Title: Time Traveler (Part 1)

Author: bangmil

Length: Continue

Genre: Romance, Sci-Fi

Main Cast: Han Sehyun (OC), L/Kim Myungsoo (Infinite), Hoya (Infinite), Seungyeon (KARA), Woohyun (Infinite)

Support Cast: Sungyeol (Infinite), Sungkyu (Infinite), Dongwoo (Infinite), Sungjong (Infinite)

Foreword: Annyeong~ Ini FF pertamaku, terinspirasi dari film jepang berjudul ‘Toki wo Kakeru Shoujo’. Mungkin readers sudah ada yang pernah nonton? Hehehe. Ide cerita berasal ari situ, mungkin ada sedikit bagian yang sama tapi secara keseluruhan sudah aku rombak kok. Oh ya, ini FF aku dedikasikan untuk Infinite~
Selamat membaca~ Jangan lupa comment ya di bawah ^^

***

1 Maret 2011

Suasana hening. Per detik hanya terdengar suara percikan air yang mewarnai ruangan serba putih, yang lengkap dengan alat-alat laboratorium yang tampak begitu awam di mata orang biasa itu.

Seorang wanita paruh baya, yang mengenakan jas berwarna putih juga, sedang menikmati cemilan siangnya kala itu. Rambutnya yang hitam pendek dan wajahnya yang segar sama sekali tidak menandakan bahwa ia sudah berkepala empat. Ia tampak menikmati bekal buah-buahan yang ia bawa.

Tiba-tiba wanita itu teringat akan sesuatu. Segera ia mengambil cawan petri dari rak yang tak jauh dari tempat ia duduk, lalu memasukkan sebuah ceri ke dalamnya. Ia meletakkan cawan petri tadi di atas meja kerjanya lalu mengeluarkan sebuah tabung reaksi berisikan semut-semut. Ia memasukkan semut-semut itu ke dalam cawan petri, lalu menuangkan beberapa tetes cairan bening di atasnya. Dengan cepat, ia segera menutup cawan tadi dan memperhatikannya dengan seksama, menunggu apa yang akan terjadi. Begitu fokusnya wanita itu dengan yang ia kerjakan, sampai-sampai ia tak sadar bahwa ada seseorang sedari tadi memperhatikannya.

“Han Seungyeon seonsaeng-nim,” panggil orang itu.

Wanita paruh baya tadi, yang ternyata bernama Han Seungyeon, menoleh. “Ne?”

“Saya baru saja menyelesaikan penelitian tentang senyawa organik dan pergerakan organ tubuh bagian dalam.” Lanjut orang tersebut seraya menyerahkan sebuah map berisikan dokumen penelitian kepada Seungyeon.

“Ah, ne, kamsahamnida.” Jawab Seungyeon singkat, seraya mengalihkan pandangannya menuju cawan petri tadi. Seketika matanya membulat begitu melihat semut-semut yang menghilang satu per satu.

“Juga jangan lupa akan diadakan rapat besar jam dua siang nanti di ruang multimedia,” Lanjut orang tadi, yang hanya dijawab dengan kata iya dan anggukan dari Seungyeon. Orang tersebut menghela nafas, “Seonsaeng-nim, memang baik jika anda sangat antusias terhadap penelitian pribadi anda. Tapi jika anda selalu datang terlambat di setiap rapat, maka saya juga yang akan dapat masalah.”

Seungyeon sedikit tersentak mendengar keluhan asisten pribadinya tersebut,“I-iya, aku tahu.” Jawabnya sambil tersenyum kecut.

Sang asisten tersebut kemudian keluar dari laboratorium dan Seungyeon kembali terfokus pada penelitiannya tadi. Betapa terkejutnya ketika ia hanya mendapati sebuah ceri di dalam cawan petrinya tadi, tanpa ada semut satu pun tersisa di dalamnya.

Ia membuka penutup cawan itu, kemudian dengan hati-hati ia mengambil ceri tersebut. Ia menatapnya dengan wajah yang terkesima. “Akhirnya..”

