Title : For the First Time (Daragon Couple) Part 3
Author : Applersoti
Length: continue, series
Genre: Romance, comedy (a bit), sad (a bit)
Rating : PG
Main cast: Kwon Ji Yong as Kwon Ji Yong (Bigbang)
                     Sandara Park as Dara (2NE1)
Support cast:  Park Bom a.k.a Bom
                           Lee Chaerin a.k.a CL
                           Gong Minji a.k.a Minzy
Hallo, everyone! Haish…. Part 3 nya udah muncul nih hihihi. Ceritanya makin seru gak? Di part ini ada beberapa kejutan, hmmm ga terlalu gimana2 sih kejutannya. Yang jelas baca aja dulu deh yah hihi. RCL JANGAN LUPA!!! Here we go *Drumrolled*


******************
(AUTHOR’s POV)
“HAAAAA!” teriak Dara.
“Ya! Jangan berteriak seperti itu! Kupingku sakit tahu! Ini aku jiyong!” keluhnya sambil melepas syal yang membalut wajahnya. “Mian lama…”
“JIYONG-AH! Aih… jinjja. Bisa gak sih sekali aja gak bikin aku kaget! Kau mau membuatku mati ditempat, he? Ppabo namja-ya!” bentak Dara. Tangannya masih dtaruh di dadanya, berusaha mengatur detak jantungnya.
“Haish. Berlebihan deh kamu. Ck. Yasudah, kajja! Kita sudah terlambat nih,” ajaknya sambil memasukkan kunci mobil.
“Tadi tuh kamu kemana aja sih?” tanya Dara setelah mereka masuk ke dalam mobil.

