Author : Bee

Main Cast : Go Miho, Eunhyuk

Support Cast : Euncha, Leeteuk

Rating : AAbK

Genre : Romance

1st published @ http://wp.me/p1rQNR-6D

 

^^^

 

Eunhyuk menyetir dengan tegang. Perasaannya tidak karuan setelah melihat Miho ternyata baik-baik saja tanpa dirinya. Eunhyuk tidak mengharapkan sesuatu yang buruk menimpa gadis itu selama dia tak mengantar-jemputnya, tapi melihatnya bersenang-senang dengan Leeteuk sepertinya terlalu berlebihan. Membuat hatinya bagai diinjak. Seharusnya dia memang tak datang menonton Miho latihan.

Dia terkejut sewaktu tadi, menjelang Miho usai latihan, Leeteuk memasuki ruang pertunjukan dan langsung duduk dengan santai di deretan bangku depan, melewatinya yang duduk diam dalam kegelapan. Ketika Eunhyuk melihat mereka berjalan pulang berdua, Eunhyuk sudah ingin saja menghambur dan menarik Miho masuk ke dalam mobilnya. Untung dia sanggup menahan diri. Kalau saja dia menuruti emosinya, dia pasti akan jadi pihak yang menyebalkan.

Eunhyuk tidak mau itu terjadi. Dia sudah berhasil menjaga sikapnya agar tidak mencurigakan selama ini. Dia bersikap netral terhadap Miho ketika Leeteuk membawanya ke asrama. Hanya Tuhanlah yang tahu bagaimana kerasnya dia mengontrol diri. Benar-benar bukan seperti dirinya.

Akhirnya karena merasa lelah secara emosional akibat terus-terusan memikirkan Miho, Eunhyuk memutuskan pulang ke asramanya agar bisa segera tidur. Dia sampai di sana dalam 30 menit. Begitu membuka pintu, dia mengucapkan salam tapi tak ada seorang pun yang menjawab. Setelah menyimpan sepatunya dengan benar, Eunhyuk memasuki ruang tengah dan terpana.

Leeteuk sedang berlutut di hadapan Miho yang terduduk bengong di sofa. Salah satu asisten Suju sedang ikut berlutut di sebelahnya. Leeteuk seperti sedang membujuk Miho, tapi Miho hanya terpaku. “Ada apa ini?” Eunhyuk memaksa suaranya agar keluar. Perasaannya tidak enak.

Leeteuk menoleh dan sinar matanya panik menatap Eunhyuk. “Aku ga tahu. Gimana ini, Hyuk?”

Eunhyuk melangkah mendekat. “Kenapa, Hyung?” matanya berganti-ganti menatap Miho dan Leeteuk. Oh tidak, Miho menunjukkan wajah yang selama ini selalu membuatnya khawatir.

“Aku ga tahu kenapa, tapi tadi dia agak tergelincir waktu mengambil minum. Terus waktu aku coba bantu dia, tiba-tiba dia langsung gemetar dan badannya jadi dingin. Ini kayak yang waktu itu kan Hyuk?” Leeteuk menjelaskan dengan panik.

Eunhyuk terpaku. Mungkinkah tadi Leeteuk tidak sengaja menyentuh tubuh Miho di luar yang bisa ditahan oleh wanita itu? Dia ingin memeluk Miho seperti yang biasa dilakukannya, tapi dia ingat bahwa dia pernah membuat wanita itu ketakutan gara-gara pelukannya, maka mungkin itu bukan ide yang baik.

“Mihyung!” Eunhyuk mencoba memanggil Miho.

Mata Miho berkedip sekali. Itu bagus. Paling tidak dia belum sepenuhnya tenggelam. “Hyung, tolong ambilkan selimut,” pinta Eunhyuk pada Leeteuk.

Leeteuk menurut dan segera mengambil selimut dari kamarnya. Sementara itu Eunhyuk memberanikan diri menggenggam tangan Miho. Kepala gadis itu bergerak ke arah tangannya yang digenggam Eunhyuk, membuat cowok itu semakin percaya diri untuk mengembalikan kondisi Miho. “Mihyung, gwenchanha… Gwenchanha…” ujarnya dengan nada menenangkan sementara tangannya mulai menggosok-gosok tangan Miho.

