Title : Evil brother And Me

Cast :

  1. Park Jiyeon
  2. Lee Jinki
  3. Lee Jonghyun
  4. Lee Kibum SHINee
  5. Lee Minho SHINee
  6. Lee Taemin
  7. Lee Nara

Length : Series

Genre : Romance, Family

Rating : General

***

Taemin P.O.V

“Hyung, aku harus berbicara dengan kalian semua!” teriakku saat melihat ketiga hyungku sedang berada di ruang TV

“Katakanlah,” kata Jinki hyung singkat tanpa mengalihkan perhatiannya dari TV

“Hyung! AKu serius!” teriakku

Ketiga hyungku menoleh kepadaku dengan alis terangkat sedikit.

“Waeyo, Taeminie?” tanya Kibum hyung

“Minho hyung! Dimana dia?” tanyaku

“Kau seperti tak tahu keadaannya, Taemin! Tentu saja dia ada di kamarnya,” kata Jjong hyung

“Oke, baiklah. Aku akan berbicara dengan kalian bertiga saja!”

Jinki hyung menatapku dengan tatapan menyelidik. Jjong hyung meregangkan lehernya sebelum metapku dengan acuh tak acuh.Sedangkan Kibum hyung memang menatapku dengan serius. Tetapi, tatapannya kosong. Entahlah, tapi aku yakin hanya raganya yang ada disini. PIkirannya entah dimana.

“Kibum hyung!” bentakku

Kibum hyung tampak tersentak dengan teriakanku dan memandangku dengan tatapan tak bersalah.

“Wae?”

Aku hanya mendengus keras sedangkan Kibum hyung hanya menggaruk kepalanya.

“Cepatlah, Taemin!!” kata Jjong hyung

“Ini tentang Jonghyun Hyung dan Nara,”

Karena mendengar itu, semua hyungku langsung mengalihkan perhatiannya ke TV.

“Ya!Hyungdeul! Kenapa mengacuhkanku?”

“Kau membahas masalah yang tidak penting!” kata Jinki hyung yang diikuti anggukan oleh Kibum hyung dan Jjong hyung

“Tidak penting? Hyung!! Nara dan Jjong kan bersaudara! Apa kata  orang kalo tahu Jjong menyukai Nara?”

BRAK

Tiba-tiba pintu rumah terbuka dengan kerasnya. Dan disitulah berdiri sesosok yang mereka rindukan dengan penuh ketegasan di wajahnya.

“Appa!” teriak keempat anak laki-laki itu

“Apa madsudmu Jonghyun menyukai Nara, Taemin?”

“Hmm.. iTu..Itu..” aku berusaha memberikan tanda kepada Jinki hyung untuk membantuku

“Ya, itu yang terjadi appa,” kata Jinki Hyung dengan lantang

“Mwo? Jonghyun! Kau sudah gila? Hah?”

“Tapi,appa.. Kupikir aku boleh mencintainya.. Karena..”

“JONGHYUN! Itu rahasia keluarga dan kau sekarang ingin memberitahu semuanya dengan cara seperti itu?” teriak Appa yang membuatku ketakutan

‘Rahasia keluarga? Apa madsudnya?’ batinku

“Lee Jonghyun! Kau harus menjauhi Nara! Arraseo?” bentak appa

Jonghyun  hyung tampak berpikir sebentar. Sedangkan, Jinki hyungmencoba menatap Jonghyun hyung dengan tatapan iyakan-saja-appa

“Ne. Arraseo, appa.” Kata Jjong hyung pelan

Appa tersenyum puas dan segera meninggalkan kami dalam keheningan.

“Hyung..” kataku

Karena tak mendapatkan tanggapan, akupun melanjuutkan ucapanku.

“Apa madsud dari ‘Rahasia Keluarga’?” tanyaku

Jinki hyung melirikku sekilas dan mengalihkan perhatiannya lagi. Kibum hyung hanya menunduk tak jelas. Sedangkan Jonghyun hyung tampak gelisah.

“Hyung.. Jawab pertanyaanku!” rengekku

“Kurasa sudah saatnya Taemin tahu yang sebenarnya..” kata seseorang yang membuat semuanya menoleh ke arahnya.

