Title : Evil brother And Me

Cast :

  1. Park Jiyeon
  2. Lee Jinki
  3. Lee Jonghyun
  4. Lee Kibum SHINee
  5. Lee Minho SHINee
  6. Lee Taemin
  7. Lee Nara

Length : Series

Genre : Romance, Family

Rating : General

***

Minho P.O.V

Ku pandangi lautan di depan mataku. Medengar desiran ombak,membuat hatiku terasa lebih tenang. Cicitan burung seakan mendukung suasana indah di sore hari. Di tempat inilah, aku sering menyendiri dari segala masalahku. Aku merenung dan memikirkan masalahku dengan matang disini. Dengan kata lain, pantai inilah yang menjadi saksi bisu dari semua curahan hatiku.

Drrtt..Drrttt…

Kulihat ada pesan masuk di handphone ku. Ternyata itu dari Jinki hyung.

Minho-ah, kau bisa menjemput Jiyeon disekolahnya?

Aku, Kibum, Jjong sedang sibuk. Sedangkan Taemin masih disekolahnya.

Nara sudah ada dirumah. Jadi, kau tak perlu mencemaskannya.

Gomawo, minho-ah

~Jinki~

Aku menghembuskan nafasku. Dan segera beranjak dari pantai ini.

***

Jinki P.O.V

“Hyung.. aku mau bertanya padamu,” kata Taemin tiba-tiba

“Ada apa, Taeminie?” tanyaku sambil mnghentikan aktivitasku yang sedang bermain PSP

“Jonghyun dan Nara,hyung,”

“Waeyo?”

“Mereka sepertinya saling mencintai..” kata Taemin pelan

“Aku tahu..” kataku sambil tersenyum

“Tapi, hyung..”

“Apa?”

“Itu cinta yang terlarang,hyung..”

“Aku tak mengerti madsudmu, Taeminie,”

“Jonghyun dan Nara… Mereka kan bersaudara..”

***

Minho P.O.V

Kulihat sosok gadis itu, yang sekarang berada dihadapanku sedang makan dengan lahapnya. Terkadang, ia mengalihkan perhatiannya pada hujan yang turun melalui jendela restoran ini.

“Sudah berapa lama kau tak makan?” tanyaku

“Hmm?”

“Kau itu seperti tak makan setahun tau!”

“Separah itukah?”

“Hmm..” jawabku acuh tak acuh

“Aku.. aku hanya lapar sekali!” katanya sambil melanjutkan makanannya

Setelah pulang sekolah, ia memaksaku untuk pergi ke restoran dulu. Kalau saja hujan tidak deras, pasti aku tidak mau menuruti permintaannya itu.

“Oppa, bolehkan aku bertanya sesuatu padamu?”

“Tidak..”

“Ya! Oppa! Ayolah! Hanya satu pertanyaan!” katanya sambil memukul-mukul tanganku

“Ahh… Iya! Iya!Apa pertanyaanmu?” teriakku sambil merapikan jaketku yang berantakan Karena pukulannya

“Hmm… Mengapa kau membenciku?”

“Apakah perlu alasan untuk membenci seseorang?” jawabku dingin

“Seharusnya begitu,oppa!”

Aku menghela nafasku sebelum menjawab pertanyaannya.

“Kau membuat ayahku lebih memperhatikanmu,” jawabku dingin

“Hah! Jawaban konyol!” katanya

“Mungkin kau menganggapnya konyol, tetapi aku merasa itu sangat penting!” teriakku menahan amarah

“Tapi, kau sudah besar oppa! Dan jawaban itu sangatlah tidak masuk akal!” katanya sambil tertawa

“Kau tak merasakannya! Kau tak pernah merasakannya jadi diriku! Jadi, jangan pernah berkomentar apapun tentang diriku!” teriakku

BRAK

Aku memukul meja dan meninggalkan restoran ini. Aku segera menyalakn motorku dan meninggalkan Jiyeon di restoran ini.

***

Jiyeon P.O.V

Minho meninggalkan café ini dengan penuh amarah. Aku menatapnya dengan perasaan penuh bersalah.

‘Apakah aku keterlaluan?’ batinku

Aku memejamkan mataku dan meminum cappuccino ku lagi. Menatap hembusan asap yang keluar dari cappuccino yang masih hangat itu. Pikiranku masih melayang ke peristiwa tadi. Aku malas untuk kembali ke rumah, tepatnya karena aku masih enggan bertemu Minho oppa. Aku masih merasa sangat  bersalah. Tetapi, disisi lain aku merasa bingung.

“Tetapi, bukankah itu memang alasan yang konyol? Membenciku karena tak ingin appa lebih menyayangiku..” gumamku

‘deg’

Seketika itu juga aku tersadar.

