Title            : Siblings

Author        : oleelxschein

Length        : One Shot

Genre         : Romance, Family, AU

Cast            : Yura (Girls Day)

Ki Bum (Allen Kim)

Disclaim     : own plot🙂. Annyeong, ini FF sebenernya ini udah lama aku tulis, latar belakangnya juga pas KiBum masih jadi anggota UKiss (lama beud yah =_=”). Happy reading^^

————————————————————————————————————

 

Aku dirumah sendirian. Hyungjun Hyung sedang pergi syuting, Appa dan omma juga sedang pergi ke jepang mengurus bisnis. Hanya aku dan choco sendirian… belum lagi hujan deras membuatku tidak bias pergi kemana-mana. Hah kasiannya…

Tiba-tiba ada suara bel berbunyi. Aku bergegas membukanya, mungkin saja Kevin atau xander hyung yang mau main. Tapi……

Aku melihat seorang gadis yang berdiri di sana. Gadis berambut panjang ikal yang sedang menatapku datar. Aku melemparinya dengan pandangan bingung.

“Tumben kau pulang kemari… masih inget rumah ternyata!” ejekku padanya. Seperti biasa, sapaan yang tidak bersahabat disambut dengan lengkingan suaranya yang membuatku sebenarnya ingin tertawa ketimbang marah. Tapi ada yang aneh, gadis itu hanya diam berdiri di depan pintu saja. Biasanya kan dia akan langsung berteriak-teriak protes padaku.

“Wae???” tanyaku, namun dia sama sekali tidak beraksi hanya diam dan menatapku datar.

“YAA!!” teriakku dan dia masih diam saja. “Kau kenapa Yura…?” aku menjadi panik, kupegang pipinya “Badanmu dingin, masuklah..” dan menarik tangannya ke dalam rumah. Tapi, Yura masih tak berkespresi. begitu.

“Kau…..” aku mulai kehilangan kata-kata. “berhentilah beriskap seperti itu…kau membuatku khwatir…….”

Yura menoleh kearahku sambil terus terdiam.

“Ada apa?” tanyaku lagi, mencoba membujuknya.

Yura menggeleng

“Ah, kau ini!” decakku sambil duduk di sampingnya. “Sekarang aku akan menjadi oppamu yang baik, coba katakan kau kenapa?”

Yura masih diam dan menggelengkan kepalanya,

“Baiklah. Kalau begitu bagaimana kalau aku jadi hyungjun hyung..ehm.. dongsaenga….waegurae?” kataku sambil meniru gaya hyungjun hyung untuk membuat Yura tertawa atau paling tidak dia tersenyum.. tapi gagal.

“Sudahah..aku emang tidak bakat jadi oppamu!” desahku, Harus ku apakan anak ini. Jangan-jangan dia kena masalah lalu tidak ada tempat cerita lagi, atau dia habis terbentur atau habis ketabrak mobil. Ah tidak mungkin.. hah berhenti berfikir bodoh kibum! cobalah untuk membuatnya nyaman sekarang

Aku menaruh tanganku di kepalanya, setidaknya kalaupun aku tidak bisa membuatnya tertawa aku bisa sedikit menghiburnya.. “Kau mau jadi apa agar kau bias cerita? He?”

Yura menunduk dan diam. Aku jadi semakin bingung, kenapa gadis ini?? Haduuuh… ribet banget dah. Aku  menepuk pundak Yura pelan.

“Soohyun hyung, ya kan??” kataku padanya. Hah apalagi kalau bukan masalah namja itu? Akjir-akir ini Yura selalu dibuat sedih sama namja itu… “sudah kubilang jangan pacaran dengan dia… dia…hanya akan membuatmu terluka….” Kataku duduk di depannya.

“Bukan….” Lirih Yura

“lalu kenapa?”

Yura menggeleng lagi. “bukan karena siapapun…hanya perasaanku saja yang tiak enak..” katanya.

Hanya perasaanku saja…. Kenapa setiap melihatnya begini tiba-tiba aku jadi kesal sendiri. Aku kesal karena aku hanya bisa diam… aku ingin mengobati lukanya.. tapi siapa aku?

