Absolute Music and Art –Sketch. 2

 

Hwang Dain story…

 

“Penghargaan dengan kategori pengarang instrument lagu terbaik dan meraih nilai terbaik tahun ini jatuh pada…… Jung Byunghee, chukkahabnida.”

Aku bertepuk tangan mendengar nama oppaku disebut sebagai mahasiswa terbaik tahun ini, beliau maju dan menerima sertifikat dan medali, lalu bersalaman, berfoto sebentar dengan para rector dan kembali ke tempat duduknya.

Aku melirik ke tempat duduknya, dia duduk bersebelahan dengan noona nya dan seorang yeoja yang sepertinya satu angkatan denganku. Oh… mungkin kah yeoja chingunya?

“Sepertinya itu yeoja chingu yang baru ya? hehehehehe.” Ucap Seungho oppa yang duduk disebelahku, “Kalian belom berkenalan kah?”

Aku menggeleng, “Sejak pentas budaya waktu itu… dia tidak bicara apa-apa masalah yeoja dan lain-lain, kami semua sibuk jadinya tidak sempat menanyakan keadaan satu sama lain deh.”

“Oh… kureyo? Kalau begitu, aku yang akan memperkenalkan yeoja itu nanti padamu.” Ujar Seungho oppa, “Sebenarnya yeoja itu adalah…..”

“Semua mahasiswa dengan jurusan instrumen gitar diharapkan untuk maju ke depan menerima sertifikat dan medali masing-masing.” Tiba-tiba sang pembawa acara bicara dari speaker sehingga perkataan Seungho oppa tidak kedengaran.

“Ah nanti kuceritakan ya, aku maju dulu.” Ucap Seungho oppa sambil meninggalkanku. Aku yang kini sendirian hanya bisa duduk sambil membuka buku sketsa bututku dan mencoret coret gambar sesuka hatiku. Ya…. memang selalu ini yang kukerjakan; menggambar.

“Dan penghargaan mahasiswa terbaik D3 jurusan instrumen violin dan jurusan seni tari jatuh kepada….. Park Sanghyun dan Lee Changsun. Chukkahabnida, semoga dengan penghargaan tersebut mereka mampu melanjutkan ke tingkatan yang lebih tinggi nantinya.” Si pembawa acara bicara lagi melalui speaker. Jakkaman, Lee Changsun kan….

Ah, benar saja…. Ternyata yang maju adalah Cheondung oppa dan Joon oppa. Aku lupa kalau nama aslinya Lee Changsun~

“Kenapa kamu sampai menganga begitu hoobae?” tanya Seungho oppa yang sudah kembali duduk disebelahku, “Kamu tidak menyangka ya Joon mahasiswa terbaik? Bisa dilihat dari penampilannya sih.”

Aku menggeleng sambil memasukkan buku sketsaku ke tas ku. “Aniiyo, aku hanya tidak percaya kalau beliau…. Kuliah di jurusan seni tari. Modern apa tradisional ya?”

“Tentu saja tradisional, disini kan tidak ada jurusan tari modern. Adanya ekstrakulikulernya.” Jelas Seungho oppa, “Tapi kurasa ia mengikuti keduanya.”

Aku menggut manggut tanpa suara, karena tanpa kuduga…. Joon oppa berhasil menemukan posisiku yang cukup jauh dari panggung. Ia melambai ke arahku dengan senyum gigi kelincinya.

“Hem? Apa dia melambai ke arahmu?” tanya Seungho oppa yang penasaran.

“Kurasa tidak, sepertinya ia melambai ke orang yang lebih diatas lagi.” Ucapku berkilah dan sibuk sendiri dengan HPku, bisa gawat kalau Seungho oppa mengetahui aku masih berkontak dengan Joon oppa. Ia pasti akan meledekku habis-habisan.

“Emmmm lihat buku sketsamu ya,” ujar Seungho oppa mengambil bukuku dengan mudahnya, “Kebiasaan ya, kemana-mana selalu dengan tas yang gendut ini. Padahal hari ini kau memakai gaun yang kubelikan, tapi… kok kamu masih terlihat tomboy ya?”

