Author : Stephanie Naomi
Title : Music, Dream and Love [Part 5]
Length : Continue
Genre : Romance
Cast : Taecyeon, Wooyoung, Junho (2PM), Suzy (missA), Park Jin Young (Teacher), Bae Su Jung, Lee Jung Ah, Park Yoon Hae (Imaginary Cast)

A/N : Annyeong!! Ini Part 5 yang sudah ditunggu-tunggu (plak! >.

***

“Ini helm mu.” ucap Taecyeon ketika ia dan Suzy sudah berada disebelah motor Taecyeon.

“Aku pulang sendiri saja.” balas Suzy lalu ia berjalan menjauhi Taecyeon. Taecyeon menghela nafas, mencoba untuk tidak kembali emosi hanya karena masalah sepele. Ia menaruh helm Suzy dibangku motornya dan berjalan cepat mengejar Suzy. Dan ketika ia sudah berada didekat Suzy, ia menarik tangan Suzy dan memaksa Suzy naik ke atas punggungnya. Taecyeon menggendong Suzy dan mendudukkannya diatas bangku motornya.

“YAH!! KENAPA KAU GENDONG AKU SEPERTI INI?!” teriak Suzy kesal. Ia segera mencium-ciumi seragamnya dengan hidungnya.

“Kenapa? Kau tidak suka?” tanya Taecyeon seraya memakaikan Suzy helm lalu kemudian ia memakai helm miliknya sendiri.

“JELAS TIDAK! Kau berkeringat dan membuat seragamku menjadi bau!” teriak Suzy setelah membuka kaca helm yang tadinya tertutup.

Taecyeon hanya tersenyum tipis sambil memakai jaket kulitnya, lalu ia menyalakan motornya dan langsung tancap gas tanpa memberitahu Suzy. Suzy yang sedang mengunci helmnya refleks memeluk pinggang Taecyeon setelah sebelumnya ia menutup kaca helm yang tadi ia buka.

Setengah jam kemudian mereka sudah sampai dirumah Taecyeon. Menyadari Taecyeon tidak mengantarnya pulang, Suzy kembali bersiap untuk protes setelah melepas helmnya dan turun dari motor Taecyeon.

“Kenapa kau tidak memulangkanku?!” Suzy sedikit berteriak dnegan nada kesal. Taecyeon buru-buru menutup mulut Suzy dengan telapak tangannya.

“Yah, kecilkan suaramu. Kita latihan disini saja.”

Taecyeon pun berjalan masuk kedalam rumahnya dan Suzy mengikuti dibelakangnya.

“Kenapa kita tidak berlatih disekolah saja?” tanya Suzy dengan volume kembali normal sambil melihat-lihat sebagian isi rumah Taecyeon yang mewah dan besar.

“Tidak mau. Aku mau mandi dan makan.” jawab Taecyeon santai sambil terus berjalan melewati Grand Piano hitam miliknya. Suzy tidak membalas ucapan Taecyeon dan berhenti didepan Grand Piano milik Taecyeon seraya berdecak kagum.

“Kau main saja dulu, aku mau mandi dulu.” lanjut Taecyeon lalu ia pergi meninggalkan Suzy sendirian diruang tamu rumahnya yang luas dengan langit-langit yang tinggi. Langsung saja jari-jari Suzy menelusuri setiap jengkal dari Grand Piano milik Suzy dan langsung membuka penutupnya. Ia langsung duduk dengan posisi ternyaman dan memainkan satu lagu: Fur Elise, Ludwig van Beethoven. Suzy menikmati permainan piano nya sampai ia tidak menyadari ada seseorang yang sedang memperhatikannya. Ketika Suzy selesai bermain, terdengar tepuk tangan dari arah tangga. Suzy langsung mencari arah suara tepuk tangan tersebut dan mendapatkan wanita setengah baya sedang berjalan menuju arahnya dari tangga besar dan megah didekat Grand Piano milik Taecyeon.

