Author : Stephanie Naomi
Title : Music, Dream and Love [Part 6]
Length : Continue
Genre : Romance
Cast: Taecyeon, Wooyoung, Junho (2PM), Suzy (missA), Park Jin Young (Teacher), Bae Su Jung, Lee Jung Ah, Park Yoon Hae (Imaginary Cast)

***

Akhirnya hari yang ditunggu oleh Taecyeon dan Suzy pun tiba. Hari dimana mereka akan menampilkan semua yang telah mereka latih bersama selama beberapa minggu. Rasa senang meliputi keduanya, tetapi tidak terlihat begitu jelas diwajah Taecyeon. Ia hanya tersenyum saat orang-orang yang lewat menyalaminya dan mengucapkan selamat padanya. Pikirannya masih tertuju pada pesan singkat yang dikirimkan Suzy semalam.

“Kau adalah salah satu pemain piano terbaik yang pernah kutemui di Korea. Aku bangga bisa berduet denganmu. Aku berharap suatu saat nanti aku dapat bertemu dan berduet denganmu lagi.”

Pengumuman beasiswa telah diumumkan beberapa hari sebelum pelaksanaan konser, dan tanpa diragukan, Taecyeon menjadi siswa nomor 1 yang berhak mendapatkan beasiswa tersebut. Kemampuan dan prestasinya sudah tidak diragukan para juri untuk memilih dirinya tanpa harus melihat konser hari ini. Pengumuman ini seharusnya membuat Taecyeon bernafas lega, tetapi nyatanya tidak.

“Taecyeon-ah!” panggil Junho berteriak dari belakang Taecyeon dengan jarak yang cukup jauh. Junho pun buru-buru menghampiri Taecyeon dan mereka berjalan bersama.

“Kau kelihatan tidak bersemangat.” sambung Junho.

“Oh ya? Mungkin aku hanya sedikit gugup.” balas Taecyeon berbohong.

“Gugup? Kau bercanda?” ledek Junho tidak percaya.

“Tsk. Untuk apa aku bercanda. Walaupun aku sering lomba atau konser, tapi rasa gugup itu pasti ada disetiap performance ku. Apa kau tidak pernah gugup setiap kali kau akan bertanding?”

“Tidak.”

“Kau memang tidak punya perasaan.” balas Taecyeon seraya tersenyum kecil dan saat itu mereka sedang melewati ruang musik dan Taecyeon mendapatkan Suzy sedang berada didalam ruang musik. Taecyeon memberi kode kepada Junho untuk lebih dahulu pergi ke aula dan Junho langsung meninggalkannya didepan ruang musik. Taecyeon masuk kedalam dan menghampiri Suzy yang sedang berdiri di depan rak-rak buku tinggi diruang musik sekolahnya.

“Apakah kau gugup?” tanya Taecyeon dari belakang. Suzy sedikit tersentak dari lamunannya.

“A little bit.” jawab Suzy singkat. Ia berbalik badan dan mendapatkan Taecyeon yang terlihat “sempurna” dengan jas hitam, vest hitam, dasi hitam dan kemeja putih yang ia kenakan hari itu. Dalam beberapa detik mereka terdiam, secara tidak langsung saling mengagumi apa yang mereka lihat.

Taecyeon jelas terperangah melihat Suzy yang terlihat feminin dengan gaun berwarna hitam panjang selutut dengan model bahu terbuka dan rambut panjang miliknya yang digelung keatas dan diberi hiasan berwarna hitam yang mempermanis penampilannya. Riasan yang tidak berlebihan juga memberikan nilai lebih untuk penampilan Suzy malam itu.

“Bagaimana denganmu?” tanya Suzy memecah kesunyian.

“Sama, a little bit.” jawab Taecyeon yang masih memperhatikan Suzy dari atas hingga bawah.

“Kau sudah memenangkan beasiswa itu. Seharusnya kau tidak perlu merasa gugup lagi…” balas Suzy lalu ia berjalan keluar dari ruang musik, melewati Taecyeon yang hanya diam dan masih berdiri ditempatnya.

“Sampai kapan kau akan berdiri disitu? Konser akan segera mulai, ayo kita ke aula.” sambung Suzy sebelum ia benar-benar meninggalkan ruang musik. Taecyeon segera keluar dari ruang musik dan berjalan menuju aula bersama Suzy. Sepanjang jalan, Taecyeon terus memperhatikan Suzy yang terus berjalan tanpa ingin mengatakan sepatah dua patah kata kepada dirinya.

“Jangan sampai gara-gara kau terus memperhatikan ku kau jadi menabrak tong sampah didepan.” ucap Suzy. Taecyeon refleks melihat kedepan dan benar saja ia hampir menabrak tong sampah milik sekolahnya yang cukup besar. Suzy tertawa kecil.