Leeteuk datang dengan selembar selimut. Eunhyuk mengambilnya dari tangan Leeteuk dan langsung membungkus bahu Miho dengan itu. Dari luar selimut Eunhyuk menggosok-gosok lengan Miho sambil terus menenangkan gadis itu. Perlahan-lahan Eunhyuk mulai melihat rona merah di pipi Miho. Perasaannya menjadi lebih lega.

“Hyung,” panggil Eunhyuk pada Leeteuk. “Kupikir kau ada siaran malam ini, kenapa malah ada di sini sama Mihyung?” tanya Eunhyuk setelah melihat raut Miho mulai berubah.

“Aku pengin ngajak dia ke tempat siaran karena bintang tamunya Big Bang, katanya dia suka. Tapi aku harus balik dulu ke sini karena ada yang ketinggalan,” Leeteuk menjelaskan.

“Dan kalau tidak pergi sekarang, kau akan terlambat, Leeteuk ssi,” ujar asisten mereka di sebelah Leeteuk.

“Omo, eotteohke?” Leeteuk panik lagi.

“Pergilah,” kata Eunhyuk. “Aku nanti yang nganterin Miho pulang,” kata Eunhyuk pulang.

Leeteuk sebenarnya tidak suka dengan alternatif itu, tapi tidak ada jalan lain, jadi dia terpaksa menurut. “Geurae, terima kasih, Hyuk. Kalau begitu aku pergi dulu,” ujarnya dengan berat hati.

Eunhyuk hanya menjawab sekedarnya. Dia tidak mengantarkan Leeteuk ke depan, melainkan hanya menatap punggung hyungnya itu yang bolak-balik menoleh sebelum benar-benar pergi. Begitu pintu ditutup, Eunhyuk menghadap Miho lagi dan terkejut ketika melihat Miho ternyata sedang menatapnya.

Mereka berpandangan selama beberapa saat sampai akhirnya Eunhyuk melepaskan tatapannya dari Miho. “Hyuk…” terdengar suara Miho yang bergetar.

Eunhyuk mengangkat wajahnya lagi dan kaget melihat setetes air mata menuruni pipi wanita itu. “YA! Wae geurae?! Eodi appeu?!” Eunhyuk langsung panik.

Namun kepanikannya tidak berlangsung lama. Hanya setetes itulah air mata yang turun dari mata Miho. Setelahnya tidak ada lagi yang keluar. Kepanikan Eunhyuk dengan cepat berubah menjadi kebingungan. Dengan tidak yakin dia bertanya lagi, “Kamu kenapa? Mananya yang sakit?”

Miho menggeleng, tidak menjawab, hanya menatap wajah Eunhyuk lekat-lekat. Yang ditatap menjadi merah mukanya. Dasar siluman, bahkan dalam situasi begini saja dia masih sanggup membuatku berdebar hanya lewat tatapan, rutuk Eunhyuk dalam hati. Untuk menutupi kegugupannya, Eunhyuk bertanya terbata, “Ma, ma, masih dingin?”

Miho akhirnya menundukkan wajah. Dia menatap telapak tangannya. “Udah enggak lagi. Gomawo.”

Eunhyuk menatap Miho serius. “Mihyung, boleh aku bertanya?”

Miho mengangkat matanya menatap Eunhyuk. “Mwo?”

Eunhyuk menelan ludah, “Kamu, awal-awalnya kenapa bisa punya fobia begini?”

Mata Miho langsung berkabut. Ingatan menyakitkan kembali memborbardirnya. Bermaksud menyembunyikan ketakutannya, dia mengalihkan pandangan dari Eunhyuk sambil berkata, “Aku udah lupa.”

Eunhyuk tahu Miho berbohong. Tapi dia juga tahu, Miho ketakutan ketika dia menanyakan hal itu. Jadi Eunhyuk memutuskan tidak akan bertanya lebih jauh. Ujung-ujungnya dia malah menanyakan hal yang sama sekali lain, “Apa kau mau minum?”

Miho melempar tatapan berterima kasih pada Eunhyuk karena mengabaikan kebohongannya. Dia menggeleng.

Eunhyuk bertanya lagi, “Mau pulang sekarang?”

