For The First Time (DARAGON COUPLE) PART 2

Title: For The First Time (DARAGON COUPLE) PART 2

Author: Applersoti

Length: Continue, series

Genre: Romance, sad (sedikit), comedy (sedikit juga hehe)

Rating:  PG

Main cast: Kwon Ji Yong as Kwon Ji Yong (Bigbang)

Sandara Park as Dara (2NE1)

Support cast: Kiko (Japanese model), All YG’s family members.

Note:

Wahahahahaha akhirnya part 2 nya muncul juga mihihihi. Asal kalian tahu, aku lagi tergila-gila banget sama DARAGON! Yang YG Stand atau VIP atau Blackjack pasti udah pada tahu deh hihihi jadi jgn heran kalo kejadian di FF ini agak2 mengikuti mereka. Diingetin lagi ya, ini FF pertamaku so… jangan pada kaget kalo bahasa, alur cerita, dan apapun itu agak gak nyambung/maksa/terlalu cepet. Please kalo ada kritik dan saran langsung komen!!!!! Dan satu lagi NO BASHING PLEASE!!! Kamsa~

(Author’s POV)

“Kiko………..”

Terlihat Jiyong sangat kaget dengan kedatangan wanita cantik itu. Yah, walaupun menurutnya Dara masih lebih cantik dan cute dibanding Kiko.

“Annyeong oppa…..” sapanya melambaikan tangannya yang putih bersih itu sambil tersenyum dan berjalan kearah Jiyong dan Dara.

Tangan Dara masih digenggam Jiyong. Saat Kiko mendekat ,Dara merasa genggamannya semakin kuat hingga membuatnya kesakitan, seakan-akan Jiyong meyakinkannya agar tetap berada disini.

“A-a-annyeong.. jigeum mwohaneun geoya? Mengapa kau bisa berada disini? Ada apa? Sejak kapan kau ada di Korea?,” selidik Jiyong. Mukanya masih terlihat datar, tidak menunjukkan ekspresi apapun. Kiko tidak menjawab pertanyaannya. Dara sedikit gusar ketika Kiko berada tepat didepannya. Dara pun mau tak mau melirik kearah Kiko.

Kiko tersenyum dan menyapanya, “Annyeong Dara unnie”. Dara pun menjawab sambil membungkukkan badannya, “Ne. Annyeong.”

Dan tiba-tiba Kiko memeluk Jiyong. Dara dan yang lain kaget dibuatnya. Tangan Dara masih dipegang erat oleh Jiyong ketika mereka berpelukan. Tak berapa lama kemudian dia melepaskan pelukannya. “Ah~ Bogoshipeoyo oppa! Kau makin kurus saja, haha,” Kiko terkekeh sambil menutup mulutnya lalu Kiko mencium pipi Jiyong. Ciuman singkat yang terbilang bisa membuat orang-orang disekitarnya mendapat terapi jantung.

Hati Dara sakit sekali dibuatnya. Dia baru saja berbaikkan dengan Jiyong, tapi sekarang muncul masalah baru lagi. Dara tak bisa menahan air matanya lagi. Dia tak mau air matanya tumpah di depan gadis sialan ini, memalukan baginya.

“Ji, aku ingin ke toilet. Tolong lepaskan tanganmu,” kata Dara dengan suara parau membuat Jiyong kembali ke kesadarannya. Dia menundukkan kepalanya.

“Andwae! Kau harus tetap disini,” bentak Jiyong menegaskan kalau Dara tidak boleh kemana-mana.

“Lepaskan. Aku sudah tidak kuat lagi,” disentaknya tangan Jiyong dengan segala kekuatan Dara. Dan akhirnya terlepas juga. Dara pun langsung berlari ke kamar mandi. Dia tumpahkan air matanya di dalam sebuah toilet yang terbilang cukup mewah dan bersih untuk ukuran sebuah restoran.

Chaerin yang melihat kejadian itu langsung pergi ke toilet untuk menyusul Dara. Sesampainya disana dia mendengar suara tangisan dari dalam toilet.

“Aigo…… Dara eonni~. Buka pintunya. Aku ingin masuk,” panggil Chaerin sambil mengetuk-ngetuk pintu kamar mandi.

Dan tak lama kemudian pintu kamar mandi itu pun terbuka. “Eonnie……… uljimarayo, hmm~,” kata Chaerin langsung jongkok disebelahnya sambil menghapus bulir-bulir air mata yg jatuh dari pelupuk Dara.

“Dia itu apa-apaan sih! Seenaknya saja! Dia pikir aku siapa ha??! Berani sekali dia berbuat seperti itu!” gerutu Dara disela-sela tangisannya.