“Kau mau pergi ke Eropa, tetapi masih saja bertingkah bodoh.” lanjut Suzy tanpa melihat ke arah Taecyeon.

“Terus saja kau katakan aku ‘bodoh’. Kau pasti akan merindukan tindakan ‘bodoh’ku selama aku ada di Eropa nanti.” balas Taecyeon, tetap tidak mau kalah.

“Tsk, masih saja kau keras kepala.”

“Siapa yang keras kepala? Aku hanya berbicara yang sebenarnya.”

Suzy terdiam dan berpikir. Apakah benar ia akan merindukan Taecyeon dan semua hal yang telah ia lakukan bersama selama ini. Sering ia berpikir ia tidak ingin hari konser ini tiba. Rasanya ia ingin kembali ke saat pertama kali mereka berlatih bersama dan ia ingin mengulur waktu selama mungkin hanya untuk bersama Taecyeon.

Suzy kembali bertanya kepada dirinya sendiri, “Apakah aku benar-benar menyukainya? Atay justru mencintainya?” Ia merasa ada sebagian kecil dari dirinya yang tidak rela ketika mendengar kabar beasiswa itu. Bukan karena iri, hanya saja sebagian kecil dari dirinya akan merasa kehilangan…

***

Konser sekolah itu berlangsung selama kurang lebih 3 jam, dengan penampilan dari peserta beasiswa tahun ini, penampilan anggota klub musik dan juga ensemble klub musik serta pengumuman pemenang beasiswa tahun ini.

Permainan Taecyeon dan Suzy pun sukses memukau hati penonton yang datang pada malam itu. Mereka memberikan penampilan yang benar-benar maksimal. Tidak ada kecanggungan diantara keduanya. Kedua orangtua Suzy dan adik lelaki Suzy, Su Jung pun tersenyum puas melihat performa anak dan kakak mereka pada malam itu. Mereka tidak percaya bakat bermain piano memang benar-benar dimiliki Suzy. Sementara kedua orangtua Taecyeon yang duduk disebelah orang tua dan adik Suzy tersenyum bangga dan puas terhadap apa yang berhasil Taecyeon raih sampai sejauh ini.

Menjelang konser berakhir, Taecyeon kembali ke atas panggung dan berdiri dibelakang standing mic yang sudah disiapkan.

“Selamat malam semuanya. Saya pertama-tama ingin berterima kasih untuk kesempatan yang boleh diberikan pada hari ini kepada saya, untuk dapat menghibur para hadirin sekalian. Saya juga ingin berterima kasih kepada setiap orang yang telah mendukung saya sampai sejauh ini dan juga kepada panitia atas keputusannya untuk memberikan saya beasiswa pendidikan musik di Eropa tahun ini. Saya sangat bersyukur karena ini semua tidak akan terjadi tanpa usaha dan juga doa-doa dari orang-orang disekitar saya. Dan pada saat ini, saya ingin membalas kebaikan semua orang yang telah mendukung saya, terutama untuk seseorang. Seseorang yang selama ini secara tidak langsung telah menjadi motivator saya. Dan lagu terakhir yang akan saya bawakan malam ini, akan saya persembahkan untuk motivator saya, Nona Bae Suzy…” ucapan Taecyeon terputus, ia menghela nafas sesaat sebelum melanjutkan pidato singkatnya.

“…Suzy-ah, pertanyaanmu selama ini akan terjawab sekarang. Ku harap kau menyukainya…”

Taecyeon langsung berjalan menuju grand piano yang tersisa satu diatas panggung dan diletakkan di tengah-tengah panggung. Ia duduk dan langsung memainkan sebuah lagu, yang belum pernah didengar oleh siapapun sebelumnya kecuali Suzy yang sudah pernah memainkannya beberapa bar.

Suzy terpaku terdiam disisi panggung mendengar ucapan Taecyeon. Kalimat-kalimat terakhir yang keluar dari mulutnya. Rasanya, kakinya terlalu lemas untuk berdiri lama disisi panggung, melihat Taecyeon dengan pantulan cahaya yang menyorotinya dan mendengar lagunya.

“Jadi selama ini…”

Suzy tidak mampu berucap dalam hati. Tanpa ia sadari air mata mengalir pelan diatas pipinya dan ia tersenyum. Tersenyum mengenang semua hal yang ia pernah lakukan bersama Taecyeon. Dan sekarang, sebagian kecil dari dirinya menyadari bahwa ia benar-benar akan kehilangan Taecyeon.

