Title : Ma Victorie (Part 1)

Cast : Lee Seung Ri (BigBang) , Park Lee Bom (2NE1), Choi Dong Wook (Se7en)

Genre : Romantic, Friendship, Comedy (fail)

Disclaimer :

ADIEZ-CHAN ©ALL RIGHT RESERVED

ALL PARTS OF THIS STORY IS MINE ! NO OTHER AUTHORS ! PLEASE DON’T COPY AND RE-POSTING WITHOUT CONFIRM ME!
NO PLAGIARISM!

PLEASE KEEP COMMENT AND NO SILENT READERS!

 

Author’s Note :

Prolog kemarin, saya kecewa bangeettt… kenapa oh kenapa? yang baca itu sampe seratusan, tapi yang komen cuman seperempatnya! Astagaa… please SiDers, kapan siihh kalian itu tobaatt??! ><

Tapi untuk yang Part ini, emang belum saya protect, karena untuk sebuah prolog, saya memang tidak berekspektasi tinggi, tapi untuk part depan, saya SANGAT SERIUS untuk protect FF ini jika masih sedikit yang komen.

Oh come on guys! Susah yaa buat nyempatin beberapa kataaaa aja buat komen, saya nggak minta komennya sepanjang FF nya kaaann? *nangis di pelukan Tabi*

Okee, happy enjoying all~🙂

__________________________________________________________

 

Krinciing…

Seorang lelaki tampan melangkahkan kakinya memasuki café bernuansa klasik dengan sedikit sentuhan a la Victoria. Dia melewati beberapa meja di depannya dan berjalan santai ke arah bar café.  Seorang waitress mendatanginya setelah dia memilih duduk di salah satu kursi satu kaki yang tersedia di deretan bar tersebut. “Ada yang bisa saya bantu, Monsieur?”

“Saya ingin Park Lee Bom yang melayani saya,” lelaki itu berkata tanpa emosi. Wajahnya yang nyaris tanpa cela itu mengucapkannya dengan angkuh.

“Tetapi Park Bom-ssi sedang—“

“Panggil saja dia. Bilang saja, Lee Seung Hyun menunggunya di depan.”

“Ah, baiklah, Monsieur,” ucap waitress itu  pada akhirnya, karena dia seolah kehabisan kata-kata,  dan berlalu memanggil yang lelaki itu cari.

.

Ehem. Baiklah. Apakah pendekskripsian kedatanganku itu… cukup keren?

Apa? Kamu bingung?

Tidak usah bingung. Karena yang sejak tadi berbicara adalah aku. Iya, aku, Lee Seung Hyun, atau biasa dipanggil Seung Ri.

Kenapa? Mau protes karena aku bilang ‘lelaki tampan’? AKU MEMANG TAMPAN KAN? IYA KAN? Hahaha…

 

Oke, sekali lagi, aku Seung Ri, seorang cassanova. Jika orang biasa hidup bergelimang harta, aku hidup bergelimang wanita. Iya, wanita. Aku bahkan sudah tak bisa menghitung dengan kesepuluh jariku, berapa wanita yang mendekatiku, menyatakan cinta padaku, bahkan berhubungan denganku. Seingatku, rekor terpanjangku bersama wanita adalah satu bulan, dan rekor tercepatku adalah satu hari.

Tidak percaya? Mari kita telisik ke belakang…

……

 

Seung Ri, 2nd grade of Senior High School

“Seung Ri-ah, jo hae-yo… Maukah kamu menjadi namja-chinguku?” gadis dengan rambut sepanjang bahu itu mengatakannya dengan malu-malu. Bahkan semburat merah telah lebih dulu menjalari wajahnya sebelum dia mampu mengucapkan apa yang ingin dia katakan.