“Kau bermain sangat manis sekali. Kau pasti adik kelas yang Taecyeon ceritakan padaku. Siapa namamu?” tanya wanita setengah baya tersebut kepada Suzy.

“Annyonghaseyo. Suzy imnida. Mannaso bangabsemnida.” jawab Suzy sopan setelah ia berdiri dan membungkuk seperti yang diajarkan ibunya pada dirinya. “Ahjumma… Ibu Taecyeon ssi?” lanjut Suzy. Wanita itu mengangguk pelan.

“Bermainlah lagi. Bisakah kau memainkan lagu ini?” tanya Ibu Taecyeon, Park Yoon Hae, sambil memberikan Suzy beberapa lembar partitur yang ia ambil dari atas piano itu. Memang diatas piano itu tersusun rapi kertas-kertas partitur milik Taecyeon. Suzy menerima partitur itu dan mengangguk sambil tersenyum. Tidak sampai satu menit, Suzy langsung memainkan lagu yang diminta Yoon Hae: Moonlight Sonata, Ludwig van Beethoven. Selesai memainkan lagu itu dengan sangat baik, Yoon Hae kembali bertepuk tangan.

“Kau memang hebat, aku yakin konser sekolah kalian akan berjalan sukses. Tapi sekarang Ahjumma harus pergi dahulu, kau berlatih dengan Taecyeon saja ya… Maaf aku tidak bisa kalian berdua.” ucap Taecyeon yang memang sudah berpakaian rapi dan juga membawa tas pergi.

“Ne. Tidak masalah, ahjumma. Sampai jumpa…” balas Suzy sambil tersenyum dan kembali membungkuk sopan kepada Yoon Hae. Yoon Hae hanya membalasnya dengan senyum lalu ia pergi meninggalkan Suzy sendirian lagi. Suzy penasaran dengan tumpukan kertas-kertas partitur diatas piano Suzy dan ia langsung mengambil tumpukan itu dan melihatnya satu persatu.

“Oh, lagu-lagu konser sekolah besok, kupikir lagu-lagu lain.” gumam Suzy dalam hati sambil terus membalik kertas tersebut satu-persatu. Namun tiba-tiba tangannya berhenti membalik kertas-kertas itu. Ada 2 kertas yang tidak dicetak tetapi ditulis dengan tangan.

“Lagu apa ini? Sepertinya lagu ciptaan Taecyeon.” Suzy kembali bergumam seraya mencabut kertas tersebut dari kawanannya. Tumpukan kertas lainnya ia kembali taruh diatas piano, sementara dua kertas yang ia ambil ia taruh didepannya. Ia membacanya perlahan-lahan dan mencoba memainkannya.

“YAH! Siapa suruh kau memainkan lagu itu?” tiba-tiba terdengar suara Taecyeon dari arah belakang. Suzy buru-buru menaruh kertas itu kembali ke tumpukannya.

“Jika kau tidak ingin ada yang memainkannya, sebaiknya tidak kau letakkan disini.” balas Suzy sambil menekan asal tuts piano.

“Kau yang sebaiknya tidak menyentuh barangku tanpa izin dariku.” Taecyeon lagi-lagi tidak mau kalah dengan ucapan Suzy.

“Baiklah, maafkan aku.” ucap Suzy lalu ia duduk membelakangi piano dan mendapati Taecyeon sedang berdiri di bar mini didapurnya, dengan tangan kirinya mengusap-usap kepala dengan handuknya dan tangan kanannya sedang menuang air putih dari teko. Lalu Taecyeon berjalan ke arah Suzy dan memberikan segelas air putih pada Suzy.

“Gomawoyo.” ucap Suzy dan ia langsung meminum air putih itu hingga tersisa seperempat gelas.

“Dasar unta.”

“Tsk, diam kau. Ayo cepat latihan, aku ingin pulang. Pasti eomma sudah menunggu ku di rumah.”

“Kau tidak minta ijin latihan dirumahku?” tanya Taecyeon. Suzy menggelengkan kepalanya.

