Title: 「Vandalize」 ~2 of 2~

Author: Dead SWORDMASTER

Cast[s]:

-Kohara Kazamasa/Shou [Alice Nine]

-Amano Shinji/Tora [Alice Nine]

-Sakamoto Takashi/Saga [Alice Nine]

-Cho Kyuhyun [Super Junior] as Evan Kirchev

-Lenna Kirchev (original)

-Choi Sooyoung [SNSD]

-Agatha Nikoladze (original)

-Omi [Exist✝Trace]

-IV [ViViD]

-Shyena [V-last]

Genre: action, dark, bit drama

Rating: 15+

Length: 5.177 words

Disclaimer: daku tak memiliki apapun disini selain ide dan plotnya dan tentunya Shou, Tora, dan IV selain hal-hal tersebut lepas tangan deh (-_-‘)

Warning: Segala senjata dan perlengkapan yang digunakan disini BERBAHAYA. Seluruh aksi berbahaya dilakukan oleh stunt[?] yang sudah terlatih dan berpengalaman, dilarang mencoba tanpa pengawasan ahli #penting/gagpenting[?]

Poster credit: DheeAKTF @ dheeaktf.wordpress.com [terimakasih banyak, kakak n_n]

Tanda “+++” menandakan harinya sudah tidak sama.

「Vandalize」 © SWORDMASTER 2011

 

 

 

Catherine’s Palace, Tsarkoye Selo, Pushkin

PINTU masuk Hall of Light terbuka lebar ketika waktu tepat menunjukkan pukul sembilan lewat empatpuluh lima menit waktu setempat. Dua penjaga berpakaian formal namun sopan dan ramah mengapit masing-masing di depan daun pintu terbuka dan dua orang lain yang nampak seperti bodyguard di samping.

Ruang megah lokasi paling prestisius di St. Petersburg tak kosong melompong tanpa pengunjung saat itu. Sebagian kecil undangan tengah berdiri menunggu di muka sebelum penjaga membuka jalan masuk, dan langsung menempatkan diri meski sebersit ketidakpuasan muncul di hati mereka lantaran harus menunggu untuk kesekian kali lagi.

Sekolah Elit St. Aleksandrov telah menjadi pelanggan tetap yang setiap setahun sekali menyewa tempat tersebut untuk melepas siswa-siswi mereka yang lulus tahun itu. Tapi tahun ini berbeda, sebab pihak sekolah tak lagi menggelar pesta dansa biasa yang hanya dihadiri murid secara individual, melainkan sebuah masquerade ball besar yang dihadiri pula oleh segenap staf dan undangan diwajibkan membawa pasangan masing-masing.

Tora baru saja meninggalkan Torino merah kebanggaannya, berjalan beriringan bersama Omi selepas menjemputnya dari Gorokhov dan setengah jam penuh menahan tawa selama perjalanan. Wanita itu tampak seperti vampir; rambut putih panjang tertusuk tangkai perak, bibir merah menyala berlapis lipgloss berkilau dan gaun hitam bergaya gothic lengkap dengan sarung tangan sepanjang siku. Menarik pinggangnya, Tora berbisik,

You look like a cosplayer in a graduation ball.”

Omi menantang tatapan tajam Tora, “You had invited me, boy.

Mendenguskan tawa, Tora menunjukkan kartu undangan pada penjaga di sisi-sisi pintu menuju Hall of Light, sebelum melenggang masuk dan bertemu murid-murid yang hampir samasekali tidak familiar baginya. Omi bergerak mengobservasi, Tora membawanya ke salah satu sudut dekat meja besar menyangga berbagai jenis minuman beralkohol.

Tiba-tiba Tora mendekap tubuh itu, menyeringai penuh percaya diri,

So you really brought your weapons, huh?

 

___

 

GAUN putih susu membungkus tubuh perempuan di sebelah Evan—tunangannya—yang menggoyangkan tubuh perlahan saat duduk, menikmati gesekan violin dan denting piano di sekujur ruangan Hall of Light dengan seksama, bahkan nyaris tak memperhatikannya. Kulit putih bersemburat cokelat tipis dan rambut hitam panjang dibiarkan tergerai. Aksesoris dan make-up sederhana mempertahankan wajah cantiknya ditengah sifat tak acuh. Agatha dan Evan datang terlalu awal saat masih sangat sepi, dan mereka tak melakukan hal lain selain duduk dan minum, melihat pasangan-pasangan lebih muda datang dengan semangat lebih membara. Wajar, masa kejayaan Evan sebagai Murid Nomor Satu telah lama berlalu, digantikan lelaki visual-kei pewaris harta ratusan juta Euro itu…

…yang disukai oleh adiknya, Lenna, dan yang paling tidak ia sukai.

“Nikol, kau mau sesuatu?”

Evan bertanya, namun Agatha hanya menggelengkan kepala tanda tak mau. Kedatangannya kemari, selain karena diundang, adalah karena ia ingin menghindarkan Lenna dari Shou. Bukan apa-apa alasannya. Semata sebab ia tahu, Lenna terlalu berharga baginya…

Tapi ia menyesal memasrahkan Lenna pada Saga begitu ia melihat wajah itu.

“IV?”

 

___

 

SOOYOUNG bersandar di pintu Enzo Ferrari merah milik Shou pribadi, menunggunya keluar. Ketika sosok yang ia tunggu melewatinya tanpa menaruh minat, ia terpaksa mengambil inisiatif menggamit salah satu lengannya dan bersisian melangkah memasuki bangunan istana agar tak tampak aneh.

Shou merunduk pada setiap orang menatapnya, hingga memasuki ruang besar Hall of Light pun ia masih tersenyum, tapi bukan untuk Sooyoung. Meski Sooyoung tak bisa menahan kekagumannya pada penampilan Shou malam ini (luar biasa, menurutnya), ia tetap kesulitan mendapat perhatian sebesar apapun ia memperhatikan lelaki itu.

Namun tanpa diketahui satu sama lain, mereka menyimpan tujuan khusus.

Ketuk stilleto Sooyoung memasuki ruang bernuansa keemasan dengan ratusan bahkan ribuan lilin tersusun di kandelar-kandelar tergantung. Jalinan pita perak tertempel di dinding beserta rangkaian-rangkaian mawar putih. Sejumlah orang mengerumuni meja-meja, mengambil anggur atau sekedar mengamati makanan ringan diatasnya, sedang sebagian lain mulai menari dengan berbagai bentuk gaun serta topeng.

Shou membawa matanya beredar diantara ratusan murid beserta pasangan mereka, mencari, sekaligus ingin membuktikan analisisnya karena pergelaran masquerade ball ini merupakan sarana yang sangat menjanjikan untuk berbuat kejahatan. Entah sekedar kejahilan kecil macam anak-anak muda, sampai kejahatan kelas atas seperti… pembunuhan.

Sooyoung baru saja menarik tubuhnya untuk berdansa ketika sadar gadis itu belum datang.

 

___

 

PENUNJUK waktu menandakan mereka terlambat lebih dari tigapuluh menit. Ketika mereka masuk, keseluruhan hadirin telah memasang topeng mereka, beberapa berdansa atau terang-terangan mencium dan memeluk mesra pasangan masing-masing, larut sepenuhnya dalam atmosfer membara.

Sebenarnya Lenna dan Saga tak berniat ikut berdansa, bahkan mereka berjalan di jalur masing-masing seperti tak saling kenal. Setiap orang tahu skandal yang diperbuat Saga dengan sejumlah gadis (Lenna hanya seorang korban diantara belasan lain yang benar-benar jatuh cinta). Lenna, dengan gaun velvet merah terang tanpa tali, rambut terlampau halus diurai bebas dan sepatu hak tinggi tujuh senti, mengalun di lantai dansa sendirian. Sedang Saga entah dimana. Topeng emas berhias bulu-bulu panjang semerah darah menyembunyikan kebingungan di wajah. Seiring ia bergerak pelan ditengah kerumunan, ia merasa ada sesuatu yang tak beres ditengah riuh rendah pesta.

 

DEG!

Lenna meraba lehernya dan menengok ke belakang. Seketika ia membeku di tempat; mata itu…

Dia bersandar di sudut ruang, keseluruhan memakai baju hitam dan topeng hijau zamrud berlapis bubuhan tinta perak dan serbuk perak asli sebagai aksen sulur. Rambut hitam pekat diacak sedemikian rupa. Sepasang mata hitam kelam sedingin es menyorotnya tajam tanpa ampun, dan Lenna tak sanggup menghindari tatapan itu. Ya, dia menatapnya, benar-benar lurus di matanya.

 

Menjepit leher red wine glass kristal ber-carving warna perak, dia menenggak habis cairan kehitaman chianti dan memberi Lenna isyarat untuk mendekat. Lenna menurut, bergerak pelan mendekati sosok tersebut.

Lelaki itu mengulurkan tangan. Lenna menyambutnya dengan senang hati dan melayaninya berdansa tanpa sedikitpun merasa curiga. Bagaimana lelaki itu memperlakukannya sungguh membuat Lenna lupa dan seolah kehilangan kendali akan dirinya, sesaat.

Terus bergerak di lantai dansa, Lenna samasekali tak menduga bahwa ia bisa berada sedekat ini dengan pasangan tarinya, ketika lelaki itu mengendus wajahnya dengan ujung hidung dan mengecup kelopak mata kiri. Lenna memejam mata, tahu pasti pipinya sudah jauh lebih merah dari sebelumnya. Lelaki itu berbisik dengan hembusan bernada halus,

You’re such a virtuoso…

Kemudian menariknya dan melepas pegangan tiba-tiba, membiarkan Lenna berputar sendirian sedang dia berjalan menjauh, perlahan menghilang ditengah lautan murid dan adegan-adegan yang semakin ‘panas’.

 

___

 

PESTA semakin menjadi-jadi seiring kebosanannya merambat, duduk sendirian ditemani segelas anggur putih terbaik di dunia sedang pasangan-pasangan disana berdansa tanpa henti. Ia sengaja memisahkan diri dari pasangan yang ia bawa kemari walau ia sadar betul wanita itu tanggung jawabnya hari ini. Dan kalau sampai sesuatu terjadi padanya, ia bisa mendapat hukuman sepadan dengan vonis mati.

Saga merapikan atasan tuksedo hitamnya yang agak kusut, memperhatikan sosok-sosok di dekatnya… dan salah satunya adalah Sooyoung.

Ia mengernyitkan dahi. Sooyoung mendekatinya sendirian sambil memainkan ujung rambut pendek, tampak netral dengan riasan tipis natural dan gaun krem selutut, duduk di kursi sebelah Saga.

“Aku kehilangan Shou…”

“Kau ini mabuk, ya?”

Melihat semburat kemerahan di pipi Sooyoung, tak ragu lagi, gadis itu pasti sudah menenggak beberapa gelas anggur. Jemarinya yang lancip bermain-main di bibir gelas Saga, kepala menyandar di bahu dan bergerak seolah ingin mencium kulitnya,

“Aku kesepian. Kau pintar memperlakukan wanita, bukan?”

Sooyoung memalingkan wajah Saga padanya, memancarkan sinar menggoda dari mata—hanya untuk terkikik dan segera bangkit untuk pergi.

“Bercanda. Aku akan mencari Shou, nikmati saja pestanya.”

“Nikmati?”

Sooyoung berjalan anggun menuju kerumunan, membentuk seringai sinis di wajah.