Aku menatapnya dari ujung rambut hingga ke ujung kaki dengan sebelah mataku. Rambut pendek, minus. Tinggi, okelah, dia tidak setinggi diriku. Wajahnya, biasa saja. Tapi baru saja kemarin aku putus, sepertinya aku sedang malas mengurusi makhluk cerewet bernama wanita untuk hari ini. Coba saja dia mengatakannya besok, pasti…

“Aku tidak bisa,” jawabku datar tanpa emosi. Alis mataku naik sebelah, seolah gadis itu hanya menanyakan ‘di mana toilet berada’.

“Tapi…”

“Tidak ada tapi,” ucapku lagi. Kemudian sudut mataku melirik arloji di tangan kananku dan beralih kembali menatap gadis itu, malas. “Aku ada janji lain. Jadi, aku pergi duluan ya. Annyeong.”

Kedua kakiku berbalik meninggalkan wanita yang sepertinya hanya bisa tercengang menatap kepergianku. Dari kejauhan, dalam samar aku bisa mendengar gadis itu terisak sambil merengek pada temannya, “Huwaaa… aku ditolaaakk…”

“Shuusshh… sudah sudah…”

“Lee Seung Ri jahaaatt… tapi cakeeepp… huwaaa…”

Satu sudut bibirku tak pelak naik ke atas, membentuk satu cengiran kecil. Ah, Seung Ri-ah, sekali lagi kamu memupuskan harapan wanita…

……

 

Seung Ri, 4th semester of college

“Aku mau putus.”

Gadis di depanku membulatkan matanya selebar yang dia mampu, shock. “App… apa?!”

Are you deaf? Aku minta hubungan ini berakhir.” Aku mengulanginya, tetap dengan nada yang datar, tanpa emosi. Untuk makhluk-makhluk cengeng seperti ini, aku tidak perlu memakai perasaan. Atau… memang perasaanku sudah mati untuk tetek bengek wanita macam ini.

“Tta… tapi kenapa, Seung Ri?”

“Aku bosan denganmu.”

Sekali lagi, matanya membulat mendengar apa yang baru saja keluar dari bibirku. Kali ini, bisa kupastikan jantungnya telah berhenti berdetak. Bahkan aku bisa membayangkan apa yang akan dia lakukan selanjutnya. Dia pasti akan…

Grapp!

Aku mencekal tangannya hanya beberapa detik setelah dia mencoba mengambil gelas berisi cappuchino latte di atas meja kami. Gerakannya terhenti, matanya kembali menatapku dengan terhenyak. “Kamu mau menumpahkan cappuchino ini di kepalaku? Classic thing.” Tanganku yang lain mengambil gelas yang sebelumnya dia pegang dan menumpahkan isinya di lantai di sampingku. Tentu saja, sambil menatapnya sarkastik.

Tetesan bening seketika turun di kedua pipinya dan menatapku terluka, -dan aku balas dengan tatapan tanpa emosi—. Setelah itu dia mengambil tasnya dan pergi meninggalkanku tanpa mengucapkan apapun.

“Hufftt… akhirnya…”

Tiba-tiba ponselku berdering nyaring di saku kemejaku. Tanganku beranjak mengambilnya dan menekan tombol hijau di sana. “Yoboseyo? Ji Eun, kamu di mana? Oke, aku ke tempatmu. Tunggu aku, sayang…”

……

 

Ehem. Itu sedikit kisahku. Such a jerk? Playboy? Haha… itu sudah menjadi sebutanku setiap hari. Aku sudah mengatakannya kan sebelumnya, I’m a cassanova.

Kenapa aku melakukan hal-hal seperti itu? Hum… I don’t know. Hanya saja aku tidak suka dengan hubungan yang lama. Toh, mereka yang mendekatiku. Aku tak pernah mendekati mereka, ataupun menginginkan mereka di dekatku. Maybe I love in around women? Haha…

Dan aku pikir, aku akan selamanya seperti ini. I mean, I’ll be cassanova till the end. Sampai akhirnya aku bertemu…

 

 

“Yaa!! Apa maksudmu memanggilku?!” seorang wanita semenawan Barbie mendatangiku sambil berkacak pinggang sebal. Helaian rambutnya yang sewarna burgundie bercahaya tertimpa sinar matahari. Mini-dress yang dia kenakan  dengan jelas menampilkan kaki mulusnya yang jenjang. Untuk sejenak, aku tercengang, oke, lebih tepatnya, terpesona oleh kecantikan sempurna yang tersaji di hadapanku sekarang.