“Tadi…. Aku… ng…. aku tadi bertemu Kang Ho Dong sunbaenim. Ta-tadi dia mengajakku berbincang sebentar” jawabnya agak kurang yakin.
“Benar?” Dara bertanya lagi.
“Iya sungguh! Kau tak percaya padaku?” Jiyong malah balik bertanya.
“Aniya… aku percaya padamu.” Dara merasa ada sesuatu yang disembunyikan dari Jiyong, tapi dia tidak ingin merusak suasana, jadi pertanyaan-pertanyaan untuk menginterogasi Jiyong, dia simpan dulu di dalam otaknya. Nanti saja. Jangan sekarang. Oke Dara… gumamnya dalam hati.
Satu jam kemudian mereka sampai di daerah perbukitan agak jauh dari kota. Udaranya sejuk sekali. Karena mereka datang pada malam hari, jadi bukit-bukit yang indah itu kurang jelas dipandang. Lalu, Jiyong melajukan mobilnya kearah jalanan yang sedikit rusak.
“Ya! Kita mau kemana sih? Kok jalanannya begini?” tanya Dara agak panik.
“Tenang saja…. Bentar lagi kita sampai kok.” Kata Jiyong berusaha menenangkan Dara.
“Ok…… I trust you.”
Tak lama kemudian mereka sampai. Ternyata Jiyong mengajaknya ke puncak bukit yang tadi dia lewati bersama Jiyong.
“Ya! Jiyong-ah! Kau….. kau membawaku kesini?” tanya Dara sambil memasang raut wajah senang.
Jiyong terkikik pelan, “Wae? Suka?”
“NAN NEOMU JOHAHAE!!!!” pekik Dara. Tanpa aba-aba dari Jiyong, Dara langsung membuka pintu mobil dan menghambur keluar. Terlihat sekali betapa senangnya dia karena Jiyong membawanya kesini. Tak lama, Jiyong pun keluar dari mobil.
“Berteriaklah….” Perintah Jiyong yang sudah berdiri di sebelah Dara.
“Mwo???” tanyanya kaget.
“Berteriaklah,” ulangnya lagi.
“NEOMU SARANGHAEYO, JIYONG OPPA!!!!!!!!!!!” teriak Dara kencang. Suara teriakannya terdengar menggelegar di sekitar bukit itu.
Jiyong tertawa terbahak-bahak mendengar teriakan Dara tadi. Dia seakan tak percaya, Dara menyebut namanya dengan tambahan ‘Oppa’ dibelakangnya tanpa dia suruh.
“Ya! Wae geurae? Kenapa kau tertawa hah?” protes Dara.
“Hahahaha… hem hem,” Jiyong berdeham berusaha menahan tawanya, tahu dia pasti akan mati kalau tidak menghentikan tawanya. “Tadi, kau menyebutku apa? Oppa? Hahaha…” Jiyong tertawa lagi.
“Kenapa? Gak boleh?” gerutu Dara sambil melipat tangannya di dadanya.
“Eishh…. Gitu aja ngambek,” ledek Jiyong sambil menyenggol sikut Dara.
“Lagian sih.” Mulut Dara dimanyunkan pura-pura terlihat kesal.
“Mian… tadi tuh aku geli aja kamu tiba-tiba manggil aku oppa hahahaha,” jelasnya masih sambil tertawa pelan.
“Ya sudah, aku gak akan manggil kamu ‘Oppa’ lagi!” ujarnya sambil menekankan kata ‘Oppa’.
“Ya. Chagi-ya…. Jangan gitu dong… iya iya aku minta maaf deh yah..” rajuknya sambil menangkupkan kedua tangannya.
“Iya. By the way…. Kamu ngapain ngajak aku kesini? Tumben banget deh,” kata Dara sambil merebahkan diri di rerumputan hijau.
Jiyong ikut merebahkan diri disamping Dara. “Ng… aku hanya ingin mengajakmu jalan-jalan sama… ingin membicarakan sesuatu,” katanya malu-malu.
Kedua alis Dara bertaut bingung, “He? Mau ngomong tentang apa?”
“Hmm….. Aku…. Aku ingin serius sama kamu,” ucapnya hati-hati, wajahnya melihat kearah langit. Langit senja yang indah…
“Serius? Serius gimana maksud kamu?” tanya Dara makin bingung.
Jiyong mendesah,jantungnya tiba-tiba berdetak hebat. Sama persis ketika dia pertama kali mengungkapkan rasa sukanya pada Dara. Sebenarnya, masih ada rasa takut dalam diri Jiyong kalau dirinya masih belum baik untuk Dara, tapi… dia tidak ingin kehilangan Dara. Apalagi… Joseph… laki-laki itu…dia tahu lelaki itu saat ini sedang mencari perhatian Dara lagi.
“Ya! Kenapa melamun?” ujar Dara menyadarkan Jiyong dari lamunannya.