“Minho?” tanya Jinki

Rambut minho hyung tampak berantakan dengan bajunya yang berantakan juga.

“Taemin sudah dewasa, hyung..” kata Minho sambil menuruni tangga terakhir dan mengahampiri kami.

Jinki hyung tampak sedang berpikir keras.

“Baiklah..”

***

Jiyeon P.O.V

Aku terus mengganti-ganti channel TV, tapi tak kunjung kudapatkan tontonan yang menarik. Aku melempar remote TV dengan sembarang arah ke tempat tidurku.

“Aish! Kemana Oppa-oppaku dan Nara? Disaat aku bosen begini mereka malah tak ada!” gumamku kesal

Aku mencoba untuk tidur karena waktu sudah menunjukkan pukul 20.30 malam. Tapi rasanya aku belum sama sekali mengantuk.

“Kenapa aku tidak ke taman Rumah Sakit ini saja!” kataku penuh semangat

Aku pun segera menyingkirkan selimut yang menutupi tubuhku dan segera bangun dari tempat tidurku. Dengan perlahan aku menggunakan jaketku, mengambil ipodku dan keluar dari kamar. Lorong kamarku tampak sangat sepi. Well, membuat bulu kudukku sedikit merinding.

“Kenapa tak ada orang sama sekali sih?”

Aku terus berjalan menuju lift yang berada di ujung lorong. Aku menunggu sampai lift terbuka sambil memilih-milih lagu dari ipodku.

TING

Aku pun segera masuk ke lift dan menekan lantai 1. Aku menutup  mataku perlahan  untuk menikmati lagu yang kuputar. Tepatnya adalah lagu ‘Maybe’ nya Sunye Wonder Girls. Ah,lagu itu sangat indah. Tak sampai 5 menit, aku sudah sampai di lantai 1. Tak seperti di lantai atas, lantai 1 sangat ramai! Aku berjalan melalui jalan yang sangat ku kenal menuju taman rumah sakit.

Malam ini, taman rumah sakit tampak indah. Lampu-lampu taman yang berwarna kuning membuat taman menjadi remang-remang. Taman ini sepi. Hanya ada beberapa orang yang sedang mengobrol ataupun berpacaran. Aku memilih kursi taman yang berada paling dekat dengan pintu masuk taman ini dan segera duduk disana. Aku hanya menutup mataku dan kadang-kadang aku ikut bernyanyi sesuai dengan lagu yang berputar dari ipodku, hingga aku  tak menyadari ada seseorang yang  sedang memperhatikanku. Aku tak tahu dari kapan, yang jelas sekarang ia duduk disampingku. Aku segera mematikan ipodku dan memandangnya dengan tatapan tanya.

“Suaramu bagus..” puji laki-laki disampingku

AKu tertegun sebentar sebelum kembali ke alam sadarku.

“Eh? Kamsahamnida..” jawabku gugup

Ia terkekeh pelan. Dan itu membuatku tersenyum. Harus kuakui wajahnya cukup tampan. Wajahnya yang khas Korea begitu terlihat lebih tampan dengan rambutnya yang berwarna pirang. Senyumnya yang khas membuatku ikut tersenyum.

“Kau tahu, aku agak sedikit risih jika ada yang menatapku terlalu lama,” katanya dengan lembut

Dan aku pun segera menunduk.

‘Jiyeon, kau memalukan!’ ucapku pada diriku sendiri

“Tapi,aku tak keberatan jika kau yang menatapku..” katanya melanjutkan

“Eh?” kataku sambil menatapnya

“Ah.. Aniyo.. Namamu siapa?”

“Jiyeon. Park jiyeon imnida. Nugu?”

“Park Jungsu imnida. Berapa umurmu?”

“17 tahun.. Waeyo?”

“Berarti kau harus memanggilku ‘Oppa’.Umurku 18 tahun,”

“Ya! Kita kan hanya beda 1 tahun!” jawabku tak terima

“Tetap saja kau harus memanggilku ‘Oppa’! Arraseo?” katanya

“Ah.. Baiklah..” kataku menyerah

Dia tertawa pelan saat melihatku. Aku hanya mendengus pelan. Melihatku tidak ikut tertawa, ia pun segera mengendalikan dirinya dan menghentikan tawanya.