***

“Kanpai!!” seru tiga anak murid SMA seraya menyulangkan minuman soda yang mereka bawa. Tiga orang tersebut terdiri dari dua orang laki-laki dan satu orang perempuan. Mereka bertiga tertawa dan wajah mereka terlihat berseri-seri.

“Aku tidak menyangka kita akan satu sekolah lagi!” seru salah satu anak laki-laki, Lee Sungyeol.

“Itu berarti sekarang sudah hampir sembilan belas tahun kita bersama-sama, dan masih akan berlanjut sampai beberapa tahun lagi.. wah, daebak.” Timpal Sehyun, satu-satunya perempuan disana. Ia meneguk minumannya sampai habis. “Oh ya, kalian masih ingat? Waktu SD Sungyeol pernah pipis di celana! Hahaha..” ejeknya.

Merasa tidak terima, Sungyeol pun membalas, “Tapi setidaknya aku tidak pernah sampai disuruh membersihkan seluruh halaman sekolah!” Sungyeol menjulurkan lidahnya pada Sehyun.

Ya!” seru Sehyun, begitu ia mengingat tentang penderitaan yang pernah ia alami karena berkelahi dengan anak laki-laki sewaktu SMP dulu. Mereka berdua pun beradu mulut, saling mengungkit kejadian memalukan milik satu sama lain.

“Aiss.. diam kalian!” Kim Myungsoo, atau biasa dipanggil L, akhirnya angkat bicara. Kedua temannya pun akhirnya menurut dan berkutat kembali dengan minuman mereka masing-masing.

“Tapi, Sehyun ah, apa kau pernah mengingat Myungsoo melakukan kejadian memalukan?” tanya Sungyeol.

Sejenak Sehyun berpikir, walaupun sebenarnya ia sudah tahu jawabannya. “Aku sama sekali tidak ingat.” Katanya kemudian.

“Wah.. Myungsoo memang tidak punya kelemahan. Segala sesuatu dalam dirinya begitu perfect.” Ujar Sungyeol sambil menekankan kata perfect. “Yah, setidaknya itu yang dikatakan para fansnya.”

Sehyun mengangguk-angguk setuju. “Aku pikir besok Myungsoo akan mendapat fans lebih banyak.”

“Andwae~”  timpal Sungyeol iri. Sedangkan tokoh utama yang dibicarakan hanya mengendikkan bahunya dan tersenyum tipis.

“Ah, aku tahu! Bagaimana jika aku mulai mencoba bersikap lebih cool?” tanya Sungyeol pada kedua sahabatnya sambil bersiap untuk menunjukkan wajah penuh karismanya.

Ya, ya, hajima!” cegah Sehyun sesegera mungkin.

“Ah, wae??”

“Nih, lihatlah!” Balas Sehyun, sambil memberikan cermin pada Sungyeol. Mereka berdua pun  mulai bertengkar lagi, sedangkan Myungsoo hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala melihat tingkah kedua teman kecilnya itu.

DRRT DRRT

Ponsel hitam yang terletak di meja bergetar, membuat pandangan Myungsoo tertuju kesana. “Sehyun ah, ponselmu bunyi.” Ujarnya.

Sedetik kemudian, Sehyun mengambil ponselnya. “Ah, umma!” serunya begitu melihat nama yang muncul di layar ponselnya. Ia pun segera memencet tombol hijau. Sehyun berbicara sepatah dua patah kata, lalu mengangguk, dan menutup telepon.

“Umma sudah menyuruhku pulang. Sepertinya dia syok mendengar kabar kalau aku diterima di Woolim University, hahaha..” ujar Sehyun sambil tertawa. Woolim University memang bukan sembarang universitas, hanya anak yang benar-benar mampu dan beruntung yang bisa bersekolah disana. Itulah kenapa Sehyun, Sungyeol, dan Myungsoo sangat terkejut mendapat kabar bahwa mereka bertiga diterima disana.

“Kalau begitu, biar aku antar sampai rumah,” kata Myungsoo seraya beranjak dari tempat duduknya.

“Tidak perlu, ini kan masih sore. Lagipula rumah kita kan berlawanan arah.” Tolak Sehyun.