Ctak! Ctak!

“Hei?! Kamu masih di sini, kan, Seung Ri??” tanyanya bingung seraya menjentikkan jemari lentiknya tepat di depan kedua bola mataku, menyadarkanku akan imajinasiku tentangnya.

“Ah, nee. I’m here, noona.”

“Jadi, ada perlu apa hingga kamu memanggilku ke sini?”

Kedua sudut bibirku tertarik ke atas, membentuk sunggingan lebar. “Ani, aku hanya ingin melihatmu saja, Bommie noona.”

Park Bom, nama wanita itu, mendesah kesal seraya membuang mukanya, “Hissh. Memangnya kamu begitu penting ya, hingga aku harus mendatangimu?”

“Bukannya aku memang—“

Krinciiiingg…

Spontan kami menghentikan pembicaraan kami dan beralih ke arah pintu. Seorang lelaki dengan dengan tampang yang –euhh, aku benci mengatakannya— di atas rata-rata, kaki yang bisa membuat alat pengukur bernama meteran menjadi frustasi, dan senyumnya yang sudah kupastikan bisa meluruhkan hati semua wanita. Oh, oke. He’s almost perfect.

Dari sudut mataku, aku mampu menangkap rautnya berubah melampaui kecepatan cahaya. Oh God, I hate it. Aku menyukai rekahan senyum itu, tapi kali ini tidak, karena itu bukan untukku. Aku menyukai binar di kedua manik mata itu, namun kali ini tetap tidak, karena semua sinarnya tidak ditujukan padaku. Dan untuk semua yang dia lakuukan bukan kepadaku, aku membencinya.

Tanpa memberi salam apapun untukku, dia beranjak dari sampingku dan menghampiri lelaki itu. Dan –crap!— dia menyapa lelaki itu dengan nada yang 180 derajat berbeda dengan nada yang dia ucapkan untukku. “Dong Wook oppa!”

Lelaki yang Bommie noona sebut Dong Wook itu mengecup lembut pipi merona milik wanita hadapannya. Wanita itu kini tak bisa menahan semburat merah di kedua pipinya. “Hey, dear… How’s café goin?”

“Good as always, oppa.”

“Nice to know this. And if you wanna know, I miss you, dear…”

Sekali lagi garis-garis kemerahan itu menjalar cepat, “Miss you too, oppa.”

Oh sh*t! God, I really hate seein all of this scene for sure.

 

 

Yeah. I think I’ll be cassanova till the end. Sampai akhirnya, aku bertemu Bommie noona.

Bagaimana aku harus mendekskripsikannya? Park Lee Bom, seorang Barbie hidup dengan satu keutuhan yang nyaris sempurna. Namun, apa sebenarnya yang nihil padanya? Pemilik café Bonheur, yang tak pernah bosan aku kunjungi. Dan yang paling penting, seorang wanita tanpa cacat itu, telah menjalin hubungan dengan seorang yang juga seolah porselen, Choi Dong Wook.

Yeah, this is the problem. I chose the one who choose to not choose me.

 

***

 

Bom POV

Apa yang bisa aku ceritakan tentangku? Aku hanya wanita biasa yang mencoba menyulap café milikku ini dengan nuansa Victoria classic, seperti yang biasa aku lihat di Amerika, tempatku menghabiskan hampir seluruh hidupku. Dan lelaki super tampan di hadapanku ini adalah Choi Dong Wook, yang tak lain adalah… kekasihku.