“Ani… mianhae.”
“So… jelaskan maksudmu tadi. Serius gimana maksudnya?” cecar Dara. Aduh.. dia ini benar-benar tidak tahu arti kata serius yang ku ucapkan apa sengaja tidak tahu sih, gerutu Jiyong dalam hati.
Jiyong menarik napasnya dalam-dalam dan dikeluarkan perlahan berusaha mengatur detak jantung dan napasnya. Jelas terlihat dia sedang gugup sekarang. “Aku ingin kita menikah.”
DEG…….
Dara langsung mengalihkan pandangannya ke Jiyong, matanya terbelalak kaget. Ia tidak menyangka Jiyong akan mengatakan hal itu padanya…
“Tapi….. dating band ku….. kau tahu kan, aku masih tidak boleh ketahuan berpacaran dulu sampai tahun depan,” jelas Dara susah payah berusaha menenangkan hatinya.
“Arra… kita akan menikah tahun depan setelah dating band mu selesai,” kata Jiyong mengalihkan pandangannya ke arah Dara. Matanya masih membulat, mungkin Dara kaget karena Jiyong mengucapkan hal ini tiba-tiba.
Mata Dara masih terpaku pada Jiyong, “Apa ini tidak terlalu cepat?” tanyanya hati-hati.
“Terlalu cepat? Ya. Kita sudah berpacaran selama 3 tahun, kau bilang terlalu cepat?” protes Jiyong mendengar pertanyaan Dara.
“Kau… kau masih muda, Ji. Aku tak ingin mengambil kebahagianmu karena kau bersamaku,” jawab Dara parau. Ada nada sedih dibalik suaranya.
Jiyong menggenggam tangan Dara yang mungil dan lembut. “Kaulah sumber kebahagianku, Dara. Jika tidak ada kau, bisa dipastikan hidupku tidak akan sebahagia sekarang.”
“Aku takut kebahagianmu bersamaku hanya sementara saja,” gumam Dara pelan.
“Kenapa kau berpikiran seperti itu? Mengakulah, kau juga tidak bahagia kan kalau aku tidak bersamamu?” selidik Jiyong.
“Tanpa ku jawab pun pasti kau sudah tahu jawabannya,” Dara berusaha mengalihkan pandangannya dari Jiyong tapi dengan sekejap Jiyong memegang kedua pipinya dengan tangannya.
“Tatap mataku,” ucap Jiyong lembut.
Dara menatap dalam mata Jiyong. Ia bisa melihat dengan jelas dari kedua mata Jiyong yang sayu kalau Jiyong mengatakan hal ini dengan sungguh-sungguh. Tapi…..ia hanya tak yakin dengan perasaannya. Ia tak mau Jiyong kecewa setelah mereka menikah. Karena, bagaimanapun juga Jiyong berumur lebih muda darinya.
Lama mereka bertatapan, dan akhirnya Dara mendesah sambil menundukan kepalanya. “Aku tak ingin kau kecewa setelah kita menikah nanti. Kau masih muda Ji. Masih banyak hal yang bisa kau lakukan,” ujar Dara pada akhirnya.
“Aku tahu.. sangat tahu. Tapi aku akan berjanji pada Tuhan dan semua orang kalau setelah aku menikah denganmu tidak akan pernah ada rasa kecewa setitik pun,” kata Jiyong yakin sambil menatap serius ke arah Dara.
“Ji……” gumam Dara pelan sambil mendesah.
Sedetik kemudian Jiyong memeluk Dara erat, Dara pun membalas pelukan itu tak kalah eratnya. Jiyong bisa merasakan ada setitik air mata jatuh di bahunya. “Will you marry me?” ucap Jiyong sekali lagi.
Tak ada jawaban. Yang ada hanya anggukan pelan dari Dara sambil mencium pundak Jiyong. Jiyong bisa mengartikannya. “Gomawo. Kau adalah yang terakhir dalam hidupku, Dara-ya. Neomu saranghaeyo.”
Jiyong melepaskan pelukan Dara. Mata mereka berdua bertemu dan dahi mereka bersentuhan. Seakan tahu apa yang ingin Jiyong lakukan, Dara menutup kedua matanya. Sadar bahwa Dara mengerti, Jiyong langsung mengecup bibir Dara lembut. Ciuman mereka berubah menjadi sangat intens dan dalam. Dara merasakan itu adalah ciuman kasih sayang, bukan nafsu. Betapa bahagianya Dara mendapatkan seorang lelaki seperti Jiyong. Dia bisa mengerti apapun dari Dara. Satu-satunya lelaki sebelum Jiyong yang mengerti Dara adalah Joseph. Jika…. Jika Joseph tidak memutuskan hubungan mereka berdua, bisa dipastikan hubungan Dara dengan Joseph akan mengarah ke pernikahan. Tapi tak perlu disesalkan. Ia tahu, Joseph bukanlah jodohnya. Sekarang, jodoh Dara adalah Jiyong. Selamanya hanya Jiyong seorang.