‘Bukankah aku juga merasakan hal yang sama? Menginginkan sosok ayah disampingku,’

Tak terasa, sudah 3 jam aku dicafe ini dan hari sudah mulai gelap. Aku mengambil tas sekolahku dan meninggalkan café ini. AKu hanya berjalan tanpa arah. Pikiranku  benar-benar tak bisa lepas dari  rasa bersalahku kepada minho oppa.

“Mianhae,oppa! Jeongmal Mianhae…” kataku sambil menunduk

Tiba-tiba aku merasa ada seseorang yang memegangi tanganku. Saat aku menoleh, aku  melihat 2 laki-laki paruh baya yang sepertinya sedang mabuk, mencoba untuk menciumku. Aku berteriak. Namun, jalanan itu tampak sepi. Aku mulai lemas dan pasrah saat kedua laki-laki itu  menarikku.

“Lepaskan aku!” Teriakku

“Jangan bermimpi, nona!” jawab salah satu laki-laki itu

“TOLONG!!!” teriakku dengan sekuat sisa tenagaku

Aku mencoba melarikan diri, tetapi apa dayaku melawan kedua laki-laki yang tampak kekar itu.

BRUG

Sebuah benda menghantam badanku yang langsung membuatku mengehentikan teriakanku. Badanku  rasanya sakit sekali.

“Itu akibatnya jika terlalu banyak berteriak,nona!” katanya laki-laki itu sambil tertawa

Badanku mulai melemas. Mataku mulai tertutup perlahan ketika aku merasa kedua laki-laki itu melepaskan tubuhku. Kudengar ada suara teriakan dari kedua laki-laki itu dan tubuhku terjatuh ke tanah.

“Kau tak apa?”tanyaku

Sedetik kemudian…

“JIYEON?”

***

“Hyung, Kau yakin dia baik-baik saja?”

“Aku tak tahu, Taeminie..”

“Aku rasa dia hanya pingsan biasa,”

“Tapi aku takut, hyung..”

“Taemin, kau dengar sendiri kan kata dokter. Ia hanya pingsan..”

“Tapi..”

Kudengar sayup-sayup suara beberapa orang. Aku mencoba untuk membuka mataku, tapi rasanya sungguh berat. Badanku rasanya sangat sakit.

“Oppa…” rintihku pelan

“Jiyeon!” teriak beberapa orang

“Eonnie!”

Aku membuka mataku perlahan. Kulihat Nara dan semua oppanya. Mereka menatapku dengan pandangan cemas. Bahkan Minho. Ia juga menatapku dengan cemas.

“Bagaimana keadaamu, Jiyeon?”

“Ini di rumah sakit?”

“Ne.. Kau pingsan.”

“Eonnie, kau harus berterimakasih pada Minho oppa. Dia yang menyelamatkan eonnie..”

Aku menatap Minho dengan pandangan tidak percaya. Melihat hal itu, Minho hanya mendengus dan memandang arah lain.

***

Kibum P.O.V

Semua saudaraku sudah pulang ke rumah. Hanya aku dan Jiyeon. Dia terlihat menyibukkan dirinya dengan menonton TV. Tapi aku tahu, dia sedang memikirkan sesuatu.

“Kau dekat dengan Minho…”

“Lalu? Apa pedulimu?” katanya dengan acuh

“Aku.. Aku ingin seperti dulu..”

“Bukankah sudah kubilang, semua telah berubah..”

“Tapi hatiku  tak pernah berubah..”

“Kau tak memikirkan perasaanku?”

‘deg’

‘Kenapa aku bisa lupa dengan itu..’ batinku

Dia tertawa singkat.

“Wae?” tanyaku

“Kau cemburu?” tanya nya

“Hmm… Aniyo..” (tidak)

“Sayang sekali.. Padahal aku ingin memberimu kesempatan..”

“Ya! Apa madsudmu?”

Dia menatapku.

“Tidak ada..”

Aku hanya mendengus pelan.

“Kau menyukai Minho?”

Dia hanya melirikku dan kembali focus pada TV. Aku hanya memandanginya berusaha mencari jawaban dari wajahnya. Mungkinkah aku harus melupakan perasaanku padanya?

***

Jiyeon P.O.V

Aku sedang menikmati indahnya taman Rumah Sakit saat kuarasakan ada yang mengacak rambutku pelan. Aku menoleh dan orang itu tersenyum dengan polosnya.

“Jinki oppa? Wae?”

“Memangnya aku tak boleh menemui dongsaengku?” katanya santai

“Err.. Aku masih tak biasa dengan perubahan sikapmu,”

“Well,aku juga tak biasa untuk bersikap baik padamu,” katanya

Tak ada pembiacaraan diantara kami. Aku masih pusing dengan masalahku dengan Minho. Aku sangat merasa bersalah dengannya. Dan, sepertinya ia masih marah denganku.

