Seven Years Of Love
Super Junior’s Choi Siwon
One Shot
By.Yen Yen Mariti

2011, Seoul – South Korea
Siwon POV
Aku lupa, benar-benar tidak bisa mengingat apa yang terjadi padaku sebelumnya. Sadar- aku telah berada di sini. Di ruangan luas tertutup. Kepalaku juga terasa sangat pusing. Arghh… aku mencoba bergerak tapi tidak bisa. Setelah kusadari ternyata tubuhku terikat di kursi yang kududuki ini. Apa-apaan ini ?? setelah memperjelas indera penglihatanku, kuarahkan seluruh penglihatanku ke penjuru ruangan ini. Dan kutemukan sesosok gadis cantik, juga muda duduk di kursi yang terletak di hadapanku.

Gadis itu tersenyum, cantik sekali dan terlihat sangat tulus. Aku memperhatikan sebentar wajahnya. Sepertinya aku mengenalnya, tapi sayangnya aku lupa dia ini siapa.
“Kau sadar Oppa”, ucapnya santai sambil terus tersenyum dan memandangi wajahku.
“Siapa kau, dan apa yang terjadi padaku. Kenapa aku bisa di sini?”. Aku segera menyerangnya dengan pertanyaanku. Itu wajar kulakukan, karena ini terlihat sangat GILA !!
“Siapa aku? Kau lupa aku Oppa?”. Masih dengan tampang tenang tak bersalah, masih dengan senyum anggunnya dia balik bertanya padaku. “kau benar-benar melupakanku Oppa. Bahkan wajahku pun kau tak mengenalnya.”
“aku tidak main-main. Cepat katakan padaku siapa kau, apa maumu. Dan cepat lepaskan aku.!” Teriakku lantang penuh emosi. “jangan main-main denganku!!.” Lanjutku kembali.
“Ternyata sangat sulit yah berhadapan dengan artis besar sepertimu.” Gadis itu bangkit dari duduknya, aku dapat melihat dress hitam selutut yang membalut tubuhnya. Sangat cantik, tapi aku benar-benar tidak tertarik akan itu sekarang. “Hatiku sakit saat kau bilang kau tidak mengenaliku. Semudah itukah aku terhapus dari ingatanmu, semudah itukah kau menganggap tiada diriku, Choi Siwon.”
Apa? Apa maksud kata-kata gadis ini? Aku melupakannya? Benarkah aku mengenalnya, sepertinya aku mengenalnya tapi aku lupa dia ini siapa. Apakah dia ini seorang ELF ? “apakah kau seorang ELF?” tanyaku dengan ragu.
Gadis itu tersenyum sinis ke arahku, “tidak tahu. Bisa dibilang ELF, tapi bisa juga bukan.”
“bisakah kau melepaskanku?” tanyaku sambil berusaha menggerak-gerakan tubuhku dari jeratan tali tambang ini.
“tidak!”.
“kau gila, benar-benar tidak waras. Kau tahu kau akan dihukum seberat-beratnya karena melakukan ini.”
Sekali lagi gadis ini menunjukkan senyum sinisnya kearahku, “kau tega sekali jika membawaku ke meja hijau.” Matanya terus menatap mataku, tapi anehnya tidak terlihat aura jahat dari tatapan matanya. “kau bilang aku gila Oppa? Kau lupa, aku gila karenamu. Ketidakwarasanku juga disebabkan olehmu.” Dengan ekspresi datar gadis ini mengeluarkan kata-kata yang tak dapat kumengerti.
“aku tidak tahu kau ini siapa, juga apa maumu dan motifmu melakukan ini. Kumohon berhentilah, aku bisa saja memaafkanmu jika kau menghentikan semua ini.”
Gadis itu kembali ke kursinya. Duduk di hadapanku tanpa bisa berhenti menatapku. Tapi detik berikutnya dia menutup wajahnya dengan kedua tangannya, dan aku mendengar isakan pelan darinya. Benarkah gadis ini gila ?
