat dua orang sedang bercakap-cakap. “Dia di sana,” katanya lalu mengajak Leeteuk mengikutinya untuk diantarkan pada Miho.
Di depan panggung, dimana lampu-lampu bersinar lebih terang, orang itu menoleh hendak mengatakan sesuatu pada Leeteuk dan langsung salah tingkah. Dia mengenali Leeteuk. Tanpa bisa berkata-kata karena tidak mengira melihat Leeteuk, dia menunjuk tempat Miho berdiri. Leeteuk mengucapkan terima kasih pada orang itu dan beranjak menghampiri Miho.
Miho belum menyadari kehadiran Leeteuk. Wanita itu tampak serius sekali dengan diskusinya. Leeteuk senang bisa melihat Miho saat ini. Rambutnya terangkat ke atas, keringat berleleran di tengkuknya, dan pandangan matanya begitu fokus. Wanita itu sangat cantik, bahkan ketika hanya mengenakan baju latihan seperti sekarang.
Miho mengangguk-angguk lalu merasa ada yang mengamatinya. Matanya bergerak mencari siapa yang sedang menatapnya dan ketika melihat Leeteuk di sana, dia terkejut, “Oppa…”
Leeteuk tersenyum. “Miho-ya!” sapanya riang.
Miho menatap Leeteuk, lalu Donggun yang sedang berdiri di depannya. Orang itu sedang menatap Leeteuk dengan datar. Miho tidak bisa menebak penilaiannya. Dengan cepat dia berkata, “Donggun ssi, ini—”
“Super Junior Leeteuk. Siapa yang tak kenal?” kata Donggun memutus ucapan Miho. Tangannya terulur ke arah Leeteuk dan tiba-tiba wajahnya menyeringai hingga tampak tolol. “Saya Lee Donggun.”
Leeteuk menyambut uluran tangan orang itu dan ikut tersenyum lebar. “Annyeonghaseyo, Leeteuk imnida.”
“Oppa ngapain ke sini?” Miho masih belum pulih dari kagetnya.
“Aku menjemputmu,” jawab Leeteuk santai.
“Emang Oppa ga ada kegiatan?”
“Udah selesai.”
Miho manggut-manggut. “Eotteohke, aku masih harus berdiskusi dan ganti baju. Mungkin masih lama,”
“Ga papa, aku tungguin,” Leeteuk menjawab ringan. Lalu dia melanjutkan, “Aku tunggu di sini ga papa kan?” tanyanya sambil menunjuk sebuah bangku di deretan depan.
Miho mengangguk-angguk. “Ne. Sebentar ya Oppa,” katanya.
“O,” Leeteuk menjawabnya. Lalu Miho kembali meneruskan diskusinya. 15 menit kemudian Donggun berpamitan dan Miho mengantar kepergiannya. Begitu kembali, dia terkejut melihat Leeteuk sudah dikerubuti teman-temannya. Dia tersenyum. Pemandangan ini sama seperti saat Eunhyuk pertama menonton latihannya dulu.
Lalu senyumnya hilang. Tapi ini Leeteuk. Sudahlah, jangan memikirkan Eunhyuk lagi.
Miho mengambil tasnya tanpa terlihat oleh Leeteuk dan segera menuju ruang ganti. Di sana dia membersihkan diri dan berganti baju dengan cepat. Ketika dia kembali ke depan panggung, Leeteuk masih mengobrol dengan beberapa temannya. Pria itu tampak terkejut melihat Miho sudah berganti pakaian. Dia mengambil tas Miho dari bahunya, kemudian berkata, “Oh, kamu sudah berganti baju?”
Miho tersenyum lalu mengangguk.
“Kita pulang sekarang?” tanya pria itu lagi.
“Oke,” jawab Miho pelan. Kemudian setelah berpamitan pada semua orang termasuk Sajangnim, mereka berdua meninggalkan tempat itu menuju sebuah mobil van yang terparkir tak jauh dari gedung teater.
Ketika memasuki mobil itu, ternyata di dalamnya sudah ada salah satu asisten yang sering menemani Leeteuk. Dialah yang menyupir.
“Kamu capek?” tanya Leeteuk memulai percakapan.
Miho menyunggingkan senyum sekilas. “Yah, lumayan,” jawabnya.
“Laper ga? Gimana kalau kita makan dulu?” tawar Leeteuk.
“Hehehe, Oppa yang traktir?”
“Eissh, kamu ini. Geurae! Aku yang traktir!” Leeteuk pura-pura sewot sambil mengacak rambut Miho.