“Sudahlah, eonnie. Tidak usah dipikirkan. Mungkin dia mencium Ji oppa hanya sekedar ciuman pertemanan saja. Ayolah, kau tak boleh seperti ini. Jangan menangis lagi,” ucap Chaerin mencoba menenangkan Dara sambil mengusap punggung Dara.

“Aku baru saja berbaikkan dengannya, Chaerin-ah. Tapi kenapa dia datang disaat seperti ini. Tidak bisakah dia berhenti melakukan itu? Hatiku lelah dan cukup sabar menghadapi mereka berdua.”

“Ssshh. Eon, jangan berkata seperti itu. Anggap saja ini cobaan untuk kalian berdua,” Chaerin masih mencoba menenangkan Dara yang terus menangis.

BRUAK!!!!!!

Jiyong tiba-tiba sudah masuk ke dalam toilet tersebut. “Dara-ya! Cepat keluar. Aku ingin menjelaskan semua. ini tidak seperti yang kau kira!”

Chaerin menatap Dara, terlihat raut wajah Dara kaget, matanya membulat mendengar suara Jiyong.“Eonnie.. keluarlah. Dengarkan penjelasannya. Ok?.”

“Silheo. Aku tak ingin keluar.” Suara Dara terdengar seperti orang yang sudah putus asa.

Chaerin memegang pundak Dara. “Eonnie-ya. Kau tak boleh seperti itu. Kau harus mendengarkan penjelasannya.”

“Apalagi… apalagi alasannya?,” Dara semakin terlihat putus asa. Sebenarnya Chaerin juga sudah tidak tega. Tapi, dia yakin ini hanya salah paham belaka. Dan Jiyong harus menjelaskan semua kekeliruan ini.

“Kau harus keluar!.” Chaerin sedikit membentak Dara.

“Tapi-“

“Tidak ada tapi-tapi!,” potong Chaerin. Jiwa leadernya keluar.

Dara menghembuskan napas. “Ok.”

Lalu dia menyeka sisa-sisa air matanya dan mengambil napas panjang dan dihembuskan perlahan.

Knop pintu toilet itu pun terbuka. Terlihat Dara yang masih dengan mata yang sembap dan layu. Untung saja, dia tidak memakai make-up. Kalau tidak, pasti make-up nya sudah luntur karena menangis.

“Jangan emosi. Dengarkan dia, ok?” katanya, lalu menepuk bahu Dara dan Jiyong. Dara menatap Chaerin hingga dia tak terlihat lagi.

“Dara-ya… ini tidak seperti yang kamu kira,” Jiyong coba menjelaskan.

Dara menyenderkan badannya di pintu toilet. “Semua sudah jelas. Dia masih mencintaimu, Yong-ah”.

 *******************

(Dara’s POV)

“Dara-ya… ini tidak seperti yang kamu kira,” Jiyong coba menjelaskan.

Aku menyenderkan badanku ke pintu toilet yang tertutup. “Semua sudah jelas. Dia masih mencintaimu, Yong-ah”.

Ya. Aku bisa melihat itu dengan jelas. Sangat jelas. Dia masih mencintai Jiyong. Dan ciuman itu, aku yakin 1000% persen dari lubuk hatinya yang paling dalam. “The mouth can lie, but the eyes? The eyes cant lie, Ji. Aku bisa melihat itu dengan jelas. Dan perasaan seorang wanita tak pernah bisa dibohongi.”

Jiyong  agak terperanjat dengan ucapanku barusan. Aku melihat kearahnya lesu. Mengapa jadi seperti ini?

Dia memegang pundakku. “Tapi aku mencintaimu, Dara. Sangat mencintaimu. Aku bisa membuktikannya padamu!,” jawab Jiyong mencoba meyakinkan.

“Aku tahu.” aku mengembuskan nafasku perlahan dan menggigit bibir bawahku mencoba menahan air mata yang ingin keluar lagi.

Grrr. Ternyata aku tak bisa menahan aliran air mataku ini. Bulir-bulir itu jatuh di pelupuk mataku. Aku menutup wajahku agar Jiyong tak bisa melihat tangisanku.

“Aku capek, Ji. Aku capek. Masalah demi masalah selalu mendera kita. Kenapa? Aku ingin sekali saja bahagia denganmu tanpa ada masalah sedikitpun. Hatiku sudah capek. Sakit rasanya,” Ucapku disela-sela tangisanku yang membahana di toilet.