Aku menggeleng pelan. Lihat, bahkan ia membelikanku gaun demi menemaninya wisuda hari ini…. Sumpah…. Aku jadi semakin menyukai sunbaenim yang satu ini.

 

~~~~~

 

Shin Hyoni story…

 

“Ah… tidak mungkin!”

Aku terkejut melihat jagiya-ku tiba-tiba memaki seperti itu sambil menatapi panggung dengan mata yang gelisah, “Jagiya… ada apa?”

Ia menggeleng dengan muka yang masih geram, “Anii… hanya saja, aku tak percaya namja badung itu menjadi siswa terbaik bidang seni tari. Bahkan ia tidak diperbolehkan pentas waktu itu, karena ia sering sekali bolos hanya itu mengitari gedung seni rupa.” Keluh Byunghee oppa.

“Dia tidak sejelek itu jagi…. Kata Nana, dia juga sering masuk kok kalau ada kuliah umum. Kan Nana suka memperhatikan mahasiswa-mahasiswa seni tari. Tidak heran, kan anak-anak di jurusan itu memang sedikit.” Jelasku pada Byunghee oppa. Lagipula yang kubingungkan, kenapa jagiya-ku ini kelihatannya sangat tidak suka dengan namja itu sih?

“Nana-nya Bang Cheolyong? Kau berteman dengannya? Bagaimana bisa kalian saling kenal?” tanya Byunghee oppa bingung

“Ya…. kan Cheolyong oppa sunbaenimku, masak aku bisa tidak tahu?” jawabku pada oppa, “Apa sih yang membuatmu tidak suka dengannya?”

Byunghee oppa menggeleng geleng tak jelas, “Dia… berusaha mendekati dongsaengku, si Hwang Dain.”

“Hwang Dain itu…. Dongsaengnya oppa?” tanyaku terkejut. Aku sering dengar nama itu dari Seungho oppa, tapi aku tidak tahu kalau jagiya-ku ternyata sangat dekat dengan yeoja itu, “Yak.. kenapa tidak mengenalkannya padaku?”

Byunghee oppa menggaruk kepalanya sambil tersenyum malu, “Itu…. Anu……”

“Jangan bilang kamu bertaruh sesuatu dan kamu kalah dengannya sehingga kamu begini?” tebakku, “Misalnya seperti…. Dia bilang padamu kalau ‘pasti ada salah satu yeoja di kampus ini yang menyukaimu, tapi kamu tidak tahu’ benar kan?”

Byunghee oppa mengangguk malu-malu, dan aku langsung mendepak pundaknya dengan kesal “Ah jinjja~ jangan melakukan hal-hal seperti itu dong. Apalagi dengan dongsaengmu~”

“Mianhae Hyoni-sshi…. kami terbiasa melakukan hal-hal semacam itu sih sejak kecil, hehehehe jangan marah ya.” Byunghee oppa menaruh kepalaku di pundaknya dan mengelusnya cepat. Aku yang gampang luluh dengan kelakuannya hanya bisa mengangguk angguk pasrah.

“Oh iya, nanti pasti aku kenalkan dengan Dain-sshi.. dia itu mempunyai tangan yang magis.” Cerita Byunghee oppa, “Semua lukisan yang ia buat pasti terlihat seperti nyata. Keren kan?”

Aku mengangguk, “Aku sudah pernah dengar sih dari Nana. Tapi, semagis apa sih lukisan buatannya? Menurutku biasa saja.”

“Mungkin kalau menggambar pemandangan, lukisannya terlihat biasa saja. Tapi kalau sketsa wajah…. Kau bagaikan bercermin dengan gambar itu.” Jelas Byunghee oppa dengan mata yang berbinar-binar

“Lalu…. Apa yang terjadi antara oppa, dia, dan Joon sunbae?” tanyaku tanpa basa-basi, “Jangan bilang kalau dia berkata ‘aku akan menunjukkan kalau Joon bukan appeun namja. Kalau aku berhasil, izinkan aku berteman dengannya’ benarkah?”

Lagi-lagi Byunghee oppa menggaruk kepalanya dengan wajah yang tidak enak, dan lagi-lagi aku mendepak pundaknya dengan keras. “Aish bisa tidak sih oppa tidak terlalu posesif terhadap dongsaengmu?! Itu bisa membebani pikirannya tahu, jebal jangan lakukan hal seperti itu lagi deh~!!”

“Nee nee… mianhae jagiya-ku….” Jawab oppa dengan senyum khasnya, haaaaaah tak kusangka namja chinguku adalah namja yang suka bertaruh dengan dongsaengnya. Merepotkan…

 

~~~~~

 

Park Nana story….