“Mian. Hmm.. Kau sakit apa?” tanya nya

“Hanya pukulan ringan,,”

“Pukulan? Siapa yang memukulmu?”

“Hanya laki-laki yang mabuk. Kau sendiri?Sakit apa? ” tanyaku

“Apa aku terlihat seperti pasien?” tanya nya sambil tersenyum

Aku menoleh kearahnya dengan pandangan tak mengerti. Dan sedetik kemudian aku tersadar. Dia tidak menggunakan pakaian pasien sepertiku. Dan, dia tampak sangat sehat.

“Kalau begitu, kau menjenguk atau mengantar siapa?” tanyaku

“Tidak menjenguk atau mengantar siapapun,” katanya santai

“Ah.. Aku tak mengerti!” kataku sambil mengkerucutkan bibirku dan meregangkan kakiku yang kutekuk dari tadi serta meletakkan punggungku di sandaran kursi ini.

Ia menatapku dan mengikutiku untuk meletakkan punggungnya di sandaran kursi lalu ia menatap  bintang-bintang di langit.

“Ayahku adalah pemilik Rumah Sakit ini. Ya, aku hanya sekedar melihat perkemangan rumah sakit ini..” katanya

“Ah.. Arraseo!” kataku

“Ini kan sudah malam. Kau tak tidur?”

“Entahlah. Aku tak bisa tidur,”

“Tak baik untuk kesehatanmu. Tidurlah..”

Aku memandanganya perlahan.

“Wae?” tanya nya

“Kau seperti Oppaku!Cerewet! ” kataku sambil tertawa

“Aku tak menyalahkan oppamu jika dia cerewet. Ini pantas untuk gadis sepertimu!” katanya sambil tertawa

“Ya! Memangnya aku kenapa?”

“Sudahlah, ayo tidur sana!”

“Aku tidak bisa tidur, Oppa!!” kataku kesal

“Ah.. Arraseo!Hmm.. Jiyeon, Oppa mu itu tidak menjengukmu?”

“Eh? Oppa ku.. sudah meninggal..” kataku pelan

“Oh. Mianhae..”

“Gwenchana..”

“Lalu kau hidup bersama siapa?”

“Oppa-oppa tiriku,”

“Ah, begitu rupanya..” katanya

Tiba-tiba rasanya aku sangat mengantuk.

“Oppa, aku sudah mengantuk. AKu  ke kamar dulu ya!”

“Kuantar ya?”

“Tidak perlu. Kau pulang saja, ini sudah malam..”

“Ah Arraseo. Semoga kita  bertemu lagi ya!” katanya sambil menunjukkan senyuman khasnya

Sebagai jawabannya, aku pun menganggukkan kepala dan tersenyum padanya.

***

Author P.O.V

Seorang gadis dengan menggunakan hoodie putih dan celana panjang, tampak sedang membereskan barang-barangnya ketika kelima namja dan seorang yeoja datang ke kamar  tersebut.

“Jiyeon eonnie!”

Gadis itu menoleh dan tersenyum indah pada gadis remaja itu.

“Kalian sudah datang rupanya. Ayo pulang!” kata gadis yang bernama Jiyeon itu

“Eonnie membereskan semua barangmu sendiri?”

“Tentu saja, Nara!”

“Eonnie!! Kenapa tak minta bantuanku atau oppadeul saja?”

“Sudahlah, aku tak mau merepotkan kalian. Ayo pulang!”

“kau senang sekali sih mau pulang kerumah!” kata Jinki

Jiyeon hanya tersenyum simpul. Dengan sigap, seorang namja mendekati Jiyeon dan mengambil tas Jiyeon.

“Kubawakan tasmu..” kata namja itu

“Kibum-ah.. Aku bisa membawanya sendiri..”

Seperti tak mendengar, Kibum terus berjalan menjauhi Jiyeon dengan membawa tas itu. Jiyeon hanya menghela nafas melihatnya.