Dara melepaskan ciuman Jiyong. Napasnya terengah-engah. Disentuhnya dada Jiyong yang gagah. Tangan Dara mengelus leher Jiyong, lalu naik ke bibir, lalu ke hidung, dan disentuhnya pelan kedua mata Jiyong. Betapa indahnya wajah lelakinya ini. Ya Tuhan, terima kasih kau telah memberiku lelaki setampan ini, ucap Dara dalam hati
“Ya. Geli tau!” ujar Jiyong sambil tertawa geli.
Dara ikut tertawa. “Hahaha mian…. Ya! Kau melamarku tapi kau tak memberikan cincin kepadaku?” tanya Dara sambil meraba kedua saku celana Jiyong.
“Ya! Mwohaneun geoya?,” protes Jiyong karena merasa risih dengan perlakuan Dara.
“Kau tak bawa cincin untukku?” tanya Dara lagi dengan suara satu oktaf lebih tinggi.
“Tidak,” jawab Jiyong santai.
“Ya! Keterlaluan sekali kau,” gerutu Dara sambil memalingkan pandangannya dari Jiyong, mulutnya dimanyunkan lalu tangannya dilipat di dadanya.
“Mian…. Aku tak sempat membelikannya. Kau tahu kan, akan ada banyak orang yang curiga kalau aku membeli sebuah cincin. Kau sendiri kan tahu, saat kita memakai cincin pasangan kita banyak yang sudah curiga. Bahkan, mereka sampai menyelidiki tentang cincin dan barang-barang kita yang sama,” jelas Jiyong
.
“Tapi kan…” Dara masih tak mau kalah. Bagaimanapun menurut prinsip Dara, ketika lelaki melamar seorang wanita, lelaki itu harus membawa cincin.
“Jangan egois deh.”
Dara mendesah. Bayangannya ketika dia di lamar oleh seorang lelaki membawa sebuah cincin pupuslah sudah. “Ck. Arraseo. Tapi setelah ini kau harus memberikanku cincin! Aku gak mau tahu!” pinta Dara agak memaksa.
“Iya… Pasti aku beliin kok,”ucap Jiyong. “Hey! Liat! Sunset!! Waa~”pekik Jiyong sambil menunjuk ke arah matahari.
“Indah ya…” gumam Dara kagum.
“Tapi tak seindah dirimu,” ujar Jiyong sambil mengecup pipi Dara pelan dan lembut.
Dara terikik geli. “Dasar gombal!” katanya sambil mencubit pipi Jiyong.
Kriuk~ kriuk~
Tiba-tiba terdengar suara aneh dari perut Dara. Jiyong dan Dara langsung melihat ke sumber suara. Dara menyeringai, “Hehehe….”
“Kau belum makan?” tanya Jiyong khawatir.
Dara menggeleng pelan, menggerakan rambutnya yang sekarang dipotong pendek itu. “Eopseo. Tadi, aku tak sempat makan siang.”
“Pabbo! Ne, kkaja,” ajak Jiyong sambil memegang tangan Dara.
“Mau kemana?” tanya Dara polos.
“Ya makanlah. Kamu lapar kan?” tanya Jiyong balik.
“Oh ya hehehe. Tapi kita makan dimana?” tanya Dara lagi.
“Ya! Kau tak usah banyak bertanya deh. Yang jelas kita makan. Mau dimana ya terserah aku,” protesnya.
“Yaudah gak usah marah-marah gitu,” ujar Dara pelan.
“Abisnya…”
Jiyong menuntun Dara menuju mobil Bentley putihnya. Dibukanya pintu untuk Dara, “Silahkan masuk tuan Putri.”
Dara memukul bahu Jiyong, “Apa apaan sih hahahaha.” Lalu Dara masuk ke mobil disusul dengan Jiyong sesaat kemudian.
******************
 (FLASHBACK)
Aku berjalan tergesa-gesa saat melewati beberapa fans yang masih ada di gedung SBS. Errrr…mereka ini tidak ada kegiatan lain apa selain menjadi stalker idola. Aku melewati sebuah pintu kaca, dan disitu…. Tak sengaja kulihat seorang lelaki memakai jaket kulit warna coklat dan jeans beserta kacamata hitam. Kusipitkan mataku agar melihat jelas kearahnya, dan ternyata….. itu JOSEPH!!!! Oh My God.
 

