Author: Stephanie Naomi
Title: Music, Dream and Love [Part 4]
Length: Continue
Genre: Romance
Cast: Taecyeon, Wooyoung, Junho (2PM), Suzy (missA), Park Jin Young (Teacher), Bae Su Jung, Lee Jung Ah, Park Yoon Hae (Imaginary Cast)

***

Suzy masih menunggu bus di halte dekat sekolahnya. Saat itu bus sedang tidak terlalu padat tapi entah mengapa Suzy tidak ingin segera pulang kerumahnya. Ia masih duduk sambil meminum satu minuman yang ia bawa untuk latihan. Tersisa 5 kaleng minuman ditas kecilnya. Tiba-tiba saja ketika ia sedang asyik menikmati minumannya, seseorang mengambil tas sekolah miliknya yang sengaja ia taruh dibangku sebelah dirinya.

“Yah! Tas ku! Yah! Kau! Kembalikan tas ku!” Suzy berteriak-teriak sendiri dihalte, tetapi percuma karena pencuri tas itu tidak juga menghentikan langkahnya. Ia justru berlari menjauhi halte. Suzy terpaksa mengejarnya sambil membawa tas kecilnya. Mereka terus kejar-kejaran hingga pencuri itu berhenti dekat sebuah motor yang terparkir tidak jauh darisitu.

“Siapa kau?! Kembalikan tas ku atau kupanggilkan polisi!” teriak Suzy. Sedetik kemudian, pencuri tas itu membuka helm nya.

Suzy kaget dan terperangah, “Taecyeon?!”

“Ne.” jawab Taecyeon terengah-engah. Ia mengelap keringat tipis yang mengalir dipelipisnya dan mengatur nafasnya.

“Yah! Untuk apa kau mencuri tas ku?!” tanya Suzy dengan nada satu oktaf lebih tinggi.

Taecyeon memasang raut wajah masam, “Karena kau lagi-lagi tidak menurutiku.”

“Tsk! Aigoo, terus saja kau berkata seperti itu. Aku tidak mengerti. Cepat kembalikan tas ku, aku ingin pulang.” balas Suzy kesal sambil mencoba merebut tas miliknya dari Taecyeon.

“Andwaeyo. Aku akan mengembalikan tas mu nanti. Sekarang, ikutlah denganku.” ucap Taecyeon seraya menyampirkan tas milik Suzy ke punggungnya lalu ia kembali memakai helm dan berjalan menuju motor miliknya yang terparkir didekat situ. Suzy hanya bisa menghela nafas dan terpaksa mengikuti langkah Taecyeon.

Tidak sampai 10 menit motor Taecyeon sudah terparkir di lapangan parkir dekat lapangan basket tempat ia akan bertanding. Suzy buru-buru turun dari motor dan memberikan helmnya pada Taecyeon.

Suzy tiba-tiba tertawa kecil dan membuat Taecyeon sedikit bingung, “Ada apa denganmu? Ada yang lucu?”

“Aniyo…” jawab Suzy bohong sambil sedikit menahan tawa.

Selesai mengunci motornya, Taecyeon berjalan menuju lapangan basket indoor dan Suzy buru-buru menyamai langkah kakinya dengan Taecyeon.

“Kau tidak merasa ada sesuatu yang aneh ditubuhmu?” tanya Taecyeon. Tas kecil berisi minuman itu pun tidak lupa dia bawa ditangan kirinya.

“Tidak. Kau ini berbicara apa sih? Aku tidak mengerti.” ujar Taecyeon sambil terus berjalan memasuki lapangan basket. Terlihat tim basketnya sudah berada disana, ada yang sedang pemanasan dan ada juga yang sedang duduk-duduk menunggu pertandingan dimulai.

“Kau duduk disana saja.” ujar Taecyeon seraya menunjuk tempat duduk disayap kanan, “Duduklah di baris pertama, dibelakang tim basket sekolah kita.” lanjutnya kepada Suzy yang matanya sibuk menginterogasi lapangan basket indoor tersebut.

“Kau bawel sekali. Tenang saja, aku pasti duduk tidak jauh dari tim sekolah kita.” balas Suzy setelah selesai melihat sekitarnya. Taecyeon tidak mengatakan apa-apa lagi dan langsung berjalan meninggalkan Suzy.

“Yah! Taecyeon!” teriak Suzy memanggil. Taecyeon menengok dan melihat Suzy menunjuk-nunjuk sesuatu pada dirinya.