Saga baru saja merasakan dua teguk chardonnay saat sekujur tubuhnya terserang sakit luar biasa.

 

___

 

LENNA menghentikan larinya mendengar teriakan keras itu begitu memekakkan telinga. Secepat kilat, para siswa berhamburan kesana-kemari, beberapa diantaranya sempat ia tanyai dan semua menjawab singkat,

Pembunuhan.

Mendadak tubuhnya limbung dan terjatuh. Ia melihat tubuh kakaknya berdiri tegak sambil merentang tangan kiri, menggenggam sebilah pisau dalam posisi terbalik, melindunginya. Tegas Evan berkata,

“Tetap di dekatku.”

Evan melempar pisau itu ke udara, menangkapnya kembali dalam posisi benar dan langsung mengayunkannya ke samping. Tepat sasaran, tanpa menggores apapun, bilah berkilat pisau baja terpancang kuat di jantung sang pelempar sebenarnya, dan Evan menarik tangan Lenna keluar Hall of Light.

“Apa yang terjadi?!”

The ‘real’ party had started, baby. I’m so sorry to place you in such a dangerous place like this.

 

___

 

SHOU mencari-cari keberadaan Sooyoung ditengah keributan tiba-tiba terjadi. Sesuai dugaan, masquerade ball ini bukanlah suatu acara yang aman. Ia sadar, ia bertanggung jawab pada keselamatan gadis itu, namun mereka terpisah.

Sesuatu yang dingin menyentuh pelipisnya, tepat ketika ia menangkap orang-orang berjas hitam lengkap berlari menyebar ke setiap penjuru.

Nice to meet you, Monsieur Kazamasa.

Shou tersenyum ramah, meliriknya sekilas, sebelum menarik topengnya lepas dan tanpa ragu mencengkeram pergelangan si lelaki asing. Sekuat tenaga ia hantamkan sisi depan tubuhnya ke lutut, menggunakan tangan kiri untuk memiting kepala lelaki itu dan memuntir punggungnya hingga terdengar suara ‘klik’ dan Shou tersenyum puas.

Ia menyaksikan lelaki itu menggelepar di lantai setelah jalinan tulang belakangnya ia lepaskan. Kesulitan bernapas dan bergerak-gerak liar sambil memegang lehernya, tak lama berselang lelaki itu mati lemas kekurangan oksigen.

Nice to meet you too, fool.

Shou meninggalkan korban pertamanya dan berlari menyongsong seseorang di sudut lain ruangan.

 

___

 

TERIAKAN panik membuat kewaspadaannya tersulut, ketika Tora menegakkan kepala dan menjelajahi setiap tempat yang mampu dia jangkau, lalu memandangnya lurus dengan aksen yang ia hafal diluar kepala,

Let’s go.

Tora berdiri lebih dulu, mencabut dua Beretta M92FS silver dari belakang, memberi satu pada Omi. Gadis sangar itu bangkit kemudian, bergerak berlawanan arah dengan pasangannya dan menghambur ke kerumunan siswa tanpa ragu.

Sementara Omi menyelesaikan urusannya, Tora duduk kembali ditempat, menilai situasi sebelum benar-benar bertindak. Namun belum jadi segalanya terang, Tora telah merasa dirinya dibidik dari dua tempat berbeda.

Ia menyadari sebuah posisi yang menguntungkan.

Tora meraba bagian bawah punggungnya sekali lagi. Meletakkan handgun-nya diatas meja perlahan ketika menemukannya, ia segera mengayunkan tangan, secepat kilat meluncurkan bilah wakizashi ke kanan atas.

Wakizashi menusuk mata kanan pembidik pertama tanpa suara. Senjata berupa pistol semi otomatis jatuh merusak susunan gelas anggur. Sedetik setelahnya, sebatang tubuh berlumur darah menyusul, dan Tora tak lagi mau membuang waktu. Ia langsung menggenggam handgun-nya lagi, menangkap pisau yang menancap sebelum tubuh itu jatuh ke lantai, meliukkan tubuh menghadap pembidik kedua di belakang, mengangkat handgun

Dor!

Tora menyeringai senang. Ujung lengan tuksedo barunya ia gunakan untuk mengelap wakizashi yang ternoda oleh bau anyir dan darah serta lendir keruh menjijikkan, sebelum memasukkannya kembali ke dalam sarung hitam berhias lilitan merah menyala dan menyelipkannya ke sabuk.

Namun kesenangan itu hanya bertahan kurang dari sepuluh detik. Ketika ia menyaksikan sebuah wakizashi lain memutus rantai kandelar tepat diatas kepalanya, saat itu juga Tora menyadari bahwa kerusuhan ini bukan perihal main-main.

Ini sudah menjadi gaya’nya’ sejak dulu.

Tujuannya memutus rantai bukan untuk menghabisi Tora, melainkan mengurungnya diantara jilatan api diatas lantai aula raksasa, dan supaya mereka bisa saling melihat satu sama lain di jarak yang lebih masuk jangkauan. Dan benar dugaannya, figur manis anak kecil berbalut jubah cokelat kumal itu memang ‘dia’, tak salah lagi.

 

___

 

OMI menjejak leher orang ketiga yang ditemuinya sebagai lawan, terus menekan tumit sepatu hingga bunyi renyah tanda hak tinggi sepatu berhasil melubangi saluran pernapasan dan darah segar meleleh dari mulut. Ia membuang Beretta kehabisan amunisi, bergerak memunggungi para korban.

Where is him?

Ia mendapatkan orang yang dicarinya. Memisahkan jalinan tulang belakang bagian atas adalah cara efektif dan mudah untuk menghalau masuknya oksigen dalam paru-paru sehingga lawan akan kesulitan bernapas dan akhirnya mati—melalui proses yang sangat menyakitkan.

Omi tahu Shou tidak bodoh. Lelaki itu tidak akan protes hanya karena ia melayani satu penantang lagi.

Datang dari belakang sambil menghunus pedang, kehadirannya sangat mudah diendus bahkan meski dia datang tanpa menimbulkan suara. Melukis senyum tipis, Omi mencabut tusuk konde perak murni dan berbalik cepat menancapkan benda itu di lambung, menariknya keatas, merobek hingga remuk organ-organ vital dan segenap rusuk.

Ia segera menghampiri Shou yang berlari ke arahnya. Sembari berjalan cepat, ia meraih bagian depan atasan gaunnya yang penuh renda dan pita-pita, merobek lapisan itu sampai bawah dan menampakkan bagian dalam gaun berupa kain katun hitam ketat, membuangnya asal. Ternyata dibalik desain gothic ala vampir itu ia menyimpan persediaan senjata. Serenceng pisau pipih dan ramping terikat sabuk hitam, ia melemparnya pada Shou yang sudah mengacungkan tangan sejak tadi.

Enjoy your party, kid!

 

___

 

JALAN keluar satu-satunya dari aula berubah bagai medan perang itu hampir tertutup. Evan terpaksa menyeret adiknya yang tak mampu berlari cepat meski sudah tak lagi bersepatu dan bertopeng, ketika celah di pintu tinggal beberapa inci, dan ia harus mengorbankan tangan untuk menahan agar pintu tak lagi mengatup.

Mengerang keras lantaran terjepit diantara dua benda berat bertekanan kuat, Evan mengerahkan seluruh tenaga untuk memperlebar celah, disambut secara tak terduga oleh seorang membawa crossbow lengkap dengan beberapa barrel anak panah di kedua tangan.

Annyeong, Evan-ssi. Let’s play.

Penjaga di pintu telah meninggalkan lokasi, melepas pegangan pintu terbuka lebar mengarah pada lorong panjang menuju lantai dasar, sehingga walaupun pintu terbuka, mereka masih harus melewati lelaki ini sebelum bisa lari dari tempat itu.

PRAAAAAAAAANG…!!!

Bunyi kaca pecah membahana sempat mengalihkan perhatian sang pembawa crossbow dan Evan menyadari perubahan ekspresi kilat tersebut. Ia melepas Lenna, melompati lelaki itu sambil menyampar crossbow di tangannya yang langsung terjatuh jauh di lorong.

Lenna melangkah menjauhi kakaknya, mundur mendekati ambang pintu dan tersentak saat sebuah tangan mencengkeram lengannya kuat.

Sejumlah orang muncul dari koridor samping sambil menyandang Koch UMP, pertama kali dilihat Evan dari sisi kanannya dan memperhitungkan sekilas kemampuan mereka, Evan masih jauh lebih baik, setidaknya yang ia kira.

Evan bertumpu dengan kaki kanan, berputar menghantam kaki kirinya ke leher orang-orang yang baru datang sekali tendang dan dua orang—semuanya—ambruk seketika. Seseorang yang datang dari koridor satunya bersiap menembak Evan namun ia lebih dulu meraih laras senjata dan menyikut kepalanya, begitu keras hingga terdengar suara derak tulang patah dan tubuh itu jatuh menggelepar. Evan langsung meraih senjata otomatis terlempar dekat kaki, memberondong penantang tersisa.

Tak ia sadari hilangnya eksistensi Lenna dari situ.

 

___

 

LIDAH api menjilat-jilat daerah sekitar kaki Tora yang berdiri sengaja diatas serpihan kristal dan lelehan batang lilin putih. Cahaya kemerahan melapisi kulit, menari-nari di permukaan bola mata hitam tajam menatap lurus hias senyum manis tak berdosa anak kecil beberapa meter di depannya. IV menurunkan tudung sebahu. Rambut putih bersih tanpa kilau jatuh agak kaku, dua mata cerah berbinar serupa butir anggur nebbiolo menyorot senang penuh euforia.

IV melepas kain kumalnya. Sebagai seorang supplier tentu ia memiliki banyak senjata. Namun entah mengapa, malam ini, ia tak membawa banyak seperti biasa. Mungkin karena ia tahu lawannya tak terlalu suka bertarung dengan cara seperti itu.

“Kau tahu, IV, dugaanku salah, untuk pertama kalinya.”

“Aku disewa mahal.”

“Bisa kau jelaskan?”

Selama sepersekian detik IV menarik sesuatu dari sisi bawah jas formal putih dan mengarahkan mata pedang tipis sepanjang tak lebih dari empatpuluh senti di urat nadi Tora berdenyut-denyut. Senyum manisnya bertambah riang; sebelumnya tak pernah sekalipun ia mencoba menghabisi seorang senior.

Tora menyingkirkan bilah pedang pendek itu dengan wakizashi-nya, pertarungan dimulai.

Denting nyaring suara logam beradu mewarnai duel serius mereka beberapa menit sebelum IV memimpin mulainya pertarungan fisik, yang ditandai ketika ia merunduk dan menyambar kedua kaki Tora dengan kakinya dalam sebuah putaran menakjubkan. Ia tahu ia akan meleset. Tujuannya bukan untuk mengenai, hanya memberi tanda, sampai Tora menyadari apa yang ia mau.

I just wanna show you how fool the ALICEs are, Betrayer.

Tora menangkap tangan IV yang dilayangkan ke wajahnya, memelintir ke belakang dan memukul tengkuk lelaki kecil itu jatuh tersungkur keatas hamparan beling. IV bergerak cekatan meski masih terbaring, mengiris dalam kulit diatas tulang kering Tora sampai bawah lutut—kedua kaki—memaksanya berlutut sementara ia berdiri memegang kembali wakizashi-nya.