Langkahku terhenti ketika menyadari dia disini. Mengapa dia disini? Apa jangan-jangan……. Ani, tidak mungkin. Dia tidak mungkin menemui Dara. Dengan keberanian diantara fans-fans yang berkeliaran, aku pun berjalan kearahnya. Dia mengalihkan badannya berlawanan arah dariku. Saat sudah dekat dengannya, kutepuk pelan bahu kekarnya.
 

“Joseph?” tanyaku pelan.
 

Dia membalikkan badannya ke arahku. “Who are you?” tanyanya balik dengan aksen inggris-filipina nya.
 

“I am Kwon Jiyong,” jawabku santai sambil menjabat tangannya
 

Alisnya bertaut, “Who? Kwon Jiyong?” tanyanya sekali lagi dan balas menjabat tanganku. “Oh my…. You… oh! I know you!” ucapnya agak kaget.
 

“Nice to see you. Well…. What are you doing here?” tanyaku.
 

“Hmm…. I’m looking for Dara. Where is she? I just call her, but she turned off the phone,” ucapnya sambil celingak-celinguk.
 

“Oh! Dara…. She’s on the way home. Why you looking for her? Did you have a problem with her? Yeah… everybody knows that you’re her ex-boyfriend.”
 

Dia tergelak karena pernyataanku. “Hahahaha..” tawanya pelan. “Ah… its an old story, man. Hmmm nothing, I just want to see her.”
 

“Hmm I see. Well, Dara’s on the way home when you’re here. Maybe, later you’ll met with her,” kataku.
 

Astaga…..tidak. ini tidak boleh terjadi. Dara tidak boleh bertemu dengannya. Apa yang akan terjadi jika dia bertemu dengan Dara. Aku tak sanggup membayangkannya.
 

“Do you still love her?” tanyaku tiba-tiba.
 

Matanya terbelalak kaget karena pertanyaanku. Kulihat ada senyum kecil tersungging di bibirnya. “Yah… well. I do. I do love her until now. When we broke up, I’m still loving her. That’s the reason why I came here.”
 

Deg…..
 

Benar. Dia memang benar mencintainya. Ya Tuhan…..tolong jangan biarkan dia memiliki Dara lagi. Dara hanya milikku, sekarang, esok, dan selamanya!
 

“Wow. Hmmm let me tell you. First, Dara is taken by someone now. And you don’t have to reach her. Because, the man who with Dara now, really love her so much and he doesn’t want to let her go without any reasons. And second…. The man is ME!” jelasku sambil menatap menunjuk badanku. Bisa kurasakan dia sekarang sedang bingung.
 

“W-w-what? What did you say?” tanyanya masih bingung.
 

“Hmm… I’m sure you’ve heard my every single words. So, don’t ever approach her again, no matter what. You got it?” ucapku yakin.
 

Dia tertawa terbahak-bahak. “Hahahaha you kidding me boy!” ledeknya sambil menatap tidak percaya ke arahku. Setelah tawanya reda dia melanjutkan omongannya, “The man like you, is not her ideal type! Look at you. You looks young, and bet me, your age is about 24, isn’t it? Hahahaha!”
 

“Well…. Whatever you say. I’m indeed, obviously, part of her life now, tomorrow, and forever. And no one can doubt it, including you. So, you better find another girl. And you know, there are many women out there. You  can choose one of them, but NOT DARA!!!!” jelasku tajam. Tak akan kubiarkan lelaki ini mendekati Dara lagi. Tidak akan selama aku masih hidup!
 

“Wow.. you seems like serious. Hmm…. Let me think then. I’m still love her. And YOU! Can’t stopped my feelings to Dara. However, me, I was part of her life,” ucapnya dengan muka sama seriusnya denganku.
 

“It’s a long ago. But now, she’s mine.” Balasku.
 

“And I’ll take her from you,” potongnya sambil tersenyum mengejek.
 

“Never! As long as I’m still alive, she’ll never be yours,” balasku lagi sambil menunjuk badannya.
 

“Ok. I think its enough. I’ll go then… see you next time, Joseph!” pamitku sambil tersenyum penuh kemenangan.
 

“WE’LL SEE THEN, JIYONG!” teriaknya saat aku sudah berjalan jauh.
 
