Title :      I Am With You (SongFic)

Author :  Meulu Primananda (LaaaadyDJ)

Lenght:  OneShoot/Ficlet (2.153 words)
Genre:   Romance, AU, Little Family.
Cast :      Lee Chae Ahn (OC/You)

JoTwins

Summary  : I don’t know who you are but I’m with you!

Disclaimer : The plot of this songfic 100% mine! If you already read this songfic, it mean you read in my personal wp: www.Itsmemeulu.wordpress.com  and 2 fanfic blog! if you see this songfic in other blog/fb, please tell me. Aku tau kalo songfic ini jelek, tapi tolong hargai author dengan coment yang kalo bisa jgn cuma satu atau dua kata, thanks.

For reader, happy reading J

For Plagiator, GTH!!! J

ENJOY J

~I am standing on the bridge

I’m waiting in the dark

I thought that you’d be here

By now~

     Udara malam yang dingin terasa menusuk di sela-sela kulitku yang bebas dari lindungan jacketku, kucoba untuk menahan udara dingin dengan mengeratkan jacket dan memeluk tubuhku sendiri.

Disinilah aku, diatas jembatan kayu penghubung dua daratan yang dihalangi oleh sungai besar yang mengalir deras dibawahku. Aku mendesah dan menatap nanar kesungai besar itu. semua terasa bertambah berat bagiku, aku bahkan tak yakin bisa menghadapi hidupku sendiri. Aku membutuhkan suatu pegangan, topangan untukku menjalani hari-hariku. Aku berharap, menunggu seseorang akan menemukanku dan berbaik hati menjadi peganganku saat ini. langit malam tertutup awan mendung membuat cahaya bulan hanya tersisa sedikit ketika mengenai bumi dan menyinarinya, kelam.

 

~There’s nothing but the rain

No foot steps on the ground

I’m listening but there’s no sound~

     Disini sunyi, kosong. Jalanan dan lingkungan di sekitarku tak menunjukkan adanya suatu hal yang dapat menemaniku.

Tes… Tes…

Aku menengadah memandang langit hitam, tetesan hujan mulai jatuh kebumi dan membasahi tubuhku sedikit demi sedikit. Aku mengarahkan pandanganku sekeliling. Masih tetap sama, kosong. Tak ada orang-orang, suara hewan, bahkan langkah kaki yang terdengar. Aku mencoba menajamkan pendengaranku, berharap bisa menemukan sedikit suara pertanda aku tidak sendiri. Namun tetap diam, hanya terdengar tetesan hujan yang mengguyur bumi dan membuat tubuh dan pakaianku basah. Aku menopangkan daguku ke pagar jembatan, kembali mendesah dan terdiam. Aku bahkan tak perlu bersusah-susah mencari tempat untuk berteduh dari guyuran hujan, aku membiarkan setiap tetes air itu mengenaiku. Tak perduli rasa dingin yang semakin menjadi dan membuatku menggigil. Tak ada yang lain di sini, hanya suara hujan yang kudengar dan hanya itu juga yang menjadi temanku saat ini.

~Isn’t everyone trying to find me

Won’t somebody come take me home~

     Malam semakin larut, aku masih terdiam dengan posisi semula dan tak berniat untuk pulang. Aku tau, tak akan ada yang mau bersusah-susah mencariku dan membawaku pulang kerumah bahkan jika aku hilang untuk waktu yang panjang dan tak akan pernah kembali. Jika aku sedikit beruntung, orang rumahku mungkin hanya menanyakan dimana aku dan ketika yang lain mengangkat bahunya dan mengatakan mereka tidak tau semua pembicaraanku akan ditutup dan dianggap tidak pernah ada. Dunia memang tak pernah adil, bukan?

 

~I’m looking for a place

I’m searching for a face

Is nobody here

I know~

     Aku kembali mengedarkan pandanganku. Kali ini aku mencari, mencari seseorang yang aku tak tau siapa. Pandanganku menyapu sekitar yang aku bahkan hanya bisa menatap tak lebih dari dua meter dihitung dari tempatku berdiri, mencari sebuah wajah yang *kembali* aku tak tau bagaimana. Aku tak menemukan apapun selain hujan yang semakin deras. Aku menundukkan kepalaku dan memandang air sungai dibawahku. Terpantul bayanganku sendiri yang seketika langsung tersapukan dengan tetesan hujan yang membuat air dibawahku bergemericik. Jahatkah? Aku merasa ia, bahkan air hujan yang semula kuanggap sebagai satu-satunya temanku membuyarkan bayanganku sendiri. Kembali mendesah dan kali ini airmataku ikut mengambil bagian dan membuatku merasa terpuruk.