Miho manyun lucu. “Jangan marah dong… Aku kan lagi menghemat buat ngajakin makan dongsaeng-dongsaengmu!” protesnya tidak sungguh-sungguh. Ya, akibat menyembunyikan status gendernya, member Suju mendaulat Miho dan Leeteuk harus mentraktir semua orang makan. Miho sebenarnya ingin menolak, tapi tidak bisa. Akhirnya dia hanya mengatakan bahwa dia akan mentraktir semuanya saat sudah mendapat gaji pertama. Begitulah kesepakatan mereka.
Mereka lalu mampir makan di sebuah café yang cukup cozy pilihan Leeteuk. Saat mereka turun dan memasuki café tersebut, orang-orang memperhatikan. Di dalam, orang-orang itu mulai memotret dan memanggil-manggil keduanya. Ini bukan pertama kalinya untuk Miho, meskipun ini pertama kalinya dia melakukannya tanpa persiapan. Leeteuk sendiri tampak biasa saja dengan semua itu. Dia terlihat ramah dengan semua orang dan menjaga Miho dengan baik. Sikap Leeteuk yang santai dan tenang menghadapi orang-orang membuat Miho bisa menikmati makan malamnya dengan tenang tanpa sedikit pun merasa terganggu meskipun dikelilingi tatapan-tatapan mata penasaran.
“Suka?” Leeteuk bertanya pada Miho.
Miho mengangguk. Makanannya memang enak. Yang salah adalah lidahnya. Dia sedang tidak selera makan. “Enak kok,” katanya menjaga perasaan Leeteuk.
“Kamu keliatannya capek banget,” Leeteuk menyuap makanannya sendiri.
Miho tersenyum. “Yah, peranku berat. Menguras emosi.”
Leeteuk mengambil serbet kertas di sebelah piring Miho lalu mengelap ujung mulutnya yang terkena saus. “Kamu bercanda ya? Peranmu mengerikan!” Pria itu mencondongkan badan ke depan lalu berkata dengan nada rahasia, “Waktu kamu mau motong ‘anu’, aku ngerasa kayak jadi korbannya!”
Lalu pria itu segera menjauhi Miho sambil bergidik.
Miho mencengkeram garpu di tangannya. Lalu matanya menatap Leeteuk tajam. Karena Leeteuk tidak sedang memperhatikannya, dia menggebrak meja pelan dengan ujung garpunya. Brak!
Leeteuk terkejut dan melihat ke arah Miho. Makin kaget ketika dilihatnya Miho sedang menatapnya dengan ekspresi haus darah yang tadi dilihatnya di panggung. “Waa!” serunya kaget. “Geumanhae!” protesnya.
Melihat ekspresi Leeteuk, Miho tertawa lepas. “Ahaha! Kau penakut, Oppa! Itu kan cuman akting. Eunhyuk aja berani lho!”
Leeteuk menyembunyikan senyuman masamnya. “Jadi Eunhyuk sering ngeliat kamu latihan?”
Miho mengangguk sambil tersenyum lebar. “Dia duduk di sana sambil diam. Ngeliatiiin, kayak orang ga pernah nonton teater. Terus kalau aku noleh, dia langsung nyengir. Kayak orang tolol. Haha, kadang aku ngerasa dia bodoh banget,” dengan bersemangat Miho bercerita tentang Eunhyuk.
Hati Leeteuk mencelos melihatnya. “Kok bisa dia jadi sering nganter kamu?” sengaja Leeteuk tidak menceritakan bahwa dia baru saja tahu Eunhyuk sering mengantar Miho. Firasatnya mengatakan Miho tidak tahu mengenai hal itu.
“Lah, bukannya Oppa yang suruh? Dia bilang begitu,” Miho menatap Leeteuk keheranan.
Ternyata benar dugaan Leeteuk. Eunhyuk berbohong. Kira-kira apalagi yang sudah disembunyikan anak itu? Dan kenapa? Dia tersenyum pada Miho, “Mungkin ya, aku lupa. Aku suka lupa kalau sudah minta tolong sama orang. Hehe…”
Miho merasa ada yang tidak tepat dengan jawaban Leeteuk, tapi dia tidak tahu apa, dan tidak berminat mencari tahu. Dia tidak ingin bingung-bingung malam ini. “Ah, Oppa tau ga? Kadang-kadang Eunhyuk juga suka ketiduran lho waktu nonton latihanku, kayak Oppa tadi,” Miho tersenyum mengingat Eunhyuk yang kadang tertidur di pojokan ruang latihan. Kalau sudah seperti itu, biasanya Miho tidak membangunkan cowok itu sampai dia bangun sendiri meskipun latihan sudah usai.
Leeteuk ingin protes karena malu sudah ketahuan ketiduran, tapi dia melihat pandangan mata Miho yang menerawang, jadi dia mengurungkan niatnya, siapa tahu wanita itu masih ingin melanjutkan bicaranya. Benar saja, Miho melanjutkan seperti sedang bicara pada dirinya sendiri, “Saat seperti itu aku jadi ngerasa bersalah sama dia. Soalnya dia keliatan capek banget, tapi masih nungguin aku latihan.”