Aku hanya seorang ’oppa’ yang entahlah… bahkan aku sendiri tidak tahu harus berbuat apa kalau menjadi seorang kakaknya… tapi aku terus berusaha agar perasaanku ini menjadi hanya…perasaan sebagai kakaknya…

Dua tahun yang lalu, Appa dan Ommaku membawa Yura ke rumah. Dia di adopsi oleh keluarga kami karena orangtuanya yang merupakan sahabat Appa dan ommaku, karena orang tuanya mengalami kecelakaan. Dan seperti sekarang yang kau lihat, aku adalah kakaknya… dan aku tidak punya hubungan darah dengannya. Dan saat pertama kali dia datang ke rumah ini, akupun telah memiliki suatu perasaan padanya, namun aku tetap saja aku hanya ‘oppa’ baginya. Tapi………… entahlah…… aku tidak tahu….

Aku tidak bias bersikap seperti kakak, melihatnya sedih apalagi kalau dia sampai terluka gara-gara namja, aku ingin mengambilnya kembali… walau tidak mungkin. dia sudah terlanjur cinta mati pada pria itu.

Lalu bagaimana denganku? Haruskah aku berpura-pura mejadi kakaknya sementara dalam hatiku berteriak perasaan yang lain? Yuran-ah… bisa tolong kau hentikan perasaan ini?

Terus terang aku bingung. Apa yang aku suka dari gadis ini? Dia tidak cantik. Apalagi pintar apalagi berkarisma…hah sama sekali tidak. Malah menurutku JiHae, Minah atau Hyeri jauh lebih menarik darinya. Sungguh, tidak ada satu kriteriaku yang merujuk padanya. Tapi entah kenapa dadaku jadi sesak begini…. Sial…. Sebenarnya apa yang aku suka dari dirinya?

 

xxx

“Kibum…” lirihnya padaku

“Kibuuum!!” kali ini dia setengah berteriak padaku.

Aku masih melamun sampai yura meneriaki namaku lagi, aku menghela nafas sekarang dan  menoleh dengan tatapan terganggu, sebenarnya bukan karena tingkahnya yang hobby berteriak padaku namun karena aku bingung sebenarnya, dia menganggapku siapanya. “Jangan panggil namaku, akukan oppamu. Sebut aku oppa..”

“sihreo”

Aku terdiam sambil menghela nafasku lagi. Nahkan ya, bagaimana aku bisa bersikap menjadi kakak kalau dia juga tidak menginginkanku menjadi kakaknya. Dan aku tidak pernah tahu sebenarnya dia menginginkanu menjadi siapanya? Ini menyebalakn.. hatiku seperti bidak catur yang seenaknya dipermainkan oleh gadis ini.

“Apalagi sih?” kataku ketus padanya, Selain aku sedang kesal karena perasaan aneh ini, sikapku yang jutek ini untuk menutupi perasaanku padanya.

“Boleh minta tolong?”

“Apalagi?”

“Temani keluar sebentar”

“Mau kemana malam-malam begini?”

“Entahlah, aku… hanya ingin keluar”

“Tidak bisa besok?’

“Tidak bisa!”

Aku menghela nafas dan mengiyakan perkatannya, “Baiklah, tunggu disini kukeluarkan mobinya!”

“Tunggu!” sergahnya. Aku berbalik  “Bisa kita pergi jalan kaki atau bersepeda?” katanya kemudian.

Aku kaget mendengar perkataannya, “Kau mau aku memboncengmu, hah yang benar saja?” protesku. Sebenarnya sih aku senang-senang saja, tapi aku hanya terkejut.

“Kau tidak mau? baiklah aku pergi sendirian saja..” katanya sambil berjalan keluar rumah.

Dan aku membeku ditempat aku berada. Nah, sifat egonya itu yang aku benci. Tapi kenapa aku tidak bias menolaknya. Kenapa seluruh permintaannnya seperti sbuah perintah  untukku. Aku menutup laptopoku, mengambil jaket dan berlari mengejarnya.

“Kau mau mati kedinginan he? Pakai jaketmu!” kataku sambil menaruh jaket itu diatas kepalanya.

Dia hanya menatapku. Aduh aku paling tidak tahan dengan tatapannya.. ingin sekali aku menculiknya dan menjadikannya hanya milikku, dan itu hanya terjadi kalau aku sudah gila.

Aku lebih suka menemaninya, bertengkar dengannya, lalu berbaikan, kemudian bertengkar lagi. Atau melihatnya tertawa karena leluconku. Aku lebih suka dia begitu… walau hanya begitu…

Aku mengambil sepeda dan mulai mengayuhnya. Kebiasannya selalu tidak mau pegangan saat dibonceng membuatku cukup tidak tenang. Dia terlalu ringan sampai aku tidak merasa memboncengnya. Nanti kalau dia jatuh dan aku tidak tahu. Bahayakan?