“Kau ingat ini hari apa?” tanyanya saat dia sudah menampakkan wajahnya. Aku hanya diam, tidak memberi jawaban ataupun ekspresi lainnya. “Oppa Pabo ! hari penting seperti inipun bisa lupa.” Kemudian gadis ini tertawa kecil, membuat tubuhnya sedikit berguncang.
“Kau tahu Oppa, aku sangat merindukanmu. Nan bogoshipota. Aku lelah mencarimu ke mana-mana, dan akhirnya dua minggu yang lalu aku menemukanmu. Ternyata kau kembali ke korea. Aku tidak tahu itu, aku sungguh bodoh.” Dia kembali tertawa, entah itu menertawaiku atau menertawai dirinya sendiri akupun kurang tahu.
“Saat aku tahu bahwa aku telah menemukanmu kembali hatiku senang bukan main. Tapi sesaat kemudian rasa senang-bahagia itu tergantikan oleh rasa sakitnya kehancuran hatiku.” Sekarang matanya beralih, tidak menatapku. Melainkan menatap ke samping. “aku sudah mendengar beritanya. Empat hari yang akan datang kau akan menikahi gadis itu. Astaga berita pernikahan kalian itu sangat berisik, seluruh stasiun televisi membicarakannya.”
“Sekarang cepat katakan padaku apa maumu?”. Aku bosan mendengar kata-kata yang tidak berhenti meluncur dari mulutnya.
Gadis itu menatapku lagi, menampakkan senyum mirisnya padaku. Dia mengacungkan tangannya padaku, yang tak kumengerti apa maksudnya. “kau ingat cincin ini Oppa?”. Kuperhatikan baik-baik cincin yang menyemat jari manisnya.
Aku mengerutkan dahi, mungkinkah…. “kau….”
“benar, terima kasih telah mengingatku Oppa.” Dia menurunkan tangannya. “aku Hyo Lyn. Aku Hyo Lyn-mu.”
Seperti ada beribu duri yang menusuk jantungku. Dia Hyo Lyn, aku tidak salah. Sekarang aku mengingatnya. Tapi kenapa dia menyekapku seperti ini.
“Lynn kenapa kau melakukan ini?”. Tanyaku dengan suara sedikit serak.
“Lyn…” kembali kuserukan namanya. Dia diam tapi terus tersenyum ke arahku. Mata beningnya menatapku dengan penuh kerinduan. Dan kemudian dapat kulihat butiran-butiran krystal itu jatuh dari pelupuk matanya, mengaliri pipi putihnya. Aku bingung.
“setiap hari memikirkanmu, setiap detik merindukanmu. Setiap waktu aku kembali mengingat kenangan yang kita buat bersama. Aku bahagia saat menemukanmu, aku bahagia saat bisa melihatmu kembali walaupun sangat sulit, karena kau dikelilingi oleh beribu fansmu.” Lyn berhenti sebentar, mengusap airmatanya yang terus mengaliri pipinya. “tapi saat aku berhasil menemukanmu aku malah mendengar berita pahit itu. Dan saat berhasil membawamu ke sini kau malah bilang kau tak mengenaliku. Itu bagaikan kiamat bagiku, Oppa.” Isakannya dapat kudengar dengan jelas.
“Lyn, kita bisa bicarakan ini.”
“menunggumu bertahun lamanya, mencarimu di berbagai tempat. Apa kau lupa janji yang kita buat bersama Oppa?” aku terdiam mendengar pertanyaan terakhirnya. “empat hari lagi… jari manismu akan dipakaikan cincin, tapi bukan cincin dariku.” Tangisannya semakin berlanjut.
“sekarang aku tidak punya siapapun di dunia ini, semua meninggalkanku. Begitu juga dengan Choi Siwon-ku.” Tangannya menyentuh pipinya yang basah, mengelapnya kasar.
“apa maksudmu?.” Tanyaku, sekarang keinginanku untuk lepas dari jeratan tali ini benar-benar lenyap.
“aku mencintaimu Oppa, tapi kenapa kau mencampakkanku?”.

(FLASH BACK)