“Tidak apa-apa. Aku juga ada keperluan.”

“Tapi-”

“Ehem!” Sela Sungyeol tiba-tiba. “Sudah, sudah, sana pulang.” Perintah Sungyeol sambil mendorong keduanya keluar dari rumah makan miliknya. Ralat, keluarganya.

Sehyun yang merasa diusir oleh Sungyeol pun mengerutkan alisnya, bingung. “Kenapa sih?”

Myungsoo mengendikkan bahunya. “Tidak tahu. Sudahlah, bukannya tadi ibumu menyuruhmu untuk cepat pulang?” ujar Myungsoo. Sehyun mengangguk setuju dan mereka mulai berjalan pulang bersama.

Perjalanan terasa sepi. Myungsoo memang bukan orang yang banyak bicara, sedangkan Sehyun sendiri bingung jika ia harus mengawali pembicaraan. Ia sendiri heran kenapa Myungsoo mau repot-repot mengantarnya pulang.

“L,” panggil Sehyun.

“Hm?” jawab Myungsoo sekenanya.

“Tidak apa-apa. Hanya mengecek apa kau tidur atau tidak.”

Myungsoo menghela nafas pelan. “Kau pikir aku bisa berjalan dengan tidur?”

Sehyun hanya mengendikkan bahunya. “Mm, mungkin..” jawabnya. “L.” panggilnya lagi.

“Kenapa?” tanya Myungsoo heran begitu melihat Sehyun tertawa.

“Aneh saja memanggilmu dengan sebutan L,” jawab Sehyun masih dengan tawanya yang belum hilang.

Myungsoo hanya terkekeh pelan. “Sehyun ah. Kau mau aku beritahu?” tawar Myungsoo tiba-tiba.

“Apa?”

“Aku.. sedang menyukai seseorang.”

Sehyun pun menghentikan langkahnya karena terkejut. “Hah? Kau yakin? Serius? Kau tidak takut dia nanti dihajar fansmu?”

Myungsoo menggeleng. “Tidak. Karena dia orang yang kuat, aku pikir dia mampu bertahan dari amukan fans-fans ku.” Ujarnya sambil tertawa.

“Wah, daebak.. Tapi, siapa?” tanya Sehyun penasaran.

Myungsoo berpikir sebentar lalu berkata, “Ra.”

“Eh, Ra? Rayi ah? Rayoon ah? Atau..” Sehyun menebak-nebak. “Ah, siapa?”

“Ra.. hasia~” kata Myungsoo lalu tertawa.

Senyum di wajah Sehyun pun menghilang. Ia menatap Myungsoo dengan ekspresinya yang datar. “Pelit.” Ujarnya, lalu berjalan mendahului Myungsoo.

“Tunggu aku!” seru Myungsoo sembari mempercepat langkahnya untuk mengejar Sehyun.

“Ah, Dongwoo ahjussi!” seru Sehyun tiba-tiba, begitu melihat seorang pria paruh baya berpapasan dengan mereka. “Tumben naik mobil. Mau kemana?” tanyanya kemudian.

“Aku mau mengantar barang ke rumah teman sebentar.” Jawab pria bernama Dongwoo yang dipanggil Sehyun dengan sebutan ahjussi itu. Ia kemudian mengerutkan alisnya begitu melihat sosok yang kurang familiar di sebelah Sehyun. “Ini..?”

“Myungsoo imnida.” Ucap Myungsoo sambil membungkukkan badannya.

Dongwoo mengangguk-anggukkan kepalanya lalu berbisik pada Sehyun, “Sehyun ah, kau hebat juga.” Kata Dongwoo sambil melirik Myungsoo.

Ya, ahjussi!” seru Sehyun sambil mencubit lengan Dongwoo.

“Aduh, bercanda..” ujar Dongwoo sambil memegangi lengannya yang sakit. “Ah iya, aku harus segera pergi. Hati-hatilah di jalan. Myungsoo ssi juga.” Pamit Dongwoo seraya naik ke mobilnya lagi.