Miho mengangguk. Tapi lalu dia teringat sesuatu, “Hyuk,” panggilnya ragu.

Eunhyuk menoleh dengan heran. Setengah sadar diambilnya selimut yang menyelimuti pundak Miho. Miho membantunya melepas selimut itu lalu mulutnya berujar pelan, “Aku minta maaf.”

Gerakan Eunhyuk terhenti. Digulungnya selimut. Benaknya bertanya-tanya untuk apa Miho meminta maaf? Apa wanita itu tahu rasa sakit hatinya? Bagaimana bisa tahu? Apakah perasaannya sedemikian jelas?

“Aku minta maaf sudah berbohong padamu,” seolah tahu isi pikiran Eunhyuk, Miho berkata lagi.

Ah, jadi itu toh. Eunhyuk tersenyum kecil, “Sudahlah. Aku senang ternyata kamu wanita. Jadi Leeteuk Hyung ga dicap aneh lagi sama yang lain,” ujarnya setengah berbohong.

Miho memiringkan kepalanya tak mengerti. “Maksudmu?”

Eunhyuk duduk lagi di hadapan Miho, “Kamu tau ga? Selama ini kami semua berpikir jangan-jangan Leeteuk Hyung ga normal. Coba bayangkan kalau kamu bener-bener transgender. Kalau publik sampai tahu hal ini, kamu pikir Leeteuk Hyung akan bisa hidup tenang? Lagian, aku senang melihatmu bersenang-senang dengan Hyung.” Pembohong! Maki Eunhyuk pada dirinya sendiri.

Mulut Miho terbuka. Apa Eunhyuk berpikir bahwa dia benar-benar berhubungan dengan Leeteuk? Entah kenapa pemikiran bahwa Eunhyuk berpikir begitu membuat Miho resah. “Aku dengan Leeteuk Oppa—”

“Sebaiknya kita cepat. Keburu kemalaman. Nanti Eommonim khawatir.” Eunhyuk bangun tiba-tiba. Beranjak menaruh selimut di kamar Leeteuk. Sungguh, dia tak ingin mendengar apapun tentang Miho dan Leeteuk. Dia sudah bertekad, kalau memang Miho dan Leeteuk berpasangan, dia akan membunuh rasanya sendiri. Dan tampaknya keduanya memang berpasangan.

Miho mencoba memanggil Eunhyuk, tapi dia melihat bahwa cowok itu menolak menatapnya. Ada apa dengannya? Apa dia masih marah? Lalu Miho teringat kejadian di belakang panggung waktu itu. Ah, mungkinkah Eunhyuk sebenarnya marah padanya karena kejadian itu? Tapi bagaimana menjelaskannya pada Eunhyuk? Mengingatnya saja sudah membuat Miho bergetar ketakutan, bagaimana mungkin dia mengatakannya?

Miho masih terpaku di tempatnya ketika Eunhyuk membuka pintu depan. “Mau pulang atau ga, Mihyung?”

Kerena Miho tampaknya tidak mendengarnya, Eunhyuk berkata lagi, “Atau kamu mau menginap di sini? Nanti kalau kami serang bagaimana? Kami sudah tahu kamu wanita lho…”

Eunhyuk sebenarnya hanya bercanda, tapi wajah Miho jadi pias mendengar candaannya. Wanita itu cepat-cepat menyambar tasnya dari lantai dan keluar tergesa-gesa, tidak meminta maaf ketika menabrak Eunhyuk kasar. Eunhyuk jadi terheran-heran dengan sikapnya itu.

Di lift, Miho menempatkan dirinya jauh-jauh dari Eunhyuk. Mukanya tegang. Eunhyuk bergeser sedikit. “Mihyung…” panggilnya. “Marah?” tanyanya ketika Miho tidak mau menjawabnya.

Miho bergeser menjauhi Eunhyuk.

“Hey,” Eunhyuk agak tersinggung. “Aku cuman bercanda kok. Memangnya kami ini pemerkosa?”

Cepat sekali Miho memalingkan wajahnya ke arah Eunhyuk sehingga Eunhyuk heran leher Miho tidak patah karenanya. Bukan berarti dia mengharapkan leher Miho patah, ya. Selain itu wajah Miho juga semakin pucat. Ketika bicara, suara Miho bergetar, “Jangan bercanda begitu! Itu ga lucu!”