“Mwo?” tanya Taecyeon sambil kembali berjalan mendekati Suzy.

“Kembalikan tasku. Apa kau mau terus-terusan membawa tasku?” kata Suzy sambil lagi-lagi menahan tawanya. Wajah Taecyeon langsung memerah dan ia langsung buru-buru melemparkan tas ransel itu kepada pemiliknya.

“Sudah puas menertawaiku?” tanya Taecyeon dengan raut wajah masam. Suzy hanya manggut-manggut sambil tersenyum kecil dan buru-buru meninggalkan Taecyeon.

“Taecyeon-ah! Akhirnya kau datang! Cepatlah pemanasan dengan yang lain.” ujar pelatih tim basket sekolahnya, pelatih Song.

“Ne, sonsaengnim.” jawab Taecyeon dan ia langsung bergabung dengan tim sekolahnya yang sedang pemanasan dipimpin oleh Junho. Sementara itu Suzy langsung duduk sesuai yang diminta dengan Taecyeon, diantara beberapa teman dan adik kelasnya yang sengaja datang untuk mendukung sekolahnya di pertandingan persahabatan hari ini.

“Kurasa jika tidak ada Taecyeon, perempuan-perempuan ini tidak akan ada disini. Dasar, semuanya sama saja.” ujar Suzy dalam hati memperhatikan beberapa teman-teman dan juga adik kelasnya yang sibuk berteriak-teriak sesekali menyebut nama sekolahnya, nama Taecyeon, maupun pemain lainnya.

“Dan kau, Ok Taecyeon, kau memang pandai sekali menarik perhatian.” lanjut Suzy bergumam sendiri.

“Suzy? Kau juga menonton pertandingan ini? Tumben sekali…” sapa seorang teman seangkatannya. Sayangnya Suzy tidak begitu mengenalnya, ia hanya manggut-manggut saja sambil tersenyum.

“Apa kau tidak melihat tadi ia datang bersama Taecyeon!” ujar temannya satu lagi dengan nada heboh. Mereka berdua duduk di belakang Suzy.

“Pantas saja dia ada disini. Biasanya aku melihatnya didepan piano diruang musik.” balas temannya yang tadi menyapa dirinya. Suzy mengacuhkan percakapan kedua temannya itu, dan juga teman-teman atau adik kelas yang berada didekatnya, yang sedang membicarakan bintang lapangan hari ini, Ok Taecyeon.

* * *

Taecyeon dan kawan-kawan satu tim nya sudah selesai pemanasan dan juga mendengarkan strategi dari pelatih Song. Sebentar lagi pertandingan akan segera dimulai dan Taecyeon langsung memasuki lapangan dengan sambutan meriah dari penonton yang rata-rata adalah adik kelasnya. Taecyeon berdiri diposisinya lalu ia langsung mencari Suzy dan mendapatkannya di tempat duduk yang sesuai dengan permintaannya. Dari tempat duduknya Suzy melihat Taecyeon seperti menunjuk-nunjuk dirinya dari lapangan.

“Aku?” ujar Suzy menatap mata Taecyeon tanpa bersuara sambil menunjuk dirinya sendiri. Taecyeon terlihat mengangguk dan mulutnya mengucapkan “Say, fighting” dan tangannya mengepal diudara, menunjukkan gerakan Fighting. Suzy berpikir sejenak dan ia langsung menangkap maksud dari Taecyeon.

“Aja aja hwaiting!” ujar Suzy kepada Taecyeon tanpa bersuara dan dengan gerakan yang sama persis diminta oleh Taecyeon. Jari telunjuk dan ibu jari Taecyeon langsung membentuk tanda “Oke” diikuti dengan senyuman. Semua yang melihat Taecyeon tersenyum, langsung berteriak heboh.

“Aigo!! Ah, dia berbicara dan tersenyum dengan siapa itu? Dengan Suzy, kah?” terdengar bisikkan-bisikkan iri dari belakang Suzy. Ternyata mereka melihat kejadian itu. Jelas saja, Taecyeon berdiri ditengah lapangan dan melakukan hal yang memalukan menurut Suzy. Suzy buru-buru menepuk dahinya sendiri, mengingat seharusnya ia tidak perlu menuruti kemauan Taecyeon tadi.