2004, Washington DC
Siwon memasuki kamar Lyn yang berada di lantai atas. Dilihatnya gadi tercintanya sedang berdiri di dekat jendela, memandangi pemandangan di bawah kamarnya. Siwon mendekat, memeluknya dari belakang. “Lynnn…” panggilnya manja.
Lyn memukul pelan bahu Siwon, “kau mengagetkanku, Wonnie.”
“tuhh kan. Sudah aku bilang panggil aku Oppa. Apa susahnya sihh ?” Siwon menekan hidung lyn dengan satu telunjuknya, membuat hidung gadisnya memerah.
“awww…” pekik Lyn. Siwon hanya tertawa mendengar pekikannya.
“ayo panggil aku OPPA. Itu tidak susah, O-P-P-A.”
Lyn memasang wajah kesal. “Ishhhh.”
“tidak mau?”. Siwon memastikan.
“tidak mau.” Jawab Lyn manja.
“baik, jika tidak mau aku akan menciummu sampai kau tidak bisa bernafas, sampai bibirmu bengkak, dan sampai kau ….”
“ahhhh ara-ara.” Siwon terkekeh pelan melihat wajah jengkel kekasihnya. “Siwon…… Oppa…. Oppa-Oppa-Oppa….”
“GREAT!.” Siwon menang. Dikecupnya puncak kepala gadisnya, hangat….

“Kau memakai cincin-mu?”. Tanya siwon penuh selidik.
“tentu saja, inikan cincin pertunangan kita. Kau pikir aku akan menjualnya?” jawab Lyn asal.
Siwon menggaruk lehernya. “kau itu pelupa, bisa saja cincin berharga ini kau hilangkan.”
Lyn memeluk lengan Siwon, bergelayut manja di lengan kekar itu. “Oppa, jika nanti kita sudah menikah kita berbulan madu di Korea yahh. Seperti di Jeju. Aku bosan tinggal di Amerika.”
“kau rindu Korea?”. Siwon mengacak rambut gadisnya. Lyn menoleh kesal, kemudian menganggukkan kepalanya.
“Jika sudah menikah nanti, kau ingin punya anak berapa?”. Tanya Lyn lagi, sambil tersipu malu membayangkan dirinya dan Siwon akan menjadi orang tua nantinya.
“terserah kau saja. Berapapun kau mau.”
“kenapa begitu?”.
“yahhhh… aku kan kuat membuat anak berapapun banyaknya. Tidak lihat apa aku punya tubuh sekeren ini? Pastinya aku sangat jago nantinya.” Siwon memamerkan lengannya yang berotot.
“Ishhhh.. Oppa omonganmu…!!” Siwon kembali tertawa saat melihat wajah jengkel kekasihnya, dan kembali membuat rambut Lyn berantakan.

2006, Washington DC
Hyo Lyn terus tersenyum memandang pantulan bayangan dirinya lewat cermin. Cantik-anggun-mempesona, itulah dirinya saat ini. Tubuhnya dibalut gaun pengantin putih yang suci. Sebentar lagi, ah mungkin hanya menghitung detik. Maka dirinya akan resmi menjadi istri seorang Choi Siwon. Tidak ada satupun kata yang mampu menggambarkan perasaannya saat ini. Senang-bahagia… bukan-bukan, lebih dari itu.
Orang-orang yang ada di ruangan itu, penata rias Lyn tak henti-hentinya memuji kecantikannya. “Kau sangat cantik. Siwon sangat beruntung menjadi pendampingmu.”
“ah ya, aku juga beruntung bisa menjadi pendampingnya.” Lyn mengibas-ngibaskan gaun pengantinnya, layaknya seorang puteri kerajaan.
Siwon datang ke ruangan tempat Lyn sekarang berada. Orang-orang keluar, agar memberi ruang bagi mereka.
Siwon memeluk pinggang kecil Lyn dari belakang, “Kau sangat cantik. Kecantikanmu bahkan bisa menyihir mataku.” Dikecupnya pundak polos Lyn. “kau bahagia?” tanya Siwon.
“aku adalah orang yang paling bahagia di dunia ini. Saranghae Wonnie-a.” Lyn menyandarkan kepalanya di dada bidang Siwon. “aku akan terus mencintaimu, bahkan jika aku tidak dapat bernafas sekalipun.”
“aku juga, kau adalah satu-satunya wanita yang aku cari di dunia ini. Dan akan menjadi milikku selamanya.” Siwon kembali memberikan kecupan pada Lyn, tapi kali ini dipuncak kepalanya. Mereka berdua tidak lagi saling bicara, tapi saling memeluk satu sama lain. Merasakan kebahagiaan mereka bersama.
Sayup-sayup, dalam kesunyian itu Siwon maupun Lyn mendengar suara gaduh yang berasal dari luar sana. Mereka mencoba mempertajam pendengaran mereka, kali ini suara gaduh itu benar-benar terdengar jelas menerpa telinga mereka.
“Oppa ada apa di luar sana?”.
“entahlah, aku akan coba mengeceknya. Kau tunggu di sini.” Sebelum pergi Siwon menyempatkan untuk memberi kecupan singkat di pipi Lyn.
Lyn hanya diam, kembali duduk di depan kaca besar sambil menunggu Siwon. Tapi lama dirinya menunggu, namun Siwon tak kunjung datang dan suara gaduh itu terdengar semakin memanas. Dengan rasa penasaran yang besar, Lyn keluar dari ruang riasnya.
Ia dapat melihat semua kegaduhan itu. Beberapa orang berteriak, termasuk Mom-nya. Ada rombongan Polisi di situ. Ada apa sebenarnya ?? sekarang Lyn melihat Polisi memborgol tangan Dad-nya, suara teriakan juga isakan Mom Lyn terdengar jelas memenuhi Gedung yang akan digunakan untuk acara pernikahan Siwon-Lyn.