“Dengar.” Dia menyingkirkan tanganku hingga ia bisa melihat wajahku yang sudah dipenuhi dengan air mata. Menatap mataku dalam dan berbicara lembut sekali, “Aku hanya mencintaimu, Dara. Dia, Kiko. Hanya bagian dari masa laluku. Masa depanku adalah kau. Tidak peduli apapun masalah yang menerpa kita, aku akan tetap terus disampingmu. Masalah adalah bagian dari hidup. Jika kita ingin merasa bahagia, maka kita harus melewatinya. Aku tak ingin kehilanganmu, Dara-ya. Tolong, percaya padaku. Ok?”

“Yakinkan aku kalau memang aku adalah masa depanmu, Ji. Aku takut sekali. Aku takut. Aku takut tak bisa menghadapi ini semua, aku takut aku merasa lelah dengan ini semua dan tidak sanggup bersama dengan-“

“Sstttt,” Jiyong memotong omonganku dengan menjulurkan (?) jari telunjuknya. “Sudah. Kau tak perlu takut. Aku pasti akan meyakinkanmu kalau kau memang masa depanku,” lanjutnya. Lalu menarikku ke dalam pelukannya.”Percaya dan tetap berada di sampingku. Ok?” kata Jiyong lagi mencoba meyakinku.

“Sulit, Yong-ah. Sulit.” Terdengar nada putus asa keluar dari mulutku.

“Tolong, kasih aku kesempatan sekali lagi.” Jiyong meyakinkanku. Yah.. baiklah aku kasih dia satu kesempatan lagi.

Aku hanya mengangguk di dalam pelukannya. Tak sanggup berkata apa-apa. Lidahku kelu untuk mengatakan sesuatu.

“Yuk. Kita keluar.” Ucapnya seraya melepaskan pelukannya.

Aku menyeka air mataku yang masih tersisa. “Hmm. Baiklah.”

Kami berdua berjalan keluar. Jiyong berjalan sambil merangkul pinggangku, seakan ingin meyakinkan semuanya kalau kita berdua sudah berbaikkan dan tidak ada masalah apapun lagi.

Aku menangkap arah pandangan mata Kiko. Dia menatap kearahku. Pandangannya misterius, aku tak bisa membaca apa yang ada di dalam pikirannya. Dia pun menatap kearah tangan Jiyong yang memeluk pinggangku.

“Bisakah kita makan? Aku sudah lapar banget nih!,” celetuk Seungri untuk mencairkan suasana. Ah terkadang bocah ini memang diperlukan juga yah. Terkadang.

Jiyong melepaskan pelukannya untuk menarik kursiku, lalu dia duduk di sebelahku. Kulihat dia sedang melihat-lihat menu makanan.

“Kau pesan apa?,” katanya sambil membolak-balik halaman menu. Matanya tidak melihatku. “Yang seperti biasa saja, Yong,” Jawabku.

“Hmmm ok.” Lalu dia memanggil pelayan dan memberitahu pesanan yang ia pinta.

Setelah selesai dengan pelayan, ia menatapku dan tersenyum. Aku balas menatapnya dan tersenyum. Lalu ia memegang tanganku lagi. Lebih erat dari yang sebelum-sebelumnya.

Aku merasakan yang lain menatap kearah kami. Tapi tak kami pedulikan. Jiyong membelai mataku yang sembap, menyusuri lekuk hidungku dan berhenti di pipiku, membuatku membeku sesaat. Aduh……Jiyong ngapain sih memperlakukanku kaya gini. Kan diliatin banyak orang.

“Eih…. Yang baru baikan mesra banget sih~” goda Daesung dengan mimik wajah yang sengaja dibuat-buat. Kata “Cie…” pun bergema seantero(?) ruangan.

Pipiku memerah. Aishhh, sialan kau Daesung.

Aku tak sengaja melirik kearah Kiko dan ternyata dia juga sedang melihat kearahku. Kenapa dia? Hah~ ya sudahlah, tidak usah ku pikirkan.

Tidak lama setelah itu makanan kami datang. Aku makan dengan lahapnya. Yah harap dimaklumi sedari tadi pagi aku hanya makan 2 buah roti dan susu, itu pun tidak habis karena harus secepatnya sampai di studio.

“Ya.. pelan-pelan makannya. Nanti tersedak,” Jiyong mengingatkan. Aku hanya mengangguk tanda mengerti, terlalu berkonsentrasi pada makanan yang sedang kulahap. Saking lahapnya sampai-sampai mulutku penuh dengan nasi. “Uhuk… uhuk!” ah sial aku tersedak.

“Air tolong air!” aku mengetuk-ngetuk meja.

Jiyong memberikan segelas air putih untukku. “Aku bilang apa. Kau ini kayak orang yang 1000 tahun gak makan aja. Ck. Payah!” gerutu Jiyong sambil menepuk-nepuk punggungku.