Tapi kali ini tiba-iba saja punggungku menghangat, aku menoleh kearah belakang sekilas dan melihat yura bersandar ke punggungku, tangannya pun memeluk pinggangku. Terus terang aku hampir kehilangan fokus untuk bersepeda karena kaget dan gugup.

Kemudian dengan lirih dia berkata “Oppa, kenapa langit begitu gelap. Kenapa aku tidak melihat bintang sama sekali…… jadi… apa aku boleh melihatmu? Kali ini saja?”

Aku menghentikan sepedaku secara refleks. Apa yang dia katakannya, Oppa…??? Aku menokeh ke arahnya. Dan kulihat dia sedang menunduk dan menangis.

Akhirnya kau menyebutku oppa juga. Aku tersenyum melihatnya, entah ini senyuman sedih karena ternyata dia hanya mengaggapku oppa, atau aku tersenyum karena lega, setidaknya aku sudah tahu peraasaannya. Oke, karena itu biarkan aku jadi oppamu yang baik. Naui sarangi dongsaeng..

“kau boleh menangis. Tapi kau tidak boleh menyerah.. apapaun masalahnya pasti ada pemecahannya. Jangan pernah merasa jatuh, oke. Cheer up not bad” Aku mengatakannya sambil membelai rambutnya, lalu kembali mengayuh sepedaku… dan aku baru sadar akan sesuatu sekarang, aku tersebum bukan karena dua hal tadi, bukan karena lega akan perasaanku, aku tersenyum karena aku sadar Yura pada akhirnya bisa menangis dan aku ada di sini untuk menemaninya.

Akhirnya kami duduk di taman. Kita bias melihat bintang di sini. Di bukit kecil ini.

“kupikir bintang itu memang seperti dirimu Yura ah.. selalu bersinar walau gelap, jangan pernah kalah dengan kegelapan Yura. Aku selalu ada disini.. disampingmu, walaupun kau tidak tahu” benakku sambil memandangi dirinya yang sedang menyandarkan kepalanya di pundakku sambil memejamkan matanya. Mungkin… aku tahu alasan kenapa aku menyukainya. Karena dia adalah dongsaeng termanis yang pernah ada. Cheer up my dongsaeng.

 

Beberapa hari selanjutnya

UkissSteakHouse

“Wawawawaa akhirnya kesampaian juga makan di ukissteakhouse..” kata Yura sambil memakan tunanya dengan riang. Dia datang setelah omma menelponnya dan menyuruhnya untuk dating kemari juga. Akhirnya dia jadi makan bersama omma, dan ommanya Kevin. Dan dia pelanggan paling brisik yang pernah ada. Apalagi dari tadi karena ada dia anggota UKiss jadi sering mampir ke bangkunya dan mengobrol. Apalagi Soohyun hyung dari tadi pamer kalau bisa jadi cheef.

“Aku liat episode yg nakji aja udah ngiler-ngiler… dan ternyata enak baget rasanya! >w<!! kevin-ah… nan joasseo.. enaaak.. jinjja mashida” katanya dengan penuh semangat.

“Kau tidak memujiku, yura ah?” protes soohyun hyung

Yura tersenyum sekilas dan detik kemudian dia berekspresi dingin, “TIDAK!”

“Yuraaaa mianhaeee T^T “ ujar soohyun hyung memelas sekarang

“Dia sudah sembuh” batinku, “dan soohyun hyung pantas mendapatkannya, bagus yura –ah”

“Ya! dari tadi ngliat Yura mulu sih!” kata xander hyung padaku. Lalu dia duduk di sebelah Yura “Yura-ah, tau g sih… kita punya nama baru buat dia.. namanya the blackhole….” Kata xander hyung sambil tertawa-tawa

“Apa? blackhole? hahaha” kali ini giliran Yura yang tertawa

“Ya! Ya! Ya! Geuman..”

“Nggak apa, lagi pantes!Joa!” kata Yura sambil menepuk-nepuk pundakku.