Eunhyuk diam saja menatap Miho. Kali ini, Miho mengalihkan pandangannya dari Eunhyuk. “Jangan pandangi aku!” desisnya.

Tapi sayangnya Eunhyuk tidak bisa menuruti permintaannya. Dia terlalu heran melihat tingkah Miho sehingga tanpa sadar tatapannya terus mengarah pada Miho. Melihat tatapan Eunhyuk, tubuh Miho semakin gemetar. “Eunhyuk, aku mohon. Jangan tatapi aku seperti itu,” Miho terisak karena ketakutan semakin menyesaki dadanya.

Eunhyuk melihat wanita itu seolah-olah ingin merobek pintu lift dan meloncat keluar, menjauh darinya. Apa dia membuat Miho ketakutan lagi? Tapi dia tak melakukan apa-apa.

Tenggelam dalam pikirannya, Eunhyuk menyandar ke dinding belakang lift. Apa yang membuat Miho ketakutan? Dia bahkan tak menyentuh wanita itu. Kemarin ketika Miho pertama kali menolaknya, mereka juga berdiri berdekatan. Apa kedekatan membuat Miho takut? Tapi wanita itu bercanda sambil menggesek-gesek hidung sebelumnya, bukankah itu sangat dekat?

Tiba-tiba lift berdengung lalu berhenti. Eunhyuk mendengar suara Miho terkesiap. “Ke, ke, kenapa? Kenapa liftnya berhenti? Kenapa?!” suara Miho berubah panik.

Eunhyuk bergerak hendak menekan interkom darurat. “Lift ini memang sudah beberapa kali rusak. Jangan khawatir, biasanya mereka siaga kok.”

Miho berdiri di dekat pintu, sehingga ketika tangan Eunhyuk terulur ke arah interkom, cowok itu terlihat seperti hendak mengulurkan tangan meraih Miho. Dalam sekejap Miho meledak, “KYAAAAA!!!!” wanita itu menjerit sambil mengayunkan tasnya menyerang Eunhyuk.

 

^^^

 

Leeteuk pergi dengan tidak tenang. Miho kenapa lagi? Waktu itu Miho sampai tidak bisa berdiri dan sekarang kelihatannya tidak separah sebelumnya, tapi tetap saja membuat Leeteuk khawatir. Dia bingung sekali ketika mendapati Miho seperti tak berjiwa. Nafasnya masih ada, tapi seperti zombie.

Untung saja Eunhyuk datang.

Tunggu dulu. Kenapa Eunhyuk tampaknya lebih tahu apa yang harus dilakukan? Apakah karena selama ini dia yang mengantar-jemput Miho? Tapi semestinya tidak ada yang berbeda. Leeteuk juga mengantar-jemput Miho. Yah, memang sih bagian mengantarnya jarang-jarang, tapi kan tetap saja setiap hari dia bergaul dengan Miho. Selama itu tak sekalipun Miho tampak aneh. Jadi wajar kalau Leeteuk panik saat Miho tiba-tiba bertingkah seaneh tadi, kan?

Tapi kenapa Eunhyuk tampak tidak terkejut? Itu pertanyaannya.

Apa yang sudah terjadi antara Eunhyuk dan Miho yang tidak diketahuinya? Sejauh mana dongsaengnya itu mampu menyimpan rahasia? Rasanya selama ini Eunhyuk adalah anak yang polos. Meski suka menyimpan masalahnya rapat-rapat, tapi kalau sudah menyangkut orang lain, biasanya dia agak ‘bocor’. Apa benar Eunhyuk dan Miho memang memiliki suatu hubungan?

Dugaan itu menimbulkan rasa waswas di hati Leeteuk. Kalau sampai terjadi persaingan gara-gara cewek di antara member, rasanya itu bisa gawat. Leeteuk tidak ingin membayangkannya, tapi dia juga tidak ingin membayangkan berhenti memikirkan Miho. Dalam waktu singkat wanita itu sudah banyak membuat ulah yang sangat berkesan di hatinya. Kalau disuruh melupakannya begitu saja, Leeteuk jelas tidak bisa.