Taecyeon selesai memainkan lagunya. Semua berdiri memberikan tepuk tangan terakhir untuk Taecyeon yang sekaligus menjadi penutup konser itu. Taecyeon bangkit dan memberikan hormat terakhir dari atas panggung kepada semua para hadirin. Lalu ia menoleh ke arah sisi panggung yang tidak terlalu mendapatkan banyak cahaya dan mendapatkan Suzy yang berdiri disana dan tersenyum sambil mencoba menghapus air matanya.

“Berhenti kau mata air bodoh..” gerutu Suzy sendiri dalam hati. Lalu panggung menjadi gelap dan tirai pun langsung menutup panggung tersebut sementara lampu penonton kembali menyala. Semua penonton perlahan-lahan keluar dari aula sekolah itu. Taecyeon bergegas menghampiri Suzy. Ingin rasanya Suzy berlari menghindari lelaki yang sedang berjalan menuju kearahnya, namun kaki nya seperti melarang dirinya pergi dari situ. Taecyeon berdiri di hadapannya dan kedua tangannya memegang pipi Suzy. Ibu jarinya menghapus air mata Suzy yang masih mengalir pelan.

“Yah! Kau menangis? Dasar bodoh.” ucap Taecyeon lalu ia memeluk Suzy sesaat lalu melepaskannya dan ia memegang kedua bahu Suzy.

“Hentikan air matamu itu. Kita belum foto bersama dengan yang lain. Kau mau foto dengan lunturan maskara dan mata sembab diwajahmu?”

“Tapi aku tidak bisa hentikan air mata ini! Aku memang bodoh.”

Taecyeon kembali memeluk Suzy lebih dalam.

“Menangislah, walaupun aku tidak tahu mengapa kau menangis. Seharusnya kau berterima kasih padaku.” ucap Taecyeon tanpa balasan dari Suzy. Taecyeon tidak melepas pelukannya sampai Suzy mulai merasa air matanya berhenti mengalir dan ia melepaskan diri dari pelukan Taecyeon.

“Maaf, aku tidak tahu harus kumulai dari mana. Perasaanku benar-benar campur aduk. Jujur, sebagian dari diriku benar-benar tidak rela jika kau pergi, karena aku pasti merasa kehilangan. Tetapi sebagian lagi menginginkan kau pergi, agar aku bisa melihatmu menjadi pianist sukses. Dan sekarang, kau mainkan lagu ciptaanmu untukku. Aku senang, tetapi aku kembali sedih karena aku ingat kalau kau akan pergi jauh dalam waktu yang lama.” Suzy menjelaskan secara singkat tentang perasaannya saat itu. Taecyeon tersenyum kecil.

“Intinya?”

“Entahlah, aku tidak tahu.”

“Jawab saja. Aku tidak akan menertawaimu.”

“Baiklah… Aku menyukaimu.”

“Mwo?”

“Aku menyukaimu.”

“Mwo?”

“Bukan apa-apa. Sudahlah, aku mau pulang saja.” ucap Suzy sedikit kesal. Ia sekarang merasa benar-benar bodoh akan ucapan yang baru saja ia lontarkan. Tidak seharusnya ia berkata begitu kepada Taecyeon. Taecyeon pasti akan menganggapnya sebagai lelucon. Tangannya menghapus air matanya yang tersisa di pipinya dengan gusar dan ia buru-buru berbalik badan pergi meninggalkan Taecyeon. Tetapi, Taecyeon menarik tangannya dan langsung mencium bibir mungil Suzy.

“Aku juga menyukaimu. Nado saranghaeyo~..” ucap Taecyeon setelah mencium Suzy. Raut wajah Suzy langsung berubah. Wajahnya memerah dan ia tidak dapat berkata apa-apa.

“Ucapkanlah sesuatu, Suzy-ah!” Taecyeon tidak sabar sendiri dengan tingkah Suzy yang hanya diam saja seperti patung. Taecyeon sesaat ingin marah, namun ia mengendalikannya, mengingat ia baru saja melakukan sesuatu yang mungkin mengejutkan bagi Suzy.

“Baiklah, jika kau memang tidak mau bilang apa-apa. Aku mengerti.” ucap Taecyeon dengan lembut. Sesaat, keduanya sama-sama kembali dalam kebisuan. Suara-suara penonton perlahan-lahan tidak lagi terdengar. Dan sepertinya hanya tersisa mereka berdua disana. Semua peserta konser pasti sibuk berfoto ria, terutama mereka yang memenangkan beasiswa.

“Bae Suzy…” Taecyeon memecah kebisuan, bersuara lirih memanggil sosok dihadapannya.

Suzy yang sedari tadi menunduk, mengangkat kepalanya perlahan, “Ne?”

Taecyeon berdeham pelan, “Maukah kau, jadi pacarku?”