IV mengacungkan bilah pedang berkilau, memantulkan kobaran api membara di mata Tora…

 

___

 

SEBUAH proyektil melubangi dinding dekat bahu Lenna. Kembali lagi ke dalam ruangan, ia merasa sesuatu telah mengamankannya dari tembakan tersebut dan ia mendongak, melihat lelaki berambut dan bermata hitam pekat tadi tanpa topeng.

“Se-Senior Kohara…”

Shou menarik Lenna, namun belum sampai lima langkah ia berlari, Lenna menghempas tangannya dan memasang ekspresi kesal bercampur marah,

“Apa-apaan ini semua?!”

“Tidak ada waktu untuk menjelaskan.”

Shou baru berniat menarik kembali tangan itu ketika sepintas pandangan Lenna mengusiknya. Setitik air mata Lenna jatuh, membuat rasa bersalah menjadi satu-satunya ekspresi yang sanggup ditunjukkan oleh Shou saat ini.

Ia memegang kedua pundak Lenna, “Percayalah padaku, aku bukan orang jahat.”

“Tapi aku merasa seperti satu-satunya yang tidak tahu.”

“Dan kau lebih aman bersamaku daripada dengan Saga atau Evan.”

Shou tak menanti jawaban, mereka kembali melangkah cepat ke sudut dan Shou menyibak tirai tafetta keemasan dihadapan sebuah pintu menuju ruangan sebelah. Ia mengeluarkan kunci, mendengar derit ringan kayu sambil memastikan Lenna dalam genggamannya.

Gadis itu berjenggit menutup mulut. Piranti logam berserakan diatas lantai ruang sempit tersebut, sekitar sepuluh orang dengan tuksedo putih rapi bergelimpangan diatas genangan darah dan Shou memaksanya melangkahi mayat-mayat keluar ruang penyimpanan. Lenna mencoba tak memandang ke bawah meski sedikit banyak ia masih bisa melihat kerusakan tubuh serta tebaran selongsong kosong, bergantian menatap Shou—terutama penampilan barunya.

“Jangan memandangku seperti itu.”

Tak lama berselang ruang penyiksaan penuh kekacauan telah berganti dengan koridor terapit dinding putih bersih (tak sepenuhnya bersih) beralas karpet hijau zamrud. Sisi kanan mereka ditempati tujuh jasad penembak, Shou mengabaikannya terus membawa Lenna ke arah darimana mereka datang.

Namun seseorang sengaja berdiri di ujung, menodong Shou dengan Brownie. Senyum manis palsu menghiasi wajah familiar penuh rasa iba dibuat-buat.

Love wasn’t the correct reason for all of this…

 

___

 

GADIS manis itu melangkah santai menuruni tangga, menatap sekilas pantulan dirinya di sebuah cermin begitu tiba di lantai dasar. Berhenti sejenak dekat meja, ia mengeluarkan sesuatu dari dalam tas tangan mungil, membuka kotak kecil terisi penuh serbuk putih.

Ia menghirup beberapa, bernapas panjang dan menatap lurus ke dinding penuh ornamen emas.

Kokain, dan kokain lagi.

“Oh, IV, aku harus banyak berterima kasih padamu.”

Kecanduan adalah kata yang sangat tepat menggambarkan dirinya saat ini, dan berkat candunya pada obat penenang dan bius, ia mendapat pengetahuannya tentang bahan-bahan kimia…

…termasuk yang paling beracun.

Getar halus panjang terasa dalam clutchbag cokelat, ia meraih ponsel dan menerima panggilan bernada panik,

“Kita kekurangan personel dan senjata, dan aku tak bisa menghubungi IV samasekali!”

“Bagaimana dengan Shou?”

“Hilang.”

Raut wajah cantik berubah suram kemudian, sesorang di seberang telepon berteriak meminta perintah lanjutan ketika ia membuka kotak kokainnya kembali. Namun usahanya terhenti ketika seseorang membisiki telinganya dari belakang, persis seperti Shou, dulu.

“Serahkan semua padaku, I’ll definitely finish them as soon as possible, and you can enjoy the rest later…

Sooyoung menengok ke belakang, menangkap lelaki kecil berwarna rambut pirang pucat menegakkan Sniperskaya Dragunova tanpa ragu-ragu.

“Terimakasih, Shyena. Tolong bantu saudaramu juga.”

Anytime.”

 

___

 

BEGITU menyadari segala kejanggalan, Evan mencari-cari tanda kehadiran Lenna di dekatnya, tetapi nihil. Di dalam ia hanya mampu melihat sisa murid tertangkap dan siap ditembak mati sedangkan lainnya dapat dipastikan berhasil kabur atau sudah jadi mayat. Keadaan hampir sepenuhnya sepi, selain suara gemeretak kaca pecah terbakar, dan bayang sosok-sosok tak asing, rekan maupun musuh.

Ia berjalan mendekati meja tempat sebuah jenazah terbaring meringkuk di bawahnya, gelas tinggi langsing memuat sedikit genangan chardonnay rebah dekat leher.

Ia memungutnya, merekam keadaan fisik korban yang masih utuh dan sangat baik, sambil lalu nampak seperti pangeran yang tertidur. Ia bergantian menatap gelas hampir kosong,

“Tetrodoksin,” gumamnya.

Evan meninggalkan tubuh tak bernyawa Saga, berjalan lurus ke arah Omi di seberang sana. Mereka pernah ketemu sebelum ini.

Ketika mereka bertemu, Omi menyapanya dengan ekspresi sinis tak peduli, walau mereka tetap berbincang ditengah atmosfer tak menyenangkan itu.

“Tch, aku tidak mengerti.”

“Apanya?”

“Melibatkan kita dalam perburuan dengan satu terget utama? Dia jelas ingin menghabisi Shou sampai akar-akar dan rantingnya. Paling tidak kita pernah berurusan dengan Shou sebelum ini.”

“Tapi itu berarti semua orang di Aleksandrov akan terkena.”

“Dia hanya akan habisi semua yang kira-kira akan memberatkannya saat Shou sudah mati.”

“Aku tidak peduli jika Shou mati.”

“Tapi adikmu peduli.”

“Apa itu berarti kau juga peduli?”

Omi mendekat, berkata dengan nada rendah dan tempo perlahan penuh penekanan, “Aku adalah urusan pribadi. Dan sayangnya, adikmu memilih jadi pihak ketiga yang akhirnya menyeret Tora.”

“Siapa Tora?”

“Seseorang yang membunuh Hiroto. Ketahuilah, adikmu melakukan dua kesalahan. Pertama membuat Shou menyukainya, kedua mendorong Tora untuk berhianat. Terkadang seorang pembunuh bayaran menunjukkan sisi lembut asalkan seseorang memancingnya.”

“Kau pasti bercanda. Apa yang bisa dilakukan adikku?”

“Tora baru saja melawan ‘mantan’ rekan satu bosnya—aku tak tahu bagaimana itu berakhir. Dan sekarang ia menyusul Shou. Kau mau menyusulnya juga?”

“Untuk apa?”

Omi tertawa nyaring, “Evan! Tidakkah kau menyadari, kemana Tora menuju adalah dimana adikmu berada sekarang—bersama Shou! Ayo.”

Evan mengernyitkan dahi, mungkin akan mematung lama jika Omi tak menegaskan perintahnya kembali, “Aku menyuruhmu, Evan.”

 

___

 

TUBUH kurus tinggi itu terlalu akrab di mata Lenna. Bangsawan, jelas. Karena jelas butuh uang banyak agar bisa memakai ball gown seperti itu. Penampilan yang terlalu formal dan menyusahkan mengingat masquerade ball ini bukan white tie, namun akan menjadi wajar jika tujuannya adalah menyembunyikan senjata.

Shou mengeratkan kedua pegangan tangan, meyakinkan Lenna, siap menarik pisau jika sewaktu-waktu Agatha menembak.

“Tenang saja, alasan utama untuk ini semua bukan cinta.”

“Kalian memburuku demi lembaran Euro?”

“Tepat sekali. Tapi jika jujur, dendam juga termasuk.”

“Apa ada kaitannya dengan Sooyoung?”

“Aku hanya ingin membantunya mengakhiri penderitaan setelah kau menolaknya…”

“Temukan adikmu yang hilang, huh?”

Shou menyembunyikan Lenna dibalik tubuh, melangkah mengintari Agatha sambil menyeret rencengan pisau, bunyi gemerincing menggema.

You’re an excellent shooter, are you, Gunmaster? So, which one better, you or me?

Agatha menembakkan Brownie berperedam beruntun pada Shou yang membawa Lenna berlari ke ruang lebih luas. Sederet pajangan kristal pecah, Shou melempar Lenna ke sudut percabangan koridor dan merunduk untuk melempar sebatang pisau.

Missed.

Shou menyeringai, “No…

“AAAAAAAAKKKHH…!!!”

Agatha melepas Brownie-nya, memegangi lengan kiri teriris berdarah-darah akibat lemparan dari belakang. Seketika wajahnya pucat pasi melihat orang-orang itu tepat limabelas meter di belakang, di pangkal percabangan koridor lain.

“Kalian—“

BANG!

IV—bukan, seseorang yang sedikit seperti IV, berdiri membatasi antara Agatha dengan Omi dan Evan, menghadap dinding kosong. Perawakannya persis sama dengan IV, bahkan mereka sama-sama memiliki mata berbinar mirip anggur. Sniperskaya Dragunova terarah ke karpet hitam berlubang di sisi kaki Omi, tersenyum miris seolah menyalahkannya.

“Untuk kalian yang melukai saudara kembarku…” Shyena memutar leher dramatis, “…kalian tak akan kuampuni.”

Shyena bertubuh sedang, bermata suram seperti malbec dan jemarinya yang mungil itu tampak tak cocok dengan senjata api. Meski baru menembak sekali, dengan begitu senang hati ia menghempas Dragunova-nya, hampir mengenai Agatha, dan mencabut revolver serupa dari kedua pinggang,

Am I not right, if I just put a revenge of my twin on you?

“Lari.”

Evan, yang baru saja membalik arah lemparan pisau Shou, menarik lengan Omi secepat mungkin melewati koridor-koridor serupa, menghindari tembakan yang diarahkan dengan presisi mengagumkan bagi seseorang yang sedang memacu kecepatan kaki. Bukan cuma sekali mereka hampir kena.

 

___

 

AGATHA menggaruk lehernya melihat Evan begitu tidak terkejut. Apa mungkin Evan sudah tahu sejak awal?

Sadar ia terlalu lama berdiam, ia segera meraih Dragunova Shyena, berteriak marah ketika Shou tak lagi berada di tempatnya semula. Berjalan cepat ke tikungan, tak sempat ia melakukan perlawanan dan hanya menyapu sekilas wajah orang di hadapannya, Agatha jatuh menabrak dinding bagian samping; tewas seketika dengan leher patah ketika Shou menghantam lehernya dengan kaki.

Don’t call me Gunmaster.

Shou membantu Lenna bangkit di dekatnya, kembali bergerak cepat mencari jalan keluar. Namun mendadak ia berkata,

“Tunggu disini.”

“Apa—“

Lenna dilempar dalam ruang penuh perkakas sebelum Shou mengunci pintu dari luar.

Shou bersandar, lelah mengalungkan rangkaian pisau di pundak. Hanya tinggal empat buah. Ia terpejam penuh konsentrasi beberapa detik dan membuka kelopak lambat, mengambil napas…

…kemudian lari.