 

“Oppa…. Aku bosan nih dirumah,” aku menelpon Cheolyong oppa dikamar sambil tidur-tiduran. Hari ini adalah hari yang sangat membosankan, karena Hyori tidak bisa kuajak pergi. Ia menemani Cheondung oppa wisuda, begitu juga Dain dan Hyoni. Entahlah si Dain itu menemani Seungho sunbaenim atau Joon sunbae.

“Mau pergi kemana? Mau kerumahku saja? Aku lagi tidak dirumah kok.” Jawab Cheolyong oppa, “ 5 menit lagi aku jemput ya, cepat bersiap dan jangan lupa mandi oke?”

“Yak…. Aku sudah mandi tahu?” jawabku sambil menutup pembicaraan dan tertawa-tawa. Asik, akhirnya pergi ke rumah oppa juga~~ sudah lama aku tidak main kesana, pasti keponakannya sudah lebih besar daripada waktu terakhir aku bermain kesana.

Aku menyiapkan tas dan barang-barang untuk pergi ke rumah oppa

 

…..

 

“Annyeonghaseo… Hajin-ah apa kabar???” aku segera menyambut Hajin; keponakan oppa dengan gembira. “Aigoooo Hajin sudah besar sekali ya oppa.”

Hajin yang berdiri di depanku hanya diam sambil menggigit jarinya, “Yak Hajin-ah… sambut noona yang cantik ini dong. Jangan malah gigit jari begitu.”

Oppa menggendong Hajin yang masih diam saja dan mengajakku masuk. Di dalam ada omonim dan ummanya Hajin. Mereka sedang menonton TV .

“Bagaimana? Sudah tidak terlalu bosan kan?” tanya Cheolyong oppa dengan senyum ‘dinosaurus’ nya yang lucu. Aku mengangguk sembari menahan tawa.

“Oh iya, tadi memangnya oppa kemana?” tanyaku sambil mengobrak abrik isi tas. Sepertinya tadi aku membawa sesuatu untuk Hajin, tapi kemana ya?

“Hanya olahraga pagi di sekitar sungai Han kok, memangnya kenapa?” tanya oppa sambil celingukan melihatku sedang membongkar tas, “Apa sih yang kamu cari sampai isi tasmu semuanya dikeluarkan?”

Akhirnya aku menemukan barang yang selama ini aku cari-cari *lebay* “Ini…. Ini, buat Hajin oppa.”

Barang yang aku cari-cari tadi adalah sekotak permen warna-warni yang biasanya disebut confeito. Aku menyukai permen beraneka warna ini, makanya aku suka membelinya dan terkadang membagikannya kepada anak kecil atau teman-temanku

“Oh… confeito? Berikan satu saja ya padanya, nanti dia batuk kalau diberikan semuanya,” jawab Cheolyong oppa, “Hajin-ah… lihat, noona membawa sesuatu untukmu.”

Hajin datang dengan muka yang sama seperti saat bertemu denganku tadi dan ia menerima permennya dengan senyum tipis, “Gamsahabnida noona.”

Ia lalu pergi dengan wajah yang malu-malu, “Hahahahaha aneh sekali anak itu. Biasanya ia tidak pernah malu-malu kalau tidak ada kamu, apa karena sudah lama tidak bertemu ya?” tanya oppa.

“Mungkin saja.” Jawabku sambil mencomot satu confeito dari toples kecil itu, “Mau?”

Tiba-tiba Cheolyong oppa tersenyum dan berkata, “Boleh….. asal lewat sini. Hehehehehehhehe” sambil menunjuk nunjuk bibirnya.

“Ah… micheoseo? Andwae…. Tidak mau ah, nih telan saja dengan mulut oppa sendiri.” Jawabku sambil memasukkan permen dengan paksa ke dalam mulut oppa, dengan wajah yang memerah tentunya.