(FLASHBACK END)
******************
(Jiyong’s POV)
Akhirnya aku sampai juga dirumahku. Bagaimanapun juga hari ini banyak sekali hal yang tak terduga terjadi. Pertama, aku bertemu dengan Joseph. Kedua, aku tiba-tiba melamar Dara. Aku tahu aku memang belum siap untuk hidup berumah tangga, tapi….keadaan yang memaksaku berbuat demikian. Aku tak ingin kehilangan Dara. Tidak akan.
Aku merebahkan diri di sofa, merasakan badanku pegal-pegal. Sebenarnya, sebelum menjemput Dara tadi aku ada show di stasiun tv lain.
Iseng, aku mengambil handphoneku dari tas. Kupencet nomer telepon seseorang yang sudah aku hapal diluar kepala.
Tut… tut…..

“Yeobeoseyo, Jiyong-ah.” astaga…. Suaranya merdu sekali.
“Ne. Yeobeoseyo, chagi.”

“Sudah sampai rumah?”
“Sudah… baru saja sampai. Kau sedang apa? Sudah mandi?”

“Sedang tidur-tiduran di kamar aja nih, kamu? Sudah tadi setelah beberapa saat kau pergi.”
“Oh.. aku juga sedang tiduran. Besok mau aku jemput lagi tidak?”

“Jemput? Hmm….” Terdengar gumamannya, berpikir. “Boleh. Tapi memangnya kau tidak lelah?”
“Tidak. Aku justru senang bisa menjemputmu. Sehabis itu besok kita dinner, eodde?”

“Dinner? Dimana? Ya….. aku tak mau lagi ada berita kecurigaan netizen tentang kita.”
“Tidak akan ada yang curiga, sayang. Percaya deh. Nanti aku booking tempat khusus untuk kita berdua.”

“Tapi-“
“Tidak ada tapi-tapian! Pokoknya besok kita makan malam!” potongku.

“Haish…. Selalu deh begitu. Maunya sendiri. Yaudah iya iya, terserah kamu aja.”
“Hahahahaha, geurae. Besok kau ada jadwal sampai jam berapa? Biar nanti aku cocokkan.”

“Hmm…. Besok aku sms kamu aja ya.”
“Ok. Ya sudah, aku tutup ya telponnya.”

“Ne…. jaljayo chagi……”
“Hihihi Jaljayo, chagiyaaaa… muah!”

“Aigo~ hahahaha.”
“Balas dong ciumannya…” rengekku. Hmmm yah, memang beberapa hari ini aku agak ingin dimanja.

“Ih… kok….”
“Please……”

“MUAHHHHHH!!!”
“Hahaha gitu dong. Okedeh. Annyeong!”

“Annyeong.”
KLIK. Kumatikan teleponku… entah mengapa setelah mendengar suaranya mood ku yang tadinya jelek langsung berubah menjadi bagus dalam sekejap.
Aku beranjak dari sofa sambil membawa barang-barangku menuju kamarku. Ku regangkan kepala dan bahuku sedikit. “Hah…. Capeknya. Mandi ah..”
 ******************
 (Dara’s POV)
KLIK… telepon pun ditutup. Kutaruh handphoneku diatas meja dekat tempat tidurku. Hari ini sangat melelahkan sekaligus menyenangkan. Tiba-tiba saja Jiyong melamarku. Hal yang tak pernah kuduga sebelumnya. Ku kira bocah itu tidak serius denganku, tapi ternyata…. Yah, hati seseorang mana ada yang tau kan?
Aku tersenyum mengingat kejadian tadi ketika Jiyong melamarku. Ucapannya terdengar tulus dari hati terdalam. Tetapi, masih ada rasa tidak yakin. Entah kenapa… mungkin aku tak yakin karena usianya yang masih muda. Sedangkan aku memang sudah sepantasnya untuk menikah. Hanya saja, ketika date-band ku habis tahun besok. Dan akhirnya kami bisa membuat pengumuman tentang hubungan kami, aku takut jika VIP dan Blackjack banyak yang tidak suka.
Memang… aku tahu banyak juga yang menyukai kami, aku sudah melihatnya di youtube. Video-video tentang investigasi mereka tentang kami, tentang hubungan kami yang sudah terjalin lama. Aku sampai tidak mengerti, bagaimana bisa mereka mendapat bukti-bukti yang akurat seperti itu.
Aku membolak-balikkan badanku mengambil posisi yang nyaman…. Hah…. Aku tidak bisa tidur! Eoddeoke? Ck.. besok kami ada latihan dan juga jadwal show di stasiun tv. Kulirik kearah jam dinding disudut kamarku. Jam sudah menunjukkan jam 12 malam. Astaga….. mau tidur jam berapa aku!
“Haish jinjja!” rutukku sambil mengacak-acak rambutku.
Naega jeil jal naga…. Je-je-je jeil jal naga.

