456 Years

 

Title                 : 456 Years

Author                        : Han RanRan

Rating             : All ages

Back Sound     : Lee Sun Hee-Fox Rain

Main Cast       : Lee Donghae

Support Cast   : Choi Siwom

Genre              : Angst,Hurt Comfort           

Disclaim          : I only own this fict,please don’t be a plagiator .

Type                : One Shot

 

Annyeong,chingudeul😀

Kali ini saya datang lagi dengan ff abal saya. Semoga ff ini tidak mengecawakan yah ^^

DON’T BE A SILENT READER AND DON’T FORGET TO COMMENT chingu!

Thankyou ^^

==================================================================

Flashbacks

 “Aku akan menunggumu. Aku janji akan menunggumu sampai kapanpun Hyori-ah dan hapus air matamu itu Hyori-ah,kau tau aku tidak suka melihat menangis.”

“Ne,aku tidak akan menangis lagi Donghae-ah. Aku janji,” balasku tersenyum padanya

“Hyori-ah…..”

“Ne,waeyo Donghae-ah?” tanyaku padanya

“Tatap mataku,” pintanya

Perlahan kubalikkan tubuhku untuk menatapnya. Menatap mata yang selama ini aku kagumi. Mata yang akan selalu aku rindukan nanti.

“Saranghae Park Hyori, jeongmal Saranghae,” katanya sembari menatapku

“Nado saranghae Lee Donghae,” balasku memeluknya

“Aku akan selalu menunggumu,selalu…”

==================================================================

HYORI POV

Angin musim gugur menerpa wajahku. Kuedarkan pandanganku ke sekitar bukit tempatku bereda. Bukit ini masih sama. Dengan azalea diselilingnya. Kuhirup nafas dalam-dlam. Tuhan aku benar-benar merindukannya.

Kusandarkan tubuhku di pohon besar di mana tempatku bertemu dengannya  tahun yang lalu. Ya aku memang telah bertemu dengannya tapi dengan kondisi yang berbeda. Aku merindukannya setiap detik yang berlalu, berharap bisa melakukan sesuatu yang lain daripada menunggunya.

Air mataku mulai membasahi pipiku. Tidak. Aku sudah berjanji padanya untuk tidak menangis lagi. Segera kuhapus air mata yang turun di pipiku.

Apakah kau mengingatku Hae?

Apakah kau mengenaliku kali ini?

Apakah kau tahu aku telah menunggumu selama ini?

END HYORI POV

==================================================================

Yeoja itu bernama Lee Hyori. Dia selalu disana. Di atas bukit Azalea memandang sekelilingnya. Raut wajahnya memancarkan kesedihan yang mendalam.  Dia masih menunggu. Yah menunggu namja itu. Lee Donghae.

“Kau dan aku adalah sama,” kata Hyori nyaris berbisik. “Kau masih sama seperti saat aku kesini untuk pertama kalinya.”

“Berapa umurmu?” tanya Hyori ke pohon yang menjadi sandarannya. Dia tertawa pahit.

“Apakah sama dengan umurku?” tanyanya dengan air mata hangat mengalir di pipinya.

“Aku tahu kau lebih tua dariku …” katanya berbisik sembari tersenyum getir.

“Kau telah melihat seluruh perjalanan hidupku kan?” Hyori tidak bisa lagi menahan dirinya  menangis.

“Kau tahu,aku begitu merindukan namja itu” tambahnya lagi pada pohon itu.

Yeoja itu kemudian berdiri, diam-diam mengucapkan selamat tinggal ke bukit azalea,tempat favoritnya dengan namja itu. Namja yang selalu dirindukannya. Diedarkan pandangan ke arah pohon tua. Pohon yang menjadi kisah hidupnya dan namja itu, Lee Donghae.

Tanpa disadari kakinya membawanya ke tempat itu sekali lagi, untuk menemui namja yang selalu dirindukannya. Dari balik rumah itu terlihat Donghae sedang makan siang bersama keluarganya, disampingnya seorang yeoja bersama dua putri kecil, ia tampak bahagia dan Hyori tahu ia telah kehilangan Donghae.

“Aku tahu harus membiarkannya,aku tidak bisa merusak kebahagiaan hidupnya,” kata Hyori sembari menahan kesedihannya

“Tapi mengapa ini terasa begitu menyakitkan?” tambahnya lagi

“Apakah kau akan menjadi milikku di waktu berikutnya?”

Hyori memejamkan mata dan perlahan berjalan menjauh, membawa rasa sakit mendalam yang sekarang membunuh hatinya sekali lagi.

“Kau tahu, aku akan menunggumu Donghae  tidak peduli apapun yang terjadi,” bisiknya pada angin. Hampir tidak terdengar

Setelah melihat kejadian itu kembali Hyori menuju ke pohon besar untuk menenangkan pikirannya. Pohon besar dan bukit azalea yang menjadi saksi hidupnya. Kembali dia menyandarkan tubuhnya di pohon, matanya tertutup. Dia lelah bahkan ketika ia tidak melakukan apa pun. Dirabanya saku pada gaun putihnya. Segera dikeluarkan sebuah kunci dan diletakkannya diatas tangannya,menggengamnya erat-erat, tak ingin membiarkannya pergi.