Oh Tuhan, lelaki di depanku hanya punya satu kelebihan, yaitu tak memiliki kekurangan. Kelebihan lainnya jika ingin kamu tanyakan, dia membuatku jatuh cinta padanya. For sure, he is the one.

“Tumben oppa kemari?”

“Aku… hanya ingin bertemu denganmu, bommie…”

SEE?! Ucapan-ucapan kecil seperti ini yang bisa membuatku meleleh. Senyumku melebar, dan aku tak bisa menyembunyikan guratan merah yang memenuhi pipiku. “It’s a lie, or what?” tanyaku, mencoba berkilah dari ekspresi yang tak mampu aku kendalikan. Aku akhirnya menunjuk salah satu meja kosong di dekat kami dan berkata, “Duduklah, oppa.”

Truth for sure. Nee,” senyum tipisnya mengembang seraya menarik kursi dan duduk di sana. Aku pun ikut duduk di kursi tepat di hadapannya.

“Mau pesan apa, oppa?”

“Tidak perlu. Aku hanya sebentar kok, Bommie. Sebenarnya aku ingin mengajakmu dinner untuk weekend ini. You have time, babe?”

Dinner?! Oh God, please help me control my heartbeat!

Always have if it’s for you.

Dong Wook oppa melirik arloji yang melingkar manis di pergelangan tangan kirinya dan menatapku, sedikit kecewa. “Oke. Jam kantorku habis ini selesai, dan aku harus kembali. See you this weekend, babe.

“Nee, see you,” balasku kemudian seraya melambaikan tanganku ke udara. Menjadikan salam atas jarak yang kemudian tercipta. Bahkan setelah bayangan dari mobil yang dibawanya telah menghilang masih enggan untuk pudar dari bibirku.

Mungkin hanya sekedar informasi, sebagai putra mahkota perusahaan besar di Korea, dia tak memiliki banyak waktu untuk sekedar bersantai, jadi rasanya bisa menghabiskan wakt bersamanya adalah kehebatan tersendiri. Although just in a short time.

Aku kembali menuju bar tempat cangkir-cangkir kosong itu menunggu untuk dituang cairan-cairan kental beraroma. Dan sayangnya, di bar itu pula lah, anak ingusan itu duduk dan menatapku lamat-lamat seolah aku adalah alien. Sepertinya dia sudah memesan Machiatos caramel, terasa dari uap yang mengepul hingga mencapai saraf penciumanku.

“Apa sih bagusnya ahjussi seperti itu?” tanyanya acuh.

HEEHH??! Ahjussi?! Memang sih Dong Wook tidak lagi muda, dan bagiku, dia seperti oppa. tapi mungkin baginya… Tta… tapi…

Aku tidak terima!!

“Apa maksudmu? Kalau dia ahjussi, artinya kamu juga menganggapku ahjumma dong?!” tanganku berkacak di pinggangku seraya menatapnya kesal.

“Aniyaa… Bommie noona tetap noona bagiku,” dia menyengir kecil.

“Hisssh! Ucapanmu benar-benar! Asal kamu tahu, ya. Choi Dong Wook oppa itu orang paling baik sedunia! Tampan, tinggi, pintar, kaya. Dia itu orang paling perfect!”

“Lebih tampan aku, noona! Aku juga pintar, buktinya, sekarang aku bisa bekerja sebagai composer ternama. Jelas, aku juga kaya. Choi Dong Wook itu tidak ada apa-apanya dibandingkan denganku. Percayalah, noona.”

Heh? Dia mimpi atau bagaimana? Bahkan dilihat dari jarak seribu tahun cahaya dari antariksa pun, jelas-jelas. CHOI DONG WOOK LAH YANG AKAN MENANG.

Ada-ada saja! Sabar, Boomie… dia hanya anak ingusan. Anak ingusan. Oke.