Pertandingan basket pun dimulai dan dalam sekejap lapangan basket indoor itu menjadi sangat ramai dan heboh. Kubu lawan juga tidak kalah membawa supporter yang banyak, yang rata-rata perempuan semua. Suzy juga sibuk sendiri, sibuk memperhatikan kemanapun Taecyeon berlari.

“Baru pertama kali aku melihatmu bermain basket… Dan kau terlihat hebat.” gumam Suzy dalam hatinya. Dan tanpa ia sadari, matanya bertemu dengan mata Taecyeon yang sedang melihat kearahnya. Taecyeon tersenyum dan Suzy langsung salah tingkah sendiri. Ia buru-buru mengalihkan pandangannya. Dan lagi-lagi perempuan-perempuan dibelakang Suzy berteriak histeris.

“Dia tersenyum! Manis sekali!” salah satu kalimat yang terdengar Suzy. Suzy hanya memasang raut wajah datar.

Satu babak telah berlalu dengan skor yang beda tipis. Sekolah mereka tertinggal 4 poin. Semua pemain kembali ke sisi kanan lapangan dan langsung diberi pijatan dan juga minuman. Taecyeon mengelap keringatnya dan meminum minuman yang diberikan Junho.

“Kita istirahat selama 5 menit. Setelah itu kita akan memulai babak kedua. Akan ada pergantian pemain.” ujar Junho berteriak kepada tim nya.

“Junho, aku pamit sebentar ya.” ujar Taecyeon berbisik dan langsung berlari ke balkon penonton. Junho tidak sempat menjawab dan hanya melihat kemana arah Taecyeon berlari, dan ia tersenyum kecil sendiri. Taecyeon menyusuri barisan pertama menuju tempat duduk Suzy dan tentunya melewati beberapa perempuan yang merupakan adik kelasnya yang heboh. Taecyeon tetap cuek dan berjalan terus sampai didekat Suzy dan langsung duduk disebelah Suzy yang sedang sibuk dengan ponselnya.

“Bagaimana permainanku?” tanya Taecyeon sambil kembali mengelap kembali keringatnya.

“Keren. Tidak kusangka kau bisa bermain basket sebagus itu.” jawab Suzy.

“Akhirnya kau memujiku. Bukakanlah minum untukku, Suzy.” pinta Taecyeon. Suzy meletakkan ponsel dipangkuannya dan mengambil 1 kaleng minuman dari tas nya lalu melemparkannya ke arah Taecyeon. Taecyeon menangkapnya tepat didepan dadanya.

“Buka sendiri. Kau kan punya tangan.” ujar Suzy dan ia kembali mengutak-atik ponselnya.

“Kau ini, semua wanita ingin membukakan minum untukku atau sekedar kusapa, tapi kau sama sekali tidak. Aku tidak mengerti jalan pikiranmu.” kata Taecyeon seraya membuka penutup minuman kaleng itu dan menegaknya dalam waktu kurang dari 2 menit.

“Tsssskkkk! Yah! Justru aku yang tidak mengerti jalan pikiran mereka. Dan kau, jangan kege-er-an, mentang-mentang kau populer dan mempunyai banyak penggemar.” balas Suzy cuek. Taecyeon mengambil lagi 1 kaleng minuman dari tas kecil Suzy dan menegaknya lagi sampai habis.

“Dasar unta, kau meneleponku hingga 10 kali?!” tanya Suzy yang cukup terkejut melihat list panggilan tak terjawab.

“Jangan membalikkan fakta. Yang unta itu kau. Aku minum banyak karena aku haus sehabis bermain basket. Lagipula siapa suruh kau matikan ponselmu?” Taecyeon tidak mau kalah berargumen.

“Kau tidak tau, aku sudah menunggumu selama lebih dari 5 menit didepan gerbang sekolah dan kau tidak memberikan kabar apapun padaku. Jadi aku matikan saja ponselku.” balas Suzy santai. Ia pun mengambil 1 kaleng minuman, membukanya dan meminumnya perlahan.

“Kau memang payah. Kau pikir aku bisa langsung ada didepan gerbang sekolah begitu bel berbunyi? Tadi aku mendengarkan briefing dahulu dari pelatih Song. Salahkan saja dia.” ucap Suzy dengan nada yang lebih tinggi dari sebelumnya. Matanya menatap Suzy yang terkesan cuek dan tidak memperhatikannya ketika sedang berbicara dengan dirinya.