Suzy tidak menjawab Taecyeon, tetapi langsung menatap mata Taecyeon lekat-lekat. Matanya yang terlihat sedikit sembab akibat menangis tadi sedikit membesar.

“Kenapa kau memperhatikanku seperti itu? Apa aku salah mengutarakan perasaanku?” tanya Taecyeon dengan sedikit malu. Kali ini giliran dia yang mengutuk dirinya sendiri atas ucapannya barusan.

“Tidak. Tidak ada yang salah darimu. Aku bahkan tidak tahu harus menyalahkanmu darimana untuk semua perbuatan yang kau lakukan barusan. Hanya saja… Aku sedikit tidak percaya dengan apa yang baru saja kualami dan kuucapkan. Seperti mimpi…” jawab Suzy panjang lebar.

“Jadi, kau mau atau tidak? Dapatkah kau menjawabnya saat ini?” tanya Taecyeon kembali. Suzy tersenyum jahil.

“Menurutmu? Setelah aku menangis bukan tersenyum bangga akan lagu ciptaanmu…” jawab Suzy menggantung.

“Kau, mau?”

Suzy langsung memeluk Taecyeon dengan sedikit berjingkat, karena tetap saja walaupun ia memakai sepatu hak tinggi, ia tidak dapat menggapai leher Taecyeon.

“Tentu saja aku mau, Taecyeon oppa.” jawab Suzy berbisik di telinga kiri Taecyeon. Senyum benar-benar mengembang diwajahnya. Taecyeon langsung memeluk Suzy dengan erat, mengangkatnya dan memutarnya.

“Pelan-pelan Taecyeon-ah!” teriak Suzy ketika ia diputar oleh Taecyeon. Taecyeon langsung saja menurunkan Suzy dan melepaskannya dari pelukannya.

“Maafkan aku, ada yang sakit?” tanya Taecyeon lembut. Wajahnya menggambarkan sedikit kecemasan, takut saja kalau hanya karena ia terlalu bahagia ia harus menyakiti pacar barunya itu.

“Tidak. Jangan kau pasang wajah seperti itu, Taecyeon-ah!” jawab Suzy sambil tertawa geli melihat wajah Taecyeon yang terlihat benar-benar cemas. “Aku tidak apa-apa. Percayalah.” sambung Suzy sambil tersenyum.

Dan tiba-tiba, seseorang yang daritadi memperhatikan mereka berdua, membuka suara seraya keluar dari tempat persembunyiannya, “Maafkan aku sebelumnya, aku tidak bermaksud untuk mencari tahu apa yang kalian telah lakukan disini. Awalnya aku hanya ingin memanggil kalian, tetapi…”

Taecyeon buru-buru merangkul dan membekap mulut sahabatnya yang baru keluar dari balik Grand Piano yang masih berada diatas panggung.

“Sejak kapan kau ada disitu, Junho-ah?” tanya Taecyeon menginterogasi. Wajahnya memerah.

“Sejak kau mencium pacarmu. Aku sengaja menerobos tirai agar lebih mudah memanggilmu. Tapi… Tidak kusangka….” jawaban Junho terpotong, lagi-lagi Taecyeon membekap mulut sahabatnya itu.

“Tsk. Kau! Pelan-pelan kalau bicara.”

Suzy terkekeh pelan. Ia geli melihat tingkah Taecyeon yang malu dengan sahabatnya sendiri.

“Taecyeon-ah, lepaskanlah. Kau tidak malu dengan pacar barumu? Sudah punya pacar masih saja bertingkah seperti anak kecil..” ucap Junho setelah Taecyeon melepaskan bekapannya dari mulutnya.

Taecyeon buru-buru melepas rangkulannya itu. Junho membenarkan jas nya yang sedikit kusut.

“Jadi, sekarang, temanku sudah resmi dengan Suzy? Aku hanya berharap agar kalian tidak menciptakan perang dunia ketiga hanya karena kalian sama-sama keras kepala.” celetuk Junho jahil.

Taecyeon menjitak pelan kepala sahabatnya dan langsung menggandeng tangan Suzy dan meninggalkan Junho yang masih mengelus-elus kepalanya. Tidak lama kemudian, Junho pun berlari menghampiri sahabatnya lalu merangkulnya di sisi Taecyeon yang masih kosong. Dan mereka pun berjalan bertiga keluar dari ruangan aula sekolah mereka.

***

Bagaimana? Sesuai dengan harapan kalian kah lanjutan dari FF ini? Jangan lupa komentar yah hehehe… Tapi merasa ada yang janggal? Taeczy udah happy ending tapi belum ada kata-kata The End di cerita ini… ^^ keep stay tune yah!😀