Mencabut dua buah, Shou menghambur dalam segerombol orang bersenjata datang ke arahnya tanpa mau menyia-nyiakan tenaga yang dimiliki. Menebas hingga putus jenjang leher, mengiris lepas tempurung kepala, merobek tanpa ampun perut dan punggung, semua dilakukan sambil lari. Sekali ia tak kuat menarik paksa senjatanya yang menancap di kepala dan terpaksa menggunakan baru, sampai tersisa satu buah saja.

Di sana, lelaki tinggi besar memenuhi koridor, mengacungkan katana di kedua tangan, sedang Shou sudah terengah waktu sosok itu mendekat. Ini bukan pertarungan sepadan.

Semakin lama sosok itu semakin cepat. Shou melangkah mundur dua langkah, sebelum membulatkan keyakinan, melesat ke arahnya.

Sekejap ia jatuhkan diri di lantai dan meluncur dibawah lelaki berpedang, tebasannya berhasil melukai bagian tulang pipi Shou namun sedikit terlambat untuk menusuk.

CRAAASHH!!!

Shou melempar pisau menembus dagu lelaki tersebut tepat sedetik sebelum berhenti. Lelaki berpedang tak terlihat melakukan gerakan. Namun tak lama berselang dia mengangkat dagu, mencabut pisau Shou penuh percaya diri, darah segar mewarnai kemeja dan jas putih tulang miliknya.

Shou bangkit dengan tertatih dan terengah, efek kejatuhan tadi membuat kakinya terkilir, dan sekarang ia (terpaksa) harus melawan lelaki hampir dua kali tubuhnya dengan tangan kosong.

Mungkin tak sepenuhnya kosong…

Not so tough, Kohara Kazamasa.

What the fuck are you?

Lelaki itu memutar-mutar pedang sejenak kemudian menebas Shou dari kiri, namun sasarannya merunduk dan berakhir dengan goresan besar dinding rusak. Shou mencekal tangan satunya, memelintir, bergerak cekatan memukul pertemuan leher dengan rahang menggunakan tangan. Pertama kanan, kiri, kemudian menghantam dagu. Bagi sebagian besar orang serangan ini tergolong mematikan, akan tetapi tidak bagi lawan Shou sekarang, bahkan ditengah posisi itu lelaki berpedang sanggup memukul balik dalam intensitas berkali lipat, menjatuhkan, lalu menendang tubuh lemas itu ke dinding.

Garis hitam retakan terlukis diatas lapisan cat putih demikian kuatnya Shou menghantam dinding. Ia jatuh telungkup begitu menyentuh lantai, memegang kepala, terbatuk sesekali dan nyaris tak mampu bergerak. Matanya silau terkena pantulan pedang terangkat tinggi siap menghabisi siapapun di bawah, lelaki berpedang menyeringai…

Sebuah Glock menyentuh tangan kirinya yang bebas.

We’re counting on you, boy…

Dalam kurang sedetik waktu tersisa, ia menggenggam Glock tersebut dua tangan, berbalik telentang menyiapkan amunisi,

Tinggal sepersekian inci sebelum mata pedang menyentuh dahinya—

DOOOOOORRR…!!!

BRAAAKKK!!!

Sepasang katana jatuh berkelonengan, disusul tubuh besar dengan lubang di kepala hampir menimpa Shou. Nun tersembunyi di balik tubuh lelaki berpedang tadi seseorang yang asing, kaki bersimbah darah pincang mendekat,

“Shyena salah sasaran.”

 

___

 

EVAN berlari mendaki dinding sambil menembakkan UMP sebelum mendarat di belakang Shyena. Omi menyiapkan pisau besar, hendak mengiris tangan saudara kembar IV itu namun Shyena lebih dulu menyepak tangannya, menjatuhkan pisau itu jauh. Shyena memukul kasar belakang kepala Omi dengan revolver sampai gadis itu pingsan.

“Tak seberapa dari yang dirasakan oleh IV!”

Evan terus memberi Shyena rentetan tembakan brutal. Lelaki kecil itu tersenyum yakin, bergerak turun sambil berputar cepat menghindari peluru. Namun tiba-tiba ia berdiri dan menyambar pelipis Evan dengan badan revolver, sesaat sebelum ia turut melayangkan lutut sekuat tenaga disana. Bunyi lecutan sabuk Shyena terdengar, Evan jatuh tersungkur.

Senyum itu memang manis, sayang langsung lenyap seketika saat melihat batang panjang hitam berputar—dilempar ke arahnya—dan ia samasekali tak siap.

KLANG!!!

Shyena terlempar, batang logam tipis berat menancap di dinding dekat lukisan Ratu Katerina bernoda cipratan darah. Tubuh itu bergerak-gerak diluar kesadaran pemiliknya, genangan merah meluncur di karpet hijau zamrud, sepasang revolver perak lepas dekat situ.

Lenna tahu Shyena masih hidup meski terkena sisi tajam benda itu di kepala. Luka berupa garis merah besar terbentuk di pipi kiri, mata anggur malbec pecah sebelah mengeluarkan lendir bening menjijikkan dan lekuk menganga tanda tulang remuk di dahi. Lenna membantu kakaknya mendekati Shyena,

“Tenanglah bersama IV, dengan ini kuakhiri rasa sakitmu.”

Evan melepas segenap sisa amunisi ke sekujur tubuh Shyena, berjumlah puluhan butir, meski gerak tak sadar lelaki itu telah berhenti di peluru kedua di dada.

Evan menatap adiknya penuh tanya setelah selesai, dijawab dengan senyum terpaksa,

“Aku menemukannya di ruang perkakas, Senior Kohara mengunciku.”

“Dia tahu bagaimana melindungimu, tapi tak tahu seberapa cerdas dirimu dalam hal kunci-mengunci.”

“Yah, tapi aku merasa lebih aman bersamanya.”

“Memang harus begitu.”

Giliran Lenna menatap kakaknya penuh tanya. Evan melanjutkan, “Ada banyak hal yang sebaiknya tidak kau ketahui, dan dengan alasan itu, aku tak bisa selalu ada di sampingmu.”

Derap langkah terdengar dari kejauhan. Lenna mengenali, Tora, beserta Shou dalam rangkulannya. Mereka sama-sama nampak buruk. Omi perlahan tersadar.

“Jadi, biar yang datang ini menjelaskan.”

Evan mengibaskan tangan, menghampiri Omi dan membawanya pergi.

“Maaf, aku tidak bisa bahasa awam.”

Tora melepas Shou, membiarkannya bertumpu di sudut sementara dirinya mengikuti Evan, masih dengan kaki tidak seimbang terkena luka robek sabetan IV. Shou menghela napas sebelum mengguncang kepalanya karena pusing, Glock tak lagi terlihat di genggaman.

Selama beberapa belas detik mereka tak bicara, Shou membersihkan luka di pipinya dan menepis debu diatas bahan jas, sesekali melirik Lenna yang menatapnya memelas terus tanpa henti.

“Kalian saling kenal dan tidak bermusuhan?”

“Seperti yang kau lihat. Apa yang kalian bicarakan di greenhouse?”

Hening, lama sekali, terlalu lama. Kemudian,

“Maafkan aku, Lenn.”

“Jika bisa, sekali ini saja, jujurlah. Siapa kau?”

Well, mungkin ini akan menjadi sedikit mengejutkan. Statusku sebagai siswa hanyalah penyamaran, dan segalanya yang terjadi saat ini… sebetulnya sudah masuk perkiraanku,” Shou menegakkan kepala, “Aku bekerja dibawah sebuah fasilitas bernama ALICE Corporation, top secret. Mungkin kau sudah tahu—suplai bahan kimia, alat-alat laboratorium, software—namun itu semua hanya kedok. Kami, yang terpilih oleh ALICE, sebagian dipekerjakan untuk membuat barang-barang tadi, sebagian lagi dilatih untuk melindungi sesuatu yang lebih rahasia dan berbahaya jika diketahui publik.”

“Tapi bukankah menjadi terkenal seperti itu justru memberatkan dirimu?”

“Terkadang. Tak ada satupun dari puluhan ribu artikel itu yang menyebut ‘Kohara Kazamasa adalah staf ALICE’, bukan? Aku dikenal karena ayahku. Selebihnya, tidak ada.”

“Baik, aku mengerti. Lanjutkan.”

“Kau masih mau aku melanjutkan?” Lenna mengangguk sambil terpejam, “Oke. Aku atasan Evan.”

Lenna tersentak membuka mata seketika, “Apa maksudmu?”

“Evan juga bekerja di ALICE. Karena itulah, dia sering meninggalkanmu bersama Hiroto.”

“Bagaimana dengan yang lain?”

“Tora bukan dari ALICE, aku tahu dia beberapa menit yang lalu. Wanita garang berambut putih itu, Omi, dia dulu rekanku sebelum memutuskan jadi netral,” Shou menerawang sejenak, “Aku penasaran apa yang kau katakan pada Tora sebelum ini…”

Lenna menghela napasnya, “Evan memintaku untuk percaya padamu, padahal sebelumnya dia sangat membencimu.”

“Dia pasti berpikir bahwa dimana ada aku, disitu ada bahaya.”

Keheningan yang sangat lama menyusul kedua kali, sampai beberapa menit. Lenna menutup sebagian wajahnya dengan wajah lelah, “Apa kau akan pergi?”

Sejujurnya ia benci menanyakan ini, sangat benci.

Ia siap mendengar kata ‘ya’ dari bibir lelaki yang ia sukai itu. Namun tanpa diduga, Shou justru mendekapnya, mengelus punggungnya dan membiarkannya menangis sambil berbisik sangat lembut,

“Harus, segera.”

Shou melepas Lenna, menatap dalam-dalam mata biru muda pucat miliknya sesaat, sebelum kedua tangan memegang tengkuk dan ia cium bibir mengkilap berlapis lipgloss itu, menjilatnya sekali sebagai salam selamat tinggal.

“Senior—“

“—Shou.”

“Shou, kau benar-benar—“

Shou membungkam sekali lagi bibir Lenna untuk meyakinkannya, lebih lama, lalu melepas dan berkedip sambil memandang arah lain, menjilat bibirnya sendiri. Di hadapannya Lenna menangis dengan memeluk kedua lengannya sendiri.

Kemudian ia melangkah pergi begitu saja.

Lenna jatuh terpuruk, air mata melunturkan polesan make-up seiring bayangan Shou menjauh, perlahan hilang ditelan buram.