“Tidak ada alasan. Kau bisa mengirimkan ku pesan. Pada akhirnya, terbukti, kau yang merepotkan dirimu sendiri. Kalau kau mengirimkan pesan padaku, akan kutunggu dan kau tidak perlu berlaku aneh seperti di halte bis tadi.” Suzy tidak mau kalah berdebat dengan Taecyeon. Keduanya memang sama-sama keras kepala.

Taecyeon tanpa basa-basi langsung pergi meninggalkan Suzy dengan membawa 1 kaleng minuman dari tas Suzy. Tidak ada ucapan terima kasih atau apapun. Suzy hanya memperhatikan Taecyeon yang berjalan terus menuju lapangan. Ternyata perempuan-perempuan yang duduk dekat Suzy daritadi berusaha untuk mendengar percakapan mereka berdua dan setelah Taecyeon pergi, mereka berbisik-bisik sambil melihat ke arah Suzy.

“Mereka bertengkar?”

“Suzy memang payah.”

“Perempuan bodoh.”

Beberapa bisikan didengar oleh Suzy dan ia langsung menoleh ke belakang. Semua perempuan itu langsung diam seakan-akan tidak ada apa-apa. Dan ketika Suzy kembali menghadap kedepan, mereka kembali berbisik-bisik.

* * *

Babak kedua dimulai dan Taecyeon tetap bermain, walaupun ada beberapa pergantian pemain dan juga pergantian strategi. Skor terus kejar-mengejar, sehingga para supporter pada siang itu saling meneriakkan nama sekolah mereka dan juga pemain favorit mereka. Jelas, nama Taecyeon lah yang paling terdengar jelas. Lagi-lagi, Suzy tanpa sadar memperhatikan kemanapun Taecyeon berlari dan membawa bola. Pada babak kedua, Taecyeon terlihat bermain lebih cepat dan agresif. Gerakannya lebih cepat daripada babak sebelumnnya yang menurut Suzy lebih santai. Suzy berpikir, apakah ini salah satu strateginya atau ia masih emosi ketika berdebat dengan dirinya. Suzy merasa bersalah pada dirinya sendiri dan ia mulai khawatir. Tidak seharusnya ia berdebat ketika Taecyeon sedang bertanding seperti ini. Suzy mengenal Taecyeon sebagai seseorang yang gampang naik turun emosinya, ia mengenalnya dari beberapa kali latihan bersamanya, Taecyeon gampang marah padanya, namun dalam sekejap bisa langsung baik padanya. Perhatian Suzy semakin fokus kepada Taecyeon yang tiba-tiba saja kehilangan keseimbangan ketika berlari dan jatuh. Permainan berhenti seketika dan semua berteriak, terutama penggemar Taecyeon. Semua berdiri untuk mengetahui keadaan Taecyeon. Pelatih Song, Junho dan petugas medis langsung berlari menuju lapangan untuk mengobati Taecyeon. Ternyata kaki Taecyeon kram dan petugas medis langsung membawa tandu untuk mengangkat Taecyeon dari lapangan dan pertandingan bisa terus dilanjutkan. Suzy langsung buru-buru turun dari balkon penonton dan berlari ke arah Taecyeon yang sedang direbahkan diatas tandu. Tanpa ragu ia langsung menyeruak diantara kerumunan pemain tim sekolahnya dan ia berjongkok disisi tandu Taecyeon.

“Arrrgh!” teriak Taecyeon menahan rasa sakit dari kakinya yang kram secara tiba-tiba. Pelatih Song langsung membentuk huruf “T” dengan kedua tangannya dan wasit memberikan waktu selama 3 menit.

“Taecyeon, kau tidak apa-apa?” tanya Suzy meyakinkan Taecyeon. Tangan kiri Taecyeon langsung memegang salah satu tangan Suzy yang sedang memegang sisi tandu dengan kuat ketika mendengar suara Suzy dekat dengannya. “Maafkan aku, Taecyeon.” lanjut Suzy dengan nada lirih. Matanya menatap mata Taecyeon.

“Ah tidak apa-apa. Aku hanya kurang pemanasan. Pelatih Song, kurasa aku tidak bisa bermain lagi.” ujar Taecyeon dengan nafas terengah-engah. Petugas medis menyemprotkan obat penghilang rasa sakit dan langsung mengompres kaki Taecyeon sementara itu pelatih Song langsung memanggil tim untuk kembali bermain dan memanggil satu pemain cadangan untuk menggantikan Taecyeon. Akhirnya Taecyeon bangun dari tandu dan duduk di kursi pemain cadangan dan Suzy duduk disebelahnya.