“Yak! Jangan terlalu kencang ! Sakit tahu! Aku itu lapar, Ji. Aku belum makan seharian ini. Jadi ya ajar saja aku rakus seperti ini.”

“Hah. Terserah padamu lah,” katanya lalu melanjutkan makan.

Setelah selesai makan, Jiyong ijin keluar sebentar katanya sih ada urusan cowok. Yah….tak usah aku jelaskan deh maksudnya apa pasti kalian udah tahu hahaha.

Aku memainkan handphoneku untuk melepas rasa bosan. Tadinya sih aku mau ikut Jiyong, tapi…….aku takut tidak tahan dengan bau “kamu-tahu-apa” nya.

Aku melihat-lihat selca kami. Hahaha, aku melihat fotonya denganku di sebuah taman.. hmmm aku tidak ingat dimananya. Disitu dia memasang wajah Pabbo miliknya. Tapi sebodoh-bodohnya wajah dia, tetap saja ganteng.

Saat aku sedang asyik-asyiknya melihat selca kami berdua, tiba-tiba ada seseorang menepuk pundakku. “Annyeong!” sapa seseorang dengan aksen bahasa korea yang terdengar aneh.

Aku membalikkan tubuhku kearah sumber suara. Kagetnya aku ternyata yang menyapaku adalah wanita itu. Kiko….. Kenapa dia tiba-tiba mendekatiku? apakah dia tidak tahu apa yang sudah dilakukannya padaku? Aigo jeongmal….. dia tuh bodoh atau apasih.

“Kiko… Annyeong,” balasku menyapanya.

“Bolehkah aku duduk disini?” pintanya dengan aksen inggris-jepangnya. Yah.. kalian pasti tahu dia adalah model asal jepang, jadi harap maklum jika dia tidak bisa berbahasa korea dengan lancar.

“Ne. Silahkan,” jawabku sambil menggeser dudukku.

“Terima kasih,” ucapnya sambil tersenyum manis dan membungkuk lalu duduk disebelahku.

Suasana saat itu terasa hening. Tidak ada yang mengajak bicara. Bukannya aku tidak mau membuka pertanyaan untuk mencairkan suasana tapi… mengingat kejadian tadi rasanya hatiku sakit dibuatnya. Ku lihat dia sekilas, rambutnya panjang berwarna coklat muda, garis-garis mukanya tegas dan terlihat sangat cantik, matanya bagaikan mata kucing. Aku bertaruh, setiap lelaki yang bertemu dengannya pasti langsung suka. Termasuk.. Jiyong… Dulu…

“Ada apa melihatku seperti itu?” tanyanya membuat ku mengalihkan pandanganku darinya seketika.

“Ah.. tidak..”

“Hmm… kejadian tadi….” Ucapnya membuka perbincangan. “Maafkan aku. Aku terlalu terbawa suasana makanya aku memeluk dan menciumnya. Kumohon kau jangan salah paham denganku,” lanjutnya sambil menatap memohon kearahku.

Aku mendesah, “Yah…. wanita mana yang tidak salah paham jika ada seorang wanita yang tiba-tiba memeluk dan mencium kekasihnya begitu saja. Pasti semua juga salah paham. Termasuk aku,” balasku.

“Aku tahu. Tapi… aku… tadi… aku tidak bermaksud seperti itu… aku…” dia berbicara tak jelas, aku merasakan ada rasa galau dari suaranya.

“Mengakulah. Kau pasti masih menyayangi, Jiyong kan?” desakku sambil menatap tajam ke matanya. Tidak tahu mengapa pernyataan ini tiba-tiba keluar dari mulutku. Aku masih risih dengan kejadian tadi dan penasaran apa yang sebenarnya isi hatinya.

Matanya terbelalak, alisnya berkerut kaget mendengar pertanyaanku. “Maaf? Apa yang barusan kau katakan?”

“Apakah kau masih mencintai Jiyong?” tanyaku to the point. Aku ingin kejujuran… hanya itu saja.

“Hmm…. Aku tak tahu pasti apa yang aku rasakan terhadapnya. Yang jelas ketika bertemu dengannya hatiku terasa senang,” jawabnya pelan sambil menundukkan kepalanya tak mampu membalas tatapan mataku.

“Kau masih mencintainya. Aku tahu itu,” timpalku.

“Aku akui aku memang masih sedikit mencintainya tapi rasa cinta ini hanya untuk seorang teman, tidak lebih. Dulu, aku memang punya hubungan special dengannya, tapi itu dulu. Sekarang kami sudah memilih jalan kami masing-masing. Aku dengan hidupku yang sekarang, dan dia dengan pilihannya, yaitu kau,” jelasnya. Aku tahu… aku tahu dari pernyataannya tidak ada kebohongan sedikitpun, tapi… bagaimana kalau… ah molla molla.