“Jiyeon-a,” panggil Jinki

“Hmm?”

“Kau tahu apa yang terjadi dengan minho?”

“Memangnya dia kenapa?”

“Entahlah.. Aku tak menggerti. Tapi, ia tampak tak biasa..”

“Madsudmu?”

“Dia menjadi orang yang dingin. Dan… Ya, aku tak bisa memberitahumu. Sungguh sulit dijelaskan. Tetapi, ia sangat kacau,”

“Apa itu karena aku?” gumamku pelan

“Wae?” tanya Jinki

“Aniyo..” jawabku tak acuh

“Aku mendengarnya, Miss Lee..”

“Miss Lee?”

“Jangan lupa kau telah menjadibagian keluargaku. Dan, jangan mengalihkan topic,”

‘Shit!Dia tau rencanaku!’ batinku

Jinki tertawa pelan.

“Wae?” tanyaku galak

“Ya!Ya! Slow Down, saeng!”

Aku hanya mendengus pelan.

“Ceritakan padaku, Jiyeon. Aku sudah pusing dengan semua masalah semua Dongsaengku..” rengeknya

“Jangan seperti anak kecil!” kataku dingin

“Kau tak tahu beratnya menjadi anak pertama, Jiyeon. Ayahku selalu mebebankan semua nya kepadaku…”

Aku menatap tak percaya pada Jinki. 5 adik? Oh, tidak. Sudah menjadi 6 adik jika ditambah dengan diriku. Gila!

“Bantulah aku..”

“Apa yang bisa kudapat?” kataku

“Hmm… Aku bsia mencari jalan keluar dari masalahmu dnegan minho!”

“Hah! Kau pikir aku punya masalah dengan Minho?” kataku dengan dingin

“Kau tak bisa membohongiku, Jiyeon. Aku tahu masalah ini tentang kau dan Minho..”

Aku menatapnya dengan dingin dan meninggalkannya di taman.

***

Minho P.O.V

Kupejamkan mataku, berharap bisa menikmati alunan music dari ipod milikku. Tetapi, nyatanya hatiku merasa sangat tidak tenang. AKu tak mengerti perasaanku. Yang kutahu, semua ini berhubungan dengannya. Gadis itu. Park Jiyeon. Oh, bukan. Lee Jiyeon.

*FLASHBACK

Malam itu, aku sangat menghawatirkannya. Setelah Jiyeon aku tinggalkan di restoran itu, dia belum kembali ke rumah. Sudah pukul 7 malam, tapi ia juga belum kembali juga. Sejujurnya, aku merasa bersalah sudah meninggalkannya dengan tidak bertanggung jawab. Aku memutuskan untukmencarinya. Aku memakai jaket kulitku untuk menghindariku kulitku dari dinginnya malam ini.

“Mau kemana, Minho?Mencari Jiyeon?” tanya JInki

AKu hanya menganggukkan kepalaku sebagai jawaban. Kusadari Kibum menatapku dengan tatapan yang tak kumengerti artinya. Sudahlah, aku tak peduli dengannya.

Aku menyalakan motorku dan segera menuju restoran itu. Rambutku tertiup angin, semakin membuatku kedinginan padahal aku sudah menggunakan jaket. Bagaimana keadaan gadis itu?

Restoran itu memang masih ramai, tapi aku tak menemukan sosoknya. Tempat duduknya tadi telah diisi oleh sebuah keluarga. Ayah, Ibu, dan 2 anak. Kedua anak itu tertawa dengan polosnya bersama kedua orang tuanya. Sangat bahagia jika aku bisa menjadi sepertinya. Dan aku tersadar dari lamunanku ketika kedua anak itu menatapmu dengan pandangan penuh tanya. Aku hanya mendengus dan kembali menatap semua pengunjung restoran. Berharap menemukan sosok gadis itu.

Aku sudah hampir menyerah saat aku tak menemukan sosoknya di restoran bahkan aku tak menemukannya di sekitar restoran ini. Tetapi tiba-tiba aku mendenegan suara teriakan seorang yeoja. Hanya samar-samar.

“TOLONG!!!”

Tetapi ini membuat pikiraku bercabang 2. Mencari Jiyeon atau melihat keadaan yeoja yang berteriak itu. Aku mengajak rambutku karena kebingunganku ini.

‘Ah..Ottohke?’ batinku

Kuyakinkan kakiku untuk menghampiri yeoja yang  berteriak itu. Kutajamkan pendengaranku agar bisa mendengar suara yeoja itu lagi. Tetapi aku tak mendengar suaranya lagi.

‘Kemana yeoja itu? AH mungkin dia meminta tolong karena hal yang tidak penting,’batinku

AKu mendengar suara gemerisik sesuatu yang bergerak  ketika aku melewati sebuah gang kecil yang gelap. Kucoba untuk memasuki gang itu karena rasa penasaranku.