 

~Cause nothing’s going right

And everything’s a mess

And no one like to be

Alone~

     Seperti yang sudah aku katakana sebelumnya, dunia tak pernah menjadi adil bagiku, karena tak ada satupun yang menjadi lebih baik pada keadaanku. Semua tampak berantakan dan tak terurus, aku merasa sendiri. Dan aku tak tahan, karena aku sangat yakin tak akan ada yang suka hidup sendiri.

Sendiri, kata yang memikirkannya saja sudah membuatku gamang. Dan sialnya, sekarang aku merasa sangat sendiri dan tidak memiliki siapapun sebagai penguat dan pelindungku.

Keadaan awalnya baik-baik saja, hingga semua diambil dan direnggut dengan kasar oleh orang-orang yang merasa tak senang dengan keberadaanku.

Aku hanya tinggal berdua dengan ibuku yang adalah single parent. Hidup kami sempurna, ditambah dengan usaha ibuku yang berjalan dengan lancar. Tapi tetap saja, yang namanya kehidupan tak ada yang datar. Orang yang benci terhadap kesuksesan ibuku membuat fitnah yang menyebabkan aku dan ibuku menjadi terpuruk dan diasingkan dalam masyarakat. Mereka mencaci, memaki, membuat hidupku tak pernah bahagia. Hingga suatu saat, perbuatan mereka melampaui batas dan membuat ibuku harus menghembuskan nafas terakhirnya. Semenjak itu, hidupku terasa hancur. Aku harus bertahan sendiri tanpa ibuku yang adalah pegangan serta pelindung bagiku.

Belum lengkap keterpurukanku, aku dipaksakan untuk bekerja di sebuah rumah besar dengan keluarga yang sangat ramai sebagai seorang pegawai rumah tangga. Lebih tepatnya, aku nyaris menjadi seperti budak diperlakukan oleh mereka ditambah rekan-rekanku kerap kali menyejekku karena fitnah terhadap ibuku. Namun aku tak bisa menolak karena aku tak punya tempat lain untuk tinggal. Saat itu, aku merasa itu adalah keputusan yang benar, namun ternyata kenyataannya aku salah besar. Keputusan itu adalah keputusan tersalah yang pernah aku putuskan. Kembali, aku merasa lebih sendiri.

Hingga malam ini, aku memutuskan untuk meninggalkan tempat itu walaupun tanpa arah yang jelas. Dan disinilah aku sekarang, berdiri diatas jembatan yang sunyi. Aku, sendiri…

 

~Why is every things so confusing?

Maybe I am just out of my mind~

     Semua hal sangat membingungkanku sekarang. aku mencari seseorang yang aku tak tau siapa dan bahkan aku menganggap tetesan air yang jatuh dari langit dan menghancurkan bayanganku di air adalah jahat. Anggap saja aku mungkin memang sudah kehilangan akal sehatku. Aku berbalik dan menyandarkan tubuhku ke pagar jembatan. Kakiku terasa lelah dan membuatku sedikit demi sedikit namun pasti merosot turun dan terduduk dilantai jembatan. Kupeluk kedua lututku dan membenamkan kepalaku diantaranya, kembali menangis. Semua ini terlalu berat bagiku, aku tak sanggup melalui ini semua.

 

~It’s a damn cold night

Trying to figure out this life

Won’t you take me by the hand

Take me somewhere new~

     Angin malam bertiup di sela-sela hujan, udara terasa semakin dingin dan membuatku menggigil hebat. Aku merasa semakin kesakitan. Kehidupanku terlihat seperti sinetron-sinetron di televisi yang bahkan aku sendiri merasa muak jika melihatnya, kali ini aku sebagai pemeran utamanya. Walau begitu, aku ingin segera keluar dari naskah sinetron yang selalu membuatku terpuruk ini dan berada di sini sambil menahan dinginnya hujan yang mengguyur. Kesalahanku karena tidak segera berteduh dari hujan tadi, namun bagaimanapun juga, kakiku terasa begitu berat untuk melangkah menjauh dari jembatan ini. perasaanku mengatakan bahwa aku harus menunggu, menunggu sesuatu yang bisa membuatku lebih baik.

Adakah seorang yang bisa membantuku mengakhiri ‘sinetron’ hidup ini? menggenggam tanganku dan membawaku pergi menuju tempat lain yang lebih baik?  Jebal~

Aku terus menangis, air mataku terasa tak mau berhenti walaupun kalah jumlah dengan air hujan yang berjatuhan.

 

~ take me by the hand

Take me somewhere new

I don’t know who you are but I

I’m with you

I’m with you~

     Aku mendengar suara langkah kaki samar disela-sela suara hujan yang mengguyur dan tiba-tiba aku merasakan rintik air hujan berhenti mengenaiku. Aku tau hujan tidak berhenti karena suara hujan yang menyatu dengan air sungai masih terdengar jelas. Aku mengangkat kepalaku dan terkejut mendapati ada seorang namja yang berjongkok di depanku dan memayungi tubuhku dengan payung yang dibawanya.