Lyn membisu, menatap lurus ke depan dengan pandangan kosong. Sekarang dirinya tidak lagi mengenakan gaun pengantin yang indah, dengan make up yang memukau. Tubuhnya dibanjiri keringat, nafasnya tak teratur. Perlahan krystal-krystal bening itu mengaliri wajahnya.
‘Dad bukan pembunuh. Kami keluarga baik-baik. Dad tidak pernah menghidupi kami dengan uang haram. Ini salah, ini salahhhh’ mulut Lyn terkunci, namun hatinya berteriak-teriak. Harsukah Ia percaya dengan kejadian yang baru saja tersimpan di memori otaknya? Ke mana Ia harus membuktikan bahwa Dad-nya tidak melakukan kesalahan apapun ? dannn apa yang harus dilakukannya agar keluarga Siwon mau menerima Keluarganya kembali??!! Semua pertanyaan itu berkecamuk di hati dan pikirannya.
Siwon-Lyn, pernikahan mereka dibatalkan. Dad Lyn ditangkap Polisi atas tuduhan pembunuhan dan penggelapan uang perusahaan. Keluarga Siwon merasa malu jika harus mengikat tali kekeluargaan dengan keluarga yang dalam sekejap namanya benar-benar menjadi kotor.
Dalam hitungan detik, kebahagian yang selama ini diimpi-impikannya lenyap. Hacur seperti gelas kaca yang jatuh.


2007, Washington DC

Malam yang gelap dan juga dingin. Namun tak menyurutkan niat kedua insan itu untuk bertemu. Dengan susah payah mereka menyelinap-bersembunyi agar tak ada yang mengetahui pertemuan mereka sekarang.
“Oppa di sini.” Lyn melambaikan tangannya pada Siwon yang barus saja dilihatnya muncul di taman itu.
“maaf membuatmu menunggu, sulit sekali bisa keluar untuk menemuimu.” Ungkap Siwon, lalu duduk di bangku yang sama dengan Lyn.
“aku bisa mengerti itu Oppa. Lagipula mana ada orang tua yang mau membiarkan anaknya berhubungan dengan anak gadis yang berasal dari keluarga hina sepertiku ini.” Lyn mencoba tersenyum, tapi senyuman itu pahit.
“Lyn, kumohon jangan bicara seperti itu.”
“itu benar Oppa, tidak ada yang salah.”
Lalu hanya ada kesunyian yang meliputi mereka.
“kau mau kan menungguku, Lyn..” tanya Siwon, matanya menatap langit malam yang gelap tanpa bintang.
“aku bersedia Oppa. Berapapun lamanya, akan terus kutunggu. Karena aku hanya mencintaimu seorang.”
Siwon merengkuh gadis itu, “kita pasti akan bersama. Aku Choi Siwon, berjanji akan membahagiakanmu. Kita akan tetap bersama, tidak ada satupun yang bisa memisahkan kita.”
“kau berjanji Oppa?”
“aku berjanji. Percayalah.”