Aku menarik nafas dalam-dalam, Yura yang lama telah kembali, dan dia sama sekali tidak manis. Kutarik omonganku, dia sama sekali bukan dongsaeng yg manis…… huh! Awas saja…  I’m in the line between love and war again! Hehehe…

Title            : Siblings

Author        : oleelxschein

Length        : One Shot

Genre         : Romance, Family, AU

Cast            : Yura (Girls Day)

Ki Bum (Allen Kim)

Disclaim     : own plot🙂. Annyeong, ini FF sebenernya ini udah lama aku tulis, latar belakangnya juga pas KiBum masih jadi anggota UKiss (lama beud yah =_=”). Happy reading^^

————————————————————————————————————

 

Aku dirumah sendirian. Hyungjun Hyung sedang pergi syuting, Appa dan omma juga sedang pergi ke jepang mengurus bisnis. Hanya aku dan choco sendirian… belum lagi hujan deras membuatku tidak bias pergi kemana-mana. Hah kasiannya…

Tiba-tiba ada suara bel berbunyi. Aku bergegas membukanya, mungkin saja Kevin atau xander hyung yang mau main. Tapi……

Aku melihat seorang gadis yang berdiri di sana. Gadis berambut panjang ikal yang sedang menatapku datar. Aku melemparinya dengan pandangan bingung.

“Tumben kau pulang kemari… masih inget rumah ternyata!” ejekku padanya. Seperti biasa, sapaan yang tidak bersahabat disambut dengan lengkingan suaranya yang membuatku sebenarnya ingin tertawa ketimbang marah. Tapi ada yang aneh, gadis itu hanya diam berdiri di depan pintu saja. Biasanya kan dia akan langsung berteriak-teriak protes padaku.

“Wae???” tanyaku, namun dia sama sekali tidak beraksi hanya diam dan menatapku datar.

“YAA!!” teriakku dan dia masih diam saja. “Kau kenapa Yura…?” aku menjadi panik, kupegang pipinya “Badanmu dingin, masuklah..” dan menarik tangannya ke dalam rumah. Tapi, Yura masih tak berkespresi. begitu.

“Kau…..” aku mulai kehilangan kata-kata. “berhentilah beriskap seperti itu…kau membuatku khwatir…….”

Yura menoleh kearahku sambil terus terdiam.

“Ada apa?” tanyaku lagi, mencoba membujuknya.

Yura menggeleng

“Ah, kau ini!” decakku sambil duduk di sampingnya. “Sekarang aku akan menjadi oppamu yang baik, coba katakan kau kenapa?”

Yura masih diam dan menggelengkan kepalanya,

“Baiklah. Kalau begitu bagaimana kalau aku jadi hyungjun hyung..ehm.. dongsaenga….waegurae?” kataku sambil meniru gaya hyungjun hyung untuk membuat Yura tertawa atau paling tidak dia tersenyum.. tapi gagal.

“Sudahah..aku emang tidak bakat jadi oppamu!” desahku, Harus ku apakan anak ini. Jangan-jangan dia kena masalah lalu tidak ada tempat cerita lagi, atau dia habis terbentur atau habis ketabrak mobil. Ah tidak mungkin.. hah berhenti berfikir bodoh kibum! cobalah untuk membuatnya nyaman sekarang

Aku menaruh tanganku di kepalanya, setidaknya kalaupun aku tidak bisa membuatnya tertawa aku bisa sedikit menghiburnya.. “Kau mau jadi apa agar kau bias cerita? He?”

Yura menunduk dan diam. Aku jadi semakin bingung, kenapa gadis ini?? Haduuuh… ribet banget dah. Aku  menepuk pundak Yura pelan.

“Soohyun hyung, ya kan??” kataku padanya. Hah apalagi kalau bukan masalah namja itu? Akjir-akir ini Yura selalu dibuat sedih sama namja itu… “sudah kubilang jangan pacaran dengan dia… dia…hanya akan membuatmu terluka….” Kataku duduk di depannya.

“Bukan….” Lirih Yura

“lalu kenapa?”

Yura menggeleng lagi. “bukan karena siapapun…hanya perasaanku saja yang tiak enak..” katanya.

Hanya perasaanku saja…. Kenapa setiap melihatnya begini tiba-tiba aku jadi kesal sendiri. Aku kesal karena aku hanya bisa diam… aku ingin mengobati lukanya.. tapi siapa aku?