“Aku tahu rumor yang beredar saat ini karena fotoku dengannya di pulau Jeju waktu itu. Dan kupikir Jiyong pasti sudah menjelaskannya padamu. Aku tidak mungkin sebodoh itu berfoto hanya berdua saja dengannya. Aku mengerti perasaanmu jikalau seandainya kami sengaja berfoto berdua. Dia sangat mencintaimu. Melebihi rasa cintanya padaku sewaktu itu. Aku tak mungkin bisa menggantikan posisimu. Tidak akan pernah,” lanjutnya.

Ya Tuhan….. dia benar-benar….. jadi selama ini memang aku termakan oleh api cemburu. Bodoh! Bodoh! Bodoh! Dia wanita yang baik…. Mengapa aku bisa mencurigai dia yang tidak-tidak. Seharusnya aku juga tahu bahwa Jiyong dan Kiko tidak akan mungkin lagi bisa bersatu. Jiyong… maafkan aku.

“Jadi… tolong jangan salah paham padaku ataupun Jiyong. Dan aku minta maaf karena sikap sembrono ku tadi. Demi Tuhan, aku melakukan itu refleks. Kau mungkin bisa mengerti ketika seorang sahabat lama tidak bertemu,” jelasnya lagi sambil tersenyum tulus.

Aku balas tersenyum padanya. “Ne… aku mengerti. Kau wanita yang baik, tak akan mungkin melakukan hal senekat itu. Dan maaf aku juga telah mencurigaimu yang tidak-tidak.”

“Yap. Tak apa… aku tahu kok,” ujarnya. “Kalian itu romantis sekali deh! Aku jadi iri,” tambahnya sambil menggodaku.

Aku tertawa pelan mendengar pernyataannya. “Hahaha… kami tidak romantic, Kiko. Itu tadi Jiyong bertindak agak aneh terhadapku. Tidak biasanya dia begitu.”

“Hmm.. mungkin ingin menunjukkan padaku betapa dia sangat sangat sangat mencintaimu,” pikirnya. “Mungkin…” timpalku.

Kami melanjutkan obrolan kami dengan topik yang ringan. Aku jadi mengerti mengapa Jiyong waktu itu bisa menyukainya. Dia gadis yang supel, dan ramah. Dia bahkan memberitahuku apa saja yang dilakukan Jiyong ketika masih bersamanya. Tak jarang kami berdua tertawa karenanya.

Drrrttt… Drrrtttt…..

Naega Jeil Jal Naga…. Je-je-je jeil jal naga. BEAT!

Bam ratatatata tatatatata BEAT!

Terdengar telponku berdering, kulihat layar handphoneku ternyata telepon dari Jiyong. “Sebentar ya Kiko,” dijawabnya dengan anggukan.

“Ne.. Yeoboseyo?”

“Ya. Cepat keluar, aku ngantuk nih. Kita pulang sekarang,”

“Ne? Pulang sekarang? Memangnya kamu sudah selesai? Kenapa tidak masuk dulu aja?”

“Ah aku malas masuk lagi. Cepat keluar kalau tidak aku tinggal!”

Apa-apaan dia berani mengancamku. Dasar egois! “Iya iya. Tunggu aku lima menit lagi, Ok?”

“Ne.. ppalihae.”

“Arraseo. O…..”

Setelah menutup telpon darinya aku langsung bergegas membereskan barang-barangku yang ada di atas meja. “Kiko, maaf aku tak bisa menemanimu lama-lama. Jiyong mengajakku pulang sekarang.”

Kiko mengangguk mengerti, “Iya, tidak apa-apa kok. Titipkan salamku untuknya ya. Bilang padanya aku minta maaf karena tadi bersikap lancang padamu dan dia.”

Aku menyentuh pundaknya mengusapnya pelan. “Tenang saja. Pasti ku sampaikan. Aku pulang ya,” pamitku sambil beranjak berdiri.

Kulihat masih ada beberapa member YG di restoran se7en oppa. Kulihat Taeyang, dan Seungri juga masih disana. “Hei… aku pulang ya!” pamitku sedikit berteriak karena posisi mereka agak jauh dariku.

“Mwo? Pulang? Mana Jiyong?” tanya Taeyang dari jauh.

“Dia menungguku di luar. Katanya dia lelah, jadi ingin pulang sekarang,” jawabku.

“Ne….. arraseo. Hati-hati dijalan!” ucapnya sambil melambaikan tangannya, disusul dengan yang lainnya.