“Telfon ibumu sekarang, bilang kau sedang latihan dirumahku dan nanti akan kuantar kau pulang.” lanjut Taecyeon seraya mengeluarkan ponsel dari saku celananya dan memberikannya pada Suzy. Suzy menerima ponsel itu dan menekan nomor telepon rumahnya.

“Yoboseyo?”

“Eomma, Suzy imnida. Aku pulang agak telat hari ini.”

“Kau mau kemana? Jangan pulang terlalu malam. Kau harus menjaga stamina mu, araesso?”

“Ara, eomma. Aku akan latihan lebih lama dari biasanya. Nanti Taecyeon yang akan mengantarkan ku pulang.”

“Taecyeon?”

“Teman duetku.”

“Ooh, baiklah. Kau jangan lupa makan ya.”

“Ne, eomma.” ucap Jung Ah dan ia menggeser slide ponsel Taecyeon kebawah lalu memberikan kepada pemiliknya.

“Biar kutebak, pasti ibumu menyuruhmu agar tidak telat makan, benar kah?” tanya Taecyeon.

“Kurang lebih seperti itu.” jawab Suzy yang refleks memegang perutnya yang terasa lapar.

“Ayo makan dulu saja, aku tidak mau sampai kau sakit lalu ibumu menuduhku tidak memberikan makan padamu.” ucap Taecyeon lalu ia berjalan menuju dapur diikuti Suzy sambil membawa gelas yang tadi diberikan kepadanya. Lalu mereka pun duduk berhadapan dan langsung menyantap makanan yang sudah tersedia diatas meja.

“Kau ini sebenarnya unta atau hamster?” ledek Taecyeon setelah ia menelan makanan dalam mulutnya seraya memperhatikan Suzy yang masih sibuk menyuapkan makanan kedalam mulutnya.

“Diam kau, aku ini kelaparan. Mmm… masakkan ibumu enak sekali.” balas Suzy dengan mulut yang masih penuh dengan makanan.

“Selesaikan saja dulu makanmu baru bicara…” ucap Taecyeon dan ia kembali menyuap makanan kedalam mulutnya dan mereka kembali dalam keheningan. Dalam 10 menit Suzy sudah menghabiskan makanannya dan menegak habis air putih dari gelasnya.

“Fuuh, kenyang sekali…” gumamnya.

“Jelas saja kenyang, porsi mu seperti kuli.” balas Taecyeon yang juga sudah menghabiskan makanannya.

“Aish, kenapa kau terus berkomentar? Nah, kalau sudah seperti ini sekarang aku bisa fokus latihan.”

“Alibi… Baiklah, kau tunggu disana saja, aku mau mencuci dan membereskan meja makan dulu.”

“Biar ku bantu.” Suzy mulai mengambil mangkuk, sumpit dan sendok yang ia gunakan lalu membawanya ke wastafel dapur untuk dicuci.

“Sudah kubilang kau tunggu saja disana, lagipula aku sudah biasa melakukannya sendiri.” Taecyeon menggeser Suzy dari depan wastafel dapur dan mulai memakai sarung tangan dan menyalakan kran. Ia mulai mencuci peralatan makan yang ia dan Suzy gunakan. Suzy tetap berada di sisi Taecyeon dan memperhatikan lelaki itu.

“Uwaaaah, tidak kusangka, ternyata kau cukup mandiri juga yah…” ujar Suzy sambil tetap memperhatikan Taecyeon mencuci.

“Kenapa? Kau seperti baru pertama kali melihat orang mencuci piring saja.”

“Memang, aku baru pertama kali melihat seorang laki-laki mencuci piring. Adikku saja tidak pernah, apalagi ayahku.”

Taecyeon hanya tersenyum mendengar Suzy berceloteh disampingnya seperti saat ini.

“Ah ya, Taecyeon, lagu tadi, itu ciptaanmu sendiri? Sepertinya belum selesai ditulis…” Suzy kembali bersuara.

“Ne, wae?”