Aku hanya seorang ’oppa’ yang entahlah… bahkan aku sendiri tidak tahu harus berbuat apa kalau menjadi seorang kakaknya… tapi aku terus berusaha agar perasaanku ini menjadi hanya…perasaan sebagai kakaknya…

Dua tahun yang lalu, Appa dan Ommaku membawa Yura ke rumah. Dia di adopsi oleh keluarga kami karena orangtuanya yang merupakan sahabat Appa dan ommaku, karena orang tuanya mengalami kecelakaan. Dan seperti sekarang yang kau lihat, aku adalah kakaknya… dan aku tidak punya hubungan darah dengannya. Dan saat pertama kali dia datang ke rumah ini, akupun telah memiliki suatu perasaan padanya, namun aku tetap saja aku hanya ‘oppa’ baginya. Tapi………… entahlah…… aku tidak tahu….

Aku tidak bias bersikap seperti kakak, melihatnya sedih apalagi kalau dia sampai terluka gara-gara namja, aku ingin mengambilnya kembali… walau tidak mungkin. dia sudah terlanjur cinta mati pada pria itu.

Lalu bagaimana denganku? Haruskah aku berpura-pura mejadi kakaknya sementara dalam hatiku berteriak perasaan yang lain? Yuran-ah… bisa tolong kau hentikan perasaan ini?

Terus terang aku bingung. Apa yang aku suka dari gadis ini? Dia tidak cantik. Apalagi pintar apalagi berkarisma…hah sama sekali tidak. Malah menurutku JiHae, Minah atau Hyeri jauh lebih menarik darinya. Sungguh, tidak ada satu kriteriaku yang merujuk padanya. Tapi entah kenapa dadaku jadi sesak begini…. Sial…. Sebenarnya apa yang aku suka dari dirinya?

 

xxx

“Kibum…” lirihnya padaku

“Kibuuum!!” kali ini dia setengah berteriak padaku.

Aku masih melamun sampai yura meneriaki namaku lagi, aku menghela nafas sekarang dan  menoleh dengan tatapan terganggu, sebenarnya bukan karena tingkahnya yang hobby berteriak padaku namun karena aku bingung sebenarnya, dia menganggapku siapanya. “Jangan panggil namaku, akukan oppamu. Sebut aku oppa..”

“sihreo”

Aku terdiam sambil menghela nafasku lagi. Nahkan ya, bagaimana aku bisa bersikap menjadi kakak kalau dia juga tidak menginginkanku menjadi kakaknya. Dan aku tidak pernah tahu sebenarnya dia menginginkanu menjadi siapanya? Ini menyebalakn.. hatiku seperti bidak catur yang seenaknya dipermainkan oleh gadis ini.

“Apalagi sih?” kataku ketus padanya, Selain aku sedang kesal karena perasaan aneh ini, sikapku yang jutek ini untuk menutupi perasaanku padanya.

“Boleh minta tolong?”

“Apalagi?”

“Temani keluar sebentar”

“Mau kemana malam-malam begini?”

“Entahlah, aku… hanya ingin keluar”

“Tidak bisa besok?’

“Tidak bisa!”

Aku menghela nafas dan mengiyakan perkatannya, “Baiklah, tunggu disini kukeluarkan mobinya!”

“Tunggu!” sergahnya. Aku berbalik  “Bisa kita pergi jalan kaki atau bersepeda?” katanya kemudian.

Aku kaget mendengar perkataannya, “Kau mau aku memboncengmu, hah yang benar saja?” protesku. Sebenarnya sih aku senang-senang saja, tapi aku hanya terkejut.

“Kau tidak mau? baiklah aku pergi sendirian saja..” katanya sambil berjalan keluar rumah.

Dan aku membeku ditempat aku berada. Nah, sifat egonya itu yang aku benci. Tapi kenapa aku tidak bias menolaknya. Kenapa seluruh permintaannnya seperti sbuah perintah  untukku. Aku menutup laptopoku, mengambil jaket dan berlari mengejarnya.

“Kau mau mati kedinginan he? Pakai jaketmu!” kataku sambil menaruh jaket itu diatas kepalanya.

Dia hanya menatapku. Aduh aku paling tidak tahan dengan tatapannya.. ingin sekali aku menculiknya dan menjadikannya hanya milikku, dan itu hanya terjadi kalau aku sudah gila.

Aku lebih suka menemaninya, bertengkar dengannya, lalu berbaikan, kemudian bertengkar lagi. Atau melihatnya tertawa karena leluconku. Aku lebih suka dia begitu… walau hanya begitu…

Aku mengambil sepeda dan mulai mengayuhnya. Kebiasannya selalu tidak mau pegangan saat dibonceng membuatku cukup tidak tenang. Dia terlalu ringan sampai aku tidak merasa memboncengnya. Nanti kalau dia jatuh dan aku tidak tahu. Bahayakan?