Miho menyuap makanannya lagi. Dia tertawa kecil, “Dasar anak itu, biasanya kalau dia kebangun pas latihan udah selesai, dia protes, bilang kenapa dia ga dibangunin. Bilang yang lehernya sakit lah, punggungnya jadi kaku lah, ujung-ujungnya dia cuman mau minta ditraktir ddokpogi.”
Leeteuk merasa makin susah mengunyah. Kenapa raut wajah Miho begitu?
“Dia itu jahil banget ya, orangnya? Kadang-kadang dia ngumpetin HP aku, terus balik-balik, ringtone-nya udah ganti. Aku kan jadi bingung. Suka motret-motret muka sendiri terus wallpaperku diganti pake muka dia. Haha, kayak yang ganteng aja,” tawa Miho garing. Tenggorokannya serasa tercekat, tapi dia melanjutkan, “Dia terus-terusan manggil aku Mihyang-Mihyung-Mihyang-Mihyung… Aku sampai terbiasa dan lupa kalau dia masih mikir aku ini laki-laki.”
Miho mengangkat wajahnya. Matanya jernih dan bening. Tapi ketika dia bicara pada Leeteuk, suaranya agak goyah, “Dia marah padaku karena membohonginya.”
Akhirnya Leeteuk meletakkan sendoknya. Entah kenapa dia merasa Miho terasa jauh malam ini. Wanita itu terlihat rapuh tapi Leeteuk tidak bisa melakukan apa-apa untuk mendukungnya. “Maaf,” hanya itu yang bisa dikatakannya.
Miho tersenyum, “Bukan salah Oppa aja kok. Aku juga ga pernah ngasih tahu dia.”
Kenapa Leeteuk merasa seperti seorang kakak yang sedang mendengarkan curhatan adiknya tentang pertengkaran dengan pacarnya? Jujur saja, Leeteuk tidak suka perasaan ini. “Kamu kangen sama Eunhyuk?” mulut Leeteuk melontarkan pertanyaan yang mengkhianati perasaannya. Sebenarnya dia tidak ingin tahu, tapi mulutnya sudah terlanjur berkata begitu tanpa persetujuan dari otaknya.
Miho meminum jus apelnya. “Kangen? Kan kemaren baru ketemu,” jawabnya sambil menatap mata Leeteuk yakin. Terlalu yakin. Orang yang sudah mengenal Miho pasti tahu bahwa itu sikapnya jika sedang berbohong. Ya Tuhan, aku memang kangen pada Eunhyuk, pikir Miho terkejut dengan perasaan yang baru disadarinya.
Hari ini berlalu tanpa senyum Eunhyuk. Tanpa sapaan darinya. Tanpa sms. Dan sepertinya tidak akan berakhir dengan elusan sayang cowok itu di kepalanya. Padahal Miho sudah sangat menantikan berbagi hari lagi dengan Eunhyuk sejak saat cowok itu pergi ke Taiwan. Sekarang begitu dia sudah kembali, kenyataan menghalanginya menikmati hari dengan Eunhyuk. Bahkan saat Euncha menjauhinya, rasanya tidak sesepi ini.
“Aaah, makanannya porsi besar nih! Aku sampai kekenyangan!” Miho berseru dengan kesenangan palsu.
Leeteuk tidak merasakan kepalsuan Miho. Dia sedang sibuk mengatasi kegalauannya sendiri. Ada rasa tidak rela menyusup di hatinya saat sadar bahwa Miho begitu memikirkan Eunhyuk. Meski kepikiran, Leeteuk langsung membuang pemikiran itu jauh-jauh, yaitu bahwa kemungkinan Miho menyukai Eunhyuk. Saat ini belum ada kepastian yang mengarah ke sana, tapi Leeteuk bertekad tidak mau menyerah begitu saja. Sejak tahu bahwa Miho seorang wanita, dia sudah tertarik padanya. Kalau Eunhyuk juga menyukai Miho, maka dongsaengnya itu harus mengantri.
Akhirnya makan malam mereka berakhir dengan diam. Masing-masing sibuk dengan pemikirannya sendiri.
Malam itu Leeteuk mengantar Miho pulang dan menungguinya masuk gerbang setelah mengatakan bahwa besok dia bisa menjemput Miho pulang lagi, tapi tidak bisa mengantarnya di pagi hari, dan kemungkinan makan malam juga tidak sempat.
Miho berusaha mencegah Leeteuk menjemputnya, sebab bagaimanapun juga kegiatan Leeteuk sangat banyak. Dia tidak ingin membuat pria itu pontang-panting mengatur jadwal hanya untuk menjemputnya. Tapi Leeteuk mengatakan dia tidak pontang-panting, dia akan baik-baik saja.