“Nu… Nuguya?” ucapku setengah menggigil, dengan pengelihatanku yang terbatas aku dapat melihat namja itu tersenyum sekilas.

“Tak baik yeoja sepertimu berada di luar dalam keadaan hujan seperti ini. kajja, aku aku antar kau pulang.” Tawarnya dan mengukurkan tangannnya kearahku. Aku menggeleng cepat, membayangkan kalau aku harus kembali ke rumah itu membuatku berfikir lebih baik berada di sini dan kehujanan hingga pagi hari.

“Kau tak mau pulang? Lalu kau mau kemana?” herannya.

“Ke.. kemanapun selain ru…rumah itu.” jawabku masih dalam keadaan menggigil. Namja itu memandangku heran dan mengkerutkan keningnya

“Hmm, kau… mau ikut ke rumahku?” tawarnya sedikit takut.

“Apakah tak akan merepotkanmu?” aku bertanya balik.

“Tidak, lagipula aku hanya tinggal berdua dengan saudara kembarku.” Jawabnya. Aku terdiam dan berfikir sejenak.

“Bagaimana?” tanyanya lagi setelah beberapa menit, aku memandang kearah matanya mencoba mencari tau apa orang ini bisa dipercaya atau tidak. Aku melihat matanya yang bening dan terlihat tulus. Sesaat kemudian, aku mengangguk. Namja itu tersenyum kemudian menyerahkan payungnya kearahku, aku menerima dengan heran. Tak lama kemudian dia membuka jacket yang dikenakannya dan meletakkannya dibahuku.

“Ayo.” Ucapnya berbalik dan menyodorkan menyodorkan punggungnya padaku. Sedikit ragu, aku memeluk lehernya pelan kemudian namja itu bangkit dan membetulkan posisiku di punggungnya agar dia bisa menggendongku dengan nyaman.

“Kau bisa memegang payung ini?” tanyanya, aku mengangguk dan memegang pagung itu untuk melindungi kami berdua dari hujan kemudian mulai berjalan.

“Rumahku jauh, kita harus naik bus selama tiga jam agar bisa sampai disana. Tapi karena kau kebasahan, kita bisa naik taksi sehingga bisa sampai lebih cepat.” Ucapnya, aku mengangguk tanda setuju.

Setelah sampai di jalan raya, namja itu meletakkanku dihalte bus lalu pergi. Setelah beberapa saat dia kembali dan sambil membawa sebuah taksi yang mengikutinya dari belakang. Dibopongnya aku dan didudukkannya di kursi belakang supir dan kemudian dia duduk di sampingku. Setelah meminta supir taksi untuk menghidupkan pemanas udara dan menyebutkan alamat rumahnya, taksipun berjalan pergi.

Sepanjang perjalanan, kami hanya diam. Karena merasa sedikit nyaman dengan pemanas ruangan yang ada, aku merasa mengantuk dan akhirnya terlelap.

 

~ take me by the hand

Take me somewhere new

I don’t know who you are but I

I’m with you

I’m with you~

     Aku menggeliat pelan karena merasa sedikit kepanasan, aku membuka mataku perlahan kemudian mendapati aku sedang berada di ruangan yang aku tak tau dimana. Aku mencoba menggerakkan badanku kemudian tersadar bahwa aku sedang berada dalam sebuah selimut tebal dan terasa sangat kering. Aku bangun dan terduduk di atas tempat tidur. Pakaianku sudah berganti dan badanku terasa lebih baik dari semalam.

Pintu dibuka perlahan dan aku melihat seorang namja dengan rambut coklat almond masuk dan membawa secangkir coklat hangat di tangannya.

“Sudah merasa lebih baik?” tanyanya tersenyum padaku. Aku menatapnya mencoba memperhatikannya, senyumannya memang mirip dengan namja yang menolongku semalam, tapi aku merasa senyuman itu tidak sama.

“Kau yang semalam menolongku?” tanyaku memastikan. Namja itu menggeleng, “Youngmin! Gadismu sudah bangun.” Teriaknya kemudian.

Tak lama kemudian seorang namja dengan rambut honey blonde dengan potongan yang berbeda dari namja pertama masuk dan duduk di samping tempat tidurku. Tangannya menyentuh keningku untuk memeriksa suhu tubuhku.

“Merasa lebih baik?” tanyanya, aku mengangguk.

“Gumawo.” Ucapku.

“Tak perlu sungkan.” Ucapnya kemudian.