Tapi kali ini tiba-iba saja punggungku menghangat, aku menoleh kearah belakang sekilas dan melihat yura bersandar ke punggungku, tangannya pun memeluk pinggangku. Terus terang aku hampir kehilangan fokus untuk bersepeda karena kaget dan gugup.

Kemudian dengan lirih dia berkata “Oppa, kenapa langit begitu gelap. Kenapa aku tidak melihat bintang sama sekali…… jadi… apa aku boleh melihatmu? Kali ini saja?”

Aku menghentikan sepedaku secara refleks. Apa yang dia katakannya, Oppa…??? Aku menokeh ke arahnya. Dan kulihat dia sedang menunduk dan menangis.

Akhirnya kau menyebutku oppa juga. Aku tersenyum melihatnya, entah ini senyuman sedih karena ternyata dia hanya mengaggapku oppa, atau aku tersenyum karena lega, setidaknya aku sudah tahu peraasaannya. Oke, karena itu biarkan aku jadi oppamu yang baik. Naui sarangi dongsaeng..

“kau boleh menangis. Tapi kau tidak boleh menyerah.. apapaun masalahnya pasti ada pemecahannya. Jangan pernah merasa jatuh, oke. Cheer up not bad” Aku mengatakannya sambil membelai rambutnya, lalu kembali mengayuh sepedaku… dan aku baru sadar akan sesuatu sekarang, aku tersebum bukan karena dua hal tadi, bukan karena lega akan perasaanku, aku tersenyum karena aku sadar Yura pada akhirnya bisa menangis dan aku ada di sini untuk menemaninya.

Akhirnya kami duduk di taman. Kita bias melihat bintang di sini. Di bukit kecil ini.

“kupikir bintang itu memang seperti dirimu Yura ah.. selalu bersinar walau gelap, jangan pernah kalah dengan kegelapan Yura. Aku selalu ada disini.. disampingmu, walaupun kau tidak tahu” benakku sambil memandangi dirinya yang sedang menyandarkan kepalanya di pundakku sambil memejamkan matanya. Mungkin… aku tahu alasan kenapa aku menyukainya. Karena dia adalah dongsaeng termanis yang pernah ada. Cheer up my dongsaeng.

 

Beberapa hari selanjutnya

UkissSteakHouse

“Wawawawaa akhirnya kesampaian juga makan di ukissteakhouse..” kata Yura sambil memakan tunanya dengan riang. Dia datang setelah omma menelponnya dan menyuruhnya untuk dating kemari juga. Akhirnya dia jadi makan bersama omma, dan ommanya Kevin. Dan dia pelanggan paling brisik yang pernah ada. Apalagi dari tadi karena ada dia anggota UKiss jadi sering mampir ke bangkunya dan mengobrol. Apalagi Soohyun hyung dari tadi pamer kalau bisa jadi cheef.

“Aku liat episode yg nakji aja udah ngiler-ngiler… dan ternyata enak baget rasanya! >w<!! kevin-ah… nan joasseo.. enaaak.. jinjja mashida” katanya dengan penuh semangat.

“Kau tidak memujiku, yura ah?” protes soohyun hyung

Yura tersenyum sekilas dan detik kemudian dia berekspresi dingin, “TIDAK!”

“Yuraaaa mianhaeee T^T “ ujar soohyun hyung memelas sekarang

“Dia sudah sembuh” batinku, “dan soohyun hyung pantas mendapatkannya, bagus yura –ah”

“Ya! dari tadi ngliat Yura mulu sih!” kata xander hyung padaku. Lalu dia duduk di sebelah Yura “Yura-ah, tau g sih… kita punya nama baru buat dia.. namanya the blackhole….” Kata xander hyung sambil tertawa-tawa

“Apa? blackhole? hahaha” kali ini giliran Yura yang tertawa

“Ya! Ya! Ya! Geuman..”

“Nggak apa, lagi pantes!Joa!” kata Yura sambil menepuk-nepuk pundakku.

Aku menarik nafas dalam-dalam, Yura yang lama telah kembali, dan dia sama sekali tidak manis. Kutarik omonganku, dia sama sekali bukan dongsaeng yg manis…… huh! Awas saja…  I’m in the line between love and war again! Hehehe…