“Kenapa kau bodoh sekali, bermain jangan pakai emosi.” ucap Suzy mengomeli Taecyeon. Kembali ke nada bicara Suzy yang biasa Taecyeon dengar setiap latihan. Taecyeon tersenyum sambil meringis. Rasa kram mulai hilang perlahan dari kakinya.

“Kau memperhatikan permainanku?” tanya Taecyeon jahil.

“Ne~. Wae?” balas Suzy sedikit malu.

“Aniyo~. Tidak sia-sia aku membawa kau kesini.” jawab Taecyeon dengan perasaan puas.

“Kau tahu, Suzy, untuk pertama kalinya kulihat dia bersikap luwes pada wanita. Biasanya ia cuek dan terkesan seolah-olah hidup didunia yang isinya pria saja.” celetuk Junho jahil. Taecyeon memasang raut wajah masam dan Suzy, tanpa ia sadari, tersipu malu sendiri.

“Kau senang membuatku terlihat bodoh didepan dia?” protes Taecyeon kepada Junho.

“Aniyo~. Maafkan aku, Taecyeon-ah, tidak seharusnya aku membiarkan kau bermain dua babak seperti ini.” balas Junho dengan raut wajah sedikit menyesal.

“Tidak akan kumaafkan jika kau tidak menonton konser sekolah minggu depan dan tidak duduk dibarisan depan. Lagipula tidak masalah, ini adalah pertandingan terakhirku. Selanjutnya, aku tidak mau bermain basket lagi.” ujar Taecyeon.

“Kau serius?” tanya Junho tidak percaya.

“Tentu saja. Kau tidak ingat apa sebenarnya tujuanku?”

“Tapi, waktu itu kau bilang…”

“Tsk, sudahlah tidak usah kau pikirkan. Aku boleh pulang duluan? Aku harus latihan dengan Suzy.” Taecyeon memotong ucapan Junho. Junho mengangguk.

“Kau masih saja ingin latihan? Kita bisa latihan dilain waktu. Sebaiknya kau pulang saja. Aku bisa pulang sendiri.” ucap Suzy dengan nada manis, walaupun menurut Taecyeon nada bicaranya masih sama saja seperti biasanya.

“Kau ini. Waktu itu kau memaksaku untuk segera latihan, tapi sekarang, saat aku ingin latihan, kau justru melarangku.” balas Taecyeon. Firasat Junho mulai tidak enak, sepertinya mereka akan kembali berdebat, seperti yang Junho tau sifat dasar dari sahabatnya: keras kepala.

“Yah! Yah! Yah! Sebaiknya kalian berdua pulang saja sebelum kalian menghancurkan lapangan ini dengan perdebatan kalian berdua. Cepatlah kau berpamitan dengan pelatih Song, dan kau, Suzy, ambil tas mu.” Junho memotong sebelum Suzy sempat membalas argumen dari Taecyeon. Langsung saja Taecyeon beranjak dari kursinya dan berpamitan dengan pelatih Song serta mengambil tas nya, sementara Suzy kembali ke balkon penonton, mengambil tas nya dan langsung kembali turun kebawah menyusul Taecyeon yang terlebih dahulu berjalan keluar dari lapangan. Sebelum ia berjalan lebih jauh keluar dari lapangan, Suzy membalikkan badannya dan membungkuk ke arah Junho, lalu ia berlari menyusul Taecyeon. Junho hanya tersenyum melihat tingkah sahabat dan juga adik kelasnya yang menurutnya konyol.

“Ini benar-benar pertama kalinya aku melihat Taecyeon seperti ini.” ujar Junho pada dirinya sendiri sambil memperhatikan sahabatnya berjalan keluar dari lapangan, lalu ia kembali duduk disebelah pelatih Song dan kembali memperhatikan jalannya pertandingan dengan notes kecil ditangannya.

Sementara itu para penggemar Taecyeon tidak lagi memperhatikan pertandingan namun melihat Taecyeon yang berjalan keluar lapangan bersama Suzy seraya berbisik-bisik satu sama lainnya.

“Mengapa Suzy harus mengikuti kemana Taecyeon pergi?”

“Beruntung sekali Suzy.”

“Mengapa Taecyeon harus selalu bersamanya?”

***