“Ne….. kalkkeyo! Kiko.. sampai bertemu lain kali” pamitku sekali lagi sambil tersenyum kearahnya.

“Ok..” balasnya sambil membentuk tanda ‘OK’ oleh jari telunjuk dan jempolnya. Lalu aku bergegas keluar restoran menuju parkiran mobil tadi.

Saat sudah sampai di parkiran mobil, Jiyong lagi-lagi membukakan pintunya untukku. Sebenarnya aku tahu mengapa dia berubah menjadi agak manja dan romantic seperti tadi. Tapi yah…lama-lama aku juga risih. Aku kan gak terlalu suka diperlakukan seperti itu ck.

“Ya! Jiyong-ah, kau ini. Kamu tuh kenapa sih daritadi?” tanyaku saat sudah di dalam mobil.

“Mollayo…. Memangnya kenapa sih? Aku gak boleh bersikap manja kaya tadi?” dia balik bertanya sambil memasang sitbelt nya.

“Ya boleh aja sih.. tapi tuh gak seperti biasanya. Biasanya kan kamu agak cuek sama aku, eh tadi yang megang tanganlah, yang tiba-tiba natap aku lama banget lah, yang meluk aku lah. Aku kan malu diliatin banyak orang,”jelasku.

Dia menggidikan bahunya. “Molla. Mianhae kalau kau merasa agak risih. Aku cuma ingin berusaha bersikap manis di depan orang-orang,” lalu dia menatapku dan tersenyum.

Aku balas menatapnya dan menggeleng,”Ani… tak usah minta maaf. Kamu gak salah kok. Gak ada yang salah.”

“Ok.”

“Oh ya! Tadi Kiko menitipkan salamnya untukmu,” ucapku. “Katanya dia minta maaf karena kejadian tadi,” lanjutku.

“Hmm…. Ok. Arraseo, nanti ku hubungi dia,” ucapnya sambil memasukkan kunci mobilnya ke starter lalu menyalakan mesin mobilnya.

Dia menggenggam tanganku, menelusupkan jari-jarinya yang panjang ke jari-jariku. “Kita harus tetap seperti ini,” dia menunjukkan tangannya dan tanganku yang bersatu, “Kita harus tetap kuat seperti ini. Cobaan apapun harus bisa kita lewati, ok?” lalu mencium tanganku.

Aku tersenyum melihatnya.“Neomu saranghaeyo, Jiyong-ah.”

Dia tertawa tanpa suara. “Ne… arra… Ya! Panggil aku oppa, sekali saja~ eodde?”

Aku membulatkan mataku. Aduh apaan sih -_- jelas-jelas aku lebih tua daripada dia kok malah aku disuruh manggil ‘Oppa’?! haish.. jeongmal. “Apansih? Gak mau! Aku kan lebih tua daripada kamu.”

“Ihhh… sekaliiiiiiiii ajaa, jaebal~” rajuknya sambil mengedipkan matanya. Geliin banget deh dia hssshh.

“Aduh stop stop stop! Aku gak kuat liat aegyo mu! Menjijikkan, ewwhh” kataku sambil memasang tampang jijik yang dibuat-buat.

“Ah~ masa sih…. Ayo dong cepet bilang ‘Saranghaeyo, Jiyong Oppa~’, kayanya susah banget deh. Please please, aku mau denger,” rengeknya. Aish jinjja…. Bocah ini.

“Baiklah!!! Aku akan mengatakannya! Cuma sekali ,ga ada siaran ulang! Dan janji gak ketawa! Yakso!” kataku lalu mengacungkan jari kelingkingku.

Dia menyambar kelingkingku lalu menjawab dengan yakin,“Yaksokalkke!”

“……… Saranghaeyo…… Jiyong…. Op-op-oppa…” aku mengucapkannya dengan suara sekecil mungkin. Aaah aku malu!

“Apa??? Aku gak denger. Coba sekali lagi” ucapnya sambil menaruh tangannya dikuping.

Aku memasang tampang malas. “Haih! Kan aku udah bilang, aku akan mengatakannya satu kali saja.”

“Ya udah… iya iya. Yang jelas kamu udah mau ngomong kaya gitu aja aku udah seneng. Lagian panggilan ‘Oppa’ kan juga panggilan sayang.”

“Ya tapi aku masih gak mau manggil kamu kayak gitu,” aku tetap pada pendirianku. Memang sih agak egois, yah tapi… tidak tidak, aku masih belum siap.

“Iya gak apa-apa kok, aku juga gak maksa. Hihihi,” dia terkikik. “Jjah! Mari pulang. Sudah larut. Aku gak mau kamu sakit gara-gara kelelahan.” Aku mengangguk dan tersenyum ke arahnya.