“Aniyo~ aku juga baru tahu ternyata kau bisa menulis lagu. Tuliskanlah lagu untukku, Taecyeon! Sebelum kau memenangkan beasiswa dan berangkat ke Eropa!” Suzy menarik-narik lengan baju Taecyeon pelan sambil memasang raut wajah memohon. Taecyeon berhenti mencuci lalu ia memperhatikan Suzy yang sedang menggembungkan pipinya.

“Tidak mau.” ucap Taecyeon singkat lalu ia kembali mencuci. Suzy refleks merengut seperti anak kecil. Melihat tingkah Suzy, Taecyeon terkekeh pelan.

“Jadi sekarang seorang Suzy sudah menjadi penggemarku, ya? Setahuku, kau adalah wanita yang tercuek dan tidak peduli padaku sama sekali di sekolah.” sambung Taecyeon dengan percaya diri dan tersenyum puas.

“Tsk! Aniyo~! Bukan begitu.” balas Suzy cepat lalu ia pergi meninggalkan Taecyeon sendirian didapur menuju ruang tamu.

“Hey Suzy, kau marah padaku?” tanya Taecyeon dari dapur sambil berteriak. Ia sudah selesai mencuci piring dan bergegas menyusul Suzy yang sedang menekan tuts-tuts piano dengan asal.

“Yah! Suzy, kau marah padaku?” Taecyeon mengulang pertanyaannya. Suzy menggeleng perlahan lalu ia memberi tempat untuk Taecyeon duduk disebelah kirinya. Taecyeon langsung duduk dan kembali memperhatikan Suzy yang masih menekan asal tuts piano.

“Gojitmal.” ucap Taecyeon pelan sebelum mereka memulai permainan piano duet mereka.

“Untuk apa aku bohong padamu.” balas Suzy cepat tanpa memperhatikan Taecyeon sama sekali.

“Sudahlah, jujur saja, kau marah padaku?” tanya Taecyeon. Suzy diam tidak menjawab. “Geraeyo… Aku minta maaf padamu. Akan kubuatkan lagu untukmu. Tapi sekarang kau jangan marah padaku lagi, ok?” lanjut Taecyeon. Kali ini dia yang berbicara dengan nada memohon.

“Kau pikir aku anak kecil? Tidak usah, hanya merepotkanmu saja. Lagipula aku ini kekenyangan dan capek, bukan marah padamu.” balas Suzy berbohong. Dalam hati kecil Suzy, jelas ia iri sekali dengan orang yang menjadi inspirasi Taecyeon dalam menulis lagu.

“Baiklah, aku sudah berbaik hati tetapi kau menolak. Kali ini, ini salahmu. Sekarang, ayo kita latihan.” ucap Taecyeon lalu ia mengambil partitur dari atas piano nya dan menaruh didepan mereka berdua, ditempat yang memang disediakan untuk menaruh partitur. Dan mereka langsung berlatih dan fokus pada bagiannya masing-masing.

***

“Gomawoyo, Taecyeon.” ucap Suzy ketika ia sudah turun dari motor dan melepas helm nya dipinjamkan Taecyeon padanya. Taecyeon hanya tersenyum kecil. “Kalau begitu, aku masuk dulu ya.” lanjut Suzy lalu ia membuka pagar rumahnya dan segera berjalan masuk kedalam sebelum Taecyeon menghentikan langkahnya.

“Suzy.”

“Wae?” tanya Suzy. Ia kembali berbalik badan dan memperhatikan Taecyeon.

“Seharusnya aku yang berterima kasih padamu. Terima kasih untuk hari ini.” jawab Taecyeon dengan nada suara yang berbeda. Terdengar lirih dan sedikit malu. Sesaat, keduanya tidak saling bicara. Taecyeon menunggu balasan dari Suzy.

“Oooh… Aku kira kau akan berbicara apa. Baiklah, sampai jumpa di klub musik besok.” balas Suzy lalu ia tersenyum dan masuk meninggalkan Taecyeon yang masih duduk diatas motornya didepan rumah Suzy. Taecyeon terdiam sesaat lalu ia menutup kaca helmnya dan pulang kembali ke rumahnya.