Di sisi lain, Eunhyuk mungkin memang yang pertama berkomunikasi dengan Miho, tapi bukankah dia yang lebih dulu dekat dengan wanita itu? Eunhyuk tidak tampak tertarik pada Miho ketika menganggap wanita itu adalah banci, tapi setelah tahu bahwa Miho wanita pun sikapnya tampak tidak berubah. Jadi sebenarnya bagaimana perasaan Eunhyuk?

Leeteuk berusaha mengingat-ingat sesuatu. Matanya melebar. Tunggu dulu, apa itu artinya sejak awal Eunhyuk sebenarnya sudah tahu bahwa Miho adalah wanita? Kalau iya, itu menjelaskan kenapa dia menjadi satu-satunya yang tidak marah setelah rahasia Miho terbongkar. Jangan-jangan selama ini dia memang mendekati Miho tanpa sepengetahuan yang lain?

Kata-kata ibu Miho yang menyebut nama Eunhyuk dengan luwesnya terngiang lagi di telinga Leeteuk. Mungkinkah Eunhyuk bahkan sudah mendekati keluarga Miho? Tapi bukankah dia yang mengusulkan agar Miho menjadi pasangannya di muka publik? Kenapa anak itu harus repot-repot mengusulkannya kalau dia sendiri tertarik pada Miho?

Semua ini benar-benar tidak masuk akal. Tiba-tiba dalam benak Leeteuk, Eunhyuk bagai misteri alam semesta. Terlihat, tapi tak terjelaskan. Dongsaengnya itu memenuhi pikirannya, menggeser posisi Miho dengan mudahnya.

 

^^^

 

Di sebuah kamar.

Euncha sedang berkutat dengan laptopnya. Beberapa buku tersanding di sebelahnya. Ada yang terbuka dan ada yang menutup. Dia begitu berkonsentrasi pada pekerjaannya menyusun silabus pengajaran yang diminta Jihoon, sampai-sampai dia melonjak kaget ketika ponselnya berdering.

Ini sudah pukul 11.30 malam, jadi Euncha berpikir itu pasti Jihoon yang meneleponnya. Entah kenapa laki-laki itu suka sekali meneleponnya malam-malam hanya untuk mengajaknya ngobrol ga penting. Dengan suara mesra dia menjawab ponselnya sambil tetap menatap monitor laptopnya. “Yoboseyo~”

“Yoboseyo!” Euncha mengalihkan pandangannya dari monitor laptop ketika mendengar suara asing di telinganya. Itu jelas bukan suara Jihoon.

“Nugu—“

“Euncha, ini Eunhyuk!” nada suara pria itu terdengar gugup dan di belakangnya terdengar suara wanita yang mengerang-erang kemudian menjerit-jerit.

“Euncha! Miho…” ucapan Eunhyuk terputus-putus.

Miho? Kenapa dengan eonnie? Apa itu suara eonnie di belakang sana. Badan Euncha langsung menjauhi meja dengan tegang. “Eunhyuk Oppa?! Wae?!” nadanya sudah tinggi kali ini.

“Akh!” Euncha mendengar suara Eunhyuk seperti kesakitan. “Mihyung! Hentikan! Hentikan! Ini aku! Eunhyuk!” suara Eunhyuk benar-benar terdengar kewalahan sekarang. Lalu pria itu berkata lagi di telepon, “Euncha! Bisakah kau datang ke tempatku? Cepat! Aku rasa Miho memerlukanmu! Akh! Miho! Berhenti! Aku bilang berhenti!!!”

Plak! Euncha mendengar suara pukulan, lalu sepi. Dia tidak menunda apa-apa lagi. Ditutupnya telepon dan dalam 5 menit dia sudah sedang mengeluarkan mobilnya dari garasi. Kedua orang tuanya tampak khawatir. Mereka mengantar kepergiannya dengan pesan agar berhati-hati. Baik yang diberi pesan maupun yang memberi pesan sama-sama berwajah kacau.

 

^^^

 

Telepon rumah itu berbunyi. Sepasang suami istri penghuninya sedang terlelap di kamar, jadi mereka tidak mendengarnya. Pada deringan kesekian akhirnya telepon itu berhenti menjerit. Pemiliknya hanya bergerak mengubah posisi tidur di kamar.