“Sudahlah. Ayo pulang, Jiyeon,” kata Jonghyun

“Ne!” kata jiyeon sambil merangkul Nara dengan erat. Sedangkan kelima saudara laki-lakinya hanya menatapnya senang.

***

Kegelapan malam yang diiringi dengan berbagai bintang di langit, membuat malam itu tanpak indah. Cahaya bulan yang menyinari bumi seakan memberikan kebahagian dan kehangatan bagi semua makhluk di bumi. Sayangnya, keindahan malam itu tak terasa bagi kedua manusia itu. Seorang yeoja dan seorang namja tampak terduduk di kursi taman. Keduanya tampak larut dalam pikirannya masing-masing.

“Minho-ah..” kata Jiyeon membuka keheningan malam itu

“Hmm..”

“Gomawo.. Mianhae..” kata gadis itu

Minho menatap Jiyeon dengan tatapan tanya.

“Untuk apa? Aku yang seharusnya meminta maaf padamu..”

“Maaf karena peristiwa di restoran itu dan terima Kasih karena telah menyelamatkanku,”

“Mmm.. Yah..” katanya tak acuh

“Aku juga merasakan yang sama. Menginginkan kasih sayang kedua orang tuaku,” kataku lirih

Minho menoleh pada gadis disampingnya itu. Ia menatapnya tepat dimatanya.

“Appamu.. Kemana dia?” tanya Minho dengan dingin

Jiyeon hanya menundukkan kepalanya. Tanpa terasa, air matanya mulai bertetesan.

“Ah. Mianhae, aku tak bermadsud menyinggungmu..”

“Ani.. Dia sudah meninggal dan itu karena diriku. Mungkin karena itulah, Eomma tak menyayangiku lagi..”

“Aku lelah mendengar kisahmu yang seperti dongeng itu..” kata Minho sambil meninggalkan Jiyeon dalam tangisannya.

***

Jiyeon terus menangis dalam kesedihannya. Tanpa sadar, ia telah membuka luka lama yang selama ini selalu ingin ia tutupi. Ingatannya tentang Appa dan Oppa nya yang telah meninggal, membuatnya kembali larut dalam kesedihan. Ia terus menangis tanpa merasakan lagi dinginnya malam. Seakan ia sudah tak peduli lagi dengan dirinya sendiri. Bahkan ia tak menyadari sesosok lelaki yang memperhatikannya dari jauh sejak tadi.

Lelaki itu mendekati Jiyeon dan menutupi tubuh Jiyeon dengan jaket miliknya. Jiyeon pun terkesiap dengan perbuatannya dan mencoba menghilangkan airmatanya.

“Menangislah jika itu membuatmu lebih lega..” kata lelaki itu sambil duduk disamping jiyeon

Jiyeon hanya menunduk, dan ia pun menangis disana. Lelaki itu menatap gadis disampingnya dengan tatapan tak dimengerti. Perlahan, lelaki itu memeluk Jiyeon. Tangis gadis itu pun semakin kencang. Lelaki itu terus memeluknya  berharap gadis itu menjadi tenang.

“Kau sudah tenang?” tanya lelaki itu setelah melihat jiyeon mulai berhenti menangis

Gadis itu hanya mengangguk lemah.

“Istirahatlah..”

“Kibum oppa…” panggil gadis itu

“hmm?”

“Kau masih mencintaiku?”

“Perasaanku takkan pernah hilang, Jiyeon..”

“Oppa.. Lupakan perasaan itu. Kau membuatku semakin bersalah..”

“Itu bukan salahmu. Aku mencintaimu karena aku telah memilihmu..”

Mendengar itu, Jiyeon hanya dapat terdiam.

“Aku hanya ingin kau bahagia, Jiyeon..”

“Sekalipun itu dengan minho,” lanjut Kibum

“Oppa,aku tak menyukai minho..”

“Tapi minho mencintaimu,Jiyeon..”

“Dari mana kau tahu?”

“Aku mengenalnya dengan baik melebihi dirinya sendiri..” kata Kibum sambil tersenyum

***

Minho berjalan tanpa arah setelah keluar dari rumahnya.Semilir angin di siang itu membuat  ingatannya tentang kejadian malam tadi kembali dipikirkannya. Ia tak memahami dirinya sendiri. Ia merasa sangat  bersalah pada Jiyeon, tetapi ia tak tahu mengapa ia bisa bersikap seperti itu pada Jiyeon.