Lyn tidak percaya semuanya. Siwon menghilang, Choi Siwonnya menghilang. Padahal baru beberapa hari yang lalu mereka bertemu dan mengucapkan janji akan terus bersama. Tapi yang didapatinya sekarang tempat tinggal Siwon kosong, tidak ada yang menempatinya. Semuanya menghilang.
Dimana kamu sekarang
Bisakah kamu melihat lelahnya aku ??
Hati yang disakiti ini selalu mencari kamu
Memanggilmu
Menjadi gila
(Super Junior-Memories)

(FLASH BACK OFF)

“setelah kau meninggalkanku aku tidak punya siapapun lagi. Dad, untuk membuktikan bahwa dia tidak bersalah, beliau bunuh diri. Tidak lama setelah itu Mom juga ikut melakukan hal yang sama, karena depresi Mom memilih ikut Dad dan meninggalkanku sendiri.” Dapat kulihat kepedihan,kesakitan,kerinduan menghiasi wajah Lyn. Dapat kurasakan pahitnya hidupnya selama ini. Dan dapat kusadari betapa bodohnya aku, betapa jahatnya,betapa kejamnya aku.
“kenapa kau hanya diam Oppa. Tidakkah kau ingin memberi alasan kenapa kau meninggalkanku dulu, tidakkah kau coba menjelaskan padaku?”. Lyn kembali bicara, aku ingin menjelaskan padanya apa yang terjadi padaku hingga aku harus meninggalkannya saat itu. Tapi suaraku benar-benar tidak sanggup. Aku menyesal, benar-benar menyesali hidupku selama ini. Hatiku rasanya tersayat melihat wajah gadis yang dulu sangat kucintai terluka seperti saat ini.
Lyn mendekat ke arahku, mengambil sesuatu dari meja yang ada di dekat kami. Dan baru kusadari benda berwarna perak mengkilat itu adalah sebuah pisau. “Lyn apa yang ingin kau lakukan padaku….. Lynnnn” suaraku bergetar, takut saat Lyn mengacungkan pisau itu ke arahku. “Lynnnn” aku berusaha menyadarkannya. Tapi dia hanya diam tak bergeming, air matanya tetap mengalir.
Aku pasrah, dengan tidak melakukan apapun lagi. Tidak berusaha berteriak-teriak memanggilnya. Kupikir mungkin dengan jalan seperti ini aku dapat membayar semua kepedihan yang telah dialami bertahun-tahun lamanya karena aku.
Kupejamkan mataku saat benda itu semakin mendekat ke arahku. Aku siap merasakan cabikan benda itu. Mataku tertutup, namun dapat kurasakan mataku ini mengeluarkan sesuatu. Air mata yang tiba-tiba saja mengalir deras saat mengingat kenangan-kenangan yang kami buat bersama. Dan kusadari bahwa aku masih mencintai gadis ini.
Lama aku terpejam, bersiap menunggu rasa sakit dari benda tajam itu. Namun tak kunjung juga kurasakan. “kenapa kau menangis Oppa. Uljima, kau bilang kau benci melihatku menangis. Sekarang aku akan membencimu juga jika kau menangis seperti ini.” Kudengar suaranya. Perlahan kubuka mataku, tidak ada apapun yang terjadi, malah aku bisa bergerak bebas. Sepertinya Lyn menggunakan pisau itu untuk melepas ikatan tali yang emnjerat tubuhku.
“jangan cengeng seperti ini lagi, yahh Oppa.” Kurasakan jemari halusnya menyentuh pipi basahku, menghapus air mataku.
“Lynnn” lirihku.
“Oppa, kau boleh menelepon polisi sekarang. Katakan pada mereka bahwa aku menculikmu, hukum aku seberat-berat yang kau mau untuk membayar apa yang kulakukan padamu sekarang.” Dengan mata yang masih berair Lyn memberikan ponsel-ku. “ayo lakukanlah.” Dia menganggukkan kepalanya seolah ikhlas jika aku benar-benar akan menghukumnya.
Kurebut ponsel itu dari tangannya dengan kasar, lalu melemparnya ke sudut ruangan. “dasar bodoh!”. Tidak-aku tidak akan melakukan itu, aku tidak ingin kembali menyakitinya. “bangun.” Aku membantu dirinya berdiri.
“kenapa tidak Oppa.?” Dia berusaha melepaskan tanganku yang membantu tubuhnya berdiri.
“sudahlah. Lupakan.” Aku membelai pipinya yang sembab. Dia masih sama seperti dulu, cantik. Meskipun sedang menangis.
“jika kau memang tidak berniat untuk membahagiakanku seharusnya kau tidak memberiku harapan, tidak memberikan janji padaku. Aku tidak akan menderita seperti ini Oppa.” Suaranya bergetar, air matanya kembali mengalir.
“mianhae…mianhae…” hanya itu yang dapat kusampaikan padanya, kupeluk tubuhnya yang sedikit lebih rendah dariku. Mendekapnya, sama seperti dulu yang pernah kulakukan padanya. Air mataku mengiring. Hatiku berteriak, aku merindukan sosok ini. Sekejap saja, hatiku kembali mencintainya, sama seperti dulu.