Ayah dan ibu Miho berangkat tidur dengan tenang malam ini karena tadi sore Leeteuk mengatakan bahwa dia akan mengajak Miho ke studio untuk menemaninya. Jadi mereka tidak kepikiran sama sekali bahwa anaknya saat ini sedang dalam situasi yang kacau. Tanpa Leeteuk di sampingnya.

 

^^^

 

Eunhyuk membuka matanya dan mengerang kesakitan. Di hadapannya Miho sedang meringkuk memandanginya dengan panik. Wanita itu mencengkeram erat-erat tali tasnya sementara matanya terbelalak. Bibirnya gemetar dan pipinya basah oleh air mata yang terus mengalir. Eunhyuk meraba ujung bibirnya yang terasa perih dan merasakan rasa besi akibat darah yang keluar dari sana. Ulu hatinya terasa sakit. Tapi semua itu tidak ada artinya dibandingkan kekhawatirannya saat melihat Miho.

Tangannya terulur mencoba meraih Miho, tapi lalu tertarik lagi karena perutnya benar-benar kesakitan. Dia mengerang, lalu mendengar rintihan Miho, “Eunhyuk… Eunhyuk…”

Cowok itu bisa melihat kebingungan Miho. Hal yang sangat disyukurinya adalah Miho tidak kabur. Wanita itu masih di sebelahnya meski tidak bisa dibilang sedang duduk. Dia seperti ingin menjadi dinding mobil saking rapatnya dengan daun pintu. Di matanya, Eunhyuk melihat ketakutan, kebingungan, dan rasa bersalah.  “Gwenchanha,” kata eunhyuk parau menahan sakit.

Miho masih merintih-rintih, “Eunhyuk… Eunhyuk…”

“Nan gwenchanha,” sahut Eunhyuk langsung. Dia memaksa untuk duduk tegak. Tidak dihiraukannya rasa nyeri yang memang sudah agak berkurang. Dia mengambil tissue dari laci dashboardnya lalu mengelap ujung bibirnya yang pecah. Sial, Miho ternyata kuat sekali. Masa dia sampai pingsan gara-gara dipukul wanita itu?

Suara Miho memanggil-manggil namanya masih terdengar. Dia menoleh pada Miho dan tersenyum miring. Lalu meringis karena bibirnya terasa sakit. Saat dia mengerang kesakitan, dia melihat mata Miho terbelalak lebar, lalu rintihannya semakin jelas. Kepala wanita itu menggeleng-geleng cepat, matanya menjadi liar. Eunhyuk jadi teringat Sangji.

Miho persis seperti Sangji saat ini. Matanya membelalak, wajahnya ketakutan—dan menakutkan—dengan rambut amburadul, tubuh gemetar, mulut meracau tak jelas. Dipikir lagi, Eunhyuk berkesimpulan bahwa saat ini dia sedang melihat Sangji. Bukan Miho.

Kalau wanita ini bukan Miho, Eunhyuk sudah akan memanggil RS Jiwa agar menahan wanita ini. Tapi ini Miho. Rasa sayang menyelusup di dadanya. Ya, bagi Eunhyuk, saat Miho banci, saat Miho kacau, saat Miho jahil, saat Miho berbohong, dia tetap Miho. Apapun ceritanya, dia tak sanggup meninggalkan wanita itu. Kesadaran itu membuat Eunhyuk tersenyum ironis. Apapun ceritanya, Miho tetaplah Miho. Istimewa, dan tak bisa ditinggalkannya.

Tangan Eunhyuk terulur ke arah Miho. Berhenti sejenak ketika Miho menggeleng-geleng ketakutan. Lalu bergerak lagi setelah beberapa saat diam. Miho kembali ketakutan. Wanita itu membalik badannya menghadap kaca mobil. Tangannya menggedor-gedor kaca itu keras sekali hingga Eunhyuk khawatir kacanya akan pecah.

Diraihnya tangan Miho lalu digenggamnya. Dia terus menatap Miho. Sementara yang ditatap tak mau memandangnya sedikitpun. “Duduklah, Miho-ya. Apa ga capek jongkok terus begitu?” tanya Eunhyuk dengan nada geli yang sengaja ditunjukkan agar Miho tahu bahwa dia tidak ingin mengancam wanita itu.

