Absolute Music and Art –Sketch.3

Hwang Dain story…

From: Byunghee oppa

Tunggu aku di taman gedung musik, ada sesuatu yang ingin kubicarakan.

“Astaga….. jangan bilang kalau kemarin ia melihatku berpelukan dengan Joon sunbae dan dia tidak menyukainya.” Keluhku berkali-kali. Soalnya kalau oppa sudah mengatakan hal seperti itu, bisa dibawa panjang masalahnya. Dia tidak bisa berhenti mengomel seperti ahjumma kalau sudah menyangkut namja untukku, tapi di satu sisi aku merasa senang bisa diperhatikan seperti itu.
Tiba-tiba ada dua pesan lagi di HPku..

From: Joon sunbaenim

Mau kuantar pulang atau tidak? Kuliahmu sudah selesai kan?

From: Seungho oppa

Kujemput ya? setelah itu temani aku bermain piano di rumah. Mau yayaya??

“Aku sangat yakin kau cukup sibuk sebagai mahasiswi seni lukis. Tapi kenapa kau sempat membalas pesan-pesan itu dibandingkan dengan pesan dariku?”
Aku terkesiap melihat Nana dan Hyori yang ada di belakangku dengan ekspresi wajah yang cemberut, “Kau marah ya pada kami?”
Aku menggeleng cepat, “Tidak kok… aku memang jarang membalas pesan-pesan yang masuk. Maaf ya, hehehehe.”
“Kojimalia~” ucap Nana tak percaya, “Lalu kenapa kau terkesan menjauhi kami?”
Aku menghela napas karena mulai kesal dengan pertanyaan-pertanyaan yang dilontarkan Hyori yang terkesan memojokanku, “Ah jinjja, aku tidak marah pada kalian oke? Jadi berhenti bertanya atau aku akan benar-benar marah pada kalian.”
“Terus……… kamu mau kemana?” tanya Nana mengantisipasi, “Kita pergi bersama ya?”
“Aku mau ke taman music menemui Byunghee oppa, kau mau ikut?” tanyaku. “Cheolyong oppa kemana?”
“Dia dan Cheondung oppa sedang di kantin. Maaf ya aku tidak bisa ikut,” jawab Hyori. “Aku harus menemani oppa disana, tidak apa-apa kan?”
Aku memandangi Hyori dengan wajah yang bingung, “Terserah kau saja. Yang jelas aku akan pergi sekarang.”
Saat aku berbalik, tiba-tiba ada sesuatu yang keras menabrakku sehingga dahiku memerah. “Aduh…. Appunde~ oh Byunghee oppa?”
Aku melihat oppaku bersama dengan seorang yeoja yang……… sepertinya pernah kutemui sebelumnya. Tapi… siapa ya?
Yeoja itu membungkuk sopan, “Annyeonghaseo… kamu dongsaengnya Byunghee oppa ya? kenalkan, aku Shin Hyoni. Yeoja chingunya Byunghee oppa??”
What?? Aku tidak salah dengar kan??? Yeoja chingunya oppa??? Oh my god, aku pasti sedang bermimpi~~

…..

“Oh……… jadi waktu itu kalian pernah bertabrakan di gedung music? Hahahahaha kebetulan sekali ya?” ujar Byunghee oppa sambil memandangi kami berdua yang… sepertinya masih kaku terhadap satu sama lain. Bagaimana aku tidak merasa canggung terhadapnya? aku hampir saja membenci yeoja ini habis-habisan karena Seungho oppa memanggilnya sebagai ‘orang kepercayaan’ nya yang membuatku cemburu buta hingga aku melakukan hal ceroboh seperti membalikkan hasil lukisanku ke lantai. Lukisan wajah Seungho oppa.
“Jadi………… kamu ya yang oppa bilang mempunyai ‘tangan magis’?” tanya Hyoni dengan sopan, “Tak kusangka kau juga dekat dengan tetanggaku, Seungho oppa. Kalian pernah kerumahnya bersama kan?”
Aku menelan ludah saat Byunghee oppa menatapiku seperti mangsanya setelah mendengar pertanyaan dari Hyoni. Matanya seperti berkata ‘Ah jeongmaliya? Buat apa kau kesana? Kau melakukan sesuatu yang berbahaya kah?’ yah…. Semacam itu lah -_-
“Rumah kalian pasti sangat dekat ya? ahahahahaha~” jawabku canggung, “Nee waktu itu ia mengajakku untuk berkenalan dengan orangtua dan dongsaengnya. “
Byunghee oppa mengangguk, “Aku tak menyangka kamu sudah sedekat itu dengan Seungho. Lalu…. Bagaimana dengan hubungan kalian berdua?”
Hem, ige mwoya? Kenapa dia menanyakan hal yang tidak penting seperti itu sih? “Hubungan kami ya hanya sunbaenim dan hoobaenya. Oh iya, kami juga sering pergi dan menghabiskan waktu bersama.”
Lagi-lagi Byunghee oppa dan Hyoni mengangguk bersamaan seperti robot, membuat suasana semakin kaku saja~
Tiba-tiba ada pesan masuk ke HPku..