Beruntungnya aku mempunyai namjachingu seperti dia. Yah…walaupun kadang-kadang menyebalkan, tapi dia sangat perhatian padaku. Masalah yang tadi pun, dia jelas berusaha agar aku tetap percaya dengannya dan memintaku untuk tetap disampingnya. Seumur hidup aku tak akan pernah melepaskan dia. Aku berjanji.

*******************

2 months later…..

(Author POV)

Neomu jakhan neunde neon geudaero inde oh

I don’t know… I don’t know naega wae ireohneunji

Geutorok saranghaeneunde neon yeogi ittneunde oh

I don’t know..

Ije nal chatgo shipeo

Suara lagu Lonely terdengar di studio stasiun tv SBS. Pada malam itu sedang disiarkan acara SBS Inkigayo. 2NE1 yang sedang promosi albumnya, diundang untuk menyanyikan lagu baru mereka yang baru dirilis beberapa hari yang lalu. Yah.. walaupun album mereka belum dirilis, tapi YG Ent untuk mengeluarkan salah satu lagu di album mereka yang baru.

Terlihat dari sebelah kiri panggung, ada seseorang lelaki memakai kaos putih andalannya dan skinny jeans, serta kacamata, syal pink, dan topi sedang melihat kearah panggung. Dia memandangi mereka sambil tersenyum bangga. ‘Dongsaeng’nya sudah beranjak dewasa dan sukses sekarang. Dia jadi ingat waktu mereka pertama kali debut. Mereka masih terlihat polos dan baru ketika tampil di TV. Dan sekarang mereka sudah beranjak menjadi grup yang music yang lebih dewasa.

Baby I’m so lonely lonely lonely lonely lonely…

Baby I’m so lonely lonely lonely lonely lonely~ eh eh…..

Dan lagu mereka pun selesai. Mereka membungkukan badan sebagai tanda berterima kasih kepada semua yang telah hadir. “Komapseubnidaaaa. Terima kasih untuk semua blackjack yang sudah datang malam ini!” Chaerin memberikan ucapan terima kasih kepada blackjack yang hadir. Lalu mereka turun panggung.

“Hhhhh melelahkan. Ck. Aku lapar!!!” ujar Bom saat mereka sudah ada di ruang artis.

“Aigo. Kau kan udah makan daritadi, terus sekarang kau lapar lagi? Kalau ketahuan sama Hwangssabu-ssi gimana ha?” kata Dara sambil membersihkan make-upnya.

“Tapi aku lapaaaaar! Please, somebody give me food or something! Aaarrgghh jinjja, I’m craving noooow!!!” Katanya lesu sambil memasang wajah memelas.

“Yaudah nih. Aku ada roti, makanlah. Pusing aku denger suaramu kalo lagi kelaparan.” Dara melemparkan roti kearah Bom. Roti itu mendarat sempurna di tangan Bom. “Gomawo dala-ya!” ucapnya dengan wajah berseri-seri. Tanpa pandang bulu, dia langsung melahap roti tersebut.

Dara mengecek handphonenya, berharap ada sms atau telpon masuk. Tapi, setiap kali dia melihat handphonenya tetap saja sunyi. Tidak ada bunyi sms, tidak ada bunyi telpon. “Jiyong kemana sih? Ck,” gumamnya masih sambil mengecek handphonenya.

Tok Tok Tok…..

Tiba-tiba ada suara ketukan pintu. Lalu beberapa detik kemudian pintu terbuka. “Annyeong!”

“Waaaaaaah JIYONG-AH!!!!” mata Dara membulat dan dia langsung berlari kearah Jiyong. “Ya!!! Sejak kapan kau disini? Kenapa gak sms? Gak telpon?” pertanyaan untuk Jiyong berentet(?) seperti sedang di investigasi oleh polisi.

Dia menutup pintunya. “Hahaha. Kejutaaaan!” pekiknya sambil merentangkan kedua tangannya.

“Haish….Pabbo!!” gumam Dara kesal.

“Annyeong, yeoreobun! 2NE1 NOLZA!!! Penampilan kalian daebak~” pujinya sambil memperlihatkan barisan gigi yang rapih.

“Annyeonghaseyo! Ahahaha komapta, oppa,” jawab Chaerin sambil membungkukan badan, disusul member yang lain.

“Ne.. cheonman. Kalian sehabis ini gak ada acara apa-apa lagi kan?” tanyanya.

“Hmm eopseo. Waeyo?” Chaerin balik bertanya.

“Hmmm…” dia mengerling ke arah Dara lalu tersenyum penuh arti kearahnya.