Miho tidak mengerti. Dia hanya tahu dia kacau saat ini. Dia tak bergeming. Matanya terus mengamati tangan Eunhyuk yang sedang menggenggam tangannya.

Eunhyuk berusaha menangkap tatapan Miho. “Miho-ya, ini aku, Eunhyuk. Kau ingat?”

Bibir Miho bergetar. Dia seperti hendak mengatakan sesuatu, tapi malah isakannya yang semakin keras. Dalam dirinya kehangatan mengalir dari genggaman tangan Eunhyuk dan membuatnya sedikit lebih tenang.

“Miho, duduklah. Aku udah telepon Euncha tadi. Dia akan datang sebentar lagi,” ujar Eunhyuk pelan sambil melepaskan tangan Miho. Cowok itu kemudian duduk menghadap depan. Dia menjaga jaraknya tetap jauh dari Miho, memberikan ruang bagi wanita itu untuk menenangkan diri.

Perlahan Miho mengumpulkan keberaniannya lalu membetulkan posisi duduknya demi mendengar nama Euncha disebut-sebut. Ketika Eunhyuk menoleh, Miho sedang memeluk tasnya erat-erat. Cowok itu hanya tersenyum tanpa suara.

Selama beberapa menit mereka terdiam dalam posisi itu sampai keduanya dikagetkan oleh dering ponsel. Bukan ponsel Eunhyuk, maka itu berarti ponsel Miho. Eunhyuk mencari keberadaan ponsel itu di sekitarnya dan menemukannya di dekat kaki. Ketika dia melihat siapa yang memanggil, dia langsung mengangkatnya dan berbicara, “Euncha, kami ada di parkiran di basement.”

Tidak ada jawaban, hanya suara sambungan diputus. Eunhyuk mengangsurkan ponsel itu pada pemiliknya. “Euncha sebentar lagi datang,” katanya singkat.

Miho menerima ponsel itu dengan takut-takut, tak berani menatap Eunhyuk. Lalu ketika Miho sedang memasukkan ponselnya ke dalam tas, Eunhyuk mendengar suara ban berdecit. Cepat-cepat dia keluar dari mobil dan berdiri di depan mobilnya.

Euncha menghentikan mobilnya dengan berdecit tepat di depan Eunhyuk. Saat keluar dari mobil, tangannya berkeringat dingin akibat mengebut. “Mana Mihonnie?!” tanyanya tanpa basa-basi. “Astaga! Oppa kenapa?! Apa ada perkelahian? Mihonnie terluka?” dia panik setelah melihat wajah Eunhyuk yang tidak bisa dibilang beres.

Eunhyuk berjalan ke sisi penumpang mobilnya tanpa menjawab. Dia membuka pintunya lalu menarik tangan Miho dengan lembut agar turun dari mobil. Euncha memekik kaget melihat kondisi Miho yang amburadul. Dia menghampiri Miho dan meneliti tubuh kakaknya. Setelah yakin tidak ada luka, dia membimbing Miho memasuki mobilnya.

Di mobil, Miho tiba-tiba memeluknya. Tangisnya pecah, badannya berguncang-guncang hebat. Mata Euncha berkaca-kaca, hatinya gundah tidak berani membayangkan apa yang mungkin sudah terjadi. Kemudian dia terkejut ketika Miho berkata, “Eunhyuk… Eunhyuk terluka…”

Miho menyebut Eunhyuk?! Biasanya dalam kondisi depresi begini, Miho bagai mayat hidup. Tak sanggup melakukan apapun kecuali bernafas. Tapi sekarang dia menyebut nama Eunhyuk? Dengan cepat Euncha menoleh ke arah Eunhyuk yang hampir sama kacaunya seperti Miho.

Miho tak mau melepaskannya sambil terus menyebut nama Eunhyuk. Akhirnya Euncha berjanji bahwa dia akan merawat Eunhyuk setelah Miho melepaskan pelukannya. Saat itulah Miho melepaskan rangkulannya di leher Euncha. Euncha menutup pintu lalu berjalan ke arah Eunhyuk. Di hadapan pria itu Euncha berkata, “Tunggu sebentar.”