Dalam waktu 15 menit Taecyeon sudah sampai dirumahnya dan saat ini ia sedang bermalas-malasan dikursi malas yang diikat pada dua tiang di balkon lantai dua rumahnya sambil membaca kertas-kertas partitur yang ia buat sendiri. Lalu, ia mengambil ponsel dari sisi tubuhnya dan menelepon seseorang.

“Yoboseyo…” terdengar suara diseberang telefon.

“Junho-ah, bagaimana pertandingan tadi?”

“Menurutmu?”

“Kita menang.”

“Dasar, kau ini terlalu percaya diri. Tidak, kita tertinggal 1 point.”

“MWO?!”

“Benar, sebenarnya aku ingin menyalahkanmu, karena setelah kau pergi semangat dilapangan jadi sangat berkurang. Tapi aku berpikir netral. Ini bukan salahmu, selama pertandingan mereka terlalu mengandalkanmu sampai kau kecelakaan seperti itu.”

“Hmm, sebenarnya aku jatuh juga karena kesalahanku. Benar kata Suzy, sepertinya aku bermain terlalu agresif. Mungkin tadi aku berpikir aku adalah manusia turbo.” Taecyeon tertawa kecil sendiri dengan ucapan yang baru saja ia katakan.

“Memang, kau tadi bermain seperti dikejar hantu. Kenapa? Kau kembali berdebat dengan Suzy saat break tadi?”

“Aniyo~.”

“Pasti lagi-lagi karena kau keras kepala.” celetuk Junho dan membuat Taecyeon terdiam. “Taecyeon-ah? Are you still there?” Junho kembali bersuara setelah tidak ada tanggapan dari Taecyeon tentang kata-kata terakhirnya.

“Ne~. Sudah ya, Junho, aku ingin tidur.” ucap Taecyeon berbohong.

“Geraeyo.”

Klik. Hubungan telepon terputus. Taecyeon tidak beranjak dari kursi malasnya. Ia justru mengambil papan untuk alas menulis dan pensil dari meja kecil disampingnya lalu kembali melanjutkan karya nya yang belum terselesaikan.

Yoon Hae baru saja tiba dirumahnya dan langsung berjalan menaiki tangga. Ia menghampiri balkon lantai dua dan melihat Taecyeon yang tertidur dikursi malas dengan kertas-kertas berserakan di lantai dan ada juga yang berada didalam dekapannya.

“Taecyeon-ah…” Yoon Hae mencoba membangunkan putra semata wayangnya. Taecyeon bergerak perlahan dan sedikit menggeliat. Kertas dan papan yang berada didalam pelukannya pun jatuh ke lantai. Ia membuka matanya perlahan dan mendapatkan ibunya sedang berdiri disisinya.

“Eomma, sudah pulang daritadi?”

“Aniyo~, baru saja. Sebaiknya kau bereskan kertas-kertas ini lalu tidur dikamarmu. Hari ini sepertinya kau sudah melakukan banyak hal.”

“Mmm.. Ne.” Taecyeon mulai bangun dari kursi malasnya dan memungut satu persatu gulungan kertas yang gagal, yang berserakan di bawah kursi malasnya. Lalu ia memungut kertas terakhir, yang masih terjepit dipapan alas menulis. Ia melepas kertas itu dari papan, meletakkan papan di meja kecil dan membawa masuk kertas itu. Sementara kertas-kertas yang lain ia buang ke tempat sampah didekat balkon lantai dua. Ia menutup pintu balkon dan berjalan memasuki kamarnya.

Di dalam kamar, ia menaruh kertas itu bersama dengan dua kertas lainnya yang sudah dilihat oleh Suzy tadi siang.

“Andaikan kau tahu kalau lagu ini untukmu…” gumam Taecyeon sendiri lalu ia pun bergelung dengan guling dan selimutnya.

***