Maaf… maaf banget, apdetnya lama banget TT silahkan getok saya. Oh ya maaf, kalo gaya bahasa saya gak kaya part 1 kemarin, terjadi penurunan nih dengan gaya bahasa saya TT

Felicidad

All characters here belong to themselves

Felicidad © blackfreesia

Hurt/Comfort

Alternative Universe

Warning: Cerita pasaran, abstrak, dan penuh narasi

[1# Llovizna]

Pemuda bernama Sanghyun masih melengkungkan senyumannya, dia terlihat begitu tampan dengan senyuman yang terlukis di wajahnya, layaknya pangeran-pangeran di cerita dongeng yang sering Soojung baca ketika dia masih kecil—dan Pangeran ini nyata. Soojung bertanya-tanya, mengapa seniornya di sekolahnya itu memiliki senyuman yang mampu membuat gadis meleleh—termasuk Soojung.

Dan mengapa dia ada disini?

“Sanghyun sunbae—“

Soojung coba menanyakan satu persatu pertanyaan yang ada di pikirannya pada pemuda itu, tapi lidahnya kaku, dan dia kehilangan kata-kata.  Soojung merasa sangat malu, karena orang yang seniornya melihat keadaannya yang menyedihkan seperti, dan dia mendengar raungan menyedihkan Soojung.

Kenapa harus dia yang melihat Soojung yang menyedihkan?

“Apa kau ingin mengatakan sesuatu Soojung-ssi?”

Ya! Ya! Ya!

Tapi, setiap Soojung memikirkan kalimat yang tepat untuk keluar dari tenggorokannya, kata-kata Soojung selalu tersesat dan mati.

Tapi, pemuda itu tahu, apa yang ada dipikiran Soojung. Tahu berbagai pertanyaan yang berkecamuk di pikirannya. Tahu perasaan Soojung.

“Aku hanya kebetulan berada di sini, tapi tiba-tiba aku melihat kau berdiri di ujung tebing—dan aku tahu apa yang akan kau lakukan—”

“—aku sudah tahu, apa yang akan terjadi padamu—kau kehilangan keluargamu.”

Jung Soojung, sekarang kau benar-benar kelihatan menyedihkan di matanya!

Sanghyun tersenyum lagi, dan berkata, “Aku pun jika diposisi kau, akan melakukan hal yang sama.”

Sanghyun berjalan mendekat ke arah Soojung. Dengan seluruh kelembutan yang dia miliki, dia membelai rambut hitam Soojung.

Dan Soojung menangis.

Soojung tidak peduli Sanghyun melihat wajah jeleknya saat dia menangis. Soojung tidak peduli isakan tangisnya memekakan telinga Sanghyun. Soojung tidak peduli jika dia terlihat begitu menyedihkan.

Soojung tidak peduli! Soojung hanya ingin menangis sejadi-jadinya sampai dia puas.

Sudah lama tidak ada orang yang membelai rambut Soojung setelah keluarganya meninggal. Dan belaian Sanghyun membawanya pada memori tempo dulu kala orangtuanya membelai rambutnya dengan penuh kasih sayang dan kelembutan dan senyuman manis yang menghiasi wajah mereka. Soojung ingat kakaknya yang selalu membelai rambut Soojung kala Soojung berbuat baik.

Sudah lama Soojung ingin dibelai lembut seperti ini. Dia merindukannya.

Soojung dapat merasakan hangatnya belaian tangan Sanghyun. Kehangatan itu menjalar ke seluruh tubuh Soojung. Dada Soojung terasa hangat.

Soojung ingin menangis sejadi-jadinya hingga air matanya kering dan matanya bengkak. Sungguh.

[2# Llovizna]

Soojung merasa ini seperti mimpi, Sanghyun menghapus bekas air matanya di pipinya dengan jempolnya, kemudian dia kembali mengelus rambut Soojung. Soojung berusaha mati-matian agar dia tidak menangis lagi (dan terlihat menyedihkan lagi)

“Kau sudah tenang sekarang, Soojung-ah?” tanyanya lembut.

“Nee Sanghyun-sunbae. Mianhae, tadi aku menangis tiba-tiba,” ucap Soojung.

“Gwenchana.”

Soojung  ingin mengucapkan ‘terima kasih’ tapi sekali lagi lidahnya kaku dan kata ‘terima kasih’ seolah mati. Soojung tak tahu mengapa. Mungin, karena sorot mata Sanghyun yang lembut yang sedari tadi dia tunjukkan yang membuat Soojung berdebar-debar. Mungkin, karena sentuhan Sanghyun yang masih terasa. Entahlah, Soojung tidak tahu.

Kepala Sanghyun mendongak ke atas, memperhatikan matahari yang turun dari peraduannya dan warna lembayung senja yang mencelup langit. Sebentar lagi malam akan tiba.

“Sebentar lagi malam, sebaiknya kau pulang,” saran Sanghyun.

Pulang? Dan sendirian di rumah yang dilalap sepi, di rumah yang dipenuhi kenangan tempo dulu yang membuat ingin menangis? Tidak mau!

“Aku—“

“Hmm?” Sanghyun menunggu jawaban Soojung.

“Aku tidak mau pulang,” jawab Soojung

“Wae?” tanya Sanghyun

Soojung tidak (mau) menjawab.

Soojung tidak ingin terlihat menyedihkan.

Dan pemuda bernama Sanghyun itu mengerti.

Karena kau takut dilalap sepi ‘kan?

“Mau ikut denganku?”

“Eh? Tapi­—“

“Sudahlah tidak ada tapi-tapian, bahwa saja pakaianmu dan ikut denganku!”

“Eh? Kemana?”

“Kau akan tahu nanti,” jawab Sanghyun sambil memamerkan senyumannya.

To Be Continued

Maaf ya, lama banget apdetnya… udah gitu pendek lagi… habisnya laptop saya layarnya pecah dan harus diperbaiki, udah selesai eh… tugas memanggil (derita pelajar)

oh ya, yang kemaren request fic ini siapa ya? mian pelupa, bisa kasih tahu twitternya? jadi saya bisa kasih tahu kapan apdetnya dan hal2 tak terduga lainnya dalam proses membuat fanfic ini (bahasa loe lebay)