Kunci itu, satu-satunya yang meyakinkannya bahwa dia tidak bermimpi bahwa Donghae benar-benar mencintainya. Itu hanya sebuah kunci sederhana, tidak ada yang istimewa, atau mungkin dia masih belum menemukan mengapa hal itu begitu istimewa selain menjadi satu-satunya cara untuk terus pergi dengan apa yang ingin dia sebut kehidupan.

“Ini adalah kunci hatiku,” kata Donghae saat itu. “Jangan pernah kau hilangkan kunci ini atau kau akan kehilanganku Hyori-ah,” tambahnya lagi sembari tersenyum tulus.

Hyori tidak tahu mengapa, tapi jantungnya berdetak keras saat  itu.

“Aku tidak akan pernah kehilangan kunci ini,” dia berkata dengan senyum cerah.
Hyori membuka matanya dan melihat kunci yang di tangannya.

“Aku tahu aku tidak akan kehilanganmu Donghae,” katanya dengan senyum pahit di wajahnya. “Benar kan?” tanyanya pada diri sendiri sementara air mata kesepian itu jatuh ke bawah pipinya yang pucat.

Kembali ia simpan kunci itu. Kunci itu satu-satunya tanda bahwa dia masih terus menunggu. Menunggu namja itu. Lee Donghae.

==================================================================

HYORI POV

Segera kulangkahkan kakiku ke tempatnya berada. Hampir setiap hari aku menuju ke rumah ini. Melihatnya dari jauh. Ya begini saja sudah cukup. Hanya melihatnya membuat hatiku terasa hangat.

“Kau harus menyerah Hyori-ya,” Aku mendengar suara itu lagi. Suara yang selalu membujukku untuk melupakan Donghae.

“Kau tahu aku tidak akan pernah menyerah Choi Siwon,” Balasku kepadanya
“Nasibmu sudah ditulis.” Kata suara itu ironis. “Apakah kau tidak mengerti itu?”
“Pergilah Siwon!” kataku mulai kesal. “Aku tidak memerlukan nasihatmu!”

“Yah …” kata Siwon sambil meletakkan tangan di belakang kepala. “Kau harus menuruti kata-kataku,aku tidak ingin melihatmu terus-terusan begini,” tambahnya

“Keluar Siwon!” perintahku tegas sembari menatap matanya “Aku tidak ingin melihat kau lagi di sepanjang hidupku!”

“Menyerahlah Park Hyori,kau dan dia tidak akan mungkin bersatu,” jelas Siwon

“Kau tidak akan mengerti Siwon,tidak akan pernah mengerti,”

“Aku mengerti, kalian berdua telah dikutuk,” kata Siwon datar “Kau akan hidup selamanya saat ia akan terlahir kembali lagi dan lagi.”

END HYORI POV

==================================================================

Sudah hampir tiga tahun sejak Hyori terakhir melihat Donghae di desa kecil. Hanya melihatnya dari jauh yang bisa dia lakukan. Menahan perasaan sakit dalam hatinya. Begini saja sudah cukup untuknya. Melihat namja yang dicintainya tersenyum walaupun tanpa dirinya disisinya.

“Sudah 456 tahun sejak aku bertemu Donghae,”

Yeoja itu kemudian memejamkan matanya. Merasakan sentuhan angin menerpa wajahnya. .
“Kau telah hidup sepuluh kali.” Kata yeoja itu menarik napas dalam. “Tidak apa-apa,aku yakin suatu saat kita pasti bisa bersama lagi,” pikirnya

 Karena aku tahu kau masih mencintaiku.

Aku yakin kita akan bersama lagi

DEG. Tiba-tiba yeoja itu merasakan perasaan aneh di dadanya. “Tidak sekarang Tuhan kumohon” pintanya. Segera dilangkahkan kakiknya menuju rumah Donghae. Dia tahu tidak ada waktu lagi untuk Donghae kali ini. Dan hanya pada saat ini Donghae bisa mengenalinya. Ya mengenalinya beserta kehidupan masa lalu mereka.

“Donghae… Jebal bertahanlah….,” pinta yeoja itu

“Hyori …” Donghae menjawab terengah-engah dan tersenyum hangat

“Maaf …” tambahnya sembari mengusap pipi Hyori yang basah.

“Kau tidak perlu minta maaf Hae …”

“Aku bodoh karena tidak sejak awal tidak bisa bersamamu Hyori” Kata Donghae saat ia terbatuk-batuk keras.

“Hae,aku janji akan menemukanmu di kehidupan berikutnya,aku berjanji Donghae-ya,” balas Hyori berlinangan air mata

“Saranghae Park Hyori” Kata Donghae saat ia menutup matanya untuk mencium Hyori.
“Nado saranghae Lee Donghae.”

Donghae tersenyum hangat, dan Hyori tersenyum kembali. Dia ingat saat pertama kali Donghae tersenyum padanya, dia ingat betapa kuat cintanya itu. Dia memutuskan untuk tidak pernah melepaskan kasih yang sempurna, dia tidak tahu bagaimana, dan dia tidak tahu kapan, tetapi ia harus mematahkan kutukan di antara  mereka dan akhirnya dapat bersama-sama, dan dapat saling mencintai lainnya seperti saat pertama kali mereka lakukan. Ya walaupun itu harus dilakukannya entah sampai kapan.

==================================================================