 

 

「Vandalize」/END

 

Next: Vandalize Epilogue

 

[TOP SECRET]

 

+++

 

Hola, para pembaca sekalian n_n

Akhirnya selesai juga bagian pondasi utama 「Vandalize」 yang memakan tenaga ini, tinggal bikin epilog *phiuhhh…* *hore…!*

Entah mengapa tiba-tiba daku kebayang scene Shou vs. Executioner Majini yang berakhir dengan pertarungan irasional[?] seperti diatas yang anehnya naudzubillah ._.v

Oke! Sekali lagi jangan samakan ALICE Corp. sama ALICE punyanya CERN ya, ini fasilitas punyanya Nao lho #abaikan #bocorinepilog

Akhir kata, selamat ulang taon Alice Nine *tebarbunga*

Hepi Alice9day…! #telatbangetbangetbanget

Title: 「Vandalize」 ~2 of 2~

Author: Dead SWORDMASTER

Cast[s]:

-Kohara Kazamasa/Shou [Alice Nine]

-Amano Shinji/Tora [Alice Nine]

-Sakamoto Takashi/Saga [Alice Nine]

-Cho Kyuhyun [Super Junior] as Evan Kirchev

-Lenna Kirchev (original)

-Choi Sooyoung [SNSD]

-Agatha Nikoladze (original)

-Omi [Exist✝Trace]

-IV [ViViD]

-Shyena [V-last]

Genre: action, dark, bit drama

Rating: 15+

Length: 5.177 words

Disclaimer: daku tak memiliki apapun disini selain ide dan plotnya dan tentunya Shou, Tora, dan IV selain hal-hal tersebut lepas tangan deh (-_-‘)

Warning: Segala senjata dan perlengkapan yang digunakan disini BERBAHAYA. Seluruh aksi berbahaya dilakukan oleh stunt[?] yang sudah terlatih dan berpengalaman, dilarang mencoba tanpa pengawasan ahli #penting/gagpenting[?]

Poster credit: DheeAKTF @ dheeaktf.wordpress.com [terimakasih banyak, kakak n_n]

Tanda “+++” menandakan harinya sudah tidak sama.

「Vandalize」 © SWORDMASTER 2011

 

 

 

Catherine’s Palace, Tsarkoye Selo, Pushkin

PINTU masuk Hall of Light terbuka lebar ketika waktu tepat menunjukkan pukul sembilan lewat empatpuluh lima menit waktu setempat. Dua penjaga berpakaian formal namun sopan dan ramah mengapit masing-masing di depan daun pintu terbuka dan dua orang lain yang nampak seperti bodyguard di samping.

Ruang megah lokasi paling prestisius di St. Petersburg tak kosong melompong tanpa pengunjung saat itu. Sebagian kecil undangan tengah berdiri menunggu di muka sebelum penjaga membuka jalan masuk, dan langsung menempatkan diri meski sebersit ketidakpuasan muncul di hati mereka lantaran harus menunggu untuk kesekian kali lagi.

Sekolah Elit St. Aleksandrov telah menjadi pelanggan tetap yang setiap setahun sekali menyewa tempat tersebut untuk melepas siswa-siswi mereka yang lulus tahun itu. Tapi tahun ini berbeda, sebab pihak sekolah tak lagi menggelar pesta dansa biasa yang hanya dihadiri murid secara individual, melainkan sebuah masquerade ball besar yang dihadiri pula oleh segenap staf dan undangan diwajibkan membawa pasangan masing-masing.

Tora baru saja meninggalkan Torino merah kebanggaannya, berjalan beriringan bersama Omi selepas menjemputnya dari Gorokhov dan setengah jam penuh menahan tawa selama perjalanan. Wanita itu tampak seperti vampir; rambut putih panjang tertusuk tangkai perak, bibir merah menyala berlapis lipgloss berkilau dan gaun hitam bergaya gothic lengkap dengan sarung tangan sepanjang siku. Menarik pinggangnya, Tora berbisik,

You look like a cosplayer in a graduation ball.”

Omi menantang tatapan tajam Tora, “You had invited me, boy.

Mendenguskan tawa, Tora menunjukkan kartu undangan pada penjaga di sisi-sisi pintu menuju Hall of Light, sebelum melenggang masuk dan bertemu murid-murid yang hampir samasekali tidak familiar baginya. Omi bergerak mengobservasi, Tora membawanya ke salah satu sudut dekat meja besar menyangga berbagai jenis minuman beralkohol.

Tiba-tiba Tora mendekap tubuh itu, menyeringai penuh percaya diri,

So you really brought your weapons, huh?

 

___

 

GAUN putih susu membungkus tubuh perempuan di sebelah Evan—tunangannya—yang menggoyangkan tubuh perlahan saat duduk, menikmati gesekan violin dan denting piano di sekujur ruangan Hall of Light dengan seksama, bahkan nyaris tak memperhatikannya. Kulit putih bersemburat cokelat tipis dan rambut hitam panjang dibiarkan tergerai. Aksesoris dan make-up sederhana mempertahankan wajah cantiknya ditengah sifat tak acuh. Agatha dan Evan datang terlalu awal saat masih sangat sepi, dan mereka tak melakukan hal lain selain duduk dan minum, melihat pasangan-pasangan lebih muda datang dengan semangat lebih membara. Wajar, masa kejayaan Evan sebagai Murid Nomor Satu telah lama berlalu, digantikan lelaki visual-kei pewaris harta ratusan juta Euro itu…

…yang disukai oleh adiknya, Lenna, dan yang paling tidak ia sukai.

“Nikol, kau mau sesuatu?”

Evan bertanya, namun Agatha hanya menggelengkan kepala tanda tak mau. Kedatangannya kemari, selain karena diundang, adalah karena ia ingin menghindarkan Lenna dari Shou. Bukan apa-apa alasannya. Semata sebab ia tahu, Lenna terlalu berharga baginya…

Tapi ia menyesal memasrahkan Lenna pada Saga begitu ia melihat wajah itu.

“IV?”

 

___

 

SOOYOUNG bersandar di pintu Enzo Ferrari merah milik Shou pribadi, menunggunya keluar. Ketika sosok yang ia tunggu melewatinya tanpa menaruh minat, ia terpaksa mengambil inisiatif menggamit salah satu lengannya dan bersisian melangkah memasuki bangunan istana agar tak tampak aneh.

Shou merunduk pada setiap orang menatapnya, hingga memasuki ruang besar Hall of Light pun ia masih tersenyum, tapi bukan untuk Sooyoung. Meski Sooyoung tak bisa menahan kekagumannya pada penampilan Shou malam ini (luar biasa, menurutnya), ia tetap kesulitan mendapat perhatian sebesar apapun ia memperhatikan lelaki itu.

Namun tanpa diketahui satu sama lain, mereka menyimpan tujuan khusus.

Ketuk stilleto Sooyoung memasuki ruang bernuansa keemasan dengan ratusan bahkan ribuan lilin tersusun di kandelar-kandelar tergantung. Jalinan pita perak tertempel di dinding beserta rangkaian-rangkaian mawar putih. Sejumlah orang mengerumuni meja-meja, mengambil anggur atau sekedar mengamati makanan ringan diatasnya, sedang sebagian lain mulai menari dengan berbagai bentuk gaun serta topeng.

Shou membawa matanya beredar diantara ratusan murid beserta pasangan mereka, mencari, sekaligus ingin membuktikan analisisnya karena pergelaran masquerade ball ini merupakan sarana yang sangat menjanjikan untuk berbuat kejahatan. Entah sekedar kejahilan kecil macam anak-anak muda, sampai kejahatan kelas atas seperti… pembunuhan.

Sooyoung baru saja menarik tubuhnya untuk berdansa ketika sadar gadis itu belum datang.

 

___

 

PENUNJUK waktu menandakan mereka terlambat lebih dari tigapuluh menit. Ketika mereka masuk, keseluruhan hadirin telah memasang topeng mereka, beberapa berdansa atau terang-terangan mencium dan memeluk mesra pasangan masing-masing, larut sepenuhnya dalam atmosfer membara.

Sebenarnya Lenna dan Saga tak berniat ikut berdansa, bahkan mereka berjalan di jalur masing-masing seperti tak saling kenal. Setiap orang tahu skandal yang diperbuat Saga dengan sejumlah gadis (Lenna hanya seorang korban diantara belasan lain yang benar-benar jatuh cinta). Lenna, dengan gaun velvet merah terang tanpa tali, rambut terlampau halus diurai bebas dan sepatu hak tinggi tujuh senti, mengalun di lantai dansa sendirian. Sedang Saga entah dimana. Topeng emas berhias bulu-bulu panjang semerah darah menyembunyikan kebingungan di wajah. Seiring ia bergerak pelan ditengah kerumunan, ia merasa ada sesuatu yang tak beres ditengah riuh rendah pesta.

 

DEG!

Lenna meraba lehernya dan menengok ke belakang. Seketika ia membeku di tempat; mata itu…

Dia bersandar di sudut ruang, keseluruhan memakai baju hitam dan topeng hijau zamrud berlapis bubuhan tinta perak dan serbuk perak asli sebagai aksen sulur. Rambut hitam pekat diacak sedemikian rupa. Sepasang mata hitam kelam sedingin es menyorotnya tajam tanpa ampun, dan Lenna tak sanggup menghindari tatapan itu. Ya, dia menatapnya, benar-benar lurus di matanya.

 

Menjepit leher red wine glass kristal ber-carving warna perak, dia menenggak habis cairan kehitaman chianti dan memberi Lenna isyarat untuk mendekat. Lenna menurut, bergerak pelan mendekati sosok tersebut.

Lelaki itu mengulurkan tangan. Lenna menyambutnya dengan senang hati dan melayaninya berdansa tanpa sedikitpun merasa curiga. Bagaimana lelaki itu memperlakukannya sungguh membuat Lenna lupa dan seolah kehilangan kendali akan dirinya, sesaat.

Terus bergerak di lantai dansa, Lenna samasekali tak menduga bahwa ia bisa berada sedekat ini dengan pasangan tarinya, ketika lelaki itu mengendus wajahnya dengan ujung hidung dan mengecup kelopak mata kiri. Lenna memejam mata, tahu pasti pipinya sudah jauh lebih merah dari sebelumnya. Lelaki itu berbisik dengan hembusan bernada halus,

You’re such a virtuoso…

Kemudian menariknya dan melepas pegangan tiba-tiba, membiarkan Lenna berputar sendirian sedang dia berjalan menjauh, perlahan menghilang ditengah lautan murid dan adegan-adegan yang semakin ‘panas’.

 

___

 

PESTA semakin menjadi-jadi seiring kebosanannya merambat, duduk sendirian ditemani segelas anggur putih terbaik di dunia sedang pasangan-pasangan disana berdansa tanpa henti. Ia sengaja memisahkan diri dari pasangan yang ia bawa kemari walau ia sadar betul wanita itu tanggung jawabnya hari ini. Dan kalau sampai sesuatu terjadi padanya, ia bisa mendapat hukuman sepadan dengan vonis mati.

Saga merapikan atasan tuksedo hitamnya yang agak kusut, memperhatikan sosok-sosok di dekatnya… dan salah satunya adalah Sooyoung.

Ia mengernyitkan dahi. Sooyoung mendekatinya sendirian sambil memainkan ujung rambut pendek, tampak netral dengan riasan tipis natural dan gaun krem selutut, duduk di kursi sebelah Saga.

“Aku kehilangan Shou…”

“Kau ini mabuk, ya?”

Melihat semburat kemerahan di pipi Sooyoung, tak ragu lagi, gadis itu pasti sudah menenggak beberapa gelas anggur. Jemarinya yang lancip bermain-main di bibir gelas Saga, kepala menyandar di bahu dan bergerak seolah ingin mencium kulitnya,

“Aku kesepian. Kau pintar memperlakukan wanita, bukan?”

Sooyoung memalingkan wajah Saga padanya, memancarkan sinar menggoda dari mata—hanya untuk terkikik dan segera bangkit untuk pergi.

“Bercanda. Aku akan mencari Shou, nikmati saja pestanya.”

“Nikmati?”

Sooyoung berjalan anggun menuju kerumunan, membentuk seringai sinis di wajah.