“Hati-hati, ahjussi!” ujar Sehyun sambil melambaikan tangannya. Dongwoo pun melambaikan tangan pada mereka berdua dan mulai melaju kembali.

Baru sekitar seratus meter, Dongwoo teringat dengan amplop yang ada disakunya. Ia bermaksud memberikannya pada Sehyun tapi ia lupa dan Sehyun sudah tidak terlihat dari kaca spionnya. Dongwoo menghela nafas, merutuki kecerobohannya, lalu mulai mengendarai mobilnya lagi.

***

“Ah, Dongwoo ssi!” panggil Seungyeon begitu melihat Dongwoo berada di luar kantornya. “Ada apa repot-repot kemari? Padahal ini aku juga sudah mau pulang.”

Dongwoo pun memberikan amplop tadi kepada Seungyeon. “Kemarin sewaktu aku pulang ke kampung halaman kita, nenek tempatmu tinggal dulu memberikan ini padaku. Katanya dia menemukannya sewaktu bersih-bersih.”

Melihat benda yang tidak familiar baginya, Seungyeon pun segera membuka amplop tersebut. Disana terdapat sebuah foto yang sudah agak lusuh, dengan setangkai bunga lavender. Di dalam foto itu terdapat diri Seungyeon sewaktu muda dulu, tepatnya ketika SMP, berdiri sejajar dengan seorang pria.

“Nah, ini. Apa kau mengingatnya? Pria ini mengenakan seragam sekolah yang sama seperti kita, bahkan dia mengenakan pin kelas yang sama dengan kita. Tapi kenapa aku tidak ingat siapa dia?” ujar Dongwoo. “Lalu lavender ini diberikan nenek karena katanya kau suka sekali dengan bunga lavender. Bukan begitu?”

Seungyeol tidak menjawab. Pandangannya tertuju pada foto yang ia pegang. Entah kenapa ada perasaan aneh yang muncul dalam dirinya begitu melihat foto tersebut. Bahkan, sekarang jantungnya ikut berdetak dua kali lebih cepat.

“Mm.. Seungyeon ssi?”

Seungyeon tersentak begitu ia mendengar Dongwoo memanggilnya. Ia pun menoleh dan mendapati wajah Dongwoo yang kebingungan.

“Ah, iya. Maaf tapi sepertinya aku harus segera kembali ke dalam.” Ujar Seungyeon sambil menunjuk ke arah kantornya.

“Baiklah. Aku juga harus segera pergi.” Ujar Dongwoo dan mereka berdua pun berpamitan.

Seungyeon masuk ke dalam ruang kerjanya. Ia menghela nafas kemudian kembali menatap foto lama tadi. “Ya Tuhan.. Kenapa perasaanku tidak enak?” gumamnya.

Setelah beberapa menit larut dalam perasaannya, ia tersadar dan melirik jam tangannya.

“Ya ampun, aku telat! Sehyun pasti marah!” pekik Seungyeon. Ia segera meraih tas jinjingnya, memasukkan amplop itu ke dalamnya dan bergegas pulang.

Seungyeon pun berjalan setengah berlari menuju rumahnya. Bagaimana mungkin ia membiarkan anak gadisnya di rumah menunggu, padahal awalnya dialah yang membuat janji.

Begitu lampu pejalan kaki menunjukkan rambu hijau, Seungyeon segera menyeberang. Jalanan waktu itu cukup sepi sehingga ia bisa merasakan dengan jelas dinginnya angin malam. Namun karena ia terlalu terburu-buru, tanpa sengaja ia tersandung dan jatuh tersungkur.

Tiba-tiba ia merasa kepalanya pusing sekali. Ia berusaha menopang tubuhnya dengan sebelah tangannya. Ia merasakan pandangannya gelap, dan sepotong kejadian masa lalu pun seperti terulang kembali.

“Han Seunyeon ssi.”

Ia mendengar suara seorang laki-laki memanggilnya. Suaranya begitu nostalgik sehingga ia dapat mengingat kejadian-kejadian di masa lalu yang telah ia lupakan.

“Nam Woohyun..?”

** To be continued.. **

Bagaimana? Tolong comment ya~ Kamsa~