“Ahahahaha Nana-sshi… nega nomu kyeowo….” Ucap oppa dengan senyum dinosaurusnya lagi. Aku hanya bisa tersenyum saat ia menarikku ke pelukannya.

 

~~~~~

 

Hwang Dain story…

 

From: Lee Joon sunbae

 

Makan siang? temui aku di aula~

 

Oh…. Tumben sekali Joon sunbae mengajakku makan siang. apa karena hari ini ia merasa bahagia yak arena kelulusannya di pendidikan D3? Apa dia hendak mentraktirku makan? Hehehehe

“Pesan dari siapa?” tanya Seungho oppa yang sedang kutemani makan. Sepertinya ia sangat kelaparan hingga memesan 1 porsi nasi campur ditambah satu Loyang pizza ukuran sedang.

“Joon sunbae, ia mengajakku makan siang.” jawabku yang terpaksa jujur. Entah kenapa aku tidak bisa berbohong dengan oppa yang satu ini~

“Oh… ajak saja dia makan disini.” Jawab Seungho oppa santai. Sepertinya moodnya sedang baik sehingga ia tidak berniat untuk meledekku kali ini, “Makanan disini masih banyak kok.”

Aku menggeleng takut takut, “Anii… jesonghabnida. Beliau orang yang pemalu dan penyendiri, jadi ia sudah mengajakku ke tempat lain. Aku permisi dulu ya oppa, jesonghabnida..”

Seungho oppa yang sibuk makan itu menahan tasku dan menyuruhku untuk tetap pergi. Katanya tas itu dia sita supaya aku mau pulang dengannya, huh dasar sunbaenim aneh -_-

 

…..

 

Aku dikejutkan dengan alunan musik klasik yang melantun lembut di dalam aula, dan kutemukan sesosok namja yang sedang menari temporer dengan tubuh setengah telanjang. Hemmm, bisa kutebak. Sepertinya dia Joon sunbaenim.

“Oh astaga, kau mengejutkanku~!!” pekik Joon sunbae sambil menyabet bajunya dan langsung menutupi tubuhnya, “Kenapa lama sekali?”

“Aku harus minta ijin dulu sama Seungho sunbaenim.” Jelasku, “Emmm sunbae sudah makan ya? maaf ya kalau aku datang terlambat.”

Aku duduk di dekat tasnya dan menatapinya sedang mengucek ucek rambutnya yang berkeringat dengan baju. Saat ia melakukan itu, tak sengaja aku melihat otot perutnya. Wow….. apa itu benar-benar abs? seingatku Joon sunbae belum memiliki abs sebagus itu waktu aku semester 3.

“Sudah makan?” tanya Joon sunbae sambil memakai baju yang baru dan mematikan tape recorder. Ia menyabet blazer dan celana bahan yang ditaruh di sebuah hanger, “Jinjja, aku kesulitan sekali memakai baju seperti ini.”

“Karena kamu liar.” Jawabku santai, “Kamu kan biasanya pakai t-shirt dan jeans saja, jarang memakai baju normal. Yang paling normal mungkin kemeja, hehehehe.”

Joon sunbae yang sedang mengunyah makanannya, terkejut mendengar pernyataanku. “Yak…. Kau menguntitku ya? kenapa bisa tahu?!”

“Babo-ya! kau kan sering tiba-tiba muncul di hadapanku, ya pasti aku tahu lah!” jawabku yang terkejut dengan suara kerasnya. “Keunde… bisa tidak sih makan tanpa bicara? nasimu menyembur ke lenganku nih.”

Joon sunbae membelalakkan matanya sambil menyingkirkan nasi yang memang menempel di lenganku. Tidak banyak, hanya saja terlihat menjijikkan secara itu berasal dari mulut orang lain.

“Pasti… kau bertanya tanya kenapa akhir-akhir ini aku membawa bekal?” tanya Joon sunbae saat ia memergokiku sedang menatapi makan siangnya, “Soalnya… ummaku sedang berkunjung ke rumahku.”

Oh, dia membicarakan ummanya? Tumben sekali. Batinku sambil manggut manggut, “Memangnya ummamu tidak tinggal bersamamu?”