 
Beat! Bam ratatata tatatatata. Beat

 
Dengan malas ku ambil handphoneku. Kulihat nomer yang tertera di layar handphoneku. Nomer yang tidak kukenal. “Siapa ini?” gumamku sendiri.
Kumatikkan handphoneku lalu kuletakkan lagi di meja. Mungkin telpon iseng. Aku mengambil pil tidur di laci meja. Ku ambil satu, lalu ketelan. Beberapa menit kemudian obat itu bekerja. Aku sudah mulai merasa mengantuk sekarang.
******************
The next day………….
(Author’s POV)
“Huah……….” Dara bangun dari tidurnya sambil meregangkan badannya. “Sudah jam berapa ini?” gumam Dara dengan suara serak khas orang sehabis bangun tidur. Diliriknya jam disudut kamarnya.
“OMO!!! AKU TELAT!!!” teriaknya langsung beranjak dari tempat tidur menuju kamar mandi.
“Aish… jinjja. Mengapa tak ada yang membangunkanku?” gumamnya di dalam kamar mandi.
Setelah mandi dan berdandan, Dara keluar dari kamarnya. Dilihat member 2NE1 sedang santainya memakan sarapan mereka.
“Ya! Mengapa tak ada yang membangunkanku?!” protes Dara begitu sampai di meja makan.
“Sudah makan dulu, Dara-ya,” ucap Bom santai sambil menyesapkan roti ke dalam mulutnya.
Dara menarik kursi agak kasar, lalu duduk sambil melipat tangan diatas meja. Mukanya terlihat kesal. “Kenapa tak ada yang membangunkanku?” tanyanya lagi.
“Sudah.. tapi kau tak bangun,” jawab Bom malas.
“Jinjja? Aku tak dengar ada suara yang membangunkanku,” sergah Dara tak percaya.
“Sungguh. Aku, chaerin, dan Mingkki sudah berusaha membangunkanmu. Kamu saja yang terlalu kebo. Bunyi panci jatuh saja kau tidak dengar.”
“Aku tidak percaya,” ujar Dara sambil mengambil sepotong roti tawar dan selainya.
“Terserah kau sajalah,” ucap Bom acuh.
Tiba-tiba Dara teringat sesuatu. “Ya! Kau ada hubungan apa dengan Seunghyun?” selidiknya.
Pertanyaan Dara membuat Bom kaget lalu menghentikan aktifitas makannya. Alis kanannya naik, “Maksudmu?”
Dara menaruh rotinya di piring, lalu menatap Bom. “Iya… kau ada hubungan apa dengan Seunghyun? Dua hari yang lalu kami pergi ke Yeolbong (Restorannya se7en), tapi kulihat kau tak ada bersama kami. Kata Daesung, kau jalan berdua dengan Seunghyun. Padahal ku tahu, kau dan dia bagaikan anjing dan kucing. Tak pernah akur,” jelas Dara panjang lebar.
“Eo-eo-eopseo!” jawab Bom singkat.
“Jangan mencoba menyembunyikan sesuatu dariku, Bom-ah,” ancam Dara.
“Aku tidak menyembunyikan apa-apa darimu, Dara,” ujar Bom menatap Dara yakin.
“Jeongmal?”
“Hmmm!” gumamnya. “Aku tak ada hubungan apa-apa dengannya. Belum….” Lanjutnya malu-malu.
“Tuhkan!!!!! Kau pasti ada apa-apa deh sama Seunghyun!! Jahat sekali kau tidak memberitahuku,” gerutu Dara dengan wajah sengaja dibuat kesal.
“Serius, aku tidak ada oh ani… belum ada hubungan apa-apa dengannya. Aku….. masih baru dekat,” ucapnya malu-malu sambil menundukkan wajahnya.
“Pendekatan?” tanya Dara.