“Kalau sudah selesai, kamu bisa pulang, Seung Ri,” ucapku sambil berlalu menuju balik bar. Membersihkan cangkir-cangkir yang masih basah.

“Aku belum selesai, noona. Mau pesan yang lain…”

Gerakanku terhenti dan menatapnya bingung. “Ada pesanan lain, Seung Ri?”

Lelaki muda itu beranjak dari tempatnya, mencondongkan Kepalanya ke arahku dan menggoyangkan jarinya ke arahku, isyarat agar aku pun mendekat padanya. Dan tamu adalah raja, aku pun mengikuti kemauannya. Aku mempersempit jarak antara aku dan dia. Tanpa kusangka sebelumnya, Seung Ri berbisik tepat di depan telingaku dengan pelan, “Boleh aku memesanmu untuk seumur hidup?”

Aku tercengang.

Lalu, dia mengecup lembut pipiku.

Kedua bola mataku membuka lebar. Aku sadar dia melakukan hal di luar nalar itu, namun aku tak bisa bergerak sedikit pun hingga ketika dia menjauhkan wajahnya dariku. Dalam keheningan sesaat itu, tanganku  perlahan mengambil buku menu yang cukup tebal, karena berbalut kertas setebal kardus, dan…

PLAKK!!

Buku menu itu mendarat tepat dan sangat manis di wajahnya. Great combo!

“You wish!!”

 

Secepat mungkin aku beranjak meninggalkan Seung Ri yang tercengang, dengan bekas merah hasil karya buku menu yang baru saja kutamparkan. Aku memasuki ruanganku sendiri yang berada di balik café itu, terhalang oleh dapur megah yang menghadap meja-meja tamu. Langkah kakiku terhenti ketika akhirnya aku mencapai meja kerjaku. Satu tanganku bertumpu di kaca meja tersebut, sedangkan yang lain menepuk dahiku keras, mencoba menyadarkanku kembali ke dunia nyata. Aku SANGAT perlu itu.

Apa-apaan anak kecil ingusan jelek itu? Merasa cassanova, huh?! I’m so sorry, but I have very handsome boyfriend, boy!!

Tanganku terangkat mengusap bekas kecupannya itu. Rasanya…

Entahlah.

 

***

 

Normal POV

“Thanks for dinner, oppa…” Bom mengusap bibirnya dengan tisu yang terletak di meja dengan gerakan lembut nan anggun. Lelaki di hadapannya hanya membalas dengan satu senyuman simpul.

Sesaat kemudian, seorang waitress membereskan meja mereka dengan gerakan tertata dalam diam, sedangkan dua orang yang duduk di masing-masing sisi yang berhadapan di meja itu terdiam, seolah tak terganggu. Hingga akhirnya di atas meja itu hanya tersaji satu botol Wine yang telah terbuka lengkap dengan dua gelas yang setengah isinya telah sewarna darah.

“Bommie-ah, aku ingin mengatakan sesuatu padamu.”

“Nee?” Bom segera menatap lekat Dong Wook, hingga kedua pasang manik mata itu saling bertemu, saling menepis tabir yang tersirat.

Choi Dong Wook terdiam sejenak. Lelaki itu menarik nafas panjang dan berat.

“Aku ingin mengakhiri hubungan ini.”

Bom terhenyak, mencoba perlahan mencerna sekali lagi apa yang baru saja mencapai gendang telinganya.

Yang paling dia benci dalam mencintai seseorang adalah, ketika dia harus bangun dari mimpinya. Apakah ini sudah saatnya? Dia tak tahu.

Jangan tanyakan apakah dia baik-baik saja sekarang.

____________________________________________________________

.:To be continued:.

 

Okee. Bagaimana?

Semoga puas yaa. Apa? kependekan? Tenang… nanti part 2 nya agak panjang kookk…

 

Masalah Protect posting itu, I’m extremely serious.🙂

Mohon pengertiannya, komen-komennya, dan…

 

gomawoyooooo… (_ _)