“Aish.. Mengapa aku bisa sejahat itu padanya..”gumamnya

“Pada siapa?” tanya seseorang yang membuat Minho hampir terjatuh karena kagetnya.

Minho menoleh kebelakang untuk melihat orang itu dan ia pun tersenyum.

“Kenapa  kau bisa tiba-tiba disini?” tanya minho

“Hanya berjalan-jalan. Kau sendiri? Sepertinya ada yang mengganjal di hatimu..”

“Ya begitulah,Donghae-ah..” kata Minho kepada sahabatnya, Lee Donghae

“Ceritakan padaku, Minho. Siapa tahu aku bisa membantumu..”

Minho menatap sahabatnya itu dan tersenyum.

***

Donghae hanya terdiam mendengar cerita lelaki disebelahnya. Kadang ia mengangguk dan berpikir sebentar mencoba mencari kesimpulan dari permasalahan sahabatnya itu. Minho mengakhiri ceritanya dengan sebuah hembusan nafas berat.

“Kau jatuh cinta padanya..” kata Donghae

“Mwo? Kau Gila! Itu tak mungkin!”

“Kadang cinta datang tanpa kita sadari, Minho-ah..”

“Tapi..”

“Mencoba membohongi diri sendiri malah akan menyakiti dirimu sendiri. Kalau kau tidak mau mengatakan perasaanmu, paling tidak jujurlah pada dirimu sendiri..”

“Entahlah, Donghae-ah. Aku belum yakin dengan perasaanku sendiri..”

“Kalau begitu kau harus yakinkan hatimu,”

“Caranya?”

Donghae tersenyum dengan senyuman yang tak biasa yang membuat Minho sedikit merinding.

“Berkencan,”

***

“Taemin, aku minta maaf karena telah membohongimu selama ini..” kata Jinki membuka keheningan sore itu

“Apa madsud nya, hyung?”

Jinki mencoba untuk menyusun kata-kata yang pas untuk menyampaikan semuanya. Sedangkan Kibum, Minho dan Jonghyun hanya menunduk.

“Ya! Kibum! Minho! Jjong! Bantu aku menjelaskannya!” teriak Jinki yang membuat ketiga orang yang dipanggilnya menjadi tersentak

“Ah.. ne..ne.. hyung..” jawab Kibum dengan gugup tetapi ia tak  mampus untuk menjelskan semuanya

“Kalian ini kenapa sih?” gerutu Taemin dengan kesalnya

“Baiklah, biar aku saja yang menjelaskannya..” kata Jonghyun dengan lantang

“Jonghyun..” gumam Jinki

“Wae,hyung? Bukankah memang aku yang seharusnya menjelaskannya?”

Jinki, Minho dan Kibum hanya menatapnya khawatir. Sedangkan Taemin hanya menatap Jonghyun dengan bingung.

“Aku.. aku bukan kakak kandungmu, Taemin,” kata Jjong dengan lirih

Kelima lelaki itu tampak larut dalam pikirannya masing-masing.

“Madsudmu, hyung?” tanya Taemin dengan polosnya

“Aku hanya kakak angkatmu,”

Taemin mengatupkan mulutnya dengan tangannya. Ia merasa sangat kaget dan shock mendnegar semua itu. Tetapi ia dapat mengendalikan dirinya dengan cepat dan mulai memecahkan teka-teki yang selama ini ada di dalam pikirannya.

“Jadi, ini yang membuat hyung tak takut mencintai Nara?”

“Begitulah..”

***

Tanpa kelima namja itu sadari, seorang gadis yang  baru saja pulang sekolah, mendengar semuanya. Ia baru saja ingin menyapa kelima namja itu ketika mendengar sesuatu yang membuatnya bagai tersambar petir.