“Kami tinggal berjauhan. Aku menyewa sebuah kamar di dekat sini supaya kuliahku tidak telat.” Jawab Joon sunbae sambil tersenyum malu, “Emmmmm mau coba?”

Ia menyendokkan satu porsi nasi goreng kimchi dengan sayuran tambahan ke dalam mulutku, sehingga aku tidak bisa bicara sama sekali. Pelan-pelan kukunyah dan kutelan ‘pemberian’ dari Joon sunbae itu.

“Ah massigetta~!!” jawabku senang, “Memang ya, makanan buatan umma dan orang lain itu berbeda rasanya.”

Joon sunbae mengangguk lalu berkata, “Ah… ada nasi menempel di pipimu tuh.”

Aku tertegun saat Joon sunbae menyentuh pipiku dengan jari tangannya, karena…. Baru pertama kali aku dan dia bersentuhan fisik seperti tadi. Joon sunbae yang merasakan hal sama…… wajahnya langsung memerah dan dia menunduk cukup dalam. Kami….. menjadi kaku satu sama lain~

“Ga…. Gamsahabnida, tidak perlu malu seperti itu. Aku tidak marah kok,” jawabku mencairkan suasana, tapi ia masih menundukkan wajahnya karena malu. Yah… mungkin dia memang begitu ya kalau memperlakukan yeoja?

“Mianhanda…… aku memang, agak sedikit kaku dengan yeoja. Padahal ummaku juga yeoja, makanya sekarang…. Aku sedang belajar mencairkan sifatku hahahahaha.” Jawabnya sambil menyelesaikan makannya dan membereskan barang-barangnya.

Tiba-tiba HPku bergetar dan mendapat satu pesan…

 

From: Seungho oppa

 

Kaja kita pulang. Urusanmu dengan Joon sudah selesai?

 

Aku menghela napas, entah kenapa kali ini agak berat untuk pamit dengan Joon sunbae. Tapi…. Mau tidak mau aku harus melakukannya.

“Sunbaenim… Seungho sunbae sudah menunggu. Aku harus pulang sekarang.” Ujarku pada Joon sunbae, “Oh iya…. Chukkae buat kelulusanmu~ kamu akan tetap melanjutkan S1 disini kan?”

Joon sunbae mengangguk, “Nee… tentu saja, perjalananku masih panjang hehehe…. Tapi, boleh tidak aku minta sesuatu padamu?”

Tiba-tiba Joon oppa memejamkan matanya dihadapanku, “Lakukan sesuatu terhadapku. Apa saja, sebelum mataku terbuka.”

Wajahku otomatis memerah, ottokke?? Aku harus melakukan apa??

Pelan-pelan…. Aku mendekati tubuh Joon sunbae yang masih berdiri tegak di hadapanku. Kulebarkan lenganku…. Mendekatinya pelan-pelan, dan…..

“Apa ini untuk mencairkan sifatmu, sunbaenim?” tanyaku bingung. Soalnya aku tidak tahu harus memeluknya, menamparnya, atau malah meninggalkan ia sendirian di aula ini~

Ia mengangguk pelan, “Nee…. Makanya…… lakukan sesuatu, apa sa……..”

Sebelum ia sempat menyelesaikan kata-katanya, aku memeluknya dengan erat. Kubiarkan lenganku menyentuh lehernya, kubiarkan tanganku menyentuh punggungnya…. Dan kubiarkan jantungku merasakan detak jantungnya yang ternyata…… sangat berdebar-debar.

“Ah jesonghabnida, skinshipnya terlalu lama ya?” tanyaku sambil merapihkan rambut dan menutupi wajahku yang memerah. Kulihat wajah Joon sunbae tak kalah merah denganku…

“Gwen…. Gwenchana, kau kan hoobaeku. Jadi…. Tidak perlu sungkan.” Jawabnya terbata-bata. Ia menggaruk kepalanya berulang kali sambil menunduk. Astaga, sunbaenim yang satu ini juga aneh~

“Annyeong hye gyeseo oppa….” Jawabku sambil meninggalkan aula dengan…. Perasaan yang tidak biasa.

 

Apa yang terjadi denganku?

Kenapa rasanya……. Aku ingin memeluk namja itu lebih lama?

 

Bersambung…