Title                 : Lovely step sister PART 5

Author              : AnDee

Length             : continue

Genre              : Romance

Main Cast        :

  1. Lee Donghae
  2. Park Hanna
  3. Cho Kyuhyun

-Hanna pov-

Hari ini tepat lima tahun kematian Eomma dan aku berniat ke pusaranya. Tidak samasekali berniat mengajak Appa, dia saja tidak ada di rumah. Aku membawa sebuket bunga tulip kesayangannya. Di depan Kyu sudah menungguku, dia bilang dia tidak ada jadwal apapun hari ini jadilah dia menemaniku.

Aku menaruh bunga itu di pusara eomma dan berdoa di depannya.

“Eomma, kau pasti bahagiakan disana? Aku selalu berdoa untukmu.” Ujarku lirih. Aku merindukannya.

“Eomma, kau masih ingat Kyuhyun? Dia menemaniku hari ini. Dia sudah jadi artis sekarang.”

“Nee, Ahjumma. Aku disini menemani Hanna-ah. Dia sudah tumbuh menjadi wanita yang cantik sekarang.” Ujar Kyu sambil memandang ke arah pusara eomma membuatku tersenyum.

“Ahjumma, kalau suatu hari nanti aku menikahi Hanna-ah, restui kami ya?”

“Mwo?” aku langsung kaget dan menengok tajam ke arahnya.

“Mwoayo? Ahjumma, lihat dia. Sekarang dia suka berteriak kepadaku.” Ujar Kyu lagi.

“Yaa!” aku menghardik Kyu kesal. Bicara apa dia barusan.

“Sudahlah, ayo kita pulang. Kasihan Eomma mu, dia pasti terganggu dengan teriakanmu itu.” ajak Kyu kemudian.

Aku cemberut, “eomma, aku pulang dulu. Saranghe..”

-donghae pov-

“Darimana kau? Terlambat sampai dua jam.” Ujarku yang baru melihat Kyuhyun muncul di ruang latihan.

“Jeongmal Mianhaeyo hyung. Aku..” dia menggantungkan kalimatnya.

“Wae?”

“Aku menemani Hanna-ah ke makam ibunya, hari ini tepat lima tahun kematian eommanya.” Jawabnya kemudian.

“Mwo?”

“Mian. Jengomalyo miana.” Ulangnya lagi.

Hari ini tepat lima tahun kematian eomma Hanna? Dan Kyuhyun mengorbankan jadwal latihan demi gadis itu? baiklah ini adalah sebuah kesimpulan tidak mungkin kalau dia tidak mencintai Hanna.

“Yaa, Kyuhyun-ah, apa kau mencintai Hanna?” tanyaku kemudian.

Dia tersenyum, “mollayo. Ah sudahlah hyung, aku masuk dulu.”

Aku terdiam. Hatiku kembali berdenyut-denyut.

Hampir tengah malam ketika aku pulang dan menemukan Hanna sedang duduk di taman belakang sambil menatap bintang. Sayup-sayup aku mendengar dia sedang berbicara dan menyebut nama eommanya. Aku tersenyum dan mendekatinya.

“Eommamu pasti baik-baik saja disana.” Ujarku sambil memandang ke arahnya

Dia menoleh kaget, “apa yang kau lakukan disini?”

Aku mengangkat bahuku kemudian duduk disebelahnya, “kau merindukannya?”

“Jangan sok tau.”

“Kau baru mengatakannya.”

“….”

“Aku juga merindukan ayahku.” Ujarnya pelan.

-hanna pov-

Aku memandang ke arahnya. Dia aku tau, Ayahnya meninggal sejak beberapa tahun lalu.

“Dia pergi bahkan ketika aku belum bisa memberikan apapun kepadanya. Bahkan aku tidak ada selama dia sakit. Aku bukan anak yang baik.” Ujarnya lagi. Aku bisa melihat semburat senyum getir di wajahnya.

Aku dan dia sebenarnya dalam posisi yang sama, sama-sama sudah kehilangan satu dari orangtua kami, yang sangat kami cintai.

“Kadang aku berharap waktu bisa diputar sehingga aku bisa menemaninya dihari-hari terakhirnya.” Lanjutnya.

Aku juga berharap seperti itu.

Dia menyeka hidungnya. Aku jadi tidak tega melihatnya.

“Kau pasti bisa lebih kuat Hanna.” Ujarnya sambil menoleh ke arahku. Masih dengan senyum. Senyum getir yang ia paksakan untuk menyemangatiku.

Aku mengangguk, “aku harap seperti itu. emm.. kau juga. Ayahmu pasti sudah senang disana melihatmu sekarang.”

“Sebaiknya kita masuk, sudah larut.” Ujarku kemudian sambil beranjak bangkit.

Ketika baru berjalan beberapa langkah, tiba-tiba aku merasa sepasang lengan merengkuh pundakku. Donghae memelukku dari belakang! Aku hendak meronta tapi mendengarnya menyesap hidungnya. Dia menangis?

“Donghae-ssi, yaa, gwenchana?” tanyaku sambil memegang lengannya.

Dia diam saja.

Aku menghela nafas kemudian membalik badanku. Dia tidak menangis, tapi ku lihat sepasanga mata yang biasa memancarkan binar ketenangan itu kini terlihat begitu sendu. Dia pasti sangat sedih mengingat appanya yang sudah tiada. Lalu tiba-tiba dia memelukku lagi. Aku menghela nafas. Aku bisa merasakan apa yang dia rasakan. Aku membalas pelukannya dan mengusap-usap punggungnya.

“Gwenchana. Kalau kau sedih ayahmu juga akan bersedih disana.” Ujarku sambil menepuk-nepuk punggungnya.

Aku merasakan dia semakin mempererat pelukannya. Baiklah untuk kali ini saja.

**