“Aku.. aku bukan kakak kandungmu, Taemin,”

Ia kenal betul suara itu. Suara oppanya. Lee jonghyun.Kalau saja itu sebuah lelucon, ia pasti akan tertawa terpingkal-pingkal. Tapi ia tak mendengar ada seorangpun yang tertawa. Gadis itu merasa sangat kaget, kecewa, dan marah. Bayangkan saja, 15 tahun ia telah dibohongi semua oppanya.

Ia hampir saja mendobrak pintu kalau saja ia tak  mendengar suara yang membuatnya terpaku.

“Jadi, ini yang membuat hyung tak takut mencintai Nara?”

“Begitulah..”

Gadis itu  menjatuhkan tubuhnya ke pintu. Gadis itu tak mengerti apa yang ia rasakan sekarang. Antara kecewa, marah, atau bahkan senang. Ia kecewa bahwa ia tidak pernah diberitahu tentang ini semua. Ia marah karena ia harus mendengar ini bukan disampaikan untuknya. Artinya, jika ia tidak mendengarnya hari ini mungkin ia akan terus dibohongi selamanya. Ia senang karena… karena ia memiliki perasaan yang sama kepada oppanya. Jonghyun.

***

Author P.O.V

Nara hanya terdiam disamping Jonghyun. Walaupun ia yang mengajak Jonghyun untuk bertemu, ia sangat gugup untuk membicarakan tentang hal ini.

“Nara-ah, kamu mau bicara apa?”

Nara mencoba mengumpullkan seluruh tenaganya untuk mengatakan suatu hal yang menurutnya cukup sulit.

“Aku tahu semuanya, oppa..” kata Nara dengan sangat dingin

“Tahu? Madsudmu apa?”

“Kau… kau  bukan kakak kandungku kan!” kata Nara dengan pelan tapi cukup terdengar bagi Jonghyun yang ada disampingnya

Jantung Jonghyun terasa berdebar keras. Ia hanya merasa, Nara tak seharusnya tahu secepat itu. Sementara Nara sedang berpikir keras untung merangkai sebuah kata-kata.

“Sejujurnya.. aku juga mencintaimu, oppa..” kata Nara dengan lirih

Deg

Darah Jonghyun terasa membeku. Keringatnya bercucuran tanpa disadarinya.

“Tapi   kita tak mungkin menjalin semua kisah ini. Kita tetap bersaudara dan tak akan pernah lebih dari itu..”

“Nara-ah”  gumam jonghyun karea kaget dengan kata-kata Nara

“Wae? Aku benar kan..” kata nara

“Aku bisa keluar dari keluarga ini..” kata Jonghyun dengan tegas

“Tak akan semudah itu, oppa..”

“Nara-ah, tak bisakah kita mencoba hubungann ini dulu?”

Nara menatap mata Jonghyun dengan sangat intens.

***

Minho menghela nafsnya perlahan di depan kamar Jiyeon. Ia memejamkan matanya untuk mendapatkan kepercayaan dirinya.

TOK TOK TOK

Minho pun mengetuk kamar Jiyeon dengan perlahan. Dan, tak lama Jiyeon pun keluar dari kamarnya.

“Oppa? Waeyo?” tanya Jiyeon

“Malam itu.. Mianhae, kata-kataku terlalu kasar,” kata minho perlahan

“Ah  itu. Gwenchana, oppa..” kata jiyeon sambil tersenyum tulus

Melihat senyumgadis itu, tubuh Minho pun sedikit menegang. Jantungnya berdebar tak karuan.

‘Ada apa denganku?’batin minho

“Jiyeon..”

“Hmm?”

“Berkencanlah denganku..”

***

Berulang kali Kibum mengitari kamarnya yang tak terlalu keras itu. Tak jarang ia memukul kepalanya sendiri.

“Babo! Kenapa aku bisa seperti ini? Aku tak bisa merelakan Jiyeon untuk Minho!”

“Ottohke?” tanya nya pada dirinya sendiri

Kibum duduk di sudut kamarnya. Memejamkan matanya dan bersandar pada dinding.

“Aku tak akan melepaskannya sebelum ia memilih,” kata kibum pada akhirnya sambil tersenyum

***

TBC

MIanhae part 4 nya lama soalnya aku udah kelas 9, jadi banyak ulangan hehe. Semoga part 5 nya cepet yah. Doain aja…