Saga baru saja merasakan dua teguk chardonnay saat sekujur tubuhnya terserang sakit luar biasa.

 

___

 

LENNA menghentikan larinya mendengar teriakan keras itu begitu memekakkan telinga. Secepat kilat, para siswa berhamburan kesana-kemari, beberapa diantaranya sempat ia tanyai dan semua menjawab singkat,

Pembunuhan.

Mendadak tubuhnya limbung dan terjatuh. Ia melihat tubuh kakaknya berdiri tegak sambil merentang tangan kiri, menggenggam sebilah pisau dalam posisi terbalik, melindunginya. Tegas Evan berkata,

“Tetap di dekatku.”

Evan melempar pisau itu ke udara, menangkapnya kembali dalam posisi benar dan langsung mengayunkannya ke samping. Tepat sasaran, tanpa menggores apapun, bilah berkilat pisau baja terpancang kuat di jantung sang pelempar sebenarnya, dan Evan menarik tangan Lenna keluar Hall of Light.

“Apa yang terjadi?!”

The ‘real’ party had started, baby. I’m so sorry to place you in such a dangerous place like this.

 

___

 

SHOU mencari-cari keberadaan Sooyoung ditengah keributan tiba-tiba terjadi. Sesuai dugaan, masquerade ball ini bukanlah suatu acara yang aman. Ia sadar, ia bertanggung jawab pada keselamatan gadis itu, namun mereka terpisah.

Sesuatu yang dingin menyentuh pelipisnya, tepat ketika ia menangkap orang-orang berjas hitam lengkap berlari menyebar ke setiap penjuru.

Nice to meet you, Monsieur Kazamasa.

Shou tersenyum ramah, meliriknya sekilas, sebelum menarik topengnya lepas dan tanpa ragu mencengkeram pergelangan si lelaki asing. Sekuat tenaga ia hantamkan sisi depan tubuhnya ke lutut, menggunakan tangan kiri untuk memiting kepala lelaki itu dan memuntir punggungnya hingga terdengar suara ‘klik’ dan Shou tersenyum puas.

Ia menyaksikan lelaki itu menggelepar di lantai setelah jalinan tulang belakangnya ia lepaskan. Kesulitan bernapas dan bergerak-gerak liar sambil memegang lehernya, tak lama berselang lelaki itu mati lemas kekurangan oksigen.

Nice to meet you too, fool.

Shou meninggalkan korban pertamanya dan berlari menyongsong seseorang di sudut lain ruangan.

 

___

 

TERIAKAN panik membuat kewaspadaannya tersulut, ketika Tora menegakkan kepala dan menjelajahi setiap tempat yang mampu dia jangkau, lalu memandangnya lurus dengan aksen yang ia hafal diluar kepala,

Let’s go.

Tora berdiri lebih dulu, mencabut dua Beretta M92FS silver dari belakang, memberi satu pada Omi. Gadis sangar itu bangkit kemudian, bergerak berlawanan arah dengan pasangannya dan menghambur ke kerumunan siswa tanpa ragu.

Sementara Omi menyelesaikan urusannya, Tora duduk kembali ditempat, menilai situasi sebelum benar-benar bertindak. Namun belum jadi segalanya terang, Tora telah merasa dirinya dibidik dari dua tempat berbeda.

Ia menyadari sebuah posisi yang menguntungkan.

Tora meraba bagian bawah punggungnya sekali lagi. Meletakkan handgun-nya diatas meja perlahan ketika menemukannya, ia segera mengayunkan tangan, secepat kilat meluncurkan bilah wakizashi ke kanan atas.

Wakizashi menusuk mata kanan pembidik pertama tanpa suara. Senjata berupa pistol semi otomatis jatuh merusak susunan gelas anggur. Sedetik setelahnya, sebatang tubuh berlumur darah menyusul, dan Tora tak lagi mau membuang waktu. Ia langsung menggenggam handgun-nya lagi, menangkap pisau yang menancap sebelum tubuh itu jatuh ke lantai, meliukkan tubuh menghadap pembidik kedua di belakang, mengangkat handgun

Dor!

Tora menyeringai senang. Ujung lengan tuksedo barunya ia gunakan untuk mengelap wakizashi yang ternoda oleh bau anyir dan darah serta lendir keruh menjijikkan, sebelum memasukkannya kembali ke dalam sarung hitam berhias lilitan merah menyala dan menyelipkannya ke sabuk.

Namun kesenangan itu hanya bertahan kurang dari sepuluh detik. Ketika ia menyaksikan sebuah wakizashi lain memutus rantai kandelar tepat diatas kepalanya, saat itu juga Tora menyadari bahwa kerusuhan ini bukan perihal main-main.

Ini sudah menjadi gaya’nya’ sejak dulu.

Tujuannya memutus rantai bukan untuk menghabisi Tora, melainkan mengurungnya diantara jilatan api diatas lantai aula raksasa, dan supaya mereka bisa saling melihat satu sama lain di jarak yang lebih masuk jangkauan. Dan benar dugaannya, figur manis anak kecil berbalut jubah cokelat kumal itu memang ‘dia’, tak salah lagi.

 

___

 

OMI menjejak leher orang ketiga yang ditemuinya sebagai lawan, terus menekan tumit sepatu hingga bunyi renyah tanda hak tinggi sepatu berhasil melubangi saluran pernapasan dan darah segar meleleh dari mulut. Ia membuang Beretta kehabisan amunisi, bergerak memunggungi para korban.

Where is him?

Ia mendapatkan orang yang dicarinya. Memisahkan jalinan tulang belakang bagian atas adalah cara efektif dan mudah untuk menghalau masuknya oksigen dalam paru-paru sehingga lawan akan kesulitan bernapas dan akhirnya mati—melalui proses yang sangat menyakitkan.

Omi tahu Shou tidak bodoh. Lelaki itu tidak akan protes hanya karena ia melayani satu penantang lagi.

Datang dari belakang sambil menghunus pedang, kehadirannya sangat mudah diendus bahkan meski dia datang tanpa menimbulkan suara. Melukis senyum tipis, Omi mencabut tusuk konde perak murni dan berbalik cepat menancapkan benda itu di lambung, menariknya keatas, merobek hingga remuk organ-organ vital dan segenap rusuk.

Ia segera menghampiri Shou yang berlari ke arahnya. Sembari berjalan cepat, ia meraih bagian depan atasan gaunnya yang penuh renda dan pita-pita, merobek lapisan itu sampai bawah dan menampakkan bagian dalam gaun berupa kain katun hitam ketat, membuangnya asal. Ternyata dibalik desain gothic ala vampir itu ia menyimpan persediaan senjata. Serenceng pisau pipih dan ramping terikat sabuk hitam, ia melemparnya pada Shou yang sudah mengacungkan tangan sejak tadi.

Enjoy your party, kid!

 

___

 

JALAN keluar satu-satunya dari aula berubah bagai medan perang itu hampir tertutup. Evan terpaksa menyeret adiknya yang tak mampu berlari cepat meski sudah tak lagi bersepatu dan bertopeng, ketika celah di pintu tinggal beberapa inci, dan ia harus mengorbankan tangan untuk menahan agar pintu tak lagi mengatup.

Mengerang keras lantaran terjepit diantara dua benda berat bertekanan kuat, Evan mengerahkan seluruh tenaga untuk memperlebar celah, disambut secara tak terduga oleh seorang membawa crossbow lengkap dengan beberapa barrel anak panah di kedua tangan.

Annyeong, Evan-ssi. Let’s play.

Penjaga di pintu telah meninggalkan lokasi, melepas pegangan pintu terbuka lebar mengarah pada lorong panjang menuju lantai dasar, sehingga walaupun pintu terbuka, mereka masih harus melewati lelaki ini sebelum bisa lari dari tempat itu.

PRAAAAAAAAANG…!!!

Bunyi kaca pecah membahana sempat mengalihkan perhatian sang pembawa crossbow dan Evan menyadari perubahan ekspresi kilat tersebut. Ia melepas Lenna, melompati lelaki itu sambil menyampar crossbow di tangannya yang langsung terjatuh jauh di lorong.

Lenna melangkah menjauhi kakaknya, mundur mendekati ambang pintu dan tersentak saat sebuah tangan mencengkeram lengannya kuat.

Sejumlah orang muncul dari koridor samping sambil menyandang Koch UMP, pertama kali dilihat Evan dari sisi kanannya dan memperhitungkan sekilas kemampuan mereka, Evan masih jauh lebih baik, setidaknya yang ia kira.

Evan bertumpu dengan kaki kanan, berputar menghantam kaki kirinya ke leher orang-orang yang baru datang sekali tendang dan dua orang—semuanya—ambruk seketika. Seseorang yang datang dari koridor satunya bersiap menembak Evan namun ia lebih dulu meraih laras senjata dan menyikut kepalanya, begitu keras hingga terdengar suara derak tulang patah dan tubuh itu jatuh menggelepar. Evan langsung meraih senjata otomatis terlempar dekat kaki, memberondong penantang tersisa.

Tak ia sadari hilangnya eksistensi Lenna dari situ.

 

___

 

LIDAH api menjilat-jilat daerah sekitar kaki Tora yang berdiri sengaja diatas serpihan kristal dan lelehan batang lilin putih. Cahaya kemerahan melapisi kulit, menari-nari di permukaan bola mata hitam tajam menatap lurus hias senyum manis tak berdosa anak kecil beberapa meter di depannya. IV menurunkan tudung sebahu. Rambut putih bersih tanpa kilau jatuh agak kaku, dua mata cerah berbinar serupa butir anggur nebbiolo menyorot senang penuh euforia.

IV melepas kain kumalnya. Sebagai seorang supplier tentu ia memiliki banyak senjata. Namun entah mengapa, malam ini, ia tak membawa banyak seperti biasa. Mungkin karena ia tahu lawannya tak terlalu suka bertarung dengan cara seperti itu.

“Kau tahu, IV, dugaanku salah, untuk pertama kalinya.”

“Aku disewa mahal.”

“Bisa kau jelaskan?”

Selama sepersekian detik IV menarik sesuatu dari sisi bawah jas formal putih dan mengarahkan mata pedang tipis sepanjang tak lebih dari empatpuluh senti di urat nadi Tora berdenyut-denyut. Senyum manisnya bertambah riang; sebelumnya tak pernah sekalipun ia mencoba menghabisi seorang senior.

Tora menyingkirkan bilah pedang pendek itu dengan wakizashi-nya, pertarungan dimulai.

Denting nyaring suara logam beradu mewarnai duel serius mereka beberapa menit sebelum IV memimpin mulainya pertarungan fisik, yang ditandai ketika ia merunduk dan menyambar kedua kaki Tora dengan kakinya dalam sebuah putaran menakjubkan. Ia tahu ia akan meleset. Tujuannya bukan untuk mengenai, hanya memberi tanda, sampai Tora menyadari apa yang ia mau.

I just wanna show you how fool the ALICEs are, Betrayer.

Tora menangkap tangan IV yang dilayangkan ke wajahnya, memelintir ke belakang dan memukul tengkuk lelaki kecil itu jatuh tersungkur keatas hamparan beling. IV bergerak cekatan meski masih terbaring, mengiris dalam kulit diatas tulang kering Tora sampai bawah lutut—kedua kaki—memaksanya berlutut sementara ia berdiri memegang kembali wakizashi-nya.