Chaerin dan yang lain tertawa, “Ah… arraseo… kami tidak ada jadwal lagi kok abis ini.”

“Oke. Ya, Ssantoki! Cepat sana ganti baju!” perintah Jiyong.

“Aish… mau kemana sih? Buru-buru amat deh,” ucapnya santai.

“Gak usah banyak tanya. Cepetan ganti baju. Yang bagus yah!” perintahnya lagi sambil mendorong badan Dara ke ruang ganti kostum.

“Iya iya. Sebentar.” Lalu Dara ke kamar ganti untuk mengganti baju performnya dengan baju biasa. Dia memakai skinny jeans, dengan kaos bergambar Mario bros, ditambah sebuah jaket parasut warna Pink. “Let’s go! Kajja!!” ajak Dara lalu menarik tangan Jiyong.

“Ok. Eh iya, kita harus berpisah yah. Kalau kita jalannya barengan , netizen-netizen bisa curiga,” saran Jiyong.

“Ah.. ne… algeusseubnida.. baiklah aku berjalan kearah kiri dan kamu kearah kanan ya. Nanti kita bertemu di parkiran bawah” Katanya sambil menyusun strategi.

“Ok. Yang lain, aku dan Dara duluan ya!” pamitnya sambil melambaikan tangan.

“Ne…. enjoy the night ya!”

Lalu mereka melaksanakan rencana mereka. Dara berjalan kearah kiri, dan Jiyong berjalan kearah kanan. Saat mereka sudah keluar studio, terlihat beberapa fans masih disana. Mungkin mereka masih ingin melihat idola-idola mereka keluar dari studio. “Aduh… gimana ni. Banyak banget fans di depan. Mereka pasti curiga kalo aku keluar sendirian. Ah yasudahlah. Beranikan dirimu, Dara-ya…” batinnya dalam hati.

Dia melewati beberapa fans itu. Tiba-tiba salah satu dari mereka ada yang meneriakan sesuatu. “AH!! ITU DARA EONNI!!!” teriak salah satu fans tersebut. Dara tidak bisa apa-apa, dia hanya tersenyum dan meladeni orang-orang yang ingin berfoto dengannya dan meminta tanda tangannya.

Salah satu fans tersebut ada yang bertanya, “Dara eonni, kenapa kau keluar sendirian? Yang lain kemana?”

DEG!

Pertanyaan fans tersebut membuat Dara panik, terlihat sekali dari aura wajahnya.

“Ah… i-itu mereka masih di dalam. Aku keluar duluan karena ada urusan,” jawabnya gelagepan sambil tersenyum kaku. “Jjah… gomawo semua. Aku harus pergi,” Dara pun pamit pada fans itu.

Tak berapa lama kemudian, dia pun sampai di parkiran. Dia  berjalan kearah mobil Jiyong. “Fuuhhhhhh…. Akhirnya bisa lepas juga dari netizen-netizen itu. Ck.”

Mana Jiyong ya? Tanyanya dalam hati.

Dia menunggu Jiyong sambil menyandarkan badannya di badan mobil. Karena Jiyong tidak muncul-muncul akhirnya Dara mengetik pesan untuk Jiyong.

To: Jiyong nappeun saram

Ya! Jiyong-ah! Lama sekali! Ppaliwa! Aku sudah lumutan nih menunggumu daritadi.

SEND…..

Beberapa menit kemudian handphonenya Dara berbunyi.

Tunggu sebentar. Aku ada urusan. 5 menit lagi aku sudah ada disebelahmu. Jangan merindukanku, ok?

“Ck. Dalam keadaan seperti masih saja kau bernarsis ria?! Aigo~” gumamnya.

5 menit….

10 menit…..

15 menit……

Jiyong tak kunjung datang, Dara mulai khawatir karenanya. Ya Tuhan… kemana anak itu? Apakah sesuatu terjadi padanya? Pikirnya. Tiba-tiba ada sebuah tangan menepuk pelan pundak Dara.

“HAAAA!!!!”

-TBC-

To Be CONTINUED! Hehehehe hayo hayo kira-kira Dara teriak kenapa ya? Pasti penasaran deh :p hihihihi RCL dibutuhkan banget nih. Hey hey! Para silent reader… terima kasih telah membaca tulisanku, sekedar baca tulisanku sebenernya sih gpp, tapi apa salahnya sih ngasih komen atau kritikan atau saran buat aku. nobody’s perfect right? So I’ll thankful to all of you, who had been commented on my story!!!

THANKYOU THEN!!! DARAGON COUPLE FTW!!!!!!!!!!! APPLERS ALWAYS KEEP THE FAITH!!! Wuhu~