“Tapi, siapa uang mengganti bajuku?” tanyaku was-was.

“Soal itu, aku meminta tolong tetanggaku yang perempuan untuk melakukannya. Kau tak marah, kan?” tanyanya sedikit takut, aku mendesah lega dan menggeleng.

“Syukurlah kau tidak marah.” Ucapnya.

“Siapa namamu?” Tanya namja yang berambut almond tiba-tiba.

“Aku? Lee Chae Ahn.” Jawabku.

“Aku Jo Kwangmin.” Ucap namja itu menyodorkan tangan kanannya dan tersenyum, aku menyambutnya. Cukup lama kami bersalaman.

“Sudah, lepaskan!” Namja berambut Blonde itu melepas tangan Kwangmin dari tanganku.

“Aku Jo Youngmin.” Sambungnya dan menggantikan tangan kwangmin menyalamiku.

“Kalian kembar?” tanyaku.

“Ia.” Jawab mereka kompak.

“Ini coklat panas untukmu.” Kwangmin menyodorkan cangkir yang dari tadi di pegangnya, aku menerimanya dan mengucapkan terima kasih lalu meresap coklat itu pelan.

“Sepertinya kau sudah boleh keluar, Kwangmin-ah. Acara TV favoritemu sudah dimulai.” Ucap Youngmin tiba-tiba.

“Tapi… Aish, ia ia.” Kwangmin merubah kalimatnya dan buru-buru keluar setelah ditatap oleh Youngmin dengan tajam.

“Well, ini rumahku.” Ucap Youngmin setelah beberapa saat suasana menjadi hening.

“Kau… akan tinggal disini, kan?” Tanya Youngmin lagi.

“Entahlah, aku tak tau harus kemana lagi kalau pergi dari sini.” Jawabku jujur.

“Kalau begitu, kau harus tinggal disini.”

“Itu akan merepotkanmu, lagi pula bagaimana dengan orangtua kalian?”

“Aku sama sekali tidak merasa repot. Dan kedua orangtuaku sudah tenang disurga, kami hanya tinggal berdua.”

“Maaf, aku tak bermaksud…”

“Tak masalah. Bagaimana, kau mau tinggal di sini? Kau akan aman bersamaku, aku berjanji akan menjagamu, lagipula tempat ini jauh dari tempat tinggalmu yang dulu. Jadi kau tak perlu merasa risih dengan orang-orang yang membencimu.”

“Bagaimana kau bisa tau?” heranku.

“sebenarnya, aku sudah lama memperhatikanmu.” Ia tersenyum lembut padaku, aku balas tersenyum kepadanya. Aku merasa namja inilah yang aku tunggu semalam. Feelingku setidaknya selalu benar bagiku.

“itu artinya kau akan tinggal disini?” wajahnya terlihat lebih ceria, aku mengangguk.

“Yeeyyyy!” teriaknya kemudan menarikku dalam pelukannya dan tertawa lepas.

“Gumawo.” Ucapku, Youngmin masih memelukku erat.

“Ne. Saranghae~” jawab Youngmin yang sanggup membuatku terdiam, kata yang diucapkannya sudah sangat lama tidak kudengar sehingga hampir membuatku terlonjak senang karena mendapati masih ada orang yang menyayangiku selain ibuku dulu.

“Sekarang ayo kita keluar untuk makan dan setelah itu kita bisa berbelanja untuk keperluanmu.” Ucap Youngmin melepaskan pelukannya dan menggenggam tanganku dan menuntunku keluar dari kamar.

Diluar sudah ada Kwangmin yang sedang duduk di depan TV dan melompat bangun ketika melihat kami keluar.

“Kebetulan ada kau, ayo kita beli makanan untuk sarapan.” Ajak Kwangmin kemudian menarik tanganku yang bebas.

“Ya! Ya! Jo Kwangmin! Don’t touch my girl!” teriak Youngmin dan menepiskan tangan Kwangmin dariku.

“Your Girl? What do you say, its not fair. Kau curang.” Ucap Kwangmin.

“Anioo. I am older than you, so it’s fair if I always faster than you.” Youngmin tak mau kalah. Aku hanya tertawa kecil melihat kedua anak kembar itu kemudian mengasingkan diri dari mereka dan mencari dapur mereka, barangkali ada yang bisa aku masak untuk mereka.

“You older than me just 6 minute!”

“I Don’t care!”

Aish, mereka berdua benar-benar.  Sepertinya aku harus membiasakan diri dengan kelakuan mereka. Bagaimanapun juga, secara tidak langsung mereka sudah menjadi keluarga baru bagiku. Tempat aku bisa berpegang ketika aku akan terpuruk dan tempat aku akan mendapatkan perlindungan.

~I’m with you

I’m with you~