Kulepas pelukanku, kutatap matanya yang membengkak. Kebelai rambutnya, selembut aku membelainya bertahun-tahun yang lalu. Aku merindukan wajah ini, tangisan ini, dannnn ciuman ini.
Lyn menyusul gerakan bibirku yang sudah mulai lebih dulu, bagian atas-bawah bibirnya masih sama seperti dulu. Manis,hangat,lembut… sensasi yang sangat kukenal, dan hanya menjadi milikku saat beberapa tahun yang lalu. Namun mungkinkah dia tidak pernah memberikan ciuman ini pada lelaki lain selain aku ?? tidak ada perubahan sedikitpun dari ciuman ini, aku sangat menikmatinya.
Aku belum mau menghentikan ciuman yang sangat kurindukan ini. Aku malah semakin memperdalam ciuman ini, hingga kurasakan sesuatu myentuh perutku. Tapi aku tidak memperdulikannya, dan masih sibuk memperdalam ciuman kami.
Lyn berhenti, membebaskan bibirnya dari tautan bibirku. “menjauhlah Oppa.” Aku tidak mengerti dengan ucapannya. “AKU BILANG MENJAUHLAH SEKARANG JUGA!!” dia berteriak sangat nyaring, dan betapa terperanjatnya aku sebuah pistol menodong perutku.
“Lynnn kau kenapa?.”
“jika kau tidak ingin aku menembakkan pistol ini padamu maka kau harus menjauh.” Lyn memintaku menjauh lagi, aku menggeleng-gelengkan kepalaku. “ayo mundur lima langkah ke belakang.” Lyn menggerakkan kakinya, satu… dia menatapku aku ikut melangkahkan kakiku kebelakang. Satu…dua…tiga…empat…lima… jarak kami sangat jauh sekarang. Lyn tersenyum, sangatttt manis kepadaku.
“kau benar-benar mencintai gadis itu Oppa?”
“apa dia lebih baik dibandingku Oppa?”
Lyn kembali mengarahkan pistolnya ke arahku, kupejamkan mataku. Air mataku terus saja mengalir.
“Siwon Oppa….” Aku membuka kembali mataku.
“melihatmu,bersamamu dan mencintaimu bukanlah sesuatu yang harus kusesali. Aku bahagia pernah melakukannya. Terima kasih untuk hari-hari yang pernah kau habiskan bersamaku, aku tidak menyesal pernah mencintaimu walau pada akhirnya kau meninggalkanku.”
“kuharap kau tidak akan menyesali pernikahanmu nantinya. Hiduplah bahagia bersama gadis pilihanmu. Jangan pernah lakukan hal yang sama padanya, seperti kau melakukannya padaku.”
Air mataku semakin deras mendengar suaranya, melihat air matanya. Aku sangat ingin memeluknya kembali, tidak peduli dengan pistolnya saat ini.
“OPPA!”
“jangan pernah menangis lagi, jangan jadi laki-laki cengeng.” Katanya lagi, dengan terisak.
“Oppa, katakan padaku bahwa kau mencintaiku.” Deggg, seperti dihujam beribu tombak. Hatiku ngilu sekali. “ayo Oppa, katakanlah. Hanya sekali ini saja aku meminta seperti itu.”
Aku berusaha menghentikan tangisku, mencoba mengeluarkan suaraku. “Saranghae, Hyo Lyn. Saranghae…jeongmal saranghae….” Aku tak mampu lagi, air mataku kembali membanjiri wajahku.
“Gomawo Oppa. Kau memang laki-laki etrbaik yang pernah kukenal.” Lyn menampakkan senyum indahnya padaku. Senyum yang begitu kurindukan. “dan Oppa, aku ingin memberitahumu bahwa hari ini adalah Anniversasy kita yang ke-7. Terima kasih sudah melukiskan banyak kenangan di hidupku. Itu akan menjadi kenangan terbaik sepanjang umur hidupku.”
Lyn….. dia tidak lagi mengarahkan pistol itu padaku. Namunnn, dia malah mengarahkan pistol itu ke-kepalanya sendiri. “saranghae Oppa, sarangahae Choi Siwon. Yeongwonhi…” meski pelan namun aku dapat mendengar ucapannya.
Dengan cepat aku berlari ke arahnya, berharap bisa mencegah apa yang ingin dilakukannya pada dirinya sendiri. Lagi-lagi dia tersenyum ke arahku, dan kulihat jari tenaghnya mulai bergerak.
“ANDWEEEEEEEEEEEEEEEEEE………………!!!” aku berteriak dengan seluruh tenaga yang kupunya. Bughhhh… aku dapat memeluk tubuhnya…. Dan saat itu juga terdengar bunyi yang memekakkan telinga. ‘DORRRRRRRR’
kita bertemu selama tujuh tahun
Tidak ada yang tau kita akan mengucapkan selamat tinggal dengan mudah
Namun kita masih terpisah
Dengan kenanganyang kita bangun untuk waktu yang lama, sekarang hilang
Bagaimana kita di usia muda
Saling bertemu, aku bahkan tidak ingat bagaimana
Sulit bagi kita untuk menangani peta diri kita yang berubah
Mereka mengatakan selamat tinggal adalah kata yang menyakitkan
tapi aku, menangis…
(KyuHyun-Seven Years Of Love)