From: Nana

Dain-sshi…. kita butuh bicara sekarang.

“Em……….. ada sesuatu yang sedang kau pikirkan?” kata Hyoni yang memecahkan lamunanku saat membaca pesan dari Nana, “Apa…. Ada yang bisa kami bantu?”
Aku menggeleng geleng, “Ah aniiyo…. Nana hanya ingin bicara denganku sebentar, jadi… aku pamit duluan ya.”
Setelah pergi dari dua pasangan itu, tiba-tiba ada satu pesan lagi.

From: Joon sunbaenim

Jadi kuantar pulang tidak?

“Ahhhh michigetta~!!” ucapku kesal, “Kenapa semua orang sekarang mencariku terus sih?! Tidak Joon sunbae, Seungho oppa, Nana. Lama kelamaan dosen juga bakal mencariku lagi?!”
BRUK! Tiba-tiba seseorang menabrakku saat kami berada di persimpangan jalan. “Ah appuda~!! Kenapa sih hari banyak banyak yang menubruk…. Loh Cheolyong oppa?”
“Dain-sshi! syukurlah aku segera menemuimu!” ujar Cheolyong oppa sambil mengelus dahinya yang terbentur oleh dahiku, “Nana mencarimu, ppaliyo… kita harus segera kesana!”
Cheolyong oppa menarik tanganku dan mengajakku berlari, “Oppa ada apa sih?! Apa yang terjadi dengan Nana?!”
“Sebenarnya bukan dia, tapi Hyori-sshi!!” jawab Cheolyong oppa, “Ia bertengkar dengan Sanghyun hyung dan mereka berdua putus!”

~~~~~

Lee Joon story…

Kenapa Dain tidak membalas pesanku ya?
“Changsun… kau sedang apa dikamar? Jangan tidur terus, cepat mandi dan cuci bajumu!!” panggil umma dari dapur, “Sudah berapa hari kamu tidak mandi heuh?!”
Aku melonjak dari tempat tidurku, “Eish aku mandi kok setiap hari, umma enak saja kalau bicara!”
Aku keluar dari kamar dan segera mengambil handuk dari kamar mandi. Kutengok punggung umma yang sedang sibuk sendirian di dapur, rasanya…. Aku senang bisa bersama dengannya seminggu ini. Setelah beberapa bulan aku tinggal di kontrakkan sendirian dan harus memasak sendiri.
“Yak Changsun-ah, kenapa bengong begitu sih bukannya mandi??” tanya umma sambil berkacak pinggang, “Memangnya kau tidak pernah melihat ummamu ini memasak ya??”
Aku terkesiap melihat kelakuan ummaku…. Kenapa mirip dengan…. Yeoja itu ya?

Dengar, yang boleh mengataiku babo hanya Byunghee oppa, orang tuaku, chinguku, dan pacar-pacar chinguku. Kau hanya sunbaenimku dan kau tidak berhak mengataiku babo. Arrajie?!

Jantungku berdebar mengingat anak itu menampar pipiku dan mengatakan hal seperti itu, padahal….. waktu itu aku belum mengenalnya sama sekali.
“Yak yak yak!! Dengar tidak sih??” umma kini sudah ada di depanku dengan wajah yang bingung, “Kenapa wajahmu kelihatan sedih seperti itu?”
Aku tertawa sambil menggelengkan kepala, “Aniiyo umma…. Melihatmu mengomel jadi teringat seorang yeoja yang ingin sekali kukenalkan padamu.”
“Oh ya, siapa yeoja itu? Kekasihmu?” tembak ummaku tanpa basa basi. Aku langsung menggeleng dengan wajah yang panas…. Astaga kenapa aku bersikap seperti ini sih?!
“Bukan umma… dia hoobaeku. Tangannya bisa membuat sebuah sketsa menjadi nyata, kau lihat lukisan yang ada di kamarku? Itu dia yang membuatnya.”
Ummaku cukup terkejut mendengar ucapanku barusan, “Jinjjaeyo?? Aku pikir kau menyewa seorang pelukis dan membuang uangmu untuk membayarnya. Ternyata.. itu buatan hoobaemu.”
“Nee. Dia terlihat sederhana dari penampilannya, tapi umma tahu? Kedua orang tuanya adalah pemain biola dan violin yang sangat terkenal~!” ujarku memujinya, “Tapi entah kenapa… dia mendapat bakat kakeknya yang sangat berbakat di seni lukis. Dan dia menyukai namja yang….. mahir bermain piano..”
Umma mengangguk angguk, “Sepertinya dia yang cukup menarik untuk diajak berbincang, tapi…. Kenapa kau tidak segera mandi sih?! Yak.. kau ingin membuatku marah hah? Aigoooo!!! Aku lupa masakan di dapur, omo omo omo~!!!” dia menggebuk kepalaku dan langsung pergi ke dapur dengan cepat. Hingga aku masih tak percaya kalau ia telah memukulku barusan.
Aku berjalan menuju kamar mandi sambil masih memikirkan yeoja itu, yeoja yang… tidak membalas pesanku hari ini.
“Apa dia marah padaku ya?” gumamku sambil memainkan air yang ada di bak, “Ah nanti kususul saja deh di kampus, semoga saja dia masih ada disana.”
Hwang Dain… kenapa aku tak bisa berhenti memikirkanmu sejak kau memelukku di aula waktu itu? Dan tiap mengingatnya… jantungku berlari kencang tanpa bisa kukejar..
Aku tahu kau tak menyukaiku….. tapi, bagaimana caranya agar bisa membuatmu mengerti…
Bahwa aku menyukaimu?