Walaupun tampak samar, aku yakin aku melihat 2 orang laki-laki sedang bertindak jahat pada seorang yeoja.Kuamati keadaan sekitar dan kutemukan sebuah balok kayu. Kuambil perlahan kayu itu yang memukul kedua laki-laki itu, tepat di punggungnya. Dan, kedua laki-laki itu pingsan.

‘Lemah!’ batinku

Dan kualihkan perhatianku pada yeoja yang jatuh tersungkur itu.

“Kau tak apa?”

Kupandangi wajah yeoja itu dan aku tersentak.

“JIYEON?”

*END OF FLASHBACK

***

Jonghyun P.O.V

“Kau pulang denganku, Nara?” tanyaku

Kulihat ia tampak berpikir lalu menganggukkan kepalanya sambil tersenyum.

‘Manis..’ batinku

Sekarang, kami akan kembali ke rumah setelah menjenguk Jiyeon di Rumah Sakit. Wajahnya tampak kelelahan

“Naiklah..” Kataku sambil memberikan helm pada nya

“Gomawo, oppa..” katany  tersenyum malu

“Ne..”

“Oppa, tidak menemani Jiyeon eonnie?”

“Bukankah sudah ada Kibum?”

“Hmm… Kupikir kau mau menemaninya juga..”

“Karena aku pacarnya?” kataku menggodanya

“Begitulah..” jawabnya sambil menunduk

“Sudahlah, ayo naik!” kataku sambil mengelus rambutnya

“Ne, oppa!”

Drrt..Drrt..

Tiba-tiba, ponselku berbunyi sebagai tanda ada telepon masuk. Taemin.

“Yeobseyo..” kataku

“Kau sedang bersama siapa,hyung?”

“Wae?”

“Ah.. Nara,kan! Kalian sedang berkencan?”

“Aigo, Taeminie! Ada apa kau meneleponku?” tanyaku menahan malu

“Tidak apa,hyung! Hanya memastikan bahwa Nara akan bersenang-senang saja,” ktaanya sambil tertawa

“Kami akan pulang!”

“Mwo? Andwae! Ajaklah berkencan!”

“Kau gila?” kataku sambil menutup telepon

Aku menggerutu tak jelas setelah menerima teleponnya.

“Itu Taemin oppa?” tanya Nara

“Ah? Ne..”

“Waeyo?”

“Eh? Gwenchana.. Nara, kau mau ke suatu tempat dulu?”

“Kemana, oppa?”

“Kau akan tahu nanti!”

“baiklah..”

***

“Pemakaman?” tanya Nara padaku

“Hmm..”

“Ini bukan pemakaman Eomma,kan? Lalu, ini pemakaman siapa?”

“Kau akan tahu nanti. Kajja!” kataku sambil menarik tangan mungilnya

Aku membawanya ke salah satu pemakaman umum di daerah Seoul Selatan. Tak jauh dari pusat Seoul. Sudah lama aku  tak kesini.

Jalan di pemakaman itu sangat sempit. Aku harus berhati-hati agar tidak terjatuh. Karena itu, aku selalu memegang tangannya agar ia tidak terjatuh.  Pemakaman ini dipenuhi dengan wangi Bunga Melati. Memang, di pemakaman ini banyak Bunga Melati.

Dengan membawa bunga mawar putih –yang kubeli ditengah jalan- dan tanganku yang lain memegang  tangan Nara, aku melangkah ke salah satu pemakaman yang letaknya tak jauh dari pintu masuk.

“Ini pemakaman siapa, oppa?” tanya nya bingung sambil menatap nisan di pemakaman itu

Aku menarik nafas dan menghembuskan nafas perlahan sebelum menjawab pertanyaannya.

“Orang paling berharga dalam hidupku..”

“Nuguya?”

“Mr & Mrs. Jung”

Dia mengkerutkan dahinya tanda tak mengerti.

“Kau akan tahu nanti, Nara-ah,” jawabku sambil ternyum penuh arti

Nara hanya mengangguk-anggukkan kepalanya.

***

Taemin P.O.V

AKu tersenyum sedikit setelah menelepon Jonghyun hyung yang sedang bersama Nara. Sejujurnya, aku suka sekali menggoda mereka berdua. Tetapi, disisi lain aku merasa ada yang tidak benar dalam hubungan mereka. Mereka bersaudara, bagaimana mungkin mereka memiliki hubungan. Bagaimana jika appa tahu?

Aku menggaruk kepalaku yang tak gatal berusaha untuk menghilangkan pemikiranku ini. Tetapi, semakin aku mencoba untuk menghilangkannya, semakin aku merasa bahwa ini suatu yang salah.

‘Aku harus bicara kepada hyung-hyungku..”

***

TBC

HUAA!!PART ini pendek banget!! Mianhae…

Iklan