IV mengacungkan bilah pedang berkilau, memantulkan kobaran api membara di mata Tora…

 

___

 

SEBUAH proyektil melubangi dinding dekat bahu Lenna. Kembali lagi ke dalam ruangan, ia merasa sesuatu telah mengamankannya dari tembakan tersebut dan ia mendongak, melihat lelaki berambut dan bermata hitam pekat tadi tanpa topeng.

“Se-Senior Kohara…”

Shou menarik Lenna, namun belum sampai lima langkah ia berlari, Lenna menghempas tangannya dan memasang ekspresi kesal bercampur marah,

“Apa-apaan ini semua?!”

“Tidak ada waktu untuk menjelaskan.”

Shou baru berniat menarik kembali tangan itu ketika sepintas pandangan Lenna mengusiknya. Setitik air mata Lenna jatuh, membuat rasa bersalah menjadi satu-satunya ekspresi yang sanggup ditunjukkan oleh Shou saat ini.

Ia memegang kedua pundak Lenna, “Percayalah padaku, aku bukan orang jahat.”

“Tapi aku merasa seperti satu-satunya yang tidak tahu.”

“Dan kau lebih aman bersamaku daripada dengan Saga atau Evan.”

Shou tak menanti jawaban, mereka kembali melangkah cepat ke sudut dan Shou menyibak tirai tafetta keemasan dihadapan sebuah pintu menuju ruangan sebelah. Ia mengeluarkan kunci, mendengar derit ringan kayu sambil memastikan Lenna dalam genggamannya.

Gadis itu berjenggit menutup mulut. Piranti logam berserakan diatas lantai ruang sempit tersebut, sekitar sepuluh orang dengan tuksedo putih rapi bergelimpangan diatas genangan darah dan Shou memaksanya melangkahi mayat-mayat keluar ruang penyimpanan. Lenna mencoba tak memandang ke bawah meski sedikit banyak ia masih bisa melihat kerusakan tubuh serta tebaran selongsong kosong, bergantian menatap Shou—terutama penampilan barunya.

“Jangan memandangku seperti itu.”

Tak lama berselang ruang penyiksaan penuh kekacauan telah berganti dengan koridor terapit dinding putih bersih (tak sepenuhnya bersih) beralas karpet hijau zamrud. Sisi kanan mereka ditempati tujuh jasad penembak, Shou mengabaikannya terus membawa Lenna ke arah darimana mereka datang.

Namun seseorang sengaja berdiri di ujung, menodong Shou dengan Brownie. Senyum manis palsu menghiasi wajah familiar penuh rasa iba dibuat-buat.

Love wasn’t the correct reason for all of this…

 

___

 

GADIS manis itu melangkah santai menuruni tangga, menatap sekilas pantulan dirinya di sebuah cermin begitu tiba di lantai dasar. Berhenti sejenak dekat meja, ia mengeluarkan sesuatu dari dalam tas tangan mungil, membuka kotak kecil terisi penuh serbuk putih.

Ia menghirup beberapa, bernapas panjang dan menatap lurus ke dinding penuh ornamen emas.

Kokain, dan kokain lagi.

“Oh, IV, aku harus banyak berterima kasih padamu.”

Kecanduan adalah kata yang sangat tepat menggambarkan dirinya saat ini, dan berkat candunya pada obat penenang dan bius, ia mendapat pengetahuannya tentang bahan-bahan kimia…

…termasuk yang paling beracun.

Getar halus panjang terasa dalam clutchbag cokelat, ia meraih ponsel dan menerima panggilan bernada panik,

“Kita kekurangan personel dan senjata, dan aku tak bisa menghubungi IV samasekali!”

“Bagaimana dengan Shou?”

“Hilang.”

Raut wajah cantik berubah suram kemudian, sesorang di seberang telepon berteriak meminta perintah lanjutan ketika ia membuka kotak kokainnya kembali. Namun usahanya terhenti ketika seseorang membisiki telinganya dari belakang, persis seperti Shou, dulu.

“Serahkan semua padaku, I’ll definitely finish them as soon as possible, and you can enjoy the rest later…

Sooyoung menengok ke belakang, menangkap lelaki kecil berwarna rambut pirang pucat menegakkan Sniperskaya Dragunova tanpa ragu-ragu.

“Terimakasih, Shyena. Tolong bantu saudaramu juga.”

Anytime.”

 

___

 

BEGITU menyadari segala kejanggalan, Evan mencari-cari tanda kehadiran Lenna di dekatnya, tetapi nihil. Di dalam ia hanya mampu melihat sisa murid tertangkap dan siap ditembak mati sedangkan lainnya dapat dipastikan berhasil kabur atau sudah jadi mayat. Keadaan hampir sepenuhnya sepi, selain suara gemeretak kaca pecah terbakar, dan bayang sosok-sosok tak asing, rekan maupun musuh.

Ia berjalan mendekati meja tempat sebuah jenazah terbaring meringkuk di bawahnya, gelas tinggi langsing memuat sedikit genangan chardonnay rebah dekat leher.

Ia memungutnya, merekam keadaan fisik korban yang masih utuh dan sangat baik, sambil lalu nampak seperti pangeran yang tertidur. Ia bergantian menatap gelas hampir kosong,

“Tetrodoksin,” gumamnya.

Evan meninggalkan tubuh tak bernyawa Saga, berjalan lurus ke arah Omi di seberang sana. Mereka pernah ketemu sebelum ini.

Ketika mereka bertemu, Omi menyapanya dengan ekspresi sinis tak peduli, walau mereka tetap berbincang ditengah atmosfer tak menyenangkan itu.

“Tch, aku tidak mengerti.”

“Apanya?”

“Melibatkan kita dalam perburuan dengan satu terget utama? Dia jelas ingin menghabisi Shou sampai akar-akar dan rantingnya. Paling tidak kita pernah berurusan dengan Shou sebelum ini.”

“Tapi itu berarti semua orang di Aleksandrov akan terkena.”

“Dia hanya akan habisi semua yang kira-kira akan memberatkannya saat Shou sudah mati.”

“Aku tidak peduli jika Shou mati.”

“Tapi adikmu peduli.”

“Apa itu berarti kau juga peduli?”

Omi mendekat, berkata dengan nada rendah dan tempo perlahan penuh penekanan, “Aku adalah urusan pribadi. Dan sayangnya, adikmu memilih jadi pihak ketiga yang akhirnya menyeret Tora.”

“Siapa Tora?”

“Seseorang yang membunuh Hiroto. Ketahuilah, adikmu melakukan dua kesalahan. Pertama membuat Shou menyukainya, kedua mendorong Tora untuk berhianat. Terkadang seorang pembunuh bayaran menunjukkan sisi lembut asalkan seseorang memancingnya.”

“Kau pasti bercanda. Apa yang bisa dilakukan adikku?”

“Tora baru saja melawan ‘mantan’ rekan satu bosnya—aku tak tahu bagaimana itu berakhir. Dan sekarang ia menyusul Shou. Kau mau menyusulnya juga?”

“Untuk apa?”

Omi tertawa nyaring, “Evan! Tidakkah kau menyadari, kemana Tora menuju adalah dimana adikmu berada sekarang—bersama Shou! Ayo.”

Evan mengernyitkan dahi, mungkin akan mematung lama jika Omi tak menegaskan perintahnya kembali, “Aku menyuruhmu, Evan.”

 

___

 

TUBUH kurus tinggi itu terlalu akrab di mata Lenna. Bangsawan, jelas. Karena jelas butuh uang banyak agar bisa memakai ball gown seperti itu. Penampilan yang terlalu formal dan menyusahkan mengingat masquerade ball ini bukan white tie, namun akan menjadi wajar jika tujuannya adalah menyembunyikan senjata.

Shou mengeratkan kedua pegangan tangan, meyakinkan Lenna, siap menarik pisau jika sewaktu-waktu Agatha menembak.

“Tenang saja, alasan utama untuk ini semua bukan cinta.”

“Kalian memburuku demi lembaran Euro?”

“Tepat sekali. Tapi jika jujur, dendam juga termasuk.”

“Apa ada kaitannya dengan Sooyoung?”

“Aku hanya ingin membantunya mengakhiri penderitaan setelah kau menolaknya…”

“Temukan adikmu yang hilang, huh?”

Shou menyembunyikan Lenna dibalik tubuh, melangkah mengintari Agatha sambil menyeret rencengan pisau, bunyi gemerincing menggema.

You’re an excellent shooter, are you, Gunmaster? So, which one better, you or me?

Agatha menembakkan Brownie berperedam beruntun pada Shou yang membawa Lenna berlari ke ruang lebih luas. Sederet pajangan kristal pecah, Shou melempar Lenna ke sudut percabangan koridor dan merunduk untuk melempar sebatang pisau.

Missed.

Shou menyeringai, “No…

“AAAAAAAAKKKHH…!!!”

Agatha melepas Brownie-nya, memegangi lengan kiri teriris berdarah-darah akibat lemparan dari belakang. Seketika wajahnya pucat pasi melihat orang-orang itu tepat limabelas meter di belakang, di pangkal percabangan koridor lain.

“Kalian—“

BANG!

IV—bukan, seseorang yang sedikit seperti IV, berdiri membatasi antara Agatha dengan Omi dan Evan, menghadap dinding kosong. Perawakannya persis sama dengan IV, bahkan mereka sama-sama memiliki mata berbinar mirip anggur. Sniperskaya Dragunova terarah ke karpet hitam berlubang di sisi kaki Omi, tersenyum miris seolah menyalahkannya.

“Untuk kalian yang melukai saudara kembarku…” Shyena memutar leher dramatis, “…kalian tak akan kuampuni.”

Shyena bertubuh sedang, bermata suram seperti malbec dan jemarinya yang mungil itu tampak tak cocok dengan senjata api. Meski baru menembak sekali, dengan begitu senang hati ia menghempas Dragunova-nya, hampir mengenai Agatha, dan mencabut revolver serupa dari kedua pinggang,

Am I not right, if I just put a revenge of my twin on you?

“Lari.”

Evan, yang baru saja membalik arah lemparan pisau Shou, menarik lengan Omi secepat mungkin melewati koridor-koridor serupa, menghindari tembakan yang diarahkan dengan presisi mengagumkan bagi seseorang yang sedang memacu kecepatan kaki. Bukan cuma sekali mereka hampir kena.

 

___

 

AGATHA menggaruk lehernya melihat Evan begitu tidak terkejut. Apa mungkin Evan sudah tahu sejak awal?

Sadar ia terlalu lama berdiam, ia segera meraih Dragunova Shyena, berteriak marah ketika Shou tak lagi berada di tempatnya semula. Berjalan cepat ke tikungan, tak sempat ia melakukan perlawanan dan hanya menyapu sekilas wajah orang di hadapannya, Agatha jatuh menabrak dinding bagian samping; tewas seketika dengan leher patah ketika Shou menghantam lehernya dengan kaki.

Don’t call me Gunmaster.

Shou membantu Lenna bangkit di dekatnya, kembali bergerak cepat mencari jalan keluar. Namun mendadak ia berkata,

“Tunggu disini.”

“Apa—“

Lenna dilempar dalam ruang penuh perkakas sebelum Shou mengunci pintu dari luar.

Shou bersandar, lelah mengalungkan rangkaian pisau di pundak. Hanya tinggal empat buah. Ia terpejam penuh konsentrasi beberapa detik dan membuka kelopak lambat, mengambil napas…

…kemudian lari.