~~~~~

Hwang Dain story….

“appeun namja!! Appeun namja!!” teriak Hyori histeris, “Beraninya kau memutuskan aku gara-gara kejadian semalam. Maksudmu apa oppa?!”
Aku terenyuh melihat Cheondung oppa yang wajahnya penuh dengan luka tamparan dan lengan-lengan yang membiru bekas dipukuli, Hyori sudah keterlaluan.
“Aku tidak bisa menerima semua ini Hyori, bahkan Cheolyong juga mengatakannya padaku!” bela Cheondung oppa, “Ia bilang kau mencium namja itu di klub!”
Nana yang duduk memojok terlihat gemetaran, aku dan Cheolyong oppa segera menghampirinya.
“Apa yang terjadi Nana-sshi?? kenapa mereka bisa bertengkar parah seperti itu??” tanyaku pada Nana
“Oppa bilang kepada Cheondung oppa kalau kemarin…. Kami melihat Hyori pergi ke klub bersama seorang pria dan namja itu menciumnya~” ungkap Nana mulai menangis, “Aku tidak bisa melakukan apa-apa, aku tidak bisa membela Hyori maupun Cheondung oppa. Uhuhuhu~~”
Aku memutar otakku untuk mengakhiri keributan mereka berdua, “Oppa, kau punya fotonya? Boleh aku minta?”
Cheolyong oppa mengambil HPnya dan memberikannya padaku, “Nih bawa saja, yang penting keributan ini disudahi.”
Aku memadang layar HP lurus-lurus… memang foto ini seperti Hyori. Oppa tidak berbohong.
“Jangan memaki aku seolah aku appeun namja, kau lah yang appeun!!” Cheondung oppa balas berteriak sambil mengelus pipinya, “Pantas saja kemarin malam kau tidak mengijinkan aku ke rumahmu, ternyata kau pergi dengan namja itu. Apa dia lebih tampan dariku, apa dia lebih kaya dariku?!”
“Gomanhaja,” aku menutup mulut Cheondung oppa dan menghadapi Hyori, “Semua itu benar kan Hyori? Kau tak bisa mengelak lagi, Cheolyong oppa berhasil mengambil fotomu dengan namja itu.”
Aku menunjukkaan foto di HP itu kepada Hyori dan benar saja, wajahnya langsung merah padam dan… bicaranya menjadi terbata bata, “Jujur saja ya, dia adalah namja yang dijodohkan oleh orang tuaku! awalnya aku tidak berminat, tapi…. Dia memperhatikanku lebih dari Cheondung oppa~!! Jadi aku memanfaatkannya dan….”
PLAK!! Aku tak tahan lagi mendengar perkataan Hyori sehingga aku menamparnya, “Yang appeun itu kau Hyori, bahkan kau belum dewasa untuk menentukan masa depanmu. Cheondung oppa tak pantas mempertahankanmu.”
“Kau!!” jerit hyori sambil memegangi pipinya, “Kalian bukan lagi temanku! Kalian semua jahat padaku!”
Hyori berlari sambil membawa tas nya dengan gusar. Aku yang masih bisa melihat punggungnya hanya bisa berteriak, “Semoga berbahagia dengan namja barumu! Dan….. semoga kau bisa dapat teman yang lebih baik dari kami!!”
Aku berbalik dan melihat Cheondung oppa yang jatuh lemas, matanya berkaca-kaca. “Aku tak percaya….. 2 tahun dipatahkan dengan satu malam, menyedihkan.”
Aku menepuk nepuk pundak Cheondung oppa penuh simpati, sementara Nana dan Cheolyong oppa menghampiri kami berdua dengan wajah khawatir.
“Dain… kau baik-baik saja? Sepertinya kau agak terguncang setelah mendengar perkataan Hyori barusan.” Ucap Nana sedih. Aku mengangguk, memang aku terpukul dengan perkataannya. Sudah 2 semester kami lalui bertiga dan…. Persahabatan kami berakhir karena kebodohan besar ini.
Dari jauh aku melihat Seungho oppa yang berdiri memandangi kami berempat. Aku tak tahu lagi harus berkata apa, aku…. Ingin segera menemuinya.
“Nana… aku pulang duluan,” pamitku sambil berjalan kea rah Seungho oppa. Ia tersenyum pahit sambil menarik pelan pundakku.
“Kau adalah yeoja yang mementingkan persahabatan dibanding segalanya, pasti hatimu sangat terluka.”
Aku memeluk Seungho oppa dan menangis pelan-pelan. Kau benar sekali oppa, perasaanku sakit sekali…