Setelah memarkir mobilnya dengan benar di sebelah mobil Eunhyuk, Euncha keluar mobil, meninggalkan Miho yang sedang mulai tenang. “Apa yang terjadi?” akhirnya aku bisa bertanya juga, pikir Euncha begitu sampai di sebelah Eunhyuk.

Eunhyuk tersenyum tipis, tapi matanya tidak.

Eunhyuk lalu bercerita mulai dari kondisi Miho yang sedang kacau ketika dia pulang, hingga lift yang ngadat. “Lift-nya cuman berhenti sebentar, tapi waktu itu Miho udah nyerang aku pakai tasnya. Berteriak-teriak menyuruh aku melepaskannya. Padahal aku ga menyentuhnya sama sekali. Sewaktu keluar lift,” Eunhyuk menunjuk lift yang sekarang tertutup tepat di depan tempat mereka berdiri, “Miho masih terus meronta-ronta sampai aku terpaksa memaksanya masuk ke dalam mobil. Paling ga di dalam mobil aku ga takut dia akan melarikan diri. Karena kelihatannya dia mau melakukan itu.”

Eunhyuk memasukkan tangannya ke dalam saku. “Di dalam mobil dia terus menyerangku. Aku berusaha meraih tasnya untuk mencari nomormu—karena aku ingat kamu yang selalu bersamanya—ketika dia berhasil menamparku. Saat aku sedang berbicara denganmu, dia menjotosku lalu berhasil meninju perutku hingga aku pingsan sebentar.” Eunhyuk mengeluarkan tangannya dari saku dan mengelus perutnya.

Di sebelah Eunhyuk, Euncha menutup mulutnya. Ini pertama kalinya dia mendengar Miho bisa bertindak sebrutal itu. Euncha yakin Eunhyuk tidak mengada-ada ataupun berbohong, melihat luka dan lebam di wajah cowok itu.

“Sekarang, Euncha…” Eunhyuk menatap Euncha lurus. “Tolong jelaskan padaku, kenapa Miho bisa begitu?”

Euncha tak sanggup bersuara. Haruskah dia mengatakannya pada Eunhyuk? Selama ini Miho selalu menjadi korban. Tapi perilaku Miho yang seperti ini juga baru pertama kali. Keagresifannya, baru sekali ini Euncha tahu pernah terjadi. Sejak kemalangan yang menimpanya, reaksi yang selalu diperlihatkan Miho adalah diam, mengisolasi diri, menjadi terasing dari sekitarnya. Belum pernah sekalipun Miho memperlihatkan kemarahan. Hanya keterpurukan. Haruskah dia mengatakannya pada Eunhyuk?

Matanya menatap Eunhyuk ragu, tapi lalu memutuskan bahwa kalau reaksi kakaknya akan seperti ini terus, lebih baik dia memperingatkan orang-orang di sekitarnya. Eunhyuk selama ini sudah berhasil menjadi satu dari sedikit pria yang dipercaya oleh Miho. Bahkan tadi, dalam kekalutannya, Miho masih memikirkan Eunhyuk. Entah karena rasa bersalah atau apa, tapi yang jelas Miho mengingat Eunhyuk. Itu jelas berarti sesuatu.

Akhirnya, Euncha melepaskan tatapannya dari Eunhyuk dan menyandarkan tubuhnya ke mobil pria itu. Dia menghela nafas dan mengusap wajah sebelum mulai bercerita. “Mungkin ceritanya akan panjang,” kata Euncha sebagai awalan.

Eunhyuk ikut menyandar di mobilnya. “Aku mendengarkan,” kata cowok itu.

Euncha menghela nafas lagi. Tangannya ditempelkan di depan mulut. “Ini… Ya Tuhan, ini sulit,” desah Euncha ragu.

Eunhyuk diam saja.

“Mihonnie,” Euncha menoleh ke arah mobilnya. Dilihatnya kepala Miho sudah tergeletak miring di sandaran. Sepertinya Miho sudah mulai tertidur. Semoga saja dalam tidurnya nanti dia tidak mimpi buruk.

Euncha menoleh lagi pada Eunhyuk. Lalu suaranya terdengar tegas ketika berkata, “Mihonnie dulu pernah diperkosa.”

 

 

-cut-