Senyumnya saat itu, sebuah senyuman yang menahan kesakitan. Aku masih bisa mengingatnya dengan jelas. Pandangannya menembus mataku. Tangan halusnya yang terasa dingin dan basah berusaha mencapai wajahku. Dan, darah segar yang mengucur deras dari kepalanya…..

Kamulah orangnya
Kamulah satu-satunya cinta untukku
Kamu adalah matahari
Senyummu menghayutkanku
Kamu adalah cintaku
Dan aku satu-satunya untukmu
Aku akan selalu disebelahmu

Cinta bertambah dalam seperti air mata
Aku menjadi tua seiring sakitnya bertumbuh
Aku ingin percaya bahwa semuanya akan baik-baik saja
Jika aku pergi dimana hatiku membawaku
(Super Junior – You’re The One)

Aku memutuskan untuk hidup sendiri saja di dunia ini. Aku akan menikmati cinta ini sendiri. Meski tanpamu, tapi masih ada bayangmu di hati ku.
Hyo Lyn, nama gadis itu terus berkembang di hati ku. Aku telah menyakitinya, membohonginya, mencampakkannya. Dia menangis karena ku, menderita karena ku, kesepian karena ku.
Aku tidak mendapat kesempatan untuk tetap tinggal bersamanya, menemaninya. Seandainya saja hari itu aku bisa menentang keputusan Ayah yang memaksa ku untuk kembali Korea, seandainya saja saat itu aku bisa memikirkan keadaan Lyn jika tanpa ku.

Jika aku mengatakan bahwa aku menyesali semuanya, itu sudah tidak berarti lagi. Lyn telah pergi. Pergi tanpa sempat merasakan kebahagiaan dari ku.
Untuknya. Untuk satu-satunya gadis yang sangat kucintai di dunia ini. Maka aku akan terus hidup sendiri, menikmati cinta di hati ini sendiri hingga di mana saat aku akan di pertemukan kembali dengan mu, Lee Hyo Lyn.
-FINISH-
Yuhuuuuuuu Yen Yen imnida. Kuucapkan beribu terimakasih buat yang selama ini udah baca-baca en tak lupa komen-komen di ff ku yg kepublishh, itu bikin aku tambah semangat buat nulis ff *jjennggg-jjenggg*. Hahaha (?)
Ini ff aduhh gimana yahh ?? bagus gakk ya ?? dapet feelnya gakk ??? karena aku bukan readersnya di sini jadi aku gakk tau mau nilai ini ff gimana *ragu2*.
Jujur yahh , waktu ngebayangin cerita ini koq aku malah nangis *kasian sama Hyo Lyn kali ya?* en, bocoran niih, aku nangis bukan Cuma gara-gara cerita ini tapi karena aku lagi nahan sakitt… soalnya abis cabut gigi. Wkwkwkwk !!!! sumpah sakittt >.< *curcol*
Oh ya jgn lupa add fb ku Yen Yen Mariti (yenyenmariti@yahoo.com)
GOMAWO ^^

Iklan