Mencabut dua buah, Shou menghambur dalam segerombol orang bersenjata datang ke arahnya tanpa mau menyia-nyiakan tenaga yang dimiliki. Menebas hingga putus jenjang leher, mengiris lepas tempurung kepala, merobek tanpa ampun perut dan punggung, semua dilakukan sambil lari. Sekali ia tak kuat menarik paksa senjatanya yang menancap di kepala dan terpaksa menggunakan baru, sampai tersisa satu buah saja.

Di sana, lelaki tinggi besar memenuhi koridor, mengacungkan katana di kedua tangan, sedang Shou sudah terengah waktu sosok itu mendekat. Ini bukan pertarungan sepadan.

Semakin lama sosok itu semakin cepat. Shou melangkah mundur dua langkah, sebelum membulatkan keyakinan, melesat ke arahnya.

Sekejap ia jatuhkan diri di lantai dan meluncur dibawah lelaki berpedang, tebasannya berhasil melukai bagian tulang pipi Shou namun sedikit terlambat untuk menusuk.

CRAAASHH!!!

Shou melempar pisau menembus dagu lelaki tersebut tepat sedetik sebelum berhenti. Lelaki berpedang tak terlihat melakukan gerakan. Namun tak lama berselang dia mengangkat dagu, mencabut pisau Shou penuh percaya diri, darah segar mewarnai kemeja dan jas putih tulang miliknya.

Shou bangkit dengan tertatih dan terengah, efek kejatuhan tadi membuat kakinya terkilir, dan sekarang ia (terpaksa) harus melawan lelaki hampir dua kali tubuhnya dengan tangan kosong.

Mungkin tak sepenuhnya kosong…

Not so tough, Kohara Kazamasa.

What the fuck are you?

Lelaki itu memutar-mutar pedang sejenak kemudian menebas Shou dari kiri, namun sasarannya merunduk dan berakhir dengan goresan besar dinding rusak. Shou mencekal tangan satunya, memelintir, bergerak cekatan memukul pertemuan leher dengan rahang menggunakan tangan. Pertama kanan, kiri, kemudian menghantam dagu. Bagi sebagian besar orang serangan ini tergolong mematikan, akan tetapi tidak bagi lawan Shou sekarang, bahkan ditengah posisi itu lelaki berpedang sanggup memukul balik dalam intensitas berkali lipat, menjatuhkan, lalu menendang tubuh lemas itu ke dinding.

Garis hitam retakan terlukis diatas lapisan cat putih demikian kuatnya Shou menghantam dinding. Ia jatuh telungkup begitu menyentuh lantai, memegang kepala, terbatuk sesekali dan nyaris tak mampu bergerak. Matanya silau terkena pantulan pedang terangkat tinggi siap menghabisi siapapun di bawah, lelaki berpedang menyeringai…

Sebuah Glock menyentuh tangan kirinya yang bebas.

We’re counting on you, boy…

Dalam kurang sedetik waktu tersisa, ia menggenggam Glock tersebut dua tangan, berbalik telentang menyiapkan amunisi,

Tinggal sepersekian inci sebelum mata pedang menyentuh dahinya—

DOOOOOORRR…!!!

BRAAAKKK!!!

Sepasang katana jatuh berkelonengan, disusul tubuh besar dengan lubang di kepala hampir menimpa Shou. Nun tersembunyi di balik tubuh lelaki berpedang tadi seseorang yang asing, kaki bersimbah darah pincang mendekat,

“Shyena salah sasaran.”

 

___

 

EVAN berlari mendaki dinding sambil menembakkan UMP sebelum mendarat di belakang Shyena. Omi menyiapkan pisau besar, hendak mengiris tangan saudara kembar IV itu namun Shyena lebih dulu menyepak tangannya, menjatuhkan pisau itu jauh. Shyena memukul kasar belakang kepala Omi dengan revolver sampai gadis itu pingsan.

“Tak seberapa dari yang dirasakan oleh IV!”

Evan terus memberi Shyena rentetan tembakan brutal. Lelaki kecil itu tersenyum yakin, bergerak turun sambil berputar cepat menghindari peluru. Namun tiba-tiba ia berdiri dan menyambar pelipis Evan dengan badan revolver, sesaat sebelum ia turut melayangkan lutut sekuat tenaga disana. Bunyi lecutan sabuk Shyena terdengar, Evan jatuh tersungkur.

Senyum itu memang manis, sayang langsung lenyap seketika saat melihat batang panjang hitam berputar—dilempar ke arahnya—dan ia samasekali tak siap.

KLANG!!!

Shyena terlempar, batang logam tipis berat menancap di dinding dekat lukisan Ratu Katerina bernoda cipratan darah. Tubuh itu bergerak-gerak diluar kesadaran pemiliknya, genangan merah meluncur di karpet hijau zamrud, sepasang revolver perak lepas dekat situ.

Lenna tahu Shyena masih hidup meski terkena sisi tajam benda itu di kepala. Luka berupa garis merah besar terbentuk di pipi kiri, mata anggur malbec pecah sebelah mengeluarkan lendir bening menjijikkan dan lekuk menganga tanda tulang remuk di dahi. Lenna membantu kakaknya mendekati Shyena,

“Tenanglah bersama IV, dengan ini kuakhiri rasa sakitmu.”

Evan melepas segenap sisa amunisi ke sekujur tubuh Shyena, berjumlah puluhan butir, meski gerak tak sadar lelaki itu telah berhenti di peluru kedua di dada.

Evan menatap adiknya penuh tanya setelah selesai, dijawab dengan senyum terpaksa,

“Aku menemukannya di ruang perkakas, Senior Kohara mengunciku.”

“Dia tahu bagaimana melindungimu, tapi tak tahu seberapa cerdas dirimu dalam hal kunci-mengunci.”

“Yah, tapi aku merasa lebih aman bersamanya.”

“Memang harus begitu.”

Giliran Lenna menatap kakaknya penuh tanya. Evan melanjutkan, “Ada banyak hal yang sebaiknya tidak kau ketahui, dan dengan alasan itu, aku tak bisa selalu ada di sampingmu.”

Derap langkah terdengar dari kejauhan. Lenna mengenali, Tora, beserta Shou dalam rangkulannya. Mereka sama-sama nampak buruk. Omi perlahan tersadar.

“Jadi, biar yang datang ini menjelaskan.”

Evan mengibaskan tangan, menghampiri Omi dan membawanya pergi.

“Maaf, aku tidak bisa bahasa awam.”

Tora melepas Shou, membiarkannya bertumpu di sudut sementara dirinya mengikuti Evan, masih dengan kaki tidak seimbang terkena luka robek sabetan IV. Shou menghela napas sebelum mengguncang kepalanya karena pusing, Glock tak lagi terlihat di genggaman.

Selama beberapa belas detik mereka tak bicara, Shou membersihkan luka di pipinya dan menepis debu diatas bahan jas, sesekali melirik Lenna yang menatapnya memelas terus tanpa henti.

“Kalian saling kenal dan tidak bermusuhan?”

“Seperti yang kau lihat. Apa yang kalian bicarakan di greenhouse?”

Hening, lama sekali, terlalu lama. Kemudian,

“Maafkan aku, Lenn.”

“Jika bisa, sekali ini saja, jujurlah. Siapa kau?”

Well, mungkin ini akan menjadi sedikit mengejutkan. Statusku sebagai siswa hanyalah penyamaran, dan segalanya yang terjadi saat ini… sebetulnya sudah masuk perkiraanku,” Shou menegakkan kepala, “Aku bekerja dibawah sebuah fasilitas bernama ALICE Corporation, top secret. Mungkin kau sudah tahu—suplai bahan kimia, alat-alat laboratorium, software—namun itu semua hanya kedok. Kami, yang terpilih oleh ALICE, sebagian dipekerjakan untuk membuat barang-barang tadi, sebagian lagi dilatih untuk melindungi sesuatu yang lebih rahasia dan berbahaya jika diketahui publik.”

“Tapi bukankah menjadi terkenal seperti itu justru memberatkan dirimu?”

“Terkadang. Tak ada satupun dari puluhan ribu artikel itu yang menyebut ‘Kohara Kazamasa adalah staf ALICE’, bukan? Aku dikenal karena ayahku. Selebihnya, tidak ada.”

“Baik, aku mengerti. Lanjutkan.”

“Kau masih mau aku melanjutkan?” Lenna mengangguk sambil terpejam, “Oke. Aku atasan Evan.”

Lenna tersentak membuka mata seketika, “Apa maksudmu?”

“Evan juga bekerja di ALICE. Karena itulah, dia sering meninggalkanmu bersama Hiroto.”

“Bagaimana dengan yang lain?”

“Tora bukan dari ALICE, aku tahu dia beberapa menit yang lalu. Wanita garang berambut putih itu, Omi, dia dulu rekanku sebelum memutuskan jadi netral,” Shou menerawang sejenak, “Aku penasaran apa yang kau katakan pada Tora sebelum ini…”

Lenna menghela napasnya, “Evan memintaku untuk percaya padamu, padahal sebelumnya dia sangat membencimu.”

“Dia pasti berpikir bahwa dimana ada aku, disitu ada bahaya.”

Keheningan yang sangat lama menyusul kedua kali, sampai beberapa menit. Lenna menutup sebagian wajahnya dengan wajah lelah, “Apa kau akan pergi?”

Sejujurnya ia benci menanyakan ini, sangat benci.

Ia siap mendengar kata ‘ya’ dari bibir lelaki yang ia sukai itu. Namun tanpa diduga, Shou justru mendekapnya, mengelus punggungnya dan membiarkannya menangis sambil berbisik sangat lembut,

“Harus, segera.”

Shou melepas Lenna, menatap dalam-dalam mata biru muda pucat miliknya sesaat, sebelum kedua tangan memegang tengkuk dan ia cium bibir mengkilap berlapis lipgloss itu, menjilatnya sekali sebagai salam selamat tinggal.

“Senior—“

“—Shou.”

“Shou, kau benar-benar—“

Shou membungkam sekali lagi bibir Lenna untuk meyakinkannya, lebih lama, lalu melepas dan berkedip sambil memandang arah lain, menjilat bibirnya sendiri. Di hadapannya Lenna menangis dengan memeluk kedua lengannya sendiri.

Kemudian ia melangkah pergi begitu saja.

Lenna jatuh terpuruk, air mata melunturkan polesan make-up seiring bayangan Shou menjauh, perlahan hilang ditelan buram.

 

 

「Vandalize」/END

 

Next: Vandalize Epilogue

 

[TOP SECRET]

 

+++

 

Hola, para pembaca sekalian n_n

Akhirnya selesai juga bagian pondasi utama 「Vandalize」 yang memakan tenaga ini, tinggal bikin epilog *phiuhhh…* *hore…!*

Entah mengapa tiba-tiba daku kebayang scene Shou vs. Executioner Majini yang berakhir dengan pertarungan irasional[?] seperti diatas yang anehnya naudzubillah ._.v

Oke! Sekali lagi jangan samakan ALICE Corp. sama ALICE punyanya CERN ya, ini fasilitas punyanya Nao lho #abaikan #bocorinepilog

Akhir kata, selamat ulang taon Alice Nine *tebarbunga*

Hepi Alice9day…! #telatbangetbangetbanget