Miho menatap Leeteuk lama sebelum akhirnya melontarkan pertanyaan, “Kenapa tiba-tiba Oppa mau menjemputku?”
Leeteuk mendongak mencari kata-kata yang tepat. Dia ingin mengatakan bahwa dia melakukan itu karena menganggap Miho pacarnya, tapi merasa suasananya tidak tepat. Bahkan kalaupun nanti dia berkata bahwa itu hanya candaan, dia yakin Miho tidak akan menganggapnya lucu. Jadi, dia hanya berkata, “Karena kepengin.”
Miho tidak puas, tapi dia terlalu malas untuk mendesak Leeteuk, jadi dia memutuskan untuk meloloskannya saja malam ini. “Baiklah. Kalau begitu aku masuk dulu, Oppa. Hati-hati di jalan,” pesannya pada Leeteuk.
“Oke,” jawab Leeteuk.
Dan malam itu pun berakhir. Leeteuk terangguk-angguk dalam mobilnya sambil memikirkan Miho. Miho merangkak naik ke kasurnya sambil merindukan Eunhyuk.

^^^

Malam itu menjadi awal rutinitas Miho yang baru. Paginya dia berangkat sendiri. Kadang naik taksi, tapi lebih sering naik bus karena dia ingin menghemat. Di jalanan tidak ada lagi yang menyerangnya, tapi dia sekarang sering menjadi pusat perhatian. Orang-orang mengenalinya.
Malam harinya, Leeteuk menjemput Miho. Setelah seminggu, pria itu sudah hapal jalan cerita drama yang akan dipentaskan oleh Miho dan teaternya, sehingga seringkali dia membawa pekerjaannya sendiri ke dalam gedung pertunjukan. Kalau dirasanya terlalu gelap, dia akan keluar ruangan yang memiliki penerangan menyeluruh.
Mereka berinteraksi dengan baik. Miho merasa aman setiap kali pulang, dan Leeteuk merasa tenang karena sudah mengantar Miho setiap malam.
Dalam seminggu itu, Leeteuk sempat mengajak Miho main ke asramanya ketika latihan libur. Dia hendak mengajak Miho menemaninya shooting, tapi mampir dulu sebentar di asrama. Di sana Miho bertemu dengan member lainnya termasuk Eunhyuk. Mereka berkomunikasi seperti biasa. Leeteuk mengamati bahwa antara Miho dan Eunhyuk tidak nampak berbeda dalam bersikap. Meskipun Miho mengatakan bahwa Eunhyuk masih marah padanya, Leeteuk tidak bisa mendeteksi adanya sikap di luar kewajaran yang ditunjukkan Eunhyuk. Demikian juga dengan Miho.
Leeteuk jadi bingung. Apakah ketidakrelaan di hatinya harus dipertahankan? Sepertinya kedua orang itu tidak menunjukkan sinyal ke arah hubungan romantis. Lantas, Leeteuk harus waspada pada apa? Ah, entahlah. Mungkin yang penting dia berusaha saja mendekati Miho, tidak usah mempedulikan Eunhyuk.
Malam ini, sudah 8 hari Leeteuk menjemput Miho pulang. Dia terpaksa menunggu Miho di mobilnya karena dia butuh berkonsentrasi menghapalkan naskah untuk siaran malam ini. Ketika jamnya sudah menunjukkan pukul 7:50, dia bergegas mengemasi kertas-kertasnya dan menyeberangi jalan, lalu dengan santai memasuki gedung teater.
Di dalam ruang pertunjukan, dia langsung menuju deretan bangku di depan. Dengan santai dia menunggu saat-saat Miho mengakhiri latihannya. Ketika akhirnya latihan itu benar-benar berakhir, Leeteuk menegakkan duduknya.
Pukul 8.30, Miho sudah berganti pakaian dan berjalan mendekati Leeteuk. “Kita pulang sekarang?” tanya Leeteuk sambil melirik arlojinya.
Miho mengiyakan dan mereka melangkah bersama keluar gedung. Sebelum menaiki mobil, Leeteuk mengatakan sesuatu hingga membuat Miho tertawa keras. Wanita itu menepuk pundak Leeteuk manja dan Leeteuk merangkul bahunya lembut dalam upaya menyuruhnya memasuki mobil. Pintu mobil pun menutup dan tidak lama kemudian kendaraan itu sudah berderum meninggalkan gedung teater.
Juga meninggalkan seorang pria yang memandangi kepergian mereka dengan sorot mata marah, terluka, sedih dan kesal di bawah bayang-bayang pintu gedung teater.

-cut-