Bom mengangguk, “Hmm bisa dibilang seperti itu….”
Dara mengangguk-anggukan kepalanya tanda mengerti, “Ah… arraseo…”
Bom lalu menunjukkan senyum aegyonya, Dara membuang muka karena risih melihatnya. “Tapi, aku masih saja kesal padamu. Kenapa sih aku gak dikasih tahu dulu sama kamu. Setidaknya gitu…” kata Dara masih geram.
“Mianhae, Dara-ya. Aku tidak sempat memberitahumu. Waktu itu kan kau masih ada masalah dengan Jiyong, jadi… kupikir kalau aku kasih tahu kamu sekarang pasti jadinya gak enak,” jelas Dara sambil menatap memohon.
Dara mendesah. “Hhhh….. ya sudah ku maafkan.”
Seringaian Bom melebar, giginya yang putih bersih terlihat. “Eh, iya. Kemarin kau kemana dengan Jiyong? Tumben dia mau datang,” tanya Bom mengganti topik.
“Iya, Eon. Kemarin kau kemana dengannya?” sahut Chaerin tiba-tiba.
Dara agak kaget dengan pertanyaan Bom dan Chaerin. Dia masih tidak yakin memberitahu mereka saat ini.
“Ya. Kenapa kau kaget?” tanya Bom mengangkat kedua alisnya.
“Hmm ani… kemarin aku diajak pergi ke sebuah bukit,” jawab Dara agak gugup.
Chaerin menautkan alisnya bingung, “Bukit? Dimana? Tumben banget dia romantis.”
Dara mengidikkan bahunya, “Aku juga tidak tahu itu di daerah mana. Sebelum-sebelumnya Jiyong tak pernah mengajakku jalan-jalan ke daerah seperti itu.”
Chaerin terlihat seperti berpikir. Jari telunjuknya yang lentik diusap ke dagunya. “Aneh. Jiyong oppa membicarakan apa padamu?”
Dara tersedak, dengan sigap Bom memberinya air putih. “Ya… makan yang benar.”
“Uhuk.. uhuk..” Dara masih terbatuk-batuk. “Ne? kau bertanya apa?”
“Jiyong oppa berbicara apa padamu?” ulang Chaerin.
“D-d-dia tidak membicarakan apa-apa padaku. Wae?” Dara berbalik bertanya.
Chaerin menatap Dara aneh, seperti ada yang disembunyikannya. “Ani… just asked. Kenapa kau jadi gugup begitu?”
Dara terhenyak… Separah itukah sampai dia bisa melihatku sedang gugup sekarang?, batinnya. “He? Kata siapa aku gugup? Tidak…. Sudah aku cepat makan nanti kita telat,” ucap Dara berusaha menghentikan investigasi Chaerin padanya.
Chaerin mengangguk menurut. “Ne….”
Setelah selesai makan, mereka langsung keluar dari dorm. Saat mereka keluar dari lift, tiba-tiba handphone Dara bergetar. Mungkin Jiyong, pikirnya.
Dara tersenyum ketika membuka handphonenya, dibukanya pesan itu. Namun seketika senyumannya hilang, mata Dara terbelalak tak percaya.

From : 023472839***

 
Hello, Dara….. how are you? I miss you so much!!
Love, Joseph.


 
 
HOW WAS THE STORY?? Ah pasti jelek deh, alurnya jelek -_- mian…….. Part selanjutnya bakal ada kejadian yang sedikit tidak mengenakan nih. Penasaran? Hahaha be patient yah…. soalnya masih belom jadi, dan aku juga lagi UTS nih. Diusahakan secepatnya deh. Hehehe
APPLERS ALWAYS KEEP THE FAITH!!! DARAGON JJANG!!! Annyeong \(^.^)
RCL JANGAN LUPA!!!!!!!!!!!!!!
Iklan